Tampilkan postingan dengan label Cerita Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Februari 2018

Balikpapan (lagi)

Balikpapan  (lagi) 

Sudah hampir empat tahun aku tidak berkunjung ke Balikpapan. Selama keluarga si Tengah di Perancis selama hampir tiga tahun sampai pertengahan tahun lalu, aku tidak pernah berkunjung ke kota ini. Tapi sejak keluarga ini pulang dari Perancis mereka kembali ke Balikpapan dan kami berkesempatan lagi untuk datang mengunjungi cucu. Sudah sejak beberapa bulan yang lalu kami ditantang untuk datang. Baru hari Rabu tanggal 7 Februari kemarin kesempatan itu bisa direalisasikan.

Surprise pertama yang kami temui adalah bandaranya yang besar dan sangat bagus, yang empat tahun yang lalu masih dalam tahap penyelesaian.  Aku sudah membaca informasi tentang kehebatan bandara baru ini tapi baru kali ini melihatnya. Sudah sangat moderen, rapi dan teratur. 

Kami (aku dan istri) dijemput oleh menantu, si Tengah serta kedua cucu (Hamizan dan Fathimah) dan langsung menuju ke rumah mereka di Balikpapan Baru. Mereka tidak lagi tinggal di rumah perusahaan. Meski baru beberapa pekan yang lalu kami berpisah dengan cucu-cucu ini, pertemuan dengan mereka selalu sangat menyenangkan.

Sore itu aku diajak menantu shalat berjamaah ke mesjid di luar komplek perumahan. Jaraknya mungkin sekitar satu kilometer dari rumah. Sebuah mesjid besar dan megah. Mesjid Namirah namanya. Jamaah shalat maghrib sangat ramai. Menurut menantuku setiap Rabu sore biasanya ada ta'lim di mesjid ini antara maghrib dan 'isya. Tapi kebetulan sore itu penceramahnya berhalangan hadir. 

Pelan-pelan aku menemukan apa yang diceritakan si Tengah bahwa Balikpapan sekarang berbeda (dalam arti kata), banyak sekali mesjid-mesjid yang ramai jamaahnya. Menantuku memperjelas keterangan itu dengan menyebutkan beberapa mesjid lain yang pernah dikunjunginya waktu shalat maghrib dengan jamaah yang banyak terdiri dari beberapa shaf. Waktu kami datang untuk shalat subuh hari Kamis pagi jamaah mesjid Namirah ini lebih 5 shaf, yang artinya lebih dari 150 orang jamaah. Sekitar dua puluh tahunan yang lalu aku hadir shalat subuh di mesjid Istiqamah, jamaahnya mungkin sekitar 40 - 50 orang saja dan rasanya itu sudah terhitung banyak ketika itu. 

Masih menurut si Tengah semangat menjalankan Islam dengan lebih baik juga sangat terlihat di Balikpapan. Banyak majelis-majelis pengajian di mana-mana dengan pengajian sunnah dan diikuti oleh banyak jamaah. 

Semoga cahaya Islam semakin bersinar di kota ini dan menjadi contoh kepada kota-kota lain di Indonesia.

****

Minggu, 31 Desember 2017

Hamizan Dan Fathimah Pulang Kampung (6, habis)

Hamizan Dan Fathimah Pulang Kampung (6, habis)       

Sawahlunto dahulu dikenal sebagai kota batubara. Sepertinya kota ini dahulu lahir karena aktifitas penambangan di tahun 1800an. Luas kota mula-mula hanya sekitar 5 km persegi, dalam sebuah lembah, seperti sebuah kuali memanjang. Di area itu bertumpuk perkantoran, pertokoan, pasar, rumah sakit, perumahan rakyat, barak tempat tinggal pekerja tambang. Tambang itu sendiri terakhir dikenal sebagai PT TBO alias PT Tambang Batubara Ombilin. Sekarang PT itu sudah 'mati' karena sejak era reformasi penambangan batubara dikelola oleh masyarakat tempatan, yang menambang di tanah-tanah ulayat mereka. Waktu aku mengerjakan tugas perpetaan untuk thesis selama 4 bulan di tahun 1978 kami (7 orang) 'menompang' di mess milik PT TBO dan ketika itu PT ini masih sedang jaya-jayanya. Jadi aku punya jugalah sedikit kenangan di kota ini.

Hari Kamis pagi sesudah check-out dari penginapan, kami mengunjungi bukit Cemara, untuk memandang lembah Sawahlunto asli. Bukit yang tadinya bagian dari fasilitas PT TBO ini sekarang oleh pemerintah kota dijadikan taman rekreasi. Sebenarnya ada objek-objek lain di kota ini sebagai peninggalan kegiatan tambang, tapi kami tidak punya cukup waktu untuk mengunjunginya. Jam sebelas kami meninggalkan Sawahlunto, ditemani rombongan nenek N dan inyiak R untuk mampir di warung sate di Silungkang. Sesudah makan sate kami berpisah untuk melanjutkan perjalanan ke Padang.

Perjalanan ke Padang sangat lancar sampai ke Indarung. Tapi dari Indarung memasuki kota Padang lalulintas macet. Tujuan pertama di Padang adalah tempat makan es durian di daerah Pondok. Ada beberapa buah lapau es durian berdekatan, tapi hanya satu yang ramai pengunjungnya. Kamipun merapat ke tempat yang ramai ini.  

Selanjutnya kami menyeberangi jembatan Siti Nurbaya menuju ke pantai Ayia Manih. Cuaca sore ini sangat cerah. Di pantai ini cukup ramai. Begitu sampai Izan tersenyum melihat banyak motor ATV sewaan. Izan dan Fathimah ditemani ayah mereka menikmati mengendarai motor tersebut di pantai yang landai dan bersih. Inyiak, nenek dan si Tengah menunggu saja sambil duduk-duduk menikmati kelapa muda. 

Sudah menjelang maghrib kami menuju hotel di daerah Pondok. Ini adalah malam terakhir dalam kunjungan ini. Besok pagi kami akan kembali ke Jatibening. Alhamdulillah bahwa Hamizan dan Fathimah menikmati kunjungan ini. Mereka bercanda dan ketawa-ketawa selama dalam perjalanan. Si Tengah dan suaminya juga cukup senang melewatkan acara yang lumayan padat. 

**** 

                     

Hamizan Dan Fathimah Pulang Kampung (5)

Hamizan Dan Fathimah Pulang Kampung (5)     

Rabu adalah hari kelima perjalanan pulang kampung ini. Sampai hari ini kami telah mengunjungi tempat-tempat sesuai dengan yang direncanakan. Kunjungan ke Sungai Janiah yang tertunda karena hujan di hari pertama,  sepulang dari Maninjau di hari kedua, telah pula terlaksana. 

Hari ini kami check-out dari hotel di Bukit Tinggi. Siang ini kami akan ke Sawahlunto, mengunjungi nenek N dengan anak cucunya. Nenek N adalah kakaknya nenek. Tapi sebelumnya kami akan singgah di Pagaruyung, mengunjungi istano basa. Dan sebelumnya lagi, atas saran inyiak R (adik nenek) kami akan makan nasi Kapau di nagari Kapau. Makan nasi Kapau adalah pesanan khusus si Tengah. Semula dia mengusulkan makan di lapau uni Lis di Pasa Ateh. Tapi dengan pertimbangan dan saran dari inyiak R, mengingat jalan ke Pasa Ateh itu tertutup karena dipakai oleh pedagang korban kebakaran Pasa Ateh beberapa pekan yang lalu, usulan si Tengah akhirnya dialihkan. 

Sayangnya lapau di Kapau yang direkomendasi inyiak R tutup. Kami singgah di sembarang lapau saja akhirnya. (Rupanya di kampung ini ada beberapa rumah yang membuka lapau nasi). Yang ini memang tidak terlalu istimewa, tapi ya sudahlah. Sesudah makan perjalanan dilanjutkan menuju Pagaruyung. Sempat pula singgah untuk mencicipi kawa daun di depan sebuah mesjid sesudah kami berhenti shalat.

Ketika kami sedang di lapau kawa daun, inyiak R rupanya menyusul kami dan akan ikut ke Sawahlunto. Perjalanan dilanjutkan menuju istano basa. Si Tengah ingat waktu kami mampir ke sini melihat puing setelah kebakaran ketika kami pergi mengantarkan sumbangan untuk korban gempa di tahun 2007.


Hanya kami berlima yang masuk ke dalam istano basa sementara nenek dan inyik R menunggu di pelataran parkir. Si Tengah cukup antusias. Dia naik sampai ke tingkat tiga. Hamizan dengan tekun mendengar keterangan inyiak tentang rumah gadang Minangkabau ini. Sementara Fathimah, minta naik kuda, ketika dia melihat dari jendela ada beberapa kuda tunggangan di pekarangan. Dia pergi ditemani ayahnya. 


Selesai pula kunjungan ke istano basa. Lanjut lagi sekarang menuju Sawahlunto. Nenek ikut di mobil inyik R. Kami ikuti mobil inyiak R yang mengambil jalan arah ke Lintau.  Aku belum pernah menempuh bagian jalan ini.

Hampir jam lima sore ketika kami sampai di rumah nenek N. Kepada Hamizan dijelaskan bahwa cucu-cucu nenek N itu adalah saudara sepupunya. Semua sekampung di Simawang yang kita kunjungi kemarin. Entahlah kalau Izan faham. Nenek N dengan dua anak perempuannya tinggal di kota ini. Pertemuan yang cukup ramai. Kami beramah tamah sampai jam sebelas malam. Hamizan dan Fathimah sudah tidur kecapekan. Kami menginap di hotel di tengah kota Sawahlunto malam itu.


Besok siang kami akan melihat-lihat kota Sawahlunto sebelum melanjutkan perjalanan ke Padang.



****

                            

Jumat, 29 Desember 2017

Hamizan Dan Fathimah Pulang Kampung (4)

Hamizan Dan Fathimah Pulang Kampung (4)  

Acara pulang kampung tidak akan pernah terpisah dengan acara makan lamak. Orang sekarang menyebutnya wisata kuliner. Makan di rumah makan di Ranah Minang memang sangat berbeda tingkat lamak (enak)nya dengan di restoran Padang di luar. Ada dua rumah makan favoritku di antara bandara Minangkabau dan Bukit Tinggi. RM Lamun Ombak yang hanya sekitar sepuluh menit dari bandara dan yang satunya lagi RM Ayie Badarun, 6 kilometer di luar kota Padangpanjang arah ke Bukit Tinggi. Yang pertama dikunjungi kalau kami mendarat menjelang jam makan. Yang kedua, jika waktu agak santai, karena untuk mencapainya perlu waktu sekitar satu setengah jam dari bandara.  

Lamun Ombak sudah dikunjungi di hari pertama kami datang. Sekarang giliran Ayie Badarun pula. 


Kami sarapan di hotel hari Selasa pagi. Hari ini kami akan ke danau Singkarak dan diteruskan dengan mengunjungi kampung Hamizan di Simawang. Sebelum ke Ombilin di pinggir danau Singkarak kami mampir di RM Ayie Badarun. Sang menantu bercerita bahwa dia diingatkan teman sekantornya agar tidak lupa singgah ke rumah makan ini. Jadi acara yang kami buat ternyata sangat cocok. Apa istimewanya rumah makan yang satu ini? Mereka menjuluki rumah makannya dengan spesifikasi masakan rumahan. Dan memang itulah kelebihannya. Ada sambalado cangkuak dengan kerecek, ada pepes (asam padeh) telor ikan, asam padeh ikan mas,  yang tidak kita temukan di rumah makan lain. Maka kamipun makan batambuah-tambuah.....



Setelah makan barulah dilanjutkan perjalanan ke Ombilin di pinggir danau Singkarak. Di sini kami menyewa perahu motor untuk mengharungi danau. Acara yang semakin populer di sini. Beberapa tahun yang lalu ada rombongan saudara dari Jeddah yang kami bawa naik perahu ini. Sebagai balasannya, waktu kami pergi umrah berombongan di tahun 2012, kami dibawa mengharungi Laut Merah di sekitar Jeddah dengan perahu bermotor yang jauh lebih canggih.  


Ada yang menitip minta dibelikan ikan bilih Singkarak. Sayang sekali bahwa ikan bilih itu sudah sangat langka kalaupun tidak untuk dikatakan hampir punah. Karena tidak ada aturan dalam menangkapnya dan masyarakat menangkap semau-maunya. Aku berkomentar kepada seseorang di dekat dermaga perahu motor itu, kenapa pemerintah tidak membuat aturan larangan dalam penangkapan ikan bilis. Maksudnya, diadakan pembatasan atau larangan penangkapan pada bulan-bulan tertentu. Jawab orang itu, susah pak. Kalau kami dilarang menangkapnya, dengan apa kami beli beras. Mungkin benar, tapi ketika ikan itu (hampir) punah seperti sekarang, lalu dengan apa mereka membeli beras? 



Sesudah berperahu-perahu kami lanjutkan perjalanan menuju kampung Simawang. Kampung asal istriku menurut aturan urang Minang. Yang sayang tidak dikenalnya pasti di mana tumpak rumah nenek moyangnya itu, karena ibunya (mertua perempuanku) tidak pernah tinggal di kampung itu. Hanya mereknya saja mereka berasal dari Simawang. Kami (aku dan istri) pernah mencoba mengunjungi kampung ini dua tahun yang lalu, masuk dari Ombilin, tapi tidak berhasil karena jalan yang kami tempuh terlalu kecil, mendaki cukup terjal. Kali ini kami ditemani adik istriku dan kami masuk dari arah berbeda. Dan alhamdulillah berhasil. Kami lalui jalan nagari sampai ke kantor wali nagari Simawang. Tapi dimana tumpak perumahan nenek buyut Izan? Adik iparku pun tidak tahu pasti. Dan kami tidak perlu pula nyinyir bertanya-tanya. Cukuplah bahwa kami sudah singgah di nagari Simawang.


