Kamis, 12 Desember 2013

Menegakkan Penghulu

Menegakkan Penghulu    

Dalam bahasa Minang disebut batagak pangulu. Maksudnya mengangkat penghulu kaum yang baru bergelar Datuk. Menegakkan penghulu itu tidak mesti segera sesudah Datuk terdahulu berpulang ke rahmatullah. Bisa saja jabatan itu terbiarkan untuk jangka waktu lama, karena berbagai macam alasan. Dalam hal gelar itu sempat tidak ada yang menyandangnya dalam waktu lama, biasa pula dikatakan pengangkatan yang baru itu sebagai membangkit batang terendam. Begitu istilahnya.

Penghulu atau Datuk itu adalah mamak yang paling dituakan dalam kaum atau persukuan di Minangkabau. Dialah yang mengayomi segenap anggota kaum berdasarkan garis keturunan melalui jalur ibu. Anggota itu terdiri dari orang-orang tua, saudara-saudara satu generasi dan kemenakan-kemenakan. Semua yang diikat melalui jalur ibu. Saudara kandung dan sepupu-sepupu, anak-anak dari saudara perempuan ibu, dan cucu-cucu dari saudara perempuan nenek. Kemenakan adalah semua anak-anak dari saudara perempuan. Bukan hanya anak saudara perempuan kandung tapi termasuk anak-anak saudara sepupu perempuan. Berapa banyakkah anggota sebuah kaum di bawah seorang penghulu? Bisa dari belasan, beberapa puluh sampai lebih dari seratus orang. Anggota kaum di persukuan kami berjumlah lebih dari seratus orang.

Datuk adalah tempat segenap anggota keluarga berunding dan minta nasihat. Yang akan menasihati para kemenakan, yang akan melindungi mereka, yang akan menunjuk mengajari mereka untuk menjadi orang Minang yang beragama dan beradat. Yang akan jadi tempat bertanya ketika kemenakan akan pergi dan tempat berberita ketika dia kembali pulang.  

Gelar Datuk tidak bisa sembarang dipasang. Untuk meresmikannya harus dipotong kerbau, dibuat helat nagari, diundang ninik mamak dan para penghulu dari lingkungan nagari untuk menjadi saksi pengangkatan itu. Setelah menjadi Datuk beliau ini berpantang mengerjakan pekerjaan yang bisa menjatuhkan wibawa. Harus menjadi contoh kepada segenap anggota kaum dan disegani oleh orang lain. Datuk tidak boleh dipersandakan, diolok-olok, dilecehkan. Bagi yang melakukan pelanggaran akan didenda dengan menyembelih seekor kerbau. Agar tidak sampai dipandang enteng orang lain maka seorang Datuk haruslah berhati-hati dalam bersikap dan berbuat. 

Aturan yang kita sebut di atas adalah ketika adat masih jauh berwibawa. Ketika kemenakan masih seperintah mamak, ketika mamak seperintah penghulu, penghulu seperintah alur dan patut, alur dan patut seperintah kebenaran. Sekarang sudah terjadi pergeseran demi pergeseran. Kemenakan tidak lagi seperintah mamak. Syukur-syukur kalau dia masih seperintah ayahnya. Di samping itu, kebanyakan penghulu sekarang tidak lagi berada di lingkungan yang sama dengan anggota kaum. Mereka sudah berserak-serak di rantau yang berbeda-beda. 

Kenapa tiba-tiba aku menulis tentang bertegak penghulu?

Karena besok aku akan pulang ke kampung. Menghadiri helat bertegak penghulu dari suku Guci, yang akan diperhelatkan hari Ahad. Sudah sangat lama sejak orang di kampung kami bertegak penghulu yang terakhir. Aku belum pernah menyaksikannya. Karena Datuk pun sudah sangat langka sekarang. Ketika aku masih kanak-kanak masih cukup banyak Datuk di kampung kami, sekarang sudah tidak ada satupun. 

Aku sendiri hampir dijadikan Datuk tahun 1995 yang lalu sesudah penghulu kami berpulang tahun sebelumnya. Sudah direncanakan waktu untuk bertegak penghulu ketika itu. Allah berkehendak, terjadi musibah. Rumah gadang kami terbakar. Acara bertegak penghulu ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan.  

****                                       

Rabu, 11 Desember 2013

Silaturahim (Dari Majalah Hidayatullah)


Silaturahim

Silaturahim merupakan ibadah yang sangat agung, mudah dan membawa berkah. Islam menempatkannya di tempat yang mulia karena ia termasuk akhlak yang mulia. Allah Ta’ala telah menyeru hambanya berkaitan dengan menyambung tali silaturahim dalam 19 ayat di al-Qur’an. 

Berkaitan dengan hal tersebut Islam telah memberikan adab-adabnya, antara lain: 

1. Niat yang baik dan ikhlas

Niat yang ikhlas merupakan syarat diterimanya amal seseorang. Demikian juga dalam hal silaturahim hendaknya diniatkan karena Allah. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bahwasanya seorang laki-laki mengunjungi saudaranya di kampung lain, maka Allah mengutus seorang malaikat kepadanya dalam perjalanannya. Ketika telah bertemu, malaikat itu berkata kepadanya, ‘Kemana engkau hendak pergi?’ Ia menjawab, ‘Aku ingin mengunjungi saudaraku di kampung ini’. Malaikat itu berkata lagi, ‘Adakah satu nikmat yang hendak engkau kejar?’ Ia menjawab, ‘Tidak, hanya saja aku mencintainya karena Allah.’ Malaikat itu pun berkata lagi, ‘Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, bahwasanya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya karena Allah’.” (Riwayat Muslim)

2. Memulai silaturahim dari yang terdekat

Yang dimaksud yang terdekat yaitu ada kaitannya dengan hubungan rahim. Semakin dekat hubungan rahim, maka semakin wajib menyambungnya.

3. Mendahulukan orang yang paling bertakwa kepada Allah SWT.

Semakin bertakwa dan bagus agama seseorang, semakin besar pula haknya untuk dikunjungi. Pahala bersilaturahim kepada orang yang bertakwa amatlah besar. Namun, bersilaturahim kepada orang biasa atau bahkan orang kafir yang dekat hubungan kekerabatannya juga dianjurkan, dengan tujuan untuk mengajak pada jalan kebenaran. Nabi
Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘’