Selasa, 18 Desember 2012

Membina Kekompakan

Membina Kekompakan 

Sepertinya ini menu baru di perusahaan-perusahaan. Aku sudah mendengar, sih, waktu aku masih bertugas di kantor Total Jakarta, bahwa kawan-kawan dari Balikpapan, di daerah operasional, melakukan perjalanan untuk Teamwork Building. Ketika aku dulu bertugas di Balikpapan sampai tahun 1993, istilah tersebut belum dikenal.

Di tempat aku sekarang bertugas, sudah dua kali aku ikut kegiatan yang sama. Tahun lalu, di bulan Desember juga, kami pergi ke Bali. Tahun ini, pekan yang lalu kami pergi ke Jogya, untuk acara yang sama. Intinya adalah membina kebersamaan, kekompakan sebagai sesama anggota  team tanpa membeda-bedakan kepangkatan. Kita lupakan pangkat, jabatan, posisi atasan dan bawahan, lalu beraktifitas bersama-sama. 

Kami berangkat ke Jogya sebanyak 13 orang. Mewakili barbagai usia dan berbagai posisi. Berkumpul di bandar Soeta, naik pesawat yang sama di kelas biasa. Lalu di Jogya naik bus bersama-sama, makan di restoran bersama, tinggal di hotel yang sama (masing-masing satu orang satu kamar).

Perjalanan kemarin itu diawali hari Jum'at pagi. Naik pesawat Lion Air, yang kebetulan sepesawat dengan Jokowi gubernur DKI yang baru, yang juga duduk di kelas biasa. Aku cukup terpesona melihat kesederhanaannya. 

Lalu di Jogya, kami sudah dijemput oleh sebuah bus pariwisata. Langsung menuju ke lereng Merapi, melihat daerah bekas bencana erupsi Merapi tahun 2010 yang lalu. Ada lima buah jeep kuno (bodynya saja kuno, mesinnya Kijang) untuk kami kendarai melalui jalan-jalan offroad di sana. Sebuah piknik sebenarnya. Kami jelajahi lereng dan tepi sungai aliran lava dingin yang cukup mencekam dengan jeep offroad tersebut. Banyak kampung dan perumahan yang sudah ditinggalkan karena memang sudah tinggal puing-puing. Kami sempatkan untuk shalat Jum'at di sebuah mesjid di sebuah kampung di situ.

Sesudah makan siang kami menuju ke Prambanan. Hujan rintik-rintik ketika kami sampai di sana. Prambanan cukup ramai di siang hari itu. Kami naik dan masuk ke candi-candi yang besar yang tidak aku perhatikan betul namanya. Dari Prambanan baru kami check in di hotel Amani di Jl. Diponegoro. Malamnya kami makan malam di sebuah restoran (rumah) antik, entah dimana  persisnya. Maklumlah aku tidak kenal Jogya.    

Hari kedua kami lewatkan dengan menjelajah gua Pindul di  pegunungan Kidul. Naik pelampung ban besar (satu ban untuk satu orang) dengan posisi duduk setengah berbaring menengadah di atas lingkaran ban pelampung. Kami juga memakai baju pelampung. Berhanyut-hanyut (dipandu) di dalam sungai yang melalui gua tersebut sambil memandang ke langit-langit gua yang disenter oleh pemandu kami. Kalau senter tidak dinyalakan bagian dalam gua itu gelap.

Semuanya ikut. Semuanya berbasah-basah di air sungai yang keruh coklat itu. Dan pengunjung gua itu ramai. Ada orang asing dari rombongan lain yang juga ikut petualangan itu. 

Ada dua etape acara berhanyut-hanyut ini. Sesudah melalui gua yang katanya 350m panjangnya, kami naik dulu untuk kemudian berjalan di pematang sawah, lalu masuk kembali ke sungai di bagian hilirnya. Bahagian ini sedikit berjeram kecil dengan arus yang lumayan kencang.

Secara keseluruhan rangkaian acara demi acara itu cukup menarik. Kami semua kompak mengikutinya. Artinya program Teamwork Building selama acara itu berhasil. Di kantor? Karena kami tidak banyak, kami lumayan kompak juga. 

*****                            

Sabtu, 08 Desember 2012

Imam

Imam

Beberapa tahun yang lalu, calon menantuku berkomentar, 'Sudah tiga kali saya ikut shalat di mesjid ini pas kebetulan oom terus yang jadi imam.' Aku tidak menanggapi komentarnya itu. Beberapa pekan kemudian setelah dia resmi menjadi menantuku, dan dia ikut lagi shalat berjamaah di mesjid dia berkomentar lagi, 'Kayanya di mesjid ini papa (sekarang dia memanggilku papa) sering jadi imam, ya.' Kali ini aku jawab. 'Saya memang dijadikan imam oleh jamaah mesjid ini.' Dia terheran-heran. 'Dijadikan imam bagaimana maksudnya,' tanyanya lebih jauh.

Lalu aku jelaskan bahwa kami melakukan pemilihan imam di mesjid ini. Ada beberapa orang kandidat. Ada juri, seorang ustad dari luar komplek. Ada pemilihan oleh jamaah. Sebelumnya ada usulan dari fihak jamaah siapa-siapa saja yang sebaiknya dijadikan imam di mesjid. Maka diusulkan beberapa nama. Mulanya diusulkan agar mereka-mereka yang diusulkan tersebut bergantian jadi imam. Ada pula yang mengusul agar imam utama cukup satu orang. Kalau dia berhalangan baru digantikan oleh imam kedua. Jika imam pertama dan kedua berhalangan digantikan oleh imam ketiga. Begitu seterusnya. Juri, yang adalah seorang ustad yang rutin memberi ceramah di mesjid mengingatkan agar pemilihan imam ini didasarkan kepada kemampuannya menjadi seorang imam seperti yang dijelaskan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Yang terbaik dan terbanyak hafalannya, jika dua orang sama bagusnya, yang lebih menguasai sunnah, jika sama juga, yang lebih dahulu jadi penghuni komplek. Jika ternyata sama juga, yang lebih tua. Begitu kira-kira kriteria dalam memilih calon imam.

Alhamdulillah, kami ikuti seperti itu. Maka terpilihlah imam satu sampai imam nomor lima. Dan imam-imam itu tidak tampil bergantian melainkan berdasarkan kehadiran masing-masing sesuai nomor urut. 

Dengan cara seperti itu aku terpilih jadi imam mesjid lebih sepuluh tahun yang lalu. Alhamdulillah tidak pernah ada masalah. Aku memikul tugas jadi imam itu sebagai amanah. Di mesjid kami tidak ada honor atau imbalan untuk imam. Selama aku tidak pergi kemana-mana dan tidak punya uzur, aku selalu berusaha hadir untuk shalat di mesjid. Dan selama ini berjalan aman-aman saja. 

Beberapa bulan ini, cucu kembarku mulai pula memperhatikan bahwa selalu saja aku yang jadi imam di mesjid. Mereka pun bertanya, 'kok imamnya inyiak terus?' 

Yang membahagiakanku adalah pemberitahuan dari cucu-cucuku itu bahwa mereka juga sudah pernah jadi imam di sekolah. Dan bunda mereka, puteriku menggumamkan doa; Rabbana hablana min azwaajina wa dzurriyyatina  qurrata a'yun waj'alna lilmuttaqiina imaaman.  (Wahai Rabb kami! karuniakanlah kepada kami pasangan kami dan anak-anak kami yang jadi penyejuk mata dan jadikanlah kami menjadi imam bagi orang-orang yang bertaqwa.) 
Inilah foto Muhammad Rafi Auliya menjadi imam.......

                           

Jumat, 30 November 2012

Jangan Jadi Orang Yang Durhaka

Jangan Jadi Orang Yang Durhaka 

Durhaka artinya melawan, mengingkari, melukai yang didurhakai. Ternyata durhaka itu bermacam-macam dan bertingkat-tingkat pula. Perbuatan durhaka yang paling berat adalah melawan perintah Allah. Mendurhakai ketetapan-ketetapan Allah. Melanggar dengan mengabaikan apa-apa yang diperintahkan Allah atau melanggar dengan mengerjakan apa-apa yang dilarang-Nya. Allah murka kepada orang-orang seperti ini sampai mereka bertaubat dan minta ampun.

Yang kedua durhaka kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Suatu ketika, dalam sebuah perjalanan yang jauh di bulan Ramadhan, Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam membatalkan puasa beliau di sebelah petang dan menyuruh para pengikut beliau untuk melakukan hal yang sama. Ada di antara yang hadir ketika itu enggan membatalkan puasanya, dan hal itu diberitahukan orang kepada Rasulullah. Beliau mengatakan bahwa mereka yang tidak membatalkan puasa padahal sudah dicontohkan dan disuruh itu sebagai pendurhaka. Ketika kita yang hidup sekarang ini diberitahu bahwa suatu amalan diajarkan dan diingatkan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam untuk mengerjakan, lalu kita menyangkalnya dengan mengatakan bahwa hal tersebut tidak berlaku untuk diri kita dengan alasan apapun, berarti kita telah mendurhakai ajaran Rasulullah. Telah durhaka kepada beliau.
                           
Dalam hubungan sesama manusia biasa, kebanyakan orang menganggap yang disebut durhaka itu hanya sebatas anak yang melawan dan melecehkan orang tua saja. Seorang adik yang melecehkan kakaknya tidak dikatakan durhaka, tapi disebut 'melawan' saja. Padahal sebenarnya perbuatan seperti itu, melawan dan melecehkan kakak termasuk kategori durhaka juga. Begitu juga seorang istri yang melawan dan melecehkan suami, disebut sebagai mendurhakai suami.

Mungkin akan lebih jelas kalau kita memahami bagaimana hukum mendurhaka. Dalam Islam, mendurhakai orang tua termasuk perbuatan dosa besar. Seorang Muslim dilarang berkata yang menyakitkan hati orang tuanya. Bahkan al Quran melarang kita menampakkan rasa kesal dan mengucapkan kata-kata 'cis' atau kata 'ah' kepada orang tua. Perbuatan seperti itu termasuk kedurhakaan (lihat surah Al Israa' (17) ayat 23). Seorang anak harus senantiasa berbakti dengan perbuatan, dengan perkataan kepada orang tuanya, terlebih-lebih ketika orang tuanya tersebut telah lanjut usia dan lemah.

Istri yang tidak mentaati suami dalam hal-hal kebenaran termasuk pendurhaka. Istri yang shalihah adalah istri yang senantiasa berbakti kepada suami dan mengerjakan baktinya itu semata-mata karena Allah. Karena begitu diajarkan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Sabda beliau, seandainya ada kewajiban manusia menyembah kepada manusia, maka akan diwajibkan bagi istri menyembah kepada suami. 

Dalam sebuah pengajian di mesjid kami ketika seorang ustad membahas tentang pengabdian istri kepada suami ini, ada yang bertanya, bagaimana kalau ada seorang istri taat dan berbakti kepada suami sementara suaminya zalim. Jawab ustad tersebut, ketaatan si istri adalah bukti keberimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya sedangkan kezaliman suami adalah kedurhakaan sang suami tersebut kepada Allah. Jadi, meski suami zalim, si istri tetap wajib taat juga, lanjutan pertanyaan. Jawab ustad, selama kezalimannya itu tidak sampai menyebabkan si istri harus mengingkari perintah-perintah Allah, maka dia tetap wajib untuk taat. Contoh istri dari seorang suami yang zalim ini adalah istri Firaun (lihat surah At Tahrim (66) ayat 11).

Maka dari itu, peliharalah diri kita masing-masing dari kedurhakaan.

*****
                                     

Minggu, 25 November 2012

Sighat Ta'lik

Sighat Ta'lik

Aku beberapa kali menyaksikan acara akad nikah  dalam dua bulan terakhir. Hal yang mengingatkanku pada saat aku menikahkan puteri-puteriku beberapa tahun yang lalu. Aku teringat nasihat seorang ustad tentang masalah sighat ta'lik. Ustad itu mengingatkan agar pembacaan sighat ta'lik tidak perlu dilaksanakan. Waktu itu aku bertanya, kenapa demikian? Jawab beliau, karena tidak ada dalilnya. Yang lebih tidak elok lagi, tambah beliau, baru saja mengucapkan kabul (jawaban terhadap ijab, atau pernyataan kesanggupan menikah), masakan sudah berbicara dan berikrar lagi tentang perceraian alias talak.

Sighat ta'lik adalah ikrar atau janji dari pengantin pria yang diucapkan segera sesudah ijab kabul. Isinya, bahwa jika dia (yang baru beberapa detik menikah ini) suatu saat nanti menyia-nyiakan istrinya seperti meninggalkan istrinya tanpa pesan selama dua tahun berturut-turut, atau tidak memberikan nafkah batin selama tiga bulan berturut-turut, atau menyakiti tubuh istrinya, sementara istrinya (yang baru dinikahinya beberapa detik yang lalu ini) tidak rela, lalu dia mengadu kepada pengadilan agama, dan pengaduannya itu diterima, maka jatuhlah talak sang pengantin pria satu kali. Begitu lebih kurang isi janji sighat ta'lik tersebut.

Tapi, bukankah dengan berikrar seperti itu, berarti bahwa si pengantin pria mengikat dirinya dengan janji bahwa dia tidak akan menyia-nyiakan istrinya? Janji itu seharusnya disimpannya dalam hatinya saja, untuk ditaatinya, dan bukan untuk dipersaksikan pula oleh orang banyak. 

Ada pula acara lain yang biasanya dilakukan oleh calon pengantin wanita, yakni permohonan kepada ayah kandungnya untuk menikahkannya dengan pria pujaan hati atau pilihannya, yang padahal sudah hadir untuk melaksanakan acara ijab kabul. Kalaulah memang perlu meminta pertolongan seperti itu, bukankah lebih baik dilakukannya dari hati ke hati saja dengan ayahnya, tanpa disaksikan orang banyak dan di majelis pernikahannya sendiri seperti itu? Repotnya, acara seperti ini dibimbing dan disutradarai langsung saat itu juga oleh petugas KUA. Entah apa perlunya. 

Mengetahui kemungkinan dia akan disuruh minta tolong seperti itu pula, seorang kemenakan perempuan minta tolong kepada ibunya agar mengingatkan pak penghulu untuk melewatkan saja acara minta tolong menikahkan itu. Dan aku dimintatolongi oleh ibunya untuk menyampaikan hal tersebut kepada pak penghulu. Jadi mau yang langsung saja, tanya petugas KUA itu dan aku jawab iya, dengan ringkas. Waktu menikahkan puteri-puteriku dulu, acara seperti ini juga tidak dilakukan.

Masih banyak sebenarnya acara pernak-pernik yang dilakukan orang dalam rangkaian acara akad nikah. Kadang-kadang acara-acara tambahan itu dipimpin langsung oleh pak penghulu. Misalnya  acara memasangkan cincin. Biasanya dibumbui dengan komentar-komentar yang agak-agak menjurus. Yang membuat para pendengarnya tersipu-sipu. Hal yang sepertinya mengurangi kesucian acara akad nikah tersebut. 

******

                  

Kamis, 15 November 2012

Maal Hijriyah 1434

Maal Hijriyah 1434

Tidak untuk berlatah-latah, berakhirnya tahun 1433 Hijriyah bagiku merupakan sebuah tonggak cukup istimewa. Istimewanya karena dengan berlalunya bulan Zulqaidah 1433 Hijriyah yang lalu, aku sudah menjalani kehidupan ini sebanyak yang dijalani oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam. Sebanyak 63 tahun. Sebuah tonggak yang perlu direnungkan tentu saja. Sudah seberapa siapkah aku untuk 'hari esok'? Waltanzhur nafsun maa qaddamat lighad..  (al Hasyr ayat 18). 

Untuk menghitung-hitung diri. Untuk mengevaluasi sedang dimana dan sedang kemana kira-kira aku ini. Apakah aku masih banyak terhanyut dengan dunia yang penuh godaan ini? Atau aku sedang meniti buih di atasnya? Atau sedang bermalas-malas tidak terlalu tahu entah akan kemana? Subhanallah.....

Menghitung diri bukan pekerjaan mudah. Salah-salah hitung bisa-bisa terkategori sebagai orang yang riya dan sombong. Sebaliknya salah-salah hitung bisa menjadikan diri memandang enteng. Merasa serba masih tidak apa-apa. Lalu berlanjut dengan gelimang salah dan khilaf. Dalam rangkaian kejahatan dan dosa.

63 tahun jelas meninggalkan banyak sekali tanda-tanda. Dahulu masih gesit, sekarang sudah mulai lamban. Dahulu masih berkilat-kilat, sekarang sudah mulai pudar. Dahulu masih berambut hitam, sekarang sudah penuh uban. Ringkasnya, dahulu masih muda belia, sekarang sudah mulai beranjak tua. Semua itu adalah tanda dan peringatan. Bahwa perjalanan hidup ini semakin mendekati penghujung yang tidak mungkin disangkal. Orang biasa berkelakar, bahwa kalau sudah melewati usia Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam yang dijalani itu adalah bonus. Adalah tambahan.   

Bonus kalau yang sebelumnya sudah diisi dengan amalan yang banyak. Bagaimana kita akan menyebut bonus kalau amalan selama ini masih minus? Masih jauh dari mencukupi? Masih banyak yang nilainya pasti buruk di hadapan Allah? Ya Allah Engkau Yang Maha Menilai keberadaan diri hamba-Mu ini.

Di garis batas umur istimewa ini kulantunkan doa kepada Allah....

Ya Allah, hambamu yang dhaif ini, telah mencoba berbuat dengan kemampuan yang terbatas. Engkau Maha Mengetahui tentang apa yang telah hamba perbuat. Ya Allah ampunilah kekhilafan dan kesalahan dari perbuatan-perbuatan hamba. Yang tersengaja ataupun yang tidak tersengaja. Ya Allah terimalah amalan hamba yang tidak seberapa. Yang penuh dengan cacad dan kekurangan. Ya Allah matikanlah hamba pada waktunya dalam keadaan husnul khatimah.  Aamiin.....

*****                                

Sabtu, 10 November 2012

Senantiasalah Minta Perlindungan Allah!

Senantiasalah Minta Perlindungan Allah! 

Tidak saja ketika akan membaca Al Quran kita disuruh untuk minta perlindungan Allah (dari godaan syetan yang dirajam). Banyak sekali peringatan Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam agar kita senantiasa meminta perlindungan kepada Allah. Sebuah contoh saja, beliau  shalallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan supaya kita, diujung shalat sebelum mengucapkan salam, membaca: Allahumma inni a'uudzubika min 'adzzaabi jahannam wa min adzzabil qabri, wa min fitnaatil mahyaa wal mamaati wa min fitnati masihiddajjaal. (Wahai Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka jahanam dan siksa kubur, dari fitnah hidup dan mati dan dari fitnah masihiddajjal).  

Mintalah senantiasa perlindungan Allah subhanahu wa ta'ala atas hal-hal tersebut. Bayangkan betapa dahsyatnya siksa jahanam. Siksa dengan rasa sakit bukan main sakit dirasakan terus menerus. Ada yang dalam waktu tertentu, ada yang dalam waktu selama-lamanya. Dalam waktu tertentu itu pun hendaklah disadari bahwa satu hari ukuran akhirat setara ukurannya dengan seribu tahun kehidupan dunia. Seandainya kita disiksa hanya satu hari saja, sama nilai waktunya dengan seribu tahun dunia. Seandainya kita pernah mengalami sakitnya jari karena terjepit pintu yang kemudian terasa bersenut-senut sepanjang malam, maka siksa di neraka jahanam itu jauh lebih dahsyat dari rasa sakit terjepit pintu. Dan waktunya tidak hanya sepanjang malam tetapi berketerusan sampai seribu tahun dunia untuk satu hari akhirat. Bagaimana kalau satu tahun akhirat? Tinggal dihitung sendiri. Oleh sebab itulah Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan kita untuk minta perlindungan dari siksa jahannam itu.

Begitu juga dengan siksa kubur. Kepada kita orang yang beriman diingatkan bahwa nanti di alam kubur, akan datang kepada kita dua malaikat, Mungkar dan Nankir namanya, akan menyoal kita. Apabila kita tidak mampu menjawab pertanyaan kedua malaikat Allah tersebut maka kita akan disiksa. Siksa berkepanjangan sampai hari berbangkit. Dan tentu saja sesudah itu nanti di hari perhitungan kita akan dihadapkan lagi kepada pengadilan Allah. Pengadilan yang seadil-adilnya, yang tidak ada satu hal pun tersembunyi. Jika kita di pihak yang terbukti bersalah, yang berdosa dan tidak terampuni maka kita akan dimasukkan ke dalam siksa jahannam yang kita bahas di atas tadi. Sangat pantaslah kita meminta dengan bersungguh-sungguh kepada Allah agar terhindar dari siksa kubur tersebut.

Lalu meminta perlindungan dari fitnah. Fitnah hidup dan mati. Banyak sekali fitnah ini di sekeliling kita. Baik yang sepertinya suatu kebaikan, kemuliaan, kesenangan dunia ataupun sebaliknya yang berupa keburukan, kehinaan dan kesulitan hidup. Allah ingatkan kita bahwa 'Sesungguhnya harta kalian dan anak-anak kalian adalah fitnah, padahal di sisi Allah ada pahala yang besar.' (Surah At Taghabuun (64) ayat 15). 

Dikatakan fitnah hidup karena dia dapat menimpa kita ketika kita masih hidup. Fitnah apa saja. Kadang-kadang melalu harta. Kadang-kadang melalui anak. Kadang-kadang melalui istri, melalui sanak saudara. Terlihat seolah-olah kebaikan padahal dianya keburukan. Harta banyak, terlihat menyenangkan padahal dia bisa menimbulkan bencana. Diusut orang dari mana datangnya harta. Bagaimana memperoleh harta. Kemudian terbukti bahwa harta itu didapatkan dengan cara-cara yang tidak halal. Dibuktikan orang dan diseret orang kita ke penjara. Seperti itulah fitnah dunia. Seperti itu fitnah melalui harta. Melalui anak? Melalui istri? Melalui saudara? Dijadikan tidak nyaman kehadiran dan keadaan anak, isri ataupun saudara itu dalam kehidupan. Datang masalah silih berganti. Itulah semuanya fitnah dunia.

Atau pandai kita bermain. Bisa kita menutupi mata semua orang sehingga tidak ada yang tahu dengan asal usul harta kita. Bisa semua orang tidak mempermasalahkan dari mana datangnya. Tapi dibelakang kita, sepeninggal kita ternyata terbongkar juga. Tahu juga orang bahwa harta itu adalah hasil kejahatan kita. Meskipun kita sudah mati, fitnah itu tetap menimpa kita. Jadi kutukan orang yang masih hidup dan jadi siksa bagi kita di alam kubur.   

Terakhir dari fitnah masihiddajjal. Di akhir zaman (mungkin saja sekarang ini sudah bahagian dari akhir zaman) akah hadir dajjal yang kerjanya merusak, membuat bencana dan menyesatkan. Digiringnya siapa yang dapat dan mau digiring untuk memutarbalikkan nilai-nilai kehidupan. Yang baik dibuatnya supaya terlihat buruk. Yang buruk dan jahat supaya terlihat indah dan menyenangkan. Siapa pun yang mau mengikutinya akan diajaknya untuk mendurhakai Allah dan mengabdi kepadanya saja. Para ulama yang menafsirkan bahwa dajjal itu adalah suatu sosok, yang akan muncul di akhir zaman. Yang mampu mengalahkannya nanti adalah Nabi Isa 'alaihissallam yang akan diturunkan kembali ke muka bumi oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Nabi Isa akan membunuh dajjal itu. Tapi ada pula sebagian ulama yang memahami bahwa dajjal itu adalah sebuah kekuatan (entah negara, entah kelompok) yang mengerjakan amalan seperti disebut di atas. Menganggap baik segala keburukan dan menganggap buruk segala kebaikan. Wallahu a'lam.

