Minggu, 27 Desember 2009

Pulang Kampung Lagi (1)

Bukit Tinggi 17 - 21 Desember 2009

(1)

Ada lagi kesempatan pulang kampung. 'Keharusan' karena ada ipar mau mantu, menikahkan puterinya. Dan karena ada rapat di Ma'had Tahfizhul Quran Syekh Ahmad Khatib di kampung. Aku dan istriku berangkat hari Kamis 17 Desember dengan pesawat Batavia. Sampai di Minangkabau International Airport jam 12.30 siang. Sangat on time. Langsung menyewa taxi untuk menuju Bukit Tinggi. Di bawah guyuran hujan rinai-rinai.

Sampai di Bukit Tinggi, di mess PLN di Jalan Luruih sekitar jam tiga sore lebih. Sengaja tidak mampir di jalan untuk makan siang, karena hari hujan dan karena aku cinan, ingin makan di restoran Selamat di Kampung Cino. Tapi hari hujan. Dan pilek istriku sedang menjadi-jadi. Aku lalu meminjam payung dan berjalan kaki ke Selamat yang hanya sekitar dua ratus langkah dari mess PLN. Dan kamipun makan nasi ramas Selamat.

Di malam hari yang lambok karena hujan tidak kunjung berhenti, kami tidak kemana-mana. Adik ipar yang datang mengunjungi kami.

Hari Jumat subuh aku terbangun saat azan pertama. Di luar hujan sudah berhenti. Begitu azan kedua (azan subuh yang sebenarnya berkumandang) aku keluar sendirian. Istri masih flu berat. Aku berjalan kaki melintasi jalan, mendaki jenjang dan menuju Masjid Raya. Ini hari Jumat. Dan benar, di subuh hari Jumat ini imam membaca surat Sajadah di rakaat pertama. Berbeda dengan kesempatan terdahulu yang mungkin sekitar dua tahun yang lalu, ketika aku juga shalat subuh di masjid ini, maka pagi ini jamaahnya lebih dari dua puluhan orang. Artinya cukup banyak. Harus diingat bahwa lokasi masjid tidaklah di persekitaran rumah tinggal.

Hari mulai agak cerah di sebelah pagi. Tadinya kami mengira bahwa ipar yang dari Sawahlunto akan datang pagi ini. Soalnya nanti sore kami akan ke Limbanang, ke tempat ipar yang akan menikahkan puterinya itu. Jam sebelas seperempat, ipar yang di Sawahlunto memberi tahu bahwa mereka (suami istri) akan datang sekitar waktu ashar. Kok penting betul ini ditulis? Karena tadinya kami menunggu mereka untuk pergi makan nasi Kapau uni Lis. Jadi, kami pergi berdua saja. Melintasi jalan, mendaki jenjang. Padahal sudah hampir jam setengah dua belas, waktu untuk pergi ke masjid untuk shalat Jumat. Kami sempatkan juga pergi mengunjungi uni Lis. Nasi Kapau jo gulai tunjang. Melepas taragak. Jam dua belas kurang lima ketika aku memasuki Masjid Raya. Tentu saja hanya kebagian saf di belakang.

Sore harinya, kami berempat berangkat menuju Payakumbuh untuk terus ke Limbanang. Di perjalanan, menjelang Baso, terlepas ucapan pambayan (suami dari ipar) bahwa mereka sudah mencicipi minuman kawa di Tabek Patah. Dua bulan yang lalu, kami berempat lewat di Tabek Patah dalam perjalanan ke Sawahlunto dan berbincang tentang minum kawa di galuak. Sayang waktu itu lepaunya sudah tutup (ketika kami melintasi jalan waktu itu sudah jam sembilan malam). Dan akhirnya, sore ini, kami berbelok ke Tabek Patah. Alek di Limbanang itu nanti sesudah maghrib dan kami masih punya waktu.

Kami minum kawa di lepau di pinggir jalan. Minum air rebusan daun kopi dari galuak (tempurung kelapa). Daun kawa yang disangai mengeringkannya. Dengan rasa kalek-kalek tanggung. Memang begini rasanya dulu..... lebih lima puluh tahun yang lalu. Bedanya sedikit, dibandingkan jaman entah berantah dulu itu, kali ini pemanisnya bukanlah gula enau tetapi gula biasa. Mungkin maksudnya untuk lebih praktis saja. Kami hirup kawa hangat ditemani goreng pisang raja.

***

Sabtu, 12 Desember 2009

Penyimpangan Dalam Islam

Taklim Ahad Subuh

Di masjid kami, alhamdulillah setiap hari Ahad ba'da subuh selalu ada taklim. Kami punya dua orang ustadz yang istiqamah selalu hadir tanpa dijemput untuk memberikan taushiyah di Ahad subuh. Pengajian kami biasanya menyangkut hal-hal sehari-hari dalam urusan agama.

Pagi ini kami mendengar ceramah tentang bulan-bulan haram. Ada empat bulan yang diistimewakan dalam Islam, yakni bulan-bulan Rajab, Zulqaidah, Zulhijjah dan Muharram. Bulan-bulan itu disebut bulan-bulan haram Artinya bulan yang punya keistimewaan. Bulan Rajab, misalnya adalah bulan di isra' mi'raj kannya Rasulullah SAW. Bulan Zulqaidah, bulan diselamatkannya suatu kaum dari gangguan Ya'juj dan Ma'juj oleh Iskandar Zulqarnain. Bulan Zulhijjah, bulan disyariatkannya ibadah haji sejak dari jaman Nabi Allah Ibrahim. Dan bulan Muharram adalah bulan diselamatkannya Nabi Musa dari kejaran Fir'aun, Nabi Yunus dari perut ikan paus. Diselamatkannya Nabi Yusuf dari sumur tempat beliau dibuang saudara-saudaranya. Semuanya terjadi pada tanggal 10 Muharram yang biasa dikenal dengan hari 'Asyura. Disunahkan untuk berpuasa di hari 'Asyura.

Anehnya, di kalangan sebagian umat Muslim di negara kita perayaan Muharram itu dilakukan pada tanggal 1 Muharram yang disebut tanggal 1 Suro. Banyak ritual-ritual yang tidak ada sangkut pautnya dengan aqidah Islam dikerjakan orang pada hari itu. Seperti memandikan pusaka, melarung sajian ke laut, berpuasa tanpa sahur selama dua puluh empat jam. Semua perbuatan ini tidak berhubungan dan tidak berasal dari ajaran Islam. Bahkan banyak dari ritual itu yang nyata sekali kesyirikannya. Seperti memandikan keris, mengambil air bekas cuciannya dan mengaggapnya bertuah, mengambil kotoran kerbau yang dikeramatkan, melemparkan sajian ke laut, menanam kepala kerbau.

Timbul pertanyaan dari kami sebagai jamaah. Tidak adakah upaya MUI untuk menjernihkan kemusyrikan itu? Menurut ustadz, ada. Hanya saja, fatwa MUI itu tidak lebih dari sebatas himbauan. Fatwa MUI tidak pernah menjadi kekuatan hukum atau undang-undang di negeri ini. Jadi pada akhirnya, terserah kepada ummat, seandainya mau tetap memelihara kesaktian tradisi nenek moyang, biarlah masing-masing mempertanggungjawabkannya nanti di hadapan Allah. MUI sudah mengingatkan, tapi sayangnya, Umara atau pemimpin alias penguasa tidak merasa berkepentingan dengan apa-apa yang difatwakan MUI.

*****

Kamis, 10 Desember 2009

Menggelas

Manggaleh = Menggelas

Sudah sejak beberapa bulan ini istriku mencoba jadi pedagang. Jadi penggelas, kata urang awak jadi rang panggaleh. Berawal dari usul seorang teman saat aku persis menjelang pensiun untuk menginvestasikan uang di sebuah ruangan toko di Ambassador Plaza. Sebuah ruangan yang subhanallah, luasnya hanya 7m2. Harganya hampir setengah ton. Teman yang mengusul sudah lebih dulu memiliki lahan serupa dan katanya cukup menguntungkan. Akupun, kala itu tergiur untuk mengadu nasib, maksudnya ikut berinvestasi. Alhamdulillah pula, waktu itu langsung mendapat penyewa, karena memang niat awal untuk disewakan. Rasa-rasanya aku atau istri tidaklah berbakat untuk berdagang.

Kedai petak mungil itupun disewalah. 35 jt pertahun..... Hemmmm... memang lumayan juga sepertinya.

