Rabu, 26 Desember 2012

Mitos-mitos Tentang Perayaan Natal Bersama


Mitos-mitos Tentang Perayaan Natal Bersama


Written by Adian Husaini


(Dari kiriman sanak Afda Rizki di RantauNet)

Menjelang perayaan Hari Natal, 25 Desember, ada sebagian kalangan kaum Muslim yang kembali menggugat fatwa MUI tentang “haramnya seorang Muslim hadir dalam Perayaan Natal Bersama.” Ada yang menyatakan, bahwa yang melarang Perayaan Natal Bersama (PNB) atau yang tidak mau menghadiri PNB adalah tidak toleran, eksklusif, tidak menyadari pluralisme, tidak mau berta’aruf, dan sebagainya. Padahal orang Islam disuruh melakukan ta’aruf (QS 49:13). Banyak yang kemudian berdebat “boleh dan tidaknya” menghadiri PNB, tanpa menyadari, bahwa sebenarnya telah banyak diciptakan mitos-mitos seputar apa yang disebut PNB itu sendiri.


Pertama, mitos bahwa PNB adalah keharusan. Mitos ini seperti sudah begitu berurat-berakar, bahwa PNB adalah enak dan perlu. Padahal, bisa dipertanyakan, apa memang perlu diadakan PNB? Untuk apa? Jika PNB perlu, bahkan dilakukan pada skala nasional dan dijadikan acara resmi kenegaraan, maka perlukah juga diadakan WB (Waisak Bersama), NB (Nyepi Bersama), IFB (Iedul Fitri Bersama), IAB (Idul Adha Bersama), MNB (Maulid Nabi Bersama), IMB (Isra’ Mi’raj Bersama), IB (Imlek Bersama). Jika semua itu dilakukan, mungkin demi alasan efisiensi dan pluralisme beragama, akan ada yang usul, sebaiknya semua umat beragama merayakan HRB (Hari Raya Bersama), yang menggabungkan hari raya semua agama menjadi satu. Di situ diperingati bersama kelahiran Tuhan Yesus, peringatan Nabi Muhammad SAW, dan kelahiran dewa-dewa tertentu, dan sebagainya.


Keharusan PNB sebenarnya adalah sebuah mitos. Jika kaum Kristen merayakan Natal, mengapa mesti melibatkan kaum agama lain? Ketika itu mereka memperingati kelahiran Tuhan Yesus, maka mengapa mesti memaksakan umat agama lain untuk mendengarkan cerita tentang Yesus dalam versi Kristen? Mengapa doktrin tentang Yesus sebagai juru selamat umat manusia itu tidak diyakini diantara pemeluk Kristen sendiri?


Di sebuah negeri Muslim terbesar di dunia, seperti Indonesia, wacana tentang perlunya PNB adalah sebuah keanehan. Kita tidak pernah mendengar bahwa kaum Kristen di AS, Inggris, Kanada, Australia, misalnya, mendiskusikan tentang perlunya dilaksanakan IFB (Idul Fitri Bersama), agar mereka disebut toleran. Bahkan, mereka tidak merasa perlu menetapkan Idul Fitri sebagai hari libur nasional. Padahal, di Inggris, Kanada, dan Australia, mereka menjadikan 26 Desember sebagai “Boxing Day” dan hari libur nasional. Selain Natal, hari Paskah diberikan libur sampai dua hari (Easter Sunday dan Esater Monday). Di Kanada dan Perancis, Hari Natal juga libur dua hari. Hari libur nasional di AS meliputi, New Year’s Day (1 Januari), Martin Luther King Jr Birthday (17 Januari), Washingotn’s Birthday (21 Februari), Memorial Day (30 Mei), Flag Day (14 Juni), Independence Day (4 Juli), Labour Day (5 September), Columbus Day (10 Oktober), Veterans Day (11 November), Thanksgiving’s Day (24 November), Christmas Day (25 Desember).


Kedua, mitos bahwa PNB membina kerukunan umat beragama. Mitos ini begitu kuat dikampanyekan, bahwa salah satu cara membina kerukunan antar umat beragama adalah dengan PNB. Dalam PNB biasanya dilakukan berbagai acara yang menegaskan keyakinan umat Kristen terhadap Yesus, bahwa Yesus adalah anak Allah yang tunggal, juru selamat umat manusia, yang wafat di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia. Kalau mau selamat, manusia diharuskan percaya kepada doktrin itu. (Yohanes, 14:16). Satu kepercayaan yang dikritik keras oleh al-Quran. (QS 5:72-73, 157; 19:89-91, dsb).


