Kisah Para Pengkhabar Injil
(Oleh Kafil Yamin)
Posted by KabarNet pada 24/12/2013
TAK ada yang perlu dicari Skip Estes muda dalam hidup, kecuali melangkah nyaman di jalan yang sudah terbentang mulus. Ia sudah punya apa yang diinginkan kebanyakan orang Amerika: kekayaan, usaha, keluarga bahagia, dan tampang yang boleh juga. Tambahan, ia punya kegiatan yang mulia: mengajak orang-orang kepada agama Kristen – kepada jalan Yesus Kristus.
Ya, disamping pebisnis alat-alat musik dan pemilik studio musik, stasiun radio dan TV lokal, ia juga seorang preacher – di Indonesia lazim disebut pastor, yakni penyeru agama dalam Kristen Protestan.
Dengan semua anugerah itu, ia selalu tampak bergairah, gembira dan bersemangat. Juga ketika ayahandanya, seorang ordain minister [pendeta senior], mengatakan padanya: “Kita akan berbisnis dengan seseorang dari Kairo, Mesir.”
“Baik ayah,” jawab Skip.
“Dan dia ‘Moslem’,” kata ayahnya lagi.
“Hah? Aku tidak mau ayah! ‘Moslem’?
Mereka kan teroris, tukang meculik orang, membajak. Mereka tak percaya
Tuhan. Mereka itu mencium tanah lima kali sehari dan menyembah kotak
hitam di gurun pasir,” cerocos Skip.
“Ah, kamu harus ketemu dia. Ini bisnis,” desak ayahnya.
Merasa tak kuasa melawan, ia masih mengajukan syarat: “Baik. Aku mau ketemu dia. Tapi akan kukristenkan dia!”
“Kamu lakukan apa yang menurutmu bagus ,” pungkas ayahnya.
****
Hari pertemuan pun tiba. Skip sengaja
menemui ‘tamu Kairo’ itu sepulang dari gereja pada hari minggu, dengan
pakaian kebaktian lengkap dan injil di tangan, ditemani istri.
Ketika melihat sang tamu, ia kaget
bercampur heran. “Kok ‘Moslem’ begini?” pikirnya. Sebelumnya ia
membayangkan akan bertemu pria bercambang-jenggot, baju panjang dan
bersorban. Tapi yang dilihatnya jauh dari bayangan itu: Muhammad
Abdurrahman, nama tamu itu, berpakaian biasa: kemeja dan celana panjang,
wajah kelimis, tak ada bulu-bulu di wajahnya. Bahkan di kepala pun tak
ada! Dia botak.
Setelah sedikit obrolan perkenalan, masuk
ke obrolan bisnis. Lancar. Tapi Skip ingin lebih dari itu. Ia punya
agenda lain: mengkristenkan si tamu.
“Apakah anda percaya Tuhan?” Skip langsung nembak.
“Ya,” jawab Muhammad.
“Maksud saya Tuhannya Ibrahim. Anda percaya nabi Ibrahim?” desak Skip.
“Ya.”
“Anda percaya nabi Daud, Musa?”
“Ya.”
Sialan, pikir Skip. Kok dia percaya Tuhan orang Kristen? Nabi-nabi orang Kristen? Apa dia sedang basa-basi? Tidak jujur?
“Apakah anda juga percaya Yesus? Dan
kelahiran ajaibnya? Mukjizatnya menyembuhkan orang lumpuh dan bahkan
menghidupkan orang mati?”
“Ya,” jawab Muhammad.
“Anda juga percaya injil?”
“Ya.”
Skip bingung, tapi juga senang. Kalau
begitu tak akan sulit mengkristenkan dia, pikirnya. Segera ia pun
mengabarkan injil padanya. Ayat demi ayat. Bab demi bab. Dan sang tamu
mengangguk-ngangguk penuh pengertian.
Tentu mengubah agama orang tak bisa
singkat; tak boleh terburu-buru. Ia lantas mengajak sang tamu tinggal di
rumahnya. Muhammad menolak, tapi Skip mendesak, memohon. Muhammad pun
setuju.
Di luar urusan bisnis, di obrolan
beranda, dalam perjalanan, Skip selalu mendakwahkan Kristen kepada
Muhammad yang lebih banyak diam. Hanya sesekali ia menimpali. Sampai
satu titik, Skip mengajak Muhammad kepada Kristen. Kali ini Muhammad
menjawab:
“Saya bersedia masuk agama anda,” katanya. “Asal anda bisa membuktikan agama anda lebih benar dari agama saya,” tambahnya.
Skip berkerut kening: “Bung, agama bukan soal bukti. Agama soal keyakinan.”
“Di agama kami ada dua-duanya. Kami punya keyakinan, kami pun punya bukti-bukti,” jawab Muhammad.
Skip terdiam. Bagaimana membuktikan injil benar? pikirnya.
***
Skip tak menyerah. Ia mengundang
temannya, pendeta Katolik Peter Jacobs, ayahnya sendiri Edward Estes,
dan istrinya, untuk ikut mengabarkan kebenaran injil kepada si tamu
Mesir. Maka, saban senja, ‘pengajian’ pun digelar di rumah keluarga
Estes dengan hanya satu jama’ah, yakni sang tamu, dan tiga ‘pendakwah’,
yakni Skip sendiri, ayah Skip, dan si pendeta Katolik Peter Jacobs –
plus istri Skip yang hadir lebih sebagai ‘saksi’.
Makin masuk ke ‘pengajian’, masalah
mulai timbul. Pengkhabaran yang disampaikan masing-masing pengkhabar
kepada si Muslim berbeda-beda dalam banyak hal. Sebabnya, mereka
mendasarkan pada versi injilnya masing-masing. Ayahanda Skip menggunakan
versi King James, Skip menggunakan versi American Standard, pendeta
Katolik Peter Jacobs membawa versi lebih kuno, dan istri Skip
menggunakan versi Jimmy Swaggart, yang lebih ditujukan kepada masyarakat
modern Amerika.
Ketika Skip mebacakan satu ayat injil,
ayahandanya menyergah: “Tidak begitu bunyinya menurut injil ini,” sambil
membacakan ayat injil yang dia bawa.
Peter Jacobs pun mengoreksi: “Bukan begitu menurut injil yang sebenarnya. Ini saya bawa,” sambil membacakan ayat injil versinya.
Ini terjadi pada banyak topik. Jadinya,
tanpa disadari, perbincangan dan pedebatan lebih banyak terjadi antara
para pengkhabar itu, tentang ayat mana yang sah dan injil versi mana
yang bisa dijadikan sandaran – sang jama’ah tunggal lebih sebagai
penonton.
Di tengah kebingungan, Skip bertanya kepada si tamu Mesir: “Kalau kitab anda ada berapa versi?”
“Kitab kami tak ada versinya, karena hanya satu,” jawab Muhammad.
Semua pengkhabar terlihat agak terhenyak.
“Teksnya, susunan ayatnya, bahasanya, kalimatnya, titik-komanya, satu – dalam bahasa Arab,” tambah Muhammad. “Kemana pun tuan-tuan pergi: Arab, Mesir, Turki, Pakistan, Indonesia – kemana saja – carilah al-Qur’an dan liat. Semua sama. Memang ada terjemahan ke berbagai bahasa, tapi kami tidak menyebut terjemahan sebagai al-Qur’an,” kata Muhammad pula.
Setiap kali ‘pengajian’ usai, kebingungan
lebih menyerang para pengkhabar injil, terutama tentang keabsahan kitab
mereka masing-masing.
***
Skip makin penasaran kepada dua hal:
Islam dan al-Qur’annya; serta asal-usul injil yang didakwahkannya terus
menerus. Kini, tanpa sadar, ia lebih banyak menyelidiki asal-usul injil
sembari bertanya tentang al-Qur’an pada tamu Mesirnya, daripada
mendakwahkan injil kepadanya.
Sampai suatu tahap, ia tersadar bahwa
untuk hal-hal yang kurang dimengertinya dalam injil, ia mendapatkan
penjelasan lebih lengkap dan jelas dari al-Qur’an. Misalnya, sementara
ummat Kristen berkeyakinan bahwa Yesus itu anak Allah, dalam injil tak
ada satu ayat pun yang menjelaskan itu. Bahkan yang ada adalah perintah
menyembah Tuhan yang satu.
Perjanjian Baru:
Markus 12:29: Tuhan adalah satu, dan engkau harus menyembahnya sepenuh jiwa.
Perjanjian Lama:
Hozaiya, chapter 16:4: Engkau tak punya tuhan selain Aku. Dan selain aku tidak ada penyelamat.
Jesus saith unto Him, I am the Way the Truth and the life, no man cometh unto the Father but by Me. (Jhon 14:6).
Dia tak kunjung mengerti darimana asal muasalnya ketuhanan Yesus dan konsep Trinitas. Dalam al-Qur’an, keterangan tentang Yesus
[Nabi Isa] sangat jelas. Ia adalah utusan Tuhan yang lahir secara
mukjizat, dan menyeru untuk beriman dan menyembah kepada Allah yang esa. Bahkan nama bible [injil] pun tak ada dalam injil. Ia berasal dari bahasa Yunani biblios,
yang artinya buku. Tapi al-Qur’an dengan jelas menyebutkan ummat yang
menerima wahyu sebelum mereka, yakni Nasrani dan Yahudi, sebagai ahlul kitab.
Dan yang paling memusingkannya adalah
konsep Trinitas. Satu yang tiga; tiga yang satu. Sudah pake logika apa
pun tetap sulit. Bolak-balik ia berkonsultasi kepada Peter Jacobs minta
saran bagaimana mendakwahkan Trinitas kepada si Muslim Mesir.
Pertama, si pendeta menyarankan pakai
perumpamaan apel. Satu buah apel. Tapi dia terdiri dari tiga: kulit, isi
dan biji. Tapi sambil di jalan pikirannya sendiri menyanggah: tapi biji
apel kan tidak satu? Lagian biji apel, daging apel, dan kulit apel kan
bukan apel? Jika Tuhan terdiri dari roh kudus, Bapak dan anak, berarti
ketiga-tiganya bukan Tuhan. Ia pun urung menyampaikan perumpamaan Tuhan
dan apel ini kepada Muhammad.
Lalu balik lagi ke si pendeta. Minta
saran lain. Kali ini perumpamaannya adalah sebuah telur. Satu telur.
Pada telur ada kulit, putih dan kuning.
Ah, itu kan tidak beda dengan perumpamaan apel tadi. Ga akan
kena juga kepada Muhammad. Balik lagi. Lantas menerima perumpamaan satu
keluarga: ada bapak, ibu, anak. Tapi satu keluarga. Tak kena juga.
Logikanya sama: Bapak kan bukan satu keluarga. Demikian pula ibu, anak.
Tak berani pula ia pake perumpamaan itu. Skip tambah bingung.
Karena bingung, alih-alih mendakwahkan Trinitas kepada Muhammad, ia malah bertanya kepadanya:
“Kalau Tuhan anda gimana sih? Ada berapa?”
Muhammad menjawab dengan mengutip ayat al-Qur’an, surah al-ikhlas:
“Katakanlah: Allah itu satu. Allah yang
maha mulia. Dia tidak beranak dan bukan anak siapa pun. Dan tidak ada
satu pun yang menyerupainya.”
Skip tertegun. Begitu sederhana. Begitu
tegas. Begitu jelas. Begitu terang: satu ya satu. Tidak menyerupai
segala ciptannya, apa pun itu.
Lagi pula, bukankah itu yang sebetulnya
yang dikhabarkan injil? Tuhan itu satu. Tidak terkena sifat nisbi
makhluk: punya anak dan orangtua. Tapi bagaimana ceritanya bisa jadi
tiga?
Makin hari, Skip makin tertarik kepada
ketegasan dan kejelasan al-Qur’an. Kini posisinya sudah terbalik. Skip
bukan mendakwahkan Kristen kepada Muhammad, tapi belajar al-Qur’an dan
al-Islam kepadanya.