Sangatlah pantas kalau kita memohon pertolongan Allah dari fitnah dajjal tersebut. Agar kita mampu membedakan yang hak dengan yang batil. Agar kita mengikuti yang benar yang datang dari petunjuk Allah serta meninggalkan yang batil, yang Allah perintahkan kita untuk menjauhinya.

*****                  

Senin, 05 November 2012

Hukum Berburuk Sangka Dan Mencari-cari Kesalahan

Kategori Kitab : Rifqon

Hukum Berburuk Sangka Dan Mencari-Cari Kesalahan

Kamis, 26 Januari 2012 05:35:34 WIB

HUKUM BERBURUK SANGKA DAN MENCARI-CARI KESALAHAN

Oleh
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr



Allah Ta’ala berfirman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-car kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12]

Dalam ayat ini terkandung perintah untuk menjauhi kebanyakan berprasangka, karena sebagian tindakan berprasangka ada yang merupakan perbuatan dosa. Dalam ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus. Tajassus ialah mencari-cari kesalahan-kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain, yang biasanya merupakan efek dari prasangka yang buruk.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” [1]

Amirul Mukminin Umar bin Khathab berkata, “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik”

Ibnu Katsir menyebutkan perkataan Umar di atas ketika menafsirkan sebuah ayat dalam surat Al-Hujurat.

Bakar bin Abdullah Al-Muzani yang biografinya bisa kita dapatkan dalam kitab Tahdzib At-Tahdzib berkata : “Hati-hatilah kalian terhadap perkataan yang sekalipun benar kalian tidak diberi pahala, namun apabila kalian salah kalian berdosa. Perkataan tersebut adalah berprasangka buruk terhadap saudaramu”.

Disebutkan dalam kitab Al-Hilyah karya Abu Nu’aim (II/285) bahwa Abu Qilabah Abdullah bin Yazid Al-Jurmi berkata : “Apabila ada berita tentang tindakan saudaramu yang tidak kamu sukai, maka berusaha keraslah mancarikan alasan untuknya. Apabila kamu tidak mendapatkan alasan untuknya, maka katakanlah kepada dirimu sendiri, “Saya kira saudaraku itu mempunyai alasan yang tepat sehingga melakukan perbuatan tersebut”.

Sufyan bin Husain berkata, “Aku pernah menyebutkan kejelekan seseorang di hadapan Iyas bin Mu’awiyyah. Beliaupun memandangi wajahku seraya berkata, “Apakah kamu pernah ikut memerangi bangsa Romawi?” Aku menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya lagi, “Kalau memerangi bangsa Sind [2], Hind (India) atau Turki?” Aku juga menjawab, “Tidak”. Beliau berkata, “Apakah layak, bangsa Romawi, Sind, Hind dan Turki selamat dari kejelekanmu sementara saudaramu yang muslim tidak selamat dari kejelekanmu?” Setelah kejadian itu, aku tidak pernah mengulangi lagi berbuat seperti itu” [3]

Komentar saya : “Alangkah baiknya jawaban dari Iyas bin Mu’awiyah yang terkenal cerdas itu. Dan jawaban di atas salah satu contoh dari kecerdasan beliau”.

Abu Hatim bin Hibban Al-Busti bekata dalam kitab Raudhah Al-‘Uqala (hal.131), ”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya”.

Beliau juga berkata pad hal.133, “Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita”.

[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah bi Ahlissunnah Penulis Abdul Muhsin bin Hamd Al Abbad Al Badr, Edisi Indonesia Rifqon Ahlassunnah bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Penerbit : Titian Hidayah Ilahi Bandung, Cetakan Pertama Januari 2004]
_______