Sabtu, 10 September 2016

Jadi Anggota Pasif Grup WA

Jadi Anggota Pasif Grup WA  

Aku ikut sepuluh grup WA. Tidak terlalu banyak, karena ada yang punya sampai dua kali dari yang aku punya. Dengan sepuluh grup itu saja aku sebenarnya agak kewalahan mengikuti coretan demi coretan yang tidak berhenti masuk. Di salah satu grup, dalam satu hari bisa terkumpul lebih dari 500 pesan. Apa saja isinya? Sebahagian besar adalah coretan kopipaste. Satu orang mengucapkan selamat pagi yang lain, bisa puluhan, menulis ucapan yang sama. Kalau ada yang ulang tahun, berduyun-duyun pula pesan selamat ulang tahun berdatangan. Ketika ada yang meninggal berduyun-duyun lagi menulis ucapan berduka cita. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun (dengan style tulisannya masing-masing), atau yang mengirim doa shalat jenazah (dalam tulisan Arab) dan sebagainya. Yang lain bisa kopipaste lagi mengikuti yang sudah ada. 

Ada yang rajin menyampaikan salam Assalamu'alaikum jam 2 subuh. Mungkin maksudnya untuk menunjukkan bahwa dia bangun di sepertiga malam untuk beribadah. Bagus-bagus saja, tapi apa perlu pula diperagakan?

Dan banyak yang sudah jadi ustadz, mengirimkan ceramah-ceramah. Ada yang cukup berbobot. Cukup sering terjadi, ternyata tulisan yang sama dikirim lagi oleh ustadz dari group yang lain. Artinya sumbernya sama tapi ustadz yang mengirimnya bisa berbeda. Seringkali isi ceramah yang dikirim membuat aku terkagum-kagum. Ini memang sisi positif dari kecanggihan WA.

Yang jahil tentu juga ada. Agak mengherankan, bahwa usia sepertinya tidak berpengaruh untuk kiriman kejahilan. Ada yang sudah cukup tua (lebih tua dariku) masih rajin mengirim foto-foto yang aneh-aneh. Biasanya kiriman gambar-gambar wanita seronok, mulai dari yang masih cukup sopan sampai yang sama sekali tidak sopan. 

Banyak orang berusaha ramah kemana-mana dengan WA ini. Mereka mengirim ucapan selamat hari raya agama yang mana saja, diiringi ungkapan yang terlihat janggal. Seorang Muslim mengirim ucapan Selamat Hari Raya Galungan kepada rekan yang beragama Hindu, disertai ucapan 'semoga anda senantiasa mendapatkan limpahan rahmat dari Yang Maha Kuasa'. Kalau yang Kristen mengirim ucapan selamat hari raya kepada sesama Kristen, atau yang Hindu mengucapkan selamat pula kepada sesama Hindu, tentu kita mengerti. Tapi kalau yang berbeda agama mengucapkan selamat disertai harapan dan doa, rasanya agak kurang pas. Tapi itulah hebatnya. Di belakangnya kembali berduyun-duyun pesan ucapan selamat yang sama dari banyak orang.   

Di banyak grup yang aku ikuti, aku hanya jadi anggota pasif. Berkomentar hanya sekali-sekali. Biarlah aku jadi penikmat saja. Meskipun harus sering-sering membersihkan koleksi foto dan video yang kurang cocok.

****           

Selasa, 06 September 2016

Pajak

Pajak   

Kita tahu, bahwa pajak adalah pungutan yang dilakukan penguasa dari rakyat. Penarikan atau pungutan pajak sudah dikenal sejak jaman dahulu kala. Para raja memungut pajak dari rakyat sebagai tanda takluk kepada kekuasaan sang raja. Rakyat membayar pajak dengan apa yang mereka punyai, entah hasil pertanian, peternakan ataupun dengan emas atau uang logam. Sebuah negeri yang tertakluk harus membayar upeti kepada negeri penakluknya, dan upeti itu bisa berupa kumpulan pajak dari rakyat jelata. Dalam banyak hikayat dan cerita, maka raja di raja sebuah negeri hidup berkecukupan di istananya yang megah dari hasil pajak dan upeti yang diterima kerajaan. 

Di dunia modern sekarang ini rakyat tetap diharuskan membayar pajak. Ini juga berlaku di negara kita. Kita mengenal pajak pembelian, pajak penjualan, pajak bumi dan bangunan, pajak kendaraan, pajak penghasilan dan sebagainya. Pungutan pajak digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, menyiapkan fasilitas umum untuk rakyat, menggaji pegawai pemerintah dan sebagainya. Penguasa atau pemerintah wajib memberikan pelayanan serta perlindungan bagi rakyat dalam menjalani hidup mereka sehari-hari. Pemerintah sebagai pemungut pajak menjamin keamanan, kenyamanan dan ketenangan di tengah masyarakat. Begitu idealnya.

Karena sifatnya pungutan, ada saja anggota masyarakat yang berusaha untuk menghindar dari melunasi pajak. Mereka berusaha menghindar dari membayar atau kalaupun membayar, hanya sebahagian saja dari kewajibannya. Untuk yang terakhir ini misalnya dengan berkongkalingkong dengan petugas pajak. Kita menyaksikan petugas pajak yang akhirnya dimasukkan ke penjara karena keterlibatannya dalam manipulasi atau pembohongan para wajib pajak.  Lalu ada lagi yang sengaja menyimpan uangnya di luar negeri agar terhindar dari kewajiban membayar pajak. Padahal uang itu adalah hasil usahanya di dalam negeri. 

Nah, menurut berita, pemerintah berusaha menarik uang yang disimpan di luar negeri itu agar dibawa pulang kembali ke Indonesia dengan memberikan pengampunan pajak. Dan pemerintah mencanangkan pengampunan tersebut dengan istilah keren dalam bahasa Inggeris sebagai tax amnesty. Hanya saja, entah bagaimana jalan ceritanya, tax amnesty ini tiba-tiba menyasar kepada masyarakat awam yang bukan penyimpan uang di luar negeri. Pemerintah mengharuskan agar setiap orang yang mempunyai harta, melaporkan hartanya tersebut. Lalu terjadi kesimpang-siuran. Menurut cerita yang beredar di internet, konon ada seseorang yang mempunyai sebuah rumah di atas tanah yang sudah dimilikinya sejak puluhan tahun. Si pemilik ini seorang pensiunan dan tidak memiliki NPWP. Rumah dan tanahnya tersebut ditaksir dengan harga sekarang. Hitung punya hitung, nilainya sudah sekian M dan dia harus membayar sesuai dengan ketetapan pemerintah, yang jika dilunasinya sebelum 30 September 2016, jumlahnya 90 juta rupiah. Padahal dia hanya menerima pensiun tidak sampai 3 juta rupiah sebulan. 90 juta itu jelas suatu jumlah yang luar biasa baginya dan dia tidak sanggup membayarnya. 

Banyak protes dari anggota masyarakat tentang pelaksanaan pengampunan pajak tersebut. Syukurlah sepertinya ada sedikit perubahan penafsiran tax amnesty ini. Kemarin aku datang ke kantor pajak Bekasi untuk bertanya. Bagaimana dengan harta yang selama ini didaftarkan sebagai milik istri, sedangkan istri tidak memiliki NPWP. Menurut petugas pajak kemarin itu, jika harta itu didapat dengan uang yang sudah dibayar pajaknya, maka tidak dikenai pajak lain dan cukup dilaporkan dalam perbaikan laporan pajak tahunan suami.  Aku belum memasukkan perbaikan laporan itu. Mungkin besok atau lusa. 

****                 

Sabtu, 03 September 2016

Mana Yang Lebih Utama Dalam Berkurban? (Dari Islam Question And Answer)

Mana Yang Lebih Utama Dalam Berkurban? (Dari Islam Question And Answer)

Berkurban kambing atau patungan untuk satu sapi ?

Alhamdulillah

Sebaik-baik hewan kurban adalah unta, kemudian sapi, kemudian kambing, kemudian kurban kolektif dalam satu sapi, inilah pendapat Abu Hanifah dan Syafi’i, berdasarkan hadits Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada shalat Jum’at: 

  مَنْ راح في الساعة الأولى فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً ) رواه البخاري (881) ومسلم (850

“Barang siapa yang berangkat (ke masjid) pada awal waktu maka seakan ia mendapat badanah (unta), dan barang siapa yang berangkat pada waktu kedua maka ia seakan mendapat sapi, dan barang siapa yang berangkat pada waktu ketiga maka ia seakan mendapatkan kambing bertanduk, dan barang siapa yang berangkat pada waktu keempat maka seakan ia mendapatkan ayam, dan barang siapa yang berangkat pada waktu kelima maka seakan ia mendapatkan telur”. (HR. Bukhori 881, dan Muslim 850).

Karena kurban itu adalah sembelihan untuk bertaqarrub kepada Allah, maka unta (gemuk) lebih utama, seperti hady (sembelihan haji). Seekor kambing lebih baik dari pada patungan (kerjasama / kolektif) pada unta; karena tujuan berkurban adalah mengalirkan darah, dan orang yang berkurban perorangan ia bertaqarub kepada Allah dengan mengalirkan darah sepenuhnya. Dan kambing kibas adalah sebaik-baik kambing; karena kibas adalah hewan kurban Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan sebaik-baik daging. (al Mughni: 13/366).

Lajnah Daimah pernah ditanya: Mana yang lebih utama untuk berkurban, kambing kibas atau sapi? Mereka menjawab: “Sebaik-baik kurban adalah unta, lalu sapi, kemudian kambing, kemudian kurban kolektif dalam satu unta maupun sapi. Berdasarkan sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada shalat Jum’at: 

( مَنْ راح في الساعة الأولى فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً . . . إلخ الحديث

 “Barang siapa yang berangkat (ke masjid) pada awal waktu, maka seakan ia mendapatkan badanah (unta gemuk)…. dan seterusnya.

Hadits di atas menunjukkan adanya tingkatan dalam bertaqarrub kepada Allah antara unta, sapi dan kambing, dan tidak diragukan lagi bahwa berkurban adalah termasuk bentuk bertaqarrub kepada Allah yang paling agung, dan unta adalah yang paling mahal harganya, paling banyak dagingnya, paling banyak manfaatnya, oleh karenanya pendapat ini didukung oleh tiga imam, yaitu; Abu Hanifah, Syafi’i, dan Ahmad. Malik berkata: Kurban yang paling baik adalah kambing yang berumur 8-9 bulan, kemudian sapi, kemudian unta; karena Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkurban dengan dua kambing, dan beliau tidak akan melakukan sesuatu kecuali sesuatu tersebut adalah yang lebih utama.

Jawaban dari pendapat Imam Malik tersebut adalah: Bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak selalu melaksanakan yang lebih utama; sebagai bentuk kasih sayang beliau kepada umatnya; karena mereka berqudwah kepada beliau, dan Rasulullah tidak suka menyulitkan mereka. Dan telah dijelaskan sebelumnya tentang keutamaan unta, sapi dan kambing. Wallahu ‘alam. (Fatawa Lajnah Daimah: 11/398).

Syeikh Ibnu Utsaimin dalam “Ahkam Udhhiyyah” berkata: “Hewan kurban yang paling utama adalah unta, lalu sapi jika ia berkurban penuh, kemudian kambing kibas, kemudian kambing biasa, kemudian 1/7 unta kemudian 1/7 sapi. 

****

Selasa, 30 Agustus 2016

Ayam Kampung


Ayam Kampung   

Ini cerita tentang peliharaan ayam kampung. Sekitar dua tahun lebih yang lalu, seorang tetangga menawarkan kepada istriku apakah kami mau memelihara ayam kate. Maksudnya, kalau mau maka akan diberinya sepasang. Istriku bilang mau. Maka datanglah dia pada suatu sore mengantarkan sepasang ayam. Ternyata tidak murni ayam kate, lebih menyerupai ayam kampung biasa. Ayam itupun ditempatkan di dalam kandang burung yang sudah kosong di pekarangan belakang. 


Tidak berapa lama kemudian ayam itu bertelur. Kemudian beranak. Tapi sayang anak pertamanya pada mati dibunuh ayam jantannya. Mungkin karena kandangnya agak sempit. Beberapa bulan berikutnya induk ayam itu kembali beranak. Kali ini yang jantan dipindahkan, sehingga induk dan anak-anak ayam itu aman. Begitulah seterusnya, induk ayam itu beranak setiap empat bulanan. Maka ayam-ayam itupun berkembang biak. Terpaksa dibuatkan kandang yang lebih besar.  

Tidak terasa ayam-ayam itu semakin banyak. Pemeliharaannya hanyalah sekedar diberi makan pagi dan sore. Kandangnya dibiarkan terbuka. Sampai suatu ketika ayam-ayam itu didatangi musang. Hebat juga lingkungan tempat tinggalku ini, masih banyak musang berkeliaran. Sebelumnya, karena di sekitar kandang diberi penerangan, sampai berbulan-bulan tidak pernah ada masalah. Sampai pada suatu malam yang sial  untuk ayam-ayam malang tersebut. Dalam satu malam lima ekor ayam betina dibunuhnya, tapi tidak dimakannya. Ini sebuah keteledoran, karena sebenarnya kandang-kandang ayam itu ada pintunya, tapi selama ini tidak pernah ditutup. 
Tidak ada perawatan khusus untuk ayam-ayam itu. Adik iparku yang juga suka memelihara ayam menyarankan agar ayam-ayam itu diberi kulit bawang. Maksudnya, ketika mengupas bawang untuk memasak, kulit bawangnya jangan dibuang tapi berikan kepada ayam. Wallahu a'lam. Tapi alhamdulillah, ayam-ayam itu sehat-sehat saja. Ada juga yang mati ketika masih anak-anak ayam baru menetas. Ada yang kecemplung ke tempat minum, lalu tidak bisa keluar dan mati di sana. Atau terinjak oleh induknya.
Saat ini ada 30 ekor besar kecil. Lebih sepuluh ekor yang jantan. Setiap pagi heboh bunyi kukuruyuknya. Tidak ada yang dipotong? tanya seorang teman. Tidak tega memotongnya. Kadang-kadang ayam-ayam jantan itu ada juga yang berkelahi. Dibiarkan saja, sampai ada yang kalah.  

Ini bukan pertama kali kami memelihara ayam kampung. Beberapa tahun yang lalu juga pernah kami lakukan dimulai dari sepasang ayam yang tadinya mau dipotong. Sempat berkembang biak jadi belasan ekor, tapi setelah itu berhenti. Penyebabnya  karena ayam-ayam itu berhenti berreproduksi. Pernah terlambat memberi makan. Akibatnya mereka memakan telurnya sendiri. Semua ayam itu jadi pemakan telur. Telur yang baru keluar langsung diperebutkan. 

****

Sabtu, 27 Agustus 2016

Kesukaan Mengarang

Kesukaan Mengarang

Sejak masih di SR dulu aku menyukai pelajaran mengarang dalam mata pelajaran Bahasa. Karena guru mengatakan karanganku bagus. Lalu akupun bersemangat. Mengarang cerita apa saja. Dengan tulisan tangan. Tapi karangan-karangan itu hanya sekedar untuk dapat nilai dari guru dan setelah itu terlupakan dan hilang. Tidak ada yang dibukukan dan disimpan. Waktu di SMP dan di SMA kebiasaan itu agak berkurang. Waktu jadi mahasiswa di Bandung kadang-kadang aku membuat cerita-cerita pendek, masih dengan tulisan tangan. Ada teman yang mengusulkan agar karangan itu diketik dan dikirim ke majalah atau koran untuk diterbitkan. Tapi aku tidak punya mesin ketik, Jadi, ya tidak pernah dikirim dan diterbitkan. Akhirnya kebiasaan mengarang terlupakan begitu saja. 

Baru setelah punya PC di rumah keisenganku untuk menulis muncul kembali. Aku rajin membuat cerita-cerita pendek dan biasanya kukirimkan ke mailing list Rantau Net, sebuah perkumpulan urang-urang awak. Banyak yang menyukai tulisan-tulisan itu dan menyarankan agar aku membukukannya. Kebiasaan mengarang cerita berkembang menjadi cerita 'panjang', ketika aku mengamati ada peristiwa-peristiwa yang pantas untuk diceritakan. Tulisan panjang yang pertama berjudul Sang Amanah

Tapi untuk menerbitkan ternyata tidak mudah. Tidak ada penerbit yang mau menerima. 

Aku meneruskan  menulis cerita yang lain dan kembali hanya jadi konsumsi Rantau Net. Suatu ketika ada seorang teman yang memperkenalkanku dengan pemilik sebuah percetakan. Percetakan ini yang menerbitkan novelku yang pertama berjudul Anak Manusia Korban Politik. Buku ini dicoba memasarkannya ke toko-toko buku besar. Dan ternyata tidak laku. Kenapa? Ya, karena sebuah karya seseorang tak dikenal. Tanpa iklan, tanpa sponsor. Sepertinya hanya karena alasan sederhana begitu. Padahal, menurut beberapa orang yang telah membacanya, cerita ini bagus dan mengharukan. 
 
