Sabtu, 02 Juli 2011

Memotong Hewan

Memotong Hewan  

Hewan ternak semisal sapi, kerbau, kambing dan domba, adalah hewan yang biasa dikonsumsi. Dimakan. Karena memang disediakan Allah untuk itu. Firman Allah dalam surat Al An'aam (arti surat ini sendiri adalah binatang ternak) ayat 142; 'Dan di antara binatang ternak itu (Allah menjadikan) untuk pengangkutan dan untuk disembelih. Makanlah dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan, karena sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu.'         

Hewan-hewan itu halal untuk dimakan setelah disembelih dengan menyebut nama Allah pada saat pemotongannya. Memotong hewan itu sendiri ada sunnnah atau tuntunannya yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Hendaklah digunakan pisau yang tajam. Hendaklah penyembelihan itu dilakukan dengan tepat dan cepat agar tidak menyakiti binatang sembelihan itu. Hendaklah putus kedua saluran di lehernya (saluran makanan dan saluran udara).

Ketika kami memotong hewan kurban di hari raya Aidil Qurban, aku pernah melihat tingkah polah sementara pembantu tukang potong yang tidak tertib dan serampangan. Sapi atau kambing yang baru disembelih dan belum sempurna matinya sudah mereka 'proses' dengan memisahkan kepalanya, memotong buntutnya dan sebagainya. Ketika melihat hal tersebut aku segera melarang mereka, menyuruh mereka menunggu sampai hewan kurban itu sempurna matinya. Bahkan setiap tahun, sebelum memulai pekerjaan pemotongan para petugas itu kami briefing dulu, mengingatkan agar semua yang bekerja berlaku tertib.

Baru-baru ini pemerintah Australia memprotes dan mengancam tidak akan menjual ternak sapinya ke beberapa kota karena menurut pengamatan mereka pemotongan hewan di kota-kota tersebut dilakukan secara serampangan dan menyakiti sapi potong. Heboh polemik tentang itu dan bahkan ada yang menanggapi dengan emosi. Aku melihat video youtube acara pemotongan di sebuah rumah jagal yang berasal dari pengamat Australia itu. Di situ diperlihatkan bahwa sapi yang sudah menjelang mati itu 'diusili', dipukul atau mungkin dipotong bagian badannya sementara hewan itu belum mati. Jadi persis seperti yang pernah aku lihat dulu di tempat kami memotong hewan. Dulu, waktu aku tegor, para tukang potong itu mengatakan bahwa mereka harus bekerja dengan cepat. Sehingga tercemarlah adab untuk berlaku baik-baik terhadap binatang sembelihan.

Entah karena ikut-ikutan, atau ada penyebab lain, giliran pemerintah Belanda kononnya melarang penyembelihan sapi secara Islam. Menurut orang Belanda, sapi yang akan dipotong itu harus dibius dulu agar dia tidak merasa sakit. Alasan ini terkesan mengada-ada. Penyebabnya, karena menurutkan perasaan 'pencinta hewan', mereka merasa kasihan melihat sapi kesakitan waktu disembelih. Pada hal untuk memingsankan hewan potong tersebut ada pula yang dengan cara dipukul kepalanya dengan benda keras. Untuk yang terakhir ini, jadi syubhat untuk dimakan orang Islam, khawatir matinya bukan lagi karena sembelihan.

Yang paling benar itu adalah menyembelih dengan adab seperti yang diajarkan Islam. Dengan pisau tajam dan dilakukan dengan cepat lalu menunggu sampai hewan itu sempurna mati. Seperti itu sudah cukup, karena hewan itu memang dihalalkan untuk disembelih dan dimakan.

*****

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar