Senin, 18 Februari 2019

Sadar Bahwa Sudah Tua

Sadar Bahwa Sudah Tua

Seorang teman mengeluh bahwa ternyata sudah banyak yang hilang atau berkurang pada dirinya. Tenaga sudah tidak seperti dulu lagi, kesehatan sudah semakin rapuh, dan... penampilan tubuhnya sudah semakin tua... Pada saat yang sama dia teringat tentang keperkasaannya dulu. Dulu dia seorang olahragawan bertubuh atletis. Sampai suatu saat dia diperingatkan dokter bahwa dia mengidap penyakit gula, ketika usianya masih sekitar empat puluhan akhir. Dia berusaha untuk mengendalikan selera makannya sejak saat itu yang alhamdulillah sangat membantu untuk menjaga kesehatannya.

Apa yang dirasakannya sebenarnya adalah sesuatu yang biasa-biasa saja, yang sangat umum dialami oleh kebanyakan orang. Di usia menjelang tujuhpuluh tahun, lalu terasa banyak yang sudah hilang dari kesanggupan tubuh kita adalah sesuatu yang wajar. Karena memang seperti itu yang sudah ditetapkan Allah sebagaimana firmannya dalam surat Ar Ruum ayat 54; 'Allah yang telah menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian menjadi kuat, kemudian menjadi lemah dan beruban,,,,'

Kita terlahir dalam keadaan lemah tak berdaya. Lalu dijadikan Allah kuat dan bertenaga sampai usia tertentu, dan setelah itu dijadikan Allah kembali lemah sebelum akhirnya kita dikembalikan kepada Nya. Seperti itu siklus kehidupan rata-rata manusia. 

Justru pada saat menyadari bahwa kita sudah mulai dijadikan lemah oleh Allah seharusnya kita sadar bahwa kita sudah makin mendekati garis finish. Maka seyogianya semakin ditingkatkan persiapan untuk menghadap Allah. Diperbanyak amal shalih. Tidak usah dikenang dan dikhayalkan juga keperkasaan di masa lalu, yang sekarang sudah jauh tertinggal dalam kehidupan kita. 

****

Jumat, 15 Februari 2019

Setali Pembeli Kemenyan

Setali Pembeli Kemenyan

Ini adalah sebuah pantun lama, 

Setali pembeli kemenyan
Sekupang pembeli ketaya
Sekali lancung ke ujian
Seumur hidup orang tak percaya

Sebuah pantun nasihat, agar seseorang itu senantiasa memelihara kepercayaan. Senantiasa amanah. Jangan suka berbohong dan menipu. Karena sekali saja seseorang dikenal sebagai orang yang tidak amanah maka setelah itu akan sulit bagi orang lain untuk mempercayainya. Sekali diketahui lancung, diketahui bohong, setelah itu orang akan menilai dan mencapnya sebagai orang yang tidak bisa dipercaya.

Pantun di atas adalah  pantun lama. Sekarang orang tidak kenal lagi dengan uang sekupang atau setali. Dan pesan yang disampaikan oleh pantun itupun kelihatannya sudah tidak cocok lagi.

Pantun yang lebih cocok adalah;

Tersauh tali di ujung dahan
Burung terbang di atasnya
Berpuluh kali lancung ke ujian
Namun gerundang percaya juga

Kalaulah sekali dua kali seseorang itu berbohong kita mungkin akan masih menyangka bahwa dia hanya terkhilaf saja. Tapi kalau sudah berpuluh kali kata-katanya tidak bisa dipercaya......

Dan yang mengherankan, masih ada juga yang sangat percaya kepadanya.

****

Rabu, 13 Februari 2019

Rumah Tempat Tinggal

Rumah Tempat Tinggal

Keluargaku tinggal di rumah di Jatibening ini sejak akhir tahun 1993, sejak kami pindah dari Balikpapan. Bagiku, rumah inilah tempat kediaman yang paling lama aku tempati dalam kehidupanku. Sebagai perbandingan, ketika menetap di Balikpapan dalam kurun waktu 14 tahun kami pindah tempat tinggal tidak kurang dari lima kali.

Rumah ini dibangun tahun 1991 dalam komplek perumahan sederhana atau yang dikenal sebagai perumnas. Kami membeli tanah persis di luar komplek yang ada dan bergabung dengan penghuni komplek. Sejak awal aku sangat betah tinggal di lingkungan ini. Aku mendapat jatah rumah yang dibiayai dengan pinjaman kantor di Pondok Kelapa - Jakarta Timur. Ada keinginan istri dan anak-anakku untuk pindah ke rumah itu ditahun 1996, tapi aku menolak karena terlanjur sudah senang dengan komplek di Jatibening ini.

Dalam perjalanan waktu, sebagian besar rumah-rumah di komplek ini sudah di renovasi menjadi bangunan yang lebih bagus. Banyak pula yang sudah berganti pemilik karena dijual oleh pemilik lama.

Aku amati sekurang-kurangnya ada empat buah rumah yang sudah berganti pemilik tersebut. Rumah-rumah yang dibina oleh pemilik mula-mula lalu  diperbaiki dan diperindah. Kemudian si empunya (suami istri) sesuai dengan ketetapan Allah meninggal dunia. Lalu rumah-rumah itu oleh anak-anaknya dijual. Mungkin karena mereka juga sudah punya tempat tinggal dan mungkin lebih mudah bagi anak-anak tersebut untuk membagi harta pusaka peninggalan orang tua mereka.  

Entah kenapa, terbayang pula olehku, pada waktu aku dan istriku sudah tidak ada nanti, mungkin anak-anak kami akan melakukan hal yang sama. Rumah yang sudah  kami tempati berpuluh tahun ini, tempat anak-anak beranjak dewasa, bahkan dua yang sudah menikah aku nikahkan dari rumah ini, nanti akan kami tinggalkan. Artinya, rumah ini benar-benar hanyalah tempat tinggal sangat sementara.

****

Selasa, 12 Februari 2019

Pohon Mangga Yang.......

Pohon Mangga Yang.......


Ada pohon mangga yang tumbuh di depan rumah, ditanam adik ipar dari biji mangga sekitar awal tahun 1990an. Pohon ini mulai berbuah ketika kami sudah tinggal di rumah ini beberapa tahun kemudian. Pohon itu kami cangkok. Cangkokannya ditanam di pekarangan belakang yang segera pula  setelah beberapa tahun berkembang pesat menjadi pohon yang kukuh, besar dan berbuah pula. Demikianlah sepanjang masa, di saat dia berbuah dengan lebat, di kedua pohon, dengan buah besar-besar yang pernah ditimbang sebijinya hampir 1 kg beratnya. Meski buah itu selalunya dikongsi dengan kalong yang sangat rajin mendatangi kedua pohon itu disaat berbuah.


Pohon yang di depan rumah mempunyai ranting yang menjulai ke kawat listrik. Sebenarnya sudah bertahun-tahun tidak ada masalah dengan ranting seperti itu. Tapi beberapa bulan yang lalu kami setuju memangkas dan merapikan ranting-ranting itu. Dimintalah pertolongan ahli penebang pohon yang datang dengan alat gergaji mesin. Kedua pohon itu dicukur untuk dirapikan. Yang di pekarangan depan mungkin agak sedikit berlebihan pemotongannya sementara yang dibelakang dipangkas jauh lebih sedikit.

Qadarullah..... setelah beberapa pekan, pohon yang di depan terlihat seperti mulai mati. 
Daun-daun yang tinggal sedikit ketika dipangkas mengering dan tidak pernah muncul daun baru. Mula-mula aku berharap di saat musin hujan pohon itu akan kembali menumbuhkan daun. Harapan itu ternyata sia-sia. 

Yang di pekarangan belakang mulanya aman-aman saja. Sampai suatu hari ketika banyak angin, daunnya rontok. Dan tidak ada daun baru yang tumbuh sesudah itu. Ringkasnya, ternyata kedua pohon itu sudah sampai ajalnya. Sedih juga melihatnya.

Dan hari ini kedua pohon malang yang sudah mati itu disingkirkan oleh tukang potongnya dulu itu lagi.

****






Minggu, 20 Januari 2019

Tidak Mau Dimasuki Kebenaran

Tidak Mau Dimasuki Kebenaran                       

(Tergelitik juga aku untuk menulis setelah sudah sangat lama absen)

Judul di atas dibahasa-indonesiakan dari ungkapan yang dalam bahasa kampungku berbunyi, 'indak masuak lalu bana'. Ungkapan ini diarahkan kepada orang yang kepadanya ditunjukkan sesuatu kebenaran namun dia tidak kunjung mau menerimanya. Dia menutup matahatinya dan menyangkal setiap kebenaran yang disampaikan itu.

Negara kita sedang mempersiapkan pembaharuan nakhoda negeri besar ini. Kita sedang mempersiapkan pemilihan presiden. Ada dua calon. Yang sedang menjabat dan ingin melanjutkan masa jabatannya dan yang seorang lagi yang menantang untuk menggantikan. Sampai disini tentu aman-aman saja masalahnya,

Sebagai rakyat kita berkewajiban memilih salah satu di antara kedua calon. Memilih ini tentu bukan sekedar memilih tapi harus dengan pertimbangan matang, bahwa pemimpin untuk lima tahun ke depan benar-benar yang akan membawa kebaikan untuk setiap kita, rakyat yang memilih. Adalah wajar kalau kita menimbang dan memperhatikan dengan sangat hati-hati sebelum menentukan pilihan. Adalah wajar juga kalau kita menilai apa saja yang sudah dicapai oleh yang ingin melanjutkan kepemimpinannya, selama lima tahun terakhir dia berkiprah.

Aku mendapat kiriman  melalui WA sebuah daftar tentang apa-apa saja yang lima tahun yang lalu direncanakan oleh beliau akan dikerjakan atau dijanjikan untuk dicapai, disertai evaluasinya. Apa saja yang sudah terlaksana dan apa yang belum. Sesuatu yang sangat mudah diamati. Ternyata sebagian besar memang belum atau tidak tercapai. Ini adalah suatu kenyataan yang tidak dibuat-buat. Pengamatan seperti ini rasa-rasanya sangat perlu dilakukan sebelum kita menentukan pilihan

Ternyata ada saja orang yang tidak suka hal seperti ini dikemukakan. Seolah-olah yang sudah berlalu itu biarkan sajalah. Lalu, mari kita berikan lagi saja kepercayaan untuk lima tahun berikutnya, begitu maunya. 

Ketika kita jelaskan bahwa yang tidak dicapai sesudah direncanakan itu adalah kegagalan dia tidak bisa terima. Ketika kita katakan bahwa janji-janji yang tidak ditepati itu adalah pertanda tidak amanah dia malahan marah. Orang-orang yang seperti inilah, yang fanatik buta, yang tidak mau menerima kebenaran.

****

Minggu, 26 Agustus 2018

Memotong Hewan Kurban 1439H

Memotong Hewan Kurban 1439H 

Amal yang dapat dipelihara kelangsungannya mudah-mudahan mempunyai nilai khusus di sisi Allah. Inilah harapan kami, jamaah mesjid Al Husna di Komplek Depkes II. Yang jadi panitia pelaksanaan kurban berkurang juga satu persatu dari tahun ke tahun, namun alhamdulillah kebersamaan dalam bergotong-royong di Hari Raya Aidil Adha masih tetap dapat dipertahankan. 

Gotong royong di hari pemotongan itu adalah kerja bersama para jamaah mulai dari memotong-motong daging kurban, membuat tumpukan, memasukkannya ke dalam kantong siap untuk dibagikan dan terakhir sekali membagikannya kepada masyarakat dari perkampungan di sekitar komplek. Sudah bertahun-tahun acara yang sama kami lakukan. 

Jumlah hewan kurban di komplek kami terhitung banyak setiap tahun. Tahun ini ada 17 ekor sapi ditambah 16 ekor kambing. Untuk menyembelih sapi kami minta bantuan petugas dari rumah potong, yang memang sudah terampil. Petugas ini yang merebahkan sapi, menyembelihnya, menguliti dan memotong daging sapi itu dalam bongkahan besar. Selanjutnya para jamaah yang meneruskan memotong-motong daging tersebut dalam ukuran lebih kecil. 

Pekerjaan besar itu dimulai jam setengah sembilan pagi dan berakhir jam lima sore. Kami beristirahat untuk shalat zhuhur dilanjutkan makan siang (nasi kotak) dan kembali diistirahatkan untuk shalat asar. 

Beberapa hari sebelumnya, kami telah membagi-bagikan kupon kepada masyarakat sekitar komplek. Seperti tahun-tahun sebelumnya ada 1600 lembar kupon yang dibagikan. Maka di hari pemotongan jumlah kantong yang disiapkan harus sama banyak dengan kupon yang sudah dibagikan. Sesudah shalat asar para pemegang kupon sudah ramai di luar pagar mesjid, sementara kami masih menyelesaikan kantong-kantong terakhir. Lewat sedikit dari jam empat rombongan penerima daging kurban itu diizinkan masuk pekarangan mesjid satu per satu dengan kawalan petugas keamanan komplek. Sekitar jam lima semua kantong habis dibagikan. Alhamdulillah.

Petugas mesjid dibantu beberapa orang melanjutkan pekerjaan membersihkan beranda mesjid tempat kami bergotong royong.  

****     

Sabtu, 26 Mei 2018

Manejemen Waktu Berbuka Puasa

Manejemen Waktu Berbuka Puasa 

Berpuasa di masa kanak-kanak dulu di kampung jelas sangat berbeda suasananya. Kami tinggal di kampung yang belum punya penerangan listrik, yang malamnya, ketika bulan belum muncul gelap luar biasa. Kalam piriak kami menyebutnya.

Maka ibu-ibu harus menyiapkan makanan untuk berbuka puasa sebelum sinar siang mulai menghilang. Almarhumah ibuku, sudah siap biasanya sekitar jam setengah enam, ketika kita berbuka di sekitar jam enam petang. Makanan  sudah ditata di atas tikar sementara kami menunggu beduk maghrib dipukul di mesjid. Karena kami berenam yang ketika itu masih kanak-kanak, berbuka artinya adalah makan malam seutuhnya. Ada pabukoan entah kolak pisang dengan ketan atau apapun, yang seharusnya untuk menandai berbuka puasa. Bagi kami itu bukan prioritas pertama. Langsung nasi. Karena kami sedang lapar-laparnya.   

Sesudah makan nasi, dan biasanya ditutup pula dengan kolak pisang, kami pergi ke mesjid. Shalat maghrib terlambat diteruskan dengan shalat isya plus shalat tarawih berjamaah. Aku ikut pula bertadarus sesudah itu di mesjid dan pulang sekitar jam sepuluh malam dalam kegelapan yang kalam piriak tadi itu.

Yang lebih tepat, seperti di rumah mak tuo kami di sebelah, beliau makan pabukoan dulu membatalkan puasa lalu bersegera shalat maghrib. Sesudah shalat maghrib barulah makan besar.  

Sekarang aku biasanya berbuka dengan seteguk minuman atau sebutir dua butir kurma, atau sepiring kecil pabukoan lalu segera ke mesjid untuk shalat maghrib berjamaah. Waktunya agak pas-pasaan. Begitu sampai di mesjid hanya beberapa puluh detik sebelum iqamah. Pulang dari mesjid barulah makan nasi. Ada juga jemaah yang makannya nanti setelah shalat tarawih.

Mungkin karena kita tidak lagi tinggal di suasana gelap gulita, istriku sering masih sibuk memanaskan makanan ini itu yang dimasak tadi sore. Padahal memakan masakan yang terlalu panas itu tidak pula nyaman. Kepinginnya begitu sampai di rumah sesudah shalat maghrib kita semua bisa duduk bersama di meja makan. Tapi kenyataannya, ketika aku pulang, tidak jarang istriku masih shalat maghrib dulu, karena sesudah makan pabukoan dia masih sibuk dengan urusan kompor. Shalat jadinya tidak di awal waktu.  

****