Aku terus juga menulis. Cerita-cerita pendek dan novel. Tidak diterbitkan juga tidak apa-apa. 

Maka lahirlah Derai-derai Cinta yang sudah ditulis sekitar empat tahun yang lalu. Dan beberapa cerita pendek lain. Tetapi memang sejak dua tahun belakangan ini minatku untuk menulis jauh berkurang. Lalu ada yang menyarankan untuk menerbitkan sendiri karangan-karanganku tersebut dan bahkan memperkenalkan percetakan yang biasa melayani cara penerbitan seperti ini. Inilah yang sedang kulakukan.  

Pulang Kampung adalah judul untuk kumpulan 25 buah cerita pendek yang ditulis sejak tahun 1990an sampai tahun 2010. 25 buah cerita yang menurutku paling baik untuk digabungkan dalam buku ini di antara cerita-cerita pendek yang aku tulis.  
Derai-derai Cinta dan Pulang Kampung sedang dalam proses untuk terbit. 


****
                

Rabu, 24 Agustus 2016

Rumah Potong Hewan

Rumah Potong Hewan

Beberapa hari yang lalu, kami panitia Aidil Adha Mesjid Al Husna Komplek Depkes II Jatibening berkunjung ke penyedia ternak sapi kurban di Cikarang. Tahun lalu kami membeli 20 ekor sapi kurban dari mereka. Tahun ini sepertinya penawaran mereka masih yang terbaik. Pedagangnya bernama pak D, cukup ramah. Kami senang berbincang-bincang dengannya. Kandang penampung sapinya terletak persis di belakang rumah potong dan bisa menampung sampai 40 an ekor sapi. Umumnya adalah sapi Bali. Pak D adalah penyedia ternak potong untuk konsumsi harian masyarakat Cikarang dan sekitarnya. Setiap hari 3 sampai 4 ekor sapi dipotong di sana. 

Rumah potong itu sendiri masih sangat sederhana. Bangunan berukuran lebih kurang 10 kali 7 meter, hampir tanpa penyekat. Sapi disembelih dalam ruangan itu dan seterusnya digantung untuk dikuliti dan dipotong-potong sebelum dikirim ke pasar-pasar. Ada sebuah bagian yang berbeda di ruangan itu, yaitu sebuah lorong dari baja yang kokoh setinggi dua setengah meter, panjang sekitar enam meter dengan lebar kurang dari satu meter. dan hamparan baja berukuran tiga kali dua meter disampingnya. Rupanya lorong ini bagian dari alat pemotong sapi impor dari Australia.  Pak D rupanya juga mempunyai lisensi untuk memotong sapi ex Australia. Di kandang yang terpisah, hari itu ada tiga ekor sapi berukuran lebih besar, jenis Limosin.

Dia bercerita, bahwa sapi Australia tidak boleh (tidak diijinkan) untuk disembelih seperti pemotongan sapi lokal. Itulah sebabnya, rumah potong harus menyediakan lorong khusus tadi itu. Jadi bagaimana cara memotongnya? Mula-mula sapi digiring ke dalam lorong baja. Sampai di ujung lorong, dalam keadaan tidak bisa lagi maju, sapi itu 'ditembak' (istilah pak D) dengan peluru tumpul di bagian kepalanya. Sapi itupun terhuyung pingsan. Satu sisi dinding lorong dibuka dan sapi itu jatuh ke hamparan baja, lalu disembelih di sana. 

Aku beritahu pak D bahwa cara pemotongan seperti itu tidak lebih baik dari yang biasa dilakukan rumah potong, dengan merebahkan dan mengikat sapi sebelum dipotong. Sapi tidak semestinya dipukul atau 'ditembak' untuk dipingsankan sebelum disembelih. Tapi menurut pak D, kalau aturan itu tidak dituruti, kalau sapinya disembelih dengan terlebih dahulu diikat dan direbahkan, maka rumah potong bersangkutan akan dicoret sebagai penyalur sapi impor dari Australia tersebut. Karena menurut mereka cara penyembelihan seperti itu lebih sadis. Mereka selalu mengawasi apakah aturan itu dipatuhi oleh rumah potong.

