Senin, 04 November 2013

Tanda Pergantian Waktu

Tanda Pergantian Waktu

1 Muharram 1435 Hijriyah. Hari pertama di tahun yang baru.

Allah Ta'ala berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 189 yang artinya; 'Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang (besar kecinya) bulan. Katakanlah! 'Bulan itu menunjukkan tanda-tanda waktu bagi manusia dan (untuk menentukan waktu) haji. Bukanlah kebaikan (amal saleh) memasuki rumah dari belakangnya, tetapi kebaikan itu adalah orang yang bertaqwa. Masukilah rumahmu dari pintunya. Dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu menang.'  (Catatan: Kebiasaan orang Arab jahiiyah sesudah mereka mengerjakan ibadah menurut keyakinan mereka lalu memasuki rumah mereka dari belakang rumah, dan mereka menganggap yang seperti itu merupakan suatu amal kebaikan.)

Seperti ayat di atas itu peringatan dan petunjuk Allah tentang pergantian bulan. Agar manusia mengenali bertukarnya bulan, dan mengetahui kapan waktunya melaksanakan ibadah haji. Kapan waktunya mengerjakan ibadah puasa Ramadhan. Dan Allah ingatkan pula bahwa Dia menetapkan satu tahun itu terdiri dari 12 bulan seperti yang dapat kita simak pada surah At Taubah (surah 9) ayat 36; 'Sesungguhnya Allah menentukan bilangan bulan dua belas bulan dalam ketetapan-Nya di kala Dia menciptakan langit dan bumi. Dari dua belas bulan itu ada empat bulan haram (suci). (Yakni bulan-bulan Zuqaidah, Zuhijjah, Muharram dan Rajab). Demikianlah agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan-bulan itu (dengan berperang dan sebagainya).....'

Maka seperti itulah yang diamalkan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Beliau mengajarkan kepada para sahabat untuk mengenali bulan demi bulan, supaya mengetahui kapan waktunya untuk menjalankan puasa (Ramadhan), untuk mempersiapkan diri mengerjakan ibadah haji. Di luar itu tidak ada beliau mengajarkan amalan-amalan khusus dalam pergantian bulan. Dan belum ada bilangan tahun.

Masyarakat Arab pada waktu itu menandai suatu tahun kalau pada tahun itu terjadi peristiwa besar. Misalnya, pada tahun kelahiran Muhammad bin Abdullah (yang nanti menjadi Rasul) terjadi peristiwa datangnya balatentara bergajah dibawah pimpinan Abrahah yang berniat mau menghancurkan Ka'bah. Dan tahun itu dijuluki tahun gajah. Menghitung-hitung tahun tidaklah lazim.

Waktu terus berjalan. Setelah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam wafat, beliau digantikan oleh Abu Bakar sebagai khalifah. Abu Bakar mengemban tugas kekhalifahan itu dua tahun saja dan beliaupun berpulang kerahmatulah. Abu Bakar digantikan oleh Umar bin Khaththab. Di bawah kepemimpinan Umar, daerah yang dikuasai kaum muslimin semakin luas. Di banyak daerah-daerah yang baru dikuasai itu diangkat pemimpin-pemimpin untuk mengatur urusan umat. Antara Umar sebagai khalifah yang berkedudukan di Madinah dengan para pemimpin daerah itu komunikasi dijalankan dengan surat menyurat. Berbagai arahan dan perintah dari khalifah disampaikan melalui surat. Karena banyaknya surat-surat, yang masing-masingnya hanya ditandai dengan tanggal dan bulan, suatu ketika salah seorang pemimpin daerah ini bertanya kepada surat yang mana dia harus merujuk di antara arahan sang khalifah. Karena ada beberapa surat dikirim pada bulan yang sama tapi tidak diketahui lagi pada tahun mana saja surat-surat tersebut dikirimkan.

Umar menyadari bahwa tanpa menyebutkan dan mengenali tahun seperti yang dibiasakan selama ini akan sangat menyulitkan dalam mengurus umat yang sudah semakin banyak serta melayani negeri-negeri yang semakin luas dan letaknya berjauhan.  Beliaupun bermusyawarah dengan para sahabat untuk mencari jalan keluar dan untuk menetapkan permulaan tahun. Di antara para sahabat yang dimintai pendapatnya, ada yang mengusulkan agar perhitungan tahun itu dimulai sejak tahun kelahiran Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Ada yang mengusulkan dihitung sejak mula pertama beliau diangkat jadi Rasul. Akhirnya yang disepakati adalah usulan dari Ali bin Abi Thalib, untuk menghitung awal tahun pada saat Rasulullah hijrah dari Makkah ke Madinah. Hal itu disepakati bersama. Disepakati pula bahwa awal tahun itu dimulai dengan bulan Muharram. Sebelum itu tidak ada yang memperdulikan mana bulan yang pertama di antara 12 bulan yang mereka kenal, dan bulan-bulan itu dibiarkan saja bergantian apa adanya.  Musyawarah itu dilakukan di tahun ke lima Umar menjadi khalifah, yang artinya tujuh belas tahun sejak berhijrahnya Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Itulah awal perhitungan tahun Hijriyah.

Sejak itulah umat Islam menggunakan tahun Hijriyah yang kita warisi sekarang.

Dan keperluannya hanyalah untuk mengenali waktu. Kita boleh menghitung tahun demi tahun. Mencatat peristiwa penting pada tahun-tahun yang kita lalui. Tapi tidak perlu membuat acara-acara khusus dalam melalui pergantian tahun atau bulan, kecuali dengan amalan yang diajarkan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam.

Sangatlah keliru ketika kita melakukan ritual-ritual khusus, seperti melakukan upacara membersihkan pusaka yang dianggap keramat di malam pergantian tahun. Karena meyakini dengan perbuatan tersebut dapat membawa berkah atau menghindarkan diri dari bala dan celaka. Perbuatan seperti ini jelas termasuk amalan mempersekutukan Allah dan sangat dimurkai Allah. Allah tidak akan mengampuni dosa kesyirikan sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya pada surah An Nissa' ayat 48; 'Sesungguhnya Allah tiada akan mengampuni dosa jika Dia dipersekutukan dengan yang lain, dan Dia mengampuni dosa yang kurang dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat dosa besar.'  Meskipun seseorang itu shalat (artinya dia menyembah Allah), tapi dia masih mempercayai bahwa ada benda-benda keramat yang dapat melindunginya dari bencana (artinya dia mempersekutukan Allah dengan benda yang dianggapnya keramat itu), maka dia tidak akan diampuni Allah. Akan tetapi mereka yang pernah berlaku syirik, lalu dia bertaubat dengan sungguh-sungguh dan tidak mengulangi lagi perbuatan syiriknya itu, Allah akan mengampuni dosanya.

Janganlah kita melakukan amalan-amalan yang jelas-jelas menyimpang, yang tidak pernah diajarkan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, agar kita selamat, seperti yang diingatkan Allah pada surah al Baqarah ayat 189 di atas.

Wallahu a'lam.


****

Jumat, 01 November 2013

Seandainya Kita Beriman.....

Seandainya Kita Beriman.....

Salah satu rukun iman, yang harus diyakini keberadaannya, adalah adanya hari 'AKHIRAT'. Akan ada suatu masa nanti, semua manusia dan jin yang pernah hidup di muka bumi dikumpulkan oleh Allah untuk diperhitungkan amal perbuatannya selama masa hidup di dunia. Di sana kita akan mempertanggungjawabkan segala prilaku selama kita singgah di dunia, untuk ditimbang mana yang lebih berat antara amal kebaikan dibandingkan dengan tingkah kejahatan. Lalu setelah itu masing-masing akan mendapat balasan dari Allah 'Azza wa jalla. Yang lebih berat nilai kebaikannya akan masuk ke dalam surga Allah serta mendapatkan keridhaan-Nya, hidup kekal abadi dalam nikmat yang tiada tara. Yang beriman kepada Allah, tapi timbangan kejahatannya lebih berat, maka akan masuk neraka Allah untuk jangka waktu tertentu, sampai nilai-nilai kejahatannya berkurang beratnya dari nilai kebaikan, lalu dia dimasukkan pula sesudah itu ke dalam jannah. Ke dalam surga Allah. Adapun orang-orang kafir, orang-orang yang mempersekutukan Allah, atau orang-orang yang memperolok-olokkan agama Allah semasa hidupnya, mereka akan dimasukkan Allah ke dalam neraka dan mereka kekal di dalamnya.

Marilah kita amati dari tengah. Seandainya kita termasuk orang yang beriman kepada Allah, tapi gemar melakukan bermacam-macam kejahatan, baik kejahatan terhadap aturan-aturan yang ditetapkan Allah, seperti lalai dalam menjalankan apa-apa yang diperintahkan-Nya, dan suka melakukan amalan yang dilarang-Nya, maka kita akan dimasukkan Allah ke dalam neraka 'sementara'. Orang Yahudi mengklaim, bahwa seandainya mereka dimasukkan ke dalam neraka, niscaya itu hanya untuk beberapa hari saja. (Lihat surah Al Baqarah ayat 80!). Padahal yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi tentang lamanya mereka di akhirat itu hanyalah angan-angan mereka saja. Seandainya benar hanya untuk beberapa hari saja, itupun pantas untuk kita perhitungkan. Pertama, karena satu harinya akhirat itu tidak sama dengan satu hari dunia. Allah menjelaskan di dalam surah Sajdah (surah 32, ayat 5) yang artinya; 'Dia yang mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian disampaikan kepada-Nya dalam satu hari yang lamanya seribu tahun menurut perhitunganmu.'' Itu dari hitungan waktunya.

Lalu bayangkan pula deritanya. Bayangkan dengan rasa sakit ukuran biasa di dunia. Sakit ketika kulit kita tersentuh benda panas. Semisal kena tumpahan minyak panas. Berdenyut-denyut rasa sakitnya. Dan lama. Bisa jadi sepanjang malam kita tidak dapat tidur karena sakitnya. Atau bayangkan kita sakit gigi. Sakit luar biasa dan  sangat tersiksa rasanya. Atau sakit ketika bisul hampir pecah. Di dunia, rasa sakit itu atas izin Allah dibatasi waktunya. Katakanlah beberapa jam. Atau beberapa hari sekalipun. Dapat kita cari penawar atau obat lalu dengan izin Allah pula berakhir rasa sakitnya. Di akhirat rasa sakit itu akan lebih berat lagi dan dirasakan terus menerus. Kalau rasa sakit itu dirasakan pada kulit yang terbakar, maka kelak, setiap kali kulit itu hangus, niscaya diganti Allah dengan kulit yang baru dan dirasakan terus sakitnya. Tidak ada obatnya.

Penghuni neraka dalam deritanya berusaha untuk keluar dari dalamnya tapi tidak akan pernah berhasil. Seperti firman Allah dalam surah Sajdah ayat 20; '..... Setiap mereka hendak keluar dari sana, mereka dikembalikan lagi ke dalamnya. Dan kepada mereka dikatakan; 'Rasakanlah siksaan neraka yang dahulu kamu dustakan.' Neraka yang ada penjaganya, yang sangat keras dan bengis, malaikat Malik namanya, yang sangat patuh kepada Allah dan senantiasa menjalankan apa yang diperintahkan Allah kepadanya. (Lihat surah At Tahrim ayat 6).

Sekarang bayangkan bahwa kita dihukum atas dosa apa saja, yang tidak atau belum diampuni oleh Allah karena kita tidak minta ampun kepada-Nya. Dan disiksa Allah dengan siksaan yang sangat berat. Atau bayangkan dosa yang kita buat kepada sesama manusia. Misalnya kita ambil haknya. Kita curi hartanya. Dan dia tidak ridha alias kita tidak dimaafkannya. Untuk ukuran di dunia, Allah perintahkan agar pencuri itu dipotong tangannya. Tapi karena sang pencuri itu pandai berkelit, dibela oleh pembela yang handal dia tidak dihukum di dunia ini. Maka nanti di akhirat, di dalam neraka Allah akan dipotong tangannya. Dan Allah Ta 'ala akan menimpakan rasa sakit dipotong tangan itu dengan ukuran akhirat. Seandainya dia mencuri seekor kambing, di dunia ini seharusnya dihukum dengan memotong tangannya. Tapi hal itu tidak dilakukan karena kepintarannya mengelabui pengadilan, maka nanti dia akan dihukum di akhirat. Kalau dia mencuri setara dengan 1000 ekor kambing niscaya Allah dengan kekuasaan-Nya akan menimpakan rasa sakit potong tangan yang setara. Mungkin sakitnya seribu kali lebih sakit, atau waktu deritanya dilipatgandakan Allah dengan  yang setimpal. Wallahu a'lam, Allah saja yang tahu bagaimana beratnya derita yang akan ditimpakan-Nya. Dan pengadilan Allah di akhirat itu adalah yang seadil-adilnya.

Begitu untuk setiap dosa dan pelanggaran, akan diperhitungkan Allah kelak di akhirat. Dosa kita kepada Allah, kalau kita bertaubat dan minta ampun kepada-Nya, maka Allah akan mengampuninya. Tidak demikian halnya dengan dosa kepada sesama manusia. Selama dosa itu belum dimaafkan, maka di akhirat kita akan mempertanggungjawabkannya dan akan menerima hukuman Allah. Kita zhalimi seseorang di dunia ini, kita hinakan dia, kita sakiti dia, kita rampas haknya dan dia tidak memaafkan kita, niscaya nanti di akhirat kita harus menyelesaikannya. Dan penyelesaian akhirat hanya berupa hukuman Allah, di dalam neraka-Nya. Tidak mungkin kita berkelit. Tidak bisa baru di sana nanti minta maaf. Maka hendaklah perhatikan benar. Untuk saling memaafkan selagi masih di dunia.

