Rabu, 19 Oktober 2016

Obrolan Dengan Anak

Obrolan Dengan Anak  

'Bagaimana proyek mencetak buku, papa?' tanya anakku.

'Sukses,' jawabku.

'Berapa banyak dicetak?'

'Cuma 50 buku masing-masing dari kedua judul,' jawabku pula.  

'Kok sedikit amat? Terus sudah habis semua?'

'Ya sedikit memang. Belum habis. Paling baru terkirim sekitar 20 buah buku masing-masing.'

'Lho kok gitu? Tidak ada yang berminat? Tidak dipublikasikan?' 

'Memang tidak dipublikasikan besar-besaran, sih. Paling hanya diumumkan di FB.'

'Wah, pasti rugi dong?!'

'Itu memang bukan proyek untuk mencari untung. Hanya senang saja kalau orang lain bisa menikmatinya dalam bentuk buku begitu.'

'Maksudnya buku-buku itu dibagi-bagikan gratis?'

'Sebagian. Dan sebagian lagi dijual seharga ongkos cetak.' 

'Lebih banyak mana yang dibagikan dibanding yang dijual?'

'Masih sedikit lebih banyak yang dijual...'

'Berapa ongkos cetaknya, memang?'

'Sekitar empat juta rupiah untuk dua kali 50 buah buku.'

'Lalu dijual berapa?'

'Empat puluh dan lima puluh ribu,'

'Wadduh.... Jadi seandainya dijual semua pun, dan laku semua, hanya akan sekedar balik modal....'

'Ya.'

'Dan sementara ini baru 20 buah yang 'laku', begitu?!'

'Benar. Tapi mudah-mudahan, mereka yang sudah membacanya akan bercerita kepada orang di sekitarnya, dan mudah-mudahan orang di sekitarnya juga akan tertarik.'

'Papa yakin, orang yang membacanya akan menyukainya?'

'Insya Allah. Sudah dimintai pendapat beberapa orang yang sudah membacanya, mereka mengatakan bahwa cerita itu menarik.'

'Tidak ada yang mengkritik? Yang mengatakan bahwa buku itu tidak menarik?'

'Belum ada. Tapi mungkin saja ada yang tidak suka. Dulu ada yang berkomentar cerita-cerita itu ke-padang-padangan.' 

'Dulu, kapan?'

'Waktu cerita-cerita itu ditaruh di blog dan dibaca orang.'

'Jadi, sudah pernah dimuat di blog?'

'Ya.' 

'Mungkin karena itu orang-orang yang sudah membacanya tidak tertarik lagi memiliki bukunya.'

'Mungkin juga.' 

'Masih tertarik lagi menulis cerita sesudah ini?'

'Mungkin saja.'

'Kalau begitu jangan ditaruh di blog lagi sebelum dicetak.'

'He...he.. Ya, mungkin juga harus begitu.'

****

Kamis, 13 Oktober 2016

Mudah-mudahan Kita Terhindar Dari Kemunafikan

Mudah-mudahan Kita Terhindar Dari Kemunafikan   

Munafik adalah sikap orang yang mencla-mencle. Hatinya tidak sepenuhnya beriman kepada Allah dan kepada ketetapan-ketetapan ataupun perintah-perintah Allah. Mereka mengaku sebagai orang Islam tapi berprilaku yang bertentangan dengan keislaman. Seringkali bahkan dia membenci ketentuan-ketentuan yang ditetapkan Allah. Dia memilih-milih. Jika sesuatu itu menguntungkan untuk urusan dunianya, meskipun hal itu bertentangan dengan perintah Allah niscaya akan tetap dilakukannya juga. Aturan Allah baginya bisa saja dikesampingkan dan dia membuat bermacam dalih untuk itu. 

Allah sudah mensinyalir prilaku orang-orang munafik tersebut. Firman Allah di surah An Nisaa' ayat 142; 'Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas mereka....'  Bahkan di bagian awal surah Al Baqarah (ayat 8 sampai 20), Allah menjelaskan ciri-ciri mereka dengan panjang lebar. Di antaranya, bahwa mereka mengatakan beriman kepada Allah dan hari akhirat tapi kenyataannya mereka tidak beriman. Mereka tidak memperlihatkan kekhawatirannya dengan janji-janji Allah, bahwa Allah akan mengadili dan menghukum kesalahan-kesalahan mereka. Mereka berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka mencla-mencle. Dekat orang beriman mereka mengaku sebagai orang beriman, tapi kalau mereka kembali ke kelompok orang-orang yang memusuhi orang beriman, mereka menyatakan bahwa mereka pun ada dalam kelompok itu.

Secara sedehana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan tiga ciri khas orang munafik yaitu, jika berkata-kata maka kata-katanya itu penuh kebohongan, jika berjanji, dia memungkiri janjinya dan jika diberi kepercayaan dia khianat. Kita bisa dengan mudah mengenali orang-orang seperti ini yang berada di sekeliling kita. Atau bahkan jangan-jangan kita berkecenderungan mempunyai sifat seperti itu. Maka cepat-cepatlah sadar. Cepat-cepatlah minta ampun kepada Allah dan berhenti berprilaku munafik.    

Ancaman Allah sangat berat untuk orang-orang munafik. Mereka nanti akan ditempatkan di dasar neraka jahannam. (An Nisaa' 145). Artinya hukuman untuk mereka lebih berat dari hukuman untuk orang-orang kafir. Sesuatu yang mudah untuk kita fahami, karena mereka lebih berbahaya bagi orang yang benar-benar beriman. Orang-orang kafir sangat jelas dengan kekafirannya dan orang beriman bisa menjaga jarak dengan mereka. Akan tetapi dengan orang munafik belum tentu kita akan dapat segera mengenalinya. Karena dia srigala berbulu domba. Dia terlihat seperti teman. Dia mengaku sama-sama Islam. Tetapi kalau kita cermati, terlihatlah bagaimana senangnya dia memperolok-olok orang beriman. Bahkan menyakiti orang yang beriman. 

Marilah kita lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan ini. Berusaha dengan sungguh-sungguh memelihara keimanan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Mudah-mudahan kita terhindar dari kemunafikan.

****                          

Sabtu, 08 Oktober 2016

Kucing

Kucing   

Kucing selalu ramai di komplek ini. Umumnya kucing tak bertuan, bukan kucing peliharaan. Meski ada seorang ibu di sini yang agak istimewa, menampung banyak sekali kucing-kucing kampung itu di rumahnya. Tapi selain si ibu yang istimewa itu, banyak juga warga lain yang memberi perhatian dengan memberi makan kucing-kucing lepas itu. Termasuk kami. Maka tidak aneh, di komplek kami ini berkeliaran banyak sekali kucing.

Di keluargaku, yang paling sayang dengan kucing adalah si Bungsu. Pernah ketika kami baru saja pindah ke Jatibening ini di tahun 1990an, seekor kucing kecil yang dia akui sebagi kucingnya mati tertabrak motor. Dia menangis histeris waktu itu. Kami (aku dan istri) bersusah payah membujuknya, mengingatkan bahwa kucing mati itu adalah ketetapan Allah.  

 

Suatu ketika dulu, sekitar sepuluh tahun yang lalu atau mungkin lebih, jumlah kucing yang datang minta makan ke rumah kami sampai lebih sepuluh ekor. Mulai dengan seekor induk yang beranak dan membawa anaknya dan kemudian di antara anak-anaknya itu ada yang beranak pula. Kucing-kucing itu boleh berkeliaran di pekarangan tapi tidak boleh masuk rumah. Aku sengaja membuat aturan seperti itu untuk menghindari bau pesing kotoran kucing dalam rumah. Dan alhamdulillah aturan itu dipatuhi. Kucing yang sudah sangat banyak itu akhirnya satu persatu meninggalkan kami. Yang paling duluan pergi adalah kucing-kucing jantan. Sangat menyedihkan lagi ketika seekor induk dan dua ekor anaknya mati di teras rumah kami, yang kelihatannya akibat termakan racun tikus. 

Lama sesudah itu kami tidak menjamu kucing-kucing. 