Praktek pemotongan sapi di rumah potong yang dilakukan secara tradisional, kadang-kadang memang terlihat 'sadis'. Para pekerja melakukan tugasnya dengan tergesa-gesa dan ceroboh. Tidak jarang mereka memperlakukan sapi yang akan dipotong itu secara kasar baik ketika menariknya, mengikatnya atau merebahkannya. Bahkan ketika sapi yang baru disembelih itu belum sempurna mati, kepala, kaki-kaki dan bagian tubuh lainnya sudah dipisahkan. 

Seharusnya pemerintah bisa menertibkan cara memotong hewan di rumah potong. Baik yang dengan cara tradisional tapi sembrono ataupun yang dengan cara menembak untuk memingsankan sapi sebelum dipotong. Menggunakan lorong baja itu cukup praktis untuk menghindarkan pengikatan sebelum merebahkan sapi yang sepertinya terlihat ribet dan sadis. Tinggal disempurnakan dengan memasang alat untuk mendongakkan kepala sapi sebelum disembelih. Alat seperti ini sudah digunakan di rumah-rumah potong di luar negeri termasuk di Australia.   

****                                        

Minggu, 21 Agustus 2016

Dua Puluh Satu Agustus - Tujuh Belas Zulqaidah

Dua Puluh Satu Agustus - Tujuh Belas Zulqaidah     

Menurut catatan ibuku yang beliau tulis di halaman terakhir kitab tafsir Mahmud Yunus milik beliau, bahwa aku dilahirkan di Rumah Sakit Umum Bukit Tinggi, hari Selasa, jam 2.15 siang WSU, tanggal 21 Agustus 1951 bertepatan dengan tanggal 17 Zulqaidah 1370. Kebiasaan mencatat tanggal lahir di halaman kitab tafsir ini, aku tiru. Aku mencatat semua tanggal kelahiran anak-anak dan sekarang cucu-cucuku di kitab tafsir Al Quran pula.

Ini bukan untuk memperingati apalagi merayakan hari ulang tahun. Aku semakin menyetujui dan memahami hari lahir tidak perlu dirayakan. Tidak perlu diselamat-selamati karena ucapan selamat di hari ulang tahun jelas sangat tidak bermakna selain sekedar ucapan pemanis belaka. Selamat dari apa? Kalau kita mengerti bahwa sebenarnya dengan berjalannya waktu maka semakin dekatlah kita kepada akhir kehidupan kita. Kepada kematian. Lalu apakah kita yakin setelah datangnya hari kematian itu nanti kita akan selamat?  

Sudah agak lama aku tidak menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada siapapun termasuk kepada anak-anak sendiri. Mungkin ada yang menganggap aku aneh. Dengan kecanggihan perangkat komunikasi sekarang, kemarin aku menerima ucapan selamat melalui WA dari teman, saudara, kemenakan. Secara spontan saja, dari mereka yang mengetahui tanggal kelahiranku. Tentu tidak mungkin ditolak. Atau didiamkan saja. Aku ucapkan terima kasih kepada mereka.    

Mengenang hari lahir, untuk sekedar mengingat bertambahnya umur yang kemudian mengingat semakin berkurangnya jatah hidup boleh-boleh saja. Mudah-mudahan dengan demikian kita selalu ingat bahwa kita semakin mendekati kematian. Dan oleh karenanya kita berusaha mempersiapkan bekal yang akan kita bawa ke kampung akhirat.

Kenapa aku menulis ini? Karena memang ada yang agak khas. Tanggal 21 Agustus 2016 bertepatan dengan tanggal 17 Zulqaidah 1437. Dalam perhitungan tahun Masehi aku genap berusia 65 tahun sementara menurut penanggalan Hijriyah di hari yang sama aku genap berumur 67 tahun. Usia yang menurut Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah dalam kisaran usia umumnya umat beliau, antara 60 dan 70 tahun. 

Berapa waktu lagikah yang tersisa? Allah saja yang Maha Mengetahui. Mungkin masih dalam bilangan tahun, atau mungkin bilangan bulan, atau pekan, atau bahkan hari. Tapi saat itu pasti datang dan dia semakin mendekat. Ya Allah, bila tiba saatnya, matikanlah aku dalam husnul khaatimah. Aamiin.....

****