Sementara penghuni surga akan mendapatkan kenikmatan yang luar biasa. Nikmat yang belum pernah ada manusia dan jin merasakannya selama mereka tinggal di dunia. Keindahan surga yang belum ada mata manusia  pernah melihatnya. Tidak mampu manusia membayangkannya. Yang dirasakan oleh penghuni surga itu hanyalah kenikmatan demi kenikmatan. Dan keridhaan Allah atas mereka. Dan mereka akan menikmatinya selama-lamanya, sejak mereka menjejakkan kaki di dalamnya.

Seandainya kita benar-benar beriman dengan keberadaan AKHIRAT. Maka hendakah kita berusaha mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, agar kelak kita termasuk ke dalam kelompok hamba-hamba Allah yang diridhai-Nya. Yang dimasukkan-Nya kedalam surga-Nya. Agar kita terhindar dari menerima hukuman-Nya. Sungguh Allah sudah memperingatkan kita, bahwa siksa-Nya sangat pedih.

****

Sabtu, 26 Oktober 2013

Wa lantardhaa 'ankalyahuudu walannashaara......

Wa lantardhaa 'ankalyahuudu walannashaaraa......

Allah telah mengingatkan kita kaum Muslimin tentang keinginan orang-orang Yahudi dan Nashrani untuk membelokkan keimanan kita, agar mengikuti cara-cara mereka dalam beragama. Peringatan itu termaktub dalam al Quran surah Al Baqarah ayat 120, yang bahagian awalnya kita jadikan kepala tulisan ini. 'Tidak akan pernah ridha orang Yahudi dan tidak pula orang Nasharani (kepada kalian) sampai kalian mengikuti milah (agama) mereka....' Begitu sejak kehadiran agama Islam dan akan begitu seterusnya sampai hari kiamat.

Ketidak ridhaan mereka itu mereka tunjukkan dengan bermacam cara, sesuai dengan situasi dan kondisi. Di awal kehadiran agama Islam, di jaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, orang-orang Yahudi berkali-kali berkhianat, menusuk dari belakang sampai mereka diusir dari Madinah bahkan akhirnya dari jazirah Arab. Orang-orang Nashrani memerangi umat Islam dalam perang salib yang berlangsung selama hampir dua ratus tahun, di akhir abad ke sebelas sampai akhir abad ke tigabelas, di daerah Palestina. Orang Kristen berjaya mengusir umat Islam dari semenanjung Iberia, di negeri Andalusia di akhir abad ke lima belas. Begitu terus menerus, sampai mereka menaklukkan negeri-negeri orang Islam untuk dijajah, yang berlangsung sampai pertengahan abad ke duapuluh.

Dalam menaklukkan negeri-negeri Islam kadang-kadang mereka berhasil, semisal beberapa kurun mereka mampu menguasai Tanah Palestina selama masa perang salib, atau bahkan berhasil mengusir umat Islam dari bumi Andalusia, setelah agama Islam berada di negeri itu selama delapan abad. Tetapi adakalanya mereka dikalahkan oleh kaum Muslimin. Salahuddin Al Ayyubi memenangkan babak terakhir dari perang salib, dan beberapa ratus tahun kemudian, Muhammad Al Fatih menaklukkan Konstantinopel, ibunegeri kerajaan Romawi Timur.

Ketidak relaan orang-orang Yahudi dan Nashara itu berlanjut sampai sekarang. Taktik menyerang mereka tetap disesuaikan dengan keadaan. Adakalanya mereka memerangi umat Islam secara fisik, seperti ketika mereka menegakkan negara Israel di tanah orang Palestina. Meski sebenarnya antara Yahudi dan Nashara juga ada bibit perseteruan yang sangat serius, dalam menghancurkan umat Islam mereka saling bahu-membahu. Mereka menyadari, bahwa memerangi umat Islam secara fisik, sekarang ini tidak mudah dan beresiko tinggi dan mahal biayanya. Lalu mereka merobah taktik. Sekarang mereka lebih banyak melakukan perang pemikiran. Mempengaruhi orang-orang Islam agar mau meniru cara-cara hidup mereka dan meninggalkan tuntunan agama Islam. Peracunan pemikiran ini mereka (terutama orang-orang Yahudi) lakukan dengan sistematis dan terarah. Mereka mempunyai jaringan media massa bermodal sangat besar untuk melakukan itu. 

