Jumat, 19 Agustus 2016

'Iri Kepada Cucu'

'Iri Kepada Cucu'  

Aku iri kepada cucu-cucuku. Benaran. Rafi dan Rasyid sudah hafal semua surah juz 'amma sebelum naik ke kelas lima dan sekarang sudah menghafalkan dua sampai tiga surah juz ke dua puluh sembilan. Mereka memang diajar dan dilatih secara berkesinambungan untuk menghafalkan ayat-ayat al Quran di sekolah. Hamizan yang berumur enam tahun lebih sudah hafal sejak dari surah Al Balad  (surah 90) sampai surah An Nas dengan bimbingan uminya. Rayyan yang enam tahun kurang sudah menghafalkan enam surah terakhir dengan bimbingan bunda. Ada cucu kemenakan yang berumur tujuh tahun yang juga sudah hafal juz 'amma. Ada lagi cucu kemenakan yang lain yang sekarang kuliah di ITB dan sudah hafal 10 juz. Mereka mungkin bukan yang terhebat hafalannya, karena ada Musa yang sudah hafal al Quran 30 juz di usia 7 tahun. 

Mereka bisa karena dilatih dan disiapkan orang tuanya atau sekolahnya untuk itu. Latihan yang paling dahsyat yang aku dengar adalah yang dialami Musa, yang sejak usia sangat dini (2 atau 3 tahun) dilatih kedua orang tuanya sejak jam tiga subuh setiap hari. Dan hasilnya sungguh luar biasa. 

Ini yang tidak aku miliki ketika kanak-kanak dulu. Kami diajarkan menghafalkan 4 'Qul' di SR, untuk modal dan digunakan dalam shalat lima waktu. Dan kamipun mencukupkan hanya itu. Tidak ada yang mengarahkan agar kami menghafalkan surah-surah pendek yang lain secara terarah. Aku dan mungkin beberapa teman-teman lain terpancing untuk menghafalkan beberapa surah pendek lagi ketika kami ikut shalat tarawih di bulan puasa. Ketika aku sudah jadi mahasiswa, hafalanku mungkin tidak lebih dari sebelas surah di juz 'amma. Pas-pasan untuk digunakan ketika shalat tarawih sendirian sebelas rakaat termasuk witir. 

Waktu bekerja di Balikpapan, kami biasa melakukan shalat tarawih keliling dari rumah ke rumah. Kadang-kadang kami undang ustadz untuk memimpin shalat dan memberi ceramah. Tapi tidak tiap malam. Di malam-malam yang lain kami bergantian jadi imam. Yang rata-rata juga dengan modal ala kadarnya. Bahkan ada salah seorang dari kami, ketika 'dipaksa' jadi imam, tidak sanggup membaca salah satu surah 'Qul' dengan utuh. 

Aku lebih sering dijadikan imam ketika itu. Malu karena surah yang dibaca itu-itu melulu, aku coba menambah hafalan. Tapi ternyata tidak pula mudah. Sangat sedikit kemajuannya. Baru sepulang dari melaksanakan haji di tahun 1990 aku berusaha menghafalkan juz 'amma seutuhnya. Dengan sungguh-sungguh dan berusaha keras. Alhamdulillah berhasil dalam waktu tidak terlalu lama. Sayangnya lagi, setelah menghafalkan itu semua, aku hanya berhenti di sana. Paling ditambah dengan beberapa ayat di surah-surah yang lain, yang aku dengar dibacakan imam seperti beberapa ayat surah Luqman, surah Az Zumar, surah Al Hasyr. 

Pindah ke Jatibening di akhir tahun 1993. Aku selalu shalat berjama'ah di mesjid komplek perumahan kami. Di sini aku sering pula dijadikan imam shalat fardhu. Pelan-pelan aku tambahkan pula hafalan al Quran meski sangat pelan sekali. Karena ternyata tidak mudah menghafalnya. Hafalan-hafalan itu cepat hilang kalau tidak diulang-ulang. Sekarang aku hafal (tapi tidak terlalu mantap) lebih kurang setara dengan 4 juz (2 1/2 juz pertama, 1 juz terakhir dan beberapa surah seperti As Sajdah, Yasiin, Ar Rahman, Al Waqiah dan beberapa lagi). 

Beberapa bulan yang lalu aku menyimak dan membetulkan hafalan Rafi dan Rasyid untuk surah Al Mulk (surah 67), sekarang mereka sudah hafal dua surah lagi sesudahnya (Al Qalam dan Al Haqqah) yang aku belum hafal. Aku bertanya kepada mereka bagaimana cara mereka menghafal. Guru mereka menyuruh membaca setiap ayat sampai dua puluh kali dan setelah itu merekapun hafal. Cara menghafal yang juga pernah aku ketahui dari guru tahfidz sebelumnya. Tapi ternyata kemampuan anak-anak dan orang tua jauh sekali bedanya. 

Aku 'iri' dengan cucu dan dengan mereka-mereka yang mampu menghafalkan Al Quran dengan sangat baik.  

****        

Selasa, 16 Agustus 2016

Pro Dan Kontra

Pro Dan Kontra   

Setuju dan tidak setuju dengan suatu hal. Entah itu sebuah pilihan, pernyataan, pendapat atau apa saja. Akan selalu ada orang yang setuju dan sebaliknya yang tidak setuju. Yang pro dan yang kontra. Pro dan kontra adalah suatu ketetapan Allah. Suatu sunatullah. Ketika Allah menyatakan kepada para malaikat bahwa Dia akan menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi, malaikat menyatakan tidak setuju. Meski ketidak setujuan itu disampaikan dengan santun dan dengan alasan. Akankah Engkau ciptakan makhluk yang nantinya akan membuat kebinasaan di bumi dan saling menumpahkan darah, padahal kami senantiasa mensucikan dan memuji-Mu. (Al Baqarah ayat 30). Ketika Allah menyatakan bahwa Dia Maha Tahu dengan apa yang dibuat-Nya, malaikat lantas diam. Malaikat tidak setuju dan mengemukakan ketidak-setujuannya, tapi setelah sadar bahwa Allah Maha Tahu, mereka tidak memprotes. Ketika kemudian, setelah Allah buktikan bahwa makhluk manusia yang baru diciptakan-Nya itu mempunyai kemampuan, para malaikat diperintah memberi hormat, bersujud kepada Adam, mereka patuh. Kecuali iblis.

Iblis tidak setuju dan menunjukkan ketidak-sukaannya dengan manusia pertama itu. Dia menolak memberi penghormatan kepada Adam, dengan alasan bahwa dia merasa lebih baik darinya karena dia diciptakan dari api, sementara Adam 'hanya' dari tanah. Iblis membangkang terhadap perintah Allah, maka jadilah dia dimurkai. Dikutuk.

Pro dan kontra berlangsung di sepanjang sejarah hidup manusia. Kabil, putera nabi Adam tidak setuju dengan ketetapan penentuan jodoh. Ketidak setujuannya berakhir dengan peristiwa pembunuhan pertama di muka bumi. Kabil membunuh adiknya Habil.

Ketika ada ketetapan, keputusan, pendapat, hasil pilihan yang melibatkan orang banyak, akan selalu muncul yang setuju dan yang tidak setuju. Selama yang tidak setuju itu tidak mengancam dan merusak kepada mereka yang setuju tentu tidak akan jadi masalah. Kita masih tetap bisa hidup berdampingan dengan damai meski pendapat kita berbeda. Tapi ketika salah satu dari kedua kelompok yang berbeda pendapat memaksakan apa yang diyakini supaya diterima oleh kelompok lain, maka akan terjadi gesekan. Pada gilirannya bukan tidak mungkin timbul penzaliman seperti yang dilakukan Kabil terhadap Habil. 

Menjadi lebih repot ketika ketetapan, pendapat dan sebangsanya itu dihasilkan melalui sebuah manipulasi atau penipuan. Yang hitam dikaburkan lalu dikatakan putih, yang banyak diselewengkan lalu dikatakan sedikit, yang panjang dipreteli lalu dikatakan pendek. Keadaan seperti ini dapat menimbulkan pro dan kontra yang sama-sama bringas. Yang menipu berusaha keras menutupi kepalsuannya. Yang tertipu terpancing untuk mendesak agar kecurangan itu dibongkar. Akhirnya timbul silang sengketa, bahkan tidak jarang disertai dengan perkelahian fisik. 