Sekitar lima tahun yang lalu, ada seekor induk kucing mati tertabrak mobil di persimpangan jalan menuju mesjid. Aku melihat bangkai kucing itu terkapar waktu akan ke mesjid shalat subuh. Yang mengenaskan, induk kucing itu punya empat ekor anak yang masih kecil-kecil. Aku bercerita tentang kucing dan anak-anak kucing malang itu di rumah. Si Bungsu kebetulan sedang di rumah (dia tinggal di Bandung waktu itu). Langsung saja dia pergi menjemput dan mengamankan keempat anak kucing tadi. Namun malang sekali dua ekor kembali tergilas mobil dalam dua hari berurutan. Si Bungsu kesal dan sedih. Dua anak kucing kecil yang tinggal dipeliharanya hati-hati. Dibawanya ke Bandung kalau dia sedang di Bandung dan dibawanya kembali pulang kalau dia pulang. Malang lagi, satu dari kedua ekor kucing yang sudah mulai besar itu dicuri orang di Bandung. Tinggal satu ekor. Dia adalah yang di foto paling atas. 

Di tempat kerja si Bungsu, tiba-tiba datang seekor kucing betina yang sok akrab. Begitu katanya. Tentu saja langsung benar-benar diakrabinya. Kucing itu diberi makan dan dibiarkan berkeliaran di dalam kantor. Bahkan pernah menjatuhkan laptop sehingga rusak. Hal itu tidak jadi halangan bagi si Bungsu untuk tetap menyayangi si kucing kantor yang dinamainya Kuka. Suatu hari si Kuka ini keracunan, jadi lemes, lesu dan tidak mau makan. Dibawa ke dokter hewan dan diobati. Lalu dibawa pulang ke rumah. Alhamdulillah dia kembali sehat. Dan sejak itu resmi jadi kucing di rumah kami.  

Suatu hari beberapa minggu yang lalu, aku baru keluar rumah mau shalat zuhur ke mesjid. Ada lima orang anak SD, satu di antaranya menjinjing kantong plastik lalu membuangnya ke tong sampah tetangga di depan rumah. Aku bertanya, apa isi plastik itu. Kata anak-anak itu kucing habis kena tabrak mobil. Kok ditarok di sana, aku bertanya. Disuruh, jawab mereka sebelum mereka cepat-cepat berlalu. Pulang dari mesjid aku datangi tong sampah itu dan kulihat kucing itu ternyata pindah dan duduk di pinggir tong sampah. Kucing itu terlihat duduk diam. Sebelah matanya keluar. Kucing itu pasti sangat kesakitan. Aku ambilkan makanan kucing dan kutarok di depannya. Hanya itu yang dapat kulakukan.

Besoknya dan bahkan dua hari kemudian kucing itu masih dalam posisi duduk seperti sebelumnya di tempat yang sama. Makanan di depannya sepertinya tidak dimakannya. Hari ketiga itu si Bungsu yang baru pulang dari mengunjungi kakaknya di Pau melihatnya, mengira bahwa itu adalah si Kuka. Aku jelaskan bahwa itu adalah kucing lain. Si Bungsu segera melarikannya lagi ke dokter hewan. Kucing itu harus diopname (nah lho!). Dia bayar biaya perawatan dan dipesan seandainya dia sembuh agar di lepas saja, karena itu bukan kucingnya. 

Seminggu kemudian dia dihubungi dokter hewan meminta agar kucing malang itu diambil kembali. Si Bungsu datang ke sana. Ternyata kucing itu buta total. Kepada si Bungsu diminta biaya perawatan selama seminggu yang jumlahnya cukup aduhai. Setelah negosisi berat harga yang harus dibayar dikurangi sang dokter meski masih saja lumayan besar. Kucing malang itu dibawa pulang. Dirawatnya dengan menyuapi makan dua kali sehari. Aku dan ibunya mengatakan bahwa binatang yang kesakitan seperti itu lebih baik dimatikan saja. Jika itu ayam misalnya, kita potong saja. Si Bungsu menolak usulan itu.... 

****                     

Jumat, 07 Oktober 2016

Buku-buku Karanganku Itu

Buku-buku Karanganku Itu    

Alhamdulillaah, dua judul bukuku itu, Derai-derai Cinta dan Pulang Kampung (kumpulan cerita pendek) sudah dalam perjalanan dari Jogyakarta tempat dicetak menuju ke Jatibening. Mudah-mudahan dalam sehari dua ini kiriman buku-buku itu akan sampai. Dan setelah itu in sya Allah akan dikirim ke mereka-mereka yang sudah menyatakan berminat. Kedua buku tersebut dicetak dalam jumlah terbatas, masing-masing hanya 50 eksemplar. Karena pengalaman yang tidak memuaskan ketika mencetak buku pertama kali enam tahun yang lalu.

Dulu itu sebuah karanganku dengan judul Anak Manusia Korban Politik dicetak di sebuah percetakan di Bandung. Pemilik percetakan itu pada awalnya sangat optimis bahwa buku itu akan diminati orang. Dia membuat pengantar yang sangat bersemangat di kulit buku tersebut. Akupun begitu pula, hanya karena apresiasi teman-teman di mailing list RantauNet yang selalu menyemangati agar buku tersebut dicetak. Tapi ternyata kemudian, buku itu tidak laku.     


Inti cerita Anak Manusia Korban Politik  : 

Pertemuan dua kawan lama mantan murid SMP di kampung dekat Bukit Tinggi yang terpisah sejak mereka tamat SMP di tahun 1966, bertemu secara tidak sengaja di sebuah toko buku di Pasar Senen Jakarta. Salah satu dari dua sahabat itu mengalami pengalaman pahit, yang selama ini menjadi beban perasaan di hatinya, lalu diceritakannya kepada kawan lama itu. Dia yang seorang sarjana teknik mesin, pernah bekerja di sebuah perusahaan asing eksplorasi minyak, tapi kemudian diberhentikan dari pekerjaannya karena dia anak seorang anggota PKI. Tragisnya, yang melaporkan itu adalah orang sekampungnya sendiri. Deritanya lebih parah lagi karena setelah dia diberhentikan, istrinya minta cerai.

Cerita ini juga berlatar belakang kejadian 'politik' di Sumatera Barat sejak perang PRRI sampai jauh sesudah peristiwa Gestapu/PKI. Banyak dibumbui dengan istilah-istilah Minang, sehingga seorang pengeritik dari lingkungan keluarga mengatakan bahasanya terlalu 'Minang'.

Dan berikut ini komentar salah seorang anggota RantauNet..

Assalaamu'alaikum sanak,

Nakan Reni mangirim ambo buku "Anak Manusia Korban Politik", karya sanak awak Muhammad Dafiq Sutan Lembang. Memang agak baansua ansua ambo mambaco. Agak mulai ditangah mulai seru mambangkikkan emosi kemanusian awak. Menjelangkan akhir memang indak taraso manitiak aia mato ambo. Memang begitu kejamnyo politik. Ambo penggemar tulisan sanak Dafiq. Buku novel Anak Manusia ko merupakan kritik sosial terhadap kejamnya suatu kebijakan paranoid terhadap suatu isme.

Salut untuk sanak kito St. Lembang. Sayang kalau buku rancak ko kok kurang laku. Mungkin masih memerlukan promosi dan strategi pemasaran yang lebih terpoles. Tapikia baa indak dijadikan proyek penjualan buku YPRN. Kalau dijadikan film tantu akan rancak pulo. Nan alun mambaco buku tu, rancak pasan capek, sebelum YPRN nan manjua, tantu akan manjadi maha beko....hehehe...

--
Wassalaamu'alaikum
Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta),
gelar Bagindo, suku Mandahiliang

Kamis, 05 Januari 2012

Anak Manusia Korban Politik

Novel ini sesungguhnya, menceritakan tentang perjalanan anak manusia yang hidup dalam dua rezim ini, Orde baru dan orde lama. Akibat seorang ayah yang tidak tahu menahu dengan seluk beluk PKI sehingga masuk menjadi anggota PKI. Melihat perilaku partai yang tidak sesuai dengan kesehariannya sebagai seorang muslim maka keluarlah dia dari partai. Namun dalam aturan partai tidak mengizinkan anggotanya keluar, sekali masuk harus tetap di dalam dan tidak bisa lagi meninggalkan partai.

‘Menginggalkan partai berarti penghianat dan dicap sebagai kontrarevolusi’. Kalimat itu yang selalu di ucapkan oleh salah satu tokoh PKI kepada seorang ayah. Namun peristiwa gesatapu telah membuat PKI kehilangan simpati dari rakyat Indonesia apalagi prilakunya selama ini yang anti agama. Gestapu atau dikenal dengan gerakan 30 september PKI yang melakukan pengkudetaan terhadap presiden sukarno dan pembunuhan 6 Jendral sehingga mencoreng namanya dalam panggung perpolitikan Indonesia. Suasana perpolitikan pasca peristiwa itu mengalami instabilitas. Singkat cerita akhirnya Suharto menduduki tampuk kekuasan republik Indonesia.

PKI dibubarkan dan kader-kadernya diberikan sangsi oleh orde baru. Bahkan anak dan cucu eks PKI mengalami diskriminasi dalam kehidupan di masyarakat. Inilah yang terjadi pada Marwan, seorang anak dari eks PKI yang sebenarnya ayahnya sudah mengundurkan diri dari partai terlarang itu. Namun dalam mekanisme partai ini tidak pernah memberikan surat pemberhentian kepada anggotanya yang terlanjur bergabung dalam partai. Akhirnya sekali PKI tetap PKI.

Di masa orde baru inilah PKI mendapatkan cercaan di masyarakat Indonesia. Orang PKI selalu di identikan dengan pengacau, pemberontak, kejam dan ateis. Predikat inilah yang menjadi pemicu konflik dalam rumah tangga Marwan. Istrinya marah padanya karena merasa dibohongi yang selama ini tidak pernah diberitahu tentang latar belakang keluarganya. Istrinya baru tahu belakangan setelah mendengar cerita dari Ibu Marwan. Ibu Marwan menceritakan secara lengkap kepada menantunya yang dikiranya sudah diberi tahu sebelunya oleh Marwan.

Tak bisa menahan emosi, akhirnya istri Marwan memarahi suaminya. Konflik pun terjadi kembali yang sebelumnya juga sering terjadi. Sebenarnya masalah ini hanya pemicu bagi istrinya yang belakangan sangat sensitif karena tak kunjung mendapatkan anak. Namun setelah Marwan menjelaskan secara lengkap tentang alasan ayahnya masuk PKI dan akhirnya keluar maka istrinya pun mulai melunak dan konflik reda kembali.

Tak berhenti di rumah tangga. Di perusahaan tempat Marwan bekerja, dia mendapatkan imbasnya pula karena anak dari anggota PKI. Seorang teman kerjanya mengetahui identitas keluarganya dan melaporkannya kepada atasannya. Sebenarnya Marwan sudah mencoba menjelaskan secara rasional tentang status ayahnya di PKI. Namun atasannya yang simpati tidak memiliki otoritas untuk mempertahankannya di perusahaan. Pada akhirnya dia dipecat dan bahkan diancam untuk diadili karna melakukan kebohongan administrasi.

Kejadian ini kemudian membuat istrinya menangis. Istrinya merasa bersalah sebagai istri karena selama menikah dengan Marwan kesialan selalu menghampiri. Mereka tidak memiliki anak dan Marwan dipecat dari tempat kerjanya. Atas alas an inilah istrinya meminta agar di ceraikan. Dan rentetan-rentetan sebab tadi akhirnya mereka bercerai.
_______________

Anak manusia korban politik: sebuah novel politik : sebuah cerita fiktif berlatar belakang percaturan politik sejak tahun 1958 sampai tahun 1980an di Indonesia


Sampul Depan
Pustaka Reka Cipta, 2010 - 210 halaman

Apa yang dikatakan orang - Tulis resensi


Sebuah cerita fiktif yang nyaris seperti keadaan sebenarnya, dibahas dengan bahasa yang menarik dan runtut. Buku ini sangat perlu dibaca terutama bagi generasi muda yang tidak mengalami kondisi politik sampai jaman Orde Baru.....

_______________________
        
****

Rabu, 05 Oktober 2016

Sudah Nyaris Menzinai, Pemuda Ini Bertaubat (Dari Tarbiyah,Net)

Sudah Nyaris Menzinai, Pemuda Ini Bertaubat (Dari Tarbiyah.Net)

Gadis itu cantik. Berparas ayu, dengan wajah mempesona. Sebagai pemuda normal, ia pun terpikat dengannya. Cinta tumbuh bersemai dalam hati, lalu akarnya menghunjam dan daun-daunnya meninggi.

“Aku sangat mencintainya sebagaimana seorang laki-laki mencintai seorang wanita,” kata pemuda itu seperti dikisahkan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Rupanya cinta itu tak hanya tumbuh rindang tetapi juga liar. Hingga ia pun menginginkan mencicipi madunya gadis pujaan yang tak lain masih sepupu. Berkali-kali ia mencoba merayu, namun sang gadis selalu menolaknya.

Hingga satu kesempatan datang. Kesempatan dalam kesempitan.

Suatu ketika, musim paceklik melanda. Orangtua gadis itu mengalami kesulitan ekonomi. Karena tahu bahwa pemuda tersebut adalah orang berada, mereka mengutus gadis itu meminta bantuan.

Pemuda tersebut memberinya 120 dinar. “Dengan satu syarat,” katanya memanfaatkan kondisi itu, “engkau mau menyerahkan dirimu.”

Kondisi ekonomi yang sulit membuat gadis itu terpaksa mengiyakan. Sebab ia sangat butuh uang. Ia perlu menyelamatkan keluarganya dari cengkraman paceklik yang menyeramkan.

Sang pemuda pun bersiap. Hanya berdua, ia berpikir akan segera memetik ranumnya buah yang selama ini diidam-idamkannya. Namun saat ia telah siap dan berada di atas pahanya, gadis itu mengatakan: “Bertaqwalah kepada Allah dan janganlah kau pecahkan tutup kecuali dengan cara yang sah.”

Seketika mendengar nama Allah disebut dan pesan taqwa diucapkan, pemuda itu gemetar. Hatinya bergetar. Dan ia pun meninggalkan gadis itu.

“Ambillah uang itu untukmu,” katanya sembari berlalu.

Beberapa waktu kemudian, ketika sedang safar, pemuda itu bermalam di sebuah gua. Tiba-tiba, batu besar jatuh dari gunung dan menutup pintu gua itu. Bersama dua pemuda lainnya, ia terperangkap di sana, tidak bisa keluar.

Merasa tak ada jalan keluar, ketiganya pun hanya mengandalkan doa. Doa dengan amal shalih andalan masing-masing. Bertawasul dengan amal kebaikan.

Ketika tiba giliran pemuda tersebut untuk berdoa dengan wasilan amal shalihnya, ia pun menyebutkan peristiwa itu; ketika ia bertaubat tidak jadi berzina dan memberikan 120 dinar secara cuma-cuma.

“Ya Allah, jika perbuatanku itu untuk mencari keridhaan-Mu, maka berilah kami jalan keluar dari cobaan ini.” Seketika, pintu gua tersebut bergeser. Hingga ketika ketiga pemuda di gua tersebut telah berdoa semuanya, pintu gua terbuka dan mereka bisa keluar dari gua tersebut.

[Muchlisin BK/Tarbiyah.net]

****

Senin, 26 September 2016

Sate Maranggi Di Rumah

Sate Maranggi Di Rumah  

Dengan kemudahan teknologi sekarang segala macam informasi berseliweren di depan mata. Panggil mbah Google, tanyakan apa saja yang perlu. Atau suruh si Youtube bercerita tentang apa saja, dia bahkan bisa memperlihatkan contoh dari yang kita tanyakan. Dengan sejelas-jelasnya. 

Sekali waktu beberapa minggu yang lalu, ada yang mengirim video singkat cara membuat sate maranggi melalui WA. Video itu terlalu ringkas dan diputar sangat cepat, hanya sekitar satu menit. Tapi informasi tidak lengkap ini menggelitik dan membuat penasaran. Kenapa tidak dicari informasi yang lebih santai penyajiannya di Youtube. Hanya sekedar beberapa pencetan di keyboard komputerku, informasi yang lebih jelas tentang resep sate maranggi  ditemukan.  

Kebetulan sedang banyak daging kurban di rumah, masih terparkir di lemari pendingin. Maka aku mulai mempraktekkan petunjuk yang diajarkan Youtube itu. Beginilah ringkasan ceritanya yang sudah aku lakukan hari Ahad kemarin. (Tidak seratus persen mengikuti yang diajarkan Youtube.)

Ambil daging sapi dari lemari pendingin, sekitar 400gr. Setelah sedikit meleleh dari kebekuannya, potong-potong daging sapi tersebut sebesar dadu berukuran satu sentimeter. Bungkus potongan dadu daging sapi itu dengan daun pepaya dan letakkan dalam sebuah wadah atau panci. Biarkan selama satu jam.

Siapkan bumbu-bumbu berikut:

3 siung bawah putih.
3 siung bawang merah.
Setengah jempol jari masing-masing jahe, lengkuas dan kunyit. 
Satu sendok teh jintan.
Satu sendok teh merica halus.
Satu sendok teh garam.
Satu sendok makan gula aren yang sudah diserut.

Semua bumbu di atas diblender sampai halus.

Tambahkan dua sendok makan kecap manis.
Peraskan sebuah jeruk nipis ukuran sedang.  
Tambahkan satu sendok makan minyak goreng.

Aduk semua sampai rata. Lalu lumerkan ke potongan daging yang sudah dibungkus daun pepaya. Kemudian masukkan daging yang sudah dibalur dengan bumbu tersebut ke dalam lemari es bawah. Biarkan lebih kurang satu jam.

Sesudah satu jam, tusuk daging-daging tadi menjadi sate, siap untuk dibakar.

Untuk kuah sate;

1. Kuah kecap (pedas)

Iris 3 siung bawan merah.
Iris satu buah tomat merah menjadi dadu-dadu kecil.
Iris 4 buah cabe rawit.
Masukkan semua irisan tersebut ke dalam setengah gelas kecap manis.
Tambahkan satu sendok teh cuka.
Aduk rata.

2. Kuah kacang

Setengah balok kecil bumbu pecal (ukuran kira-kira 2 cm3).
Larutkan dalam satu gelas air.
Masukkan irisan dua buah bawang merah.
Tambahkan dua sendok makan kecap manis.
Tambahkan satu sendok teh cuka.
Aduk rata.

Selesai sudah. 

Bagaimana rasanya? Benar-benar rasa sate maranggi. Empuk dan enak. Kata cucu-cucuku, 'A plus ini nyiak, mantap banget....'

****                              

Jumat, 23 September 2016

Repotnya Menerbitkan Buku

Repotnya Menerbitkan Buku

Ketika melihat di FB seorang teman bagaimana dia menerbitkan buku karangannya, aku juga tertarik untuk mengikuti jejaknya. Aku segera minta nomor kontak penanggung jawab penerbitan dan langsung diberikannya. Itu terjadi di awal bulan Juni yang lalu. Aku jelaskan niatku untuk mencetak dan menerbitkan buku karanganku di penerbitnya. Sepertinya tidak ada masalah, karena biaya pencetakan akan aku tanggung sendiri. Aku dimintanya untuk mengirim soft copy karangan tersebut dan segera pula aku lakukan. Penerbit ini akan mengedit, membuatkan gambar sampul dan menguruskan izin terbit. Biaya untuk semua itupun sudah disetujui.   

Waktu-waktu berikutnya adalah waktu menunggu yang agak panjang. Setelah lebih dua bulan, di awal Agustus  mereka mengirim contoh gambar sampul. Mula-mula disertai janji bahwa hasil editan akan dikirim hari berikutnya. Aku mengomentari dan minta dilakukan sedikit perubahan pada cover yang diusulkan. Lalu menagih janji mereka untuk hasil editan. Lalu dijanjikan sekalian saja nanti dengan koreksi hiasan sampul atau cover. 

Waktu itu kita berbicara mengenai ongkos cetak. Mereka memberi tahuku bahwa ongkosnya adalah sekian-sekian karena buku tersebut cukup tebal, sampai 500 halaman. Meski aku merasa heran karena aslinya hanya 300 halaman ketikan, tapi ya sudahlah, mungkin ketika diedit untuk jadi buku halamannya harus dibuat lebih longgar. 

Beberapa hari yang panjang lagi berlalu sampai akhirnya gambar sampul dan editan itu dikirim. 

Gambar sampul masih tidak memuaskan. Mereka salah faham dengan koreksi yang aku minta. Jadi terpaksa aku balikkan lagi. Hasil editan? Inilah yang lebih heboh. Pertama, ternyata jumlah halamannya bukan 500 tapi hanya 350 halaman. Sementara isinya? Aku harus memeriksa ulang berkali-kali editan mereka yang ternyata salah. Salah dalam ejaan, salah dalam memakai huruf besar, salah dalam tanda baca. Padahal karanganku itu sudah aku edit sendiri sebelumnya. Aku tandai setiap kesalahan di banyak sekali halaman dan aku kirimkan kembali. Dan saat ini adalah masa penantian berikutnya.

Yang membuat sedikit runyam, aku terlanjur 'mengiklankan' buku tersebut melalui FB dengan catatan masih sedang dalam perbaikan. Tapi perbaikannya belum kunjung selesai sampai saat ini.  Entah berapa lama lagi mesti menunggu.  Jadi bagi anda-anda yang sudah menyatakan ingin memesannya, harap bersabar. Mudah-mudahan meskipun lama penantiannya tidak sampai sia-sia.

****