****                               

Hamizan Dan Fathimah Pulang Kampung (3)

Hamizan Dan Fathimah Pulang Kampung (3)   

Hari Senin, hari ketiga dalam perjalanan ini, tujuan kami adalah ke arah Payakumbuh. Dimulai dengan kunjungan ke ngalau (gua batu gamping) di pinggir kota. Beberapa bulan yang lalu aku membawa menantu kemenakan ke ngalau ini, yang juga merupakan kunjungan pertama bagiku. Selama ini aku merasa ngalau Payakumbuh tidak sebagus ngalau Kamang, sehingga aku tak pernah tertarik untuk melihatnya. Ternyata aku keliru. Gua inipun sangat bagus untuk dikunjungi. 

Kita harus membeli karcis untuk memasuki area ngalau. Ada pelataran parkir cukup luas dan taman yang juga cukup terpelihara. Hanya kami saja pengunjung di pagi itu, karena memang bukan hari libur. Karena harus menaiki tangga yang cukup tinggi, kali ini aku tidak ikut masuk karena menemani istri di taman di luar gua. Hanya si Tengah dengan suami serta Hamizan dan Fathimah saja yang masuk.

Cukup lama mereka berada di dalam gua. Artinya, mereka menikmati apa yang mereka lihat. Terutama untuk kedua bocah itu. Ada pemandu yang cukup sopan menemani mereka. Pemandu yang sopan dan tidak memaksa-maksa ini menjadi catatan khusus bagiku ketika mengunjungi tempat ini beberapa bulan yang lalu.

Dari ngalau kami lanjutkan perjalanan ke Lembah Harau. Lembah dengan tebing batu tegak lurus dan air mancur. Ada beberapa air terjun atau air mancur di Lembah Harau. Kami hanya mengunjungi air terjun utama yang ada kolam di bawahnya. Di sini lebih banyak pengunjung. Hamizan memperhatikan kenampakan alam yang indah ini dengan sungguh-sungguh. 

Kami mampir di titik dinding bersipongang di pinggir jalan. Sebuah tapak yang sangat sederhana untuk berdiri dan berteriak untuk mendengarkan lantunan (sipongang) suara dari bukit batu di seberang sana. Sudah lama aku merasa tapak ini seyogianya dibuat lebih besar dan lebih rapi. Sepertinya tidak ada atau belum ada yang sepemikiran denganku.  

Dari Harau kami lanjutkan perjalanan ke Lubuk Bangku untuk makan siang. Kenapa Lubuk Bangku? Karena ada rumah makan favorit kami di sana. Dulu, beberapa tahun yang lalu, dalam perjalanan ke Pekan Baru kami sangat menikmati ayam bakar di rumah makan ini. Agak sayang bahwa sekarang rasa masakannya tidak lagi seenak dahulu.

Setelah makan siang kami kembali ke Koto Tuo untuk berkemas-kemas. Sore ini kami akan pindah ke penginapan di Bukit Tinggi. Sempat pula membeli durian yang sebenarnya bukan musimnya. Kata si penjual, durian itu didatangkan dari Padang Sidempuan. Durian sekedar pelepas taragak, tidak pula sempurna, ternyata membawa sedikit masalah untuk si Tengah. Dia sakit perut tidak lama sesudah makan durian.   

****                            

Rabu, 27 Desember 2017

Hamizan Dan Fathimah Pulang Kampung (2)

Hamizan Dan Fathimah Pulang Kampung (2)      


Jadwal untuk hari kedua adalah ke Puncak Lawang dilanjutkan dengan melewati Kelok 44 turun ke Maninjau. Kami cukup santai di hari Ahad pagi itu. Setelah sarapan dengan kue-kue ringan yang kemarin dibeli di Biaro, kami lalu jalan-jalan melihat sawah di dekat rumah nenek buyut ini, sebelum berangkat meninggalkan Koto Tuo sekitar jam setengah sebelas pagi. Memang diatur demikian, karena kami akan makan siang di Simpang Raya dekat lapangan Kantin. Seperti itu yang diatur inyiak. 


Izan adalah pencinta ayam pop. Dia bertanya-tanya kenapa waktu makan siang dan malam kemarin tidak menemukan ayam pop. Tapi kata inyiak ayam pop yang asli itu adalah yang buatan Simpang Raya di Bukit Tinggi ini.



Sudah lewat jam sebelas ketika kami sampai di rumah makan Simpang Raya. Di saat lapar-laparnya. Dan ayam pop dihidangkan. Semua makan cepak cepong. Terutama Izan, yang sangat menikmati ayam pop itu tentu saja. 



Sesudah kekenyangan barulah kami mengarah ke Puncak Lawang. Melintasi jalan yang lumayan macet sampai ke persimpangan Padang Lua. Tapi untunglah sesudah itu jalan lancar. Kami melintas di Matua dan terus berbelok menuju Lawang. Banyak gerobak penjual sari tebu di sepanjang jalan ini, di pinggir jalan di antara parak tabu. Tebu lawang yang dulu dibuat gula lawang....


Kami sampai di area Puncak Lawang ketika azan shalat Zhuhur berkumandang. Seorang petugas menghampiri menanyakan berapa orang anggota rombongan kami. Ada karcis dan yang diharuskan membayar hanya orang dewasa saja. Dengan membeli karcis, parkir kendaraan gratis. Sebuah pengaturan yang sudah sangat baik. Ramai sekali kendaraan yang terparkir. 

Sayangnya, di bagian puncak itu sedang ada pekerjaan bangunan. Kabarnya bangunan sebuah hotel. Jalan ke puncak diperpanjang dan berputar melalui punggungan bukit dengan anak tangga melingkar-lingkar. Sangat berkurang kenyamanannya. 

Kami berhenti di sebuah dataran sebelum puncak. Pemandangan ke bawah, ke danau Maninjau tetap memukau.  Sang menantu sepertinya menikmati keindahan itu. Kami tidak meneruskan ke bagian paling puncak karena harus melalui beberapa tingkat anak tangga lagi, dan istriku sepertinya sudah kecapekan. 

Kami tidak lama di Puncak Lawang. Tujuan berikutnya adalah melalui kelok 44 ke arah Maninjau. Tapi kami tidak akan mengunjungi pinggir danau yang sudah tidak ada daya tariknya karena banyaknya keramba ikan. Selama perjalanan ini stir mobil selalu dipegang menantu. Dia seorang pengendara yang baik. Aku mengingatkan, bahwa aturan berkendara di sepanjang kelok ini adalah memberi prioritas kepada kendaraan yang sedang mendaki di setiap kelok. 

Kami lalui kelok demi kelok itu. Hamizan sangat senang. Di kelok nomor belasan ada kawanan monyet di pinggir jalan. Akhirnya kami sampai di Maninjau. Langsung menuju ke mesjid Raya Maninjau untuk shalat. 

Sesudah shalat aku mampir di sebuah warung di pinggir jalan, menanyakan dimana kami bisa menemukan kedai yang menjual rinuak. Rinuak adalah jenis ikan sangat kecil yang dulu terkenal sekali di Maninjau ini. Jawaban orang kedai itu sangat menyedihkan. Sekarang tidak ada lagi orang menjual rinuak, karena rinuak itu sudak tidak ada lagi. Danau Maninjau sepertinya memang sedang kritis dengan kandungan ikan-ikan khasnya seperti bilih dan rinuak.

****                                

Selasa, 26 Desember 2017

Hamizan Dan Fathimah Pulang Kampung (1)

Hamizan Dan Fathimah Pulang Kampung (1) 



Pekan yang lalu kami pulang kampung. Kami (aku dan istri) menemani keluarga si Tengah. Sebuah perjalanan yang sudah direncanakan sejak beberapa bulan yang lalu, sejak mereka baru kembali ke Indonesia di pertengahan tahun ini. Keluarga si Tengah ini masih tetap sangat gemar bepergian. Dua bulan yang lalu mereka berkunjung ke kampungnya menantu di Jawa Timur. 


Inyiak membuat itenerary sederhana untuk perjalanan ini. Kami rencanakan untuk bertemu di bandara Soeta di hari  Sabtu pagi tanggal 16 Desember, karena mereka berangkat dari Balikpapan. Penerbangan ke Padang dengan Batik Air yang berangkat jam 9.30 dari bandara Soeta, meski ternyata sedikit terkendala karena antri untuk takeoff. Sampai di bandara Minangkabau menjelang jam dua belas siang. Setelah mengemasi bagasi kami segera bergerak menuju kampung dengan kendaraan sewaan yang sudah dipesan sebelumnya. Tentu saja kami singgah dulu di rumah makan Lamun Ombak, untuk makan siang. 


Perjalanan ke kampung (inyiak) di Koto Tuo - Balai Gurah sangat lancar. Sayang hari hujan ketika kami sampai di kampung. Rencana semula, sesudah menaruh barang-barang kami akan pergi ke Sungai Janiah, melihat ikan larangan.  Acara ini terpaksa ditunda. Kami berkunjung ke Ma'had Syekh Ahmad Khatib menemui ustadz Afdhil, kepala sekolah. Rupanya sekolah libur akhir tahun sejak tanggal 15 kemarin. Kebetulan pula, ustadz Afdhil akan berangkat membimbing jamaah umrah besok. Setelah berbincang-bincang dengan ustadz ini kami ke Biaro untuk membeli cemilan dan air minum untuk di rumah.



Hamizan mengangguk-angguk ketika dijelaskan bahwa ini adalah kampung inyiak dan bukan kampung Hamizan. Kampung Hamizan akan kita kunjungi dalam dua hari ke depan.


Malam itu kami makan malam di rumah makan Pondok Baselo di Batang Air Katiak tidak jauh dari Koto Tuo. Rumah makan yang cukup mentereng ini sepertinya semakin kurang peminat, entah karena apa. 


Syukurlah kami semua bisa tidur nyenyak malam itu, di rumah yang sehari-harinya kosong namun ada yang membersihkan secara rutin. Pagi hari Ahad kami berjalan-jalan di kampung sebelum melanjutkan pelancongan.

****  

Sabtu, 03 Juni 2017

Penerbangan Yang Agak Meletihkan (2)

Penerbangan Yang Agak Meletihkan (2)   

Ternyata tidak mudah untuk tertidur, meski saat itu sudah jam setengah sebelas malam waktu Perancis. Di Pau aku sudah tidur pada jam segini. Mungkin karena lampu menyala dan hampir setiap orang menonton di layar monitornya masing-masing. Akhirnya aku coba pula mengutak-atik monitor di hadapanku dan akhirnya memilih sebuah filem Afrika, yang ceritanya mengenai istri-istri yang mogok melayani suami. Suaranya tidak begitu jelas terdengar di alat bantu pendengarku, tapi itu tidak penting sangat. Padahal aku biasanya tidak terlalu suka menonton film. 

Sudah lewat tengah malam waktu Perancis, atau sekitar jam lima waktu Jakarta. Aku akhirnya mengantuk juga. Sudah tiga jam sejak kami berangkat dari Schiphol dan saat itu pesawat sedang berada di udara Laut Hitam di sebelah utara Turki. Aku mencoba menghitung-hitung jam berapa nanti akan masuk waktu subuh. Jam tanganku yang tidak pernah aku robah jalannya, tetap menunjukkan waktu Jakarta (untuk memudahkan setiap kali berkomunikasi dengan anak-anak dan cucu-cucu di Jatibening). Menurut hitungan-hitunganku waktu subuh akan masuk antara jam tujuh - jam delapan waktu Jakarta, atau sekitar tiga jam lagi dari waktu saat itu.  

Kakiku terasa sangat tidak nyaman meski sepatu sudah aku lepas. Sepertinya kakiku agak bengkak. Tapi alhamdulillah aku tertidur. Sampai istriku membangunkan, memberi tahu bahwa di luar sudah terlihat cahaya siang, meski belum sempurna terang. Dia membuka penutup jendela sedikit. Lampu-lampu dalam pesawat itu semua mati dan sepertinya semua orang sedang tidur. Aku lihat jam tanganku menunjukkan jam setengah delapan. Kami segera mengerjakan shalat subuh, dengan tetap diawali qabliyah subuh. 

Sesudah shalat aku berusaha menggerak-gerakkan kakiku yang tetap terasa tidak nyaman. Agak lama sampai aku bisa tertidur lagi. Dan terbangun di saat pramugari membagikan sarapan. Sarapan yang alhamdulillah tidak mengandung bahan yang mencurigakan. 

Pesawat itu akhirnya sampai di Kuala Lumpur menjelang jam tiga siang waktu Malaysia. Kami yang hanya transit diharuskan juga keluar dari pesawat. Aku memasang sepatu dengan susah payah. Sepatu terasa sangat sempit. Aku berjalan tertatih-tatih dengan sepatu sempit itu. 

Penerbangan dilanjutkan ke Jakarta. Kami mendarat di Jakarta jam setengah enam sore, sesuai dengan jadwal. Kali ini sepatu tidak muat lagi dipakai dan terpaksa bagian belakangnya diinjak. Aku harus menggendong ransel waktu turun. Istriku yang sebenarnya juga tidak terlalu kuat mengambil alih membawa barang tentengan lebih banyak. Aku berjalan dengan sangat sulit turun dari pesawat. Di depan loket imigrasi, aku diarahkan seorang petugas untuk tidak ikut antrian dan disuruh maju ke loket khusus diplomat yang kebetulan kosong. Petugas itu memberi tahu ke petugas di loket bahwa aku sakit. Rupanya dia melihat aku berjalan sangat tertatih-tatih. 

Alhamdulillah, kami sudah sampai dengan selamat. Si Bungsu yang menjemput kami di bandara. Lewat waktu isya, kami sampai di rumah di Jatibening.