Dalam surat Maryam disebutkan, memberikan sifat bahwa Allah punya anak, adalah satu “Kejahatan besar” (syaian iddan). Dan Allah berfirman dalam al-Quran: “Hampir-hampir langit runtuh dan bumi terbelah serta gunung-gunung hancur. Bahwasannya mereka mengklaim bahwa al-Rahman itu mempunyai anak.” (QS 19:90-91).


Prof. Hamka menyebut tradisi perayaan Hari Besar Agama Bersama semacam itu bukan menyuburkan kerukunan umat beragama atau toleransi, tetapi menyuburkan kemunafikan. Di akhir tahun 1960-an, Hamka menulis tentang usulan perlunya diadakan perayaan Natal dan Idul Fitri bersama, karena waktunya berdekatan:


“Si orang Islam diharuskan dengan penuh khusyu’ bahwa Tuhan Allah beranak, dan Yesus Kristus ialah Allah. Sebagaimana tadi orang-orang Kristen disuruh mendengar tentang Nabi Muhammad saw dengan tenang, padahal mereka diajarkan oleh pendetanya bahwa Nabi Muhammad bukanlah nabi, melainkan penjahat. Dan al-Quran bukanlah kitab suci melainkan buku karangan Muhammad saja. Kedua belah pihak, baik orang Kristen yang disuruh tafakur mendengarkan al-Quran, atau orang Islam yang disuruh mendengarkan bahwa Tuhan Allah itu ialah saru ditambah dua sama dengan satu, semuanya disuruh mendengarkan hal-hal yang tidak mereka percayai dan tidak dapat mereka terima… Pada hakekatnya mereka itu tidak ada yang toleransi. Mereka kedua belah pihak hanya menekan perasaan, mendengarkan ucapan-ucapan yang dimuntahkan oleh telinga mereka.Jiwa, raga, hati, sanubari, dan otak, tidak bisa menerima. Kalau keterangan orang Islam bahwa Nabi Muhammad saw adalah Nabi akhir zaman, penutup sekalian Rasul. Jiwa raga orang Kristen akan mengatakan bahwa keterangan orang Islam ini harus ditolak, sebab kalau diterima kita tidak Kristen lagi. Dalam hal kepercayaan tidak ada toleransi. Sementara sang pastor dan pendeta menerangkan bahwa dosa waris Nabi Adam, ditebus oleh Yesus Kristus di atas kayu palang, dan manusia ini dilahirkan dalam dosa, dan jalan selamat hanya percaya dan cinta dalam Yesus.” Demikian kutipan tulisan Prof. Hamka yang ia beri judul: “Toleransi, Sekulerisme, atau Sinkretisme.”


Ketiga, mitos bahwa dalam PNB orang Muslim hanya menghadiri acara non-ritual dan bukan acara ritual. Untuk menjernihkan mitos ini, maka yang perlu dikaji adalah sejarah peringatan Natal itu sendiri, dan bagaimana bisa dipisahkan antara yang ritual dan yang non-ritual. Sebab, tradisi ini tidak muncul di zaman Yesus dan tidak pernah diperintahkan oleh Yesus. Maka, bagaimana bisa ditentukan, mana yang ritual dan mana yang tidak ritual? Yang jelas-jelas tidak ritual adalah menghadirkan tokoh Santa Claus, karena ini adalah tokoh fiktif yang kehadirannya dalam peringatan Natal banyak dikritik oleh kalangan Kristen. Sebuah situs Kristen (www.sabda.org), menulis satu artikel berjudul: “Merayakan Natal dengan Sinterklas: Boleh atau Tidak?”


“Dikatakan, dalam artikelnya yang berjudul The Origin of Santa Claus and the Christian Response to Him (Asal-usul Sinterklas dan Tanggapan Orang Kristen Terhadapnya), Pastor Richard P. Bucher menjelaskan bahwa tokoh Sinterklas lebih merupakan hasil polesan cerita legenda dan mitos yang kemudian diperkuat serta dimanfaatkan pula oleh para pelaku bisnis.


Sinterklas yang kita kenal saat ini diduga berasal dari cerita kehidupan seorang pastor dari Myra yang bernama Nicholas (350M). Cerita yang beredar (tidak ditunjang oleh catatan sejarah yang bisa dipercaya) mengatakan bahwa Nicholas dikenal sebagai pastor yang melakukan banyak perbuatan baik dengan menolong orang-orang yang membutuhkan. Setelah kematiannya, dia dinobatkan sebagai "orang suci" oleh gereja Katolik, dengan nama Santo Nicholas. Nilai-nilai yang ditanamkan oleh Sinterklas sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran iman Kristen… Akhirnya, sebagai guru Sekolah Minggu kita harus menyadari bahwa hal terpenting yang harus kita perhatikan adalah menjadikan Kristus sebagai berita utama dalam merayakan Natal -- Natal adalah Yesus.”


