Tampilkan postingan dengan label Cerita Cucu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Cucu. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Mei 2025

Muhammad Zaid Abdurrahman

Muhammad Zaid Abdurrahman

Cucu ke delapan yang lahir Rabu tanggal 23 Februari 2022 bertepatan dengan 22 Rajab 1443 di Balikpapan. Kami, inyiak dan nenek baru hadir melihat Zaid setelah dia berumur beberapa pekan. Zaid lebih beruntung dari kakaknya Hamzah yang baru dikunjungi inyiak dan nenek setelah berumur sekitar setahun karena Hamzah lahir di jaman pandemi covid. 

Berikut beberapa foto dan video Zaid





       



Selasa, 22 Agustus 2017

Ketika Keenam Cucu Berkumpul

Ketika Keenam Cucu Berkumpul    

Sudah lebih dari sebulan cucu-cucu yang di Pau dibawa pulang kembali ke Indonesia oleh orang tua mereka. Sang menantu, ayah dari cucu-cucu itu telah menyelesaikan penugasannya selama tiga tahun di sana. Sejak pertengahan Juli yang lalu mereka pulang ke Indonesia. Mampir sebentar di Jabodetabek (hanya sekitar seminggu) lalu meneruskan perjalanan mereka ke Balikpapan, tempat sang menantu akan kembali bertugas. Setelah sepuluh hari di Balikpapan, si Tengah bersama Hamizan dan Fathimah (menantu tidak ikut karena sudah mulai bekerja) dibawa kembali ke Jatibening untuk melanjutkan kangen-kangenan dengan abang-abang, di samping umi harus berbelanja untuk keperluan rumah di Balikpapan. 

Mereka di Jatibening selama sebelas hari sejak tanggal sebelas yang lalu. Hamizan tidak ikut sekolah regular tapi oleh orang tuanya dimasukkan ke program home schooling. Mereka bisa berkumpul penuh di akhir pekan. Semua nginap di rumah belakang. Keempat bersaudara tidur di kamar onti

Bagi Hamizan ini adalah momen yang paling disenanginya. Bermain bersama abang Afi, abang Asyid, dan Rayyan. Mereka berempat ini seperti dua pasang saudara kembar (Rafi dan Rasyid yang memang kembar, Izan dan Rayyan juga seperti saudara kembar). Sibuk dan heboh.


Fathimah, satu-satunya perempuan juga bisa menyesuaikan diri dan ikut gembira bermain dengan abang-abang itu. Bahkan si kecil Razzan, dengan bahasanya yang masih belum jelas, kalau sudah berkumpul, tidak mau kalah. Ikut-ikutan heboh.

Tempat bermain bisa di mana saja. Yang paling favorit adalah di kabar inyiak/nenek, sambil memelototi Ipad. Atau di ruang tengah sambil bermain petak umpet. Atau memancing di dua kolam kecil di belakang rumah.

Di hari-hari sekolah, ketika abang-abang sekolah, Izan dan Fathimah bermain di rumah dengan inyiak, nenek, umi dan kadang-kadang dengan onti.  

Yang juga sangat disenangi kalau pas pergi bersama onti Nadya. Ke Gramedia, nonton bioskop. Bahkan terakhir Izan dan Fathimah sekedar berkunjung ke tempat onti bekerja, untuk main dengan kucing yang memang banyak di sana.
 
Pernah pula mereka bersama-sama pergi mengunjungi pameran Habibie di Kemayoran. Semua ikut ke sana, kecuali inyiak. 

Sebelas hari ternyata sangat cepat berakhir. Datanglah saat yang paling tidak disukai Izan, harus berpisah. Izan ini memang sangat peka untuk urusan perpisahan ini. Tidak bisa menahan haru, dan air matanya bercucuran. Inyiak selalu menyemangati, bahwa bertemu dan berpisah akan selalau saja terjadi dalam hidup. Tidak boleh disikapi dengan kesedihan berlebihan.  

Demikianlah, tadi malam umi, Izan dan Fathimah diantar ke bandara Halim. Mereka berangkat kembali ke Balikpapan. Kebersamaan sementara itupun berakhir.

****




                              

Jumat, 19 Agustus 2016

'Iri Kepada Cucu'

'Iri Kepada Cucu'  

Aku iri kepada cucu-cucuku. Benaran. Rafi dan Rasyid sudah hafal semua surah juz 'amma sebelum naik ke kelas lima dan sekarang sudah menghafalkan dua sampai tiga surah juz ke dua puluh sembilan. Mereka memang diajar dan dilatih secara berkesinambungan untuk menghafalkan ayat-ayat al Quran di sekolah. Hamizan yang berumur enam tahun lebih sudah hafal sejak dari surah Al Balad  (surah 90) sampai surah An Nas dengan bimbingan uminya. Rayyan yang enam tahun kurang sudah menghafalkan enam surah terakhir dengan bimbingan bunda. Ada cucu kemenakan yang berumur tujuh tahun yang juga sudah hafal juz 'amma. Ada lagi cucu kemenakan yang lain yang sekarang kuliah di ITB dan sudah hafal 10 juz. Mereka mungkin bukan yang terhebat hafalannya, karena ada Musa yang sudah hafal al Quran 30 juz di usia 7 tahun. 

Mereka bisa karena dilatih dan disiapkan orang tuanya atau sekolahnya untuk itu. Latihan yang paling dahsyat yang aku dengar adalah yang dialami Musa, yang sejak usia sangat dini (2 atau 3 tahun) dilatih kedua orang tuanya sejak jam tiga subuh setiap hari. Dan hasilnya sungguh luar biasa. 

Ini yang tidak aku miliki ketika kanak-kanak dulu. Kami diajarkan menghafalkan 4 'Qul' di SR, untuk modal dan digunakan dalam shalat lima waktu. Dan kamipun mencukupkan hanya itu. Tidak ada yang mengarahkan agar kami menghafalkan surah-surah pendek yang lain secara terarah. Aku dan mungkin beberapa teman-teman lain terpancing untuk menghafalkan beberapa surah pendek lagi ketika kami ikut shalat tarawih di bulan puasa. Ketika aku sudah jadi mahasiswa, hafalanku mungkin tidak lebih dari sebelas surah di juz 'amma. Pas-pasan untuk digunakan ketika shalat tarawih sendirian sebelas rakaat termasuk witir. 

Waktu bekerja di Balikpapan, kami biasa melakukan shalat tarawih keliling dari rumah ke rumah. Kadang-kadang kami undang ustadz untuk memimpin shalat dan memberi ceramah. Tapi tidak tiap malam. Di malam-malam yang lain kami bergantian jadi imam. Yang rata-rata juga dengan modal ala kadarnya. Bahkan ada salah seorang dari kami, ketika 'dipaksa' jadi imam, tidak sanggup membaca salah satu surah 'Qul' dengan utuh. 

Aku lebih sering dijadikan imam ketika itu. Malu karena surah yang dibaca itu-itu melulu, aku coba menambah hafalan. Tapi ternyata tidak pula mudah. Sangat sedikit kemajuannya. Baru sepulang dari melaksanakan haji di tahun 1990 aku berusaha menghafalkan juz 'amma seutuhnya. Dengan sungguh-sungguh dan berusaha keras. Alhamdulillah berhasil dalam waktu tidak terlalu lama. Sayangnya lagi, setelah menghafalkan itu semua, aku hanya berhenti di sana. Paling ditambah dengan beberapa ayat di surah-surah yang lain, yang aku dengar dibacakan imam seperti beberapa ayat surah Luqman, surah Az Zumar, surah Al Hasyr. 

Pindah ke Jatibening di akhir tahun 1993. Aku selalu shalat berjama'ah di mesjid komplek perumahan kami. Di sini aku sering pula dijadikan imam shalat fardhu. Pelan-pelan aku tambahkan pula hafalan al Quran meski sangat pelan sekali. Karena ternyata tidak mudah menghafalnya. Hafalan-hafalan itu cepat hilang kalau tidak diulang-ulang. Sekarang aku hafal (tapi tidak terlalu mantap) lebih kurang setara dengan 4 juz (2 1/2 juz pertama, 1 juz terakhir dan beberapa surah seperti As Sajdah, Yasiin, Ar Rahman, Al Waqiah dan beberapa lagi). 

Beberapa bulan yang lalu aku menyimak dan membetulkan hafalan Rafi dan Rasyid untuk surah Al Mulk (surah 67), sekarang mereka sudah hafal dua surah lagi sesudahnya (Al Qalam dan Al Haqqah) yang aku belum hafal. Aku bertanya kepada mereka bagaimana cara mereka menghafal. Guru mereka menyuruh membaca setiap ayat sampai dua puluh kali dan setelah itu merekapun hafal. Cara menghafal yang juga pernah aku ketahui dari guru tahfidz sebelumnya. Tapi ternyata kemampuan anak-anak dan orang tua jauh sekali bedanya. 

Aku 'iri' dengan cucu dan dengan mereka-mereka yang mampu menghafalkan Al Quran dengan sangat baik.  

****        

Sabtu, 13 Agustus 2016

Cerita Dua Cucu

Cerita Dua Cucu

Yang pertama tentang yang perempuan satu-satunya. Fathimah yang masih di Perancis sana tempat dia dilahirkan. Sudah semakin besar. Semakin lincah. Semakin pintar in sya Allah. Sudah dua tahun tepat tanggal 12 Agustus kemarin. Yang jauh hari sebelumnya diingatkan umi bahwa kalau sudah dua tahun, No more NENEN. Diajarkan, suka diulanginya kata-kata itu, dan sepertinya dipahaminya pula. Menurut berita dari uminya, ikrar itu ditepati. Sejak dua hari yang lalu, tidak ada lagi nenen sebelum tidur dan dia tidak protes. 

Meski masih cadel, cerewetnya sudah lumayan. Sudah bisa duet dengan abang Izan dalam menyanyi. Sudah mulai belajar menghafalkan alfatihah. Mudah-mudahan Fathimah berkembang semakin cerdas dan sehat.

Sering menyuruh umi untuk menghubungi inyiak dan nenek via skype. Dan menikmati ngobrol dengan semua orang melalui skype tersebut.

Keluarga si Tengah ini menikmati berlanglang buana di Eropah, menjelajah negeri-negeri sampai ke bagian timur Eropah. Berkelana dengan mobil. Beberapa minggu yang lalu mereka berkeliling sampai ke Bosnia, Hongaria, Austria dan entah kemana lagi. Menempuh jarak lebih dari 5000 km dalam dua minggu. Lha, saat ini pergi lagi. Sang menantu memang punya jatah libur lumayan panjang, lebih dari 50 hari kerja dalam setahun. Ditambah lagi, selama musim panas, orang sekantornya memang seperti berlomba-lomba pergi libur kemana saja. Alhamdulillaah kedua anaknya, Hamizan dan Fathimah ikut menikmati dan menyukai pengembaraan tersebut. 

Yang kedua adalah yang paling bungsu sementara ini, Razzan. Baru beberapa hari lebih dari 40 hari. Sangat saulah. Jarang kita mendengar tangisnya. Menangis benar-benar bila perlu saja, ketika haus atau minta diganti popok. Yang agak unik, dia kurang begitu suka dengan udara dingin AC. Lebih suka udara tanpa AC. Ini sangat berbeda dengan abangnya Rayyan, yang maunya tiap sebentar kalau sudah capek bermain, maunya ngadem dulu ke kamar ber AC.

Kedua orang tuanya sepakat untuk mengkhitan Razan. Menurut saran dokter waktu abang-abangnya dikhitan beberapa bulan yang lalu, yang paling aman itu adalah melaksanakan khitanan ketika bayi masih berumur hanya beberapa minggu.

Dan itulah yang dilakukan. Razan sudah dikhitan kemarin di tempat abang-abang dulu dikhitan. Alhamdulillaah, kelihatannya aman-aman saja.

Mudah-mudahan dia bertumbuh dengan sebaik-baiknya, menjadi hamba Allah yang sehat, cerdas dan bertakwa kepada-Nya.  

Fabiayyia laa irabbikuma tukadzdzibaan....

****
       

Senin, 11 Juli 2016

Cucuku Muhammad Razzan Haziq

Cucuku Muhammad Razzan Haziq   

Dia lahir sepekan sebelum hari raya Aidil Fitri, maka hari aqiqahnya (hari ketujuh) jatuh tepat di hari raya. Kepada papanya, aku mengatakan sebelumnya, seandainya sulit mencari kambing (terutama yang akan memasakkannya) berhubung persis di hari raya, hari aqiqah Razzan bisa kita tunda sampai hari ke-empat belas. Dia bilang akan berusaha mencari yang bisa tepat waktu, di hari ke-tujuh. Alhamdulillah, ternyata ada dan bisa. 


Aqiqah itu dihadiri oleh beberapa orang saudara saja. Sedangkan untuk tetangga dikirim sebagai nasi kotak. 
Maka dilengkapilah sunnah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Dipotong dua ekor kambing untuknya, diberi dia nama, Muhammad Razzan Haziq, dicukur rambutnya. Dan didoakan agar Allah Ta'ala melindunginya serta menjadikannya hamba yang sehat, cerdas dan shalih dalam kehidupannya. Semoga Allah mengabulkan doa ini.
Sudah enam orang cucuku. Lima Muhammad.
****




                                       

Kamis, 30 Juni 2016

Muhammad Razzan Haziq

Muhammad Razzan Haziq

Alhamdulillaah, dia telah lahir ke dunia dengan selamat tadi pagi jam 9.31 WIB di sebuah RSIA di Jakarta. Dengan berat 3.3 kg dan panjang 50cm. Muhammad Razzan adalah cucuku nomor enam. Kami menyambut kehadirannya dengan penuh rasa syukur.

Ada sedikit drama pada saat menjelang kelahirannya. Seperti pada tulisan terdahulu, sang Bunda sangat menginginkan melahirkan secara normal pada persalinan ketiga ini. Apa alasannya tentu dia yang paling tahu. Dia mencari informasi dan akhirnya memeriksakan diri serta merencanakan untuk melahirkan di rumah sakit Tambak. Dokter yang merawatnya sudah berpengalaman membantu ibu-ibu melahirkan secara normal sesudah sebelumnya melahirkan dengan operasi. Tingkat keberhasilannya menurut keterangan dokter itu cukup tinggi.

