Tampilkan postingan dengan label Cerita Amal Shalih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Amal Shalih. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Agustus 2018

Memotong Hewan Kurban 1439H

Memotong Hewan Kurban 1439H 

Amal yang dapat dipelihara kelangsungannya mudah-mudahan mempunyai nilai khusus di sisi Allah. Inilah harapan kami, jamaah mesjid Al Husna di Komplek Depkes II. Yang jadi panitia pelaksanaan kurban berkurang juga satu persatu dari tahun ke tahun, namun alhamdulillah kebersamaan dalam bergotong-royong di Hari Raya Aidil Adha masih tetap dapat dipertahankan. 

Gotong royong di hari pemotongan itu adalah kerja bersama para jamaah mulai dari memotong-motong daging kurban, membuat tumpukan, memasukkannya ke dalam kantong siap untuk dibagikan dan terakhir sekali membagikannya kepada masyarakat dari perkampungan di sekitar komplek. Sudah bertahun-tahun acara yang sama kami lakukan. 

Jumlah hewan kurban di komplek kami terhitung banyak setiap tahun. Tahun ini ada 17 ekor sapi ditambah 16 ekor kambing. Untuk menyembelih sapi kami minta bantuan petugas dari rumah potong, yang memang sudah terampil. Petugas ini yang merebahkan sapi, menyembelihnya, menguliti dan memotong daging sapi itu dalam bongkahan besar. Selanjutnya para jamaah yang meneruskan memotong-motong daging tersebut dalam ukuran lebih kecil. 

Pekerjaan besar itu dimulai jam setengah sembilan pagi dan berakhir jam lima sore. Kami beristirahat untuk shalat zhuhur dilanjutkan makan siang (nasi kotak) dan kembali diistirahatkan untuk shalat asar. 

Beberapa hari sebelumnya, kami telah membagi-bagikan kupon kepada masyarakat sekitar komplek. Seperti tahun-tahun sebelumnya ada 1600 lembar kupon yang dibagikan. Maka di hari pemotongan jumlah kantong yang disiapkan harus sama banyak dengan kupon yang sudah dibagikan. Sesudah shalat asar para pemegang kupon sudah ramai di luar pagar mesjid, sementara kami masih menyelesaikan kantong-kantong terakhir. Lewat sedikit dari jam empat rombongan penerima daging kurban itu diizinkan masuk pekarangan mesjid satu per satu dengan kawalan petugas keamanan komplek. Sekitar jam lima semua kantong habis dibagikan. Alhamdulillah.

Petugas mesjid dibantu beberapa orang melanjutkan pekerjaan membersihkan beranda mesjid tempat kami bergotong royong.  

****     

Senin, 16 April 2018

Tadarus (3)

Tadarus (3) 

Apa sajakah kegunaan gadget dengan whatsapp? Tentu banyak. Tapi ada satu manfaat yang kami ambil. Untuk bertadarus al Quran. Bertadarus artinya membaca al Quran bergantian dalam sebuah kesinambungan bacaan ayat-ayatnya. Bertadarus biasanya lebih sering dilakukan di bulan Ramadhan, sesudah shalat tarawih di mesjid. Peserta tadarus hadir bersama-sama dan bergantian membaca. 

Bagaimana pula dengan tadarus melalui WA? Agak berbeda tentu saja. Pesertanya berada di tempat yang berjauhan, bahkan ada yang di balik bumi di Amrik sana. Masing-masing peserta merekam bacaannya yang kemudian dikirim ke grup tadarusan. Waktunya tidak ditentukan. Setiap peserta bisa membaca di waktu yang disukainya, entah tengah malam, menjelang subuh, sesudah subuh atau kapan saja. Tinggal menyimak bacaan sebelumnya lalu dilanjutkan. Meski kadang-kadang bisa terjadi bacaan beberapa peserta ternyata pada ayat-ayat yang sama karena waktu mengajinya bersamaan.

Grup tadarus kami dimulai hampir satu setengah tahun yang lalu. Anggota grup ada sekitar 30 orang, tapi yang benar-benar aktif mengaji hanya sekitar sepuluh orang. Yang lain sepertinya masih rajin menyimak saja. Perlu waktu sekitar tiga bulan untuk menamatkan al Quran. Agak lama sebenarnya tapi telah berjalan seperti itu dengan tertib. Dua hari yang lalu kami menyelesaikan putaran kelima. Begitu selesai langsung dilanjutkan dengan putaran berikutnya.  

Apa saja manfaat dari tadarus seperti ini? Untuk sebahagian anggota adalah untuk memperbaiki tajwij dan bacaan al Quran. Karena tidak jarang orang biasa mengaji tapi tanpa ada yang membantu memperbaiki ketika dia salah baca. Huruf-huruf hijaiyah itu banyak yang hampir serupa dan kita cenderung sulit membedakannya kalau tidak berhati-hati. Misalnya membedakan sin, syin, shad dan tsa, bagi sebagian orang cenderung semua jadi s (sin) saja. Ada lagi kemiripan antara dzal, zai, zha. Antara tha dan ta. Antara alif, 'ain dan hamzah. Dan sebagainya. Belum lagi masalah panjang pendek bacaan. Masalah berdengaung atau tidak.

Bacaan peserta disimak dan dikomentari ketika memang ada yang keliru. Ditunjukkan kekeliruannya. Alhamdulillah, lumayan banyak kemajuan yang dicapai sementara peserta. Tentu saja sangat tergantung juga dari kesungguh-sungguhan mereka untuk memperbaiki kesalahan.

****                                  

Rabu, 29 November 2017

Meskipun Engkau Lari Rezeki Tetap Mengejarmu

Meskipun Engkau Lari Rezeki Tetap Mengejarmu 


(Dari kiriman teman di WA, tidak disebutkan siapa penulisnya)

Kalaulah rezeki itu diukur dari hasil kerja keras, maka kuli bangunanlah yang  akan cepat kaya. Jika rezeki itu ditentukan dari lamanya waktu kerja maka warung kopi 24 jam lah yang akan lebih banyak mendapatkannya. Jika rezeki itu milik orang pintar saja maka dosen yang bergelar panjang yang akan lebih kaya. Jika rezeki itu datangnya karena jabatan atau pangkat tinggi maka presiden dan rajalah orang yg akan menduduki 100 orang terkaya di dunia.
Rezeki itu karena kasih sayang Allah.
'Ketika mencari rezeki jangan mengejar jumlahnya.... Tetapi carilah berkahnya " ( Ali bin Abi Thalib )_

Meskipun Engkau Lari Rezeki Tetap Mengejarmu.

'Kalaulah anak Adam lari dari rezekinya (untuk menjalankan perintah Allah) sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya.' (HR Ibnu Hibban)

Miskin kaya sudah ada yang mengaturnya.

Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu selalu gagal jadi orang miskin.

Jika tiba-tiba kondisi ekonomi "down", saya selalu terhibur mengingat kisah bisnis Abdurrahman bin Auf, tentang investasinya membeli kurma busuk.
Suatu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, Abdurrahman bin Auf  akan masuk surga terakhir karena terlalu kaya. Ini karena orang yang paling kaya akan dihisab paling lama.
Maka mendengar ini, Abdul Rahman bin Auf  pun berfikir keras, bagaimana agar bisa kembali menjadi miskin supaya dapat masuk surga lebih awal. Setelah Perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan sahabat menjadi busuk. Lalu harganya jatuh.
Abdurrahman bin Auf pun menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat tadi dengan harga kurma bagus.
Semuanya bersyukur. Alhamdulillah... kurma yang dikhawatirkan tidak laku, tiba-tiba laku keras! Diborong semuanya oleh Abdurrahman bin Auf. Sahabat gembira. Abdurrahman bin Auf pun juga gembira.
Sahabat lain gembira sebab semua dagangannya laku. Abdurrahman bin Auf gembira juga sebab dia berharap jatuh miskin! Masya Allah....hebatnya.
Coba kalau kita? Usaha diuji dikit, udah teriak tak tentu arah.
Abdurrahman bin Auf  merasa sangat lega, sebab tahu akan bakal masuk surga dulu, sebab sudah miskin.
Namun... Masya Allah.... Rencana Allah Subhanahu wa ta'ala itu memang terbaik.. Tiba-tiba, datang utusan dari Yaman membawa berita, Raja Yaman mencari kurma busuk.
Rupa-rupanya, di Yaman sedang berjangkit wabah penyakit menular, dan obat yang cocok adalah KURMA BUSUK !
Utusan Raja Yaman berniat memborong semua kurma Abdurrahman bin Auf r.a dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.

Allahu Akbar....


Orang lain berusaha keras jadi kaya. Sebaliknya, Abdurrahman bin Auf berusaha keras jadi miskin tapi selalu gagal. Benarlah firman Allah:
'Wahai manusia, di langit ada rezeki bagi kalian. Juga semua karunia yang dijanjikan pada kalian " ( Adz Dzariat ayat 22).
Jadi.. yang banyak memberi rezeki itu datangnya dari kurma yang bagus atau kurma yang busuk?
Allah Subhanahu wa ta'ala lah yang Memberi rezki
Semoga kisah ini dapat *menyuntik kembali semangat* dalam diri kita semua, yang sedang diuji dalam pekerjaan dan usaha kita, UNTUK LEBIH MENGUTAMAKAN URUSAN Kepada Allah dibanding urusan dunia yang sementara ini, aamiin. Kisah diatas sesuai dengan hadist; Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu anhu , ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

‎مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya.
Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. ”
Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/ 183); Ibnu Mâjah (no. 4105); Imam Ibnu Hibbân (no. 72–Mawâriduzh Zham’ân); al-Baihaqi (VII/288) dari Sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu.
Lafazh hadits ini milik Ibnu Mâjah rahimahullah.

Senin, 06 November 2017

Selalulah Libatkan Allah Dalam Urusanmu

Selalulah Libatkan Allah Dalam Urusanmu 

Kita selalu berhadapan dengan masalah dalam hidup ini. Dari masalah sederhana sampai masalah yang paling rumit. Kadang-kadang kita bingung, tidak tahu bagaimana caranya keluar dari masalah yang kita hadapi. Kemana-mana buntu, tidak terlihat sedikitpun jalan keluar. Maka segeralah minta pertolongan Allah. Mohon ampun kepada Nya dan mohon petunjuk Nya. Mohon agar diberikan jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapi. Seperti itulah sikap orang-orang yang beriman. 

Adakalanya pula kita merasa tidak bermasalah dalam mengambil keputusan. Merasa bahwa kita melihat sesuatu itu aman-aman saja menurut akal pikiran kita. Tidak terpikirkan sesuatu yang mungkin saja terjadi dibalik itu. Justru di sanalah kekeliruan kita, ternyata, sesuatu yang kita perkirakan akan aman-aman saja, sesuai dengan telaahan akal kita, ternyata berakhir di luar dugaan. Allah telah peringatkan di dalam firmannya pada surat Al Baqarah ayat 216; 'Boleh jadi yang kamu benci itu mendatangkan kebaikan bagimu, boleh jadi pula yang kamu senangi itu mendatangkan keburukan kepadamu. Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui.'   

Bagaimana caranya kita mengambil keputusan di saat-saat genting? Hendaklah libatkan Allah. Lakukan shalat istikharah. Minta petunjuk Nya apakah sesuatu itu perlu diteruskan atau barangkali harus ditinggalkan. 

Seorang anak muda yang sedang mencari calon pasangan hidup. Bertemu dengan seorang gadis yang sepintas menarik perhatiannya. Dia coba melakukan pendekatan untuk mengetahui dan mengenalnya. Tapi tetap dia tidak tahu secara utuh bagaimana sesungguhnya keperibadian gadis itu. Seyogianya pemuda ini beristikharah. Meminta pertolongan Allah sebelum mengambil keputusan. Misalnya saja dengan berdoa, 'Ya Allah, hati hamba tertarik kepada si Fulanah ini dan hamba ingin menjadikan dia pasangan hidup hamba. Ya Allah, seandainya dia akan menjadi pasangan hidup yang baik bagi hamba untuk kebaikan dunia dan akhirat di bawah ridha Engkau, maka mudahkanlah ya Allah urusan ini bagi hamba. Akan tetapi seandainya dia, jika menjadi pasangan hidup hamba akan membawa keburukan kepada hamba untuk urusan dunia dan akhirat hamba, maka pisahkanlah dia dari hamba dan gantilah calon pasangan hamba dengan yang lebih baik.' 

Begitu juga sebaliknya seandainya seorang anak gadis dipinang atau didekati oleh seorang anak muda. Mintakan petunjuk Allah apakah si pemuda itu akan membawa kebaikan untuk dunia dan akhirat sebelum menerima pinangannya. Jangan buru-buru menerima atau jangan buru-buru menolak. Karena kita tidak tahu apa-apa yang jadi rahasia Allah. Kita tidak tahu dan Allah yang mengetahui siapa dan bagaimana dia. Dan kita mintakan pertolongan Allah sebelum membuat keputusan.

****                     

Selasa, 03 Oktober 2017

Mabrur Sebelum Berhaji (dari majalah Hidayatullah)

Mabrur Sebelum Berhaji (dari majalah Hidayatullah)

Seorang Asep Sudrajat (61 tahun) bersama Asih, istrinya mewakili seorang yang mabrur sebelum berhaji, insya Allah. Hampir selama 20 tahun mereka menabung demi mewujudkan cita-cita mulia. Memenuhi panggilan Allah menuju tanah suci Mekah Al Mukarramah. Niat yang kuat dibuktikan dengan usaha sungguh-sungguh. Mengumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil warung kecil mereka yang seadanya.

Rp 50,830,000 terkumpul sudah. Hampir mencukupi untuk ongkos haji yang 27 juta rupiah per orang, ketika itu. Hanya perlu menambah sedikit agar benar-benar pas. Menabung satu tahun lagi barangkali tercukupi.

Niat sudah lengkap. Tekad sudah bulat. Mereka akan segera mendaftar di hari-hari depan. Hari-hari berikutnya mereka semakin giat berdagang. Menyisahkan hasil meski kecil. Hingga suatu pagi mereka mendengar kabar bahwa Kang Endi, kawan karibnya sesama jamaah masjid Ash-Shabirin, mendadak sakit. Ia dirawat di RS Hasan Sadikin, Bandung. Asep pun segera menjenguknya.

Kang Endi dirawat di ruang ICU. Tumor ganas menyerang dan menjalar. Begitu diagnosis dokter. Bergidik Asep mendengarnya. Ia besarkan hati sahabatnya untuk sabar, tawakal dan berdoa.

Hari kedelapan Kang Endi dipindahkan ke ruang kelas 3. Kamar yang gelap, pengap, berbau tak sedap dan cukup berantakan.

Hari kesebelas, saat Asep di sana, seorang perawat membawa surat. Tawaran untuk operasi tumor ganas. Biayanya hampir 50 juta rupiah. Dengan ekonomi yang sangat terbatas, keluarga Kang Endi hanya bisa gigit jari. Kondisinya semakin parah. Badannya semakin kurus dan lemah. Sorot matanya redup dan tak bisa bicara. Terkulai tak berdaya. Di pinggir ranjang. Asep sahabatnya mengambil keputusan besar. Berpamitan pulang.

Sesampai di rumah, Asep menyampaikan keputusannya kepada Asih, sang istri. “Bu, kondisi Kang Endi semakin memburuk. Bapak tidak sanggup melihat penderitaannya,“ papar Asep sambil bercerita lirih solusi yang ditawarkan pihak rumah sakit.

“Kasihan mereka ya Pak! Kita bisa bantu apa?” tanya Asih, iba. Trenyuh. “Kalau ibu berkenan, bagaimana bila dana tabungan haji kita diberikan saja kepada mereka semua untuk biaya operasi?” Asep menawarkan. Asih sempat kaget. “Diberikan? Waduh Pak, hampir 20 tahun kita menabung. Masak cita-cita ini pupus seketika dengan membantu orang lain?” tutur Asih memelas.

“Bu, banyak orang yang berhaji tapi belum tentu mabrur di sisi Allah. Mungkin ini jalan buat kita untuk meraih keridhaan Allah. Bapak yakin, bila kita menolong saudara kita, Insya Allah, kita pun akan ditolong Allah,” nasihat Asep.

Kalimat demi kalimat dari lidah suami yang penuh wibawa itu menyirami relung hati Asih. Istri shalihah itu pun akhirnya mengangguk setuju. Esok paginya, Asep dan Asih datang ke rumah sakit. Mengajak bicara istri Kang Endi sekaligus menyerahkan uang tersebut.

Istri Kang Endi tersentak, menangis, dan tak bisa berkata apa-apa. Suasana haru menyelimuti mereka. Uang itu dibawa ke bagian administrasi. Formulir diisi. Besok paginya jam 08.00 operasi tumor pun dijalani. Alhamdulillah.

Esoknya, sebelum operasi, dokter spesialis tulang yang selama ini menangani Kang Endi sempat berbincang dengan pihak keluarga. “Doakan ya agar operasi berjalan lancar! Oh ya, kalau boleh tahu, dari mana dana operasi ini?” tanya dokter yang tahu persis kondisi ekonomi keluarga Kang Endi.

“Alhamdulillah. Ada seorang tetangga kami yang membantu Dok. Namanya Pak Asep,” jawab istri Kang Endi.

“Memangnya, beliau usaha apa? Kok mau membantu dana hingga sebesar itu?” Di benak sang dokter, pastilah Asep seorang pengusaha sukses.

“Dia cuma usaha warung kecil saja kok di dekat rumah kami. Saya sendiri nggak percaya waktu dia dan istrinya memberikan bantuan sebesar itu,” tambahnya.

Alhamdulillah. Akhirnya operasi berjalan lancar. Seluruh keluarga, dokter dan perawat merasa gembira. Kang Endi tinggal menjalani masa penyembuhan pasca operasi. Selama itu, Pak Asep masih sering menjenguknya.

Suatu hari Asep dan sang dokter yang sedang memeriksa Kang Endi pun berkenalan. Dokter memuji kemurahan hati Pak Asep. Pak Asep hanya mampu mengembalikan pujian itu kepada Allah. Dokter itu kemudian meminta alamat Asep.

Beberapa pekan berlalu, Kang Endi sudah pulang dari rumah sakit. Malam itu, Asep dan Asih tengah berada di rumahnya. Warung mereka belum lagi tutup. Tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan pagar rumah mereka. Namun Asep dan Asih tak bisa mengenali mereka. Begitu mendekat, tahulah Asep pria yang datang adalah dokter yang merawat Kang Endi. Ia datang bersama istrinya.

Asep kikuk saat menerima mereka. Seumur hidup belum pernah menerima ‘tamu besar’ seperti malam itu. Mereka pun dipersilahkan masuk. Diberi sajian ala kadarnya. Mereka terlibat pembicaraan hangat. Asep pun menanyakan maksud kedatangan mereka. Dokter mengungkapkan niat mereka bersilaturrahim seraya menyatakan keharuannya terhadap pengorbanan Asep dan istrinya. “Kami ingin belajar ikhlas seperti Pak Asep dan Ibu,” ungkap sang dokter penuh perasaan. Asep mengelak. Merendah.

“Pak Asep dan Ibu, saya dan istri berniat menunaikan haji tahun depan. Saya mohon doa Bapak dan Ibu agar perjalanan kami dimudahkan oleh Allah Ta’ala. Saya yakin doa orang-orang shalih seperti Bapak dan Ibu akan dikabulkan Allah,” lanjut sang dokter. Berkali-kali Asep dan Asih mengaminkan, walau ada sedikit rasa sedih dan getir. Sebab tahun depan mereka juga seharusnya bisa berangkat ibadah haji.

“Tapi, supaya doa Bapak dan Ibu semakin dikabulkan oleh Allah, bagaimana jika Bapak dan Ibu berdoanya di tempat-tempat yang mustajab?” papar sang dokter sambil menatap Asep dalam-dalam.

Asep sempat bingung, tapi ia beranikan diri untuk bertanya. ”Maksud Pak Dokter?”

“Maksud kami, izinkan saya dan istri mengajak Bapak dan Ibu untuk berhaji bersama kami dan berdoa di sana sehingga Allah mengabulkan doa kita semua,” tutur sang dokter penuh suka cita.

Asep dan Asih tiba-tiba diam. Saling berpandangan. Hening. Tak ada jawaban dari Asep dan Asih. Hanya ada derai air mata Asep dalam pelukan erat sang dokter, dan uraian tangis haru Asih dalam pelukan istri sang dokter. Dan, di ujung malam itu, tangis Asep dan Asih semakin meledak dalam sujud-sujud yang teramat syahdu dan dalam pijar-pijar syukur yang menyala indah.

***

Subhanallah wa Alhamdulillah. Tiada kata yang bisa mewakili kecuali hanya kepada keagungan Allah kita memasrahkan diri.

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, nisacaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” ( Q. S. Muhammad : 7).

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “ Barang siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan berbagai kesulitannya pada hari kiamat. Dan barang siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat” (HR. Muslim). Wallahu’alam bishshawab…

(Kisah nyata dikutip dari majalah Hidayatullah edisi Desember 2007)

Selasa, 27 Juni 2017

Berhasilkah Kita Mencapai Derajat Taqwa Selepas Ramadhan?

Berhasilkah Kita Mencapai Derajat Taqwa Selepas Ramadhan? 

Allah mengingatkan orang yang beriman untuk berpuasa di bulan Ramadhan agar setelah itu mereka menjadi orang yang bertaqwa. Orang-orang yang berimanpun patuh. Mereka jalankan ibadah puasa, menahan diri dari lapar, haus dan syahwat. Mereka tegakkan shalat dengan sebaik yang mereka bisa, berjamaah di awal waktu. Lalu di penghujung Ramadhan muncul pertanyaan untuk diri sendiri, apakah aku berhasil menjadi orang yang bertaqwa.    

Pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab oleh yang bersangkutan sendiri. Mampukah dia memperbaiki dirinya dalam memelihara kepatuhannya kepada Allah sesudah selesai melalui latihan sebulan penuh di bulan Ramadhan. Di bulan puasa dikendalikannya hawa nafsunya, diperbaikinya cara beribadahnya. Lalu, setelah itu, mampukah dia mempertahankan pengendalian nafsu tadi itu. Mengendalikan dirinya agar tidak terjerumus kedalam kefasikan. Mengendalikan dirinya agar tidak melakukan hal-hal yang terlarang, apa juapun itu. Memelihara kepatuhan dan ketaatannya dalam beribadah kepada Allah. Tetap memelihara shalat di awal waktu dan hadir berjamaah ke mesjid untuk setiap shalat fardhu.   

Karena biasanya hal inilah yang sulit. Jamaah shalat subuh di hari kedua hari raya biasanya langsung menurun drastis. Banyak yang kelelahan akibat tertanduk hidangan hari raya, sehingga bangun subuh kesiangan. Dan kalau hari kedua bulan Syawal saja sudah terkulai lesu, hari-hari berikutnya biasanya jadi semakin lesu. Dan akhirnya, pencapaian (kalaupun berhasil) selama bulan Ramadhan rontok kembali. Tak terlihat bekasnya. Kalau itu yang terjadi, berarti derajat ketaqwaan yang jadi harapan di awal Ramadhan boleh jadi gagal diraih.  

Sebaliknya ada orang yang berusaha keras agar tetap istiqamah. Tetap berusaha mengendalikan dirinya dari berbagai godaan. Godaan yang memang semakin gencar saja datangnya. Mungkin karena setan yang dibelenggu selama Ramadhan, waktu dibebaskan Allah dari belenggunya, mengamuk mempengaruhi mereka-mereka yang sudah bersusah payah mengendalikan diri itu. 

Pengendalian diri adalah tujuan utama dari pelatihan selama Ramadhan. Pengendalian diri untuk menghindar dari bermaksiat. Dan pengendalian diri untuk menjaga kepatuhan. Kalau ini berhasil, mudah-mudahan kita sudah mencapai derajat taqwa.

****                    

Jumat, 31 Maret 2017

Dr. Zakir Naik: Bagi Muslim, Tentu Saja Harus Memilih Pemimpin Yang Seiman (Dari Islampos)

Dr. Zakir Naik: Bagi Muslim, Tentu Saja Harus Memilih Pemimpin Yang Seiman (Dari Islampos)

JAKARTA–Cendekiawan Muslim asal India Dr Zakir Naik bersilaturahim ke kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, yang terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (31/3/2017). 

Dalam kunjungan tersebut, Dr Zakir Naik mendapat beragam pertanyaan dari para audiens yang hadir di sana. Salah satunya terkait isu larangan umat Islam memilih pemimpin non-Muslim yang akhir-akhir ini ramai diperdebatkan oleh sejumlah kalangan di Indonesia.
Perdebatan itu muncul dikarenakan adanya perbedaan penafsiran tentang surah al-Maidah ayat 51.Bagaimana pandangan Zakir Naik tentang masalah tersebut? Kepada hadirin, dia menjelaskan bahwa ayat itu tidak secara spesifik membahas soal larangan umat Islam menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin. “Yang dilarang oleh surah al-Maidah ayat 51 adalah menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai auliya,” ujarnya, demikian seperti dikutip dari Republika. 

Pesan yang disampaikan surah al-Maidah bukan sekadar soal larangan menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin umat Islam. Tetapi juga larangan menjadikan mereka sebagai teman setia dan pelindung. 

Dr. Zakir Naik menambahkan, jika seandainya umat Islam dihadapkan pada dua pilihan antara memilih pemimpin Muslim atau pemimpin non-Muslim, maka pilihan yang lebih baik tentu saja adalah memilih pemimpin yang seiman.

Namun, Zakir mengingatkan kepada umat Islam agar selalu berlaku adil terhadap orang-orang non-Muslim.“Selama mereka (orang-orang non-Muslim) tidak mengusir kita (umat Islam) dari rumah, maka kita harus berbuat adil kepada mereka. Itu perintah Allah SWT yang disebutkan dalam Alquran,” ujarnya. 

Dr.Zakir naik mengatakan Allah SWT juga memerintahkan kepada kaum Muslim untuk berbuat baik dengan sesama manusia, termasuk non-Muslim. “Bahkan, di negara saya, India, sebagian besar masyarakat non-Muslim mencintai saya. Yang membenci saya justru para pemimpin politik di sana,” pungkasnya.

****

Minggu, 08 Januari 2017

Memperbaiki Tajwij Melalui WA

Memperbaiki Tajwij Melalui WA

Banyak hal-hal baik yang dapat dilakukan dengan whatsapp. Termasuk di antaranya mengaji bergiliran atau mentadarus al Quran bergantian melalui gadget dan merekamnya lalu dikirimkan untuk didengarkan oleh anggota grup. Ada grup orang sekampung kami (yang sebagian besar tinggal di perantauan), lalu ada yang memulai mengirimkan bacaan al Quran untuk disimak. Yang lain mulai ikut. Akhirnya terkumpul beberapa orang dan mereka bersepakat untuk melakukan pembacaan al Quran itu secara berkesinambungan. Masing-masing membaca dua atau tiga ayat. 

Mula-mula aku hanya mendengarkan saja bacaan-bacaan para dunsanak tersebut. Ternyata banyak yang tidak fasih. Tidak tepat panjang pendek bacaan, tertukar huruf yang satu dengan huruf yang lain, tidak mengerti kaidah tajwij dan sebagainya. Kita tahu bahwa huruf hijaiyah (huruf al Quran) itu banyak yang mirip kalau dibandingkan dengan huruf latin yang kita kenal. Misalnya ada dal (d) dengan dhad (dh), ada ta (t) dengan tha (th), sin (s) dengan syin (sy) dengan shad (sh) bahkan dengan tsa (ts). Ada qaf (q) dengan kaf (k) dan sebagainya. Lidah kita yang sudah terbiasa mengucapkan sarat (bukan syarat) atau mengatakan serikat (bukan syerikat) atau mengatakan wuduk (bukan wudhuk) bahkan mengatakan izin jadi ijin atau rezeki jadi rejeki, cenderung untuk keliru dalam melafadzkan huruf-huruf al Quran. 

Aku mencoba membetulkan bacaan dari satu dua orang. Alhamdulillah, mereka menghargai pembetulan dan meminta agar aku mengoreksi bacaan-bacaan berikutnya. Akhirnya kami membuat grup sendiri untuk peserta tadarus, begitu kami menyebutnya. Ada sekitar dua puluhan orang dalam grup ini tapi yang benar-benar aktif kurang dari separonya. Ada yang sudah sangat fasih bacaannya, ada yang masih perlu banyak dikoreksi. Alhamdulillah dengan melakukan tadarus ini setiap hari, terlihat kemajuan pada yang tadinya masih tertatih-tatih bacaannya.   

Di mesjid komplek perumahan kami, ada lima enam orang bapak-bapak yang biasa melakukan tadarus pula setiap malam Jum'at. Kegiatan ini sudah kami lakukan cukup lama. Tujuannya mula-mula adalah untuk memperbaiki bacaan bapak-bapak tersebut yang juga agak banyak kelirunya. Perbaikan bacaan di kalangan bapak-bapak ini kurang efektif. Pertama karena beliau-beliau ini memasang target jumlah yang dibaca (harus satu 'ain). Yang kedua terlalu banyak yang harus dikoreksi dan kalau semua dibetulkan umumnya menimbulkan ketidak nyamanan bagi yang membaca. Yang ketiga waktunya hanya sekali seminggu. 

Aku menawarkan tadarus melalui WA pula kepada bapak-bapak tersebut, persis seperti yang kami lakukan di grup, karena kami juga punya grup jamaah masjid. Sayang sementara ini belum ada tanggapan.  

**** 

Rabu, 05 Oktober 2016

Sudah Nyaris Menzinai, Pemuda Ini Bertaubat (Dari Tarbiyah,Net)

Sudah Nyaris Menzinai, Pemuda Ini Bertaubat (Dari Tarbiyah.Net)

Gadis itu cantik. Berparas ayu, dengan wajah mempesona. Sebagai pemuda normal, ia pun terpikat dengannya. Cinta tumbuh bersemai dalam hati, lalu akarnya menghunjam dan daun-daunnya meninggi.

“Aku sangat mencintainya sebagaimana seorang laki-laki mencintai seorang wanita,” kata pemuda itu seperti dikisahkan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Rupanya cinta itu tak hanya tumbuh rindang tetapi juga liar. Hingga ia pun menginginkan mencicipi madunya gadis pujaan yang tak lain masih sepupu. Berkali-kali ia mencoba merayu, namun sang gadis selalu menolaknya.

Hingga satu kesempatan datang. Kesempatan dalam kesempitan.

Suatu ketika, musim paceklik melanda. Orangtua gadis itu mengalami kesulitan ekonomi. Karena tahu bahwa pemuda tersebut adalah orang berada, mereka mengutus gadis itu meminta bantuan.

Pemuda tersebut memberinya 120 dinar. “Dengan satu syarat,” katanya memanfaatkan kondisi itu, “engkau mau menyerahkan dirimu.”

Kondisi ekonomi yang sulit membuat gadis itu terpaksa mengiyakan. Sebab ia sangat butuh uang. Ia perlu menyelamatkan keluarganya dari cengkraman paceklik yang menyeramkan.

Sang pemuda pun bersiap. Hanya berdua, ia berpikir akan segera memetik ranumnya buah yang selama ini diidam-idamkannya. Namun saat ia telah siap dan berada di atas pahanya, gadis itu mengatakan: “Bertaqwalah kepada Allah dan janganlah kau pecahkan tutup kecuali dengan cara yang sah.”

Seketika mendengar nama Allah disebut dan pesan taqwa diucapkan, pemuda itu gemetar. Hatinya bergetar. Dan ia pun meninggalkan gadis itu.

“Ambillah uang itu untukmu,” katanya sembari berlalu.

Beberapa waktu kemudian, ketika sedang safar, pemuda itu bermalam di sebuah gua. Tiba-tiba, batu besar jatuh dari gunung dan menutup pintu gua itu. Bersama dua pemuda lainnya, ia terperangkap di sana, tidak bisa keluar.

Merasa tak ada jalan keluar, ketiganya pun hanya mengandalkan doa. Doa dengan amal shalih andalan masing-masing. Bertawasul dengan amal kebaikan.

Ketika tiba giliran pemuda tersebut untuk berdoa dengan wasilan amal shalihnya, ia pun menyebutkan peristiwa itu; ketika ia bertaubat tidak jadi berzina dan memberikan 120 dinar secara cuma-cuma.

“Ya Allah, jika perbuatanku itu untuk mencari keridhaan-Mu, maka berilah kami jalan keluar dari cobaan ini.” Seketika, pintu gua tersebut bergeser. Hingga ketika ketiga pemuda di gua tersebut telah berdoa semuanya, pintu gua terbuka dan mereka bisa keluar dari gua tersebut.

[Muchlisin BK/Tarbiyah.net]

****

Senin, 12 September 2016

Kebersamaan Gotong Royong Aidil Qurban

Kebersamaan Gotong Royong Aidil Qurban   

Ini adalah kebiasaan yang bisa bertahan selama bertahun-tahun. Aku selalu ikut sejak aku hadir di komplek perumahan ini lebih 20 tahun yang lalu. Bergotong-royong di hari Aidil Qurban, menyembelih hewan kurban dan memotong-motongnya, memasukkan potongan-potongan daging hewan itu ke kantong plastik lalu membagi-bagikannya. Di awal waktu aku jadi penghuni komplek ini dulu, peserta gotong-royong itu lebih banyak anak muda anggota remaja mesjid. Tapi secara bertahap dan berangsur-angsur, orang-orang tua mereka mulai ikut melibatkan diri. 

Kami selalu mendatangkan jagal (terutama untuk sapi) dari luar. Mereka yang lebih profesional mempersiapkan sebelum sapi dipotong sampai menguliti dan membaginya menjadi potongan besar. Kami para jamaah mesjid lalu meneruskan mencincang dan memotong kecil-kecil daging-daging tersebut. Ada juga yang berpendapat, kenapa tidak diserahkan saja seluruh pekerjaan itu kepada tukang daging, bahkan sampai memasukkan ke kantong-kantong plastik? Hal itu tidak kami lakukan karena berkeyakinan bahwa pekerjaan ini adalah kegiatan amal.

Yang berkurban adalah kami-kami juga. Penghuni komplek dan beberapa orang dari luar. Dan kami semua ikut bergotong royong semampunya. Sebahagian besar terlibat dalam memotong daging, mencincang tulang, membagi daging-daging itu menjadi tumpukan, memasukkanya ke dalam plastik dan terakhir membagi-bagikannya. Beberapa hari sebelumnya kami sudah mengedarkan kupon ke masyarakat yang tinggal di luar komplek. Mereka diminta mengambil daging kurban sesudah waktu asyar di hari pemotongan. 

Kerja gotong-royong itu dimulai jam delapan pagi dan berakhir sekitar jam lima sore. Kami beristirahat untuk shalat zuhur dan makan siang. Makan siang yang disiapkan oleh ibu-ibu anggota majelis taklim, istri-istri kami. Ibu-ibu yang juga ikut membantu memasukkan tumpukan daging ke dalam kantong. Waktu ashar kami kembali berhenti sebentar untuk shalat. Sesudah shalat ashar tinggal pekerjaan menyelesaikan membuat tumpukan dan memasukkan daging ke dalam kantong.

Animo berkurban para penghuni komplek selalu tinggi. Kemarin kami memotong delapan belas ekor sapi dan sebelas ekor kambing. Artinya lebih dari seratus orang yang ikut berkurban. Ada pergeseran dari berkurban kambing ke berkurban sapi. Beberapa belas tahun yang lalu, kami pernah memotong hampir 50 ekor kambing dan sapi hanya sekitar 5 sampai 7 ekor. Tahun lalu adalah puncak jumlah kurban sapi sebanyak 22 ekor.

Kemarin kami membagi daging kurban itu menjadi lebih dari 1600 kantong. Jumlah ini disesuaikan dengan jumlah kupon yang diedarkan. Sebelum waktu ashar para penerima daging kurban sudah berdatangan. Mereka belum diizinkan masuk ke pekarangan mesjid. Sekitar jam empat sore dimulai membagikan kantong-kantong daging tersebut. Penerimanya disuruh antri memasuki pekarangan mesjid melalui pintu pagar yang dijaga oleh petugas keamanan komplek. Pekerjaan membagi itu selesai dalam waktu kurang dari satu jam. Setiap pekerja juga mendapat bagian satu kantong daging. 

Selesailah acara kerja sama sekali setahun itu. Tinggal rasa pegal dan linu sesudahnya. Alhamdulillah kami puas dengan pekerjaan tersebut. Mudah-mudahan Allah memberi kesempatan pula untuk melakukan hal yang sama tahun depan.

****                                                

Sabtu, 03 September 2016

Mana Yang Lebih Utama Dalam Berkurban? (Dari Islam Question And Answer)

Mana Yang Lebih Utama Dalam Berkurban? (Dari Islam Question And Answer)

Berkurban kambing atau patungan untuk satu sapi ?

Alhamdulillah

Sebaik-baik hewan kurban adalah unta, kemudian sapi, kemudian kambing, kemudian kurban kolektif dalam satu sapi, inilah pendapat Abu Hanifah dan Syafi’i, berdasarkan hadits Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada shalat Jum’at: 

  مَنْ راح في الساعة الأولى فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً ) رواه البخاري (881) ومسلم (850

“Barang siapa yang berangkat (ke masjid) pada awal waktu maka seakan ia mendapat badanah (unta), dan barang siapa yang berangkat pada waktu kedua maka ia seakan mendapat sapi, dan barang siapa yang berangkat pada waktu ketiga maka ia seakan mendapatkan kambing bertanduk, dan barang siapa yang berangkat pada waktu keempat maka seakan ia mendapatkan ayam, dan barang siapa yang berangkat pada waktu kelima maka seakan ia mendapatkan telur”. (HR. Bukhori 881, dan Muslim 850).

Karena kurban itu adalah sembelihan untuk bertaqarrub kepada Allah, maka unta (gemuk) lebih utama, seperti hady (sembelihan haji). Seekor kambing lebih baik dari pada patungan (kerjasama / kolektif) pada unta; karena tujuan berkurban adalah mengalirkan darah, dan orang yang berkurban perorangan ia bertaqarub kepada Allah dengan mengalirkan darah sepenuhnya. Dan kambing kibas adalah sebaik-baik kambing; karena kibas adalah hewan kurban Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan sebaik-baik daging. (al Mughni: 13/366).

Lajnah Daimah pernah ditanya: Mana yang lebih utama untuk berkurban, kambing kibas atau sapi? Mereka menjawab: “Sebaik-baik kurban adalah unta, lalu sapi, kemudian kambing, kemudian kurban kolektif dalam satu unta maupun sapi. Berdasarkan sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada shalat Jum’at: 

( مَنْ راح في الساعة الأولى فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً . . . إلخ الحديث

 “Barang siapa yang berangkat (ke masjid) pada awal waktu, maka seakan ia mendapatkan badanah (unta gemuk)…. dan seterusnya.

Hadits di atas menunjukkan adanya tingkatan dalam bertaqarrub kepada Allah antara unta, sapi dan kambing, dan tidak diragukan lagi bahwa berkurban adalah termasuk bentuk bertaqarrub kepada Allah yang paling agung, dan unta adalah yang paling mahal harganya, paling banyak dagingnya, paling banyak manfaatnya, oleh karenanya pendapat ini didukung oleh tiga imam, yaitu; Abu Hanifah, Syafi’i, dan Ahmad. Malik berkata: Kurban yang paling baik adalah kambing yang berumur 8-9 bulan, kemudian sapi, kemudian unta; karena Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkurban dengan dua kambing, dan beliau tidak akan melakukan sesuatu kecuali sesuatu tersebut adalah yang lebih utama.

Jawaban dari pendapat Imam Malik tersebut adalah: Bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak selalu melaksanakan yang lebih utama; sebagai bentuk kasih sayang beliau kepada umatnya; karena mereka berqudwah kepada beliau, dan Rasulullah tidak suka menyulitkan mereka. Dan telah dijelaskan sebelumnya tentang keutamaan unta, sapi dan kambing. Wallahu ‘alam. (Fatawa Lajnah Daimah: 11/398).

Syeikh Ibnu Utsaimin dalam “Ahkam Udhhiyyah” berkata: “Hewan kurban yang paling utama adalah unta, lalu sapi jika ia berkurban penuh, kemudian kambing kibas, kemudian kambing biasa, kemudian 1/7 unta kemudian 1/7 sapi. 

****

Kamis, 23 Juni 2016

Tadarus (2)

Tadarus  (2)   

Kegiatan rutin kami di bulan Ramadhan, yang terpelihara sejak aku jadi penduduk komplek ini lebih dua puluh tahun yang lalu adalah melakukan tadarus al Quran setiap selesai shalat tarawih. Cukup satu juz setiap malam yang kami baca bergantian, kecuali di sepuluh malam terakhir pada saat mana sebagian dari kami tinggal di mesjid sampai waktu sahur. 

Yang ingin aku ceritakan kali ini bukan tertib bertadarus itu.

Sejak belasan tahun yang lalu, peserta tadarus boleh dikatakan itu-itu saja, minus tentu saja beliau-beliau yang sudah mendahului kami, dipanggil Allah. Agak memprihatinkan bagiku, bahwa kemampuan membaca al Quran beliau-beliau ini boleh dikatakan tidak mengalami perubahan. Ternyata memang sangat sulit merubah kebiasaan lidah yang kelu di hari ketika umur sudah lanjut. Kemampuan membaca al Quran itu masih begitu-begitu saja dari tahun ke tahun. Terbalik-balik dalam melafazkan huruf yang satu ke huruf yang lain, berbaur panjang dengan pendek dan sebagainya. Bagi sebagian besar peserta tadarus, kondisi itu hampir tidak mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Apakah karena beliau mengaji di bulan puasa saja? Tidak juga. Untuk memperbaiki kelancaran kaji, kami adakan pula tadarusan sekali seminggu di luar bulan Ramadhan. Pesertanya lebih sedikit. Dicoba meluruskan bacaan-bacaan yang keliru itu. Tapi ternyata, sekali lagi tidak mudah. 

Ada sebuah perkecualian. Salah seorang jamaah (beliau sudah almarhum) belajar mengaji sejak dari menggunakan kitab Iqra' yang digunakan kanak-kanak. Beliau yang satu ini memang luar biasa. Dari membaca terbata-bata, sampai akhirnya mampu membaca al Quran, bahkan dengan tajuwij yang lauh lebih baik. Karena kepada beliau diperkenalkan huruf-huruf hijaiyah itu dengan benar sejak dari awal. Ibaratnya, beliau belajar mengukir dari nol, sehingga hasilnya jauh lebih bersih. Berbeda dengan bapak-bapak yang lain, yang sudah mempunyai polanya sendiri, yang ternyata lemah. Susah memperbaikinya.  

Aku ingat bagaimana kami belajar mengaji ketika kanak-kanak dulu. Guru mengaji kami sangat telaten mengajarkan cara membaca yang benar. Beliau bahkan terkesan keras. Setiap huruf hijaiyah itu harus dibaca dengan jelas. Harus dibedakan antara yang satu dengan yang lain, meskipun perbedaannya seolah-olah sangat tipis. Memang di sanalah kuncinya. Harus dibedakan antara ta denga tha. Antara dal dengan dhad. Antara dzal, zai dan zha. Antara qaf dengan kaf. Antara sin dengan syim dan shad. Lalu keharusan mengenali tanda-tanda bacaan. Membedakan yang harus dipanjangkan dengan yang pendek. Yang harus berdengung. Semua itu ada istilahnya. Oleh guru mengaji kami dulu istilah-istilah itu tidak diajarkan, tapi yang diajarkan adalah bagaimana membacanya dengan benar.  

Bagaimanapun, alhamdulillah karena kebiasaan bertadarus di mesjid komplek kami masih dapat terpelihara. Biarlah dengan bacaan yang tidak terlalu sempurna. Mudah-mudahan Allah tetap memberikan imbalan pahala. Aamiin. 

****                 

Selasa, 07 Juni 2016

Keikhlasan Umar, Salman dan Seorang Pembunuh (Dari Inilahcom)

Keikhlasan Umar, Salman dan Seorang Pembunuh (Dari Inilahcom)


Suatu hari, Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu. Tiba-tiba datanglah tiga orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka. Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata : "Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!"

"Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini!" Umar segera bangkit dan berkata : "Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?"

Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata :"Benar, wahai Amirul Mukminin."

"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya," kata Umar. Pemuda lusuh itu kemudian mulai bercerita:

"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, kuikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta). Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera kucabut pedangku dan kubunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."

"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu," kata pemuda yang ayahnya terbunuh. "Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh. "Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat," ujar Khalifah.

"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu," lanjut Umar.

"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala. "Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa."

Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata: "Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah," ujarnya dengan tegas.

"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh tiga hari. Aku akan kembali untuk diqishash."

"Mana bisa begitu?" ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.

"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?" tanya Umar.

"Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin."

"Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?" pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.

"Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji," kata Umar.

"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman," katanya. Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang:

"Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin." Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.

"Salman?" hardik Umar marah. "Kau belum mengenal pemuda ini, demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini."

"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya," jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.

Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang paling utama.

Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.

Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.

"Itu dia!" teriak Umar.

"Dia datang menepati janjinya!"

Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.

"Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..," ujarnya dengan susah payah,

"Tak kukira... urusan kaumku... menyita... banyak... waktu...."

"Kupacu... tungganganku... tanpa henti, hingga... ia sekarat di gurun... Terpaksa... kutinggalkan... lalu aku berlari dari sana.."

"Demi Allah," ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,

"Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?" tanya Umar.

"Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan... di kalangan Muslimin... tak ada lagi ksatria... menepati janji..." jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya: "Lalu kau, Salman, mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"

Kemudian Salman menjawab: "Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya."

Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu. Allahu Akbar! Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak. "Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu."

Semua orang tersentak kaget. "Kalian..." ujar Umar.

"Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?" Umar semakin haru.

Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana: "Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya."

"Allahu Akbar!" teriak hadirin.

Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.

MasyaAllah..., saya bangga menjadi muslim bersama kita ksatria-ksatria muslim yang memuliakan al Islam dengan berbagi pesan nasehatnya untuk berada dijalan-Nya..

Allahu Akbar !

Sumber : kitab : I'laam al-Naas Bi Ma Waqa'a Lil Bara.
****


Minggu, 03 April 2016

Soal Rezeki Banyak Sumbernya - Hati-hatilah Dengan Pinjaman Dari Bank

Soal Rezeki Banyak Sumbernya - Hati-hatilah Dengan Pinjaman Dari Bank
(Dari Buya Mas'ud Abidin via WA RantauNet)
 
Kemarin hujan mulai jam 9 pagi, seorang tukang rujak numpang berteduh di teras depan rumah saya. Masih penuh gerobaknya, buah-buah tertata rapi. Kulihat beliau membuka buku kecil, rupanya Al Quran. Beliau tekun dengan Al-Qurannya. Sampai jam 10 hujan belum berhenti. Saya mulai risau karena sepi tak ada pembeli datang. Saya keluar memberikan air minum.

“Kalau musim hujan jualannya repot juga ya, Pak… Mana jualannya masih banyak banget.”

Beliau tersenyum,
 
“Iya pak .. Mudah-mudahan ada rejekinya.. .” jawabnya mantap sambil senyum.

“Aamiin,” kataku.

“Kalau gak abis gimana, Pak?”. tanyaku.

“Kalau gak abis ya risiko .., kayak semangka, melon yang udah kebuka ya kasih ke tetangga, mereka juga seneng daripada kebuang. Kayak bengkoang, jambu, mangga yang masih bagus bisa disimpan. Mudah-mudahan aja dapet nilai sedekah,” katanya tersenyum indah, tak ada rasa cemas.

“Kalau hujan terus sampai sore gimana, Pak?” tanyaku lagi.

“Alhamdulillah … Berarti rejeki saya hari ini diizinkan banyak berdoa. Kan kalau hujan waktu mustajab buat berdoa …” Katanya sambil tersenyum dan tak terbayang kecemasan ...

“Dikasih kesempatan berdoa juga rejeki, kan pak …”

“Kalau gak dapet uang gimana, Pak?” tanyaku lagi.

“Berarti rejeki saya bersabar … Allah yang ngatur rejeki … Saya bergantung sama Allah aja ... Apa aja bentuk rejeki yang Allah kasih ya saya syukuri aja. Tapi Alhamdulillah, saya jualan rujak belum pernah kelaparan. Pernah gak dapat uang sama sekali, tau tau tetangga ngirimin makanan. Kita hidup cari apa, yang penting bisa makan biar ada tenaga buat ibadah dan usaha,” katanya lagi sambil memasukan Al Qurannya ke kotak di gerobak.

“Mumpung hujannya rintik … Saya bisa jalan ...Makasih banyak yaa. Pak diizinkan saya berteduh …”

Saya terpana … Betapa malunya, dipenuhi rasa gelisah ketika hujan datang, begitu khawatirnya rejeki materi tak didapat sampai mengabaikan nikmat yang ada di depan mata. Saya jadi sadar bahwa rezeki hidayah, dapat beribadah, dapat bersyukur dan bersabar adalah jauh lebih berharga daripada uang, harta dan jabatan ... Masya Allah ...
 
**
 
Rezeki datang dari Allah. Jangan gantungkan dia ke lembaga riba. Jack MA, orang terkaya di Asia cuma mamakai bank untuk transaksi. Dia sakit hati dengan bank karena bank tidak bersedia meminjaminya uang tatkala mau mulai berusaha di tahun 1998. Sejak itu dia tidak mau mengajukan pinjaman ke bank.
 
Seorang teman di Mentawai menggelar usaha dari membuka lapak di pinggir jalan. Ketika sudah punya toko sendiri mulailah berdatangan para pemberi kredit menawarkan bantuan dengan iming2 kalau dengan kredit usahanya akan menjadi lebih besar. Akhirnya usahanya memang lebih besar karena menjadi sebuah minimarket yang besar. Tetapi sekarang beliau terjerat hutang di salah satu bank yang ada serta kesulitan membayar cicilan tiap bulannya. Pilihannya sekarang menjual usaha itu atau dibiarkan disita oleh bank karena tidak sanggup melunasi hutang. Nah ini pelajaran besar tentang rezeki dan bagaimana cara mengelolanya.

Semoga bermanfaat untuk pelajaran bagi kita semua.

****

Selasa, 22 September 2015

Semangat Berkurban Di Komplek Kami

Semangat Berkurban Di Komplek Kami 

Sesuatu yang sangat pantas dan perlu disyukuri, betapa semangat untuk berkurban di hari Aidil Adha oleh warga komplek perumahan kami makin meningkat, paling tidak sampai tahun ini. Untuk tahun ini ada 20 ekor sapi yang in sya Allah akan kami potong hari Kamis lusa, sedangkan jumlah kambing masih belum diketahui pasti. Jumlah sapi ini meningkat dari 16 ekor tahun yang lalu. Memang para pengurban lebih cenderung ikut berkurban sapi dibandingkan kurban kambing. Jumlah kurban kambing yang suatu saat pernah mencapai 40 ekor, tahun lalu hanya 15 ekor.

Aku perlu mengulangi bahwa komplek ini terdiri dari sekitar 200an buah rumah dan sekitar 85% warganya beragama Islam. Kami punya mesjid jami' ukuran sederhana di tengah komplek. Dengan jumlah jamaah aktif sekitar 50 - 60 orang. Jamaah aktif maksudnya yang secara teratur hadir shalat berjamaah. Di mesjid inilah kegiatan-kegiatan ibadah dilakukan, termasuk memotong hewan korban di pekarangannya.  

Jumlah 20 ekor sapi tahun ini adalah rekor baru. Memang ada di antaranya yang satu keluarga berkurban satu ekor sapi, bahkan ada beberapa keluarga yang melakukan seperti itu. Secara keseluruhan memang terjadi peningkatan peserta berkurban dari tahun ke tahun. Salah satu penyebab meningkatnya keikutsertaan warga mungkin karena kami berusaha melakukan ibadah berkurban ini sebersih dan setransparan mungkin.  Sejak dari penentuan biaya kurban, pembelian, pemotongan dan pembagian daging kurban kami kerjakan serapi mungkin. Di samping itu kami para jamaah mesjid melibatkan diri dalam bergotong royong di hari pemotongan. Meskipun demikian kami memerlukan tenaga trampil khusus untuk memotong sapi. Tenaga seperti ini dibayar. Jadi biaya kurban yang harus disetor setiap peserta mencakup biaya operasional dan biaya untuk konsumsi.

Masing-masing pengurban sapi menerima segumpal daging seberat 2 kg, sedangkan pengurban kambing mendapat satu paha belakang kambing. Dan setiap pengurban juga mendapat dua buah kupon (untuk dua kantong daging kurban) yang boleh diserahkannya kepada siapa yang diinginkannya. Sisanya, dibagikan kepada masyarakat di sekitar komplek (yang sebelumnya didata dan diberi kupon) serta semua yang ikut  bergotong royong, termasuk tukang potong sapi. Tahun lalu kami membuat 1600 kantong berisi daging berikut jeroan dan tulang dengan berat setiap kantong sekitar 2.5 kg. Tahun ini rencananya akan kami buat 1700 kantong. 

Semua bagian yang bisa dibagi kami masukkan ke dalam tumpukan untuk dibagi, termasuk jeroan, lidah, otak dan buntut. Yang tidak dibagi hanyalah kaki dan kulit. Kulit yang pernah pula suatu saat kami potong-potong dan dibagi-bagi, tapi ternyata jadi tidak bermanfaat, akhirnya kami sepakati boleh dijual dan uangnya diserahkan ke pesantren. Kaki-kaki sapi dibagi kepada yang mendaftar untuk mendapatkannya. Alhamdulillah semua bisa berjalan dengan tertib.

Untuk konsumsi para pekerja gotong royong, ibu-ibu anggota majelis taklim menyiapkan makanan yang sama sekali tidak melibatkan daging kurban.   

Mudah-mudahan ibadah kurban kami diterima Allah Subhanahu wata'ala.  

****        

Senin, 14 September 2015

Mereka Berangkat Menunaikan Ibadah Haji

Mereka Berangkat Menunaikan Ibadah Haji 

Alhamdulillaah, tahun ini si Sulung akan pergi menemani suaminya melaksanakan ibadah haji ke Baitullah. Kesempatan ini benar-benar dengan kemudahan dari Allah Ta'ala. Mereka yang tadinya dijadwalkan berangkat tahun 2017, tiba-tiba ditawari untuk berangkat tahun ini, karena ada jamaah yang seharusnya berangkat sekarang, tidak bisa pergi. Mereka bersyukur dengan kemudahan ini, karena waktu penantian jamaah untuk pergi menunaikan rukun Islam ini semakin panjang saja setiap tahun. Adikku yang mendaftar tahun 2014 kemarin baru akan bisa berangkat insya Allah nanti  tahun 2028 (14 tahun kemudian). 

Sejak mendapat kepastian akan ikut berangkat tahun ini, mereka berdua memberi tahu ketiga anak-anaknya, si Kembar Rafi dan Rasyid serta Rayyan. Tentu saja dengan memberi pengertian kepada mereka bahwa papa dan bundanya pergi menunaikan ibadah. Reaksi pertama anak-anak itu bermacam-macam, meski intinya sama. Kenapa mereka tidak diajak ikut. Rafi protes dengan mengatakan, 'Afi mulai hari ini ga mau senyum sama bunda sampai bunda pulang dari haji.' Tapi untunglah itu hanya gertakan saja. Rasyid lain lagi komentarnya. 'Bunda sama papa mah keenakan, entar nginap di hotel. Anaknya ditinggalin.' Soalnya mereka sudah punya pengalaman dibawa pergi umrah tahun 2012 yang lalu. Si Bungsu Rayyan justru terlihat lebih santai.

Namun dalam berjalannya waktu setelah diulang-ulang menjelaskan bahwa perjalanan ini bukan untuk bersenang-senang tapi semata-mata untuk ibadah, anak-anak itu akhirnya mengerti juga. 

Mereka akan berangkat dari rumah hari ini, Selasa 15 September. Ditawarkan sama Rafi dan Rasyid apakah mau melihat papa dan bundanya berangkat, tapi mereka menolak dan memilih untuk sekolah seperti biasa. Waktu tadi pagi diantar ke sekolah oleh papa dan bunda, Rafi biasa-biasa saja ketika berpamitan. Rasyid agak berbeda, dia sengaja tidak mau menoleh dan langsung pergi menuju kelasnya. Sepertinya Rasyid memang agak sedikit galau di saat-saat terakhir ini.  

Aku bisa merasakan bahwa si Sulung agak terharu untuk meninggalkan ketiga puteranya selama perjalanan haji. Mereka memang belum pernah berpisah lama. Beberapa pekan yang lalu, ketika mereka mengikuti manasik selama dua hari dua malam di Ciloto, anak-anak mereka tinggal dengan kami. Alhamdulillah tidak ada masalah. Tapi sekarang mereka akan pergi untuk 25 hari. Aku menasihati si Sulung dan suaminya agar tegar, dan berkonsentrasi untuk berangkat. Serahkan segalanya kepada Allah. Karena Allah adalah sebaik-baik tempat berserah diri.  Aku ingatkan bagaimana dulu kami juga meninggalkan mereka waktu kami menunaikan ibadah haji di tahun 1990. Saat itu si Bungsu baru berumur tiga setengah tahun. Mereka di tinggal dengan si mBok dan keluarga adikku di Balikpapan. Aku yang biasanya juga 'cengeng' ketika harus meninggalkan anak-anak untuk waktu lama, saat itu, alhamdulillah dengan izin Allah bisa tenang dan mantap selama berada di Tanah Suci. Dan dengan pertolongan Allah semuanya berlalu dengan aman.

Kami (aku, istri dan si Bungsu) akan mengurus ketiga anak-anak itu selama ditinggal orang tuanya. Mereka akan menginap di 'rumah belakang' (begitu mereka menyebutnya), dan akan tidur dengan Onti (aunty) di kamarnya. Semoga Allah memudahkan segala-galanya, baik untuk perjalanan si Sulung dan suaminya, begitu juga dengan anak-anaknya yang ditinggal dengan kami. Mudah-mudahan mereka mendapat haji yang mabrur. Aamiin.

****                                    

Senin, 31 Agustus 2015

Menangislah Karena Takut Pada Allah (Dari Islampos)

Menangislah Karena Takut pada Allah (Dari Islampos)

Senin 16 Zulkaedah 1436 / 31 Agustus 2015 15:40

Oleh : Mabsus Abu Fatih, @mabsus
 
 
 



MENANGIS merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Bisa dipastikan, tidak ada manusia –termasuk kita- yang tidak pernah menangis selama hidupnya. Ya, menangis adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Ada yang menangis karena hal yang membahagiakan. Mendapatkan keturunan, atau mendapatkan jodoh yang telah dinanti sekian lama misalnya.

Ada juga menangis yang disebabkan karena duka mendalam. Duka kehilangan sanak saudara, kehilangan orang terkasih, kehilangan harta benda atau karena terusir dari tempat kelahiran seperti yang dialami saudara-saudara kita di Palestina. Mereka menangis karena diusir oleh kaum Zionis terlaknat.

Contoh lain yang terbaru adalah apa yang dialami saudara-saudara kita di Kampung Pulo – Jakarta Timur. Mereka harus menangis lantaran dipaksa pindah dari Kampung Pulo, tempat yang telah mereka tempati selama tiga generasi lamanya. Wajar mereka menangis. Bagaimana tidak, awalnya mereka dijanjikan kampung deret di lokasi yang sekarang diratakan, tapi nyatanya mereka malah digusur.

Bagaimana tidak menangis, mereka digusur gubernur DKI Jakarta, Ahok dengan alasan telah menempati lahan yang seharusnya menjadi resapan air. Sementara pada saat yang sama, mereka menyaksikan bagaimana perumahan elit dan mall yang juga sama-sama berdiri di lahan yang menjadi resapan air ternyata dibiarkan begitu saja.

Mall Kelapa Gading dan Kelapa Gading Square adalah contoh dari bagunan mewah dan sentra bisnis yang telah merebut daerah resapan air bahkan persawahan. Kenapa Mall Kelapa Gading dan Kelapa Gading Square tidak disentuh, sementara Kampung Pulo diobrak-abrik? Apakah karena Mall Kelapa Gading dan Kelapa Gading Square milik konglomerat dan kapitalis?

Semoga Allah memberikan kesabaran kepada saudara-saudara kita di Kampung Pulo, dan daerah-daerah lainnya. Hanya kepada Allah-lah urusan orang-orang dzalim kita serahkan.

Kembali kepada persoalan menangis. Apakah menangis hanya terjadi karena hal bahagia atau duka mendalam semata? Ternyata tidak. Ada penjelasan ulama yang berkaitan dengan menangis. Pendapat Syaikh Shalih bin Shuwailih Al-Hasawy dalam bukunya Tangis Para Salaf hal. 17-18 misalnya. Dalam buku yang merupakan terjemahan dari “Al-khosyatu wa al-bukâu” tersebut, Syaikh Shalih bin Shuwailih al-Hasawy menjelaskan bahwa tangisan terbagi menjadi tiga macam.

Pertama, tangisan karena kegembiraan dan tangisan kebahagiaan. Contoh dari tangisan ini adalah sebagaimana disebutkan dalam kisah hijrah Abu Bakar ash-Shiddiq, ketika beliau berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Bolehkah aku menyertaimu wahai Rasulullah?”. Rasul menjawab: “Ya”. ‘Aisyah menceritakan: “Maka menangislah Abu Bakar karena gembiranya. Padahal sebelumnya tidak pernah aku mengira ada seseorang yang menangis karena gembira”

Kedua, tangisan karena kesedihan sebab telah kehilangan kekasih atau karib kerabat, atau karena musibah yang menimpa kaum muslimin. Ini merupakan kasih sayang yang Allah resapkan ke dalam hati hamba-hamba-Nya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah Shallallu ‘alaihi wa sallam ketika beliau meneteskan air mata di saat kematian putera beliau bernama Ibrahim. Abdurrahman bin ‘Auf berkata kepada beliau: “Engkau juga menangis wahai Rasulullah?”. Beliau berkata: “Wahai Ibnu ‘Auf, ini adalah air mata kasih sayang”

Ketiga, ini merupakan jenis tangisan yang paling agung dan paling mulia. Yaitu, tangisan karena takut kepada Allah Subhânahu wa ta’âlâ. Tangisan jenis ini disebutkan di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.

Dalam Al-Qur’an, misalnya disebutkan di dalam QS Al-Isrâ’[17] : 107-109, “Katakanlah, ‘Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, Dan mereka berkata: “Maha suci Tuhan Kami, Sesungguhnya janji Tuhan Kami pasti dipenuhi”. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.

Disamping QS Al-Isra tersebut, ayat yang membicarakan tentang menangis karena takut kepada Allah bisa ditemukan di dalam QS Maryam [19]:58, QS Al-Mâidah [5]:83, at-Tawbah [9]:91-92, QS An-Najm [53]:59-60.

Juga disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, ”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak akan masuk neraka seorang lelaki yang menangis karena takut kepada Allah, sehingga air susu kembali ke puting susunya. Dan tidak akan berkumpul debu fi sabilillah dengan asap jahannam selamanya’” (HR at-Tirmidzi dan An-Nasâi, at-Tirmidzi berkata: “Hasan Shahîh.”)

Lebih dari itu, menangis karena takut kepada Allah SWT bukan hanya agung dan mulia, melainkan juga merupakan amalan yang disunahkan. Bahkan perasaan takutnya seorang hamba kepada Allah itu sendiri fardlu hukumnya. (Min Muqâwimât an-Nafsiyah al-Islâmiyah, Daarul Ummah, Beirut. Hal. 40 dan Hal. 46)

Semoga kita termasuk orang-orang yang bukan hanya bisa menangis lantaran bahagia dan sedih semata, tetapi kita juga bisa menangis lantaran takutnya kita kepada Allah Ta’ala. Âmîn Yâ Rabbal ‘Âlamîn. 

Wallâhu a’lâm bi al-shawâb.

****