Minggu, 11 Oktober 2015

Teliti Sebelum Membeli

Teliti Sebelum Membeli

Untuk sebagian orang berbelanja adalah sebuah kenikmatan. Nikmat sekali rasanya ketika mampu membeli barang-barang. Apalagi kalau barang-barang itu istimewa mereknya. Entah itu barang perhiasan, pakaian, makanan, mainan atau apa saja. Prinsip untuk membeli seolah-olah disederhanakan melalui jalur, terlihat, lalu tertarik, lalu dibeli. Apakah barang-barang itu benar-benar diperlukan atau tidak, tidak jadi masalah.  

Ada sebuah cerita tentang seseorang yang sedang berpuasa, pergi ke pasar di siang hari, lalu tergoda untuk membeli berbagai macam penganan yang dijual. Semuanya terlihat membangkitkan selera. Dan dia mengikuti godaan itu. Dibelinya berbagai macam jajanan tersebut, untuk nanti dinikmatinya saat berbuka. Begitu beduk maghrib berbunyi, disibukkannya dirinya mencicipi makanan-makanan itu satu persatu. Sepiring kolak, segelas cendol, es sirup, lemang tapai..... Tapi baru sampai ronde keempat ini, suapannya sudah mulai terseok-seok. Masih ada nasi dengan berbagai lauk pauk yang dibelinya tadi siang antri untuk masuk mulutnya. Hanya satu dua suap nasi dengan gulai ayam sudah membuatnya KO. Perutnya sudah tidak menerima lagi. Dia terkapar, dan terlambat shalat maghrib.

Bernafsunya mata untuk berbelanja telah dieksploitir oleh pedagang-pedagang besar di komplek membeli belah raksasa atau yang bahasa kerennya disebut mall. Di sana barang dagangan dipajang sedemikian rupa untuk merayu mata para pengunjung agar tergoda. Semua terlihat serba menarik. Adakalanya dipertunjukkan pula cara menggunakan masing-masing barang-barang itu yang tentunya terlihat canggih. Tidak jarang ada pula rayuan gombal seperti beli dua gratis satu. Atau pembeliannya boleh dicicil yang padahal bersistim riba. Belum lagi kalau ada potongan harga besar-besaran. Pokoknya serangan untuk menaklukkan nafsu membeli datang dari segala arah

Orang-orang yang tidak punya rencana dalam berbelanja, segera jatuh jadi 'korban'. Mereka membeli bukan karena kebutuhan tapi karena salah satu alasan akibat rayuan gombal tadi itu. Karena harganya sedang diskon. Atau karena beli dua gratis satu. Atau karena alatnya terlihat sangat canggih.

Tidak jarang terjadi, barang-barang yang dibeli itu akhirnya tidak dimanfaatkan di rumah. Bahkan alat yang sama sebenarnya sudah mereka punyai. Maka akhirnya jatuh kepada kesia-siaan. Jadi mubazir. Padahal kata Allah dalam al Quran orang yang mubazir itu adalah temannya setan. 

Prinsip berbelanja seharusnya didasarkan pada kebutuhan atas suatu produk. Kalau memang kita memerlukannya tentu perlu dibeli. Dan membelinyapun haruslah dengan hati-hati dan teliti. Dulu ada peringatan di televisi sebelum dan sesudah acara iklan, 'teliti sebelum membeli'. Ketahui benar kualitas dari barang yang akan dibeli. Dan beli seperlunya. Buat apa kita membeli tiga buah barang yang sama hanya karena iming-iming beli dua gratis satu, sementara kebutuhan kita hanya untuk sebuah saja. 

Pedagang tentu saja berusaha keras dengan segala cara untuk menjual  dagangannya. Dari sisi mereka sah-sah saja mereka merayu calon pembeli. Kita yang harus bijak dalam membelanjakan uang.

****
                             

Jumat, 09 Oktober 2015

Sudah Pulang Yang Pergi Haji

Sudah Pulang Yang Pergi Haji      

Alhamdulillaah, sudah pulang dengan selamat si Sulung dan suaminya dari melaksanakan ibadah haji sore kemarin. Mereka sampai di Bandara Soeta sekitar jam 18.30, terlambat sekitar dua setengah jam dari jadwal. Penyebabnya, karena mereka harus mendarat darurat di Phuket - Thailand, karena ada seorang jamaah haji yang kritis kesehatannya, dan harus dicarikan pertolongan pertama. Sudah menjadi ketetapan Allah, si sakit itu akhirnya menghembuskan nafas terakhir di sana. 

Menurut jadwal mula-mula mereka akan mendarat di Bandara Soeta jam 16.00 sore. Tadinya kami sudah mau berangkat ke bandara jam 14.00 siang untuk menjemput mereka, karena mengantisipasi macet. Persis sebelum berangkat mendapat pesan singkat dari menantu mengatakan bahwa mereka mendarat darurat di Phuket. Akhirnya kami berangkat jam 16.00 sore. Sebuah antisipasi yang ternyata perlu, karena kami menghabiskan waktu dua setengah jam lebih untuk sampai di bandara. Dan kedatangan kami di sana bersamaan dengan mendaratnya pesawat yang membawa rombongan jamaah haji si Sulung.  

3R (Rafi, Rasyid dan Rayyan) sudah tidak sabar ingin bertemu dengan bunda dan papa mereka. Kami masih harus menunggu sejam lebih sampai akhirnya yang ditunggu muncul di gerbang kedatangan. Ketiga anak-anak itu berhamburan mengejar bunda. Memang baru bunda saja yang keluar karena papa mereka masih mengurus pengambilan barang mereka yang hilang di Jeddah dan ternyata dikirim balik ke Jakarta.

Meskipun selama ditinggal kedua orang tua mereka, anak-anak itu aman-aman dan tenang-tenang saja dibawah asuhan inyiak, nenek dan onti, tapi tetap saja kerinduan mereka setelah berpisah sekian hari tidak dapat dipungkiri. Ketiganya begitu gembira dengan kedatangan papa dan bunda.

Banyak cerita tentang pengalaman mereka melaksanakan ibadah haji. Kami bersyukur bahwa mereka sudah kembali dengan selamat. Alhamdulillaah, mereka terlihat sehat. Dan mudah-mudahan ibadah haji mereka diterima Allah Ta'ala. Aamiin....

****                              

Selasa, 29 September 2015

Temui Kejanggalan Pada Jasad Korban Mina, Dokter ini Surati Raja Saudi (dari Kiblat.Net)

Temui Kejanggalan Pada Jasad Korban Mina, Dokter ini Surati Raja Saudi
 
KIBLAT.NET, Riyadh — 

Kerajaan Arab Saudi belum mengeluarkan rilis resmi terkait penyebab musibah Mina, yang merenggut tujuh ratusan jiwa. Namun, berbagai analisis dan spekulasi terus bermunculan. Salah satunya, surat seorang dokter Mesir kepada Raja Saudi, Salman bin Abdul Aziz.

Abdul Hamid Fauzi Ibrahim Abu Sa’ad, nama dokter tersebut, meminta kepada raja agar jangan buru-buru mengubur jenazah korban musibah Mina sebelum dilakukan otopsi. Sebab, menurutnya ada kejanggalan yang merata pada jasad jenazah. Ia bahkan mencurigai musibah ini bukan sebuah kebetulan semata.

Berikut isi surat dokter tersebut yang kami terjemahkan dari sumber ini.

“Dari warga Mesir kepada tuan Penjaga Dua Masjid Suci yang semoga dilindungi Allah.
Hari ini wahai tuanku, saya mendapatkan pengalaman tragis ketika mencari keponakanku yang hilang pasca insiden Mina yang mengerikan itu. Saya merasa tenang, setelah berkeliling mencari dari jam enam pagi hingga delapan malam, dan mendapatkan keponokanku dalam keadaan baik-baik saja, Alhamdulillah.

Namun, selama saya mencari keponakanku di seluruh rumah sakit di Mina, Arafah, Mekkah dan Jeddah dan bertanya seluruh lembaga medis tanpa terkecuali, termasuk Direktorat Kesehatan di Mekah dan berdasarkan pengalamanku 30 tahun lebih di departemen kesehatan, saya menemukan dua catatan penting yang ingin saya sampaikan kepada Anda.
Saya berpikir, satu dari dua catatan itu harus menjadi kebanggaan dan catatan lainnya harus menjadi masalah serius yang wajib diperhatikan oleh seluruh masyarakat.

