Rabu, 28 Mei 2014

Lahir Sebagai Yahudi, Hidayah Membawanya Kepada Islam (Dari Dakwatuna)

Lahir Sebagai Yahudi, Hidayah Membawanya Kepada Islam

Rubrik: Hidayah | Oleh: Saiful Bahri - 30/04/14 | 17:59 | 01 Rajab 1435 H

Cahaya Islam (ilustrasi) - (Foto: baltyra.com)
Cahaya Islam (ilustrasi) – (Foto: baltyra.com)

dakwatuna.com – Musa Caplan lahir dan besar dalam tradisi Yahudi. Ia dan keluarganya rutin mengunjungi sinagog. Ia pun bersekolah di sebuah sekolah Yahudi Ortodoks.

“Saya hidup dengan keberagaman yang terbatas,” kenang dia seperti dilansir onislam.net, Rabu (30/4).

Meski berada dalam lingkaran tradisi Yudaisme, Musa menaruh minat mempelajari agama-agama lain. Ini yang selanjutnya mendorong Musa berinteraksi dengan umat agama lain, salah satunya penganut Islam.

“Saya percaya, semua agama itu sama, karena pada dasarnya menyembah Tuhan yang sama yakni Allah,” kata dia.

Dari interaksi tersebut, ia mulai tahu banyak tentang Islam. Ia percaya Islam adalah agama yang mengedepankan perdamaian. Memang, Musa tidak bisa menghindari stereotip negatif tentang Islam. Beruntung baginya, interaksi dengan Muslim membuatnya memiliki perspektif baru.

“Disinilah, Allah mulai menaruh rencana pada hidup saya,” kata dia.

Musa sulit mempercayai mengapa Islam sebagai agama damai bisa melahirkan terorisme. Padahal agama ini belum tentu mengajarkan umatnya untuk membunuh orang tak bersalah. 

“Rasulullah adalah pejuang, ia tidak membunuh orang tidak berdosa, ia taruh rasa hormat, perdamaian dan toleransi,” kata dia.

Menyadari Islam bukanlah agama yang mengajari umatnya sikap kebencian, Musa mulai tertarik untuk lebih dalam mempelajarinya. Salah satu sumber yang menjadi acuannya adalah kitab Perjanjian Lama dan Alquran. Saat membandingkan keduanya, Musa melihat Alquran memiliki sumber informasi akurat tentang asal mula kehidupan, hal yang bisa dikonfirmasi melalui ilmu pengetahuan.

“Sementara, perjanjian lama telah berubah selama bertahun-tahun,” kata dia. Ambil satu contoh, ucapnya, Al Quran memaparkan bagaimana gunung-gunung terbentuk hingga tercipta lapisan atmosfer. Informasi ini sudah ada di Al Quran, jauh sebelum ilmu pengetahuan memahami itu.

Semakin mendalami Alquran, Musa kian kagum. Mulailah ia pada satu persimpangan dimana akal dan pikirannya mengerucut pada satu keinginan, yakni menjadi Muslim. Musa menyadari keputusan itu tidaklah mudah. Orang tua dan kerabatnya tentu tidak akan menerima keputusannya itu.

“Untuk saat itu, saya tidak menjalani kehidupan yang Islami sepenuhnya. Namun, berkat Allah, saya bisa melaksanakan shalat lima waktu, saya bisa mempelajari Islam secara online, dan setidaknya saya bisa secara terbuka mengakui keesaan Allah,” kata dia.

Memang tidak mudah bagi Musa menjalankan imannya itu. Ambil contoh saja, ia merasa prihatin dengan nasib bangsa Palestina. Secara pribadi, ia sangat mendukung kemerdekaan Palestina dari penjajahan Israel, namun keluarganya justru melihat Palestina adalah tanah milik bangsa Yahudi.

“Jujur saya mudah tersinggung soal itu,” kata dia.

Di luar kesulitannya, Musa meyakini keterbatasan yang dimilikinya saat ini tidak menghalangi niatnya mengakui Islam sebagai agama yang dipilih Allah untuknya. Memang, ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk bersyahadat dihadapan umat Islam, tapi ia sudah melakukannya dihadapan Allah..

“Insya Allah, yang penting dari hal ini adalah, saya sudah berniat untuk mengunjungi masjid, tidak terlibat narkoba, mengkonsumsi alkohol dan mencuri. Tidak mudah memang, tapi Insya Allah,” kata dia. (ROL/sbb/dakwatuna)

****

Selasa, 27 Mei 2014

Seminggu Merawat Hamizan

Seminggu Merawat Hamizan

Sesuai dengan rencana perjalanan umi Hamizan, maka dia tinggal dengan kami (nenek, inyiak dan onti) sejak dari hari Sabtu 17 Mai sampai umi dan ayah kembali dengan selamat hari Sabtu tanggal 24 Mai. Masih ada bunda, abangs dan adek Rayyan di rumah depan yang wira-wiri antara rumah depan dan rumah belakang (memang begitu biasanya deskripsinya). Kebetulan pula abangs sedang libur pada minggu itu. 

Malam pertama Izan ingat umi persis ketika mau tidur. Dia bilang dia maunya tidur sama umi. Lalu inyiak bercerita bahwa umi sedang pergi ke Pau, jauh sekali, untuk mencari rumah tempat tinggal kalau nanti ayah, umi dan Izan pindah ke sana. Juga mencari sekolah untuk Izan. Dengan sedikit diskusi sebelum tidur, melibatkan inyiak, nenek dan onti, akhirnya karena sudah mengantuk, maka malam pertama itu berjalan dengan aman. 

Izan tidak mau tidur pakai selimut. Kalau diselimuti, tidak lama kemudian pasti ditendang. Kalau tidur sama umi, tergantung faktor kelelahan bermain sepertinya, kadang-kadang Izan ngompol. Waktu inyiak bangun jam empat sebelum subuh, Izan dibangunin dan diajak pipis ke kamar mandi. Dia tidak protes dan bangun dengan enteng. Setelah itu langsung melanjutkan tidur kembali. Hasil akhir, selama seminggu tidur dengan inyiak dan nenek, Izan tidak pernah ngompol.

Bangun tidur, Izan perlu beberapa menit untuk benar-benar pulih. Istilah dia sendiri selama beberapa menit tersebut adalah 'loading'. Kalau digoda, ditanya apa loadingnya sudah selesai, Izan akan bilang belum kalau dia memang belum benar-benar 'in'. Untuk urusan sarapan dan makan Izan agak sedikit sulit. Tapi dengan onti biasanya bisa lebih mudah. Sebenarnya yang jauh lebih mudah kalau berebutan dengan abangs dan adek Rayyan. Pada satu pagi inyiak membuat mi goreng (dari mi telor kering) pakai udang dan jamur. Waktu Izan ditawarin dia tidak mau. Dengan susah payah, akhirnya mau udangnya saja. Tidak lama kemudian rombongan abangs dan adek Rayyan datang. Sama onti mi gorengnya dibagi-bagi buat semua. Dan kali ini Izan juga minta bagiannya dan dia makan. Makan berebutan itu ternyata memang lebih bersemangat.

Kadang-kadang untuk makan siang Izan dibawa ke rumah depan, biar bisa makan bareng disuapin bunda. Di rumah depan acara yang menyenangkan adalah berendam di kolam renang plastik, berempat. Sambil main air tentu saja. Sambil berteriak-teriak dan bernyanyi-nyanyi.

Ternyata hari seminggu berjalan sangat cepat. Dan alhamdulillah aman. Hari Sabtu pagi tanggal 24, inyiak dan nenek pergi ke undangan walimahan anak teman karyawan Total. Izan masih tidur. Waktu inyiak dan nenek pulang Izan sedang main dengan onti. Jam sebelas inyiak dan nenek harus pergi lagi ke pertemuan keluarga. Ayah dan umi akan sampai di Bandara Soeta sekitar jam sepuluh - sebelas dan akan dijemput oleh akung dan uti. Inyiak sebenarnya ingin melihat bagaimana reaksi Izan ketika ayah dan umi datang, tapi sayang harus pergi ke pertemuan keluarga itu. Ternyata menurut cerita, Izan gembira tapi tidak berlebih-lebihan. Lebih cenderung dikatakan biasa-biasa saja. Hanya, ketika malam ditanya apakah masih mau tidur sama inyiak dan nenek, jawabannya sangat mantap. Nggak, Izan mau tidur sama umi.....