Mitos tentang Santa Claus ini begitu hebat pengaruhnya, sampai-sampai banyak kalangan Muslim yang bangga berpakaian ala Santa Claus.


Keempat, mitos bahwa tidak ada unsur misi Kristen dalam PNB. Melihat PNB hanya dari sisi kerukunan dan toleransi tidaklah tepat. Sebab, dalam PNB unsur misi Kristen juga perlu dijelaskan secara jujur. PNB adalah salah satu media yang baik untuk menyebarkan misi Kristen, agar umat manusia mengenal doktrin kepercayaan Kristen, bahwa dengan mempercayai Tuhan Yesus sebagai juru selamat, manusia akan selamat.


Sebab, misi Kristen adalah tugas penting dari setiap individu dan Gereja Kristen. Konsili Vatikan II (1962-1965), yang sering dikatakan membawa angin segar dalam hubungan antar umat beragama, juga mengeluarkan satu dokumen khusus tentang misi Kristen (The Decree on the Missionary Activity) yang disebut “ad gentes” (kepada bangsa-bangsa). Dalam dokumen nostra aetate, memang dikatakan, bahwa mereka menghargai kaum Muslim, yang menyembah satu Tuhan dan mengajak kaum Muslim untuk melupakan masa lalu serta melakukan kerjasama untuk memperjuangkan keadilan sosial, nilai-nilai moral, perdamaian, dan kebebasan. (“Upon the Moslems, too, the Church looks with esteem. They adore one God, living and enduring, merciful and all-powerful, Maker of heaven and earth …Although in the cause of the centuries many quarrels and hostilities have arisen between Christians and Moslems, this most sacred Synod urges alls to forget the past and to strive sincerely for mutual understanding On behalf of all mankind, let them make common cause of safeguarding and fostering social justice, moral values, peace, and freedom.”).


Tetapi, dalam ad gentes juga ditegaskan, misi Kristen harus tetap dijalankan dan semua manusia harus dibaptis. Disebutkan, bahwa Gereja telah mendapatkan tugas suci untuk menjadi “sakramen universal penyelamatan umat manusia (the universal sacrament of salvation), dan untuk memaklumkan Injil kepada seluruh manusia (to proclaim the gospel to all men). Juga ditegaskan, semuya manusia harus dikonversi kepada Tuhan Yesus, mengenal Tuhan Yesus melalui misi Kristen, dan semua manusia harus disatukan dalam Yesus dengan pembaptisan. (Therefore, all must be converted to Him, made known by the Church's preaching, and all must be incorporated into Him by baptism and into the Church which is His body).


Tentu adalah hal yang normal, bahwa kaum Kristen ingin menyebarkan agamanya, dan memandang penyebaran misi Kristen sebagai tugas suci mereka. Namun, alangkah baiknya, jika hal itu dikatakan secara terus-terang, bahwa acara-acara seperti PNB memang merupakan bagian dari penyebaran misi Kristen.


Dengan memahami hakekat Natal dan PNB, seyogyanya kaum non-Muslim menghormati fatwa Majelis Ulama Indonesia yang melarang umat Islam untuk menghadiri PNB. MUI tidak melarang kaum Kristen merayakan Natal. Fatwa itu adalah untuk internal umat Islam, dan sama sekali tidak merugikan pemeluk Kristen. Fatwa itu dimaksudkan untuk menjaga kemurnian aqidah Islam dan menghormati pemeluk Kristen dalam merayakan Hari Natal. Fatwa itu dikeluarkan Komisi Fatwa MUI pada 7 Maret 1981, yang isinya antara lain menyatakan: (1) Mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram (2) agar umat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT, dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.


Kalangan Kristen ketika itu, melalui DGI dan MAWI, banyak mengkritik fatwa tersebut. Mereka menilai fatwa itu berlebihan dan tidak sejalan dengan semangat kerukunan umat beragama. Kalangan Kristen dari luar negeri juga banyak yang berkomentar senada. Padahal, sebenarnya aneh, jika kalangan Kristen yang meributkan fatwa ini. Lebih ajaib lagi, jika ada yang mengaku Muslim meributkan fatwa ini, karena mungkin “kebelet” merayakan Hari Natal dan ingin disebut toleran.


Kalau terpaksa harus merayakan Natal, tidaklah bijak jika harus menggugat soal hukumnya. Apalagi, kemudian, melegitimasi dengan satu atau dua ayat al-Quran yang ditafsirkan sekehendak hatinya. Untuk memahami masalah salat, tidaklah cukup hanya mengutip ayat al-Quran dalam surat al-Ma’un: “Celakalah orang-orang yang shalat.” Masalah peringatan Hari Besar Agama, sudah diberi contoh dan penjelasan yang jelas oleh Rasulullah SAW, dan dicontohkan oleh para sahabat Rasul yang mulia. Sebaiknya hal ini dikaji secara ilmiah dari sudut ketentuan-ketentuan Islam. Untuk berijtihad, memutuskan mana yang halal dan mana yang haram, memerlukan kehati-hatian, dan menghindari kesembronoan. Sebab, tanggung jawab di hadapan Allah, sangatlah berat. Tidaklah cukup membaca satu ayat, lalu dikatakan, bahwa masalah ini halal atau haram.