Segala sesuatu sepertinya berjalan aman-aman saja sampai minggu ke 39 kehamilan. Sang bayi sudah mendekati posisi untuk keluar secara normal. Ada sedikit tanda-tanda bahwa dia sudah ingin keluar. Tapi belum maksimal. Dengan kontraksi yang dirasakan si Sulung, sang Bunda. Sampai minggu ke 40 tanda-tanda itu tidak pernah maksimal. Si bayi mendekati posisi mau keluar tapi tetap tidak tuntas. Dokter yang merawatnya memberi batas waktu sampai minggu ke 41. Si Sulung mulai agak cemas. Dia berkonsultasi ke dokter ahli yang lain sekedar mencari pendapat lain. Secara umum pendapat dokter kedua inipun sama. Menurutnya ada beberapa kemungkinan (pendapat) kenapa sang janin tidak masuk utuh ke jalan keluar, namun tidak bisa dibuktikan. Banyak-banyak berdoa kepada Allah, nasihatku. Kita serahkan semuanya kepada Allah.

Malam Selasa (malam ke 23 Ramadhan) si Sulung tidak bisa tidur. Kontraksi semakin sering dan lebih keras dari biasanya. Jam setengah empat menjelang subuh dia diantar suaminya ke rumah sakit. Dia langsung diperiksa. Menurut petugas rumah sakit pembukaan 1. Artinya masih tanda-tanda sangat awal untuk persalinan. Dan dia disuruh langsung tinggal di rumah sakit. Kontraksi berjalan teratur antara jarak waktu lima sampai sepuluh menit. Setiap enam jam diperiksa lagi. Tapi progresnya tidak ada. Sampai Rabu pagi kemarin masih tetap pembukaan 1. Rabu siang naik jadi 2 begitu juga pada malam hari masih di angka yang sama. Hari Rabu itu persis hari terakhir minggu ke 41. Dokter masih menyuruh lanjutkan observasi. Menurut dokter pula keadaan bayinya tidak bermasalah.

Sekitar jam enam pagi tadi suaminya menelpon memberi tahu pembukaan sudah 5. Aku mengucapkan alhamdulillah. Mudah-mudahan penantian si Sulung akan segera berakhir. Aku tetap mendoakan agar kiranya persalinan itu dimudahkan Allah. Tapi dua jam kemudian, suaminya menelepon lagi. Pembukaan 6, namun ada masalah. Si bayi naik lagi alias menjauh dari jalan untuk keluar. Dokter mengatakan, apa boleh buat, akhirnya si Sulung harus dioperasi. Kita semua pasrah. Begitu juga si Sulung. Usaha sudah maksimal tapi rupanya belum diizinkan Allah. 

Kenapa bayi itu naik lagi? Kata dokter, bayi yang akan dilahirkan itu pintar. Kalau ada kemungkinan akan mencelakakan ibunya, dia akan mundur. Tidak terlalu mudah bagiku yang awam untuk memahaminya, tapi begitu keterangan dokter sesuai dengan pengetahuan dan pengalamannya. Lalu apa masalahnya? Ternyata menurut dokter, dinding rahim si sulung di satu sisi mulai menipis. Seandainya si bayi memaksa melalui jalan untuk lahir normal sangat mungkin dinding itu robek. Wallahu a'lam.

Ringkas cerita, operasipun dijalankan. Dan si bayi mungil itu keluar dengan selamat. Alhamdulillah, bayi yang sehat dan montok. Si Sulung terbebas dari ketegangan menunggu kelahirannya.   

****                                              

Senin, 27 Juni 2016

Penantian Datangnya Cucu Keenam

Penantian Datangnya Cucu Keenam   

Cucu keenam dalam penantian. Dia adalah anak keempat si Sulung. Sesudah mendapat 3 anak laki-laki dan sesudah lima tahun sejak kelahiran anak ketiga mereka merencanakan anak keempat. Dan dia inilah yang sedang ditunggu kelahirannya. Menurut ramalan dokter harusnya dia lahir tanggal 20an Juni yang lalu. Tapi ternyata belum. 

Ada sedikit drama dalam penantian ini. Si Sulung, sesudah berkonsultasi dengan dokter, ingin mencoba melahirkan normal, padahal pada dua kelahiran sebelumnya dia dioperasi. Yang pertama sepuluh tahun yang lalu, ketika dia melahirkan si kembar Rafi - Rasyid, sesudah mengalami kontraksi berat selama lebih 12 jam, si kembar belum kunjung keluar juga, akhirnya diputuskan untuk operasi. Yang kedua, waktu kelahiran Rayyan, juga dioperasi. Tapi kali ini dia berniat dan berusaha untuk melahirkan normal. Tentu saja selain berkonsultasi dengan dokter, si Sulung juga mengumpulkan informasi dari teman-teman yang pernah menjalani hal yang sama, melahirkan normal meski sebelumnya pernah dioperasi. Dan ada beberapa temannya yang berpengalaman tentang itu.

Sudah melalui masa kehamilan di minggu ke empat puluh, belum ada juga tanda-tanda untuk segera melahirkan. Keadaan hamilnya tidak ada masalah. Bayi di dalam rahim itu alhamdulillah, menurut pengamatan dokter yang merawat kehamilannya dalam keadaan baik dan aman. Untuk lebih memantapkan pikiran dia berkonsultasi pula dengan dokter ahli kandungan lain (atas saran temannya). Sama seperti saran dokter pertama, kehamilannya aman-aman saja. Namun diingatkan jangan sampai melewati minggu ke 42. Artinya, seandainya sampai minggu tersebut tetap tidak ada tanda-tanda bahwa bayinya akan keluar, tidak ada mules, kontraksi dan sebagainya, maka akan segera diambil tindakan operasi. 