Sementara orang-orang Kristen, yang banyak kehilangan pamor di banyak negara, terutamanya di Eropah, berusaha pula menebar pengaruh di negeri-negeri Islam. Mereka mempunyai dana yang banyak. Pemuka agama mereka membayar siapa saja yang mau pergi mengkristenkan orang Islam. Di negara-negara Eropah (terutama Eropah Barat) banyak orang tidak lagi mau mengaku sebagai orang Kristen. Mereka mengaku sebagai orang-orang agnostik. Orang yang tidak percaya dengan Tuhan. Banyak gereja-gereja tidak lagi punya pengikut, menjadi kosong karena tidak pernah lagi digunakan, bahkan banyak yang dijual.

Di negeri kita, pemuka-pemuka Kristen tetap bekerja keras ingin membelokkan aqidah umat Islam. Dengan bermacam-macam cara. Yang agak halus adalah dengan mencoba berbaik-baik dengan orang-orang Islam miskin, membantu mereka dengan beras dan supermie untuk menukar agama mereka. Atau memberi anak-anak mereka beasiswa, yang perlahan-lahan dipengaruhi untuk pindah agama. Yang agak berat dari itu dengan cara mengawini orang Islam dengan mula-mula berpura-pura masuk Islam, lalu setelah beberapa tahun berputar haluan dan membawa serta pasangan mereka masuk Kristen. Yang lebih kasar lagi dengan cara menghipnotis, menculik (ingat kasus Wawah di Padang). 

Begitu taktik mereka. Orang Kristen berusaha keras untuk mengkristenkan masyarakat-masyarakat yang terkenal cukup kental keislamannya seperti masyarakat Sunda, Aceh dan Minangkabau. Dengan segala daya dan upaya. Dengan segala taktik. Sudah kita lihat bagaimana nekadnya mereka, mendatangi tempat-tempat yang kena musibah bencana alam, lalu dengan terang-terangan menawarkan bantuan sambil membagi-bagikan lembaran-lembaran ajaran Kristen. Ini terjadi di Aceh paska tsunami tahun 2004 dan di Sumatra Barat sesudah gempa tahun 2009.

Timbul pertanyaan dari sebagian kita, apa yang harus diperbuat? Untuk melindungi aqidah saudara-saudara kita yang terancam dimurtadkan? Banyak langkah yang harus diambil. Langkah yang paling pertama dan utama adalah membentengi diri kita dan keluarga kita yang terdekat. Seperti diingatkan Allah di dalam surah At Tahrim (surah 66) ayat 6. 'Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa neraka......' Pelihara dirimu (mula-mula sekali). Bagaimana cara memelihara diri dari ancaman api neraka? Dengan berislam secara utuh. Secara kaaffah. Bagaimana pula caranya? Patuhi semua perintah Allah dan menghindar dari segala larangan Allah. Jangan ikuti bujuk rayu syaithan. Yaa ayyuhalladziina aamanu udkhuluu fissilmi kaaaffah - wa laa tattabi'uu khuthuwaati sysyaithaan. (Al Baqarah (2) ayat 208). Kalau kamu sudah cukup kuat, pelihara pula anggota keluarga. Kalau kamu dan keluargamu sudah cukup kuat ingatkan pula tetangga dan saudara-saudaramu. Begitu seterusnya....

Langkah kedua ingatkan bahwa agama yang diridhai Allah hanyalah Islam (surah Al Maidah (5) bagian akhir dari ayat 3). Agama selain Islam akan tertolak. Sebagaimana firman Allah, “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Surah Ali Imran (3) ayat 85). 

Ingatkan bahwa Allah sangat murka kalau Dia disekutukan. Allah tidak akan mengampuni dosa orang yang mempersekutukannya dengan siapapun sebagaimana firmannya;   “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni jika Dia dipersekutukan dengan lain-Nya dan akan mengampuni (dosa) selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (An-Nisa’ (4) ayat 48).

Mengakui ada Tuhan selain Allah adalah perbuatan syirik. Mengakui Nabi Isa sebagai bagian dari Allah adalah kafir. Dan orang-orang kafir seperti itu tidak akan dimasukkan Allah ke dalam surga. Tempat kembali mereka adalah neraka dan tidak ada penolong bagi mereka.  "Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu" Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun." (Al-Maidah (5) ayat 72).

Ayat-ayat ini yang jarang kita dengar didakwahkan para ustadz kita. Seolah-olah dengan mengatakan bahwa orang Nashrani itu kafir kita telah mengeluarkan kata-kata yang kasar. Mengeluarkan kata-kata vulgar. Tidak bertepo-seliro. Padahal itu adalah ayat-ayat Allah. 

Maka dakwahilah anak kemenakan kita! Jelaskan ayat-ayat Allah ini kepada mereka. Agar mereka berhati-hati. Dakwahi mereka sesudah kita menjaga diri kita dan keluarga kita sendiri dari kesesatan. Ingatkan mereka agar bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa. Agar jangan sampai mati kecuali dalam keadaan Islam. Seperti diingatkan Allah; "Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan beragama Islam." (Ali Imran (3) ayat 102).

Setelah semua dakwah dilaksanakan. Setelah semua usaha membentengi diri, menjaga ahli keluarga, membimbing tetangga dan orang-orang dekat kita diusahakan, ternyata ada juga yang murtad, kembalikan semua kepada Allah. Karena barangsiapa yang dibiarkan sesat oleh Allah, tidak siapapun lagi akan dapat menunjukinya. 

Mudah-mudahan Allah senantiasa memelihara kita dalam keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya.

**** 

Jumat, 18 Oktober 2013

Dieng

Dieng 

Hari Selasa tanggal 8 Oktober yang lalu, jadwal kami adalah mengunjungi Dieng. Nama yang cukup akrab tapi belum pernah aku kunjungi. Dieng yang terkenal dengan peninggalan sejarah berupa candi-candi Hindu. Yang terkenal dengan kawah-kawah uap panas, bahkan pernah menimbulkan bencana di tahun 1979 dan mengakibatkan jatuh puluhan korban meninggal akibat terhisap gas CO2 di daerah Sinila.

Kami berangkat dari Jogya sekitar jam sembilan pagi menggunakan tiga buah mobil. Mula-mula mengarah ke Magelang di sebelah utara. Melintasi jalan raya yang lumayan ramai dipenuhi beraneka kendaraan. Udara sangat cerah. Di kejauhan terlihat puncak-puncak gunung Sumbing, Sindoro yang lancip bak ujung paku. Kami sampai di Wonosobo, kota di pegunungan. Di sini kami beristirahat untuk shalat dan makan siang.  

Lalu meneruskan pendakian ke tujuan utama. Melalui jalan yang relatif sempit, berliku-liku dan mendaki. Ada mirip-miripnya dengan pendakian di Puncak. Atau dengan pendakian di Kelok 44 jalan ke Maninjau. Kami lalui pula sedikit bagian jalan yang sedang dalam perbaikan akibat longsor. Di kiri kanan terlihat kebun sayur-sayuran. Ada yang sedang dipanen. Karung dan ketiding berisi kentang dan wortel yang ditumpuk di pinggir jalan.

Tercatat di mataku mesjid-mesjid yang indah di sepanjang jalan. Ada yang persis di tepi jalan dan ada pula yang agak terjorok ke tengah kampung. Dan wajah-wajah wanita berjilbab. Subhanallah.... Kami beristirahat lagi sejenak di alun-alun Dieng. Di depan mesjid Baiturrohman. 

Setelah itu kami teruskan perjalanan di sekitar Dieng. Melihat candi-candi peninggalan masyarakat Hindu. Hujan turun rintik-rintik. Dengan menggunakan payung kami mendekat ke salah satu kawah yang  mengepul-ngepul, tidak jauh dari jalan. Tercium bau belerang. Dan terdengar bunyi gemuruh air menggelegak di bawah sana.

Berpindah pula ke telaga tiga warna. Sayangnya, di saat kami sampai di situ terlihat hanya ada satu warna kehijau-hijauan. Hujan rintik-rintik terus berlanjut. Jam lima sore, dan hari sudah menjelang senja. Kami tinggalkan Dieng, kembali mengarah pulang ke Jogya. Melalui Wonosobo. Kali ini udara pegunungan ini ditutupi oleh kabut tebal. Jadi harus ekstra hati-hati. Jam tujuh malam kami sampai di Wonosobo. Mampir dan dijamu oleh besannya adik ipar. 

Sudah hampir tengah malam ketika kami akhirnya sampai kembali di Jogya.

*****

               

Rabu, 16 Oktober 2013

Qurban 1434 Hijriyah

Qurban 1434 Hijriyah

Terheran-heran kita menanggapi nilai rupiah negeri kita ini. Terheran-heran karena untuk ikut berkurban di hari Aidil Adha tahun ini kita harus merogoh kantong lebih dalam. Dua tahun yang lalu patokan harga sapi Rp 28,000 per kilogram kotor. Tahun lalu menjadi Rp 33,000. Lalu tahun ini menjadi Rp 41,000. Apa boleh buat. Untuk menyemangati jamaah mesjid kami saling mengingatkan, jangan menghitung-hitung mahal murah biaya kurban. Karena setiap rupiah yang kita belanjakan untuk ibadah kurban yang dikeluarkan dengan ikhlas karena Allah, niscaya Allah akan membalasnya.

