Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendapat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendapat. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Juni 2020

Karena Corona 8 (habis)

Karena Corona 8 (habis) 

Ada seorang jamaah mesjid kami, warga komplek yang rajin mengirim postingan tentang agama melalui WA kepadaku. Meski kadang-kadang kiriman yang sama sudah pernah aku terima dari grup lain. Aku agak jarang mengomentari atau membalas postingannya. Selama beberapa bulan terakhir, sebagaimana sebagian besar jamaah warga komplek, beliau inipun absen dari mesjid di komplek. 

Hari Kamis yang lalu beliau mengirim info WA tentang akan dimulainya kembali shalat berjamaah di mesjid X (di lingkungan tempat dahulu beliau pernah tinggal) dan bahwa shalat Jum'at akan diadakan kembali hari Jum'at tanggal 5 Juni. Aku tidak mengomentari info seperti ini. Dalam hati aku berkomentar, syukurlah kalau mesjid X akan kembali difungsikan.

Dua hari kemudian beliau kembali mengirim postingan foto, suasana subuh di mesjid X, di tambah catatan pasca 'libur' Covid 19. Aku tidak tahu kenapa beliau mesti jauh-jauh pergi shalat subuh ke mesjid X. Membaca catatan sesudah 'libur' Covid 19 itu, tanganku gatal ingin sedikit berkomentar. Dan aku tulis, 'Syukurlah sudah kembali dari libur. Kami di mesjid di sini tidak kebagian libur.' Entahlah kalau jawabanku ini dinilai lancang. Yang jelas, sesudah itu beliau membalas agak panjang, mengatakan bahwa beliau bersyukur karena Allah telah memberi kesempatan mengamalkan perintahNya dan sekaligus sunnah NabiNya dan sunnah khalifatur rasyidin yaitu mentaati Allah, mentaati Rasul dan ulil amri, dengan mengisolasikan diri dari penularan waba yang melanda dunia, mengikuti fatwa seluruh lembaga fatwa ulama resmi  di seluruh dunia dan sesuai faham ahlus sunnah wal jama'ah, serta berlepas diri dari paham jabariyah maupun qadariyah.....

Nah lho.... Mula-mula aku geli membacanya. Kok jauh amat, ya?

Tapi akhirnya aku merasa bahwa aku harus menjelaskan. Karena mungkin banyak juga yang lain yang menyangka bahwa aku penganut paham jabariyah / qadariyah. Itulah awal dari penulisan catatan ini dari nomor satu sampai nomor delapan ini. 

Aku bukannya tidak menerima fatwa para ulama (dalam hal ini MUI). Seperti yang sudah kutulis, salah satu aturan yang disebutkan fatwa itu adalah, kalau anda sehat dan anda berada di lingkungan yang aman, anda tetap harus pergi ke mesjid shalat berjamaah. Itu yang aku patuhi.

Apakah aku mengingkari perintah ulil amri? Tidak, aku mencernanya dengan hati-hati. Buktinya, sebelum bulan puasa walikota memerintahkan (aku memahaminya sebagai menghimbau) agar tidak beraktifitas di mesjid. Ternyata sebulan kemudian, walikota menyatakan bahwa kelurahan kami berada di jalur hijau, silahkan kalau mau melaksanakan shalat Id. 

Wallahu a'lam....

**** 

                  

Karena Corona 7

Karena Corona 7

Alhamdulillah bahwa kami tetap dapat berjamaah di mesjid. Tetap dapat melanjutkan shalat tarawih setiap malam. Meski dengan jumlah jamaah terbatas. Rata-rata hanya sekitar dua puluh lima orang, termasuk sekitar lima orang jamaah ibu-ibu. Ibadah malam bulan Ramadhan ini memang dilakukan dengan sangat sederhana. Tidak ada ceramah Ramadhan. Tidak ada tadarus al Quran. Jam delapan lebih sedikit kami sudah selesai shalat tarawih termasuk witir sebelas rakaat. Agak menyesak juga sebenarnya melalui malam-malam Ramadhan seperti itu. 

Tidak ada acara penggalangan dana untuk berbuka bersama serta santunan anak yatim. Padahal acara ini biasanya selalu dilakukan tiap tahun. Dan tidak ada i'tikaf di sepuluh malam terakhir.

Shalat Jum'at tetap dapat dilaksanakan setiap hari Jum'at. Mendekati akhir Ramadhan, ada yang bertanya bagaimana nanti kita melaksanakan shalat Id. Aku bilang, kita tunggu saja pengumuman dari DKM. Kalau DKM melaksanakan, tentu akan dilakukan di lapangan barat Komplek. Tapi seandainya DKM tidak akan mengurusnya, kita saja melakukan di mesjid in sya Allah.

Dua hari terakhir puasa, ada kejutan yang datang dari kantor walikota Bekasi. Kelurahan kami dinilai berada di jalur hijau jadi boleh melaksanakan shalat Id. Alhamdulillah. Tapi DKM maupun panitia Ramadhan mesjid tidak bereaksi untuk mengkoordinir pelaksanaan shalat Id. Jadi kami para jamaah yang aktif selama Ramadhan saja yang menyiapkan.

Shalat Id akan dilakukan di mesjid, dimulai jam 6.30 hari Ahad, hari Idul Fitri. Khatib adalah dari warga yang biasa menjadi khatib shalat Jum'at. Kepada jamaah yang hadir di mesjid dianjurkan untuk menyampaikan rencana shalat Id itu kepada warga yang lain. Dengan persyaratan agar diingatkan, membawa sajadah masing-masing, harus memakai masker dan menjaga jarak di dalam shaf.

Semuanya dilaksanakan sesuai rencana. Satu-satunya pengumuman yang meski tidak disampaikan melalui mimbar, tapi langsung disampaikan oleh marbot mesjid dengan berteriak berulang-ulang, agar sesudah selesai shalat dan mendengar khotbah, jamaah jangan saling bersalaman. Jamaah ibu-ibu jangan saling berpelukan.

****            

Minggu, 07 Juni 2020

Karena Corona 6

Karena Corona 6 

Jamaah shalat subuh hari Sabtu pagi agak sedikit lebih banyak dari biasanya. Ada pak ketua RW dan bapak-bapak lain yang mungkin memang diajak oleh ketua DKM. Tapi ketua DKM sendiri tidak ikut shalat subuh berjamaah dengan kami. Sesudah shalat dan berzikir kami duduk berlingkar dalam sebuah lingkaran besar dengan jarak sekitar satu meter antara masing-masing. Setelah menunggu beberapa saat, ketua DKM datang sendirian.

Rapatpun segera dimulai. Ketua DKM dipersilahkan menyampaikan maksud pertemuan pagi itu. Beliau menyampaikannya dengan agak terbata-bata. Ketua DKM sempat diinterupsi oleh dua jamaah sambil mengingatkan agar langsung ke pokok masalah. Setelah beliau berbicara yang tetap tidak terlalu jelas maksudnya, aku berbicara. Aku menjelaskan bahwa rencana penutupan mesjid dan bahkan sudah dilaksanakan kemarin sore adalah suatu tindakan yang terburu-buru. Seandainya memang akan dilaksanakan, seyogianya DKM memberikan penjelasan dulu kepada jamaah  untuk mensosialisasikannya. Bukan langsung bertindak seperti kemarin sore. Aku mengatakan bahwa melalui pesan WA aku memang mengatakan, kunci sajak mesjid kalau memang akan melarang kegiatan, sebenarnya harus dibaca sebagai kalimat kekesalan. Seandainyapun dianggap bahwa itu merupakan usulan, adalah lebih bijaksana untuk menjelaskan terlebih dahulu kepada jamaah mesjid.

Sekarang cobalah jelaskan, apa alasannya menutup mesjid, padahal tidak ada kejadian  mengkhawatirkan selama kami tetap hadir secara teratur ke mesjid sejak sebulan yang lalu. Jawabnya, karena surat edaran dari walikota Bekasi itu. Aku jawab, surat edaran walikota itu seharusnya difahami sebagia himbauan. Tidak ada hak walikota melarang siapapun menjalankan ibadah. Dan kita harus menyesuaikan dengan kondisi di lingkungan kita. Apakah di lingkungan kita saat itu memang ada ancaman nyata?

Seorang jamaah menambahkan, agar dipelajari apakah yang disampaikan walikota itu mempunyai kekuatan hukum, karena jangan sampai dikatakan nanti kita melanggar hukum. 

Jamaah lain menyatakan pendapatnya bahwa yang disampaikan walikota memang hanya himbauan. Mungkin saja nanti bisa jadi masalah kalau di lingkungan kita ditemukan kasus yang tertular melalui mesjid. 

Aku jelaskan pula dengan keberhati-hatian kita, dengan setiap jamaah menggunakan masker, menjaga jarak, melarang yang tidak sehat datang ke mesjid, selama sebulan terakhir, alhamdulilah kita aman saja. Kita akan tetap pertahankan agar aturan-aturan itu dipatuhi. Dan semua jamaah yang hadir ke mesjid bertanggung jawab untuk dirinya masing-masing.  

Rapat yang sempat agak panas di subuh yang dingin itu, alhamdulillah akhirnya selesai dengan kesimpulan, DKM menarik kembali peraturan menutup mesjid. Artinya kami tetap bisa melanjutkan beribadah di mesjid. 

(Bersambung...)

Karena Corona 5

Karena Corona 5 

Kami melewatkan hari demi hari dengan tetap berjamaah shalat fardhu di mesjid. Sampai suatu hari, beberapa hari menjelang bulan Ramadhan datang surat dari walikota Bekasi  yang menginstruksikan agar semua kegiatan beribadah di mesjid dihentikan. Mungkin yang benar-benar diarah adalah pelaksanaan shalat tarawih, namun dalam surat itu disebutkan semua kegiatan termasuk shalat fardhu, shalat Jum'at dan pengajian-pengajian. Tujuannya konon untuk memotong rantai penyebaran virus corona. Surat itu diedarkan ketua RW dalam bentuk file PDF melalui WA. 

Ketua DKM ingin melaksanakan 'perintah' tersebut. Dibuatlah draft surat yang akan disebarkan kepada jamaah tentang rencana menghentikan semua kegiatan di mesjid. Draft itu dikirim sekretaris DKM via WA kepadaku, sambil meminta tanggapanku. Aku kebetulan adalah penasehat pengurus DKM. Aku tidak menanggapinya. Pesan yang sama dikirim ulang kepadaku. Akhirnya aku telepon sekeretaris DKM itu dan aku jelaskan aku tidak bisa memberikan tanggapan apa-apa karena aku mengerjakan semua yang dilarang itu. Setelah berbicara dengan sekretaris aku berpikir bahwa seharusnya aku menjawab atau memberi tanggapan atas draft surat yang akan diedarkan itu melalui grup WA pengurus mesjid. 

Dan itulah yang aku lakukan. Namun dengan bahasa yang ternyata kurang tegas. Aku tulis bahwa sudah sekian minggu kami shalat berjamaah di mesjid tanpa masalah, bahkan tadi malam sudah kami awali shalat tarawih dan siang ini kami akan tetap melaksanakan shalat Jum'at. Kenapa sekarang tiba-tiba ada rencana mesjid mau ditutup. Kalau mau ditutup juga, gembok saja sekalian dan jangan kumandangkan azan. Yang aku tulis ini sebenarnya adalah ungkapan merajuk, dan ternyata disanalah salahnya.

Sesudah shalat ashar hari Jum'at, hari pertama puasa, marbot mesjid memberitahuku bahwa mulai maghrib nanti mesjid akan ditutup dan pagar mesjid akan digembok. Aku dikerumuni oleh beberapa orang jamaah, menanyakan apa yang harus dilakukan. Sebenarnya akupun agak emosi mendengar berita dari marbot itu. Kok begitu cara yang ditempuh DKM? Untunglah aku sadar bahwa aku sedang puasa. Aku sarankan salah seorang jamaah yang masih muda untuk mendatangi ketua DKM, meminta datang untuk berdiskusi nanti ba'da maghrib tentang rencananya itu. 

Terjadi komunikasi WA antara anak muda yang aku tugasi dan ketua DKM. Ketua DKM akan berusaha untuk hadir nanti habis maghrib dengan beberapa pengurus. Tapi kemudian diralat, karena waktu sehabis maghrib terlalu singkat, dan kita akan berbuka puasa, jadi dipindahkan ke besok ba'da subuh. Akupun dikirimi pesan WA tentang rencana pertemuan itu oleh ketua DKM.    

Sesudah berbuka, aku seperti biasa bergegas mau shalat maghrib ke mesjid. Apa yang terjadi? Ternyata pagar mesjid digembok dan pintu mesjid tentunya juga dikunci. Aku terperangah. Lalu kembali pulang. Di jalan berpapasan dengan seorang jamaah yang sedang menuju ke mesjid. 

Sesudah shalat maghrib aku telepon anak muda yang tadi sudah berkomunikasi dengan ketua DKM. Katanya dia sudah dapat jaminan dari ketua DKM bahwa penutupan mesjid sementara ditunda. Namun marbot yang tadi diperintah mengunci dan menggembok pagar tidak berani membuka kembali tanpa perintah ketua DKM. Untunglah, ringkas cerita, mesjid dapat dibuka kembali sebelum masuk waktu isya. Dan malam itu kami dapat melaksanakan shalat tarawih hari kedua.

(Bersambung...) 

Sabtu, 06 Juni 2020

Karena Corona 4

Karena Corona 4   

Seseorang menanyakan apakah aku pernah mendengar ceramah ustadz kondang X yang menjelaskan kenapa kita sebaiknya tidak ke mesjid dan cukup shalat di rumah saja. Aku tanyakan ceramah yang mana? Dia menjelaskan, ceramah yang mengingatkan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang lari dari wabah seperti kita harus lari ketika melihat singa, katanya.

Aku diam. Dia lanjut bertanya, apakah anda tidak percaya dengan hadits tersebut? Hadits tersebut shahih, diriwayatkan dari Abu Hurairah oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Saya percaya, jawabku. Nah, kenapa dong? Kok anda masih tetap tidak mau shalat di rumah saja? tambahnya.

'Begini,' kataku mecoba menjelaskan.  

'Aku mengimani hadits itu apa adanya. Jika aku melihat singa aku akan berusaha menghindar.' 

'Lari... perintahnya lari, bukan menghindar. Jangan kau robah...' dia memotong pembicaraan dengan semangat.

'Begini, mas. Bagaimana dan kemana anda akan lari jika anda tidak mengamati keadaan dengan baik. Anda lihat singa. Sebelum lari anda harus tahu beberapa hal. Apakah singa itu sedang mendekat mengincar anda atau hanya sekedar duduk di kejauhan atau mungkin sedang melangkah ke arah berlawanan. Seandainya dia sedang bergerak ke arah anda, anda tetap harus berpikir, kemana anda akan lari. Apakah tidak mungkin dia akan dapat menyusul dan menangkap anda. Jadi perlu pemikiran yang jelas  meski harus diambil dalam waktu singkat.'

Dia terdiam.

'Sekarang virus Corona. Anda harus tahu dimana keberadaannya dan sedang bagaimana dia?'

'Sedang apa dia? Kan anda lihat sendiri dia sedang mengamuk. Sudah banyak korban,' dia kembali memotong pembicaraan.

'Aku tahu dia sedang mengamuk di tempat lain, tapi alhamdulillah di tempatku belum. Mudah-mudahan jangan sampai.'

'Justru karena itu kita berusaha menyelamatkan diri. Kita menghindar. Jadi kita tidak datang ke kerumunan orang. Termasuk ke mesjid. Karena bisa saja ada yang membawanya ke mesjid. Kita berdiam diri di rumah,' katanya pula.

'Seandainya ada yang tidak sengaja membawanya ke dekat kita di mesjid, kan kita sudah berikhtiar melindungi diri. Kita tidak saling bersinggungan. Kita pakai masker. Kita bawa sajadah masing-masing. Kita sering-sering mencuci tangan. Ikhtiar seperti itu in sya Allah sudah cukup.'

'Anda yakin itu sudah cukup?'

'In sya Allah yakin. Seandainya ada orang lain pembawa virus ikut shalat di mesjid, tapi dia memakai masker, seandainya pula dia bersin, in sya Allah virusnya tidak akan berterbangan kemana-mana. Dan seandainya pula ada orang yang shalat dekat anda, sudah memakai masker, kebetulan dia bersin, segera sesudah shalat anda cuci tangan muka anda pakai sabun, lakukan istinsya' menghirup air dengan hidung dan menghembuskannya kembali. Dan yang lebih penting anda berdoa kepada Allah sesudah itu minta perlindungan. Kan cukup...'

Dia terdiam.

(Bersambung...)

Karena Corona 3

Karena Corona 3   

Kepada jamaah yang hadir shalat berjamaah aku ingatkan agar, senantiasa menjaga jarak, tidak saling bersentuhan (tidak bersalaman) dan jika sedang kurang sehat, karena sakit apapun agar tidak hadir ke mesjid. Di lantai mesjid yang sekarang tidak ada karpet dibuat garis hitam penunjuk shaf dan ditandai setiap satu meter. Satu shaf yang dalam keadaan normal diisi 20 jamaah, sekarang hanya untuk maksimum sepuluh orang saja.

Di antara duapuluhan orang yang tadinya setuju untuk tetap melaksanakan shalat berjamaah di mesjid, ada yang berobah pikiran. Salah seorang mengirim pesan WA kepadaku, memberitahu bahwa dia tidak akan ikut lagi berjamaah karena ingin mematuhi pendapat ustadz kondang. Ustadz kondang itu pasti jauh lebih tinggi ilmunya dari kita jadi wajib ditaati. Begitu katanya.  Aku tidak membalas komentarnya melalui WA itu.

Kami sekitar limabelas orang tetap istiqamah shalat fardhu lima waktu ke mesjid. Menjelang hari Jum'at tanggal 4 April aku ingatkan jamaah, insya Allah kita tetap akan melaksanakan shalat Jum'at dengan jamaah yang ada, karena bukankah kita juga hadir setiap kali melaksanakan shalat zhuhur. Padahal DKM tidak lagi mendatangkan khatib dari luar.  Hanya saja di hari Jum'at itu tidak akan diputar kaset murottal Al Quran pada jam setengah sebelas (biasanya sebagai pengingat bahwa hari itu adalah hari Jumat), tidak azan dua kali (azan pertama biasanya untuk mengingatkan orang agar segera hadir ke mesjid, biasanya dilakukan sekitar setengah jam sebelum masuk waktu) dan tidak akan ada pengumuman apapun sebelum khotbah.  

Demikianlah shalat Jum'at itu kami lakukan, dengan khotbah ringkas sekitar sepuluh menit. Ternyata yang hadir shalat Jum'at bukan saja kami yang limabelasan orang. Mesjid dipenuhi jamaah dengan masing-masing menjaga jarak. Mungkin hadir sekitar 70 sampai 80 orang. Untuk perbandingan, dalam keadaan normal jumlah jamaah bisa sampai 200an orang, yang sebagian datang dari luar komplek.

Tapi sementara itu bagaimana perkembangan sang corona? Aku tetap memonitornya. Ada beberapa kelurahan di kota Bekasi yang sudah terdeteksi ada pengidapnya. Tapi di kelurahan kami belum ada kasus. Berita mengenai korban yang meninggal akibat corona, dan proses pemakaman mereka yang harus dilakukan secara khusus berseliweran di media sosial. Membaca atau mendengar berita seperti itu memang sangat mengganggu konsentrasi.  

Tapi alhamdulillah, kami yang sekitar limabelasan orang tetap istiqamah untuk hadir ke mesjid lima kali sehari. Kami tetap melaksanakan shalat Jum'at setiap hari Jum'at. Ada dua orang yang bergantian menjadi khatib. Dan setiap shalat Jum'at dihadiri oleh jamaah yang lebih banyak.

(Bersambung...) 


Karena Corona 2

Karena Corona 2  

Akhir bulan Maret jamaah mesjid menurun cukup kentara. Bahkan ada yang mengusulkan agar shalat Jum'at tanggal 27 Maret ditiadakan saja. Tapi pengurus Mesjid yang bertugas menghubungi khatib sudah melakukan tugasnya dan khatib untuk Jum'at itu sudah menyatakan kesediannya untuk datang. Alhamdulillah, shalat Jum'at hari itu tetap terlaksana. 

Kenapa jamaah mesjid berkurang? Karena ada fatwa MUI dan penjelasan beberapa ustadz kondang yang menyampaikan bahwa shalat berjamaah di mesjid untuk sementara dihentikan termasuk shalat Jum'at tentu saja. Ustadz-ustadz kondang itu bahkan mendeklarasikan bahwa beliau sudah melakukannya, tidak lagi berjamaah ke mesjid, tapi shalat di rumah saja. Sementara khatib Jum'at tanggal 27 Maret itu menjelaskan bahwa fatwa MUI itu tidaklah sedahsyat yang disampaikan oleh ustadz-ustadz kondang di media sosial itu.

Karena penasaran aku berusaha mencari tahu apa isi fatwa MUI itu. Aku menemukan penjelasan dari seorang ustadz kondang yang lain yang membacakan dan menguraikannya. Aku menyimaknya dengan seksama. Intinya adalah, ada tiga kondisi yang harus diperhatikan sebagai berikut; 

1. Jika anda disinyalir pengidap dan pembawa virus maka anda jangan datang ke mesjid.

2. Kalau anda sehat tapi di lingkungan tempat tinggal anda wabah itu sedang berjangkit, maka anda jangan ke luar rumah.

3. Kalau anda sehat dan lingkungan tempat tinggal anda aman, tidak ada yang terjangkit, maka anda tetap harus berjamaah ke mesjid. 

Aku cukup faham meski ada juga pertanyaan, seberapa luas cakupan lingkungan tempat tinggal itu. 

Sementara itu pengurus mesjid (DKM) membuat angket dengan pilihan antara setuju dan tidak setuju kegiatan di mesjid dihentikan dan mesjid ditutup alias dikunci. Untuk mendukung angket itu disampaikan pula informasi tentang beberapa mesjid di persekitaran komplek kami yang sudah ditutup. Angket itu disampaikan melalui pesan WA. Sudah ada 11 orang yang menyatakan agar mesjid ditutup dan tidak satupun yang memilih sebaliknya. 

Pada suatu kesempatan shalat maghrib aku sampaikan berita tentang angket itu. Sebagian besar jamaah yang hadir mengatakan bahwa mereka tidak punya WA. Aku mengusulkan agar mereka menentukan pilihannya yang ditulis di kertas. Hasilnya, 24 orang jamaah menyatakan tidak setuju mesjid ditutup. Hasil itu aku sampaikan ke ketua DKM. Alhamdulillah, kegiatan shalat berjamaah tetap dilaksanakan seperti biasa.

(Bersambung...)

Karena Corona 1

Karena Corona 1  

Sebenarnya agak malas aku menulis cerita ini.... Tapi ya, sudahlah, mungkin ada juga perlunya.....

Di pertengahan bulan Maret yang lalu, kita sama-sama dikagetkan oleh kehadiran virus Corona atau disebut juga Covid 19. Virus yang mula-mula  muncul di negeri Cina di sekitar bulan Oktober tahun lalu, dan kala itu sedang mengamuk di Italia. Virus ganas dan mengerikan itu telah memasuki hampir semua negara. Indonesia yang baru mengumumkan bahwa kehadirannya terdeteksi di awal bulan Maret, meski ada yang berpendapat mungkin sudah lebih awal lagi. Kehadiran virus ini jadi bahasan semua orang termasuk para ustadz. Kita semua ketakutan. Betapa tidak, ada tayangan yang disebarkan melalui media sosial, bagaimana para petugas keamanan di Italia kewalahan mengantar berpuluh-puluh jenazah ke pemakaman setiap hari. Dan menurut berita para penderita itu mengalami sakit luar biasa, kesulitan bernafas dan terpaksa harus menggunakan alat bantu pernafasan, sebelum sebagiannya berakhir dengan kematian. 

Salah satu ustadz yang rutin mengisi pengajian di mesjid kami mengajarkan doa untuk minta perlindungan Allah dari ancaman wabah mengerikan itu. Berdoa adalah sesuatu yang sangat dianjurkan. Mintalah pertolongan dan perlindungan Allah.

Meski kebanyakan jamaah mesjid sudah mulai resah, beberapa dari kami mencoba memikirkan cara menghindar. Kami fahami bahwa virus itu menyerang saluran pernafasan melalui hidung. Seandainya dia sudah hinggap di hidung seseorang maka dia akan memerlukan waktu empatbelas hari untuk sampai ke paru-paru, berkembang biak di sana dan menutupi saluran-saluran halus paru-paru. Bagaimana dia berpindah atau menular dari satu ke lain orang? 

Seseorang yang sudah dihinggapi virus meski mungkin belum sakit parah, tangannya biasa menyentuh hidungnya lalu tangan itu dipakai bersalaman dengan orang lain, maka niscaya orang lain ini akan mulai berpotensi dihinggapi virus. Di saat dia mengusap mukanya atau hidungnya yang tadi dipakai bersalaman belum dicuci. maka virus akan hinggap di hidungnya pula. 

Atau bila seseorang yang sudah membawa virus, lalu dia bersin, artinya dia memercikkan butir-butir mengandung virus dari hidungnya, lalu butir-butir itu hinggap di tubuh orang lain, maka orang lain ini akan berkecenderungan tertular. Atau dia itu bersin dan butir-butir mengandung virusnya menempel di lantai atau di karpet, lalu orang lain sujud di karpet itu maka orang lain akan dengan mudah tertular.

Jadi kesimpulan sementara, hindari saling bersentuhan. Tinggalkan kebiasaan bersalaman (apa boleh buat). Jaga jarak satu dengan yang lain. Bahkan ada yang menetapkan jarak itu harus sekitar satu setengah meter. Kenapa, karena radius satu setengah meter itu akan tercemar seandainya dia bersin. Lalu karpet mesjid harus dibongkar karena berpotensi menjadi tempat bersemayam virus. Ada yang mengatakan di karpet virus dapat bertahan sekian jam.

Dan itupun dilakukan semua. Menghindari bersentuhan, menjaga jarak dalam shalat (jadi tidak lagi merapatkan shaf), membongkar karpet mesjid. Namun sebagian jamaah mesjid mulai ragu-ragu untuk hadir ke mesjid. 

(Bersambung.....)           

Jumat, 20 Maret 2020

Corona Dan Fatwa

Corona Dan Fatwa  

Alhamdulillah, siang ini kami tetap melaksanakan shalat Jum'at di mesjid komplek kami. Mesjid kecil dengan kapasitas tidak sampai 200 jemaah. Perlu dijadikan catatan karena saat ini sedang gencar-gencarnya himbauan bahkan fatwa agar shalat Jum'at ditiadakan sehubungan dengan sedang merebaknya wabah corona. Pagi tadi aku dapat kiriman pesan bersuara seorang ustad dengan pesan yang sama, yang menghimbau masyarakat untuk mematuhi larangan mengadakan shalat Jumat. Ustad yang menempelak konon banyaknya pengingkaran dari orang-orang tidak berilmu menentang larangan tersebut. Ustad yang bahkan merasa perlu menyampaikan bahwa beliau adalah alumni Madinah.....  


Aku sendiri, yang jelas tidak berilmu, masih tetap ingin hadir ke mesjid untuk shalat Jumat. Jadi... bismillaah.....


Khatib di mesjid kami tidak ketinggalan membawakan khutbah menyangkut wabah corona.. Wabah yang memang sangat dahsyat yang sedang mengguncang dunia. Wabah yang sudah menelan ribuan korban di berbagai negara tak terkecuali di Indonesia. Waspada.... kita harus waspada....


Lalu khatib menjelaskan bahwa diri setiap kita terdiri dari tiga unsur. Beliau menyebutnya tiga anatomi. Yaitu unsur fisik, unsur akal dan unsur ruh. Masing-masing harus difungsikan secara tepat dan bijak. Ketika penyakit datang yang diserangnya pertama kali adalah jasad. Jasad  dapat kita bentengi dengan pola hidup sehat, memakan makanan yang sehat, berprilaku bijak  dalam hidup menjaga kesehatan, menggunakan obat ketika diserang penyakit. Akal digunakan untuk membentengi jasad dengan banyak membaca dan berfikir. Dan ruh digunakan untuk mendekat kepada Sang Pencipta dengan berdoa. 


Beliau mengajak agar kita waspada dalam suasana ancaman wabah corona. Ada peringatan dari pemerintah dan fatwa para ulama yang menyuruh kita berhati-hati. Kita patuhi dengan tetap menggunakan akal. Lebih kurang itulah inti khutbah khatib siang ini. Aku kok ya merasa cocok dengan khutbah beliau ini. Gunakan akal.  


Wabah corona menyebar dengan sangat pesat. Penyebaran melalui cairan ludah. Bekas ludah yang bisa menempel di mana saja ketika si pembawa virus batuk atau bersin. Bisa di karpet, di gagang pintu, di lantai atau di mana-mana yang biasa dijamah tangan manusia. Jadi, usahakanlah meminimalisir sentuhan terhadap titik-titik yang berpotensi dihinggapi virus corona itu. 


Di mesjid kami karpet sudah disingkirkan untuk sementara dan lantai mesjid dipel lebih sering. Ini sudah suatu usaha yang baik. Jemaah membawa sajadahnya masing-masing. Kontak langsung dengan berjabat tangan dihindari. Ditambah lagi peringatan agar yang kurang sehat agar tidak datang dulu berjamaah. Aku rasa semua itu sudah cukup.


Penasaran, aku dengar pula isi fatwa MUI yang dibacakan oleh seorang ustad di Youtube. Intinya, waspada. Jika anda sakit atau disyaki tertular virus, jangan datangi mesjid. Jika anda sehat, tapi berada di kawasan yang diketahui sudah terjangkit virus, jangan datangi mesjid, shalatlah di rumah saja. Jika anda sehat dan di lingkungan anda aman, belum diketahui adanya wabah anda tetap harus mejalankan shalat berjamaah seperti biasa.


Menurut pengamatanku lingkungan kami masih aman dari wabah. Dan lingkungan kami boleh dikatakan lingkungan tertutup, bukan lingkungan yang  banyak orang singgah. Maka aku berniat, selama keadaannya masih seperti sekarang aku akan tetap hadir shalat berjamaah ke mesjid. Laa hawla wa la quwwata illa billaah.


****                    

Senin, 12 Februari 2018

Pelaksanaan Shalat

Pelaksanaan Shalat 

Alhamdulillah aku sempat shalat berjamaah di mesjid Namirah di komplek perumahan anak menantuku tinggal. Shalat subuh, zhuhur dan maghrib. Shalat di mesjid ini hampir rutin setiap hari selama di Balikpapan beberapa hari ini. Sempat pula shalat maghrib di mesjid Baitul Mubarak di belakang kantor Total di jalan Bunyu. Mesjid tempat aku dulu shalat rawatib sebelum pindah ke Jakarta, dua puluh lima tahun lebih yang lalu. Dan di mesjid Istiqamah dekat lapangan Merdeka. Mesjid pusat kegiatan Yayasan Ar Rahman.
 
Di ketiga mesjid itu jumlah jamaahnya lumayan banyak, lebih dari tiga shaf. Dengan ukuran shaf yang berbeda tentu saja. Di mesjid Namirah pernah sampai lima shaf di waktu subuh dan tujuh shaf di shalat maghrib. Di mesjid Baitul Mubarak kami shalat maghrib hari Sabtu sore, ada  empat shaf. Menurut menantu, di hari-hari kerja di saat shalat ashar jamaahnya yang terdiri dari karyawan Total (sekarang Pertamina Mahakam) bisa meluber sampai ke teras mesjid. Mesjid Istiqamah adalah yang paling besar. Kami shalat maghrib di sana tadi malam, ada empat shaf mungkin dengan hampir dua ratus jamaah.

Shalat di ketiga mesjid ini sangat berkesan karena dipimpin imam-imam yang sangat fasih dengan bacaan yang tartil. Aku merasa bahwa imam-imam tersebut (yang rata-rata masih muda) adalah para penghafal Al Quran. 

Ada kesamaan pelaksanaan shalat di ketiga mesjid ini. Imam tidak menjaharkan bacaan bismillah di awal Fatihah. Di mesjid Namirah tidak ada doa qunut di waktu shalat subuh. Tidak ada zikir dengan suara yang keras sesudah shalat. Pelaksanaan shalat seperti ini persis sama seperti yang kami lakukan di mesjid komplek kami di Jatibening. 

Dulu selama bertahun-tahun aku menjaharkan bacaan bismillah ketika mengimami shalat. Sampai suatu ketika, sesudah terlebih dahulu menjelaskan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, yang mana beliau ini (Anas bin Malik) menyebutkan bahwa beliau shalat di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi  wa sallam, di belakang Abu Bakar, di belakang Umar bin Khaththab dan di belakang Utsman bin 'Affan, tidak satupun di antara beliau-beliau ini menjaharkan bacaan bismillah. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim. 

