Jumat, 30 November 2012

Jangan Jadi Orang Yang Durhaka

Jangan Jadi Orang Yang Durhaka 

Durhaka artinya melawan, mengingkari, melukai yang didurhakai. Ternyata durhaka itu bermacam-macam dan bertingkat-tingkat pula. Perbuatan durhaka yang paling berat adalah melawan perintah Allah. Mendurhakai ketetapan-ketetapan Allah. Melanggar dengan mengabaikan apa-apa yang diperintahkan Allah atau melanggar dengan mengerjakan apa-apa yang dilarang-Nya. Allah murka kepada orang-orang seperti ini sampai mereka bertaubat dan minta ampun.

Yang kedua durhaka kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Suatu ketika, dalam sebuah perjalanan yang jauh di bulan Ramadhan, Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam membatalkan puasa beliau di sebelah petang dan menyuruh para pengikut beliau untuk melakukan hal yang sama. Ada di antara yang hadir ketika itu enggan membatalkan puasanya, dan hal itu diberitahukan orang kepada Rasulullah. Beliau mengatakan bahwa mereka yang tidak membatalkan puasa padahal sudah dicontohkan dan disuruh itu sebagai pendurhaka. Ketika kita yang hidup sekarang ini diberitahu bahwa suatu amalan diajarkan dan diingatkan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam untuk mengerjakan, lalu kita menyangkalnya dengan mengatakan bahwa hal tersebut tidak berlaku untuk diri kita dengan alasan apapun, berarti kita telah mendurhakai ajaran Rasulullah. Telah durhaka kepada beliau.
                           
Dalam hubungan sesama manusia biasa, kebanyakan orang menganggap yang disebut durhaka itu hanya sebatas anak yang melawan dan melecehkan orang tua saja. Seorang adik yang melecehkan kakaknya tidak dikatakan durhaka, tapi disebut 'melawan' saja. Padahal sebenarnya perbuatan seperti itu, melawan dan melecehkan kakak termasuk kategori durhaka juga. Begitu juga seorang istri yang melawan dan melecehkan suami, disebut sebagai mendurhakai suami.

Mungkin akan lebih jelas kalau kita memahami bagaimana hukum mendurhaka. Dalam Islam, mendurhakai orang tua termasuk perbuatan dosa besar. Seorang Muslim dilarang berkata yang menyakitkan hati orang tuanya. Bahkan al Quran melarang kita menampakkan rasa kesal dan mengucapkan kata-kata 'cis' atau kata 'ah' kepada orang tua. Perbuatan seperti itu termasuk kedurhakaan (lihat surah Al Israa' (17) ayat 23). Seorang anak harus senantiasa berbakti dengan perbuatan, dengan perkataan kepada orang tuanya, terlebih-lebih ketika orang tuanya tersebut telah lanjut usia dan lemah.

Istri yang tidak mentaati suami dalam hal-hal kebenaran termasuk pendurhaka. Istri yang shalihah adalah istri yang senantiasa berbakti kepada suami dan mengerjakan baktinya itu semata-mata karena Allah. Karena begitu diajarkan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Sabda beliau, seandainya ada kewajiban manusia menyembah kepada manusia, maka akan diwajibkan bagi istri menyembah kepada suami. 

Dalam sebuah pengajian di mesjid kami ketika seorang ustad membahas tentang pengabdian istri kepada suami ini, ada yang bertanya, bagaimana kalau ada seorang istri taat dan berbakti kepada suami sementara suaminya zalim. Jawab ustad tersebut, ketaatan si istri adalah bukti keberimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya sedangkan kezaliman suami adalah kedurhakaan sang suami tersebut kepada Allah. Jadi, meski suami zalim, si istri tetap wajib taat juga, lanjutan pertanyaan. Jawab ustad, selama kezalimannya itu tidak sampai menyebabkan si istri harus mengingkari perintah-perintah Allah, maka dia tetap wajib untuk taat. Contoh istri dari seorang suami yang zalim ini adalah istri Firaun (lihat surah At Tahrim (66) ayat 11).

Maka dari itu, peliharalah diri kita masing-masing dari kedurhakaan.

*****
                                     

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar