Senin, 04 Mei 2015

Alhambra

Alhambra

Aku pernah membaca tentang kemegahan istana di sebuah bukit di Granada Spanyol yang dibangun oleh penguasa Islam di sekitar abad ke delapan. Istana megah itu jadi pusat kekuasaan kerajaan Islam selama beberapa ratus tahun, namun akhirnya jatuh ke tangan penguasa beragama Katholik di akhir abad ke lima belas. Meskipun bangunan istana itu sudah diubah suai dengan kepentingan penguasa beragama Katholik namun masih ada hiasan dan ornamen khas Islam seperti kalighrafi yang masih dipertahankan.

Ketika aku dan keluarga pernah tinggal di Perancis selama sekitar dua tahun antara tahun 1987 - 1989, ada terniat untuk pergi melihat bangunan peninggalan sejarah tersebut tapi sayang tidak kesampaian. Alhamdulillah, keinginan tersebut baru terealisasi hari Jumat tanggal 1 Mai kemarin. Kami berangkat dengan santai dari Ecija jam setengah sepuluh pagi. Kota Granada terletak dua jam berkendaraan dari tempat kami menginap. Kemungkinan untuk bisa masuk ke Alhambra kami letakkan di posisi 50 - 50.  Kalau toh tidak bisa masuk melihat taman dan istana Alhambra maka cukuplah melihat dari luar atau dari jauh saja. 

Jam dua belas kami sampai di pelataran parkir komplek istana itu. Aku dan B pergi ke tempat penjualan tiket masuk. Agak surprise dan jadi bersemangat karena di sana ternyata ada antrian orang di depan loket. Kami ikut antri. Di samping loket ada panel pengumuman elektronik menunjukkan karcis untuk jam berapa dan untuk mengunjungi apa saja yang dijual. Yang paling atas adalah untuk mengunjungi semua bagian istana dan taman, tapi tiketnya untuk hari itu sudah habis. Di bawahnya untuk mengunjungi taman dan bagian istana lain kecuali bangunan utama, yang akan diizinkan masuk jam dua siang sampai jam delapan. Tiket ini masih tersedia sebanyak 15 lagi. Di bawahnya ada lagi tiket untuk kunjungan malam (jam 22.00) memasuki bangunan utama. Kami membeli 4 tiket untuk jam dua siang. Anak-anak di bawah 10 tahun gratis.

Jam dua kami masuk bersamaan dengan banyak sekali pengunjung. Ada rombongan anak sekolah dari Perancis, pengunjung berjilbab dari Arab dan dari Turki, pengunjung berbahasa Inggeris dan sebagainya. Mengikuti petunjuk nomor titik-titik yang akan dilihat, kami mengawali kunjung ke taman di bagian utara komplek itu. Taman yang diselingi oleh kolam-kolam dan air mancur yang tertata sangat rapi. Kolam dan air mancur itu termasuk salah satu keistimewaan bangunan ini, karena air adalah kebutuhan mutlak untuk bersuci. Sistim pengairan dengan air mancur itu sudah ada sejak awal. Taman ini dibatasi oleh tanaman pagar yang rapi. Ada pokok bunga mawar yang sedang berbunga. Dan pohon jeruk yang sedang berbuah lebat.






Mengelilingi bagian taman dan bangunan pertama ini (yang aku kurang tahu apa fungsi bangunan yang bagian-bagian dindingnya dihiasi kalighrafi) memerlukan tenaga ekstra karena harus menaiki tangga bertingkat-tingkat. Kasihan juga B, yang harus mengangkat kereta dorong Fathimah setiap menaiki tangga. Aku mencoba mengeja sebagian kalighrafi yang tidak terlalu mudah membacanya. Ada tulisan Wa laa..... illa 'llah, yang baru kemudian aku ketahui dari buku tentang Alhambra yang kami beli, bahwa tulisan itu adalah Wa Laa Ghaliba illa 'llah (tidak ada kemenangan kecuali (dengan) Allah).

Berikutnya kami menuju ke bagian utama istana Alhambra, yang sayangnya hanya untuk melihat bagian luarnya saja. Berjalan menyusuri dinding benteng dari batu bata yang terlihat kokoh dan tinggi di sebelah kiri jalan. Lalu ada mesjid yang sudah dirobah jadi gereja dengan menara dengan tanda salib yang sekarang jadi menara lonceng. Berikutnya adalah sebuah bangunan besar yang sekarang disebut istana raja Carlos. Bangunan ini dihiasi dengan patung-patung orang suci Katholik. Bagian tengah bangunan besar ini adalah sebuah arena melingkar yang terbuka. Sayang kami tidak bisa masuk melihat bagian dalam bangunan ini.

Terakhir kami mengunjungi benteng di bagian barat komplek. Bagian ini adalah bangunan yang paling awal dari komplek Alhambra, yang kelihatan tidak terawat.

Kami menghabiskan waktu 3 1/2 jam untuk mengelilingi semua bagian tadi. Komplek Alhambra yang sangat luas dan banyak bagian yang menarik untuk dilihat. Aku membeli buku Reading The Alhambra karangan Jose Miguel Puerta Vilchez untuk memahami apa yang telah dilihat. Buku ini cukup rinci menjelaskan tentang para penguasa yang bertahta di Alhambra. 

Interpretasi secara dangkal, kemewahan penguasa-penguasa Muslim yang bertahta di istana ini dengan segala intrik dan persaingan di antara kerabat istana, mungkin menjadi sebab utama runtuhnya kekuasaanan Islam yang tadinya sangat besar di Granada.

Wallahu A'lam.

****

Jumat, 01 Mei 2015

Sevilla

Sevilla
 
Hari Kamis, hari ketiga perjalanan kami. Hari ini kami menuju ke Sevilla sejauh 150 km ke arah barat dari kota Ecija tempat kami menginap. Tadinya kami ingin ke Alhambra hari ini, tapi ada sedikit kesulitan bahwa pemesanan karcis secara on line untuk memasukinya ternyata gagal. Karcis masuk ke Alhambra itu 2/3 bahagian dijual secara on line, dan hanya 1/3 yang dijual di tempat. Karcis on line itu bahkan sudah habis sampai akhir bulan Mai. Begitu berita yang didapat. Rencananya lagi, besok hari Jumat kami akan go show saja ke sana. 

 
Objek yang akan dikunjungi di Sevilla adalah sebuah benteng peninggalan Islam. Perjalanan ke Sevilla sangat lancar di pagi yang cerah. Kami sampai di kota itu jam 11 siang. Memarkir mobil di sebuah tempat parkir umum bawah tanah, lalu kami berjalan-jalan menyusuri jalan sambil mendorong kereta dorong Fathimah. Suhu udara sekitar 20 derajat. Mirip-mirip suhu di Bukit Tinggi di waktu pagi. Si Upiak Kecil ini sangat tenang dalam pengembaraan ini. Dia hanya rewel kalau lapar. Di luar itu lebih banyak tidur di tempat duduknya atau bermain-main dengan siapa saja yang menggodanya. 

Rupanya ada objek wisata lain yang sudah dikenal B dari informasi Google, yaitu sebuah bangunan besar yang tidak terlalu jelas wujudnya (abstrak) dari potongan-potongan kayu yang terletak di sebuah persimpangan jalan. Nama objek itu Metropol Parasol yang baru dibuka pada bulan Maret 2011. Potongan-potongan kayu itu diikatkan dengan baut-baut besar. Konon bangunan abstrak seperti ini satu-satunya pula di dunia. Bangunan tersebut terdiri dari dua tingkat. Kita naik ke tingkat pertama yang cukup luas melalui jalan yang dibuat miring. Hamizan cukup senang bermain-main di sini. 

Setelah makan siang di dalam mobil di tempat parkir kami menuju ke benteng Alcazar yang telah direncanakan. Melalui jalan-jalan kecil dalam kota. B sangat percaya dengan bantuan GPS yang membimbing mencari tujuan. Letak benteng tersebut memang agak tersembunyi dari jalan besar. 

Benteng Alcazar dibangun pada tahun 913, jadi tempat bertahtanya penguasa Islam di kota Sevilla. Bangunan itu diperbesar dan diperkuat sampai abad ke sebelas. Menurut catatan sejarah yang aku baca, kota Sevilla ini direbut orang Kristen dari pemerintahan Islam di tahun 1248. Sejak itu, mesjid utama di kota ini dirobah menjadi gereja. Menara mesjid dijadikan menara lonceng gereja. Di tahun 1480 Ratu Isabella dan Pangeran Fernando mempersiapkan penyerangan ke Granada di kota ini. Masih terlihat bentuk lengkungan-lengkungan khas bangunan mesjid di dinding benteng. Yang lebih dominan sekarang adalah ornamen gereja.

Di jalan di sekitar benteng ini banyak kereta kuda yang melayani para pelancong. Kami ikut menyewa sebuah kereta kuda. Tadinya sekedar untuk menyenangkan hati Hamizan. Ternyata sais kereta kuda itu adalah seorang pemandu wisata yang terlatih, meski dengan bahasa Inggeris yang tidak terlalu lancar. Kami dibawa mengelilingi area benteng yang memakan waktu sekitar 40 menit. Dia menjelaskan bangunan dan taman apa saja yang kami lalui. Rupanya komplek benteng Alcazar itu sering dipakai untuk pameran-pameran oleh negara-negara Amerika Latin yang memang punya hubungan khusus dengan Spanyol. Tentu saja yang diceritakan sais kereta yang pemandu wisata itu adalah bagian-bagian yang heroik dari sisi Spanyol dalam mengalahkan orang Islam.

Demikianlah kunjungan kami sore itu.

*****

Kamis, 30 April 2015

Cordoba

Cordoba

Sebelum berangkat mengunjungi cucu, menantu kami B menanyakan kemana kami ingin diajak jalan-jalan selama berada di Pau. Rencana itu akan disesuaikan dengan jadwal libur sekolah Hamizan dan dia sendiri akan mengambil cuti. Dulu ketika pernah tinggal di Perancis, kami ingin berkunjung ke Cordoba dan Alhambra di Spanyol, melihat peninggalan sejarah Islam di sana. Keinginan tersebut tidak pernah kesampaian. Waktu aku memberi tahu hal tersebut menantu kami menyetujuinya dan merencanakan saat kunjungan akan dilakukan dan menyiapkan segala sesuatu termasuk pemesanan hotel dan kendaraan. 

Rencana itu kami realisasikan hari Selasa tanggal 28 April. Kami berangkat dari Pau jam setengah sebelas pagi. Perjalanan jauh melalui jalan tol (autoroute) ke arah barat dari Pau sampai ke kota Burgos lalu berbelok ke selatan menuju Spanyol. Lalu lintas sangat lancar dan kami melaju dengan kecepatan maksimal 130 km per jam. B, sang menantu sangat menyukai menyetir dalam


perjalanan jauh seperti ini, yang sudah dilakukannya banyak kali selama keberadaannya di Pau. Menyetir di jalan yang bagus dan suasana berlalu lintas yang tertib memang cukup menyenangkan. 

Pemandangan hampir monoton di sepanjang jalan dengan tanah pertanian yang terhampar sangat luas di area yang relatif datar. Sebagian besar berwarna hijau, mirip sawah di negeri kita. Pengairan ladang ini kelihatannya dilakukan dengan air tanah yang dipompa. Cuaca cerah di sepanjang perjalanan. Jam satu siang kami berhenti istirahat di sebuah pompa bensin untuk makan siang dan shalat. Makan masakan yang disiapkan dari rumah. Tempat itu sudah di daerah Spanyol. Banyak truk besar juga beristirahat di sana. 

Hampir jam setengah tiga, sesudah melaksanakan shalat zuhur (waktu zuhur jam dua lebih sepuluh), kami melanjutkan perjalanan. Melalui jalan tol yang tetap lancar tanpa halangan. Aku mengamati bahwa satu sisi jalan tol ini hanya terdiri dari dua jalur saja. Para pengemudi umumnya sangat tertib. Mereka mengemudi di jalur paling kanan dan masuk ke jalur kiri hanya ketika akan mendahului kendaraan lain. Kadang-kadang kami beriringan dengan beberapa buah truk besar dan panjang. Ketika sebuah truk sedang mendahului truk lain, dengan kecepatan lebih rendah, kendaraan kecil menunggu di belakangnya. Tidak ada yang main serobot.

Perjalanan panjang di hari itu kami akhiri di kota Madrid, lebih dari 600 km dari Pau. Kami sampai di sini jam setengah tujuh sore, tapi matahari masih seperti jam tiga di tempat kita. Di kota ini kami menginap malam itu, di sebuah hotel apartemen dengan dua buah kamar, ruangan keluarga dan dapur. 

Hari Rabu pagi kami melanjutkan perjalanan. Diawali dengan melihat-lihat kota Madrid sambil berkendaraan saja tanpa berhenti. Kami (aku, istri dan dua anak kami yang pertama) pernah berkunjung ke kota ini di tahun 1984. Naik kereta api dari Paris yang di perbatasan Perancis - Spanyol kereta api harus menyesuaikan ukuran as rodanya, karena ukuran rel antara kedua negara itu berbeda. Waktu itu aku menyewa mobil dan berkeliling-keliling di dalam kota ini. Jam sebelas kami tinggalkan kota Madrid. Tujuan kami adalah Cordoba, 400 km di selatan.

Ada yang berbeda di jalan menuju Cordoba ini. Jalan tolnya gratis. Kemarin sampai ke Madrid kami masih membayar tol. 

Menjelang jam empat sore kami sampai di Cordoba. Langsung menuju komplek mesjid yang terkenal itu. Kami melalui sebuah jembatan cukup panjang dari tempat parkir sebelum sampai ke mesjid. Dari jembatan itu bangunan itu tidak terlihat lagi seperti sebuah mesjid. Di sebelah kiri ada sebuah menara yang di puncaknya ada tanda salib. Menara itu adalah tempat lonceng gereja. 

Untuk memasuki mesjid kami harus membeli karcis. Harga karcis 8 Euro untuk orang dewasa. Anak-anak di bawah 10 tahun tidak membayar. Petugas di pintu masuk menyapa kami dan bertanya apakah kami dari Malaysia atau Indonesia. Dia mengingatkan agar kami tidak melakukan shalat di dalam mesjid. Si Tengah mengatakan bahwa dia mendapat cerita pernah ada satu rombongan pengunjung yang melakukan shalat di dalam mesjid ini ditegur bahkan diusir petugas. Padahal sebelum itu aku mengatakan bahwa aku juga ingin mengerjakan shalat di dalamnya.

