Jumat, 17 Februari 2017

Lihatlah Yang Kita Tinggalkan Di Dunia

Lihatlah Yang Kita Tinggalkan Di Dunia    

Komplek perumahan tempat kami tinggal adalah komplek untuk golongan menengah yang dibangun di awal tahun delapan puluhan. Pada awalnya di sini terdapat rumah tipe 70 dan 50 masing-masing di atas tanah seluas 200m dan 150m. Dalam perjalanan waktu,  rumah-rumah BTN yang sederhana itu sudah hampir semuanya direnovasi, diperluas menjadi rumah-rumah berasitektur mutakhir. Banyak juga yang sudah berganti pemilik.

Pergantian kepemilikan ini yang menggelitik dalam pikiranku. Ada rumah-rumah yang direhabilitasi habis-habisan oleh pemiliknya menjadi rumah baru yang mentereng. Dia nikmati sebentar rumah baru itu. Tapi tidak lama kemudian dia berpulang ke hadirat Allah. Ada beberapa contoh kejadian seperti itu di komplek ini.

Bagiku, itulah cerminan perhiasan dunia. Rumah mentereng yang kita bela-bela supaya terlihat indah dan megah. Alhamdulillah kalau usaha memperindahnya itu dilakukan dengan cara-cara yang halal. Menggunakan dana yang didapat dari hasil tetesan keringat sendiri tanpa disertai dengan bahagian yang tidak jelas alias tidak halal. Dinikmati sebentar, dalam bilangan beberapa tahun, lalu kemudian ditinggalkan. Ada yang meninggalkannya untuk dinikmati anak cucu, tapi banyak pula yang anak cucu seolah-olah tidak memerlukannya. Mereka juga sudah memiliki rumah yang dibina sendiri.

Kembali dengan kasus di komplek kami, maka ada rumah-rumah yang ditinggal mati pemilik itu akhirnya dijual dan uangnya dibagi-bagi oleh anak-anaknya. Kami masih mengenal rumah itu sebagai rumah bapak Fulan, tapi sekarang ditempati oleh pemilik baru yang membelinya. Alhamdulillah sekali lagi kalau anak-anak yang membagi warisan itu berdamai-damai saja. Karena tidak jarang pula terjadi pertengkaran dalam memperebutkannya. Dalam hal yang terakhir ini, betapa kasihannya bapak Fulan, si pemilik mula-mula. Harta peninggalannya tidak membawa kebaikan bagi keluarga yang ditinggalkannya.  

Apa yang terjadi di komplek kami ini tentu terjadi juga di mana-mana. Bahkan mungkin dengan skala yang lebih besar. Seindah-indah rumah di komplek ini, terletaknya hanya di atas tanah seluas 200an meter persegi. Di luar sana ada rumah gedung yang bangunannya saja konon kabarnya ribuan meter persegi luasnya. Gedung megah luar biasa, yang untuk membersihkannya saja diperlukan beberapa orang pembantu rumah tangga. Entah kenikmatan apa yang diperoleh pemiliknya. Kenikmatan yang hanya dalam waktu yang singkat, lalu setelah itu ditinggalkan untuk selama-lamanya ketika maut menjemput. 

Dan agama kita mengajarkan, bahwa segalanya itu akan dipertanggung-jawabkan di pengadilan Allah di hari kiamat kelak. Tentang kemegahan-kemegahan yang kita pertontonkan selama hidup kita yang hanya sebentar. Dari mana kita mendapatkan uang untuk membiayainya, apa tujuan kita dalam bermegah-megah tadi itu, apakah ada unsur kesombongan dan ketakaburan, atau adakah unsur mubazir dan sebagainya. Setiap tanya yang akan kita jawab apa adanya, dan kita akan mendapat hukuman Allah untuk kesalahan dan dosa yang kita perbuat dalam mengelola harta.

****                              

Selasa, 14 Februari 2017

Kepikunan

Kepikunan  

Kita menjadi semakin tua dengan bertambahnya umur. Sampai suatu saat datang ajal menjemput. Ada seorang teman mempopulerkan ungkapan, menjadi tua adalah suatu kepastian, menjadi sehat itu pilihan. Maksudnya, anda bisa memilih untuk menjadi sehat dengan mematuhi aturan-aturan tertentu dalam hidup, atau anda tidak memilihnya dengan cara menjalani hidup semberono. Ringkasnya, kalau anda ingin sehat, hiduplah secara teratur, dengan mengatur pola makan, pola istirahat, pola pikir dan pola olah raga. Meski semua itu tidak selamanya menjamin seseorang akan benar-benar sehat dalam menjalani hidupnya. 

Ada orang yang hidup sampai mendekati atau bahkan melewati usia seratus tahun. Orang-orang seperti itu berada dalam ketuaan yang sesungguhnya. Sebahagian (kecil?) masih cukup sehat fisiknya sebagai orang tua, meski tetap tidak bisa menutupi jejak ketuaan seperti rambut yang memutih, kulit menjadi keriput, gigi pada copot dan sebagainya. Dan Allah masih memberikan nikmat hidup. 

Allah berfirman di dalam surat Yasin ayat 68 yang artinya; 'Dan siapa yang Kami berikan usia lanjut, akan Kami kembalikan kepada seperti keadaan semula (lemah, tak berdaya). Apakah mereka tidak memikirkan?' Seperti itu ketetapan Allah. Orang-orang yang Allah lanjutkan usianya menjadi tua, tapi fisik mereka dijadikan lemah kembali. Yang lebih parah lagi ada di antara yang sudah berusia lanjut itu menjadi pikun. Pikun artinya pikirannya mulai tidak jernih atau bahkan sangat kacau. Perbuatan dan perkataannya kembali seperti kanak-kanak. Sepertinya beliau-beliau yang seperti ini tidak sadar dengan apa yang diperbuat atau dikatakannya. Ada orang tua yang sudah pikun mengulang-ulang perkataan atau kalau bertanya mengulang-ulang pertanyaan yang sama.

Orang-orang tua seperti itu menjadi ujian kesabaran bagi mereka-mereka yang berada di dekatnya. Entah anak atau cucu ataupun kerabat yang lain. Terutama sekali bagi anak-anak yang sadar keadaan orang tua yang pikun dan harus melayaninya sebaik mungkin. Perlu ketelatenan dan kesabaran. Jika seorang anak memperlakukan orang tuanya yang sudah pikun itu dengan semena-mena menurut hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, hal itu akan menghalanginya untuk masuk surga Allah kelak. 

Kepikunan tentulah bukan sesuatu yang disengaja tapi dia datang dengan sendirinya kalau Allah berkehendak. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kita untuk berdoa kepada Allah agar terhindar dari kepikunan dengan doa seperti pada hadits  berikut; 

 حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَعَوَّذُ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَرَمِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْبُخْلِ
Allahumma innii a'uudzubika minal kasali, wa a'uudzubika minal jubni, wa a'uudzubika minal harami, wa a'uudzubika minal bukhli - yang artinya - Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat malas, dan berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, dan berlindung kepada-Mu dari kepikunan dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir.  (hadits riwayat Bukhari). 

Mudah-mudahan Allah melindungi kita dari kepikunan.

****

Minggu, 12 Februari 2017

Tidak Punya Bakat Berbisnis

Tidak Punya Bakat Berbisnis    

Ada di antara teman-teman yang sudah pensiun mempunyai usaha untuk hari tua, yang disiapkan sejak lama, sebelum pensiun. Ada yang punya rumah kos-kosan, ada yang punya toko di mall-mall, yang memiliki beberapa buah taksi dan sebagainya. Cerita lanjutannya bermacam-macam. Ada yang berhasil dan ada yang gagal. Tergantung dari keberuntungan masing-masing yang diberikan Allah. 

Ada yang beruntung dalam menjalankan usaha. Bahkan ada yang mendapat menghasilkan uang lebih banyak dari waktu dia dulu jadi karyawan. Seorang teman membeli tanah pertanian di sebuah kampung di kaki pegunungan yang relatif sunyi. Dibangunnya pondok-pondok kecil ketika dia masih aktif bekerja. Dibuatnya kolam-kolam ikan. Kebetulan di tempat itu air gunung melimpah. Waktu dia pensiun dia pindah ke tempat itu dan memulai usaha dengan kolam-kolam ikan dan berkebun kecil-kecilan. Usaha itu maju pesat luar biasa.

Namun ada pula yang gagal total. Seorang teman pernah dengan sangat bersemangat membuka usaha dagang dengan uang pensiun. Sebelum mulai dia begitu yakin bahwa dia itu sebenarnya sangat berbakat dagang karena orang tuanya dulu adalah pedagang. Disewanya toko untuk jangka waktu cukup panjang, lima tahun dan dimulainyalah usaha dagang tersebut. Namun apa yang terjadi? Di tahun ketiga usahanya kolaps.   

Aku sendiri tidak berbakat dan tidak punya intuisi untuk berbisnis. Pernah juga ikut-ikutan mencoba menanamkan uang dengan membeli sepetak toko di sebuah mall. Tentu saja sesudah diceramahi oleh rekan yang sudah lebih dahulu mengerjakannya. Karena di atas kertas segala sesuatunya tampak seperti nyata bahwa investasi ini 'pasti' untung. Beli, kemudian disewakan, sewanya sekian-sekian pertahun dan seterusnya, panen tiap tahun. Indah sekali. Ternyata kenyataan tidak seindah angan-angan. Toko itu disewa seorang pedagang pemula selama satu tahun. Dia gagal dan tempat berjualan itu dikembalikannya. Beberapa lama menganggur sementara biaya service charge jalan terus. Akhirnya istriku mencoba berjualan di sana. Tidak sampai setahun, diapun menyerah. Diiklankan lagi bahwa toko tersebut dikontrakkan dengan harga lebih murah. Disewa orang setahun dua tahun, tapi setelah itu kosong lagi. Padahal itu di sebuah pusat perbelanjaan. 

Waktu masih bekerja dulu kami diberi kesempatan untuk membeli saham perusahaan di  kantor pusatnya di Paris, dengan harga diskon. Pembayarannya dicicil dari pemotongan gaji. Menurut peraturan saham itu belum boleh dicairkan sebelum cicilannya lunas. Setelah cicilan lunas ada rekan sekantor yang mencairkannya untuk berbagai keperluan. Aku membiarkannya saja dengan niat akan digunakan kalau benar-benar perlu di saat pensiun nanti.  Menjelang pensiun di tahun 2007 harga satu lembar saham itu 66 euro dan 1 euro waktu itu senilai 1.40 dollar lebih, atau setara dengan 16,500 rupiah. Ada yang berbisik waktu itu agar saham itu dicairkan dan dibelikan emas, yang harganya ketika itu lebih kurang 120,000 per gram. Aku sama sekali tidak tertarik.

Aku sama sasekali tidak punya feeling bahwa harga-harga itu akan berubah drastis. Lagi pula aku sudah meniatkan akan membiarkannya saja untuk keadaan 'darurat'. Ternyata kemudian, harga saham tersebut turun dan tidak pernah mencapai harga itu lagi. Di saat paling buruknya harganya pernah tinggal separuhnya. Sekarang harganya sekitar 45 - 47 euro. 1 euro = 1.08 dollar atau = 14,000 rupiah. Sementara harga emas 500,000 rupiah per gram. 

Pada suatu kesempatan lain ada seorang tetangga menawarkan rumahnya karena dia ingin pindah dan tinggal bersama anaknya di tempat lain. Istriku yang dihubungi tetangga itu (seorang janda) menanyakan kepadaku bagaimana kalau kita beli saja rumahnya. Jawabku waktu itu, untuk apa lagi rumah sementara kita sudah punya rumah. Tidak ada terbayang di otakku bahwa pembelian itu bisa berupa sebuah investasi. Dan kami tidak membelinya. Rumah itu akhirnya dibeli tetangga lain. Sekarang, sepuluh tahun kemudian, harganya sudah empat kali lipat.   

Menyesal? Tidak juga. Aku hanya menyadari bahwa aku sangat tidak berbakat dalam urusan bisnis.

****        

Minggu, 05 Februari 2017

Antara Martabak Dan Martabat

Antara Martabak Dan Martabat 

Siapa yang tidak kenal dengan martabak? Penganan khas yang dijual orang di mana saja di sepanjang jalan di tengah kota, biasanya oleh pedagang kaki lima. Ada dua macam martabak. Martabak manis dan martabak asin. Yang manis dibuat dari tepung terigu dengan berbagai macam bahan penyertanya, adonan yang sangat kental lalu dimasak di cetakan khusus. Sesudah adonan itu masak dilamuri dengan mentega dan aneka macam pemanis, sebelum akhirnya dilipat dan seterusnya dipotong-potong siap untuk disantap. Martabak asin pula adalah lembaran tepung terigu juga yang dijadikan pembungkus adonan potongan daging dan daun bawang yang diaduk dengan telur bebek, digoreng di sebuah wajan ceper. Martabak asin ini nantinya disantap dengan ditemani acar mentimun dan bawang dicampur cuka dan kecap. Martabak manis dan asin dijual oleh pedagang yang sama, di rombong atau gerobak yang sama, tapi tidaklah untuk disantap bersamaan. Memakan yang manis dan yang asin bersamaan, kalau kata orang kampung saya kalimuncungan rasanya. Artinya, dua rasa yang tidak pas untuk dikombinasikan.  

______

Tersebutlah kisah tentang sebuah perkara yang lumayan rumit. Seorang yang berambisi untuk menjabat lagi dalam rangka mengkampanyekan dirinya sendiri terlanjur mengeluarkan ucapan yang menohok kitab suci umat Islam. Sebuah perkara yang mungkin dia sendiri tidak menyangka akan sebegitu hebat dampaknya. Dia dinyatakan telah menistakan ayat al Quran dan berujung diadili sebagai seorang terdakwa. Diapun menjalani sidang pengadilan yang dilaksanakan sekali seminggu. Seperti layaknya sebuah pengadilan maka didatangkanlah saksi-saksi.

Salah seorang saksi itu adalah pemimpin para ulama. Seorang yang sudah sepuh tapi sangat berwibawa dan penuh kharisma. Beliau juga seorang yang paling dituakan di organisasi masa terbesar umat Islam Indonesia. Kesaksian beliau adalah sesuatu yang wajar-wajar saja, untuk menanyakan apakah benar yang dilakukan si terdakwa tadi itu dapat dinilai sebagai suatu penistaan.

Namun yang terjadi agak diluar dugaan. Orang tua sepuh yang jadi saksi ini, di ruang pengadilan tersebut dicecar oleh si terdakwa serta tim penasihat hukumnya dengan soalan-soalan yang seolah-olah beliau itu yang menjadi terdakwa. Tidak tanggung-tanggung beliau dituduh sebagai pembohong dan digertak akan diperkarakan. Beliau harus berada di ruang pengadilan itu sampai tujuh jam lamanya. Benar-benar sesuatu yang luar biasa. Telah terjadi sesuatu yang kalimuncungan di ruang sidang itu, ketika terdakwa dengan keangkuhannya memperlakukan saksi dengan sangat tidak sopan. Yang terjadi ibarat memakan martabak manis dan martabak asin bersamaan. Dalam serangan mereka itu tanpa mereka (terdakwa dan penasihat hukumnya) sadari telah membuka cacadnya sendiri yang sangat mungkin bisa menjadi perkara yang lain pula.

Yang terjadi sesudah itu mungkin tidak diperhitungkan pula oleh si terdakwa. Masyarakat, terutama anggota organisasi masa sang kiyai secara bersamaan mengecam dan bahkan ada yang mengancam si terdakwa. Apa-apa yang diungkapkan terdakwa dan penasihat hukumnya bisa-bisa menyeretnya ke persoalan hukum yang lain. Sepertinya sang terdakwa dan para penasihat hukumnya baru sadar sesudah itu dan bahkan terlihat ketakutan.

Yang sangat mengherankan kita, yang pergi menyambangi sang kiyai  sesudah 'malapetaka' di ruang pengadilan itu adalah seorang menteri senior disertai petinggi tentara dan polisi. Menurut menteri itu hanya kunjungan biasa karena beliau sudah saling kenal sejak lama dengan sang kiyai. Tapi orang-orang yang tidak buta segera faham bahwa kunjungan tersebut bukan sekedar kunjungan silaturrahim karena memang tidak terlihat sama sekali seperti itu. 

Seandainya benarlah yang disangka banyak orang bahwa kunjungan petinggi-petinggi ke rumah sang kiyai dalam rangka melembutkan hati beliau untuk memberi maaf, kita jadi bertanya-tanya, apa hal yang demikian tidak salah pasang? Kok sebegitu benar pembelaan atau pertolongan untuk si tersangka yang jumawa? Di mana martabat petinggi-petinggi ini?  

Si terdakwa kononnya juga ingin datang minta maaf, tapi sang kiyai berlaku sangat bijak. Kalau urusan maaf, beliau sudah memaafkan. Tapi kalau untuk bertemu, beliau menolak. Khawatir umat akan bertambah marah. 

Entah bagaimana akan berakhirnya pengadilan untuk si terdakwa ini nanti.

****  

Selasa, 31 Januari 2017

Sampai Kapan Terus Berdalih (Dari Islampos)

Sampai Kapan Terus Berdalih?

Oleh: Rohmat Saputra jeparahanif@gmail.com

DUNIA adalah tempat mencari bekal untuk akhirat. Dimana hanya tempat beramal tanpa hisab. Nanti di akhirat tempat hisab tanpa amal. Sayangnya banyak yang terlalaikan dengan dunia. Lupa bahwa hidup dunia hanya seperti singgah saja. Tidak akan lama. Tujuan pokok yang selayaknya menjadi prioritas lambat laut tersisihkan. Akhirnya muncullah berbagai alasan sebagai dalih akan pembenaran yang dilakukan. 

“Uniknya”, di setiap usia ada saja alasan. Berikut bentuk alasannya.

Di Usia Anak-Anak

Di masa anak-anak sebenarnya sudah bisa diajarkan sesuatu yang bermanfaat untuk masa depan. Khususnya di bidang agama. Justru masa kecil adalah masa dimana mudah sekali membekas apa saja yang diajarkan. Apa yang ditransfer dari orang tuanya melalui teladan dan nasehat, otak anak-anak mudah merekam. Meski tampaknya mereka tidak beraksi atas nasehat dan teladan yang mereka dapatkan, tapi itu semua akan membentuk pribadi ketika dewasa kelak. Anehnya, terkadang orang tua yang tidak paham agama akan berdalih, “Biarlah, mereka kan masih kecil”. 

Dari dalih seperti itu, akibatnya kebaikan tertutup dan tidak tersalurkan kepada anak-anak. Padahal mereka adalah bibit unggul yang mudah sekali dicetak. Usia mereka adalah usia emas. Kepolosan mereka menjadi kelebihan dalam mengajarkan kebaikan. Jika dibiarkan, mereka akan tumbuh tanpa kebaikan Islam. Hasilnya orientasi hidup di dunia hanya mencari materi tanpa ruh Islam.

Di Usia Muda

Usia muda biasanya masa pencarian jati diri. Apa saja yang unik menjadi perhatian bagi mereka. Tidak jarang diantara mereka malah kebablasan dalam bergaul. Tanpa batas menerima semua pergaulan dari siapa saja. Mereka beralasan “mumpung masih muda”. Alasan itu seolah menjamin usia mereka bakal panjang. Padahal tidak sedikit di antara mereka yang mati waktu muda. Karena usia muda tidak menjadi alasan kematian undur datang. Maka alasan itu hanya sebagai dalih penghalalan untuk melakukan apa saja tanpa ada yang melarang. 