Pro dan kontra adalah sebuah keniscayaan. Setiap kita mungkin saja akan terlibat dan berada pada salah satu di antara keduanya. Yang lebih penting adalah mengendalikan diri ketika kita berhadapan dengan orang yang tidak sepaham dengan kita, menghormati pendapatnya bagaimana tidak setujunyapun kita. 

****                                       

Sabtu, 13 Agustus 2016

Cerita Dua Cucu

Cerita Dua Cucu

Yang pertama tentang yang perempuan satu-satunya. Fathimah yang masih di Perancis sana tempat dia dilahirkan. Sudah semakin besar. Semakin lincah. Semakin pintar in sya Allah. Sudah dua tahun tepat tanggal 12 Agustus kemarin. Yang jauh hari sebelumnya diingatkan umi bahwa kalau sudah dua tahun, No more NENEN. Diajarkan, suka diulanginya kata-kata itu, dan sepertinya dipahaminya pula. Menurut berita dari uminya, ikrar itu ditepati. Sejak dua hari yang lalu, tidak ada lagi nenen sebelum tidur dan dia tidak protes. 

Meski masih cadel, cerewetnya sudah lumayan. Sudah bisa duet dengan abang Izan dalam menyanyi. Sudah mulai belajar menghafalkan alfatihah. Mudah-mudahan Fathimah berkembang semakin cerdas dan sehat.

Sering menyuruh umi untuk menghubungi inyiak dan nenek via skype. Dan menikmati ngobrol dengan semua orang melalui skype tersebut.

Keluarga si Tengah ini menikmati berlanglang buana di Eropah, menjelajah negeri-negeri sampai ke bagian timur Eropah. Berkelana dengan mobil. Beberapa minggu yang lalu mereka berkeliling sampai ke Bosnia, Hongaria, Austria dan entah kemana lagi. Menempuh jarak lebih dari 5000 km dalam dua minggu. Lha, saat ini pergi lagi. Sang menantu memang punya jatah libur lumayan panjang, lebih dari 50 hari kerja dalam setahun. Ditambah lagi, selama musim panas, orang sekantornya memang seperti berlomba-lomba pergi libur kemana saja. Alhamdulillaah kedua anaknya, Hamizan dan Fathimah ikut menikmati dan menyukai pengembaraan tersebut. 

Yang kedua adalah yang paling bungsu sementara ini, Razzan. Baru beberapa hari lebih dari 40 hari. Sangat saulah. Jarang kita mendengar tangisnya. Menangis benar-benar bila perlu saja, ketika haus atau minta diganti popok. Yang agak unik, dia kurang begitu suka dengan udara dingin AC. Lebih suka udara tanpa AC. Ini sangat berbeda dengan abangnya Rayyan, yang maunya tiap sebentar kalau sudah capek bermain, maunya ngadem dulu ke kamar ber AC.

Kedua orang tuanya sepakat untuk mengkhitan Razan. Menurut saran dokter waktu abang-abangnya dikhitan beberapa bulan yang lalu, yang paling aman itu adalah melaksanakan khitanan ketika bayi masih berumur hanya beberapa minggu.

Dan itulah yang dilakukan. Razan sudah dikhitan kemarin di tempat abang-abang dulu dikhitan. Alhamdulillaah, kelihatannya aman-aman saja.

Mudah-mudahan dia bertumbuh dengan sebaik-baiknya, menjadi hamba Allah yang sehat, cerdas dan bertakwa kepada-Nya.  

Fabiayyia laa irabbikuma tukadzdzibaan....

****
       

Senin, 08 Agustus 2016

Bagaimana Kalau Kita Dihantui Perbuatan Dosa Di Masa Lalu?

Bagaimana Kalau Kita Dihantui Perbuatan Dosa Di Masa Lalu?

Tidak ada di antara kita, sebagai manusia, yang tidak pernah keliru dan berbuat dosa. Dosa apapun. Bahkan mungkin yang terhitung sebagai dosa besar. Entah membunuh, berzina dan sebagainya. Lalu kita bertobat. Memohon ampun kepada Allah. Kita percaya dan yakin dengan janji Allah bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha penyayang, dan dosa itu diampuni Allah. Namun ada yang rumit, bahwa perbuatan dosa itu tidak bisa hilang dari ingatan kita. Terngiang, terbayang, teringat ketika kita pernah melakukan kemaksiyatan itu. Bagaimana ini?

Karena kita sebagai manusia memang mempunyai daya ingat. Suatu perbuatan 'istimewa' yang pernah kita lakukan pastilah tidak akan mungkin tanggal begitu saja dari ingatan. Bahkan kadang-kadang ada dorongan dalam ingatan itu yang dibisikkan oleh setan, bahwa dosa yang kita lakukan itu ada 'nikmat'nya. Dan kita seolah-olah didorong-dorong untuk melakukannya lagi. Didorong oleh setan. Maka cepat-cepatlah beristighfar. Memohon kepada Allah agar kita dilindungi-Nya dari berbuat kesesatan lagi.

Firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 135 yang artinya; 'Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.'  Inilah salah satu tanda orang yang bertaqwa. Orang yang segera meminta ampun ketika dia terlanjur berbuat dosa, lalu berhenti dari melakukan perbuatan dosa itu.

Siapa yang tidak pernah berbuat kekeliruan, baik itu disengaja ataupun tidak disengaja? Tidak ada.  Umar bin Khaththab pernah melakukan kekejian ketika masih belum memeluk Islam, mengubur puteri beliau yang masih balita hidup-hidup. Diriwayatkan, bahwa setelah masuk Islam dan bahkan menjadi khalifah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau tidak bisa melupakan kekejian yang pernah beliau lakukan itu. Nabi Musa pernah membunuh seorang bangsa Qibti ketika dimintai bantuan oleh seorang Bani Israel yang berkelahi dengan orang Qibti tersebut. Nabi Musa menyadari kekeliruan beliau dan minta ampun kepada Allah. 

Maka janganlah berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah. Segeralah bertobat kepada-Nya, memohon ampun atas dosa yang terlanjur kita perbuat. Lalu berusaha sekuat-kuatnya untuk menghindar dari melakukan dosa yang sama. Memang ingatan tentang dosa itu adakalanya menyentak ingatan kita. Tapi pada saat itu kembalilah beristighfar dan memohon perlindungan Allah.

****                  

Kamis, 28 Juli 2016

Di Antara Dua Pemahaman Yang Berbeda Tentang Bid'ah

Di Antara Dua Pemahaman Yang Berbeda Tentang Bid'ah            

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan, 

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan (HR. Muslim no. 867).

Para ustadz tidak ada yang menyangkal hadits tersebut di atas. Tapi selalu saja ada yang berbeda pendapat dalam memahaminya. Tanpa menyebutkan kelompok mana untuk masing-masing, ada golongan yang begitu ketat pemahamannya sehingga apa saja yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, langsung dikatakan bid'ah. Walaupun kadang-kadang timbul juga pertanyaan kritis kita apa memang seperti itu benar ketatnya? 

Contoh, pernah seorang ustadz menyampaikan bahwa berkurban itu hanya boleh dengan unta, sapi atau kambing. Lalu ada yang bertanya, bagaimana hukumnya kalau ada yang berkurban dengan kerbau? Ustadz mengatakan, bahwa tidak ada contoh dari Rasulullah tentang itu. Beliau cenderung menganggap bahwa yang demikian itu bid'ah. Lalu dilanjutkan pertanyaan, apakah berkurban kambing itu hanya benar-benar dengan memotong kambing? Tidak boleh domba? Sang ustadz agak bingung menjawabnya.  

Lalu ada lagi pertanyaan, dengan apa zakat fitrah harus dibayar? Bukankah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hanya mencontohkan dengan kurma atau dengan gandum? Lalu kalau kita membayarnya dengan beras apakah dikatakan kita tidak mencontoh Rasulullah?

Sebaliknya ada pula kelompok lain yang yang menganggap setiap amalan asal 'baik' tidak bisa dikatakan bid'ah, walaupun tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Kelompok ini lalu mengatakan (entah bersungguh-sungguh atau bukan, kita tidak tahu), bukankah di jaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam orang tidak ada yang pergi berhaji dengan pesawat? Apakah kalau sekarang kita pergi menggunakan pesawat akan dikatakan bid'ah pula? Atau, dulu tidak ada azan pakai mikrofon, lalu yang sekarang pakai mikrofon akan dikatakan bid'ah? Kelompok terakhir ini menganggap bahwa yang tidak boleh dirobah itu hanya yang menyangkut ibadah wajib saja. Shalat, puasa, zakat, berhaji tidak boleh kita kerjakan diluar yang telah dicontohkan Nabi, baik tata caranya, waktunya atau tempatnya. Sedangkan untuk ibadah bukan wajib, selama itu 'baik' boleh dikerjakan.

Ada pendapat ketiga yang mungkin lebih mudah kita fahami. Yaitu yang mengatakan bahwa apa-apa yang dicontohkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat dalam amalan sehari-hari (bukan yang wajib-wajib saja) yang dilakukan dengan kondisi dan prasarana yang ada pada jaman beliau, haruslah kita ikuti apa adanya. Ini untuk menjawab bahwa kita tidak lagi menggunakan unta untuk pergi berhaji karena sekarang ada alat transport yang lebih baik dari unta. Begitu juga dengan mikrofon untuk mengumandangkan azan yang dulu di jaman Nabi belum ada. Tentang berkurban dengan kerbau, menurut pendapat ini, adalah dengan mensebandingkannya dengan sapi, seperti mensebandingkan kambing dengan domba, jadi boleh-boleh saja. 

Adapun amalan-amalan lain yang oleh sementara orang dianggap baik seperti misalnya menujuh-bulankan wanita hamil, tahlilan dihari-hari ke sekian sesudah kematian seseorang, harus kita fahami bahwa yang demikian itu tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Padahal di jaman beliau juga ada wanita hamil. Juga ada kaum muslimin yang meninggal. Tapi tidak pernah beliau contohkan ada upacara khusus untuk hal-hal tersebut.

Mudah-mudahan kita bisa lebih bijak dalam memahami setiap amalan, agar tidak keliru.

Wallahu a'lam.

****

Selasa, 26 Juli 2016

Calon Penduduk Neraka Yang Tidak Sempat Dilihat Nabi (Dari Suaracitizen.com)


Calon Penduduk Neraka Yang Tidak Sempat Dilihat Nabi (Dari Suaracitizen.com)
  
Suaracitizen.com – 

Mukjizat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang tidak bisa dipahami oleh nalar adalah Isra Miraj. Dengan kuasa Allah, beliau melakukan perjalanan menyusuri negeri dan menembus waktu. Salah satu yang dilihatnya adalah kehidupan penduduk neraka yang begitu mengerikan dan penuh siksa.

Di dampingi Malaikat Jibril, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak berhenti bertanya tentang dosa yang dilakukan oleh penduduk neraka ini. Beliau berharap, kelak umatnya dapat menghindari dosa-dosa tersebut. Ternyata sebagian besar dosa itu sudah dilakukan umat sejak kehidupan pada zamannya.

Namun, ada penduduk neraka yang tidak dikenali. Mereka melakukan perbuatan dosa yang sama sekali tidak pernah dilihat manusia kesayangan Allah ini. Ternyata dosa tersebut justru terlihat pada era kini. Tidak heran jika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam belum pernah melihat calon penghuni neraka ini sebelumnya. Siapa dan bagaimana dosa yang diperbuat?

Ternyata terdapat dua golongan yang akan menjadi calon penghuni neraka namun tidak dikenali oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka adalah golongan pria yang membawa cambuk, serta wanita yang berjalan berlenggak-lenggok dengan kepalanya menyerupai punuk unta. Hal ini dijelaskan dalam hadist riwayat Muslim berikut ini.

Abu Hurairah ra menuturkan, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda “Ada dua macam penghuni neraka yang belum pernah terlihat olehku saat ini. Pertama, orang-orang yang membawa cemeti seperti seekor sapi yang digunakannya untuk melecut manusia. Kedua, wanita-wanita yang berpakaian namun seperti telanjang dan pandai merayu. Rambutnya disasak seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak dapat masuk surga, bahkan tidak akan pernah mencium wangi surga. Padahal wangi surga dapat dicium dari jarak yang sangat jauh ” (HR. Muslim)

Hadist ini merupakan salah satu mukjizat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan menjadi bukti kenabiannya. Pada zaman kehidupannya, kedua golongan ini belum ada hingga masa pemerintahan kekhalifahan Islam.

Golongan ini menjadi ancaman besar bagi kaum Muslim. Bahwa pada akhirnya, akan ada pria yang membawa cemeti yang bisa mencambuk sesukanya. Al Qurthubi meyebutkan hadits ini tatkala menafsirkan firman-Nya tentang kisah ‘Ad kaum Nabi Hud serta menyebutkan beberapa sifat-sifat tercela mereka yang dilarang Nabi mereka (Hud. As) : Artinya : “Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis.” (QS. Asy Syuara : 130).

Al Qurthubi menjelaskan ini merupakan sifat tercela namun banyak terjadi didalam tubuh umat. Mereka bisa mencambuk dan menyiksa manusia lainnya dengan cemeti yang diartikan sebagai kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki.

Dalam Markaz al Fatwa No. 50866 dijelaskan jika yang dikatakan dalam hadist ini bisa jadi polisi dan para pembantu penguasa yang dzalim. Mereka bisa menyiksa manusia lainnya dengan kekuatan dan kekuasaan yang mereka miliki.

Sementara itu golongan kedua adalah wanita-wanita yang berpakaian namun seperti telanjang dan pandai merayu. Rambutnya disasak seperti punuk unta yang miring. Pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, wanita lebih memilih berada di dalam rumah dan menjaga kehormatan diri untuk melayani suaminya seorang. Mereka percaya bahwa dengan berbakti kepada suami sudah cukup sebagai bekal untuk mendapatkan surga. Wallahualam, pada zaman kini, wanita-wanita yang disebutkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sudah banyak wira wiri. Semoga Allah, tidak membiarkan kita lebih jauh masuk dalam golongan ini.

****

Minggu, 24 Juli 2016

Berkah

Berkah   

Di sebuah pengajian pekan yang lalu ustadz membahas tentang makna dari kata berkah. Apa yang dimaksud dengan berkah? Menurut bahasa, berkah --berasal dari bahasa Arab: barokah (البركة), artinya nikmat (Kamus Al-Munawwir, 1997:78). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:179), berkah adalah “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia”. 

Berkah adalah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada manusia untuk dinikmati manusia tersebut. Jadi artinya jika ada karunia, atau rezeki dari Allah yang tidak dapat dinikmati oleh seseorang maka berarti dia tidak medapatkan berkah dari rezeki tersebut. Banyak contoh seperti ini. Ada orang yang memiliki banyak hal dalam kehidupannya berupa materi. Orang lain mengatakan bahwa dia kaya. Tapi harta kekayaannya itu tidak bisa dinikmatinya. Rumahnya besar tapi dia tidak betah berada di dalamnya. Kamarnya juga besar dan ada kasur empuk di tempat tidurnya, tapi dia tidak pernah merasa nyaman berbaring di tempat tidur itu bahkan tidak bisa tidur. 

Atau contoh lain, ada orang yang dapat memperoleh suatu barang dengan mudahnya. Padahal harga barang tersebut mahal dan tidak setiap orang dapat memilikinya. Katakanlah sebagai contoh sebuah kendaraan mewah. Tapi kendaraan tersebut tidak awet dipakainya. Sebentar saja jadi rusak dan tidak berfungsi. Atau mungkin mendapat kecelakaan sehingga rusak parah. Hilang keberkahannya.

Jadi sesuatu itu menjadi berkah ketika dia dapat dinikmati dan membawa manfaat. Dalam Islam kita diperintahkan mengucapkan salam, assalamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh, yang adalah berupa doa. Keselamatan atas engkau, disertai pemberian Allah dan keberkahan-Nya. Kita doakan seseorang yang kita beri salam agar mendapat rahmat atau pemberian dari Allah yang diberkahi-Nya.

Mudah difahami bahwa agar sesuatu mendapat berkah dari Allah haruslah sesuatu itu didapat dengan cara yang diridhai Allah. Tidak akan berkah sesuatu yang kita dapatkan dengan cara yang bathil. Benda yang kita dapat dengan mencuri. Atau dari hasil penipuan. Atau dari kecurangan. Semua itu tidak akan membawa keberkahan.  

Keberkahan tidak terletak pada banyaknya sesuatu yang dimiliki. Tidak terletak pada mahalnya harga sesuatu tersebut. Suatu barang sederhana yang murah harganya bisa jadi diberi Allah keberkahan yang banyak. Mudah-mudahan kita senantiasa mendapatkan rahmat Allah yang disertai berkah-Nya di dalam hidup ini. Aamiin....

****