Sejak beberapa tahun yang lalu aku tidak lagi menjaharkan bacaan bismillah. Bukan karena latah, meniru-niru imam di Masjidil Haram atau di mesjid Nabawi, tapi karena mengimani hadits tersebut. Alhamdulillah, jamaah mesjid di komplek kami bisa menerimanya. 

****

Kamis, 28 September 2017

Diskusi Ceramah Ustadz Di Youtube

Diskusi Ceramah Ustadz Di Youtube  

Seorang jamaah dari ustadz (yang sedang cukup populer di Youtube) bertanya tentang; kenapa ada yang mengatakan bahwa bershalawat kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak seharusnya menambahkan kata sayyidina. Jadi cukup dengan ucapan Allaahuma shalli 'alaa Muhammad (tanpa sayyidina). Jawab ustadz, kenapa tidak boleh? Bahkan Rasulullah sendiri menyatakan bahwa beliau adalah sayyidul mursaliin atau pemuka para rasul...   

Sepertinya jawaban ustadz ini sudah cukup meyakinkan. Namun, bagiku ini masih kurang pas. Aku membaca di dalam kitab hadits Muslim, hadits nomor 361, yang isinya seorang sahabat bernama Basyir bin Sa'ad bertanya kepada Nabi. Kami disuruh bershalawat kepada anda ya Rasulullah, bagaimana caranya kami bershalawat. Lalu Nabi menjawab pertanyaan tersebut dengan membacakan: Allahumma shalli 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad. Kamaa shallaita 'alaa aali Ibrahim. Wa baarik 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad. Kamaa barakta 'alaa aali Ibrahim. Fil 'aalamiina innaka hamiidum majiid.'  

Jadi yang beliau ajarkan memang tidak ditambah dengan sayyidina. 

Tapi kan itu bentuk penghormatan kita kepada beliau. Masakan kepada Nabi yang sangat kita cintai kita hanya menyebut nama beliau saja. Biasanya begitu hujjah berikutnya. Lha, yang diajarkan begitu? 

Waktu mengawali shalat kita bertakbir mengagungkan nama Allah dengan ucapan Allahu Akbar. Begitu kita diajarkan oleh Rasulullah. Padahal Allah, Yang Maha Besar juga adalah Yang Maha Tinggi. Lalu apakah kita boleh mengawali shalat dengan bacaan Allahu Akbar wa A'laa..  Tentu tidak boleh karena bukan seperti itu yang diajarkan.  

Mendengarkan ceramah-ceramah (di Youtube) itu seringkali cukup mencerahkan, tapi kita juga harus kritis dalam memahaminya. Sering juga terdengar ustadz-ustadz itu lebih menonjolkan 'kita kan pengikut mahzab.......' dan hanya mencukupkan jawaban seperti itu saja, tanpa dalil dan keterangan yang lebih jelas. Misalnya, ketika mengatakan suatu pendapat tidak dengan merujuk kepada ayat al Quran dan atau hadits shahih, tapi hanya sekedar mengatakan ini adalah pendapat imam.... Seharusnya imam .... itu tentunya juga mendasarkan pendapatnya kepada al Quran dan hadits, tapi oleh sebahagian ustadz itu tidak dijelaskan ayat al Quran atau hadits shahih yang mana. 

****                             

Kamis, 21 September 2017

Mengikuti Pengajian Di Youtube

Mengikuti Pengajian Di Youtube 

Salah satu hikmah dari kemajuan teknologi saat ini adalah mudahnya kita mengakses banyak hal melalui perangkat hape atau gadget yang kita bawa kemana-mana. Termasuk di antaranya aneka tontonan melalui youtube. Dan tontonan itu banyak sekali variasinya, mulai dari yang bisa mendekatkan kita kepada Allah sampai ke yang menggiring kita kepada kemurkaan-Nya. 

Aku cukup tertarik mendengarkan pengajian-pengajian yang disampaikan oleh ustadz-ustadz muda yang cukup banyak jumlahnya. Pengajian seperti ini sangat bermanfaat untuk memperluas pemahaman kita tentang agama. 

Namun yang tidak bisa dihindarkan (sepertinya) adalah pemahaman-pemahaman yang kadang-kadang agak bertolak belakang antara satu dan lain ustadz. Ada ustadz yang menerangkan aturan-aturan dalam menjalankan perintah agama yang didasarkan semata-mata kepada petunjuk Al Quran dan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Hadits Rasulullah itu menyangkut apa-apa (1) yang beliau sabdakan, (2) yang beliau kerjakan (3) dan yang dikerjakan sahabat dan beliau lihat lalu beliau biarkan.  Kalau yang di luar itu, meskipun menurut pendapat 'sementara orang' adalah perbuatan baik, tapi karena tidak termasuk ke dalam tiga ketentuan tersebut, sebaiknya tidak dikerjakan.

Lalu ada pula ustadz yang menerangkan bahwa tidak selamanya amalan-amalan itu dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Seperti misalnya, amalan Bilal bin Rabbah, yang Nabi bertanya apa amalan Bilal sehingga beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mendengar suara detak terompahnya di surga, yang dijawab bahwa dia selalu menjaga wudhu dan mengerjakan shalat sunah setiap habis berwudhu. Nabi tidak mengerjakan yang demikian. Tapi, bukankah ini termasuk kategori ketiga yang disebut di atas?    

Ustadz yang lain pula mengatakan bahwa tahlilan untuk orang yang baru meninggal tidak ada dicontohkan Rasulullah, yang padahal sewaktu beliau masih hidup sudah banyak umat Islam yang meninggal, termasuk puteri-puteri beliau shallalalhu 'alaihi wa sallam. Lalu kelompok yang pro tahlilan mengajukan hujjah bahwa amalan tersebut ada dilakukan oleh ulama sesuadah tabiut-tabi'in. Artinya jauh sepeninggal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ada pula ustadz yang dalam penyampaiannya merinci bahwa masalah fikih atau pelaksanaan amalan-amalan itu menurut imam-imam mahzab yang empat. Misalnya melafadzkan bacaan bismillah di awal alfatihah dijahar atau dikeraskan menurut imam Syafi'i, tidak dikeraskan menurut imam Hanafi. Sayangnya beliau tidak menjelaskan pendapat masing-masing imam itu menurut hadits yang mana. Seyogianya tidak mungkin imam-imam tersebut sampai kepada keyakinan yang berbeda tanpa dasar yang jelas.

Cukup menarik mengikuti pendapat-pendapat yang berbeda tersebut. Hal ini melatih kita untuk kritis dalam memahaminya.    

****              

Kamis, 28 Juli 2016

Di Antara Dua Pemahaman Yang Berbeda Tentang Bid'ah

Di Antara Dua Pemahaman Yang Berbeda Tentang Bid'ah            

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan, 

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan (HR. Muslim no. 867).

Para ustadz tidak ada yang menyangkal hadits tersebut di atas. Tapi selalu saja ada yang berbeda pendapat dalam memahaminya. Tanpa menyebutkan kelompok mana untuk masing-masing, ada golongan yang begitu ketat pemahamannya sehingga apa saja yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, langsung dikatakan bid'ah. Walaupun kadang-kadang timbul juga pertanyaan kritis kita apa memang seperti itu benar ketatnya? 

Contoh, pernah seorang ustadz menyampaikan bahwa berkurban itu hanya boleh dengan unta, sapi atau kambing. Lalu ada yang bertanya, bagaimana hukumnya kalau ada yang berkurban dengan kerbau? Ustadz mengatakan, bahwa tidak ada contoh dari Rasulullah tentang itu. Beliau cenderung menganggap bahwa yang demikian itu bid'ah. Lalu dilanjutkan pertanyaan, apakah berkurban kambing itu hanya benar-benar dengan memotong kambing? Tidak boleh domba? Sang ustadz agak bingung menjawabnya.  

Lalu ada lagi pertanyaan, dengan apa zakat fitrah harus dibayar? Bukankah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hanya mencontohkan dengan kurma atau dengan gandum? Lalu kalau kita membayarnya dengan beras apakah dikatakan kita tidak mencontoh Rasulullah?

Sebaliknya ada pula kelompok lain yang yang menganggap setiap amalan asal 'baik' tidak bisa dikatakan bid'ah, walaupun tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Kelompok ini lalu mengatakan (entah bersungguh-sungguh atau bukan, kita tidak tahu), bukankah di jaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam orang tidak ada yang pergi berhaji dengan pesawat? Apakah kalau sekarang kita pergi menggunakan pesawat akan dikatakan bid'ah pula? Atau, dulu tidak ada azan pakai mikrofon, lalu yang sekarang pakai mikrofon akan dikatakan bid'ah? Kelompok terakhir ini menganggap bahwa yang tidak boleh dirobah itu hanya yang menyangkut ibadah wajib saja. Shalat, puasa, zakat, berhaji tidak boleh kita kerjakan diluar yang telah dicontohkan Nabi, baik tata caranya, waktunya atau tempatnya. Sedangkan untuk ibadah bukan wajib, selama itu 'baik' boleh dikerjakan.

Ada pendapat ketiga yang mungkin lebih mudah kita fahami. Yaitu yang mengatakan bahwa apa-apa yang dicontohkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat dalam amalan sehari-hari (bukan yang wajib-wajib saja) yang dilakukan dengan kondisi dan prasarana yang ada pada jaman beliau, haruslah kita ikuti apa adanya. Ini untuk menjawab bahwa kita tidak lagi menggunakan unta untuk pergi berhaji karena sekarang ada alat transport yang lebih baik dari unta. Begitu juga dengan mikrofon untuk mengumandangkan azan yang dulu di jaman Nabi belum ada. Tentang berkurban dengan kerbau, menurut pendapat ini, adalah dengan mensebandingkannya dengan sapi, seperti mensebandingkan kambing dengan domba, jadi boleh-boleh saja. 

Adapun amalan-amalan lain yang oleh sementara orang dianggap baik seperti misalnya menujuh-bulankan wanita hamil, tahlilan dihari-hari ke sekian sesudah kematian seseorang, harus kita fahami bahwa yang demikian itu tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Padahal di jaman beliau juga ada wanita hamil. Juga ada kaum muslimin yang meninggal. Tapi tidak pernah beliau contohkan ada upacara khusus untuk hal-hal tersebut.

Mudah-mudahan kita bisa lebih bijak dalam memahami setiap amalan, agar tidak keliru.

Wallahu a'lam.

****

Minggu, 24 Juli 2016

Berkah

Berkah   

Di sebuah pengajian pekan yang lalu ustadz membahas tentang makna dari kata berkah. Apa yang dimaksud dengan berkah? Menurut bahasa, berkah --berasal dari bahasa Arab: barokah (البركة), artinya nikmat (Kamus Al-Munawwir, 1997:78). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:179), berkah adalah “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia”. 

Berkah adalah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada manusia untuk dinikmati manusia tersebut. Jadi artinya jika ada karunia, atau rezeki dari Allah yang tidak dapat dinikmati oleh seseorang maka berarti dia tidak medapatkan berkah dari rezeki tersebut. Banyak contoh seperti ini. Ada orang yang memiliki banyak hal dalam kehidupannya berupa materi. Orang lain mengatakan bahwa dia kaya. Tapi harta kekayaannya itu tidak bisa dinikmatinya. Rumahnya besar tapi dia tidak betah berada di dalamnya. Kamarnya juga besar dan ada kasur empuk di tempat tidurnya, tapi dia tidak pernah merasa nyaman berbaring di tempat tidur itu bahkan tidak bisa tidur. 

Atau contoh lain, ada orang yang dapat memperoleh suatu barang dengan mudahnya. Padahal harga barang tersebut mahal dan tidak setiap orang dapat memilikinya. Katakanlah sebagai contoh sebuah kendaraan mewah. Tapi kendaraan tersebut tidak awet dipakainya. Sebentar saja jadi rusak dan tidak berfungsi. Atau mungkin mendapat kecelakaan sehingga rusak parah. Hilang keberkahannya.

Jadi sesuatu itu menjadi berkah ketika dia dapat dinikmati dan membawa manfaat. Dalam Islam kita diperintahkan mengucapkan salam, assalamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh, yang adalah berupa doa. Keselamatan atas engkau, disertai pemberian Allah dan keberkahan-Nya. Kita doakan seseorang yang kita beri salam agar mendapat rahmat atau pemberian dari Allah yang diberkahi-Nya.

Mudah difahami bahwa agar sesuatu mendapat berkah dari Allah haruslah sesuatu itu didapat dengan cara yang diridhai Allah. Tidak akan berkah sesuatu yang kita dapatkan dengan cara yang bathil. Benda yang kita dapat dengan mencuri. Atau dari hasil penipuan. Atau dari kecurangan. Semua itu tidak akan membawa keberkahan.  

Keberkahan tidak terletak pada banyaknya sesuatu yang dimiliki. Tidak terletak pada mahalnya harga sesuatu tersebut. Suatu barang sederhana yang murah harganya bisa jadi diberi Allah keberkahan yang banyak. Mudah-mudahan kita senantiasa mendapatkan rahmat Allah yang disertai berkah-Nya di dalam hidup ini. Aamiin....

****

Rabu, 25 Mei 2016

Apa Sebenarnya Yang Kita Cari?

Apa Sebenarnya Yang Kita Cari?    

Seorang bapak-bapak berusia sekitar 70 tahunan, tiba-tiba, dengan ketetapan Allah, jatuh sakit. Dia kena stroke. Padahal, dia adalah seorang yang sangat aktif dalam  mengurus sebuah usaha ekspedisi. Dia menyukai pekerjaannya dan sangat bangga dengan pencapaian usahanya tersebut. Karena penyakitnya, separuh tubuhnya lemah, dan dia terpaksa dirawat di rumah sakit. Dalam sakitnya itu, dia mengeluh bahwa masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Kami tanyakan, bukankah ada anaknya yang  mewakilinya di kantor untuk melanjutkan pekerjaan? Dia bilang, dia tidak seratus persen mempercayai kemampuan anaknya itu. 

Dengan sangat hati-hati kami coba mengingatkan, bahwa ini adalah kesempatan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Sang Pencipta. Di usia yang sudah lebih tujuh puluh tahun, mungkin lebih baik baginya untuk memperbanyak ibadah. Dalam keadaan sakit sekarang ini agar dia berusaha banyak-banyak berzikir, mengingat Allah, dan banyak beristighfar. Jawabnya, bahwa selama ini dia tidak pernah lupa menjalankan perintah agama. Mungkin benar demikian, walau barangkali ibadahnya tidak maksimal. Katakanlah misalnya dalam mengerjakan shalat, apakah dia mampu melaksanakannya di awal waktu dan berjamaah di mesjid? Dengan jujur diakuinya bahwa itu tidak terpikirkan olehnya selama ini. 

Ada saja orang yang sedemikian rupa getolnya mencari harta. Sepertinya, apa yang sudah diperolehnya, meskipun terlihat sudah jauh lebih dari cukup, masih saja belum memuaskannya. Apalagi ketika dia tahu bagaimana cara mengalirkan rezeki itu ke pundi-pundinya. Usahanya, atau perdagangannya sedemikian mengasyikkan dan keuntungan selalu datang. Akibatnya, dia semakin mencintai usahanya itu lebih dari yang lain. Bahkan lebih dari mencintai dan memelihara dirinya sendiri. Dia menjadi pecandu 'kerja'. Workaholic kata orang sana. Akibat sampingan dari cara hidupnya, maka kesehatannya terganggu. Seperti contoh kita di atas.

Pernahkah kita bertanya kepada diri kita, apa sebenarnya yang kita cari dalam hidup ini? Ketika kita bersusah payah mencari nafkah. Mencari rezeki, dengan berbagai macam cara. Ada yang jadi pedagang, jadi petani, jadi pegawai dan sebagainya. Ada yang tidak henti-hentinya mengumpulkan uang. Mencari, mendapatkan, mengumpulkan, mencari lagi, mengumpulkan lagi yang lebih banyak. Sebagian digunakan untuk kenyamanan nafsu di dunia. Kenyamanan nafsu, karena banyak juga kejadian, fisiknya tidak sempat menikmatinya. Uang yang berhasil dikumpulkannya tidak terhingga banyaknya, tetapi untuk makan dia harus berpantang banyak sekali. Salah-salah makan, berbagai macam penyakit segera menderanya. Rumahnya bak istana besar dan mewah, tapi dia hampir tidak pernah mampu mendapatkan nikmatnya tidur. Untuk tidur dia harus menelan obat-obat tertentu.

Maka, kenapa kita tidak menjadi 'orang pertengahan' saja. Mencari rezeki secukupnya dan mensyukuri setiap rezeki yang diperoleh itu dengan sebaik-baiknya. Memahami kapan kita harus berhenti bekerja dan kapan kita harus lebih baik dalam beribadah. Karena usia kita sangat terbatas. Bukankah ketika kita mati, kita tidak akan membawa kekayaan yang selama ini kita kumpulkan, ke dalam kubur.  

****                                   

Senin, 23 Mei 2016

Berpandai-pandai Menjaga Hubungan Di Tengah Keluarga

Berpandai-pandai Menjaga Hubungan Di Tengah Keluarga  

Sebuah keluarga bisa hancur berantakan, suami isteri bercerai karena suatu sebab sederhana, buruknya komunikasi di tengah-tengah keluarga. Salah satu atau bahkan mungkin kedua anggota pasangan itu sama-sama ego, sama-sama tidak mau mengalah, dan terlalu banyak disibukkan oleh urusan pribadi. Mereka sering terlibat dalam percekcokan. Akhirnya mereka terpaksa bubar jalan alias berpisah alias bercerai. Penyebabnya apalagi kalau bukan ketidak-harmonisan dalam hubungan kekeluargaan. 

Sebuah rumah tangga seyogianya dibangun di atas dasar kasih sayang dan saling menghargai. Suami mencintai istri, dan menghormati status istri sebagai orang yang berada di bawah tanggung-jawabnya lahir dan batin. Begitu pula sang istri harusnya mencintai dan menghormati suaminya sebagai pemimpin di dalam rumah tangga. Masing-masing seharusnya saling percaya mempercayai. Saling amanah. Dan memahami posisi dan tanggung jawab masing-masing. Suami bertanggung jawab mencari nafkah untuk dinikmati bersama semua anggota keluarga. Istri bertanggung jawab memelihara keserasian dan kedamaian rumah tangga serta melayani suami dengan sabar dan bijak.

Jika suami tidak amanah, dia lebih banyak menikmati kehidupan pribadinya sendiri dan melalaikan urusan rumah tangganya, mengabaikan perhatian terhadap anggota keluarganya, maka ini boleh jadi merupakan awal dari malapetaka sebuah rumah tangga. Ada suami yang seperti itu. Hari-harinya disibukkan dengan pekerjaan rutin di kantor, di sambung dengan acara bersantai-santai dengan teman-teman di tempat-tempat hiburan. Hari libur diisi dengan olah raga berjamaah dengan teman-teman pula yang dilanjutkan pula dengan acara hura-hura lain. Kepulangannya ke rumah, kadang-kadang hanya sekedar untuk ganti pakaian. Dia hampir-hampir tidak perduli dengan urusan anak-anak dan istrinya. 

Begitu pula ada istri yang tidak amanah. Hari-harinya diisi dengan aneka kegiatan yang tidak ada sangkut-pautnya dengan rumah tangga. Dia sibuk dengan arisan, reunian, kumpul bareng teman-teman satu kelompok. Dia selalu hadir di tengah kegiatan berkumpul-kumpul dengan teman-temannya yang aneka macam judulnya. Sebagian sepertinya merupakan kegiatan sosial. Berkunjung ke panti Anu, ke rumah sakit Itu, ke rumah Yatim, bahkan ke acara pengajian dan sebagainya. Tapi urusan pengaturan rumah diserahkan bulat-bulat kepada si pembantu. 

Jika ada suami atau istri atau kedua-duanya berprilaku seperti contoh di atas, maka meranalah hubungan kekeluargaan. Kalaupun masih terlihat hubungan baik antara suami dengan istri, boleh jadi hal itu hanya sekedar basa-basi saja lagi. Karena pada dasarnya masing-masing tidak perduli dengan pasangannya. Dan dalam kondisi seperti ini yang paling menderita biasanya adalah anak-anak. 

Oleh karena itu, kenalilah diri anda sendiri. Berprilakulah seperti diri anda sebagaimana mestinya. Jika anda seorang suami, jadilah suami yang bertanggung jawab dan amanah. Begitupun, jika anda seorang istri, jadilah istri yang bertanggung jawab dan amanah pula. Dengan demikian mudah-mudahan akan terbina hubungan keluarga yang harmonis. Yang sakinah. 

****                               

Jumat, 29 April 2016

Bagaimana Menyampaikan Simpati Kepada Non Muslim Yang Meninggal

Bagaimana Menyampaikan Simpati Kepada Non Muslim Yang Meninggal   

Suatu ketika di saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang duduk-duduk dengan para sahabat, lewat rombongan orang Yahudi yang sedang menggotong mayat menuju ke pemakaman. Beliau berdiri, dan para sahabat mengingatkan bahwa itu adalah orang Yahudi. Beliau menjelaskan bahwa bukankah yang diusung itu manusia juga. Artinya kita boleh menunjukkan simpati kepada manusia yang sudah meninggal sampai batas tertentu. Batas tertentu, artinya kita tidak ikut upacara agama sebelum penguburannya, tidak ikut mendoakannya. Yang terakhir ini yang paling penting. 

Kepada anggota keluarga yang meninggal kita boleh mengucapkan ikut berduka cita sebagai tanda kita bersimpati. Tapi sekali lagi cukuplah dengan ungkapan sederhana. Karena dalam kenyataannya, terutama di era sms sampai BBM sampai Whatsapp seperti sekarang ini, kita sangat mudah menyampaikan rasa belasungkawa. Dan biasanya lagi, ketika satu orang mengirim pesan duka cita yang lain akan menyusul mengirim pesan yang sama dengan caranya masing-masing. Yang mengherankan adalah pesan itu diiringi dengan doa yang bahkan ditutup dengan Aamiin. Misalnya, untuk si Fulan yang beragama Nasrani yang meninggal, dikirim pesan; 'Ikut berduka cita dengan meninggalnya saudara Fulan. Semoga almarhum beristirahat dengan damai di sisi Nya.' Dan ada yang lebih indah lagi dengan ungkapan; 'Semoga damai dan bahagia di surga bersama Nya. Aamiin.' Ungkapan-ungkapan seperti ini sebenarnya dipengaruhi pesan duka cita dari umat Nasrani. Mereka biasanya menganggap bahwa orang yang meninggal itu sudah pulang ke rumah Tuhan di surga.  

Padahal menurut Islam tidaklah mudah untuk masuk surga. Seseorang yang meninggal maka ruhnya akan ditempatkan di alam barzah atau alam kubur. Di sana dia sudah mulai diadili atas segala amal perbuatannya di dunia. Pada hari kiamat nanti semua manusia akan dibangkitkan dan dikumpulkan di suatu tempat (padang mahsyar namanya) untuk diperiksa dan diadili atas setiap perbuatan baik dan perbuatan jahat yang dilakukannya selama hidup di dunia. Sesudah semua amal perbuatannya dihitung maka di antara mereka ada yang akan masuk surga dan ada yang akan masuk neraka. Yang akan masuk surga adalah yang meninggal dalam keadaan beriman kepada Allah serta tunduk dan patuh kepada perintah-Nya. Orang yang meninggal dalam keadaan seperti itu disebut husnul khatimah. Kehidupannya berakhir baik dalam aturan dan keridhaan Allah.  
 
Untuk sesama Muslim yang meninggal kita boleh menyampaikan harapan, kiranya yang bersangkutan meninggal dalam husnul khatimah. Atau memohon agar dosa-dosanya diampuni Allah. Tapi kita tidak bisa memastikan bahwa dia akan menjadi penduduk surga. Artinya tidak pantas kita mengatakan, semoga almarhum beristirahat dengan tenang di surga. Karena ada proses panjang yang harus dilalui sebelum seseorang itu  ditempatkan di surga Allah. 

Dalam shalat jenazah kita memintakan ampun kepada Allah untuk si mayit. Kita minta agar Allah mengasihaninya, memaafkannya dan melindunginya dari siksa api neraka. Dan yang kita shalatkan tentu saja hanya sesama umat Islam. Allah Yang Maha Menentukan, siapa yang akan diampuni-Nya dan akan dimasukkan-Nya ke surga. Dan Dia pula yang menetapkan siapa yang akan menjadi penghuni neraka. 

****                       

Senin, 25 April 2016

Gua Hira'

Gua Hira'

Seorang rekan yang sedang melaksanakan ibadah umrah di Tanah Suci, menyempatkan berkunjung ke gua Hira', tempat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menerima wahyu pertama (lima ayat awal surah Al 'Alaq). Sebagaimana kita ketahui, gua Hira itu terletak di puncak bukit batu yang cukup terjal, jabal Nur atau gunung Cahaya namanya. Tidak mudah mencapainya karena jalan menuju puncak itu berliku-liku di punggungan bukit batu cadas dengan kemiringan yang cukup terjal pula. Untuk mencapai gua itu mulai dari kaki bukit, menurut yang pernah mendaki ke sana diperlukan waktu sekitar satu jam.  

Ada yang bertanya, bagaimana hukumnya berziarah atau katakanlah berkunjung ke gua Hira'. Apakah itu bukan merupakan amalan yang dibuat-buat? Mengingat tidak ada tuntunan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk melakukannya dan tidak seorang sahabatpun yang mengerjakannya. Ada yang mencapnya sebagai bid'ah. Artinya sebagai amalan yang dibuat-buat. 

Aku berpendapat agak berbeda. Tergantung dari niat kita melakukan kunjungan tersebut. Kalau niatnya untuk berkunjung karena tempat itu mempunyai nilai istimewa, mudah-mudahan tidak termasuk perbuatan yang mengada-ada alias bid'ah. Melainkan perbuatan yang mubah alias boleh-boleh saja. Seperti ketika kita ingin berkunjung ke sebuah musium. Seperti sebuah kunjungan wisata. Akan tetapi kalau kita niatkan bahwa mendaki jabal Nur sampai ke gua Hira' itu sebagai sebuah amalan, apalagi kalau dilafadzkan pula niatnya, 'sengaja aku menunjungi gua Hira' karena Allah Ta'ala......' maka barulah mengada-ada namanya karena tidak ada contoh dari Nabi dan para sahabat beliau untuk berbuat demikian.

Yang perlu diketahui bahwa mendaki gunung Cahaya alias jabal Nur itu menghendaki kondisi fisik yang prima. Gunungnya tidak tinggi-tinggi amat, sekitar 600an meter, tapi terjal dan penuh dengan batu-batu. Seandainya sampai jatuh dan tergelincir akan sangat besar resikonya. Kalau fisik cukup kuat dan keinginan untuk mendaki datang dari hati sendiri silahkanlah dicoba. Tapi jangan karena ikut-ikutan, karena terprovokasi oleh orang lain.  

Di samping gua Hira' di jabal Nur ada pula jabal Tsur, tempat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersama Abu Bakar bersembunyi sebelum berangkat hijrah ke Madinah, ketika beliau berdua dikejar-kejar oleh kaum musyrikin Makkah. Jabal Tsur juga sering dikunjungi jemaah yang sedang berhaji ataupun umrah. Seperti jabal Nur, jabal Tsur juga bukit berbatu cadas yang terjal. Sama seperti mengunjungi jabal Nur, kunjungan ke jabal Tsur bagi yang melakukannya tidak lebih dari kunjungan wisata.

Aku sudah beberapa kali berkunjung ke Tanah Haram, setiap kali sempat dibawa berjalan-jalan ke kaki kedua bukit tersebut, tapi belum pernah mendakinya. Pertimbanganku sederhana saja. Aku berada di sana untuk beribadah, maka jangan sampai waktuku untuk shalat berjamaah di Masjidil Haram terpakai untuk kegiatan yang murni wisata.

****                            

Jumat, 22 April 2016

Dr. Zakir Naik

Dr. Zakir Naik                        

Dia seorang dokter tapi lebih banyak menggunakan waktunya sebagai seorang penceramah perbandingan agama. Dia berasal dari India. Kemampuan menghafalnya luar biasa dan diakui oleh banyak orang yang pernah mendengar ceramahnya. Dia bukan saja hafal banyak ayat-ayat al Quran tapi juga menguasai banyak ayat-ayat Injil (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), menguasai banyak ayat-ayat dari kitab suci Veda dari agama Hindu. Hafal nama-nama surah berikut ayat-ayatnya dari al Quran begitu juga dengan ayat-ayat kitab Injil ataupun Veda. Dia mampu menjelaskan dan menjawab banyak sekali pertanyaan bahkan hujatan dari orang-orang yang memang diizinkan untuk bertanya setiap kali dia memberikan ceramah.

Inti ceramahnya dalam membahas agama-agama yang berbeda pada dasarnya mengajak kepada persamaan yang ada dalam setiap agama. Dia tunjukkan bahwa agama-agama selain Islam sebenarnya juga mengajarkan tentang mengesakan Tuhan, tapi tidak difahami dengan benar oleh pemeluknya. Tentang agama Kristen misalnya, di dalam kitab Injil istilah anak Tuhan tidak hanya diberikan kepada Nabi Isa, tetapi juga kepada banyak nabi-nabi yang lain (sambil dia menyebutkan nama kitab dan ayatnya). Keistimewaan nabi Isa yang lahir tanpa ayah tidaklah serta merta bisa dijadikan alasan untuk mengatakan bahwa beliau anak Tuhan dan bahkan Tuhan itu sendiri. Seandainya dengan alasan tidak punya ayah beliau dianggap Tuhan, maka nabi Adam yang tidak punya ayah dan tidak punya ibu harusnya diakui sebagai Tuhan yang lebih utama dibandingkan nabi Isa. 

Dr. Zakir mengatakan untuk menjadi pemeluk agama yang baik, seharusnya seseorang mengikuti apa yang diajarkan oleh kitab sucinya, bukan mengikuti pendapat pemuka-pemuka agamanya. Di dalam kitab Injil, nabi Isa menjelaskan bahwa beliau datang untuk melengkapi kitab Taurat (yang diturunkan kepada nabi Musa) dan tidak merubah sedikitpun apa-apa yang sudah dijelaskan dalam kitab tersebut. Dia menjelaskan tentang perintah dan larangan yang ada dalam kitab Taurat, seperti perintah menyembah Tuhan Yang Esa, tidak memakan babi, tidak meminum alkohol. Dia juga mengingatkan bahwa nabi Isa disunat (pada hari kedelapan sesudah kelahirannya). Dr. Zakir sering mengulang-ulang pernyataan, bahwa dalam kenyataannya dia lebih Kristen dari orang Kristen pada umumnya, karena dia mengikuti apa-apa yang diperintahkan dalam kitab Injil. Nabi Isa tidak pernah mengakui dirinya sebagai Tuhan. Tidak pernah memerintahkan manusia menyembahnya. Kalau ada yang bisa menunjukkan ayat dalam kitab Injil secara nyata dan tegas tanpa keragu-raguan, bahwa nabi Isa mengatakan dia adalah Tuhan, atau memerintahkan untuk menyembahnya, maka Dr. Zakir mengatakan dia akan langsung mengikuti agama Kristen. Dan ternyata setelah belasan tahun dia memberikan ceramah, tidak ada satu orangpun yang mampu menunjukkan ada ayat seperti itu di dalam kitab Injil. 

Dia juga menguasai kitab suci agama Hindu dan menjelaskan bahwa di dalam kitab Veda ada ayat yang menjelaskan tentang Tuhan yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun juga. Tuhan tidak boleh digambar, tidak boleh dilukis, tidak boleh dibuatkan patung. Dia menjelaskan bahwa kedatangan nabi Muhammad juga dijelaskan di dalam kitab Veda dengan sejelas-jelasnya. Siapa nama ayahnya, nama ibunya, di mana dia akan dilahirkan dan sebagainya, yang dijelaskan dalam bahasa Sanskerta dan jika diterjemahkan kedalam bahasa Arab persis seperti apa adanya. Dr. Zakir membacakan ayat-ayat dari kitab tersebut tentang itu semua. 

Ceramah-ceramah Dr. Zakir Naik selalu dihadiri oleh puluhan ribu orang dari berbagai agama dan keyakinan. Cukup banyak orang dari agama lain yang sesudah beradu argumentasi dengannya akhirnya masuk Islam dan mengucapkan dua kalimah syahadat. Tapi tentu saja tidak semua orang menyukai ceramahnya. Bahkan di kalangan orang Islampun ada yang tidak suka. Mereka ini mencoba mencari-cari kelemahannya. Bahkan ada yang menghujatnya sebagai bukan ulama, karena kalau dia ulama harus jelas kepada siapa dia berguru (menurut si penghujat). Atau yang menuduhnya sebagai Wahabi (sepertinya ini dari kalangan Syiah). Ungkapan Dr. Zakir Naik untuk hanya berpedoman kepada ayat-ayat al Quran dan hadits-hadits sahih, dijadikan orang yang tidak menyukainya untuk mencapnya sebagai Wahabi.
 
Ceramah-ceramahnya dapat kita ikuti di Youtube.   

****