Senin, 17 November 2014

Wisata Ranah .... (lanjutan)

Wisata Ranah .... (lanjutan)  

Jam 4 subuh aku terbangun, langsung ke kamar mandi dan berwuduk. Lalu kubangunkan istri untuk bersiap-siap pula. Aku memperkirakan waktu subuh kurang dari jam setengah lima. Jam 4.20 pintu kamarku diketuk. B bertiga rupanya sudah siap untuk berangkat. Kami memang telah berniat untuk pergi shalat subuh ke mesjid subuh ini. Untuk sampai di mesjid Raya di Pasa Ateh (Pasar Atas) hanya perlu waktu kurang dari 5 menit. Jam setengah lima kurang kami sudah sampai di sana. Mesjid itu terang benderang tapi tidak ada satu orangpun di dalam. Jadi kami adalah jamaah pertama yang hadir di subuh itu. Ternyata azan subuh baru dikumandangkan jam 4.40. Bersahut-sahutan antara beberapa mesjid berdekatan.   

Bacaan imam shalat subuh itu sangat indah dan tartil. Sehabis zikir dan doa sesudah shalat ada ta'lim yang disampaikan ustadz yang lain. Kami mendengar ta'lim itu sampai selesai. Sudah mulai terang waktu kami keluar dari mesjid. Sekarang kami menuju ke Taluak - Jambu Ayia, di jalan arah ke Padang untuk sarapan di sebuah warung. Keistimewaan warung itu adalah hidangan sup panas untuk sarapan. Sebuah makan pagi yang lumayan berat. Setelah sarapan, kami kembali ke hotel.  

Jam delapan kami mulai kunjungan wisata untuk hari itu. Pertama sekali kami mampir lagi ke Pesantren di Koto Tuo untuk melihat keadaannya di waktu siang. Cuaca cukup cerah. Gunung Marapi dan Singgalang terlihat utuh di sebelah selatan. Indah dan gagah sekali. Murid-murid sedang belajar di kelas masing-masing. Aku menyempatkan berbincang-bincang sebentar dengan ustadz A, kepala sekolah.

Seterusnya kami lanjutkan perjalanan menuju Lembah Harau. Kami berkendaraan dengan santai. Tidak banyak kendaraan yang lalu lalang di pagi itu. Jam setengah sepuluh kami sampai di Harau, di dekat air terjun utama. Hanya kami pengunjung pagi ini. Kami beristirahat di sebuah warung di depan air terjun, sambil memandang air yang jatuh cukup deras. 



Kami tidak lama di Harau. Tujuan berikutnya adalah Pagaruyung. Dari Harau kami susuri kembali jalan ke Payakumbuh, terus arah ke Bukit Tinggi. Di Piladang, kami berbelok ke kiri menuju Batusangkar, dan akhirnya terus ke Istano Basa Pagaruyung. Tempat ini pernah kami kunjungi (aku dan B dalam rombongan karyawan Total) di tahun 2003. Istano yang lama sudah terbakar tahun 2007. Yang kami kunjungi kali ini adalah bangunan baru pengganti yang terbakar.  

Azan zuhur berkumandang ketika kami masih di rumah gadang Istano Basa ini. Kami segera menuju mesjid yang terletak beberapa puluh meter dari sini. Sesudah shalat kami tinggalkan Pagaruyung. Kali ini menuju Padangpanjang dan kampung Ombilin di tepi danau Singkarak.  

Jalan mulus dan berliku menuju Padangpanjang. Tidak banyak kendaraan sehingga kami dapat melaju dengan santai. Melewati kampung Ombilin beberapa kilometer, kami berhenti di pinggir danau. Memandang keelokan danau Singkarak dengan airnya yang lebih bersih dibandingkan air danau Maninjau karena di sini tidak ada keramba tempat pemeliharaan ikan. 

Setelah berhenti di pinggir danau itu lebih kurang 20 menit kami berputar arah, kembali menuju Padangpanjang. Kunjungan ke kota ini khusus untuk singgah ke kedai sate mak Syukur. Saat itu sudah hampir jam tiga siang. Sudah lumayan lapar.

Dari kedai sate kami lanjutkan perjalanan pulang ke Bukit Tinggi.

****                          

Minggu, 16 November 2014

Wisata Ranah Dan Mengunjungi Ma'had Syekh Ahmad Khatib

Wisata Ranah Dan Mengunjungi Ma'had Syekh Ahmad Khatib

Sudah lama seorang teman (yang adalah donatur pembangunan Ma'had Syekh Ahmad Khatib) ingin berkunjung ke sekolah itu di Koto Tuo Ampek Angkek Bukit Tinggi. Namanya B, seorang rekan sekerja di Balikpapan dan Jakarta, sejak hampir 30 tahun yang lalu. Dia bukan orang Minang tapi sudah pernah berkunjung ke Bukit Tinggi sebelumnya. Alhamdulillah, hari Senin tanggal 10 November yang lalu kunjungan itu terlaksana. Kami berangkat dari bandara Soeta Jakarta  dengan pesawat Citilink yang take off jam 7.30 pagi. 4 orang alias dua pasang. Jam sembilan lewat beberapa menit kami sudah mendarat di bandara Minangkabau. Rupanya putera sulung mereka, yang bekerja di Balikpapan juga menyusul, langsung dari Balikpapan. Pesawatnya mendarat setengah jam setelah kedatangan kami. 

Sebuah mobil Avanza sudah aku pesan dari beberapa hari sebelumnya dan sudah siap di bandara. Sudah lewat jam sepuluh ketika kami meninggalkan bandara. Setelah mampir mengisi bensin kami berhenti lagi di rumah makan Lamun Ombak beberapa kilometer dari bandara arah ke Bukit Tinggi. 

Setelah itu kami lanjutkan perjalanan. Di Lubuk Alung kami berbelok ke kiri arah ke Pariaman. Sampai di Pariaman pas saat berkumandang azan zuhur. Kami berhenti untuk shalat di sebuah mesjid, ikut berjamaah dan setelahnya menjamak shalat asar. Lalu meneruskan lagi perjalanan melalui Tiku, Lubuk Basung dan Maninjau. Di Maninjau kami berhenti sebentar untuk minum teh di sebuah restoran di tepi danau. Tercium lamat-lamat bau anyir. Beberapa pekan yang lalu ada berita bahwa berton-ton ikan di keramba mati di danau ini.

Kami daki kelok 44 dari Maninjau. Cuaca agak mendung dan hujan rintik-rintik. Kami lintasi kelok demi kelok itu. Terlihat kawanan monyet di pinggir jalan di kelok ke 13. Di bagian atas terlihat awan dan kabut. Meskipun udara berkabut dan berawan kami singgah juga ke Puncak Lawang. Ternyata pemandangan benar-benar ditutupi awan putih dan pandangan tidak lebih dari sepuluh meter. 


Dari Puncak Lawang kami terus melewati Lawang, Matur dan terus ke Bukit Tinggi di bawah siraman hujan rintik-rintik. Jam setengah lima kami sampai di Bukit Tinggi. Sudah agak gelap karena hujan. Aku salah orientasi ketika mencari hotel Graha Muslim tempat kami akan menginap yang tadinya aku pikir di jalan arah ke Payakumbuh, yang ternyata terletak di jalan Lambau. Yang ternyata di tanah perumahan tempat tinggal kami (orang tuaku) tahun 1958. Aku menyadarinya karena hotel itu berhadap-hadapan dengan Kantor Pertanian. 

Setelah bertanya dan diberitahu dimana lokasi hotel Graha Muslim, kami yang telah terlanjur mengarah ke Payakumbuh, meneruskan saja perjalanan ke kampungku di Koto Tuo Balai Gurah, tempat berdirinya Ma'had Syekh Ahmad Khatib. Kami sampai di sekolah itu menjelang maghrib. Hari masih saja hujan. 

Setelah shalat maghrib kami berbincang-bincang dengan ustad A, pimpinan sekolah. Pak B dan istrinya cukup terkesan melihat keadaan Ma'had dan santri-santrinya. Kami menyaksikan santri-santri itu makan 'berjamaah', berkelompok-kelompok 6-7 orang menghadapi piring besar. Mereka terlihat  ceria.  

Jam 7 kami tinggalkan pondok pesantren itu untuk kembali ke Bukit Tinggi, ke hotel Graha Muslim tempat kami menginap. Sebuah hotel sederhana dan murah tapi cukup bersih. Ada air panas di kamar mandinya, sesuatu yang sangat diperlukan di Bukit Tinggi yang  dingin apalagi di bawah guyuran hujan. 

Jam 8 kami keluar ke rumah makan Simpang Raya dekat tanah lapang Kantin untuk makan malam. Tidak lupa mencicipi ampiang badadiah yang rupanya disukai oleh B. 


(akan disambung)

****                                    

Jumat, 07 November 2014

Siapa Yang Harus Lebih Ditaati Istri, Suami Atau Orang Tua

Siapa Yang Harus Lebih Ditaati Istri, Suami Atau Orang Tua 

Wanita-wanita yang menganut faham kesetaraan pria dan wanita tidak akan senang dengan bahasan ini. Karena bagi mereka yang fanatik dengan pemahaman tersebut tidak ada istilah 'ketaatan' istri kepada suami. Istri dan suami adalah setara, harus saling setia, saling menghormati, tidak boleh seorang suami dilebih-lebihkan kedudukannya atau tidak boleh seorang istri direndah-rendahkan wibawanya. Begitu konon pendapat mereka.

Di dalam Islam, ketaatan istri terhadap suami itu diatur dengan sangat jelas. Firman Allah Ta'ala dalam surah An Nissa' ayat 34: Pria menjadi pemimpin terhadap wanita...... Dan beberapa hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seperti berikut:  "Ad dunya mata', wa khairu mata'iha al mar'atus shalihat." (Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah isteri shalihat).  "Wanita shalihat adalah yang menyenangkan bila dipandang, taat bila disuruh dan menjaga apa-apa yang diamanahkan padanya." Hadits yang lain "Jika seorang isteri shalat lima waktu, shaum di bulan Ramadhan dan menjaga kehormatan dirinya serta suaminya dalam keadaan ridha padanya saat ia mati, maka ia boleh masuk surga lewat pintu yang mana saja." (HR Ahmad dan Thabrani).  "Jika manusia boleh menyembah manusia lainnya, maka aku perintahkan isteri menyembah suaminya." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Tersebutlah kisah, suatu ketika  Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan bahwa si Fulanah adalah seorang wanita penghuni surga. Fathimah puteri beliau penasaran dengan pernyataan Rasulullah tersebut dan mencoba menyelidiki apa keistimewaan si Fulanah. Datanglah beliau (Fathimah) mengunjungi rumah wanita itu ditemani putera beliau Hasan. Setelah mengetok pintu, terjadilah dialog singkat menanyakan siapa yang datang. Fathimah memberi tahu siapa dirinya. Fulanah bertanya lagi, dengan siapa anda datang. Fathimah menjawab, dengan puteraku Hasan (yang masih kanak-kanak ketika itu). Jawab Fulanah, kalau begitu aku tidak bisa menerima kedatangan anda, karena anda datang dengan seorang laki-laki. Suamiku beramanah agar aku tidak menerima tamu laki-laki datang ke rumah ini. 

Beberapa waktu kemudian, Fathimah datang kembali sendirian, dan diizinkan masuk. Fathimah bertanya, apa keistimewaan amalan Fulanah sehingga sampai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan bahwa dia adalah seorang wanita ahli surga. Tidak ada yang istimewa, kecuali ketaatannya kepada suaminya. Setiap kali suaminya pulang dari perjalanan mencari nafkah disambut dan dilayaninya dengan sebaik-baiknya. Dan yang mengherankan, wanita itu juga menyediakan sebuah cambuk. Fathimah menanyakan apa kegunaan cambuk tersebut dan dijawab, bahwa cambuk itu disiapkannya untuk suaminya seandainya si suami ingin mendera dirinya jika menurut penilaian suami layanannya tidak menyenangkan. Fathimah bertanya, seringkah suaminya menderanya. Jawab wanita itu, belum pernah sekali juga. 

Dan kisah lain. Tersebutlah seorang wanita yang sedang ditinggal pergi suaminya mencari nafkah ke perantauan yang jauh. Suatu hari datanglah utusan orang tua wanita itu membawa kabar bahwa ibunya sedang sakit dan memintanya pulang mengunjungi ibunya tersebut. Jawab wanita itu, tolong sampaikan salam hormatku kepada ibuku, aku mohon maaf karena tidak bisa mengunjungi beliau saat ini, karena suamiku melarangku meninggalkan rumah ini. Beberapa hari kemudian datang pula utusan yang sama, kali ini membawa kabar bahwa kesehatan ibunya semakin buruk, memintanya untuk pulang. Wanita itu terlihat sangat sedih, tetapi jawabannya masih sama, dia mohon maaf tidak bisa mengunjungi ibunya. Beberapa hari lagi kemudian, utusan itu datang lagi, kali ini memberitahu bahwa ibunya sudah meninggal. Wanita itu larut dalam kesedihan tapi kepada utusan itu jawaban masih tetap sama. Dia tidak bisa pulang ke rumah orang tuanya. Cerita ini akhirnya disampaikan orang kepada  Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Jawaban beliau shallallahu 'alaihi wa sallam adalah bahwa kedua wanita, ibu dan anak itu insya Allah adalah penghuni surga. Sang ibu adalah wanita shalihah yang telah mendidik puterinya menjadi seorang muslimah yang taat. Sang puteri adalah seorang yang amanah dan taat kepada perintah suaminya.

Wallahu a'lam.

****

                                        

Rabu, 05 November 2014

Mana Yang Harus Diutamakan, Suami Menafkahi Istri Atau Ibu Kandungnya? (Dari Islamedia.com)

Mana yang Harus Diutamakan, Suami Menafkahi Istri atau Ibu Kandungnya?

Islamedia.co -  Assalamualaikum wr. Wb. Ustad/ustadzah saya Iva, wanita dan sudah menikah. Saya bekerja dan memiliki anak 1 masih balita. Saya ingin bertanya, bagaimana Islam memandang apabila dalam rumah tangga istri harus memenuhi kebutuhan sendiri & anak, dikarenakan suami harus membyar cicilan pinjaman di bank dan memberikan nafkah ke ibunya, sedangkan ibu mertua mampu dan masih dapat nafkah dari bapak mertua dan dari kakak ipar setiap bulannya. Suami takut ibunya marah jika tidak dikasih. Jadi suami tidak bisa menafkahi istri dan anak. Apakah dalam Islam berdosa ustad/ustadzah ? Apakah Islam memandang apabila tidak memberi nafkah ke ibunya, suami saya berdosa ? Apakah tidak bisa memberi nafkah istri dan anak termasuk mendzalimi istri dan anak ? Mana yang harus didahulukan istri dan anak atau ibunya? Sebelum menikah saya seorang yatim dan saya juga masih menjadi tulang punggung keluarga untuk menafkahi ibu saya dan adik saya sampai saat ini. Bagaimana Islam memandang permasalahan ini, mohon jwabanya ustad/ustadzah. Sukron. Wassalam,

Jawaban

Assalamu alaikum wr.wb Alhamdulillahi Rabbil alamin. Washshalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbih ajmain. Amma ba'du:

Dalam Islam jelas bahwa seorang suami bertanggung jawab untuk memberikan nafkah kepada isteri dan anak-anaknya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Alquran surat an-Nisa ayat 34 dan al-Baqarah 233.    Meskipun kondisi isteri mampu, berkecukupan, bahkan kaya, kewajiban untuk memberikan nafkah keluarga tetap menjadi tanggung jawab suami, kecuali kalau isteri ridha dg keadaan yang ada. Namun jika tidak, dan suami tetap tidak mau memberikan nafkah kepada isteri dan anak, maka sang suami berdosa. Rasul saw bersabda, "Cukuplah seseorang mendapat dosa jika ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya."

Selanjutnya seorang suami memang dituntut untuk memberikan nafkah kepada isteri dan anak, serta kepada kedua orang tuanya jika mereka berada dalam kondisi membutuhkan dan kekurangan. Kalau suami bisa memenuhi kebutuhan mereka semua, maka wajib baginya untuk memenuhi.    Namun jika penghasilan atau hartanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan semua, maka harus ada prioritas. Yaitu yang harus didahulukan adalah isteri dan anak yang memang berada dalam tanggung jawab utamanya sebagai seorang suami. Hal ini berdasarkan sabda Rasul saw, "Mulailah dari dirimu dengan bersedekah (memberikan nafkah) untuknya. Lalu jika ada yang tersisa maka untuk keluargamu (isteri dan anakmu). Jika masih ada yang tersisa, maka untuk karib kerabatmu (orang tua, saudara dst), dan begitu seterusnya."

Imam an-Nawawi berkata, "Apabila pada seseorang berhimpun orang-orang membutuhkan dari mereka yang harus ia nafkahi, maka bila hartanya cukup untuk menafkahi semuanya, ia harus menafkahi semuanya, baik yang dekat maupun yang jauh. Namun apabila sesudah ia menafkahi dirinya, yang tersisa hanya nafkah untuk satu orang, maka ia wajib mendahulukan isteri daripada karib kerabatnya yang lain...(Raudhah ath-Thalibin).

Melihat pada kasus Anda, hendaknya suami mendahulukan yang menjadi kewajibannya, yaitu menafkahi isteri dan anak. Jika kondisinya benar-benar tidak mampu menafkahi ibunya, maka suami tidak berdosa karena Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Hanya saja, hal ini harus dibicarakan secara baik-baik disertai dg pemberian pemahaman. Kalau ibu masih tetap bersikeras untuk mendapat nafkah suami, sementara Anda sebagai isteri ridha demi untuk menjaga keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga, maka Anda mendapatkan pahala yang besar insya Allah. Namun jika tidak ridha, Anda berhak untuk menuntut suami.   Semoga Allah memberikan keberkahan dan jalan keluar terbaik bagi Anda sekeluarga.

Wallahu a'lam.

Wassalamu alaikum wr.wb.

Tim syariahonline.com

Jumat, 31 Oktober 2014

Sang Titipan (Dari Hidayatullah.com)

Sang Titipan

 

Betapa berharga matanya yang menyaksikan, telinganya yang menyimak, dan akalnya yang memahami sepanjang detak-detik kebersamaannya dengan Rasulullah. Kini, tiap kali hadits-hadits itu ditulis, dihafal, diajarkan, dan diamalkan oleh ummat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Oleh: Salim A. Fillah  

“Ya Rasulallah”, demikian Ummu Sulaim bergegas menemui Sang Nabi ketika beliau tiba di Madinah dalam hijrah, “Semua lelaki dan perempuan penduduk Yatsrib telah menghaturkan hadiah kepadamu. Namun aku sungguh tak memiliki apa-apa untuk dipersembahkan. Maka inilah putraku Anas ibn Malik. Bahagiakanlah kami dengan menjadikannya sebagai pelayanmu.”

Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam menerima wakaf Ummu Sulaim itu dengan berbahagia. Beliau jadikan Anas sebagai sebaik-baik khadam, dan beliau perlakukan Anas dengan sebaik-baik keadaban.

“Sepuluh tahun aku berada di rumah Rasulullah”, ujar Anas kelak, “Dan tak pernah sama sekali beliau menegurku dengan kata-kata, ‘Mengapa kau berbuat ini?’ atau ‘Mengapa tak kaukerjakan itu?’”.

Sejatinya, Anas bukan hanya menjadi pelayan, namun juga seakan dialah putra kesayangan dan murid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang paling dekat. “Kami melihat Anas ibn Malik seakan-akan dia adalah bayang-bayang Rasulullah yang mengikuti beliau ke manapun pergi”, demikian kesaksian beberapa sahabat. “Tak ada yang shalatnya lebih mirip Rasulullah”, begitu kata Abu Hurairah, “Daripada putra Ummu Sulaim.”

Demikianlah. Selama sepuluh tahun, detak-detik kehidupan Anas ibn Malik berdenyut dan berdentam bersama derasnya wahyu dan luhurnya nubuwwah. Detak dan detiknya adalah lapis-lapis keberkahan.

Betapa berbahagianya dia menerima doa Rasulullah, “Ya Allah panjangkanlah umurnya, perbanyaklah anak dan hartanya, serta berkahilah baginya di dalam kesemua itu.” Maka Anas hidup hingga usia seratus tahun atau lebih, sentausa di tengah keluarga besarnya, sejahtera dengan kecukupan yang penuh berkah.

Dan Anas tahu, di rumah Rasulullah itu dia menghirup udara yang amat berharga, berada di antara debu-debu yang sangat bernilai, dan mengeja detak-detik yang penuh dengan lapis-lapis keberkahan. Maka dia mengerahkan segenap indranya untuk mengambil ayat-ayat ilmu, titis-titis rizqi, dan gerak-gerak ‘amal dari Sang Nabi, mendekapnya bagai permata di dalam jiwa, menuangkannya sebagai daya bagi raga.

Adalah Anas ibn Malik mengumpulkan air bekas mandi Rasulullah, lalu mencampurkannya ke dalam air mandinya. Adalah Anas ibn Malik mengumpulkan keringat Rasulullah, dan mencampurkannya ke dalam minyak wangi yang dibalurkan ke sekujur badannya. Adalah Anas ibn Malik mengumpulkan rambut yang jatuh, gigi yang tanggal, dan benda-benda peninggalan Rasulullah dari sandal hingga surbannya, untuk kelak dia wasiatkan diikutsertakan dalam penguburan dirinya.

Tapi yang paling berkah dari itu semua adalah, bahwa dari Anas ibn Malik kelak, ummat ini berhutang 2286 hadits yang dia riwayatkan. Betapa berharga matanya yang menyaksikan, telinganya yang menyimak, dan akalnya yang memahami sepanjang  detak-detik kebersamaannya dengan Rasulullah. Kini, tiap kali hadits-hadits itu ditulis, dihafal, diajarkan, dan diamalkan oleh ummat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Anas ibn Malik berhak atas pahala yang tak henti mengalir hingga hari kiamat.

Sang titipin, menjelma menjadi mata air ilmu dan samudra keberkahan.*

****

Kamis, 30 Oktober 2014

Seberapa Bersih Makanan (Jajanan) Kita

Seberapa Bersih Makanan (Jajanan) Kita  

Seorang kenalanku, 'urang awak' mengeritik dengan rasa..... maaf, 'jijik', rumah makan Padang. Apalagi, katanya, dengan disediakannya tusuk gigi di meja makan. Orang-orang yang baru selesai makan, sambil berbincang-bincang, mencongkel gigi sementara di hadapan mereka masih bertabur lauk-pauk yang tidak dimakan, yang nantinya akan dihidangkan lagi kepada pengunjung berikutnya. Bagaimana kalau sesuatu yang menyelip di gigi yang dicongkel itu, terhambur ke piring-piring berisi lauk itu tadi? Begitu katanya.

Kalau mau ikut-ikutan meragukan hidangan di rumah makan itu, memang mungkin pula terjadi yang dikhawatirkan oleh beliau ini. Menurutnya, untuk menghindarkan kekhawatiran itu, seharusnya RM Padang menghidangkan lauk-lauk yang dipesan saja. Sebuah usulan yang seharusnya cukup masuk di akal. Sebenarnya, beberapa puluh tahun yang lalu, ada  restoran, Salero Bagindo namanya, yang mencoba pelayanan seperti ini. Pelayan restoran datang menghampiri tamu dengan sebuah 'gerobak' penuh dengan aneka lauk, dan menanyai tamu, makanan mana saja yang ingin dipesan. Lalu menghidangkan sesuai pesanan tersebut. Entah kenapa restoran tersebut bubar, meski sudah sempat punya beberapa cabang di seantero Jakarta. Cara pelayanan yang sama, menghidangkan hanya yang dipesan, aku temukan di sebuah restoran Padang di Kuala Lumpur beberapa waktu yang lalu.

Cerita lain, kami mampir membeli jajanan di pinggir jalan, martabak. Martabak ini ada yang manis dan ada yang asin. Martabak-martabak itu dibuatkan sesuai pesanan kita. Kita harus menunggu. Apa lagi kalau kebetulan yang memesannya banyak. Aku memperhatikan si tukang martabak itu bekerja. Udara panas dari api tungku martabaknya, menyebabkan keringat si tukang martabak mengalir. Tiap sebentar keringatnya itu dilapnya dengan handuk kecil yang sudah tidak jelas warnanya. Lalu dia melanjutkan pekerjaannya, menyiapkan kulit martabak (asin) dari adonan sebesar tinju anak kecil yang diputar-putarkannya ke udara sampai menjadi sebuah lembaran yang langsung diletakkan di wajan rata sebelum diisi dengan campuran daging, telor dan irisan bawang. Tangannya begitu cekatan mengerjakan semua itu. Sekali-sekali dia juga harus menyeka keringatnya. 

Koki yang berkeringat ketika menyiapkan masakan tidak terbatas pada tukang martabak saja. Hal yang sama bisa dialami oleh mereka yang bekerja dihadapan tungku panas lainnya, seperti koki masakan Cina, seafood, nasi goreng, mie goreng dan sebagainya. 

Pada kesempatan lain, aku melihat seorang penjaja gudeg menyiapkan pesanan pembelinya, di Jogya sana. Beberapa macam sayuran yang sudah dimasak itu diambil dari bakulnya dengan tangan telanjang untuk dibungkus dengan daun pisang dan kertas. Tangan yang sama menerima uang pembayaran serta pengembaliannya, sebelum dia melayani pembeli berikutnya, dengan tangan yang sama tanpa perlu dicuci dulu.

Masih banyak contoh-contoh lain, yang kalau dipikir-pikir akan menjadikan kita tidak berkeinginan lagi untuk jajan atau makan di luar. Jadi, kalau ingin menikmati jajanan atau makanan mana saja, lihat sajalah penampilan akhirnya. Tidak perlu dibayangkan proses pembuatan, atau cara penyajiannya. Karena yang benar-benar bersih mungkin akan sulit kita jumpai.

****

                                             

Senin, 27 Oktober 2014

Kemaksiatan Biang Kehancuran Peradaban (Dari Dakwatuna.com)

Kemaksiatan Biang Kehancuran Peradaban

Rubrik: Tazkiyatun Nufus | Oleh: Abu Ihsan - 24/10/14 | 09:37 | 00 Muharram 1436 H

dakwatuna.com - 

Siapakah orang Islam yang pertama kali berani minum khamr setelah Allah dan Rasul-Nya mengharamkan?
Siapakah orang Islam yang pertama kali memamerkan auratnya setelah Allah dan Rasulnya mengharamkan?
Siapakah orang Islam pertama yang pertama kali memasang tattoo di tubuhnya setelah Allah melalui Rasul-Nya mengharamkan?
Siapakah orang Islam yang pertama kali mempelopori pacaran dan khalwat pria dan wanita bukan muhrim setelah Allah dan Rasul-Nya mengharamkan?
Pernahkah kita membayangkan betapa masyarakat muslim dewasa ini bisa sedemikian permisif dengan perilaku yang melanggar syariat Allah.
Pernahkah kita bertanya bagaimana semua ini dapat terjadi.

Sering kita dengar dari orang tua kita betapa dulu sangat sulit melihat orang berbuat maksiat terang-terangan.

Hari ini bahkan selain melakukan maksiat terang-terangan, banyak juga orang-orang ‘well educated’ bahkan memberi dukungan atas menyebarnya kemaksiatan tersebut.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut mari kita renungkan sebuah hadits yang cukup panjang dari baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

حدّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ، قَالَ: سَمِعْتُ عَامِرًا، يَقُولُ: سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” مَثَلُ القَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالوَاقِعِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ المَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ، فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا، فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا، وَنَجَوْا جَمِيعًا “

Abu Nu’aim berkata kepada kami, Zakaria berkata kepada kami, ia berkata: “Aku telah mendengar ‘Amir, ia berkata: Aku telah mendengar An-Nu’man bin Basyir r.a. dari Nabi saw beliau bersabda: “Perumpamaan orang yang teguh menjaga larangan-larangan Allah SWT dan orang yang melanggar larangan-larangan-Nya seperti sekelompok orang yang berebut naik ke dalam sebuah perahu. Maka sebagian mereka dapat bagian atas kapal dan sebagian lainnya mendapat bagian bawah. Para penumpang yang berada di bagian bawah kapal jika memerlukan air harus melewati para penumpang yang berada di atas. Kemudian penumpang yang berada di bawah itu berkata: “Seandainya kami lubangi tempat duduk kami satu luang saja, maka kami tidak usah lagi mengganggu para penumpang yang berada di atas”. Apabila penumpang lainnya membiarkan mereka dengan apa yang mereka kehendaki, niscaya hancurlah seluruh penumpang kapal. Dan apabila penumpang lainnya mencegah tangan mereka dari upaya melubangi kapal, niscaya selamatlah seluruh penumpang kapal”.

Takhrij Hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Bukhory dalam “Asy-Syahaadaat” dari ‘Umar bin Hafsh bin Ghiyats dari ayahnya dari Al-A’masy dari Asy-Sya’by. Dan dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dalam “Al-Fitan” dari ahmad bin Mani’ dari Abu Mu’awiyah dari Al-A’masy, dan ia berkata: Hadits ini Hasan Shohih.

Bagi sebagian orang hadits tersebut merupakan perintah amar ma’ruf nahi munkar. Sehingga setiap orang diminta untuk melaksanakannya.