Dan yang pindah perhatian ini bukan hanya
dirinya, tapi juga si pendeta Katolik. Makin sering sang pendeta
menemui Muhammad dan pergi bareng. Muhammad sering pergi ke Mesjid yang
ada di kota itu untuk shalat berjama’ah atau I’tikaf, kebetulan saat
itu bulan Ramadhan. Peter sering ikut. Tentu saja ini membuat Skip
penasaran. Suatu saat, ia bertanya kepada si pendeta:
“Sembahyang mereka bagaimana?” tanya Skip.
“Biasa saja. Mereka bediri khidmat.
Membungkuk, menempelkan dahi ke lantai seperti pendeta Katolik, duduk,
lalu menengok ke kiri dan kekanan. Setelah itu mereka duduk bersila,
membaca doa-doa dalam bahasa Arab. Suasananya sangat damai dan tentram,”
jawab si Pendeta.
***
Suatu senja, setelah berbincang bertiga,
Peter Jacobs dan Muhammad pamit untuk pergi beberapa jam. Setelah larut,
mereka belum kembali. Skip mulai khawatir.
Akhirnya Muhammad muncul juga. Di temani
seseorang berpeci putih dan bergamis. Dahi Skip mengernyit, menyidik
siapa orang itu, ternyata si pendeta.
Skip kaget bukan alang kepalang: “Peter! Kau jadi Muslim?” Skip setengah berteriak.
Peter menjawab: “Asyhadu al-laa ilaahi illallah. Wa asyhadu anna Muhammad ar-rasuulullah”
Skip terduduk. Tak tau persis apa yang
dirasakan. Ia ingin bertanya banyak kepada Peter, tapi dia sudah
tertidur di tempat duduknya.
Dalam perasaan dan pikiran tak menentu, Skip berjalan mondar-mandir, masuk ke kamar dan bergumam kepada istrinya: “Ini gimana ceritanya, kok pendeta Katolik masuk Islam..”
Dan komentar sang istri sangat
menghentakkan jantungnya: “Pa, aku ingin cerai. Setelah semua
pembicaraan ini, injil, qur’an, Islam, aku pikir kita harus berpisah.”
Skip terkejut bukan alang kepalang:
“Hey?! Ada apa ini? Aku hanya cerita kok pendeta masuk Islam. Bukan aku
yang masuk Islam. Tak mungkin itu! Tidak ada masalah dengan kita!”
sergah Skip.
“Kita jelas ada masalah,” jawab istrinya.
“Muhammad bilang bahwa perempuan Muslim tak bisa menikah dengan pria
Kristen. Aku mau masuk Islam.”
Skip terhenyak untuk kesekian kalinya.
Terdiam. Cukup lama. Tiba-tiba wajahnya berubah girang dan berkata:
“Dengar Ma, berita baiknya adalah, aku pun ingin masuk Islam!”
“Gimana Mama mau percaya? Hanya beberapa detik lalu Papa bilang tak mungkin masuk Islam,” kata istrinya.
***
Skip pun berjalan lunglai ke luar rumah, tak tau mau kemana. Akhirnya ia menemui Muhammad.
“Dengar kawan,” katanya. “Kali ini aku
tak akan bicara apa-apa. Aku hanya ingin mendengar. Ceritakanlah padaku
segala sesuatu tentang Islam, al-Qur’an, Nabi Muhammad..” pinta Skip.
Mereka pun berjalan berdua, cukup jauh,
‘hanya’ untuk mengisi suntuk. Sampai lewat pagi buta dan fajar muncul,
baru keduanya berpisah, karena Muhammad harus bershalat subuh.
Skip tak segera masuk rumah; berjalan
mondar-mandir dulu ke halaman depan dan belakang. Semua omongan Muhammad
masih tinggal di kepalanya, dan entah dari mana, ada semacam sikap
kepasrahan, keterbukaan, kejujuran, terhadap apa yang disampaikan teman
Mesirnya itu. Namun jauh lebih dari itu adalah, kepasrahan kepada
pencipta dan penguasa segala makhluk, rongga hatinya seolah terus
menganga menunggu tumpahan cahaya. Dan kini, cahaya itu mulai tampak
mendekat bersama fajar dan kilasan lembayung dini hari.