****                    

Rabu, 31 Mei 2017

Penerbangan Yang Agak Meletihkan (1)

Penerbangan Yang Agak Meletihkan (1)

Mungkin karena sudah menjelang masuknya bulan Ramadhan, rasanya seperti sudah sedang menjalani puasa. Badan terasa agak letih untuk melalui penerbangan menuju pulang ke Jatibening. Setelah berpisah dengan anak, menantu dan cucu-cucu kami Hamizan dan Fathimah di bandara Blagnac - Toulouse, kami melangkah ke ruang tunggu sebelum menaiki pesawat KLM / Air France dengan nomor penerbangan AF8262.  Pesawatnya adalah peswat dengan cat biru KLM (dengan tambahan tulisan Air France) dengan nomor penerbangan rangkap, ada nomor AF dan ada nomor KLM. Memang seperti itu rupanya kerja sama perusahan-perusahaan penerbangan tersebut. Nanti dalam penerbangan lanjutan ke Jakarta via Kuala Lumpur bahkan ada nomor dengan kode Malaysia dan Garuda. 

Pesawat itu terlambat sekitar seperempat jam dari jadwal take off jam 14.05. Pramugari pesawat berseragam biru KLM. Pemberitahuan di pesawat diumumkan dalam bahasa Belanda, Inggeris dan Perancis, kecuali informasi penyelamatan dalam keadaan darurat yang hanya disampaikan dalam bahasa Inggeris. Penerbangan menuju bandara Schiphol di Amsterdam selama 1jam 50 menit berlangsung dengan aman. Kami turun dari pesawat di Schiphol sudah jam setengah lima sore. Aku kembali menggendong ransel sementara istriku menjinjing tas bawaannya. Kami mempunyai waktu sangat lebih dari cukup sebelum penerbangan lanjutan.

Setelah mengikuti penunjuk 'transit', kami sampai di bagian bandara yang sangat luas. Aku celingak-celinguk mencari panel penunjuk terminal untuk penerbangan. Yang kutemukan hanya panel untuk penerbangan di sekitar Eropah. Akhirnya harus bertanya ke seorang petugas bandara dimana terdapat panel untuk penerbangan ke Asia. Setelah mendapatkan informasi kami mulai menuju ke arah yang ditentukan, ke gerbang F9. Kamipun menuju ke sana dengan santai. Yang eloknya, ada troli khusus yang bisa dipakai dalam bandara. Kami mengambil masing-masing satu seorang. Lumayan daripada menggendong ransel yang beratnya hampir sepuluh kilo. 

Jam delapan sore (masih terang benderang) kami menaiki pesawat sesuai dengan jadwal. Kali ini nomor penerbangan kami adalah AF8399 (sekali lagi dengan nomor KLM, Malaysia dan Garuda dalam penerbangan yang sama). Banyak penumpang orang Malaysia. Sepasang pak cik dan mak cik di belakang kami waktu antrian mau menaiki pesawat bertanya apakah kami juga akan pulang ke Kuala Lumpur, dan aku menjawab kami akan ke Jakarta. Dan aku balik bertanya, apakah mereka baru balik dari melancong ke Amsterdam, dan mereka jawab baru dari tengok anak, je.  

Pesawat itu berangkat tepat waktu. Sesudah terbang hampir satu jam baru masuk waktu maghrib dan kami lakukan shalat maghrib. Sesudah kami selesai shalat, pramugari datang membagikan minuman dan camilan. Dan hampir setengah jam sesudah itu mereka datang mengantarkan makan malam. Pramugari memberi tahu ada pilihan antara pasta dan kentang dengan ayam sebagai menu makan malam. Aku mengingatkan bahwa kami telah memesan makanan halal. Sang pramugara yang melayani kami tampak kebingungan dan memberitahu akan mengeceknya sambil bertanya apakah kami pindah tempat duduk. Kami tidak pindah. Ternyata spesial halal meal itu tidak tersedia. Berbeda dengan seorang penumpang lain persis di depan kami yang memesan vegetarian meal dan mendapatkannya. Aku sempat agak dongkol. Sangat berbeda dengan penerbangan Vietnam Airlines dua tahun yang lalu yang menyuguhi kami dengan makan halal sesuai pesanan.  Kami akhirnya memilih pasta yang di penutupnya tercantum kandungannya. Pasta itu tidak menggunakan daging, melainkan hanya mengandung sayuran (tomat, cincin bawang dan sebagainya) serta susu. Menurut yang tertulis tidak ada unsur yang mencurigakan. Ya bismillah saja, kamipun ikut makan. 

Setelah makan dilanjutkan dengan tidur. Aku melepas sepatu karena kakiku terasa sangat kurang nyaman.   

****
     

Senin, 29 Mei 2017

Perpisahan Dengan Anak Menantu Dan Cucu

Perpisahan Dengan Anak Menantu Dan Cucu

Sesuai dengan rencana, perjalanan kami dimulai dari Pau pada pukul sembilan pagi pada hari Rabu tanggal 24 Mai yang lalu. Mengendarai mobil menantu ditemani mereka sekeluarga lengkap, menuju Toulouse. Perjalanan sejauh 200 km ini sangat enteng rasanya bagi menantuku. Udara cerah sekali pagi itu. Jam sebelas kami sudah sampai di Toulouse. Menantuku mencari tempat parkir umum di sebuah taman dalam kota, yang tidak terlalu jauh dari bandara. Di sana kami beristirahat makan siang yang memang sudah disiapkan dari rumah. Makan dalam mobil. 

Setelah itu langsung menuju ke bandara. Tidak ada kendala kemacetan lalu lintas, Dalam hitungan beberapa menit kami sudah sampai di tempat parkir. Barang bawaan kami, tiga buah koper berukuran kecil, sedang dan besar dengan total berat lebih dari 60 kg, di samping tas tentengan berikut sebuah ransel, dinaikkan ke atas sebuah troli. Lebih berat dari bawaan waktu datang dulu. Kami punya waktu lebih dari cukup untuk check in. Menantu menemani sampai ke tempat check in. Kami mempunyai kelebihan berat karena menurut peraturan KLM kami hanya berhak membawa dua buah koper dengan masing-masing seberat 23 kg maksimum. Koper kecil yang waktu datang dulu dibawa masuk kabin, sekarang tidak mungkin dilakukan dengan cara sama, karena ada pula ransel seberat 10 kg. Ringkasnya kami harus membayar kelebihan bagasi seharga 100 euro.  

Masih banyak waktu sebelum masuk ke ruang tunggu, yang digunakan untuk menemani Hamizan dan Fathimah bermain. Hamizan yang sehari sebelumnya mengatakan, kenapa dia harus ikut mengantar inyiak dan nenek ke Toulouse. Dan waktu ditanya kenapa, jawabnya, soalnya Izan nanti pasti nangis kalau melihat inyiak dan nenek pergi. Lalu kata inyiak, berpisah itu hal yang sangat biasa, Izan. Dan laki-laki itu tidak boleh sering-sering menangis. Dan alhamdulillah, Izan memang tidak nangis. Berbeda dengan waktu kami tinggalkan dua tahun yang lalu, ketika kami berangkat di saat Izan masih tidur di waktu subuh, dan setelah pulang dari sekolahnya, dia uring-uringan dan menangis cukup lama. Hanya Fathimah yang memandang dengan pandangan sedih waktu kami berpisah dan menuju ke ruang tunggu. 

Ternyata barang tentengan kami masih cukup berat. Inyiak dan nenek sama-sama tertatih-tatih membawa ransel dan tas jinjing. Bahkan nenek sempat terjatuh karena tersandung barang bawaan orang lain sesudah pemeriksaan imigrasi. Alhamdulillah tidak terlalu parah, meski dia mengeluh lututnya terasa ngilu sesudah itu. Cukup jauh perjalanan menuju ke ruang tunggu. 

Penerbangan Toulouse - Schiphol Amsterdam terlambat sekitar lima belas menit. Tidak masalah bagi kami karena penerbangan lanjutannya masih 4.5 jam sejak kedatangan di Schiphol. Aku membantu mengurut-urut lutut istriku yang katanya ngilu. Alhamdulillah dia masih bisa berjalan dengan normal.

Waktu kami berangkat, keluarga si Tengah tidak langsung pulang. Mereka pergi dulu melancong ke Bordeaux. Alasannya kalau langsung pulang ke Pau khawatir Hamizan dan Fathimah akan langsung merasa kesepian setelah kepergian kami.  

**** 

Selasa, 23 Mei 2017

Selamat Tinggal Pau

Selamat Tinggal Pau    

Hari ini, Rabu tanggal 24 Mai 2017, sesuai dengan jadwal, kami akan meninggalkan Pau di Perancis Selatan. Tempat tinggal si Tengah dan suaminya serta anak-anak mereka Hamizan dan Fathimah. Setelah bersama-sama selama 48 hari, sejak tanggal 6 April yang lalu. Melewatkan hari-hari yang sangat menyenangkan. Di lingkungan yang damai dan aman. Damai karena di sini aku mendengarkan kicau murai dan terkukunya burung balam di pagi hari. Menyenangkan bercanda dan bermain-main dengan Hamizan dan Fathimah.

Hari-hariku kubuat seperti di Jatibening. Bangun satu jam sebelum masuk waktu subuh. Waktu shalat yang selalu bergeser sekitar dua menit setiap hari. Waktu baru datang di awal April dulu, waktu subuh adalah jam 6.25. Tadi pagi sudah jam 5.07. Pergi shalat berjamaah ke mesjid yang kira-kira 400 meter dari tempat kami tinggal. Dengan mengendarai mobil kalau berdua dengan menantu, atau dengan sepeda kalau pas si menantu ketiduran. Berjamaah dengan kadang-kadang sampai seratus orang. 

Tidak ada masalah untuk keluar rumah di waktu subuh yang dinginnya menusuk. Dan sepulang dari mesjid itulah, di keremangan pagi, terdengar murai berkicau. Dengan kicauan seperti dulu di waktu aku masih kanak-kanak di kampungku. Setelah itu mengaji dan mendengarkan kaji. Menemani menantu dan Izan sarapan sebelum mereka berangkat ke tempat kerja dan ke sekolah.

Dan sudah dibawa meraun kian kemari oleh si menantu. Benar-benar hari-hari yang indah.

Hari ini kami akan tinggalkan Pau. Menuju Toulouse, sekitar 200 km dari Pau. Semua ikut mengantar. Menantu mengambil cuti dan Hamizan diliburkan hari ini. Dari Toulouse kami akan terbang ke Schiphol di Amsterdam dan transit selama 4 jam di sana. Seterusnya ke Kuala Lumpur dan terakhir ke Cengkareng di Jakarta. In sya Allah kami akan sampai menurut rencana hari Kamis besok menjelang maghrib. 

Selamat tinggal Pau. Selamat tinggal jamaah mesjid Pau. Selamat tinggal menantuku, Tengah, cucu-cucuku Hamizan dan Fathimah. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah atas segala nikmat ini.

****                 

Kamis, 11 Mei 2017

Le Train de la Rhune

Le Train de la Rhune   

Aku punya seorang rekan sekerja dulu di Total yang berasal dari Basque. Dia pernah bercerita tentang negerinya, Basque. Pays Basque, yang terletak di bagian utara Spanyol dan barat daya Perancis. Ada kelompok yang menginginkan kemerdekaan sendiri bagi negeri Basque.  Di Spanyol mereka dicap sebagai kaum separatis / pemberontak. Dulu, beberapa belas tahun yang lalu kelompok ini sering membuat kerusuhan dalam usaha mereka memisahkan diri dari Spanyol. Tapi akhir-akhir ini gebrakan mereka sudah tidak terdengar lagi.
Sebagian dari negeri orang Basque terletak di Perancis, sambungan dari yang di Spanyol.  Konon orang Basque mengaku bahwa mereka adalah penduduk lebih asli dari orang Eropah lain. Bahasa mereka sangat berbeda dengan bahasa Perancis atau Spanyol yang serumpun.

Hari Ahad yang lalu kami pergi melancong kesana. Ke kota Rhune. 140 km dari Pau. Menantu bercerita bahwa di sana ada objek wisata, naik kereta api mendaki sebuah bukit. Naik kereta? Aku bertanya dalam hati, mula-mula. Tapi, ya ikut sajalah. Namanya juga dibawa jalan-jalan. Dalam perjalanan ke Rhune kami lalui kota Espelette yang unik, yang mendeklarasikan kotanya sebagai kota cabe. Cabe merah jadi lambang kota ini. Waktu berada di kota ini, kami diingatkan kalau akan pergi ke tempat wisata kereta api harus bersegera karena hari itu pasti penuh dengan pengunjung. 

Kami lanjutkan perjalanan melalui jalan yang relatif sepi. Tapi begitu sampai di dekat lokasi, ternyata benar. Banyak sekali mobil terparkir di pinggir jalan. 

Kami sampai di lokasi dan segera antri untuk membeli karcis. Kereta api itu diberangkatkan setiap 40 menit. Kami harus menunggu hampir satu jam sebelum dapat giliran menaikinya. Aku masih bertanya-tanya dalam hati, apa istimewanya kereta dengan gerbong sederhana ini?
Giliran kami akhirnya datang. Kami naiki gerbong kayu dengan tempat duduk kayu. Seperti kereta api yang aku naiki di kampung setengah abad yang lalu. Sempat terlihat rel kereta bergigi. Tentulah gigi itu diperlukan untuk menanjak ke arah gunung. Ada dua rombongan kereta, masing-masing terdiri dari dua gerbong, ditunda oleh sebuah lokomotif.

Perjalanan itupun dimulai. Kereta itu bergerak pelan. Ada penjelasan dengan tape yang diputar melalui mikrofon tentang kereta gunung ini dalam tiga bahasa, Perancis, Spanyol dan satu lagi kemungkinan  bahasa Basque. Kereta gunung ini diperkenalkan pertama kali di tahun 1924. Sudah lama sekali. Jarak yang akan ditempuh hanya 4.2 km. Tapi kereta ini memerlukan setengah jam untuk melintasinya.

Perjalanan itu ternyata cukup spektakuler. Kereta menanjak, berliku, mendaki cukup tajam untuk mencapai puncak bukit setinggi 900 meter di atas muka laut. Melalui perbukitan berbatu, di pinggir jurang yang cukup terjal. Aku perkirakan stasiun pemberangkatannya di ketinggian 400 meter. Jadi artinya kereta ini menanjak setinggi 500 meter dalam jarak 4 kilometer.

Dari pemberhentiannya kami harus naik tangga lagi untuk sampai ke puncak gunung. Di puncak itu ada lapangan, restoran dan toko souvenir. Kita bisa melayangkan pandangan ke segala arah. Di bawah sana  di sebelah barat terlihat kota Biaritz dan pantai lautan Atlantik. 

Pemandangan yang sangat cantik pada perjalanan yang mendebarkan ini. Keindahan yang dikelola dengan apik dan dipertahankan. Tiket kereta ini lumayan mahal. Tapi pengunjungnya ternyata sangat banyak. Tempat ini hanya dibuka dari pertengan Maret sampai pertengahan November setiap tahun. Dan paling ramai selama liburan musim panas di bulan Juli - Agustus. 

Hari yang sangat berkesan.

****                            

Sabtu, 06 Mei 2017

Perjalanan Keluar Kota Marakesh

Perjalanan Keluar Kota Marakesh     

Hari Kamis kami melakukan perjalanan ke luar kota Marakesh. Ke arah Ourika di sebelah tenggara. Mulanya aku mendengar rencana acara hari itu adalah ke suatu tempat untuk menunggang unta, masih dalam kota. Cucu-cucuku, Izan dan Fathimah sama-sama mengulang-ulang keinginan mau naik unta. Dekat tempat kami menginap memang terlihat unta-unta untuk disewa yang sudah ada tempat duduk (bukan pelana) di punggungnya. Tapi rupanya petugas hotel menyarankan untuk melancong ke Ourika yang katanya ada banyak pemandangan yang pantas dilihat. 

Tempat yang akan dituju sekitar 50 km dari Marakesh. Cuaca sangat cerah. Kami berangkat jam sepuluh pagi dengan mobil yang disewa khusus. Sopirnya pandai berbahasa Perancis. Melalui jalan raya yang mulus dan sangat lancar. Dalam perjalanan itu bung sopir menawarkan untuk mampir di perkampungan Berber. Sebuah tawaran yang menarik. 

Kampung itu terletak persis di pinggir jalan yang kami lalui. Kami menuju ke sebuah rumah yang terletak di tebing jalan. Sebuah rumah kampung sederhana, berdinding tembok tanah liat, bertingkat tiga, mengikuti kontur tebing. Di bagian paling bawah adalah kandang ternak. Ada beberapa buah kandang, berisi sapi, keledai, kambing, ayam dan kelinci. Agak bau tentu saja. Di atas kandang berturut-turut ada ruangan keluarga dan dapur.  Di bagian paling atas ada kamar-kamar tidur, kamar mandi dan ruang terbuka.

Ada seorang (mungkin anggota keluarga) yang fasih berbahasa Perancis, bercerita tentang kehidupan orang Berber di kampung itu. Di samping berbahasa Arab, orang Berber punya bahasa sendiri dan bahkan punya huruf sendiri yang agak mirip tulisan Korea. Agak aneh memang.

Mereka hidup bertani dan berternak. Di rumah ini tinggal beberapa keluarga yang adalah keluarga anak-anak dari sepasang suami istri. Meski hidup sederhana, kelihatan mereka sangat bahagia. Mereka adalah orang-orang yang ramah.
Aku bertanya apakah masih ada orang Berber yang nomaden. Dia bilang sudah hampir tidak ada. Karena sekarang anak-anak mereka juga harus bersekolah.  Penampilan fisik orang Berber tidak ada bedanya dengan orang Maroko lainnya. Aku teringat informasi dari Abdul Aziz, kemarin bahwa orang Berber diduga berasal dari jazirah Arab. Mereka datang sebagai penggembala kambing yang hidup nomaden.

Ada rombongan lima orang turis Perancis yang datang sesudah kami. Sepertinya mereka sudah membuat perjanjian sebelum kedatangannya. Tuan rumah menyiapkan teh dengan mint khusus untuk turis-turis yang baru datang itu. Mereka terlibat dalam obrolan sambil duduk di ruang tamu. Kami juga ditawari untuk minum teh, tapi kami tolak. 

Kami tinggalkan rumah keluarga Berber itu untuk melanjutkan perjalanan. 

Berikutnya kami berhenti di sebuah lapangan di mana tertambat beberapa ekor unta. Ada beberapa pedagang souvenir kaki lima. Dan beberapa orang pengunjung. Di sini acara menunggang unta itu akan dilakukan. Di belakang tanah lapang ini ada sebuah lembah dengan sungai mengalir.

Mula-mula aku menerima tawaran menantu untuk ikut mencoba menunggang unta. Aku dan istri mencoba naik ke punggung unta. Tapi melihat jalan yang akan dilalui turun ke  lembah, nyaliku jadi ciut dan akhirnya membatalkan keikutsertaanku. Begitu pula dengan istriku. Jadinya kami hanya menonton saja acara menunggang unta itu. Si Tengah dengan Hamizan dan menantu dengan Fathimah. Mereka tidak ada takutnya.

Setelah acara menunggang unta perjalanan dilanjutkan lagi. Sopir kami bercerita tentang tumbuhan argan yang diusahakan penduduk untuk memproduksi minyak argan. Dia menawarkan kalau kami mau mampir di sebuah koperasi tempat pemerosesan biji argan tersebut. Kami menyetujuinya. 

Kami berhenti dekat sebuah bangunan besar di pinggir jalan. Disambut seorang wanita yang rupanya jadi pimpinan di sana. Kami dibawa masuk dan menemukan kumpulan wanita-wanita yang sedang bekerja memeroses biji argan.
Tumbuhan tersebut menghasilkan buah yang diambil bijinya. Biji tersebut dikeringkan, lalu ditumbuk untuk seterusnya digiling dengan peralatan sederhana. Minyak argan digunakan untuk bahan kosmetik di samping untuk obat. Wanita pimpinan itu bercerita tentang berbagai khasiat dari minyak argan untuk menyembuhkan penyakit kencing manis, darah tinggi dan menurunkan kolesterol. 

Masih menurut wanita itu, tanaman argan hanya bisa tumbuh dan berbuah di daerah mereka itu saja. Pernah dicoba menanamnya di tempat lain tapi sejauh ini tidak pernah ada yang berhasil.

Dari sana kami masih melanjutkan lagi perjalanan. Menurut sopir ada sebuah air terjun di tujuan berikutnya. Kami menuju ke sana, sampai di suatu area di pinggir sungai. Banyak restoran di sana dan bahkan ada tempat makan di pondok-pondok di tepi sungai. Kendaraan tidak boleh lagi maju lebih jauh. Sopir itu mengatakan untuk mencapai air terjun kita harus berjalan kaki sekitar setengah jam. Kami sudah terlalu letih untuk berjalan kaki lagi di udara yang cukup panas. Kunjungan ke air terjun terpaksa dibatalkan. Kami beristirahat makan siang di tempat itu, sebelum kembali pulang ke Marakesh.

****                

Kamis, 04 Mei 2017

Mengunjungi Tempat-tempat Khusus Dengan Pemandu Wisata

Mengunjungi Tempat-tempat Khusus Dengan Pemandu Wisata 

Hari Rabu kami melakukan kunjungan ke tempat-tempat khusus di kota Marakesh dipandu seorang pemandu wisata. Sang pemandu, orang Maroko asli bernama Abdul Aziz, sangat ramah. Kami bertemu dengannya di dekat mesjid jami' Kutubiyah. Dia langsung memulai ceritanya tentang mesjid itu, yang dibangun di penghujung abad ke dua belas. Sebuah mesjid yang mempunyai keistimewaan di kerajaan Maroko. Kutubiyah berarti 'penjual buku', konon mempunyai koleksi buku-buku tentang Islam. Mesjid ini mempunyai menara setinggi 77 meter. Diatur oleh undang-undang bahwa tidak ada bangunan yang boleh lebih tinggi dari menara mesjid ini di kota Marakesh. 

Sayangnya, kami hanya bisa mendengar cerita Abdul Aziz tentang keindahan dan keutamaan mesjid Kutubiyah karena kami tidak bisa melihat keadaan di dalamnya, kecuali kalau kami datang di saat waktu shalat. Karena peraturan yang ditetapkan raja Muhammad VI, semua mesjid di Maroko hanya boleh dibuka di waktu-waktu shalat dan sesudah shalat harus dikunci kembali. Aku menanyakan apa alasan penutupan mesjid di luar waktu shalat dan kami terlibat dalam debat dengan Abdul Aziz tentang peraturan itu. Dia hanya mengatakan bahwa hal tersebut diperintahkan raja, dan tidak ada seorangpun yang berani menyanggahnya.

Kami lanjutkan perjalanan di pagi itu menuju istana Bahia. Melalui quartier juif alias kampung Yahudi. Abdul Aziz menceritakan bahwa dulu di sini bermukim orang-orang Yahudi Maroko dengan tenteram. Mereka berperawakan, berpakaian, memakan makanan yang sama seperti orang Maroko lainnya. Yang membedakan hanyalah bahwa mereka menutup tokonya di hari Sabtu. Sekarang orang-orang Yahudi itu sebahagian besar sudah beremigrasi ke Israel, namun tetap secara berkala pulang ke Maroko. Mereka membahasakan bahwa raja Maroko adalah raja mereka dan Maroko adalah tanah air mereka. Abdul Aziz menambahkan bahwa saat ini 8 orang menteri Israel adalah orang Yahudi Maroko. Waktu dia begitu bersemangat bercerita tentang Yahudi Maroko, aku bertanya dengan canda, apakah dia seorang Yahudi? Bukan, jawabnya. Saya asli Maroko dan Islam. Saya sudah pergi haji....

Kami sampai di istana Bahia. Istana (disebutnya palais, palace) tapi bukan untuk tempat tinggal raja, melainkan untuk perdana menteri, Sidi Musa. Istana ini dibangun di akhir abad sembilan belas, diberi nama Bahia, seperti nama istri perdana menteri Musa, yang memberinya anak laki-laki pertama. Dari luar tidak terlihat istimewa, tapi di dalamnya cukup mengagumkan. Menurut Abdul Aziz, penampakan sederhana dari luar ini adalah sebagai sikap tidak suka pamer.
Istana ini menempati tanah seluas 8000 meter persegi, mempunyai puluhan kamar-kamar, taman-taman dan air mancur. Ada kamar untuk keempat istri Sidi Musa di samping kamar lain untuk para selir. Bagian dalam istana ini dihiasi dengan kalighrafi serta mosaik keramik yang disusun dari potongan keramik-keramik kecil yang dikerjakan ahlinya yang berasal dari Fes. Luar biasa juga hebatnya perdana menteri Sidi Musa ini. Selama masa protektorasi Perancis, istana ini ditempati oleh gubernur Perancis. Gubernur ini menambahkan cerobong asap (chimney) yang menurut pendapat Abdul Aziz sangat dipaksakan dan justru memperburuk keindahan istana. Saat ini istana tersebut hanya jadi cagar budaya dan kelihatan rusak di beberapa tempat. Abdul Aziz menjelaskan bahwa furniture dan permadani istana ini sudah tidak ada lagi karena sebahagian besar hilang dicuri orang.

Seterusnya kami mengunjungi madrasah Bin Yusuf. Perlu diketahui bahwa semua objek yang kami kunjungi terletak di dalam kota lama (Medina) dan kami berjalan kaki untuk mencapainya, melalui pasar tradisional yang sangat luas. Jarak dari Istana Bahia ke madrasah sekitar 3 kilometer. 

Madrasah ini dibangun oleh salah satu raja Maroko, yakni Sultan Ali bin Yusuf yang memerintah antara tahun 1106 - 1142. Dengan pergantian waktu, sejak abad ke empatbelas, madrasah ini berubah menjadi sebuah universitas untuk pendidikan agama Islam dan merupakan yang terbesar di Maroko dan bahkan termasuk yang paling baik di Afrika Utara. Sebagian besar ulama Maroko berasal dari sekolah ini. 

Bangunan besar ini disamping mempunyai ruang belajar, mesjid, taman (lapangan) serta kolam tempat bersuci mempunyai 130 buah kamar untuk para santrinya. Kamar-kamar berukuran kecil sekitar 10 sampai 12 meter persegi. Ada yang mempunyai jendela dan ada yang tidak. Kamar-kamar itu benar-benar digunakan untuk tempat tidur saja, karena sehari-harian para santri berada di ruang belajar atau mesjid. 

Sayang sekali bahwa sarana pendidikan ini akhirnya ditutup di tahun 1962 karena, pemerintah memperkenalkan sistim pengajaran baru bahkan untuk sekolah berbasis agama. 

Bangunan ini direnovasi dan dibuka kembali sebagai peninggalan sejarah sejak tahun 1982. Kondisinya sekarang terlihat kurang terpelihara. Abdul Aziz mengatakan karena pemerintah tidak mempunyai cukup dana untuk memeliharanya lebih layak.

Demikian kunjungan kami ke objek sejarah kota Marakesh di hari itu, yang kami lakukan sejak jam sepuluh pagi dan berakhir jam empat sore.   

****