Bangunan dalam mesjid itu masih utuh menunjukkan sebuah mesjid yang megah, dengan tiang-tiang yang kukuh, disertai lengkungan indah di antara dua tiang menuju langit-langit mesjid yang tinggi. Mesjid yang menurut catatan sejarah dibangun pada tahun 785 M ini sangat luas. Hanya saja sekarang penuh dengan ornamen, tanda salib dan hiasan khas gereja Katholik. Ada bagian-bagian yang disekat, dan di dalam ruangan yang disekat itu terdapat patung-patung manusia (orang suci menurut agama Katholik).


Bagian mihrab masih dipertahankan dan dibatasi dengan pagar besi. Kita tidak bisa masuk ke bahagian tersebut. Ada kalighrafi ayat al Quran di dinding dekat mihrab. Hanya bahagian mihrab ini saja yang bebas dari simbol-simbol dan hiasan salib. Kalighrafi ayat al Quran juga terdapat di beberapa bagian dinding yang lain, tapi terlihat kusam. 


Di langit-langit tergantung tempat meletakkan lampu-lampu lililn dengan lilin yang menyala. Aku melamun membayangkan betapa syahdunya mengerjakan shalat di mesjid ini seribu tahun yang lalu. Membayangkan betapa ramainya jamaah umat Islam yang ikut shalat di waktu itu. Menurut catatan sejarah pula, Cordoba adalah pusat budaya dan pengetahuan Islam selama kurun waktu yang panjang beratus tahun. Di sini hadir para ilmuwan Islam terkenal yang menguasai ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu kemaritiman. Banyak mahasiswa yang bukan Islam pun datang belajar ke kota ini. Pusat dari ilmu pengetahuan itu dihimpun di komplek mesjid yang indah ini.

Tapi demikianlah ketetapan Allah, keagungan dan kemuliaan itu dibiarkan Allah runtuh dan bahkan tercerabut sampai ke akar-akarnya. Andalusia yang tadinya merupakan pusat kejayaan Islam, di pertengahan abad ke lima belas dikalahkan oleh agama Katholik. 

Cukup memilukan melihat bukti sejarah yang terhampar di hadapan mata. Aku yang tadinya terlintas keinginan untuk mengerjakan shalat di dalam mesjid ini, terlepas dari larangan petugas penjaga karcis masuk, jadi tidak berminat mengerjakannya karena suasananya yang lebih kental bernuansa gereja. 

Kami tidak berlama-lama di lingkungan mesjid. Jam setengah tujuh kami tinggalkan tempat itu. Tujuan kami adalah kota kecil Ecija, sekitar 60 km dari Cordoba. B telah memesan hotel tempat kami akan menginap sampai hari Sabtu di kota tersebut.

****

Senin, 27 April 2015

Pau

Pau

Keluar dari hotel Riquet kami dibawa berkeliling sedikit di kota Toulouse. Sekedar raun panik. Dan terakhir mampir ke sebuah restoran halal untuk makan siang. Sebuah restoran yang dikelola oleh orang Maghribi (mungkin Aljazair atau Maroko). Setelah itu baru berjalan ke luar dari kota menuju ke Pau, melalui jalan tol (autoroute) no A64. Jarak Toulouse - Pau sekitar 190 km. Jalan tol yang boleh dikatakan sepi. Mobil dapat dipacu sampai kecepatan maksimum yang diijinkan, 130 km per jam. Udara cukup cerah siang ini.

Aku dan menantu yang memegang stir berbincang-bincang apa saja. Mengenai aturan berkendaraan di Perancis yang semakin tertib dengan banyak peraturan. Kecepatan kendaraan diawasi dan ada sangsi berat bagi yang melanggar. Tidak boleh menggunakan hape ketika sedang menyetir, bahkan ketahuan memegang hape saja bisa dianggap melakukan pelanggaran. Pendatang seperti menantu dan si Tengah harus mempunyai SIM, yang untuk mendapatkannya harus melalui ujian teori dan praktek. SIM internasional dari Indonesia hanya diijinkan untuk jangka waktu tertentu. 

Sangat jauh berobah. Ketika aku dulu tinggal di Perancis ini, yang perlu diperhatikan hanyalah asuransi kendaraan yang bukti pembayarannya harus ditempelkan di kaca depan mobil. Aku berbekal SIM internasional waktu itu, tapi tidak sekalipun berurusan dengan polisi. 27 tahun yang lalu, aku mengendarai mobil dari Paris ke Pau dengan kecepatan 140 km per jam. Tiap sebentar kami dibalap oleh Mercedes atau BMW yang berkecepatan mungkin sampai 200 km per jam. Sekarang kecepatan seperti itu akan dikenai sangsi yang berat, menurut menantu. 

Di bangku belakang, nenek sudah mulai agak akrab dengan Fathimah kecil. Fathimah duduk di tempat duduk khusus. Hamizan terpisah sendirian di bangku paling belakang sambil menonton film kartun. Masing-masing harus menggunakan sabuk pengaman. Seandainya Fathimah ingin menyusu, mobil harus berhenti di tempat pemberhentian. Begitu peraturannya.