****
                            

Rabu, 21 Mei 2014

Lain Dahulu Lain Sekarang

Lain Dahulu Lain Sekarang 

Lain Bengkulu, lain Semarang. Lain dahulu, lain sekarang. Ya, iyalah. Dengan kemajuan teknologi. Kita tidak lagi hidup di jaman pergi ke kota naik delman yang ditarik kuda, duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja, mengendalikan kuda supaya bagus jalannya. Meski aku melalui jaman itu. Melalui waktu ketika untuk pergi ke kota dari kampungku di kaki gunung Marapi di Ranah Minang, harus menggunakan bendi alias delman itu. Dan aku waktu itu benar-benar merasa senang duduk di muka di samping pak kusir.

Tapi ini bukan cerita bendi atau delman. Aku terkagum-kagum dengan hasil temuan teknologi sampai saat ini. Yang paling akhir aku kagumi adalah alat komunikasi skype yang kemarin kami gunakan untuk berkomunikasi antara Jatibening dan Pau di Perancis. Perangkat ini bukan baru-baru sangat. Sudah beberapa tahun dia hadir. Dan akupun pernah menggunakannya untuk berkomunikasi ke Bandung, dengan si Bungsu. Ketika kemarin digunakan untuk jarak lebih jauh, waktu itulah aku tersentak. Betapa jarak menjadi semakin tidak berarti dengan alat canggih ini.

Terbayang masa-masa dahulu. Dari dahulu ketika aku masih kanak-kanak, naik delman tadi itu. Sampai dahulu ketika anak-anak masih kanak-kanak. Yang terakhir ini di tahun delapan puluhan awal. Kami tinggal di Balikpapan saat itu. Setiap tahun kami pulang ke kampung ketika aku mengambil cuti tahunan. Sudah naik pesawat jet. Naik taksi dari Bandara Tabing ke kampung atau dari Bandara Simpang Tiga ke rumah mertua di Pekan Baru. Artinya alat transportasi waktu itu mirip dengan sekarang. Hanya saja, untuk memberitahu bahwa kami sudah selamat sampai kembali di Balikpapan sepulang dari cuti, media penyampai berita hanyalah surat. Tidak lazim untuk mengirim telegram untuk berita seperti itu. Dan surat, seandainya begitu sampai langsung ditulis, baru akan sampai di tangan ibuku 3-4 hari kemudian. Balasannya, di mana beliau menyampaikan rasa syukur bahwa kami sudah selamat kembali di perantauan baru akan datang beberapa hari lagi kemudian.

Belum ada telepon di kampung waktu itu. Bahkan di kotapun (di tempat mertua di Pekan Baru) tidak ada telepon. Jauh sekali bedanya dengan sekarang ketika semua orang punya hape, bahkan sampai di kampung-kampung. Lalu kita bisa menghubungi siapa saja di mana saja.

Pengalaman pahit dengan pesawat telepon pernah aku alami tahun 1990, waktu kami pergi melaksanakan ibadah haji. Ketika itu terjadi peristiwa terowongan Mina yang mengambil korban lebih dari 1500 orang jamaah haji Indonesia. Kami ikut-ikutan antri di telepon umum di Mina untuk menghubungi anak-anak di Balikpapan. Aku berhasil menghubungi nomor telepon kantor dan minta disambungkan ke rumah tempat tinggal kami. Men-dial langsung ke nomor rumah dari luar negeri tidak bisa. Apa yang terjadi? Petugas telepon itu, mungkin karena sedang sibuk, tidak berhasil menyambungkan ke rumah. Habis koin 50 riyal, dan tidak ada lagi koin, telepon itu diam saja, tidak tersambung ke rumah. Dengan 15 riyal seharusnya sudah cukup untuk berkomunikasi ke tanah air. Baru dua hari kemudian dari Makkah kami berhasil menghubungi anak-anak dan adikku di Balikpapan. Padahal waktu itu semua orang senewen, menunggu dan mengamati berita TVRI yang menyiarkan nama-nama korban terowongan Mina. Anak kami yang paling tua bahkan diteror temannya yang mengatakan bahwa nama kami terbaca di antara nama-nama korban tersebut.  

Itulah bedanya. Sekarang semua orang bisa berkomunikasi audio visual ke balik bumi sana.

****                                           

Senin, 19 Mei 2014

Ketika Hamizan Ditinggal Umi

Ketika Hamizan Ditinggal Umi 

Ada sebuah rencana cukup besar di keluarga Billy Sunyoto, ayahnya Hamizan Hafidz. Dia akan dipindahkan ke Pau di Perancis dalam sebuah penempatan jangka panjang (beberapa tahun). Istilah di lingkungan Total Indonesie-nya ditugaskan IA (international assignment). Dan itu perlu persiapan tentu saja. Salah satu persiapan itu meliputi wawancara dengan orang yang akan digantikannya di Pau sana dan survai mencari tempat tinggal (rumah atau apartemen). Untuk yang terakhir ini, istri harus ikut. Begitu peraturan perusahaan.

Mereka diberi waktu dua minggu untuk mengerjakan kedua hal di atas. Berarti harus meninggalkan Hamizan selama maksimum dua minggu itu. Tapi umi Hamizan tidak tega berpisah sampai dua minggu. Lalu akhirnya dibuat rencana perjalanan yang berbeda. Ayah berangkat hari Sabtu tanggal 10 Mai. Umi berangkat seminggu kemudian, tanggal 17 Mai. Untuk umi Hamizan, sebenarnya perjalanan ini ekstra berat karena dia sedang hamil. Tapi, ya sudah tetap dijalaninya juga. 

Hamizan tinggal sama nenek dan inyiak plus onti (aunty) Nadya. Dari jauh hari sudah diberitahukan rencana berpisah selama seminggu ini dengan harapan Hamizan akan mengerti. Pada hari Sabtu keberangkatan umi, umi diantar onti ke Bandara Soeta. Hamizan bersama inyiak, nenek, bunda, abang kembar dan adek Rayyan, pergi jalan-jalan ke MM, untuk sedikit mengelabui Hamizan. Soalnya kalau dibawa mengantar umi ke bandara bisa-bisa dua-duanya nanti senewen sebelum berpisah. 

Alhamdulillah cukup aman-aman saja. Ketika kami sampai di rumah Izan bertanya uminya kemana, lalu dijelaskan bahwa umi pergi mencari rumah tempat tinggal di Pau. Dia kelihatan OK saja, mungkin sambil tidak terlalu mengerti. Malam itu aman-aman karena bermain dengan abangs dan adek Rayyan sampai agak larut sekitar jam 9.30. Sedikit masalah mulai timbul waktu diajak tidur. Teringat umi, karena biasanya memang tidur sama umi. Tapi alhamdulillah dengan cerita dan penjelasan bahwa umi sedang berada di pesawat dalam perjalanan jauh, dan ditemani nenek, inyiak dan onti Nadya, suasana bisa jadi cair dan Izan akhirnya tertidur. Tidur di tengah antara inyiak dan nenek.

Bangun pagi juga aman-aman saja meski masih bertanya keberadaan umi dimana. Hari Minggu itu sibuk bermain dengan abangs dan adek. Tidur siang ditemani abangs yang pura-pura ikut tidur, padahal abang kembar itu hampir tidak pernah tidur siang. Malamnya, alhamdulillah berkat teknologi bisa kontak melalui skype dengan umi yang baru saja sampai di Pau dan sudah bergabung dengan ayah. Umi bercerita kalau kakinya bengkak akibat terlalu lama di pesawat. Ditambah pula harus menunggu 6 jam di Bandara CDG Paris sebelum melanjutkan penerbangan ke Pau. Izan ngobrol deh sama umi, ngobrol santai-santai, tanpa nangis. Alhamdulillah.

Kemarin siang main di rumah depan (begitu disebut rumah tempat bunda beserta abangs dan adik tinggal). Begitu pula tadi malam meski masih adalah ingat-ingat umi sedikit sebelum tidur, tapi dengan penjelasan, Hamizan langsung mengerti dan tidak rewel. Diingatkan bahwa in syaa Allah hari Sabtu umi dan ayah akan sampai kembali di Jatibening.

Pagi ini sarapan sereal disuapin inyiak, karena onti ada keperluan keluar. Akung sama uti akan datang rencananya hari ini ingin ketemu Izan. Abangs belum datang (mereka libur), mungkin masih belajar karena minggu depan mereka ujian. 

Begitulah cerita tentang Hamizan Hafidz. Muhammad Hamizan Hafidz.

****                                

Kamis, 15 Mei 2014

Goresan Pedang Umar (Dari Islam Indonesia)


Goresan Pedang Umar 

Penulis : Hendi Jo 



"Sejak kapan kalimat menjadikan manusia sebagai budak, padahal mereka lahir dari rahim ibunya dalam keadaan merdeka?" (Umar ibn Khattab)

Orang tua itu tertunduk lemas. Dengan langkah gontai, ditinggalkannya gerbang istana Amr ibn Ash. Pikirannya bingung, hatinya sedih. Sebetulnya ia merasa keberatan untuk menyerahkan tanah dan gubuknya demi proyek pembangunan masjid yang dicanangkan sendiri oleh Gubernur Amr ibn Ash. Namun apa daya, ia hanya seorang Yahudi yang miskin dan sebatang kara, dan tentunya tak memiliki kekuatan untuk menghadapi seorang gubernur yang tentunya didukung oleh sebagian besar masyarakat Muslim di Mesir.

Sambil berjalan, ia kembali mengigat pembicaraan antara dirinya dengan Gubernur Amr ibn Ash: "Apa sih masalahnya hingga kamu tidak mau melepaskan gubuk dan tanah itu?" tanya sang gubernur.

"Saya tidak bisa, Tuan Gubernur. Puluhan tahun saya tinggal di sana, saya tidak bisa meninggalkannya begitu saja,"jawabnya.

"Mengapa tidak bisa? Saya menawarkan harga bagus kepadamu. Kalaupun kamu tidak setuju dengan tawaran saya, kamu bisa menyebut harga yang kamu mau dan insyaallah saya akan membayarnya langsung."

"Tapi ini bukan terkait dengan uang,Tuan Gubernur…"

Amr ibn Ash terdiam. Terlihat raut mukanya menahan rasa kesal. Dengan suara perlahan namun terdengar tegas, ia kemudian berkata: "Sebetulnya, tanpa memintanya kepadamu, aku punya hak untuk membangun sebuah masjid di atas tanahmu. Toh ini bukan untuk kepentinganku sendiri, tapi demi kepentingan masyarakat."

Perundingan itu pun berlangsung buntu. Tak ada kesepakatan apapun diantara kedua pihak.

Beberapa hari kemudian, Yahudi tua itu menerima sepucuk surat perintah yang ditandatangani oleh Gubernur Amr ibn Ash. Isinya perintah kepada si Yahudi tersebut untuk secepatnya meninggalkan tanah tersebut karena tim dari kegubernuran akan meratakan gubuknya dan mengadakan upacara peletakan batu pertama pembangunan sebuah masjid besar. Demi selesai membaca surat itu, bukan main sedihnya si Yahudi. Sambil menangis, ia memikirkan cara yang paling baik untuk keluar dari masalah ini. Tiba-tiba terbetik dalam pikirannya untuk mengadukan soal ini kepada atasan Gubernur Amr ibn Ash yakni Khalifah Umar ibn Khattab. Tapi bukankah sang khalifah tinggalnya jauh di Madinah sana, pikirnya. Ah, aku akan tetap ke sana, berapapun jaraknya dan seperti apapun akhirnya, yang penting aku harus berusaha dulu, pikir si Yahudi kembali.

Maka besoknya, berangkatlah si Yahudi tua itu ke Madinah. Singkat cerita, setelah menempuh perjalanan panjang hingga berhari-hari, sampailah dia di Madinah. Begitu memasuki kota Madinah, tanpa membuang waktu, ia pun memasuki sebuah bangunan yang mirip Istana. Disapanya seorang Arab yang tengah tidur-tiduran di dalam "istana" tersebut.

"Salam. Sobat, bisakah aku bertemu dengan Khalifah Umar?"

"Salam. Bisa saja.Tapi saat ini, dia tidak sedang ada di sini,"ujar si Arab dengan ramah.

"Bagaimana bisa? Bukankah ini istananya Khalifah Umar?"

Sambil tersenyum, si Arab menjawab: "Bukan Sobat. Ini adalah masjid, tempat ibadah. Amirrul Mukminin tidak memiliki istana. Tapi kalau kamu ingin menemuinya, cobalah kau pergi ke sebuah kebun kurma di perbatasan kota. Biasanya disanalah, ia menghabiskan waktunya."   

Setelah mengucapkan terimakasih si Yahudi tua bergegas ke perbatasan kota. Demi dilihatnya seorang lelaki bersahaja tengah duduk sambil mulutnya berzikir di bawah sebatang pohon kurma, ia langsung berkata: "Salam. Wahai sobat, bisakah kamu mempertemukanku dengan Khalifah Umar?"

Alih-alih langsung menjawab, lelaki Arab itu malah menatap wajah si Yahudi tua. Seraya menghentikan zikirnya, ia lantas menjawab: "Salam. Apa yang bisa aku lakukan wahai Sobat?"

"Aku ingin bertemu dengan Khalifah Umar…"

"Akulah Umar. Apa yang bisa aku lakukan?"

"Wahai Sobat, aku ini sudah tua dan datang dari tempat yang sangat jauh, janganlah kamu permainkan aku…" ujar si Yahudi tua dalam nada memelas.

"Demi Allah, akulah Umar yang kamu cari. Apa yang bisa aku bantu,Sobat?" jawab lelaki yang tak lain adalah Umar ibn Khattab tersebut, sambil tersenyum. 

Kemudian dengan sedikit agak ragu, si Yahudi tua itu menceritakan masalahnya dari A sampai Z. Begitu selesai mendengarkan cerita yang disampaikan lelaki tua di hadapannya, merah padamlah wajah Umar. Setelah terdiam beberapa saat, ia meminta izin untuk pergi sebentar. Sekitar 2 menit kemudian, dia datang membawa sebuah tulang onta. Dengan gerakan cepat, tulang onta itu ia kemudian ia gores memakai pedangnya.

“Berikan tulang ini pada Amr bin Ash di Mesir,” kata Sang Khalifah.

Si Yahudi tua itu menatap bingung. “Tuan, apakah Tuan tidak sedang mempermainkanku…” ujar Yahudi itu dalam nada pelan.

Umar ibn Khattab tersenyum. Dipegangnya pundaknya si Yahudi tua."Percayalah, aku tak pernah mempermainkan seseorang yang tengah terzalimi."

Akhirnya si Yahudi tua pun pulang ke Mesir. Begitu tiba di Mesir, tanpa buang waktu ia lalu melangkah ke Istana Kegubernuran dan memberikan tulang onta itu kepada Amr ibn Ash. Begitu mememegang tulang onta dan mengetahui itu dari atasannya di Madinah, pucat pasilah wajah Sang Gubernur. Ia kemudian memanggil para bawahannya dan memerintahkan saat itu juga untuk menghentikan proyek pembangunan masjid sekaligus membangun kembali tempat tinggal si Yahudi tua tersebut. 

“Aku minta maaf. Silakan kamu menempati kembali tanahmu,”  ujar Amr bin Ash gemetar.

Si Yahudi tua bengong. Antara gembira, takjub dan penasaran memenuhi dadanya.

"Jika Tuan tidak keberatan bisakah Tuan memberitahukan kepadaku apa arti tulang yang diberikan Tuan Khalifah kepada Tuan itu?" tanyanya. 

Amr ibn Ash menghela nafas.

"Dengan tulang yang tergores pedang itu, Amirul Mukminin seolah mengatakan kepadaku: Wahai Amr ibn Ash berlaku adillah! Ingatlah suatu hari kamu akan seperti tulang ini. Jika kamu tidak mau berlaku adil, maka aku sendiri yang akan meluruskanmu dengan pedang yang menggores tulang ini…"

Sumber:Islam Indonesia

Rabu, 14 Mei 2014

Jalan Tol Jakarta Yang Semakin Mengesalkan

Jalan Tol Jakarta Yang Semakin Mengesalkan  

Dalam kondisi ideal dan normal, berapa jarak yang bisa kita tempuh jika kita berkendaraan (mobil) selama 7 jam di jalan tol di negeri kita ini? Kalau misalnya kita menempuh jalan tol Cipularang sejak dari Cawang di Jakarta sampai Cihampelas di Bandung, dalam 7 jam itu kita bisa menyelesaikan Jakarta - Bandung, Bandung - Jakarta dan sekali lagi Jakarta - Bandung. Bukan suatu rekor yang indah sangat, untuk menyelesaikan kurang sedikit dari 400 km dalam 7 jam melalui jalan bebas hambatan.  

Kemarin siang kami pergi ke Bandara Soeta menjemput Hamizan dan uminya. Pesawat mereka diperkirakan akan sampai di Soeta jam 5 sore. Kami (aku, istri dan si Bungsu) setelah berkonsultasi dengan Mat Google untuk menanyakan kondisi lalu lintas, akhirnya berangkat sesudah shalat asar, jam setengah empat kurang. Karena menurut informasi yang kami peroleh, jarak ke Bandara dapat ditempuh kurang dari 2 jam. 

Kami bisa memacu kendaraan di sepanjang jalan tol Cikampek arah ke Jakarta sejak dari Jatibening. Di board pemberitahuan sebelum pintu tol Halim terbaca bahwa jarak antara Halim dan Cawang ditempuh dengan kecepatan 5 - 10 km/jam. Ini pertanda buruk, dan aku mengenal betul bagaimana padatnya kendaraan begitu keluar dari pintu tol Halim kalau dikatakan kecepatan 5 - 10 km/jam itu. 

Ternyata benar. Kendaraan bukan main banyaknya, beringsut-ingsut dengan sangat lambat.  Penyebabnya adalah karena adanya pertemuan kendaraan-kendaraan dari Cikampek dan dari Jagorawi  di Cawang. Aku sudah berpengalaman betul dengan ruas Halim - Cawang ini. Aku masih berharap bahwa sesudah Cawang, sebelum Pancoran kemacetan ini akan terurai pelan-pelan. Dugaanku ternyata salah. Jam lima lebih kami masih berada di depan Rumah Sakit Tebet. 

Jam setengah enam, kami baru lewat sedikit dari patung Pancoran. Kami hubungi uminya Hamizan dan menyuruh mereka untuk menunggu, setelah memberitahu posisi kami dalam jebakan kemacetan. Dan kemacetan itu masih berketerusan melalui Kuningan dan Semanggi, meski kali ini sedikit lebih bernafas. Mungkin 15-20 km/jam. Waktu azan maghrib berkumandang kami masih di Mampang. Kami shalat maghrib sambil terus berkendara beringsut-ingsut. Melalui Semanggi, Slipi dan Tomang. Alhamdulillah, di Tomang barulah selesai kemacetan itu. Biang macet adalah tertumpuknya kendaraan yang mengarah ke Merak melaui tol Kebun Jeruk. 

Masih agak sedikit tersendat di beberapa bagian tol Bandara. Akhirnya jam 7, setelah menyetir 3 1/2 jam kami sampai di terminal 2F Bandara Soeta. Bertemu dengan Hamizan dan uminya, serta teman umi Hamizan dan anaknya pula yang baru sama-sama datang dari Balikpapan. Mereka sedang makan malam di sebuah restoran. Kami bertiga ikut memesan makan malam pula, karena perjalanan pulangpun tampaknya tidak akan lancar. 

Jam 8 kami tinggalkan Bandara Soeta menuju Jatibening. Sedikit lebih lancar, kecuali macet antara Slipi - Cawang dengan kecepatan kendaraan 15-20 km/jam lagi. Dan sampai di rumah di Jatibening jam 10 malam. Hampir 7 jam untuk pulang-pergi Jatibening - Bandara Soeta. Melalui jalan tol yang seharusnya berarti bebas hambatan. Tapi dalam kenyataannya, penuh dengan hambatan dan kemacetan. Namun tetap dikenai biaya tol. Itulah kondisi jalan tol Jakarta yang sangat-sangat memprihatinkan.

****                         

Selasa, 13 Mei 2014

Imam Shalat

Imam Shalat

Suatu ketika beberapa pekan yang lalu, pada shalat isya aku membaca beberapa ayat dari surah An Nissa (sampai ayat 147). Ternyata pada ujung ayat ke 147 itu aku salah membacanya. Bagian akhir ayat itu seharusnya berbunyi: 'Wa kaanallahu syaakiran  'aliimaa.' dan aku membaca 'innallaaha syaakiran 'aliimaa...' Tidak ada yang membetulkan.

Sesudah selesai shalat dan akan beranjak keluar mesjid mau pulang, seseorang (jauh lebih muda dariku) menghampiriku. Dia memberi tahu bahwa aku tadi salah dalam membaca ayat seperti di atas. Kenapa sampeyan tidak membetulkannya tadi dalam shalat? tanyaku. Dia beralasan bahwa dia berdiri agak jauh. Aku berterima kasih kepadanya. Hatiku langsung berdetak bahwa orang (muda) ini pasti lebih menguasai bacaan al Quran.

Beberapa hari kemudian, waktu shalat isya juga, aku melihatnya di barisan jamaah. Mungkin karena agak grogi, aku salah dan lupa lagi dalam membaca ayat. Kali ini terdengar seseorang mengingatkannya dan aku membetulkan bacaan itu serta meneruskan sampai beberapa ayat yang lain. 

Baru ketika itu ada jamaah yang memberi tahu bahwa orang (muda) yang membetulkan bacaanku itu adalah seorang hafidz dan beliau itu imam mesjid Al Azhar Jaka Sampurna. Kalau memang demikian adanya, setiap kali dia hadir, aku akan menyuruhnya mengimami shalat. Tidak pantas aku yang hanya hafal beberapa bagian kecil (sedikit sekali) ayat al Quran jadi imam bagi seorang hafidz, begitu pendapatku.

Dan aku lakukan demikian. Setiap kali dia hadir di mesjid kami, baik waktu shalat isya ataupun subuh, aku mempersilahkannya menjadi imam. Dia menerimanya dan mengimami kami shalat. Bacaannya bagus dengan irama yang bagus pula (irama bacaanku biasanya lurus-lurus dan sederhana saja).  

Pada kesempatan ta'lim hari Ahad subuh dengan seorang ustadz yang rutin mengisi pengajian dua minggu sekali, masalah imam ini didiskusikan dengan ustadz tersebut. Karena rupanya ada di antara jamaah mesjid kami yang kurang puas dengan pergantian imam shalat. Ustadz itu menyarankan agar aku (yang diangkat oleh jamaah menjadi imam rawatib di mesjid kami) tetap menjadi imam dan jangan menyerahkan tugas imam ini begitu saja, karena aku menerima amanah untuk itu. Tapi, kataku, bukankah dia lebih baik dan lebih banyak hafalan bacaannya dariku. Oleh ustadz itu ditambahkan bahwa beliau itu hanya tamu di mesjid ini. Jadi imam mesjid tetaplah sampeyan, katanya kepadaku. Memang biasanya, dengan ustadz inipun, yang hafalannya juga lebih banyak dariku, aku biasa saja mengimami shalat, karena beliau bukan jamaah tetap di mesjid kami.

Itulah yang terjadi sementara ini di mesjid di komplek kami.   

****