Akan tetapi ternyata, si penyewa itu seorang beginner. Bahkan menyambil kerja kantoran. Dan toko itu hanya dibukanya menjelang malam. Entah bagaimana peruntungannya yang sesungguhnya, yang jelas sesudah satu tahun selesai dia mundur. Tidak mau lagi memperpanjang kontrak. Kebetulan berikutnya, itu terjadi di paruh kedua 2008, tahun krisis yang menghebohkan itu. Perdagangan kononnya lesu. Termasuk tentu saja di Indonesia. Termasuk di Jakarta. Akibatnya, tidak kunjung dapat penyewa berikutnya. Tinggallah toko mungil itu menganggur. Sebulan, dua bulan, tiga bulan dan terus berlanjut. Repotnya, pemilik dikenakan service charge sebesar 500 ribu lebih setiap bulan. Tentu saja cukup merepotkan membayar sebanyak itu ketika sudah jadi pensiunan.

Mulailah timbul angan-angan sang istri untuk mencoba peruntungan. Singkat cerita, toko itu didandani kembali dengan rak dan etalase. Sang madame mau berjualan pakaian wanita. Bismillah...

Kendala pertama, seperti sudah diprediksi sejak awal adalah tenaga. Rasanya akan sangat berat untuk datang ke toko ini setiap hari sejak jam sembilan pagi sampai jam delapan malam. Perlu ada yang membantu. Perlu karyawan. Tentu tidak yang asal-asalan karena tentu diperlukan yang amanah. Kan mau berurusan dengan uang. Begitulah akhirnya. Karyawan pertama adalah pembantu rumah yang katanya tamatan SMA. Kan sayang tamat SMA bekerja jadi pembantu. Diajak kerja di toko, dengan janji penghasilan lebih. Ternyata dia tidak betah. Entah kenapa, sedikitpun dia tidak menunjukkan keseriusannya untuk jadi rang panggaleh. Ujung-ujungnya, dia minggat dari rumah. Suatu pagi ketika kami kembali dari shalat subuh, ternyata dia sudah tidak ada. Sudah pergi tanpa pesan.

Terpaksalah aku ikut menemani istri, duduk di tempat yang sempit ini. Ceritanya menjelang dapat orang baru lagi. Orang baru itu dapat. Tapi, lagi-lagi hanya untuk jangka waktu singkat. Katanya dia dapat tawaran pekerjaan yang lebih bagus. Sampai pegawai keempat, kelima. Sami mawon. Begitu lagi, begitu lagi. Yang terakhir tinggal di rumah, dikasih uang transport dan disuruh bawa bekal dari rumah. Kayak-kayaknya sih dia tidaklah terlalu serius. Berhari-hari laporannya zero penjualan. Dan eloknya pula, dia juga mengundurkan diri setelah bekerja hampir tiga bulan. Katanya pindah ke tempat dia di terima bekerja di pabrik.

Aku kasihan juga melihat istriku berusaha tegar. Aku sudah menyuruh dia menaikkan bendera putih. Cari penyewa lagi saja. Sepertinya dia setuju. Tapi tidak mudah dan tidak serta merta pula untuk mendapatkan penyewa.

Hari ini, hari Kamis aku menemaninya di sini sejak siang tadi. Tadinya kami mau pulang jam lima biar aku dapat shalat maghrib di masjid kami. Ada pembeli saat jam lima itu. Ya, sudahlah, aku setuju sampai maghrib. Aku akan shalat maghrib di mushala. Habis maghrib ada lagi pembeli. Dan kagok untuk pulang jam setengah tujuh dari tempat ini. Aku tidak akan dapat shalat berjamaah isya di masjid karena pasti belum sampai di rumah. Akhirnya aku menunggu isya disini. Sesudah isya baru kami akan pulang.

Jual beli disini masih do, re, mi. Ini yang agak melemahkan semangat. Memang ada saja hari-hari yang benar-benar nol, kata istriku. Begitu keadaannya. Jadi rang panggaleh ternyata harus benar-benar sabar....

*****

Rabu, 09 Desember 2009

Timing belt

Sebuah pelajaran

Istriku menelpon dari jalan, baru kira-kira dua puluh lima menit sejak dia berangkat dari rumah. Mobil tiba-tiba mogok, katanya. Padahal sedang berkecepatan tinggi di jalan tol Cikampek menuju Jakarta. Lebih kurang di sekitar Univ. Borobudur. Tapi untunglah (alhamdulillah) dia berhasil meminggirkan mobil itu dengan selamat, dengan sisa tenaga mobil itu sendiri, kendati mesin sudah mati.

Tetap disana dan jangan mau melayani tukang derek, aku akan segera ke sana, kataku. Dugaanku yang ngadat adalah aki mobil. Aku pernah mengalami hal yang sama dua setengah tahun yang lalu, ketika mobil itu tiba-tiba 'mati pucuk'. Beruntung waktu itu aku hanya seratus meter dari sebuah toko yang menjual aki di Pondok Kelapa. Dan sekarang, sesudah dua setengah tahun, tentulah aki itu lagi yang bermasalah, begitu firasatku. Dan dengan yakin (akhirnya terbukti sok tahu) aku ditemani si Sulung disertai dua serdadu kecilnya, menuju ke toko aki itu. Aku ajak seorang montirnya ikut ke tempat istriku menunggu di pinggir jalan tol.

Si montir bekerja dengan sangat sigap. Tanpa mengetes apa-apa lagi dengan mesin mobil. Sekitar sepuluh menit kemudian aki baru sudah terpasang dan aku dimintanya menstart mesin. Eh...... ternyata mesinnya tetap saja ngambeg. Barulah aku terpikir untuk mentest aki yang lama, yang...... subhanallah... ternyata masih OK punya. Tapi mau bagaimana lagi? Mana mungkin pembelian aki baru yang sudah terpasang itu akan dibatalkan. Dia mencoba mengutak-atik ala kadarnya, meski dia sudah mengaku duluan bahwa dia bukan montir mesin. Dugaannya, hanya dugaan saja, ada yang tidak beres dengan pompa bensin. Aku terpaksa diam saja.

Aku menghubungi adikku, yang sedikit lebih pintar dariku tentang mesin mobil yang tinggal di Bekasi Timur. Dia bilang, dia akan segera datang. Aku suruh istri, si Sulung dan staffnya untuk segera pulang saja. Biar aku yang menunggu adikku itu. Merekapun berangkat.

Dalam penantian, dalam cuaca cukup panas sekitar jam setengah sebelas siang, aku...... mengaji dengan Quran kecilku di mobil itu. Sebuah mobil polisi (yang ada tulisan highway patrol , seolah-olah berasal dari negara antah berantah) berjalan pelan-pelan disampingku. Aku cuek saja. Mungkin karena mereka lihat ada orang dalam mobil, mobil itu tidak berhenti dan terus berlalu. Sebuah mobil derek datang berikutnya, dan seseorang turun menghampiriku. Dia bertanya apakah ada yang perlu dibantu, meski dengan bahasa yang agak kasar. Aku jawab tidak ada, karena aku sedang menunggu. Dia bertanya sedang menunggu siapa. Sekalian aku ingin mempermainkannya karena gaya bahasanya yang agak kurang elok itu, bahwa aku sedang menunggu mobil derek langgananku. Dia tambah nafsu. Pakai mobil kita saja. Terserah bapak mau bayar berapa, katanya. Aku bilang tidak, karena aku juga sedang menunggu adikku. Sudahlah, biar kami saja yang menarik mobil ini, mau ditarik kemana. Bayarnya terserah bapak, begitu lagi katanya. Aku sudah banyak mendengar cerita seperti ini, yang seandainya aku ikuti sangat mungkin akan berakhir dengan persoalan lain sesudahnya. Jadi aku keukeuh, tidak mau.

Untunglah dia cepat berlalu.

Masih berpuluh menit sebelum akhirnya adikku dan anaknya datang. Mesin mobil diutak-utiknya sebentar. Kebetulan ada pula petugas DLLAJR yang berhenti pula. Si petugas DLLAJR ini yang pertama memberikan diagnosa bahwa...... timing belt putus.

Ya, sudah. Melalui bantuan bapak DLLAJR (yang ternyata urang awak dari Bonjo), sebuah mobil derek jalan toll dipanggil. Sedikit berunding akhirnya disepakati, biaya dua ratus ribu untuk menarik Kuda yang lumpuh itu ke bengkel langgananku di Jatibening. Artinya, mobil derek itu harus keluar dulu di Cawang dan masuk kembali ke toll Cikampek, ke arah Jatibening. Alhamdulillah, akhirnya sang Kuda sampai di bengkel. Segera didiagnosa. Betul sekali. Timing beltnya putus.

Padahal, aku sudah memprogramkan akan menggantinya karena setelah mengganti pertama kali ketika kilometernya 55,000 sementara saat ini angka itu berada pada 99,500 sekian. Rencananya sih, begitu km 100,000 terlewati aku akan mengganti timing belt itu karena begitu saran buku petunjuk, pergantiannya dilakukan sesudah masa pakai 50,000 km. Si A Song pemilik bengkel menjelaskan begini. 'Pak, 50,000 km itu dalam kondisi mobil melaju di jalan raya. Tapi di Jakarta kan tidak seperti itu. Seandainya bapak, terperangkap macet setengah jam saja sehari, dan setahun dihitung 250 hari sibuk saja, bisa bapak bayangkan, bahwa timing belt itu sudah bekerja lembur sangat banyak sebenarnya.

Aku harus mengakui kebenaran teori si A Song......

Dan biaya Kuda yang seharusnya sekitar sejuta untuk mengganti timing belt berikut ongkos pasang telah membengkak menjadi empat kali lipat. Ke enam belas buah klep piston harus diganti. Ditambah pula belanja aki yang ternyata keliru. Sebuah pelajaran yang cukup mahal.

*****

Kamis, 03 Desember 2009

Sirsak

Durian Belanda

Ada yang menyebut namanya durian belanda, ada yang menyebut sirsak. Bahasa Inggerisnya soursop. Konon buah sirsak merupakan sebuah karunia Allah yang mempunyai kemampuan menyembuhkan berbagai penyakit. Di antaranya untuk meredakan asam urat. Ini sangat penting bagiku karena aku seorang penderita asam urat.

Pernah dulu, seorang teman memberiku artikel tentang khasiat sirsak untuk meredakan asam urat. Aku minta istriku agar sering-sering membeli buah ini dan membuatkan sari buah atau juice nya. Untuk beberapa hari, istriku rajin membuatkan jus sirsak. Tapi akhirnya berhenti sendiri. Mula-mula karena sirsak tidak selalu ada dijual di pasar. Lama-lama lupa dan akhirnya jadi malas karena menyiapkan jus sirsak memang agak sedikit ribet karena harus menyisir daging buah dan memisahkannya dari biji-bijinya.

Baru-baru ini aku kembali tertarik dengan khasiat sirsak yang ramai lagi dibicarakan teman-teman. Bahkan buah sirsak katanya sangat berkhasiat untuk melawan kanker. Artinya buah ini memang punya keistimewaan. Aku kembali tertarik untuk menikmatinya. Sayangnya waktu itu (beberapa minggu yang lalu), buah itu agak susah didapatkan. Untunglah sekarang sudah kembali banyak di pasar. Tidak usah repot-repot dijus. Langsung saja dimakan mentah, ternyata enak dan segar. Khasiatnya? Entahlah. Aku baru memulainya sekitar sepuluh hari terakhir ini.



*****

Selasa, 01 Desember 2009

Cucu

Cucu-cucuku

Nama mereka Muhammad Rafi Aulia dan Muhammad Rasyid Hakim. Nama pemberian bunda mereka. Bunda mereka itu adalah si Sulung. Sulung dari tiga bersaudara yang ketiganya wanita. Aku memang tidak punya anak laki-laki. Apakah dulu tidak kepingin punya anak laki-laki? Tentu saja kepingin. Bahkan aku sudah menyiapkan nama untuk (seandainya lahir) anak laki-laki. Muhammad Faisal. Tapi tidak ada anak laki-laki

Rafi dan Rasyid adalah cucu pertamaku. Mereka kembar. Tidak punya anak laki-laki, alhamdulillah cucu pertama dapat langsung dua laki-laki. Saat ini umur mereka tiga setengah tahun. Sangat aktif dan berhenti bergeraknya mungkin hanya ketika tidur. Bergerak, berlari, memanjat.... pokoknya apa saja. Waktu berumur dua tahun dibelikan magic car. Mobil-mobilan yang bisa mereka kendarai sambil mengayuhnya dengan kaki. Magic car itu mempunyai kemudi. Dalam waktu singkat mereka menjadi ahli mengemudikan mainan itu dan rumah jadi arena balap. Inilah mainan yang sangat lama jadi favorit mereka.

Aktif bergerak tentu ada resiko jatuh. Awal-awalnya dulu, kalau ada yang terjatuh dan sebelum menangis aku menyemangati mereka dengan mengatakan, pemain sepak bola jatuh, ayo cepat berdiri lagi. Mereka tidak jadi menangis meski sempat meringis kecil dan lalu bangkit kembali. Meskipun demikian, Rafi pernah patah gigi dua kali. Gigi yang sama. Sehingga gigi itu jadi tidak beraturan, mirip-mirip seperti diukir. Kami menyebutnya 'gigi barendo'.

Sampai menjelang umur dua tahun, omongan mereka masih belum jelas. Sangat kontras dengan bundanya yang dulu umur satu tahun sudah banyak omong. Tapi sesudah itu..... wah..... pesat sekali kemajuannya. Saat berumur dua tahun itu kami bawa berjalan-jalan ke kampung. Sebuah kenangan yang terpateri di otaknya dan selalu diingatnya sampai sekarang. Rafi ingat ketika dia menggigil kedinginan di pesawat. Mereka ingat gunung Marapi dan Singgalang, danau Singkarak dan Maninjau, jam gadang.

Keduanya mempunyai daya ingat yang baik. Kami mengajarkan mereka memanggil inyiak dan nenek untuk saudara-saudara kami (besan orang Jawa, dan di kalangan besan dia memanggil kakeknya yangkung dan yangti). Mereka mengingat dan mengenali yang mana inyiak apa dengan sangat baik.

Sekarang, semakin hari semakin banyak omong dan mengerti dengan apa yang dikatakannya. Satu kali sang Bunda menyebut sebuah mobil tua di jalan dengan mengatakan mobil itu 'klasik'. Sesudah itu Rasyid menggunakan kata-kata klasik untuk mobil tua yang lain. Mobil adalah kegemaran Rasyid yang paling utama. Dia mengenali (dengan sungguh-sungguh) merek-merek mobil. Avanza, Xenia, Innova, Grand Livina, Mitsubishi Kuda, Mazda, Honda dan entah apa lagi. Jarang mereka mempunyai ketertarikan yang sama untuk sesuatu hal. Tapi untuk Mr. Bean, tokoh dagelanitu, keduanya sama-sama tertarik. Sementara ini Mr. Bean adalah tokoh favorit mereka.

Rafi / Rasyid sudah masuk sekolah (play group) sejak beberapa bulan yang lalu. Sekolah itu di kompleks Masjid Al Husna dekat rumah. Mereka sangat menikmati sekolah itu. Sekolah tiga kali seminggu, Selasa, Rabu dan Jumat. Pagi ini mereka sekolah.

Cucu menjadi hiburan sangat-sangat berharga. Saat ini cucu ke tiga (dari si Tengah) sedang 'diperjalanan'. Mudah-mudahan semua berjalan dengan sebaik-baiknya nanti. Dan akan bertambah cucu.

*****

Hujan

Musim hujan telah tiba.

Sekarang setiap hari hujan. Disertai guruh petir pula. Bahkan kadang-kadang disertai angin ribut. Pernah pula diberitakan ada hujan es. Dan Jakarta punya langganan di saat musim penghujan. Banjir. Banjir yang merendam apa saja.

Musim hujan adalah musim prihatin bagi yang tinggal dekat sungai. Dekat kali, kata orang di sini. Air berwarna kotor coklat menyerbu masuk rumah merendam apa saja yang dapat direndamnya. Kalau sudah begitu tidak ada lagi yang dapat dilakukan penghuni rumah selain menghindar menyelamatkan diri.

Usaha pemerintah daerah mengatasi banjir ada, meski tidak berpengaruh banyak. Banjir masih tetap saja akrab. Karena urusan penyebab banjir itu beraneka rupa. Sejak dari semakin banyak permukaan tanah (untuk meresapkan air) yang ditutupi bangunan, perbukitan di selatan Jakarta yang juga mengalami hal serupa (dipenuhi bungalow dan villa), kesadaran masyarakat yang kurang dalam mengelola sampah (mereka cenderung menganggap kali atau sungai sebagai tong sampah) dan buruknya sistim pengaliran air (drainase).

Akibatnya ya itu tadi. Setiap musim penghujan harus siap berbanjir-banjir. Berkendaraan di jalan-jalan di tengah kota harus bersiap-siap bermacet-macet karena jalan digenangi air. Banjir di tengah Jakarta tidak mesti dikarenakan hujan lokal. Banjir bisa pula berupa kiriman. Biarpun di Jakarta sedang tidak hujan, tapi Bogor dan Depok diguyur hujan lebat, kedua kota itu selalu bermurah hati mengirimi Jakarta dengan limpahan air.

Diberi hujan kebanjiran. Didera panas megap-megap.....

*****