Namun mari kita telaah lebih lanjut maka akan kita dapatkan bagaimana sebuah kemaksiatan menjadi sebuah penyakit sosial dan kemudian bahkan dianggap budaya. Kalimat “Seandainya kami lubangi tempat duduk kami satu luang saja, maka kami tidak usah lagi mengganggu para penumpang yang berada di atas” menggambarkan suatu kondisi awal terjadinya kemaksiatan yaitu:
  • Adanya anggapan baik terhadap suatu wacana kemaksiatan
  • Adanya pembiaran pada tahap wacana kemaksiatan di kalangan terdekat (para penumpang di bagian bawah)
  • Tidak adanya kepekaan pada kemungkinan munculnya kemaksiatan di kalangan yang terkait secara tidak langsung dengan para pelaku kemaksiatan.
Ilustrasi sederhananya sebagai berikut…

Dalam sebuah masyarakat yang taat dan patuh terhadap sebagian besar perintah dan larangan Allah, tidak mustahil muncul informasi betapa nikmatnya minum khamr. Jika informasi ini dibiarkan maka melekatlah dalam persepsi masyarakat. Kemudian seorang, ya hanya seorang pemuda merasa penasaran untuk mencoba minum khamr. Tentu saja dia tidak berani melakukannya di tengah masyarakatnya yang demikian taat dan mengharamkan khamr. Maka dia pun mencobanya di kampung yang membolehkan khamr.
Orang tua sang pemuda karena kelalaiannya tak mengetahui bahwa sang pemuda diam-diam pergi ke kampung seberang untuk mencoba khamr. Dan tatkala pemuda itu sudah dirasuki minuman memabukkan tersebut lambat laun muncul keberaniannya untuk mencoba di rumahnya.

Orang tuanya pun kemudian marah dan menasehatinya. Namun pemuda itu tetap pada pendiriannya. Maka melunaklah orang tuanya dan mengatakan bahwa ia boleh minum tapi hanya di rumah saja.

Kemudian berlalulah masa, pemuda yang sudah dirasuki khamr tersebut semakin berani. Ia kemudian meminumnya di halaman rumahnya. Orang tuanya pun kemudian marah dan menasehatinya. Namun pemuda itu tetap pada pendiriannya. Maka melunaklah orang tuanya dan mengatakan bahwa ia boleh minum tapi hanya sampai halaman rumah saja.

Kemudian berlalulah masa, pemuda yang sudah dirasuki khamr tersebut semakin berani. Ia kemudian meminumnya di tempat kumpul para pemuda. Warga pun kemudian marah dan menasehatinya. Namun pemuda itu tetap pada pendiriannya. Maka melunaklah para warga dan mengatakan bahwa ia boleh minum tapi hanya untuk dirinya saja.

Jika ini dibiarkan maka perilaku pemuda ini menggugah pemuda lain melakukan hal serupa, dan jika masyarakat membiarkannya maka terjadilah apa yang disebut wabah kemaksiatan.
Demikian halnya dengan merebaknya perzinaan, homoseksualisme, korupsi, tattoo, dan berbagai kemaksiatan lainnya melalui proses yang serupa.

Syekh Muhammad Quthb mengingatkan kita tentang wabah kemaksiatan yang terjadi karena tidak pedulinya masyarakat terhadap kemaksiatan yang dianggap remeh. Dan saat wabah sudah terjadi maka sesungguhnya kerugiannya tidak sekadar kerugian moral melainkan akan berimbas pada kehancuran material. Dan kehancuran peradaban hanya soal waktu.

Betapa banyak peradaban besar yang binasa dikarenakan dekadensi moral sudah menjadi budaya. Kaum Samud, kaum Aad, dan bangsa-bangsa besar lainnya yang harus rela kehilangan kejayaannya disebabkan mereka membiarkan bibit kemaksiatan tumbuh.

Oleh sebab itu, teguhlah kita dalam menjaga larangan-larangan Allah kepada anak-anak kita dan orang-orang yang dalam wewenang kita. Sebagaimana mereka ‘bersabar’ untuk mendapat izin dari kita untuk bermaksiat maka kita pun akan bersabar untuk mencegah mereka agar tidak melanggar larangan-larangan Allah tersebut.

Jika kita enggan bersabar atau tidak peduli, maka sesungguhnya kita sedang menggali kuburan besar. Yaitu kuburan bagi kita dan masyarakat beradab yang kita tinggali hari ini. Surat Al-Anfal ayat 25 patut menjadi bahan renungan kita selanjutnya..

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَتُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/10/24/58891/kemaksiatan-biang-kehancuran-peradaban