Catatan Pertama:

Tingkat layanan di semua rumah sakit yang saya kunjungi, layak dibanggakan Kerajaan dan kita semua sebagai warga Arab. Yang saya maksud di sini bukan hanya bangunan dan peralatannya saja (ini sudah diketahui masyarakat luas). Tetapi yang saya maksud di sini mengenai pelayanan para petugas.

Anda, wahai tuanku, berhasil membangun warga Saudi yang paham dengan kondisi yang dialami negara mereka setelah bencana ini. Pelayanan mereka baik dan membantu dengan cinta dan kasih sayang. Saya mendapati sikap baik para petugas itu di lembaga-lembaga kesehatan, mulai dari Direktur Direktorat Urusan Kesehatan di Mekkah hingga penjaga keamanan di pintu rumah sakit.

Bukan saya saja yang merasakan pelayanan itu karena saya berprofesi dokter. Akan tetapi, saya menyaksikan sikap itu diberlakukan kepada orang-orang yang seperti saya yang mencari sanak keluarga yang hilang. Saya ucapkan selamat dari hati terdalam atas kesuksesan Anda dalam hal ini.

Catatan Kedua:

Ini yang saya pikir sangat serius yang harus kita perhatikan, teliti dan selidiki. Saya melihat mayoritas korban selamat—seperti yang saya saksikan sendiri—mengalami kondisi aneh: mulai dari amnesia, tidak ada sedikitpun goresan, memar atau luka di tubuh mereka. Ini terjadi bukan hanya pada satu atau dua korban, namun pada puluhan korban sehingga memaksa rumah sakit menulis nama pasien dengan nama majhul (tidak diketahui) karena pasien tidak mampu mengingat namanya, nama negaranya atau di mana dia berada saat ini.

Begitu juga, ada puluhan korban meninggal yang disimpan di lemari pendingin tidak ditemukan di tubuh mereka luka sedikitpun yang memungkinkan kita menilai penyebab kematian mereka. Sehingga, tim forensik harus turun tangan untuk menyelidiki penyebab kematian mereka. Saya berharap tim forensik segera turun tangan untuk menyelidiki keanehan ini dalam rangka menjaga nyawa umat Islam. Karena, insiden semacam ini dan hasilnya bertolak belakang dengan logika serta nalar, sehingga menegaskan kecurigaan seorang ahli.

Saya menduga dalam keanehan ini, adanya tangan berdosa yang meledakkan bom gas di tengah lautan jamaah haji yang berdesak-desakan sehingga mengakibatkan korban meninggal dan luka-luka. Tidak hanya saya yang curiga dengan insiden ini, dokter-dokter senior di rumah sakit-sakit juga sama.

Catatan Terakhir:

Yaitu pengakuan polos dari seorang petani perempuan Mesir dari kota Dimyath (kota Mesir yang terletak di muara Delta Nil) kepadaku setelah saya bertanya: “Apa yang terjadi wahai Bu Haji?” Saat itu dia dalam keadaan setengah sadar, kemudian dia berkata, “Setelah kami melewati Muzdalifah, ada rombongan besar berjalan di belakang kami. Mereka dari Afrika, orang-orang dari negara hitam. Tiba-tiba kami bertemu dengan rombongan yang disebut dari Iran. Mereka berhenti di hadapan kami, sampai-sampai saya mengumpat mereka. Mereka membuat nilai hajiku tidak sempurna (karena berkata kasar—edt), semoga Allah mengampuniku dan mengampuni yang lain. Seketika itu saya melihat ke belakang, saya mendapati orang saling bertabrakan, saya pun pingsan kemudian saya sadar dan saya sudah berada di sini.”

Ini wahai Tuanku, kesaksian petani Mesir supaya menjadi perhatian khusus dari Anda jika kita cocokkan ini dengan foto yang menyebar mengenai kondisi korban meninggal dan jika kita memperhatikan kasus kehilangan kesadaran dan amnesia yang mereka alami. Dalam kamus medis, berdesak-desakan dan keramaian bukan penyebab hilangnya ingatan secara keseluruhan.

Tuanku Penjaga Dua Masjid Suci, ini adalah jeritan warga Muslim Mesir, yang cinta agama dan negaranya. Semoga jeritan ini sampai kepada Anda, semoga Allah menjaga Anda, negara Anda, warga Arab dan kaum Muslimin.

Saudaramu,

dr. Abdul Hamid Fauzi Ibrahim Abu Sa’ad
Mantan Penasihat Departemen Kesehatan dan Kependudukan Mesir
Alih Bahasa: Hunef Ibrahim
Editor: Hamdan

****

Jumat, 25 September 2015

Musibah Lagi Di Mina

Musibah Lagi Di Mina  

Telah terjadi musibah lagi di Mina. Pada hari 10 Zulhijjah pagi-pagi, ketika jamaah haji, sesudah mabit (bermalam) di Masy'aril Haraam, setelah mereka selesai wuquf di Arafah hari sebelumnya,  lalu bergegas mau melontar jumrah Aqaba. Entah bagaimana persisnya kejadian itu masih belum jelas. Tapi yang pasti telah jatuh korban. Beratus-ratus orang yang terkorban, meninggal dunia di tempat kejadian.

Apapun alasan yang menyebabkan musibah itu, sekali lagi begitulah ketetapan Allah. Seperti itulah takdir Allah. Memang selalu ada kemungkinan untuk terjadi musibah, ketika 3 juta umat manusia berkumpul di suatu tempat,  mengerjakan amalan yang sama pada waktu yang hampir bersamaan. Ketika mereka wuquf, semua ketiga juta manusia itu berkumpul di padang Arafah. Begitu masuk waktu maghrib menandai awal tanggal 10 Zulhijjah semua mereka bergerak meninggalkan Arafah menuju ke Masy'aril Haraam untuk melewatkan malam di sana. Sesudah shalat subuh mereka kembali bergerak meski kali ini boleh ke tempat yang berbeda. Ada yang menuju jumrah untuk melontar. Dan ada juga yang turun langsung ke Makkah untuk thawaf dan sa'i. 

Ruang tempat melontar jumrah itu sebenarnya terlalu kecil untuk didatangi bepuluh ribu jamaah dalam menit yang sama. Dulu, ketika tempat melontar itu hanya ada di satu lantai, menurut berita, sangat sering terjadi musibah, ketika jamaah terjatuh dan terinjak-injak akibat berdesak-desak. Lalu pemerintah Arab Saudi membuat tempat melontar itu menjadi beberapa tingkat untuk mengurangi keberdesakan di satu lantai. Banyak manfaatnya, dan alhamdulillah hal tersebut bisa mengurangi kecelakaan.   

Musibah kali ini, menurut berita terjadi di jalan menuju ke jumrah. Rombongan yang paling di depat terhalang untuk bergerak maju, sementara rombongan lain di belakangnya mendesak terus sehingga terjadilah kekacauan. Harus kita fahami bahwa yang dimaksud dengan rombongan adalah kumpulan ribuan  atau bahkan puluhribuan jamaah.   

Menarik sekaligus menggelikan komentar orang-orang yang tidak faham dengan rukun Islam dan rukun haji dalam menanggapi terjadinya musibah dan antisipasi untuk menghindari terjadinya kejadian serupa. Ada yang mengatakan, kenapa pelaksanaan haji itu mesti pada waktu yang sempit, hanya beberapa hari saja. Kenapa waktunya tidak diperluas selama bulan-bulan haram. Bahkan ada yang mengatakan, kenapa mesti membuang-buang biaya pergi jauh-jauh ke Makkah. Kenapa tidak dibuat saja tiruan ka'bah dan padang Arafah itu di gunung Bromo misalnya. Pernyataan-pernyataan seperti ini tidak perlu ditanggapi.

Berhaji itu adalah wuquf di Arafah, thawaf mengelilingi Ka'bah, sa'i di antara Shafa dan Marwa dan dikerjakan pada waktu yang ditentukan. Kecelakaan atau musibah tidak hanya terjadi pada saat pelaksanaan ibadah haji di tanah haram. Kapal karam atau pesawat jatuh dalam perjalanan ke sana bisa saja terjadi. 

Kita doakan semoga mereka yang terkorban di Mina kali ini diterima ibadah hajinya oleh Allah Ta'ala. Aamiin.    

****                          

Selasa, 22 September 2015

Semangat Berkurban Di Komplek Kami

Semangat Berkurban Di Komplek Kami 

Sesuatu yang sangat pantas dan perlu disyukuri, betapa semangat untuk berkurban di hari Aidil Adha oleh warga komplek perumahan kami makin meningkat, paling tidak sampai tahun ini. Untuk tahun ini ada 20 ekor sapi yang in sya Allah akan kami potong hari Kamis lusa, sedangkan jumlah kambing masih belum diketahui pasti. Jumlah sapi ini meningkat dari 16 ekor tahun yang lalu. Memang para pengurban lebih cenderung ikut berkurban sapi dibandingkan kurban kambing. Jumlah kurban kambing yang suatu saat pernah mencapai 40 ekor, tahun lalu hanya 15 ekor.

Aku perlu mengulangi bahwa komplek ini terdiri dari sekitar 200an buah rumah dan sekitar 85% warganya beragama Islam. Kami punya mesjid jami' ukuran sederhana di tengah komplek. Dengan jumlah jamaah aktif sekitar 50 - 60 orang. Jamaah aktif maksudnya yang secara teratur hadir shalat berjamaah. Di mesjid inilah kegiatan-kegiatan ibadah dilakukan, termasuk memotong hewan korban di pekarangannya.  

Jumlah 20 ekor sapi tahun ini adalah rekor baru. Memang ada di antaranya yang satu keluarga berkurban satu ekor sapi, bahkan ada beberapa keluarga yang melakukan seperti itu. Secara keseluruhan memang terjadi peningkatan peserta berkurban dari tahun ke tahun. Salah satu penyebab meningkatnya keikutsertaan warga mungkin karena kami berusaha melakukan ibadah berkurban ini sebersih dan setransparan mungkin.  Sejak dari penentuan biaya kurban, pembelian, pemotongan dan pembagian daging kurban kami kerjakan serapi mungkin. Di samping itu kami para jamaah mesjid melibatkan diri dalam bergotong royong di hari pemotongan. Meskipun demikian kami memerlukan tenaga trampil khusus untuk memotong sapi. Tenaga seperti ini dibayar. Jadi biaya kurban yang harus disetor setiap peserta mencakup biaya operasional dan biaya untuk konsumsi.

Masing-masing pengurban sapi menerima segumpal daging seberat 2 kg, sedangkan pengurban kambing mendapat satu paha belakang kambing. Dan setiap pengurban juga mendapat dua buah kupon (untuk dua kantong daging kurban) yang boleh diserahkannya kepada siapa yang diinginkannya. Sisanya, dibagikan kepada masyarakat di sekitar komplek (yang sebelumnya didata dan diberi kupon) serta semua yang ikut  bergotong royong, termasuk tukang potong sapi. Tahun lalu kami membuat 1600 kantong berisi daging berikut jeroan dan tulang dengan berat setiap kantong sekitar 2.5 kg. Tahun ini rencananya akan kami buat 1700 kantong. 

Semua bagian yang bisa dibagi kami masukkan ke dalam tumpukan untuk dibagi, termasuk jeroan, lidah, otak dan buntut. Yang tidak dibagi hanyalah kaki dan kulit. Kulit yang pernah pula suatu saat kami potong-potong dan dibagi-bagi, tapi ternyata jadi tidak bermanfaat, akhirnya kami sepakati boleh dijual dan uangnya diserahkan ke pesantren. Kaki-kaki sapi dibagi kepada yang mendaftar untuk mendapatkannya. Alhamdulillah semua bisa berjalan dengan tertib.

Untuk konsumsi para pekerja gotong royong, ibu-ibu anggota majelis taklim menyiapkan makanan yang sama sekali tidak melibatkan daging kurban.   

Mudah-mudahan ibadah kurban kami diterima Allah Subhanahu wata'ala.  

****        

Jumat, 18 September 2015

Nostalgia

Nostalgia    

Jauh berjalan, banyak yang dilihat - lama hidup, banyak yang dirasai. Begitu kata-kata bijak orang Melayu. Arti harfiyahnya memang seperti yang terungkap itu. Semakin banyak kita berjalan, semakin beragam pemandangan yang kita lihat. Ada yang cantik memukau, tapi ada pula yang gersang melelahkan. Demikian pula halnya, makin lama kita hidup, makin banyak pengalaman. Berbagai hal pernah menghampiri kehidupan kita. Makin banyak suka dan duka kita lalui. Pasti ada kedua-duanya, ada yang indah-indah, yang rasanya ingin kita kembali bersamanya. Ada yang getir. Yang pahit, yang kita ingin melupakannya tapi tidak bisa.  

Pengalaman yang indah di tempat yang indah senantiasa menjadi kenangan. Kita menyebutnya nostalgia. Ingin rasanya hati kembali lagi ke keadaan seperti itu. Dengan segala keindahannya. Dengan segala keelokannya. Tapi tentu saja tidak mungkin. Karena yang sudah berlalu itu sudah tertinggal di belakang. Bahkan untuk menirunya, membuat sesuatu yang menyerupai keindahan yang dulu pernah dialami, tidak akan mudah. Banyak faktor yang sudah berubah. 

Sebaliknya, pengalaman buruk, di tempat yang buruk, yang mungkin pernah kita alami senantiasa terbayang seperti mimpi buruk. Di satu sisi kita ingin melupakannya, tapi bayangan buruk itu tidak pernah enyah dari pikiran. Di sisi lain kita sepantasnya bisa mensyukuri bahwa pengalaman buruk tersebut telah berlalu. Kita berkesempatan untuk mengobati lukanya atau kepahitan yang terkandung di dalamnya. 

Apapun pengalaman masa lalu yang pernah mampir ke dalam kehidupan kita, itulah takdir Allah. Baik yang indah ataupun yang buruk sama-sama berpotensi melibatkan kita ke dalam dosa atau sebaliknya pahala di hadapan Allah. Ada masa-masa yang kita kenang sebagai masa indah, ketika kita sedang memadu kasih dengan pacar (belum resmi menjadi pasangan hidup), padahal yang kita perbuat waktu itu adalah kemaksiatan. Ada masa kelam dalam kehidupan ketika kita dihukum karena kelalaian kita. Keikhlasan kita menerima hukuman, setelah menyadari kekeliruan yang kita perbuat merupakan sebuah kebaikan untuk kita. 

Memang, jauh berjalan banyak yang sudah dilihat, lama hidup banyak yang sudah dirasakan. Mari kita hitung-hitung semua pengalaman hidup, yang baik ataupun yang buruk, untuk menghadapi kehidupan akhirat nanti. Untuk setiap kekurangan dan dosa yang pernah kita lakukan, kita minta ampun kepada Allah. Untuk setiap kebajikan, kita mohon kiranya Allah meridhainya. Dan kiranya Allah memelihara kita untuk senantiasa taat kepada-Nya sampai akhir hayat kita. Mudah-mudahan nanti di akhirat sana, kita bisa bernostalgia dengan amalan-amalan yang pernah kita lakukan dalam kehidupan di dunia ini.

****                                                

Kamis, 17 September 2015

MC

MC

Biasa jadi omongan di antara para pensiunan, ketika ada yang bertanya, apa saja kegiatan sekarang? Jawabnya, saya jadi MC. Kepanjangan dari kedua huruf itu adalah mengasuh cucu. Lebih tepatnya menggunakan waktu lebih banyak bermain dengan cucu. Memang bermain dan meluangkan waktu untuk cucu berbeda dengan ketika mengasuh anak-anak. Dengan anak-anak, adakalanya kita bisa marah sedangkan dengan cucu, ketika mereka dimarahi oleh orang tuanya (anak atau menantu) kita cenderung membela.   

Ini adalah waktunya kami (aku dan istri dengan bantuan si Bungsu) melakukan full MC. Seutuhnya menjaga dan mengasuh cucu-cucu yang ditinggal orang tuanya pergi melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci. Mereka tiga orang, terdiri dari si Kembar Rafi - Rasyid dan adiknya Rayyan. Si Kembar sudah duduk di klas 4 SD Jakarta Islamic School di Jati Waringin. Yang kecil, Rayyan sekolah di TKI Al Husna di komplek perumahan kami. 

Sehari-harinya, kami tinggal bersebelahan. Mereka tinggal di rumah yang posisinya di bagian depan dan kami di rumah sebelah belakang. Kedua rumah itupun dinamai dengan 'rumah depan' dan 'rumah belakang'. Anak-anak ini biasanya wira-wiri antara kedua rumah tersebut untuk bermain. Tapi jarang sekali ada yang mau menginap di rumah belakang kecuali kalau bersama-sama dengan bunda atau karena terpaksa. Yang terakhir ini misalnya ketika orang tua mereka pergi mengikuti manasik haji di luar kota selama dua hari.

Sekarang mereka terpaksa pindah ke rumah belakang. Tapi alhamdulillah, tidak ada masalah. Semua aman-aman saja. Untuk tidur mereka bertiga yang menetapkan akan tidur di kamar onti. Di kamar itu ada sebuah tempat tidur besar. Dan ditambah dengan kasur kecil. Tiga bersaudara tidur di tempat tidur besar dan onti mengalah tidur di kasur kecil. Mereka senang di kamar itu karena onti selalu banyak cerita pengantar tidur dan tidurnya bisa agak terlambat. Jam setengah enam, si Kembar dibangunkan untuk shalat subuh dan bersiap-siap. 

Sepulang dari mesjid inyiak dan nenek sibuk di dapur menyiapkan sarapan serta bekal untuk dibawa ke sekolah. Bekal yang dibawa itu ternyata untuk sarapan bersama karena siang harinya mereka makan dari kantin sekolah. Sudah dua hari berturut-turut membawa bekal nasi goreng buatan inyiak. Nasi goreng sosis ditambah telor matasapi. Ketika ditanya mau membawa bekal apa untuk hari kedua (tadi pagi), keduanya minta dibikinkan nasi goreng lagi. Ya, sudah. Hari ini dibuatkan lagi tapi diingatkan jangan tiap hari nasi goreng.

Mereka lalu diantar onti ke sekolah. Berangkat jam 6.20 dari rumah. Sebelum berangkat ke tempat kerjanya, onti pulang lagi mengurus Rayyan untuk mandi dan minum obat. Rayyan yang dalam keadaan kurang sehat tidak masuk sekolah minggu ini, jadi tinggal sama inyiak dan nenek di rumah. Semua mainan sudah dipindahsementarakan ke rumah belakang. Rayyan bisa main kereta api Thomas melalui rel berliku-liku, dengan inyiak. Atau memainkan gadget. Ipad inyiak sudah jadi seperti milik mereka bertiga. Penuh dengan bermacam-macam games / mainan. Tetapi memainkan Ipad harus diingatkan kapan mesti berhenti. Kalau tidak bisa berketerusan.

Rayyan bisa tidur siang kalau sudah kecapekan. Si Kecil ini aneh, kalau ditanya mau makan jawabnya selalu dia sudah kenyang. Kalau mau menyuruhnya makan tidak perlu ditanyai tapi langsung saja disuapi. Dengan cara ini tidak pernah ada penolakan. Nenek yang paling ahli menyuapinya.

Rafi dan Rasyid pulang sekolah jam 4 sore, sesudah shalat ashar berjamaah di sekolah. Hari ketika papa dan bundanya berangkat, inyiak yang menjemput mereka. Tapi kemarin dan tadi mereka dijemput onti. Sampai di rumah, mandi dan setelah itu langsung minta makan. Makan apa adanya dan tidak mesti nasi. Soalnya kata mereka makan di kantin sekolah tidak kenyang. Selanjutnya bermain sampai waktu maghrib.

Inyiak selalu mengingatkan Rafi dan Rasyid untuk shalat berjamaah dan bergantian jadi imam. Keduanya sudah hafal juz amma secara utuh. Kadang-kadang mereka ikut shalat maghrib ke mesjid. Tapi lebih sering shalat di rumah.  

Kami makan malam sesudah shalat isya. Sambil bercanda di meja makan, dengan cerita tentang kejadian di sekolah hari ini. Alhamdulillaah, sampai sekarang, malam ketiga sejak papa dan bunda berangkat, keadaan aman-aman saja. Mudah-mudahan tetap demikian sampai seterusnya. 

****