Lain halnya, jika seseorang yang memposisikan sebagai mujtahid, tidak peduli dengan semua itu. Untuk masalah hukum-hukum seputar Hari Raya, misalnya, bisa dibaca Kitab “Iqtidha’ as-Shirat al-Mustaqim Mukhalifata Ashhabil Jahim”, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah).


Sejak awal mula, Islam sadar akan makna pluralitas. Islam hadir dengan mengakui hak hidup dan beragama bagi umat beragama lain, disaat kaum Kristen Eropa menyerukan membunuh kaum “heresy” karena berbeda agama. Karen Armstrong memuji tindakan Umar bin Khatab dalam memberikan perlindungan dan kebebasan beragama kepada kaum Kristen di Jerusalem, Beliau adalah penguasa pertama yang menaklukkan Jerusalem tanpa pengrusakan dan pembantaian manusia. Namun, Umar r.a. tidak mengajurkan kaum Muslim untuk berbondong-bondong merayakan Natal Bersama.


Peringatan Hari Raya Keagamaan, sebaiknya tetap dipertahankan sebagai hal yang eksklusif milik masing-masing umat beragama. Biar masing-masing pemeluk agama meyakini keyakinan agamanya, tanpa dipaksa untuk menjadi munafik. Masih banyak cara dan jalan untuk membangun sikap untuk saling mengenal dan bekerjasama antar umat beragama, seperti bersama-sama melawan kezaliman global yang menindas umat manusia. Dan untuk itu tidak perlu menciptakan mitos tentang seorang tokoh fiktif bernama Santa Claus untuk menjadi juru selamat manusia, khususnya anak-anak. Wallahu a’lam. (KL, 24 Desember 2004).
http://www.mustanir.net/index.php/list/82-mitos-mitos-tentang-perayaan-natal-bersama

Selasa, 25 Desember 2012

Sam Poo Kong

Sam Poo Kong

Cerita tentang kuil Sam Poo Kong di Semarang pernah aku baca di majalah Intisari dahulu sekali. Sekedar cerita pengetahuan begitu saja, tentang sebuah kuil yang didedikasikan untuk seorang pelaut Cina kenamaan yang bernama Laksamana Cheng Ho. Dan konon kabarnya sang laksamana penjelajah samudera raya ini adalah seorang Muslim. Menurut cerita, beliau ini pernah mendarat di Semarang dan beristirahat untuk beberapa waktu lamanya di tempat tersebut karena ada anggota ekspedisinya yang sakit dan perlu dirawat. Sebuah mesjid dibangun di tempat yang sekarang adalah lokasi dari kuil Sam Po Kong. Entah sejak kapan bangunan yang semula berupa mesjid menurut hikayat itu berubah menjadi kuil.

Waktu pesawat akan mendarat di bandara Ahmad Yani - Semarang, mataku menangkap komplek bangunan berwarna merah dengan atap melengkung yang segera aku yakini sebagai sebuah kuil Cina yang aku duga adalah komplek kuil Sam Poo Kong. Dugaan asal-asalan saja, teringat kisah di majalah Intisari tahun ketumbar dahulu itu. 

Hari Senin kemarin, sesudah selesai acara perhelatan hari sebelumnya, kami sempatkan raun panik di Semarang sebelum berangkat ke bandara untuk kembali ke Jakarta. Sudah selesai makan siang, sudah sempat pula berbelanja oleh-oleh ala kadarnya, hari masih jam tiga sore, sedangkan pesawat kami akan take off jam enam sore. Sopir yang mengantarkan kami berkeliling-keliling menawarkan untuk mampir  ke kuil Sam Po Kong.  Tawaran yang tidak kami tolak.

Komplek kuil itu rupanya menjadi tempat kunjungan wisata. Cukup banyak pengunjungnya di sore hari itu. Kita harus membayar (membeli karcis) Rp 3000 per orang untuk masuk. Ada beberapa (empat) bangunan kuil terpisah-pisah. Kita tidak diizinkan memasuki bagian dalam kuil karena hanya dikhususkan untuk mereka (orang Cina) yang akan bersembahyang saja. Satu di antara bangunan kuil itu sedang direnovasi.  Ada patung besar Cheng He (tertulis demikian, bukan Cheng Ho) di lapangan di depan kuil-kuil tersebut. Ada prasasti (tulisan ringkas) di bawah patung besar itu, tentang diri sang laksamana yang dikatakan sebagai duta perdamaian negeri Cina. Dia sudah menjelajah ke berbagai lautan, lautan Hindia sampai ke teluk Parsi, bahkan sampai ke pantai barat Afrika di awal abad ke lima belas. Dan ditulis pula pernyataan seorang sejarahwan (aku tidak mencatat nama sejarahwan tersebut) yang mengatakan Cheng Ho sudah menjejak pantai Amerika di tahun 1421. 

Bangunan-bangunan yang ada sekarang benar-benar kuil Cina. Tidak ada sedikitpun keterangan yang mengindikasikan bahwa Cheng Ho seorang Muslim dan tentu saja tidak ada jejak-jejak Islam di kuil tersebut. 

Berikut ini adalah beberapa buah foto di pelataran kuil Sam Po Kong yang kami ambil kemarin sore.......   




                              

Senin, 24 Desember 2012

Menghadiri Pernikahan Kemenakan

Menghadiri Pernikahan Kemenakan

Hari Sabtu kemarin kami berangkat lagi ke Semarang. Melanjutkan  urusan yang sudah diawali beberapa pekan yang lalu, untuk menghadiri pernikahan  seorang kemenakan.  Dan kali ini kami berangkat lebih ramai. Ada yang dengan pesawat (yang tiketnya sudah dipesan jauh-jauh hari sebelumnya), ada yang naik kereta api. Ada yang membawa kendaraan sendiri. Ada yang datang dari Jakarta dan sekitarnya, ada yang datang dari Jogyakarta, yang dari Padang, yang dari Pakan Baru dan yang dari Balikpapan. Kami pergi baralek ke Semarang.

Aku dengan istri dan anak bergabung dalam rombongan tujuh orang dengan pesawat yang berangkat jam 2 siang, terlambat satu jam dari jadwal. Penerbangan dalam cuaca buruk dengan awan hitam pekat sangat akrab di sebelah siang. Ternyata, sangat mendebarkan juga pengalaman penerbangan yang kami lalui. Pesawat dengan lebih dari seratus orang penumpang itu diombang-ambingkan oleh cuaca buruk. Bahkan dengan getaran aneh dimana ekor pesawat itu bergoyang kekiri dan kekanan dengan keras. Aku segera menyibukkan diri dengan zikir ketika itu. 

Alhamdulillah kami akhirnya selamat sampai di Semarang. Yang berkendaraan mobil baik yang dari Jakarta maupun yang dari Jogya bercerita tentang ramainya lalulintas dan macetnya jalan yang dilalui. Jakarta - Semarang yang biasanya dapat ditempuh dalam enam tujuh jam, kali ini memerlukan waktu sampai empat belas jam. Begitu pula yang dari Jogya, yang biasanya putus dalam dua setengah jam kali ini memerlukan tujuh sampai delapan jam. Maklumlah di akhir pekan dengan liburan panjang sehubungan hari Natal.

Alhamdulillah, pestanya sendiri berjalan sangat-sangat lancar di hari Ahad kemarin itu. Diawali dengan acara ijab kabul pernikahan dan dilanjutkan dengan resepsi di gedung pertemuan  Patra Jasa di Semarang. Syahlah sudah pernikahan antara anak kemenakan kami, yang berasal dari Ampek Angkek Kabupaten Agam Sumatera Barat yang menyunting seorang dara yang berasal dari Wonosobo Jawa Tengah. Kedua-duanya dokter lulusan Universitas Diponegoro. Asam di gunung, garam di laut bertemu dalam belanga. Yang satu dari Bukit Tinggi, yang lain dari Wonosobo, berkenalan di Semarang sampai akhirnya menikah di kota ini. Dilewakan pula gala, karena ketek banamo, gadang bagala. Meski sebahagian dari tamu yang hadir mungkin tidak paham apa maksudnya gelar adat seperti itu. 

Selesai alek. Sebagian dari kami yang datang itu meninggalkan Semarang hari Ahad siang. Ada yang melanjutkan pengembaraan ke timur (Surabaya) dan ke selatan (Jogya). Kami kembali kemarin sore. Dengan pesawat. Dengan bismillah dan doa mohon perlindungan kepada Allah. Alhamdulillah tadi malam jam setengah sembilan sampai kembali di Jatibening. Penerbangan yang aman. Lalu lintas yang nyaman dari bandara ke rumah. Sekali lagi alhamdulillah.....

*****                                    

Kamis, 20 Desember 2012

Al-Wafa' (Kesetiaan)



Al-Wafa’ (Kesetiaan)
 
Dari postingan Bp. Rahmat Hotari Harahap/StarEnergy 20/12/2012 09:10     

http://al-ikhwan.net/risalah-nukhbawiyah/al-wafa-kesetiaan

al-ikhwan.net - Hari itu Rasulullah saw kembali ke rumah tidak seperti biasanya. Saat itu beliau kembali dengan mucat pucat, tubuh gemetar dan raut muka yang menyiratkan rasa ketakutan yang sangat dalam. Beliau baru saja mengalami satu peristiwa yang belum pernah beliau temui sebelumnya. Peristiwa turunnya wahyu Allah swt yang pertama kali. Wahyu yang sekiranya diturunkan kepada gunung sekalipun, niscaya gunung itu akan tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah swt (QS Al Hasyr: 21).   
 
Melihat suaminya dalam keadaan seperti itu, Khadijah -Radhiyallahu ‘anha- segera mengambil tindakan. Dia selimuti suaminya, dan dia dekap erat-erat. Dan yang lebih penting dari semua itu, dia katakan dengan penuh keyakinan, ketulusan dan kejujuran kalimat-kalimat berikut ini:
“Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, demi Allah, sungguh engkau telah menyambung persanakan (shilatur-rahim), benar dalam berbicara, memikul beban orang yang kepayahan, membantu orang yang tidak mampu, menyuguhkan hidangan kepada tamu, dan membantu orang-orang yang tertimpa musibah .”. (Muttafaqun ‘alaih).

Sebuah ucapan yang menunjukkan sifat wafa’ yang luar biasa. Coba bayangkan, bukankah pernikahan antara Rasulullah saw dengan Khadijah telah berjalan lima belas (15) tahun?! Meskipun demikian, yang keluar dari mulut Khadijah dengan fasih adalah daya ingatnya terhadap berbagai kebaikan Rasulullah saw. Sebuah pengakuan atas kebaikan dan jasa orang lain yang luar biasa. Kenapa pada saat-saat yang genting seperti itu yang diingat oleh Khadijah adalah kebaikan Rasulullah saw?

Bukan hanya itu.

Khadijah segera membawa nabi Muhammad saw untuk menemui pamannya, Waraqah bin Naufal.
Dari pertemuan antara nabi Muhammad saw dengan Waraqah bin Naufal, nabi Muhammad saw semakin yakin, bahwa dirinya benar-benar telah dipilih oleh Allah swt untuk menjadi nabi dan Rasul.

Bukan hanya itu saja.

Khadijah adalah orang pertama yang menyatakan beriman kepada kenabian dan kerasulan nabi Muhammad saw, sebuah keimanan yang membuat hati Rasulullah saw semakin kuat, tegar dan mantap.

Bukan itu saja.

Khadijah (ra) adalah seorang wanita yang membela Rasulullah saw saat didustakan oleh kaumnya. Membelanya dengan kedudukannya, dengan hartanya dan dengan segala yang dimilikinya.

Pada pihak yang sebaliknya, Rasulullah saw juga sangat wafa’ kepada istrinya itu.
Sepeninggal Khadijah (ra), Rasulullah saw sering menyebut-nyebut Khadijah (ra), dan bila menyembelih kambing atau semacamnya, beliau saw bersabda: “Tolong antarkan ini kepada si fulanah, dan yang ini kepada si fulanah. Saat ditanyakan kepada beliau, kenapa mereka? Beliau saw menjawab:“Mereka adalah teman-teman Khadijah”.

Pernah suatu kali datang kepada Rasulullah saw seorang wanita yang bernama Halah. Ia adalah saudari Khadijah. Suaranya, postur tubuhnya dan beberapa hal lainnya mirip dengan Khadijah.

Begitu Rasulullah saw mendengar salam Halah, beliau saw langsung terperanjat. Ternyata yang datang adalah Halah.
Karenanya beliau bersabada: Allahumma, Halah (ya Allah, ternyata Halah).

Sikap wafa’ yang membuat Ummul Mukminin ‘Aisyah (ra) cemburu berat. Sampai-sampai pada suatu kali ‘Aisyah (ra) berkata: “Apa yang bisa engkau perbuat dengan seorang wanita yang sudah tua renta, yang Allah swt telah menggantikannya dengan yang lebih baik darinya! Maka Rasulullah saw menjawab: “Demi Allah, Dia belum memberikan ganti untukku dengan yang lebih baik darinya .”. (HR Bukhari).

Sikap kesetiaan yang luar biasa, yang membuat kita bertanya-tanya:
“Adakah Rasulullah saw mengambil hati seseorang yang telah meninggal dunia dan menyebabkan yang masih hidup marah-marah kepadanya? Dalam kesempatan ini ada baiknya kita simak apa penuturan seorang Nashrani yang mengakui sifat keteladanan nabi saw dalam hal ini:

Berkatalah DR. Fahmi Lucas: “Aisyah (ra), seorang istri yang masih muda, yang mempunyai kedudukan tersendiri di hati suaminya, tidak berani lagi menyinggung-nyinggung Khadijah (ra) setelah kejadian itu. Apa yang membuat Muhammad (saw) berbuat seperti itu, yaitu kesetiaan yang begitu indah yang diberikannya kepada Khadijah (ra). Kesetiaan yang mejadi pusat keteladanan bagi seluruh suami dan istri. Adakah Muhammad (saw) mencari hati dari seorang wanita yang telah meninggal dengan resiko dimarahi oleh istrinya yang masih hidup bersamanya?
Apa kata yang bisa diungkapkan untuk menggambarkan kesetiaan yang penuh mukjizat ini, sementara dunia penuh oleh penyelewengan, perselingkuhan, lupa jasa dan pengkhianatan?”.

Saudara-saudaraku yang dimulyakan Allah!

Tiba saatnya bagi kita untuk kembali memperbaiki kehidupan rumah tangga kita. Rumah tangga tempat anak-anak, generasi masa depan menghabiskan waktu-waktunya untuk menempa dan membentuk kepribadiannya. Tiba saatnya bagi kita untuk menunjukkan dan memberikan sifat wafa’ kita kepada pasangan hidup kita, agar anak-anak tumbuh menjadi manusia-manusia yang shalih dan shalihah yang akan menegakkan diin Allah di atas muka bumi ini.

Tiba saatnya bagi kita untuk kembali merenungi dan menteladani Rasulullah saw, dalam hal kesetiaan, ke-bapak-an dan ke-suami-an, agar tassi (ke-uswah-an) kita menjadi sempurna, sehingga berkesempatan mengharapkan kehidupan akhirat yang baik.
Dan akhirnya, semoga Allah swt memberikan kekuatan kepada kita untuk mendengarkan perkataan yang baik, lalu mengikutinya dengan istiqamah, Aamiin.

*****

Selasa, 18 Desember 2012

Membina Kekompakan

Membina Kekompakan 

Sepertinya ini menu baru di perusahaan-perusahaan. Aku sudah mendengar, sih, waktu aku masih bertugas di kantor Total Jakarta, bahwa kawan-kawan dari Balikpapan, di daerah operasional, melakukan perjalanan untuk Teamwork Building. Ketika aku dulu bertugas di Balikpapan sampai tahun 1993, istilah tersebut belum dikenal.

Di tempat aku sekarang bertugas, sudah dua kali aku ikut kegiatan yang sama. Tahun lalu, di bulan Desember juga, kami pergi ke Bali. Tahun ini, pekan yang lalu kami pergi ke Jogya, untuk acara yang sama. Intinya adalah membina kebersamaan, kekompakan sebagai sesama anggota  team tanpa membeda-bedakan kepangkatan. Kita lupakan pangkat, jabatan, posisi atasan dan bawahan, lalu beraktifitas bersama-sama. 

Kami berangkat ke Jogya sebanyak 13 orang. Mewakili barbagai usia dan berbagai posisi. Berkumpul di bandar Soeta, naik pesawat yang sama di kelas biasa. Lalu di Jogya naik bus bersama-sama, makan di restoran bersama, tinggal di hotel yang sama (masing-masing satu orang satu kamar).

Perjalanan kemarin itu diawali hari Jum'at pagi. Naik pesawat Lion Air, yang kebetulan sepesawat dengan Jokowi gubernur DKI yang baru, yang juga duduk di kelas biasa. Aku cukup terpesona melihat kesederhanaannya. 

Lalu di Jogya, kami sudah dijemput oleh sebuah bus pariwisata. Langsung menuju ke lereng Merapi, melihat daerah bekas bencana erupsi Merapi tahun 2010 yang lalu. Ada lima buah jeep kuno (bodynya saja kuno, mesinnya Kijang) untuk kami kendarai melalui jalan-jalan offroad di sana. Sebuah piknik sebenarnya. Kami jelajahi lereng dan tepi sungai aliran lava dingin yang cukup mencekam dengan jeep offroad tersebut. Banyak kampung dan perumahan yang sudah ditinggalkan karena memang sudah tinggal puing-puing. Kami sempatkan untuk shalat Jum'at di sebuah mesjid di sebuah kampung di situ.

Sesudah makan siang kami menuju ke Prambanan. Hujan rintik-rintik ketika kami sampai di sana. Prambanan cukup ramai di siang hari itu. Kami naik dan masuk ke candi-candi yang besar yang tidak aku perhatikan betul namanya. Dari Prambanan baru kami check in di hotel Amani di Jl. Diponegoro. Malamnya kami makan malam di sebuah restoran (rumah) antik, entah dimana  persisnya. Maklumlah aku tidak kenal Jogya.    