Ia menemukan sebuah papan di pinggir
rumah. Lalu papan itu ia hamparkan di tanah. Kemudian Skip menempelkan
dahinya di situ, meniru gerakan sujud orang Islam, mengarah ke kiblat.
Dalam kepenatan pikiran, ia merundukkan
nalar dan kalbunya dalam sujud itu. Mulutnya bergumam. Hanya satu
kalimat: “Ya Tuhan, bimbinglah aku.” Hanya satu kalimat itu.
***
Setelah beberapa lama ia menumpukan
dahinya – bagian jasad yang mewakili kejumawaan manusia – di tanah;
sejajar dengan lutut dan telapak kaki; ia pun bangun dan berdiri.
Seketika itu juga kehendak nuraninya menyeruak; keputusan yang datang
tiba-tiba.
Skip kemudian menemui Muhammad, memintanya bersaksi bahwa Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.
Muhammad membimbingnya dalam bahasa Arab: “Asyhadu an-laa ilaaha illallah. Wa asyhadu anna Muhammad ar-rasuulullah.”
Segera istrinya menyusul mengucapkan
syahadat. Tak sampai sepekan, ayahandanya juga masuk Islam. Skip
memaklumkan namanya sebagai Yusuf Estes.
Semua para pengkhabar injil itu kini telah jadi Muslim.
Catatan:
Tulisan saya di atas tidak mencakup aspek
lain yang sebetulnya penting dalam proses ketertarikan para pengkhabar
injil itu kepada Islam. Ke-tak-mencakup-an itu semata-mata karena
kepentingan penulisan saja, supaya lebih terfokus dan efisien.
Catatan ini saya khususkan untuk aspek yang tak sempat tertuliskan itu. Begini:
Memang, pusat kepenasaranan dan
ketertarikan para pengkhabar injil itu tertuju kepada kelugasan,
kesederhanaan dan kejelasan al-Qur’an. Tapi itu bukan satu-satunya daya
tarik. Aspek lainnya adalah: pribadi Muhammad si tamu Mesir itu.
Seperti diceritakan Yusuf Estes
[sebelumnya Skip Estes], Muhammad tak suka berdebat. Pengkhabaran Yusuf
Estes yang terus menerus dan ‘menantang’ kepadanya, hanya sesekali saja
dia tanggapi. Itu pun lebih banyak dalam bentuk pertanyaan.
Suatu saat, Yusuf dan Muhammad sedang
melayani para pembeli di toko alat musik Edward Joseph. Setiap
memberikan barang kepada pembeli, Muhammad selalu mengambil dari
tumpukkan barang di belakang pajangan, yang memang lebih baru dan bagus.
Yusuf menegur: “Kasih barang yang di tumpukkan depan. Jadi barang yang sudah agak lama cepat terjual.”
Muhammad menjawab: “Maaf kawan, kami selalu memberikan barang yang terbaik untuk pembeli.”
Selain itu, Muhammad tak pernah ngomelin pembeli
di belakang. Adalah umum di kalangan para penjual, bermuka manis dan
berkata ramah kepada pembeli, termasuk pembeli yang cerewet atau nyebelin. Begitu pembeli berlalu, si penjual ngomong kepada temannya: “Pembeli bodoh, sombong, belagu…”
Muhammad tak pernah. Dan ini membuat Yusuf terpesona.
Catatan ini penting untuk menjelaskan
bahwa keunggulan Islam sangat terbantu – bahkan dalam beberapa hal
ditentukan – oleh pribadi Muslim. Dakwah Islam tak akan efektif bila
pribadi para pendakwahnya tak menunjukkan kebersahajaan, kesederhanaan,
kerendah-hatian, seperti yang diajarkan Islam melalui nabi Muhammad SAW.