Setelah berkendara sekitar 2 jam kami sampai di Pau. Aku dulu di tahun 1988 pernah tinggal di kota ini selama 6 bulan. Tapi mobilitasku di kota ini pada waktu itu sangat rendah. Tidak banyak tempat yang aku kenal. Kami akhirnya sampai di tempat tinggal mereka, di sebuah rumah bertingkat dua yang terdiri dari enam bagian dihuni enam keluarga. Bagian rumah tempat tinggal keluarga menantu ini terletak di bagian bawah. Ada ruangan tamu merangkap ruangan keluarga cukup luas, tiga kamar tidur, dapur. Sebuah rumah yang cukup nyaman untuk ditinggali.

Fathimah langsung mau digendong. Mungkin karena dia sudah mengenal wajahku melalui skype. Si Upiak Kecil ini benar-benar adorable. Tersenyum-senyum digendongan. Hamizan, si abang, berkomunikasi dalam bahasa campur-campur bahasa Indonesia dan English. Dia sudah punya vokabulari bahasa Inggeris yang lumayan banyak.

Kami shalat zuhur (dijamak dengan asar) jam setengah empat, masih dalam waktu zuhur. Aku diberi tahu bahwa waktu subuh adalah jam 5.50. Waktu zuhur jam 2 siang. Asar jam setengah enam sore. Berarti shalat subuh kami tadi pagi masih jauh sebelum masuk waktu. Ya, mau apa lagi, kan karena tidak tahu. 

Waktu maghrib jam 9 malam. B, sang menantu mengajakku untuk shalat ke mesjid. Mesjid itu sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumah kalau kita berjalan kaki. Tapi kalau menggunakan mobil harus berputar agak jauh. Menurut B, jaraknya sekitar 10 menit kalau jalan kaki atau 7 menit kalau naik mobil. Kami pergi dengan mobil. Mesjid itu rupanya satu-satunya di kota Pau. Jamaah shalat maghrib cukup banyak. Ada sekitar seratus orang dalam tiga shaf lebih. Umumnya bertampang maghribi.

Aku menjamak shalat dengan isya.  Pulang dari mesjid, sudah jam setengah sepuluh. Aku sudah sangat mengantuk dan langsung masuk kamar untuk tidur. 

****

Minggu, 26 April 2015

Bertemu Dengan Cucu-cucu

Bertemu Dengan Cucu-cucu

Jadwal perjalanan kami beriringan dengan jadwal besan. Mereka berdua telah berada di Pau sejak tanggal 15 yang lalu, dan sebelumnya sudah singgah di Amsterdam mengunjungi puteri pertama mereka di sana. Tanggal 25 kemarin, mereka berangkat melalui Toulouse untuk kembali ke Jakarta melalui Amsterdam lagi. Pagi-pagi mereka berangkat dari Pau diantar anak, menantu dan cucu-cucu langsung ke bandara Toulouse. Setelah itu barulah kami dijemput ke hotel.

Waktu baru sampai di hotel Riquet kemarin sore, kami ditanya apakah akan menggunakan internet. Padahal fasilitas ini dinyatakan tersedia dan bebas biaya di brosur mereka waktu aku memesan tempat melalui internet. Tentu saja aku jawab bahwa aku memerlukannya. Kepadaku diberikan secarik kertas dengan informasi untuk masuk jalur internet. Sampai di kamar aku coba membuka internet. Dan tidak berhasil. Aku turun lagi ke lobi hotel. Perlu sedikit utak-utik sebelum Ipadku terhubung ke internet. Aku berterima kasih dan kembali ke kamar. Aku coba menghubungi si Tengah melalui skype. Tidak tersambung. Coba menghubungi si Bungsu di Jatibening.  Tidak tersambung juga. Aku cek, ternyata sambungan ke internet terputus. Artinya, di kamar ini tidak ada wifi.

Karena sudah capek, aku malas untuk turun lagi ke lobi. WA juga tidak berfungsi dan kami tidak tahu kenapa. Malam itu sesudah shalat isya, sekitar jam setengah sepuluh kami langsung tidur.

Aku terbangun jam empat pagi.  Aku menebak saja bahwa waktu subuh mungkin sekitar jam setengah lima. Dan pada jam tersebut kami shalat subuh. Sehabis shalat  istriku membuat teh. Kami minum teh dan sarapan dengan roti.

Jam setengah delapan telepon hotel di kamar berdering. Ternyata dari si Tengah. Dia menanyakan keadaan kami, kenapa tidak ada kabar apa-apa dari kemarin sore. Aku jawab bahwa semua sarana komunikasi kami macet. Rupanya tadi malam jam setengah sebelas dia juga menelpon. Kami sudah terlelap waktu itu. Dia memberi tahu bahwa mereka sudah dalam perjalanan menuju Toulouse untuk mengantar Akung dan Uti dan setelah itu menjemput kami. Diperkirakan mereka akan sampai di bandara sekitar jam sembilan dan di hotel kami sesudah jam sepuluh.

Aku turun ke lobi untuk mengecek wifi lagi. Ternyata wifi hanya berfungsi di sekitar lobi itu saja. Di bawah sana Ipadku dapat digunakan dengan baik. Aku menghubungi si Bungsu melalui skype.  Setelah itu kembali menghubungi si Tengah juga dengan skype. Mereka sudah berada di bandara.

Waktu aku kembali ke kamar, istriku sudah selesai mengemasi barang-barang kami. Baru jam setengah sepuluh. Kami berbaring saja leyeh-leyeh. Aku coba menyalakan tv ternyata tidak tahu bagaimana memilih channel. Setiap dicoba memencet nomor channel tertulis bahwa channel tidak tersedia. 

Jam setengah sebelas pintu kamar diketok.  Aku menghambur mendekati pintu dan membukanya. Di sana berdiri menantu, si Tengah, Hamizan. Fathimah, si Upiak Kecil tertidur di kereta dorongnya. Subhanallah..... Alhamdulillaah..... Kami akhirnya berjumpa dengan cucu.

Istriku langsung memeluk Hamizan. Fathimah terbangun. Waktu mau diambil oleh nenek, dia menangis. Iyalah, orang belum pernah bertemu. 

Kami segera turun untuk check out dan meninggalkan hotel. 

*****

Sabtu, 25 April 2015

Paris Charles de Gaulle Menuju Pau

Paris Charles de Gaulle Menuju Pau

Dengan pertimbangan ketersediaan pengangkutan dari Bandara CdG Paris menuju Pau yang sesuai dengan waktu yang tepat dan biaya yang tidak terlalu mahal, pilihan akhirnya jatuh ke kereta api TGV. Sayangnya kereta api ini hanya ada sampai ke kota Toulouse, masih sekitar 190 km dari Pau. Dan kami harus berganti kereta di Bordeaux. Kami akan menginap di hotel satu malam di Toulouse dan setelah itu menantu serta anak dan cucu akan menjemput kami ke sana.

Setelah mengambil bagasi, kami mendorong troli bawaan menuju stasiun TGV yang terletak beberapa ratus meter saja. Cukup ramai manusia di ruang tunggu. Hari baru jam setengah delapan, sedangkan kereta api kami jadwalnya jam 10.16. Masih dua setengah jam lebih lagi. Ada monitor tv yang menayangkan jadwal dan tujuan kereta yang akan berangkat pagi itu, serta di jalur berapa masing-masingnya akan berangkat. Kami menunggu dengan santai. Sayangnya wifi di tempat itu juga tidak bekerja normal. Aku bertanya kepada seorang yang sedang membuka internet, wifi mana yang dia pakai. Wifi aeroport yang dia katakan, sudah dideteksi oleh Ipad ku tapi internet tidak bisa dibuka. Entah aku yang gaptek, entah memang ada yang tidak beres. 

Kira-kira jam sembilan lebih, aku mencari informasi di jalur mana kereta api yang akan kami tompangi akan berangkat. Petugas yang aku tanya, mengatakan bahwa itu hanya akan diketahui 20 menit sebelum berangkat. Dia mengingatkan agar memperhatikan nanti apakah harus melalui gerbang utara atau selatan, agar tidak keliru. Jarak antara kedua gerbang itu sekitar 20 meter. 

Informasi mengenai jalur itu akhirnya muncul di monitor tv, jam sepuluh kurang. Kami harus pergi ke jalur 6 gerbang selatan. Kami turun satu level dari ruang tunggu. Ada lift untuk turun. Aku mendorong troli kami menuju jalur tersebut. Aku bertanya lagi kepada seorang petugas kereta api, di mana kira-kira posisi gerbong nomor 13 dan dia menunjukkannya. Kami melangkah menuju tempat itu. Beberapa menit kemudian kereta api itu datang. Aku segera mengangkat bagasi kami dan meletakkannya di tempat bagasi sebelum mencari tempat duduk. Semua berjalan aman-aman saja. Wagonnya bagus dan bersih.

Kereta itu berangkat jam 10.20. Aku yakin betul bahwa waktu itu bukan jam 10.16 seperti jadwal. Kecepatan kereta sepertinya juga biasa-biasa saja, bukan grand vitesse, atau kecepatan tinggi. Ah mungkin karena ini masih di daerah perkotaan. Baru kira-kira sepuluh menit jalan, kereta itu berhenti di stasiun berikutnya. Yang menarik perhatianku adalah kesenyapan jalannya. Tidak ada bunyi berdengkang-dengkang seperti biasanya bunyi roda kereta api di negeri kita. Berangkat lagi, dan hanya beberapa menit kemudian berhenti lagi. Setiap kali akan berhenti ada pemberitahuan dalam bahasa Perancis diikuti dalam bahasa Inggeris. 

Perjalanan dilanjutkan. Aku tetap belum merasakan kecepatan kereta ini istimewa. Maksimum mungkin hanya sekitar 150 km per jam. Di mana grand vitesse nya? Tiba-tiba, setelah kami berjalan sekitar dua jam, kereta itu berhenti di suatu tempat yang bukan stasiun. Ada pengumuman dalam bahasa Perancis memberi tahu bahwa ada kerusakan di bagian elektronik. Ternyata bisa juga, ya? Perjalanan itu terhenti sekitar 20 menit. Padahal sebelumnya juga pernah berhenti agak lama di sebuah stasiun. Aku tidak terlalu memperhatikan pemberitahuan sebelumnya. 

Akhirnya masalah itu teratasi. Kereta api itu kembali bisa berjalan dan rasanya kali ini lebih cepat dari sebelumnya. 

Aku bertanya-tanya, bagaimana dengan pergantian kereta di Bordeaux nanti akibat keterlambatan ini. Aku menanyakannya ke petugas kereta. Dengan tenang dia memberi tahu, bahwa akan ada kereta berikutnya untuk kami.   Semua akan diatur, jawabnya. 

Para penumpang mendapat kotak makanan gratis akibat keterlambatan ini. Diumumkan pula, penumpang akan mendapat pengembalian biaya perjalanan minimal 25% karena keterlambatan lebih dari 30 menit. Ternyata keterlambatan kereta api ini mencapai 80 menit. Rupanya memang sudah ada masalah sejak berangkat dari bandara tadi.  Kami sampai di stasiun Bordeaux St. Jean jam 4 sore, dari jadwal sebelumnya jam 2.37. 

Ada hikmah paling positif bagi kami akibat kerusakan dan keterlambatan kereta api ini. Menurut jadwal, kami hanya punya waktu 10 menit untuk pindah kereta di Bordeaux. Pindah kereta yang ternyata bukan sesuatu yang sederhana. Kami harus menurunkan keempat koper dengan tolal berat lebih dari 60 kilo dari kereta yang satu, turun melalui tangga yang lumayan tinggi, tidak ada tangga berjalan atau lift, naik lagi ke jalur lain untuk kereta berikutnya. Waktu 10 menit aku pastikan tidak akan cukup untuk manuver tersebut. 

Alhamdulillah, sekarang kami punya waktu 45 menit untuk menunggu kereta pengganti. Sebelumnya aku harus melapor dan mengganti karcis di kantor SNCF yang terletak lumayan jauh dalam bangunan stasiun yang lumayan besar. Dengan menunjukkan karcis (e-tiket), aku segera mendapat tiket pengganti di kereta jurusan Marseille yang akan berangkat jam 4.47. Jalurnya juga akan diberitahu 20 menit sebelum berangkat. 

Aku benar-benar keletihan mengangkat koper-koper itu turun naik tangga. Tidak ada tangga berjalan.  Alhamdulillah ada seorang anak muda yang membantu kami. Mungkin dia kasihan melihat istriku yang tertatih-tatih mengangkat koper yang lebih kecil. Ternyata kami salah naik tangga pula, antara utara dan selatan. Terpaksa menarik koper-koper itu lumayan jauh ke gerbong. Sekali lagi alhamdulillah, ada seorang laki-laki lain yang membantu menaikkan koper- koper itu ke kereta. 

Kereta api itu berangkat menuju Toulouse. Dengan kecepatan lumayan tinggi. Jam 6.48 kami sampai di stasiun Mitabea Toulouse. Hotel kami terletak 400 meter dari stasiun. Kami berjalan kaki ke sana. Dengan menarik koper-koper kami menyeberangi jalan. Koper-koper yang terasa semakin berat saja. 

Perjalanan istimewa melelahkan itu akhirnya selesai sampai di hotel. Hari sudah jam setengah delapan tapi masih terang benderang.  Kami shalat maghrib dan isya jam sembilan. Dan setelah itu langsung tidur karena terlalu lelah.

*****

Jumat, 24 April 2015

Perjalanan Menengok Cucu

Perjalanan Menengok Cucu 

Perjalanan ini sudah direncanakan sejak beberapa bulan yang lalu. Waktunya dipilih setelah berlalunya musim dingin di Eropah. Tiket pesawat dicari melalui internet. Pilihan akhirnya jatuh ke Vietnam Airlines dengan biaya Rp 21 juta untuk dua orang dalam perjalanan Jakarta - Ho Chi Min City - Paris pulang pergi. Biaya yang lumayan murah, meski pernah ada tawaran yang lebih murah tapi luput dari pemesanan. 

Sempat juga dipelajari reputasi Vietnam Airlines ini melalui Google. Ternyata cukup meyakinkan dan tidak perlu dikhawatirkan. Penerbangan ini membawa penumpangnya ke banyak tempat di Eropah, Amerika dan Australia. Mungkin lebih lincah dari Garuda. Sebelum hari keberangkatan, sudah dipesan melalui Biro perjalanan untuk mendapatkan makanan halal selama penerbangan. Hal ini hanya bisa dilakukan melalui biro tersebut karena kantor Vietnam Airlines di Jakarta tidak bisa dihubungi. Masih agak khawatir juga bahwa permintaan ini tidak akan dipenuhi. Seandainya tidak disediakan, apa boleh buat, kita akan menghindari sajian daging apa saja kecuali ikan. Bila perlu kita akan makan nasi atau roti saja.

Hari keberangkatan itupun datang. Hari Kamis tanggal 23 April. Kami diantar si Bungsu dan si Sulung plus cucu paling kecil anak si Sulung. Berangkat jam 9 pagi dari rumah. Jalan yang dikhawatirkan akan macet karena pertemuan Asia Afrika, ternyata sangat lancar. Kurang jam sebelas kami sudah sampai di Bandara Soeta. Langsung masuk untuk check in. Proses check in lancar. Bagasi kami seberat 61 kg, sebagian besar pesanan si Tengah berupa bahan makanan terdiri dari 4 potong (tiga koper plus satu kotak berisi kado mainan untuk cucu) tidak ada masalah. Kami berpisah dengan si Sulung, si Bungsu dan Adek (yang terbingung-bingung) dan langsung menuju pemeriksaan imigrasi.

Pesawat Vietnam Airlines tujuan Ho Chi Min City itu berangkat tepat waktu. Sempat agak antri untuk take off dibelakang beberapa pesawat Garuda. Setelah mengudara, seorang pramugari datang menghampiriku dan menanyakan apakah aku memesan halal food. Dia rupanya melakukan pengecekan untuk konfirmasi. Ternyata kami yang pertama mendapatkan suguhan makanan dengan label Moslem Food. Alhamdulillah. 

Di pesawat ini banyak ibu-ibu Indonesia berjilbab. Penumpang pesawat Airbus A321 ini kebanyakan memang orang Indonesia. 

Jam setengah lima sore kami mendarat di Bandara kota Ho Chi Min City. Kami akan menunggu sampai jam setengah sebelas malam untuk lanjut dengan penerbangan menuju Paris. Tadinya terpikir untuk sedikit melancong di kota ini. Kami bertanya di kaunter informasi bandara, sambil memberi tahu bahwa kami punya sekitar 5 jam sebelum melanjutkan penerbangan, apakah memungkinkan untuk pergi keluar. Petugas itu menyarankan agar menanyakan ke petugas imigrasi. Sepertinya dia tidak merekomendasikan rencana tersebut. Akupun jadi ragu pula untuk keluar. Dia memberi kami dua lembar kupon untuk makan malam gratis di restoran di tingkat tiga bangunan bandara, karena waktu tunggu yang lama itu. 

Akhirnya kami duduk saja menunggu di bandara tersebut. Kami shalat maghrib dan isya di dekat pintu tangga darurat. Sayang wifi di bandara itu tidak berfungsi dengan baik. Kami tidak bisa berkomunikasi dengan anak-anak.

Jam sembilan kami masuk ke ruangan tunggu. Berangsur-angsur calon penumpang bertambah banyak. Sebagian besar orang-orang berbahasa Perancis. Banyak di antara turis Perancis itu membawa topi 'caping gunung' dari anyaman bambu. Topi yang dulu dipakai tentara Vietcong ketika berperang melawan Amerika.

Pesawat tujuan Paris inipun berangkat tepat waktu. Kali ini jenis Boeing 777. Di kelas ekonomi ini ada 9 tempat duduk dalam satu baris yang terdiri dari masing-masing 3 bangku. Kami ditempatkan pada bangku terpisah (dipisahkan gang). Di sebelah sana ada sepasang suami istri orang Perancis, dan di sebelah sini juga sepasang suami istri orang Vietnam. Jadi tidak mungkin kami minta bertukar tempat.

Seperti tadi dari Jakarta, kali ini seorang pramugara juga datang melakukan pengecekan pesanan makanan halal. Dan seperti tadi juga, kami yang paling awal mendapat sajian makan malam. Hal ini perlu diacungi jempol. 

Setelah makan malam aku berusaha tidur. Jam empat aku dibangunkan istri karena alarm hapeku berbunyi. Saat itu masih jauh sebelum waktu subuh. Setelah  mematikan alarm aku kembali tidur. Jam delapan waktu Jakarta, aku terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Padahal masih malam, mungkin masih jam empat waktu di posisi itu. Kami shalat subuh jam 9 waktu Jakarta. 

Masih ada acara makan lagi setelah itu. Pesawat itu mendarat jam 6.40 di bandara Charles de Gaulle Paris. Ketepatan waktu yang sangat lumayan, karena jadwal kedatangan harusnya jam 6.30. 

Setelah melalui imigrasi dan mengambil bagasi, kami keluar menuju stasiun kereta api SNCF. Kami akan naik kereta TGV menuju Toulouse via Bordeaux.

*****