Alhamdulillah, kami sama-sama bersemangat. Kami penghuni komplek dua ratusan buah rumah ini, yang muslimnya sekitar 85%, menyambut ajakan berkurban tahun ini dengan lebih antusias. Kalau dua tahun yang lalu kami memotong 13 ekor sapi plus belasan ekor kambing, tahun lalu turun menjadi 12 ekor sapi masih dengan belasan ekor kambing, maka tahun ini rekor jumlah sapi yang dipotong kembali pecah. Kemarin kami memotong 16 ekor sapi dan 23 ekor kambing. Berarti ada sebanyak 135 pengurban yang ikut serta. Ada beberapa keluarga berkurban seekor sapi utuh untuk 7 orang anggota keluarganya.

Seperti biasanya, untuk memotong dan menguliti sapi kami meminta bantuan tenaga profesional yang kami upah. Upah memotong sapi, seperti halnya biaya operasional lainnya, termasuk biaya konsumsi  dimasukkan kedalam biaya yang dibayar pengurban. Tenaga profesional ini yang menyembelih sapi, mengulitinya dan memisahkan bagian-bagiannya menjadi potongan-potongan besar. Memotong-motong daging dan mencincang tulang-tulang sapi, kami lakukan bergotong royong. Lebih seratus orang yang ikut bergotong royong, termasuk tenaga bantuan dari perkampungan di luar komplek. Tapi bagian terbesar adalah warga komplek, jamaah mesjid yang ikut berkurban. Ibu-ibu anggota majelis taklim bertugas menyiapkan konsumsi untuk kami semua.

Seperempat jam sebelum masuk waktu shalat zuhur kami beristirahat sejenak untuk shalat dan dilanjutkan dengan makan siang bersama.

Pekerjaan besar kemarin itu selesai lebih cepat dari biasanya. Sesudah istirahat kedua untuk shalat asar, sekitar jam empat sore kami sudah selesai memasukkan potongan daging kurban ke dalam 1600 kantong, siap untuk dibagikan. Beberapa hari sebelumnya, sebanyak 1600 kupon sudah dibagi-bagikan kepada masyarakat di sekitar komplek. Jam setengah lima kantong-kantong daging itu mulai dibagikan. Jam setengah enam sore pembagian itu selesai. Alhamdulillah.

****



                                 

Senin, 14 Oktober 2013

Melancong Ke Jogya

Melancong Ke Jogya

Jogya adalah tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi. Sudah berbilang kali aku mengunjungi kota ini untuk berbagai keperluan. Baik keperluan kantor maupun keperluan pribadi. Untuk pertemuan ilmiah IAGI maupun seminar-seminar. Untuk menghadiri pesta atau untuk berlibur. Mampir di Jogya selalu berkesan. 

Beberapa bulan yang lalu salah seorang adik ipar mengajak berlibur di Jogya. Sebenarnya dia berniat mengadakan selamatan untuk meresmikan pembangunan rumahnya yang baru saja selesai. Kami tertarik untuk hadir dan berencana untuk datang. Dengan kendaraan sendiri.

Aku menyukai menyetir jarak jauh, meski tidak maniac. Pernah beberapa kali menyetir dari Jakarta ke kampung pulang pergi. Bahkan pernah sampai ke Medan. Dua puluh tahun lebih yang lalu pernah menyetir sampai ke Jogya ini. Tapi sejak beberapa tahun ke belakang aku agak membatasi diri karena alasan kesehatan. Lalu ada sedikit perubahan dalam keluhan sakit asam urat sejak lebih kurang dua tahun terakhir ini. Ahamdulillah, badan terasa lebih fit. Timbul keinginan untuk mencoba menyetir jarak jauh lagi. 

Rencana menyetir ke Jogya pun dimatangkan. Ada ipar lain dari kampung yang akan ikut menemani. Untuk bergantian menyetir. Waktu berangkat dipilih hari Ahad tanggal 6 Oktober yang lalu. 

Kami berangkat jam sebelas siang melalui jalur selatan. Dimulai dengan menempuh jalan tol Cipularang sampai ke ujungnya di Cileunyi. Berhenti untuk shalat di mesjid di tempat istirahat sebelum akhir jalan tol. Kemudian sesudah itu istirahat lagi untuk makan siang di daerah Nagrek. Kami lanjut melalui Tasikmalaya, Ciamis kemudian Banjar lalu berhenti pula untuk shalat maghrib. Banjar terletak lebih kurang di tengah-tengah jarak ke Jogya. Sudah tujuh jam aku memegang kemudi. Dan rasanya masih bisa bertahan. 

Perjalanan dilanjutkan memasuki Jawa Tengah. Melalui kota-kota yang tidak semua namanya familiar di telingaku. Di kegelapan malam yang cerah berbintang. Sekitar jam delapan malam kami berhenti untuk makan malam di sebuah rumah makan.

Kami menggunakan GPS untuk membantu navigasi. Terjadi sedikit kekonyolan ketika memasukkan Bantul (di selatan) sebagai kota tujuan di Jogyakarta. Padahal tujuan kami adalah di daerah Kaliurang, di bagian utara kota Jogya. Kami lalu digiring  oleh GPS tersebut untuk melalui Bantul (baru di sana aku sadar bahwa kami menjauh dari sasaran). Tapi syukurlah, dengan berkomunikasi ke sasaran dan dibantu oleh GPS setelah mengoreksi tujuan akhir, kami sampai di tempat yang dituju jam setengah dua malam. Setelah berkendara sejauh 525 km. Dan aku bertahan memegang kemudi sepanjang perjalanan itu. Alhamdulillah. 

*****

                             

Sabtu, 05 Oktober 2013

Malu........................

Malu............................

Malu adalah salah satu cabang iman. Begitu sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Apa sebenarnya malu itu? Secara sederhana, malu adalah perasaan tidak nyaman di dalam hati, khawatir kita akan jadi perhatian fihak lain dalam keadaan yang tidak pantas atau tidak elok di diri kita. Anak gadis malu ketika mukanya berjerawat. Ibu-ibu malu ketika hak sepatunya patah di tengah pesta. Bapak-bapak merasa malu ketika menyadari bahwa celananya robek di bagian belakang atau resleting celananya lupa dipasangkan.

Hanya saja, nilai-nilai malu itu tidak sama di setiap orang. Sesuatu yang memalukan bagi seseorang ternyata biasa-biasa saja bagi orang lain. Atau ada orang yang bisa bersikap masa bodoh saja ketika dia sedang menghadapi kondisi yang kurang elok. Lebih tegasnya, ada anak gadis yang tidak merasa pusing dengan jerawat di mukanya. Atau bapak-bapak yang acuh tak acuh saja meski dia baru saja menyadari bahwa jahitan celananya lepas di bagian belakang sehingga celana dalamnya kelihatan.

Dan ternyata malu juga mengalami penurunan nilai. Mengalami inflasi. Di jaman orang tua kita dulu, menurut cerita beliau, kalaupun mereka ada juga berintaian (ini istilah beliau untuk berpacaran) yang dilakukan hanya sekadar bersurat-suratan. Atau berpandang-pandangan jarak jauh, dilakukan sekali-sekali, di saat sama-sama hadir di tempat pesta. Berbuat lebih dari itu, tidak berani. Karena malu.

Di generasi kita sudah lebih 'mundur' batas malu. Sudah ada acara berkunjung ke rumah pomle. Sudah pandai berpegang-pegangan tangan...... Tanpa merasa malu.

Makin ke sini semakin dahsyat. Yang dilakukan generasi sesudah kita sangat berbeda nilai malunya. Jadi kelihatan betul alah bisa karena biasa. Hilang malu karena nafsu.

Bagian terakhir inilah yang jadi kata kunci. Makin ke belakangan ini, kebanyakan orang semakin susah mengekang nafsu. Nafsu apa saja. Nafsu ingin memiliki, nafsu ingin berkuasa. Nafsu ingin terkenal. Nafsu ingin mencoba-coba sesuatu yang biarpun dikenal umum adalah sesuatu yang terlarang. Sebut saja penggunaan narkotika dan sebangsanya. Maka semakin hilanglah malu. Dan ketika malu itu hilang, jadi tunggang langgang suasana. Orang berpacu-pacu menjual popularitas. Untuk menjadi orang terhormat. Untuk jadi penjabat. Segala cara dilakukan. Tanpa malu-malu.

Malu adalah bagian dari iman. Malu harus dipupuk dengan nilai iman. Kita harusnya merasa malu berbuat yang tidak senonoh. Baik dengan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Karena kita menyadari bahwa Allah menilai dan mengawasi kita. Kita seharusnya malu mengambil hak orang lain tanpa kebenaran. Kita seharusnya malu berpenampilan tidak wajar. Berpenampilan kaya raya padahal orang bisa menilai bahwa kita tidak layak mempunyai harta melimpah ruah. Yang artinya kekayaan kita yang berlebihan itu telah kita dapatkan dengan cara-cara tidak sah. Dengan cara-cara memalukan.

Banyak orang diperdaya oleh nafsu sehingga hilang rasa malu. Karena mereka tidak beriman dengan sungguh-sungguh. Mereka dibawa hanyut oleh hawa nafsunya. Sampai kadang-kadang aibnya terbongkar. Baru dia merasa sedikit malu pada waktu itu. Kalau sempat.....

*****