Banyak juga saran dan pendapat dari sanak saudara. Di antaranya ada yang dokter juga. Kenapa tidak segera dioperasi saja. Tapi si Sulung masih tetap dengan keyakinannya untuk menjalani sampai limit waktu seperti yang disarankan dokternya. Aku mengingatkan untuk berdoa dan pasrah kepada Allah.  

Tadi malam aku datang melihatnya sudah hampir tengah malam. Menasihati dan menyemangatinya untuk tetap berserah diri dan meminta pertolongan Allah. Aku kaget ketika membaca pesan WAnya jam 2 pagi dan langsung bertanya, kenapa dia belum tidur. Dia bilang, dia tidak bisa tidur karena kontraksinya semakin sering. Jam setengah empat aku ditelepon suaminya memberitahu bahwa mereka akan ke rumah sakit. Kontraksi semakin sering. Dan mereka sudah di rumah sakit sejak tadi pagi. 

Semuanya masih dalam perjalanan dan penantian. Menjelang siang ini, si bayi belum juga lahir. Aku berulang-ulang melantunkan doa. Ya Allah Rabbul 'aalamiin. Selamatkanlah dan mudahkanlah....

****             

Senin, 28 Desember 2015

Kebersamaan Sementara Itupun Berakhir

Kebersamaan Sementara Itupun Berakhir     


Tadi malam Hamizan, Fathimah bersama ayah dan uminya dijemput sama uti dan akung untuk dibawa ke Tangerang. Di sana mereka akan menginap dua malam terakhir. Hari Rabu malam mereka akan terbang kembali ke Pau, rantau mereka di Perancis sana. Saat-saat bersama itu sangat menyenangkan. Tapi sayang sekarang harus berpisah lagi. Inilah di antara foto-foto kebersamaan para cucu-cucu.








                             

Minggu, 27 Desember 2015

Hari-hari Terakhir Masa Liburan Hamizan Dan Fathimah

Hari-hari Terakhir Masa Liburan Hamizan Dan Fathimah          

Setelah hampir dua minggu bersama-sama di Jatibening, masa liburan Hamizan, Fathimah beserta ayah dan umi mereka akan segera berakhir. Mereka akan kembali lagi ke Pau. Hari Senin besok mereka akan pindah ke rumah uti di Tangerang dan hari Rabu malam terbang ke Paris melalui Doha. Sangat sebentar berakhirnya waktu dua minggu.

Hari-hari bersama mereka adalah hari-hari yang sibuk dan menyenangkan. Dan heboh, karena kelima cucu berkumpul dalam kebersamaan. Hamizan selalu sibuk dengan abang-abang dan Rayyan. Berebutan mainan. Bercanda dan tertawa terkekeh-kekeh. Mereka berempat sudah sehat dari khitanan pada hari keempat. 

Cuma ada yang agak aneh. Fathimah tidak mau digendong siapapun kecuali ayah dan uminya saja. Padahal waktu inyiak dan nenek di Pau, dia sangat lengket dengan inyiak. Setiap kali uminya ada keperluan pergi keluar, kalau tidak ada Nounou (si pengasuh jam-jaman), Fathimah ditinggal dengan inyiak tanpa masalah. Nah, sekarang sama sekali tidak mau. Maunya hanya diajak main dan dirayu-rayu saja. Meski demikian, hari-hari terakhir ada sedikit kemajuan. Kemarin mau digendong nenek sekitar 2 - 3 menit. Dan tadi siang mau pula digendong onti bahkan sedikit lebih lama. Namun dengan inyiak tetap belum berhasil.

Izan ditanya apakah dia senang karena segera akan kembali ke sekolah di Pau. Jawabnya spontan, tidak. Lebih senang di sini main dengan abang-abang dan Rayyan. Kalau begitu bagaimana kalau Izan gantian saja dengan Rayyan. Izan tinggal di Jatibening dan Rayyan menggantikan Izan. Kalau itu dia juga tidak mau. 

Selama kebersamaan ini kami sempat pergi ke Bandung dan menginap dua malam. Kalau istilah abang Afi, menemani umi berwisata kuliner. Dan memang begitu adanya. Setelah hampir satu setengah tahun tidak mencicipi jajanan dan makan khas negeri kita, banyak yang ingin dicoba umi. 

Kebersamaan ini akan segera berakhir. Biasanya akan terasa berat. Buat Izan, buat abang-abang, buat inyiak dan nenek. Bahkan buat semua. Entah kapan bisa berkumpul lagi. Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Mudah-mudahan kita semua senantiasa dilindungi dan dirahmati Allah.