Hari kedua kami lewatkan dengan menjelajah gua Pindul di  pegunungan Kidul. Naik pelampung ban besar (satu ban untuk satu orang) dengan posisi duduk setengah berbaring menengadah di atas lingkaran ban pelampung. Kami juga memakai baju pelampung. Berhanyut-hanyut (dipandu) di dalam sungai yang melalui gua tersebut sambil memandang ke langit-langit gua yang disenter oleh pemandu kami. Kalau senter tidak dinyalakan bagian dalam gua itu gelap.

Semuanya ikut. Semuanya berbasah-basah di air sungai yang keruh coklat itu. Dan pengunjung gua itu ramai. Ada orang asing dari rombongan lain yang juga ikut petualangan itu. 

Ada dua etape acara berhanyut-hanyut ini. Sesudah melalui gua yang katanya 350m panjangnya, kami naik dulu untuk kemudian berjalan di pematang sawah, lalu masuk kembali ke sungai di bagian hilirnya. Bahagian ini sedikit berjeram kecil dengan arus yang lumayan kencang.

Secara keseluruhan rangkaian acara demi acara itu cukup menarik. Kami semua kompak mengikutinya. Artinya program Teamwork Building selama acara itu berhasil. Di kantor? Karena kami tidak banyak, kami lumayan kompak juga. 

*****                            

Sabtu, 08 Desember 2012

Imam

Imam

Beberapa tahun yang lalu, calon menantuku berkomentar, 'Sudah tiga kali saya ikut shalat di mesjid ini pas kebetulan oom terus yang jadi imam.' Aku tidak menanggapi komentarnya itu. Beberapa pekan kemudian setelah dia resmi menjadi menantuku, dan dia ikut lagi shalat berjamaah di mesjid dia berkomentar lagi, 'Kayanya di mesjid ini papa (sekarang dia memanggilku papa) sering jadi imam, ya.' Kali ini aku jawab. 'Saya memang dijadikan imam oleh jamaah mesjid ini.' Dia terheran-heran. 'Dijadikan imam bagaimana maksudnya,' tanyanya lebih jauh.

Lalu aku jelaskan bahwa kami melakukan pemilihan imam di mesjid ini. Ada beberapa orang kandidat. Ada juri, seorang ustad dari luar komplek. Ada pemilihan oleh jamaah. Sebelumnya ada usulan dari fihak jamaah siapa-siapa saja yang sebaiknya dijadikan imam di mesjid. Maka diusulkan beberapa nama. Mulanya diusulkan agar mereka-mereka yang diusulkan tersebut bergantian jadi imam. Ada pula yang mengusul agar imam utama cukup satu orang. Kalau dia berhalangan baru digantikan oleh imam kedua. Jika imam pertama dan kedua berhalangan digantikan oleh imam ketiga. Begitu seterusnya. Juri, yang adalah seorang ustad yang rutin memberi ceramah di mesjid mengingatkan agar pemilihan imam ini didasarkan kepada kemampuannya menjadi seorang imam seperti yang dijelaskan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Yang terbaik dan terbanyak hafalannya, jika dua orang sama bagusnya, yang lebih menguasai sunnah, jika sama juga, yang lebih dahulu jadi penghuni komplek. Jika ternyata sama juga, yang lebih tua. Begitu kira-kira kriteria dalam memilih calon imam.

Alhamdulillah, kami ikuti seperti itu. Maka terpilihlah imam satu sampai imam nomor lima. Dan imam-imam itu tidak tampil bergantian melainkan berdasarkan kehadiran masing-masing sesuai nomor urut. 

Dengan cara seperti itu aku terpilih jadi imam mesjid lebih sepuluh tahun yang lalu. Alhamdulillah tidak pernah ada masalah. Aku memikul tugas jadi imam itu sebagai amanah. Di mesjid kami tidak ada honor atau imbalan untuk imam. Selama aku tidak pergi kemana-mana dan tidak punya uzur, aku selalu berusaha hadir untuk shalat di mesjid. Dan selama ini berjalan aman-aman saja. 

Beberapa bulan ini, cucu kembarku mulai pula memperhatikan bahwa selalu saja aku yang jadi imam di mesjid. Mereka pun bertanya, 'kok imamnya inyiak terus?' 

Yang membahagiakanku adalah pemberitahuan dari cucu-cucuku itu bahwa mereka juga sudah pernah jadi imam di sekolah. Dan bunda mereka, puteriku menggumamkan doa; Rabbana hablana min azwaajina wa dzurriyyatina  qurrata a'yun waj'alna lilmuttaqiina imaaman.  (Wahai Rabb kami! karuniakanlah kepada kami pasangan kami dan anak-anak kami yang jadi penyejuk mata dan jadikanlah kami menjadi imam bagi orang-orang yang bertaqwa.) 
Inilah foto Muhammad Rafi Auliya menjadi imam.......