Lebih mirisnya lagi orang tua dari anak muda. Alasannya hampir sama dengan anaknya. “Biarlah, mereka kan masih muda”. Pertanyaannya, apakah usia muda berarti masa membolehkan segala hal demi kepuasan jiwa muda, yang kemungkinan besar tak terkendali? 

Alasan seperti itu seperti mewajarkan sesuatu bukan pada tempatnya. Seharusnya masa muda bukan dibiarkan dengan bebas. Tapi dituntun untuk dikendalikan agar tidak lepas. Pembentukan mental kuat dan kokoh pada generasi muda tentu dengan didikan yang tidak bersifat mengekang. Agar bisa mengimprovisasi selama itu dalam pantauan orang tua dan pendidik.

Di Usia Dewasa

Usia dewasa telah masuk. Kesibukan mulai datang. Hingga ada yang terkalahkan dengan kesibukannya. Bahkan tidak sempat melakukan ibadah apapun karena berdalih “Saya sibuk, tidak sempat sholat ke masjid dan menghadiri majelis ilmu”. Kalau memang alasannya selalu sibuk untuk melakukan ibadah, berarti orang-orang yang rutin sholat 5 waktu dan menghadiri kajian ilmu, dianggap kumpulan orang pengangguran?

Sebenarnya pekerjaan sibuk tidak serta merta mengalahkan ibadah. Sebab hakikat kerja hanyalah sebagai penopang agar bisa melanjutkan hidup. Pekerjaan banyak yang mengakibatkan sibuk sebenarnya tergantung dari bagaimana memenej waktu. Sehingga tidak diatur waktu terus-terusan. Manusialah yang mengatur waktu itu sendiri agar bisa membaginya dengan ibadah. 

Memang secara realita, seseorang harus patuh terhadap peraturan dimana seseorang bekerja. Tapi tentu tidak mungkin kerjanya full tanpa jedah. Alasan “saya sibuk” adalah dalih agar bebas dari berbagai kewajiban. Itu menunjukkan seseorang sudah kalah dengan pekerjaannya sampai kewajiban tersingkirkan.

Di Usia Tua

Usia dewasa tidak akan bertahan lama. Usia tua selanjutnya akan datang. Semua kekuatan telah dihabiskan pada usia muda dan dewasa. Saat memasuki usia tua, kekuatan berkurang. Ibarat mesin tua. Kerjanya sudah tidak sebagus ketika mesin baru. Tapi sayangnya ada sebagian yang susah dalam beribadah. Bahkan beralasan “Saya sudah sakit-sakitan, jadi susah untuk beribadah”. Akhirnya dimasa tua hanya seolah menunggu mati tanpa ada amalan apapun. Selebihnya mungkin bergaul dengan cucu-cucunya saja. 
Padahal melakukan ibadah bisa dilakukan dalam segala usia. Banyak ibadah ringan lainnya yang disesuaikan dengan kemampuan. Sebab Islam tidak memerintahkan beramal diluar batas kemampuan seseorang. 

Banyak beribadah meski di ujung usia adalah cerminan dari usia saat muda dan dewasa. Dimasa muda dan dewasa biasa melakukan ibadah seperti bersedekah, shalat berjama’ah dan shalat malam, maka saat tuapun akan terbiasa melakukannya. Walaupun kondisi fisik tak sekuat dulu.Tapi saat muda dan dewasa mudah meninggalkan shalat, mengaji hanya saat ramadhan, shubuh biasa kebablasan, maka yang terjadi tidak akan jauh berbeda. Di usia tua pun kemungkinan besar akan seperti itu. 

Karena aktivitas dalam keseharian bisa membentuk pola hidup. Sehingga biasanya setiap hari mengaji, kemudian satu hari saja tidak mengaji, maka seolah ada yang kurang. Begitu juga sebaliknya. Pola hidup ini akan terus berlanjut bila tidak dirubah dengan menggantikan aktifitas yang lainnya. 

Semua alasan diatas yang terkandung dari masa kecil, masa muda, masa dewasa dan di masa tua, merupakan sebuah dalih dari ribuan dalih lainnya untuk menghindari kewajiban. Syetan memiliki dalih lebih banyak agar menjauhi kebaikan. Akibat dari dalih itu banyak sekali korban yang telah berjatuhan. 

Para korban tidak sadar bahwa dalih tersebut membawa pada kehancuran. Akhirnya sedikit yang mengantongi bekal untuk kehidupan yang lebih panjang. Sebab ternyata telah termakan dengan ribuan alasan yang memang telah disiapkan oleh syetan. Jadi, masihkah kita punya alasan untuk tidak menjauhi syetan? 

****

Senin, 30 Januari 2017

Nasi Uduk

Nasi Uduk 

Di hari Ahad siang beberapa hari yang lalu kami menghadiri undangan walimahan anak seorang kerabat. Acara tersebut dilanjutkan pula dengan pertemuan keluarga sehingga sudah agak sore kami baru sampai di rumah. Istriku sudah terlalu capek untuk memasak dan kami berniat untuk makan di luar saja pada malam harinya. Tapi tidak ingin ke rumah makan masakan Padang. Pilihan akhirnya jatuh ke penjual nasi uduk pinggir jalan dekat pintu tol Jatibening, tidak terlalu jauh dari rumah. Meski tidak sering, kami sudah beberapa kali mampir di warung ini.

Sesudah shalat isya kami pergi ke tempat tersebut bertiga dengan si Bungsu. Malam itu ternyata kami kurang beruntung. Nasi uduk itu tidak seperti biasanya. Hambar dan tidak terasa rempah apapun. Begitu juga ayam gorengnya, tawar dan tidak enak. 

Begitu beranjak pulang dari tempat itu, aku berikrar akan membuat sendiri nasi uduk besok di rumah. Si Bungsu tersenyum tanpa komentar. Dia tahu bahwa aku sangat kecewa dengan nasi uduk yang kami makan malam itu.

Sore hari besoknya aku benar-benar melakukannya. Nasi uduk, ayam goreng bumbu dan sambel. Nasi uduk itu tidak sulit bumbunya. Beras ditanak dengan bumbu yang terdiri dari tiga batang serai dimemarkan, 4 lembar daun salam, 4 lembar daun jeruk, santan kental dan garam. Periuknya dijerangkan di atas kompor sampai air nasi mendidih, lalu diaduk-aduk beberapa saat. Terakhir dipindahkan ke rice cooker sampai sempurna masaknya. Selesai. Bau harum nasi uduk ini berhamburan dalam rumah

Ayam bumbu adalah potongan daging ayam direbus dengan bumbu bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas  yang diblender plus garam secukupnya. Merebusnya cukup sampai air rebusannya mendidih untuk beberapa menit. Seterusnya ayam bumbu itu digoreng sampai agak kering. Bagian ini dikerjakan oleh istriku.

Sambel adalah gabungan antara cabe yang sudah digiling, bawang merah dan tomat, ditambah garam secukupnya, lalu di goreng dengan sedikit minyak goreng atau bisa juga dikukus.  Peraskan sedikit asam jeruk.

Semua pekerjaan itu dilakukan sepulang dari shalat maghrib dalam waktu sekitar 40 menit. Dan kami makan sesudah shalat isya. Sayurnya ketimun dan daun selada mentah. Dan tentu saja ini adalah nasi uduk yang sangat jauh berbeda rasanya dengan yang kami makan kemarin. 

Sebagian nasi uduk itu di kirim ke rumah depan. Cucu-cucu yang sudah makan malam,  kembali makan dengan sangat bersemangat. Mantap ini, kata mereka.   

Ketika kecewa dengan makanan di luar (entah di restoran atau kedai pinggir jalan) aku biasanya terpancing untuk membuat masakan yang sama di rumah.

****     

Minggu, 29 Januari 2017

Sakit Gigi

Sakit Gigi

Ketetapan Allah, gigi-gigiku kurang teratur tumbuhnya. Tapi dengan izin Allah di tengah keluarga (istri dan anak-anak, bahkan dengan saudara-saudara) aku yang paling jarang sakit gigi. 'Penyakit' gigiku umumnya adalah karang gigi. Secara berkala aku mendatangi dokter gigi untuk membersihkan karang gigi. Biasanya sekali dua tahun. Tapi akhir-akhir ini jadwalnya agak molor. Sudah lebih tiga tahun sejak terakhir kali aku mendatangi dokter gigi untuk membersihkan karang gigi.

Beberapa bulan yang lalu gusiku sakit. Bengkak dan ngilu ketika mengunyah. Atas saran si Tengah (yang dokter gigi) aku pergi mengunjungi sejawatnya yang praktek di daerah Bekasi. Karang gigi dibersihkannya. Menurut dokter ini, gusi yang bengkak boleh jadi disebabkan gigi yang sedang 'sakit' (meski tidak ada bolong). Dia membersihkan bagian yang bengkak dan mengeluarkan nanahnya.  Sang dokter ini khawatir bahwa saraf gigi tersebut sudah mati. Aku disuruhnya merontgen mulut untuk mengamati gigi 'sakit' itu lebih seksama. Seandainya terbukti nanti bahwa sarafnya mati, maka akan dilakukan pekerjaan khusus, menanamkan sejenis logam di gigi yang bermasalah itu.

Aku pergi membuat foto rontgen. Sang dokter berpesan agar meminta lab tempat rontgen itu mengirimkan hasil fotonya via email. Dan disanggupi pula oleh petugas di lab rontgen. Dan dokter berjanji akan menghubungiku kalau sudah melihat foto rontgen.

Gusi yang sebelumnya bengkak kembali lagi bengkak sementara dokter gigi tidak memberi obat apapun. Gigi dengan gusi bengkak itu tetap terasa ngilu. Lalu aku bereksperimen sendiri. Menggunakan minyak tawon. Minyak tawon biasanya sangat ampuh untuk menyembuhkan bisul atau luka memar bekas terantuk. Sebuah percobaan nekad saja dengan harapan menghilangkan rasa sakit dan ngilu. Alhamdulillah, ternyata manjur. Setelah beberapa kali mengoleskan minyak tawon di gusi yang bengkak tadi, bengkaknya hilang begitu pula dengan rasa ngilu.  

Sudah seminggu sejak kunjungan ke dokter gigi di Bekasi, tidak ada berita apa-apa darinya. Akhirnya aku yang menelponnya. Ternyata dia tidak menerima kiriman foto rontgen melalui email. Dan dia bertanya bagaimana keadaan gigiku saat itu. Aku jawab bahwa alhamdulillah sudah baik. Gusinya sudah sembuh? tanyanya pula dan aku jawab, sudah, tanpa menceritakan bahwa aku menggunakan minyak tawon 

Beberapa hari kemudian aku ngobrol via skype dengan si Tengah. Dia mengatakan bahwa yang aku lakukan adalah sesuatu yang salah. Minyak tawon itu obat luar, tidak boleh digunakan di mulut, begitu katanya. Aku bilang buktinya dengan izin Allah sembuh. Tapi, katanya tetap saja itu salah. Ada resiko nanti gusinya mendapat masalah lain, karena gusi tidak sama dengan kulit luar dan tidak semestinya diolesi minyak tawon.  Aku malas berbantah-bantahan dengannya. Tapi dalam hatiku, yodium (obat luka) yang biasanya dipakai untuk luka di kulit digunakan pula oleh dokter gigi di gusi yang berdarah ketika mencabut gigi.  

Karena agak khawatir juga dengan apa yang dikatakan si Tengah, akhirnya aku coba cek apa saja kandungan minyak tawon. Ternyata minyak tawon itu terbuat dari bahan tumbuh-tumbuhan seperti minyak kayu putih, minyak kelapa, cengkeh dan lada. Kekhawatiranku hilang.   

****