****                              

Jumat, 18 Desember 2015

Ketika Empat Cucu Dikhitan

Ketika Empat Cucu Dikhitan  

Kita lebih mengenalnya dengan dikhitan. Bahasa lainnya disunat. Bahkan ada yang menyebutnya disunat rasul. Anak laki-laki biasanya disunat ketika mereka berumur sembilan sepuluh tahun. Itu dulu, ketika aku disunat. Cerita tentang sunat bisa macam-macam. Yang lebih tua sesuai dengan pengalaman mereka biasa menakut-nakuti yang belum disunat. Lagi-lagi itu dulu, ketika aku belum disunat, setengah abad lebih yang lalu. Tapi sekarang tidak ada lagi anak-anak yang ditakut-takuti. 

Rafi dan Rasyid memang direncanakan akan disunat sekarang-sekarang ini. Setelah melalui penjelasan yang panjang dan memadai. Sehingga mereka faham tentang sunat. Ketika mereka bertanya apakah disunat itu sakit, dijawab apa adanya. Memang sakit (sedikit) tapi sekarang sudah banyak obat untuk menghilangkan rasa sakit. Dan bersunat itu yang jelas wajib dijalani. Akhirnya mereka siap secara mental. Hamizan yang jauh-jauh datang dari Pau juga sudah disiapkan mentalnya. Begitu juga yang paling kecil, Rayyan. Meskipun dua yang terakhir ini mungkin tidak seutuhnya faham. Buktinya Rayyan, protes keras dan berontak waktu berada di ruangan operasional dan melihat jarum suntik. Terjadi sedikit heboh, walau akhirnya terlaksana juga.

Keempat-empatnya disunat hari Kamis kemarin. Alhamdulillaah. Sampai di rumah, masing-masing dengan wajah yang berbeda. Ada yang sedikit meringis dan ada yang santai. Urusan jadi agak rumit tatkala pengaruh obat bius pelan-pelan berakhir dan mereka merasa sakit dan perih. Syukurlah bahwa yang kesakitan masih bisa dibujuk. Diajak banyak-banyak berzikir mengingat Allah. 

Disunat sekarang rupanya memang lebih sederhana cara perawatannya. Mereka dipakaikan celana dalam dengan pelindung khusus. Ada obat penahan rasa sakit. Di antara mereka berempat, abang Rasyid terlihat yang paling santai. Ditanya apakah dia tidak merasa sakit, dijawabnya, sakit juga tapi Asyid tahan. Hamizan lebih banyak mengeluh dan menangis, tapi ketika diingatkan untuk mengulang-ulang hafalan surah-surah pendek masih mau mengerjakannya. Rayyan yang paling kecil juga berusaha menahan rasa sakit dengan caranya sendiri, dengan tidak banyak mengeluh tapi wajahnya terlihat tegang.
  
Tidak ada pesta khitanan karena kedua pasang orang tua mereka tidak mau membuat pesta seperti itu. Tapi ada hadiyah uang dari inyiak dan nenek, dari uti dan akung Izan, dari inyiak Dedi. 

Sekarang di hari ketiga semua sudah terlihat cerah dan tidak terlihat lagi kemurungan karena menahan sakit. Mudah-mudahan mereka semua semakin faham tentang Islam dan menjadi hamba-hamba Allah yang shalih dalam kehidupan mereka.

****

(Photo-photo diambil di rumah inyiak sebelum berangkat ke tempat sunat)            

Rabu, 16 Desember 2015

Ketika Hamizan Dan Fathimah Pulang Kampung

Ketika Hamizan Dan Fathimah Pulang Kampung   

Mereka datang sudah beberapa hari yang lalu sebenarnya. Tepatnya hari Senin tanggal 7 Desember yang lalu. Dan waktu itu langsung ke tempat akung - uti di Tangerang. Inyiak, nenek, onti, bunda dan abang-abang dari Jatibening hadir ke Tangerang waktu itu. Tentu saja pertemuan yang heboh, antara Izan dengan abang-abang plus Rayyan. Pertemuan yang memukau bagi yang baru pertama kali bertemu Fathimah. Si Gadis Kecil ini tersenyum mengamek ke semua orang tapi tidak mau dipangku siapapun selain ayah dan umi. Tidak juga dengan inyiak, yang padahal beberapa bulan yang lalu sangat lengket ketika di Pau.

Ya, kepulangan ini juga sehubungan dengan rencana pernikahan adiknya ayah mereka, yang in sya Allah akan dilangsungkan tanggal 19 Desember. Mereka di rumah akung - uti sampai hari Selasa kemarin. Sejak itu pindah ke Jatibening. Rumah kamipun jadi ramai dan semarak. Di saat kelima cucu berkumpul.

Fathimah tentu saja jadi bintang dan yang paling cantik. Satu-satunya anak perempuan. Ngomongnya masih sangat terbatas meski bisa menyebut inyiak dan nenek cukup sempurna.

Yang lucu adalah Rayyan. Sebelumnya, setiap kali kami skype dan wajah Fathimah terlihat, Rayyan sangat cemburu. Kadang-kadang bahkan menjentik wajah Fathimah yang di layar kaca komputer. Tapi begitu bertemu semuanya berobah. Dia sangat menyukai dan sayang sama Fathimah, begitupun sebaliknya. 

Izan selalu sibuk dengan kedua abang dengan berbagai macam mainan. Tapi yang paling menarik tetap saja Ipad atau laptop inyiak untuk diplototin ramai-ramai. Ketika kedua abang sekolah barulah main dengan Rayyan. Mereka berdua ini terlihat seperti kembar pula. Dan cukup kompak. Kalau ngobrol saling atas mengatasi dan obrolan mereka nyambung.

Sesuai dengan yang telah direncanakan orang-orang tua mereka, hari ini keempat Muhammad ini akan dikhitan. Semula hanya Rafi dan Rasyid saja karena memang sudah waktunya. Umur mereka sudah hampir sepuluh tahun. Tapi keputusan akhir, keempat-empatnya sekaligus. Dan itu adalah pagi hari Kamis ini. Mudah-mudahan semua dilancarkan Allah dan semoga mereka sehat dan selamat.

Yang agak aneh, Fathimah masih tetap belum bisa digendong siapapun. Mau dirayu dan diajak bercanda, tapi tidak untuk digendong. Sudah hari ketiga nginap di Jatibening, dia masih tetap seperti itu. Jinak merpati dengan senyumannya yang khas. Tapi tetap jual mahal kalau urusan digendong.

Fathimah menyukai binatang dan mampu menirukan suara bermacam hewan seperti kucing, anjing, sapi dan sebagainya. Di rumah kami ada kucing, kura-kura kecil, ayam dan ikan di kolam. Pagi ini Fathimah dan Hamizan menonton kucing onti sedang makan.

Sungguh membahagiakan ketika berkumpul dengan anak, menantu dan cucu-cucu seperti ini. Mudah-mudahan Allah senantiasa memelihara kita dalam kesehatan dan keteguhan iman. Aamiin. 


                   

Kamis, 17 September 2015

MC

MC

Biasa jadi omongan di antara para pensiunan, ketika ada yang bertanya, apa saja kegiatan sekarang? Jawabnya, saya jadi MC. Kepanjangan dari kedua huruf itu adalah mengasuh cucu. Lebih tepatnya menggunakan waktu lebih banyak bermain dengan cucu. Memang bermain dan meluangkan waktu untuk cucu berbeda dengan ketika mengasuh anak-anak. Dengan anak-anak, adakalanya kita bisa marah sedangkan dengan cucu, ketika mereka dimarahi oleh orang tuanya (anak atau menantu) kita cenderung membela.   

Ini adalah waktunya kami (aku dan istri dengan bantuan si Bungsu) melakukan full MC. Seutuhnya menjaga dan mengasuh cucu-cucu yang ditinggal orang tuanya pergi melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci. Mereka tiga orang, terdiri dari si Kembar Rafi - Rasyid dan adiknya Rayyan. Si Kembar sudah duduk di klas 4 SD Jakarta Islamic School di Jati Waringin. Yang kecil, Rayyan sekolah di TKI Al Husna di komplek perumahan kami. 

Sehari-harinya, kami tinggal bersebelahan. Mereka tinggal di rumah yang posisinya di bagian depan dan kami di rumah sebelah belakang. Kedua rumah itupun dinamai dengan 'rumah depan' dan 'rumah belakang'. Anak-anak ini biasanya wira-wiri antara kedua rumah tersebut untuk bermain. Tapi jarang sekali ada yang mau menginap di rumah belakang kecuali kalau bersama-sama dengan bunda atau karena terpaksa. Yang terakhir ini misalnya ketika orang tua mereka pergi mengikuti manasik haji di luar kota selama dua hari.

Sekarang mereka terpaksa pindah ke rumah belakang. Tapi alhamdulillah, tidak ada masalah. Semua aman-aman saja. Untuk tidur mereka bertiga yang menetapkan akan tidur di kamar onti. Di kamar itu ada sebuah tempat tidur besar. Dan ditambah dengan kasur kecil. Tiga bersaudara tidur di tempat tidur besar dan onti mengalah tidur di kasur kecil. Mereka senang di kamar itu karena onti selalu banyak cerita pengantar tidur dan tidurnya bisa agak terlambat. Jam setengah enam, si Kembar dibangunkan untuk shalat subuh dan bersiap-siap. 

Sepulang dari mesjid inyiak dan nenek sibuk di dapur menyiapkan sarapan serta bekal untuk dibawa ke sekolah. Bekal yang dibawa itu ternyata untuk sarapan bersama karena siang harinya mereka makan dari kantin sekolah. Sudah dua hari berturut-turut membawa bekal nasi goreng buatan inyiak. Nasi goreng sosis ditambah telor matasapi. Ketika ditanya mau membawa bekal apa untuk hari kedua (tadi pagi), keduanya minta dibikinkan nasi goreng lagi. Ya, sudah. Hari ini dibuatkan lagi tapi diingatkan jangan tiap hari nasi goreng.

Mereka lalu diantar onti ke sekolah. Berangkat jam 6.20 dari rumah. Sebelum berangkat ke tempat kerjanya, onti pulang lagi mengurus Rayyan untuk mandi dan minum obat. Rayyan yang dalam keadaan kurang sehat tidak masuk sekolah minggu ini, jadi tinggal sama inyiak dan nenek di rumah. Semua mainan sudah dipindahsementarakan ke rumah belakang. Rayyan bisa main kereta api Thomas melalui rel berliku-liku, dengan inyiak. Atau memainkan gadget. Ipad inyiak sudah jadi seperti milik mereka bertiga. Penuh dengan bermacam-macam games / mainan. Tetapi memainkan Ipad harus diingatkan kapan mesti berhenti. Kalau tidak bisa berketerusan.

Rayyan bisa tidur siang kalau sudah kecapekan. Si Kecil ini aneh, kalau ditanya mau makan jawabnya selalu dia sudah kenyang. Kalau mau menyuruhnya makan tidak perlu ditanyai tapi langsung saja disuapi. Dengan cara ini tidak pernah ada penolakan. Nenek yang paling ahli menyuapinya.

Rafi dan Rasyid pulang sekolah jam 4 sore, sesudah shalat ashar berjamaah di sekolah. Hari ketika papa dan bundanya berangkat, inyiak yang menjemput mereka. Tapi kemarin dan tadi mereka dijemput onti. Sampai di rumah, mandi dan setelah itu langsung minta makan. Makan apa adanya dan tidak mesti nasi. Soalnya kata mereka makan di kantin sekolah tidak kenyang. Selanjutnya bermain sampai waktu maghrib.

Inyiak selalu mengingatkan Rafi dan Rasyid untuk shalat berjamaah dan bergantian jadi imam. Keduanya sudah hafal juz amma secara utuh. Kadang-kadang mereka ikut shalat maghrib ke mesjid. Tapi lebih sering shalat di rumah.  

Kami makan malam sesudah shalat isya. Sambil bercanda di meja makan, dengan cerita tentang kejadian di sekolah hari ini. Alhamdulillaah, sampai sekarang, malam ketiga sejak papa dan bunda berangkat, keadaan aman-aman saja. Mudah-mudahan tetap demikian sampai seterusnya. 

****                                                   

Selasa, 26 Mei 2015

Cucuku Fathimah


Cucuku Fathimah  

Sudah sebulan lebih kami berkumpul dengan anak menantu dan cucu-cucu di Pau. Sungguh sangat menyenangkan, berada di tengah-tengah mereka. Terlebih-lebih dengan Fathimah, cucu perempuan kami yang pertama yang lahir di kota ini, yang baru berjumpa di saat kunjungan ini.

Fathimah sangat menyenangkan. Ceria. Saulah kalau kata orang di kampungku. Adorable. Saat ini dia sudah berumur sembilan setengah bulan. Sudah pandai merangkak. Sangat akrab denganku sejak hari-hari pertama kedatangan kami. Kami mengamati kemajuannya yang mulai belajar merayap waktu kami baru datang, dan sekarang sudah lincah merangkak. 

Ayahnya senang bepergian dengan mobil. Keluarga ini telah berulang-ulang berkunjung ke tempat yang lumayan jauh, baik mereka sekeluarga, ataupun dengan tamu-tamu yang berkunjung ke Pau seperti kemenakan kami (sepupu si Tengah), si Bungsu dan sebelum kami adalah besan (kedua orang tua B) dan terakhir dengan kami. Kami telah berkunjung ke Spanyol Selatan, ke Paris dan ke beberapa tempat lain yang lebih dekat. Dalam perjalanan jauh itu (Alhambra di Spanyol lebih dari 1000 km dari Pau) Fathimah relatif anteng. Dia hanya rewel kalau haus atau lapar atau basah. Lebih banyak tidur dan kadang-kadang bermain ketika dirayu.                 


Kakaknya Hamizan sangat sayang kepadanya. Mereka biasa bermain dan bercanda dan Fathimah sangat senang. Dia sangat suka menarik rambut abang, dan abang sering kali membiarkannya.

Aku benar-benar menikmati hari yang menyenangkan dengan Fathimah setiap hari di rumah, ketika Hamizan pergi sekolah.




Oh ya, Hamizan bersekolah di taman kanak-kanak sekolah internasional di sini. Sudah lumayan banyak vokabulari bahasa Inggerisnya. Di rumah kami berbicara Indinglish (Indonesia - English). Izan rajin dan menikmati sekolahnya. Di samping itu setiap hari Sabtu dan Minggu dia ikut TPA di mesjid Pau. 



Begitulah kami melewatkan hari-hari yang membahagiakan ini. Sungguh sebuah nikmat yang besar dari Allah. Mudah-mudahan kita semua beserta cucu-cucu ini senantiasa mendapat bimbingan dan petunjuk-Nya.