[Berlanjut]
Kepastoran Yusuf Estes sebelum memeluk
Islam menjadikannya sosok unik. Di satu sisi ia menguasai injil dan
berbagai persoalannya, di sisi lain pemahamannya terhadap al-Qur’an
berlangsung sangat cepat karena kitab itu menyediakan jawaban-jawaban
yang selama ini ia cari. Ia segera belajar bahasa Arab dan menguasainya
secara cepat pula.
Beberapa bulan setelah menjadi Muslim,
seorang rekan pendeta mengundangnya ke gereja setempat untuk menjelaskan
mengapa ia menjadi Muslim. Yusuf tampil di mimbar dengan penuturan yang
sangat jelas, mudah, mengesankan. Penjelasannya tentang injil dan
al-Qur’an sangat logis dan memuaskan akal.
Setelah turun mimbar, seorang anggota
jama’ah perempuan menghampirinya; bertanya padanya bagaimana cara masuk
Islam. Yusuf langsung membimbingnya seketika itu juga; di dalam gereja;
perempuan itu mengucapkan dua kalimah syahadat.
“Taukah anda siapa perempuan muda itu?”
kata Yusuf suatu saat. “Dia adalah anak pendeta yang mengudang saya.
Anda bisa bayangkan perasaan sang ayah. Dia mengundang saya, maksudnya
untuk bertobat dan kembali kepada Kristen, malah anaknya ikut saya.”
“Itu pasti karena kehendak Allah. Tapi
juga karena saya tidak menyerang, menghakimi Kristen dan injil. Saya
hanya menjelaskan,” tambahnya.
Tak lama setelah kejadian itu ia diundang
lagi oleh pendeta yang sama. Ke gereja yang sama. Yusuf bercerita lagi
tentang injil dan al-Qur’an, Trinitas, Tauhid dan apa itu Islam. Setelah
turun mimbar, kali ini bukan perempuan muda yang menghampirinya, tapi
orang sebayanya. Siapa? Bapak si perempuan itu. Dia pun menyatakan diri
ingin menjadi Muslim.
Singkat cerita, ia menjadi International
Speaker of Islam; mendirikan Islamic Missionary Work. Ia menjadi salah
satu tokoh dalam United Nations World Peace Conference for Religious Leaders [Konferensi Perdamaian Dunia untuk Para Pemimpin Agama] di Washington, tahun 2000.
Tahun ini [2012], ia pun menjadi delegasi Dubai International Peace Convention,
di mana ia jadi pusat perhatian para delegasi lain karena kisah
pribadinya yang menarik, penguasaannya terhadap materi, dan cara
penyampaiannya yang khas.
Stasiun radio, teve-nya tetap berjalan, tapi kini isinya tentang Islam. Nama acaranya, ‘The Deen Show’, kian hari kian popular.
Yusuf punya ratusan situs dakwah. Di sini
hanya disebut tiga saja: Islamtomorrow.com, Islamyesterday.com,
Islamalways.com, yang menjadi sumber informasi tentang Islam bagi
mereka yang ingin tau tentang Islam. Pengaruhnya di kalangan atas sangat
kentara, sehingga mereka yang mengikut jejaknya jadi muallaf adalah
para pesohor: bintang musik rok, artis film, ilmuwan dan politisi ulung
Amerika.
Terakhir, ia mendirikan satu-satunya saluran TV Islam Amerika bernama Guide US TV.
Pilihan nama itu benar-benar cerdas, karena artinya bisa dua:
‘bimbinglah kami’ dan ‘bimbinglah Amerika Serikat’. Dua-duanya tak
salah.
Hampir setiap pengajian Yusuf Estes
ditutup dengan pengucapan syahadat beberapa jama’ah non-Mulsim yang
memutuskan memeluk Islam. Makin hari para pengucap syahadat itu makin
banyak saja. “Tadinya puluhan orang Amerika masuk Islam setiap bulan.
Kamudian ratusan. Sekarang ribuan,” katanya.
Jika hari ini Islam di Amerika Serikat
dinyatakan sebagai agama yang paling cepat berkembang, persis di tengah
proses itu adalah Yusuf Estes.
By Kafil Yamin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar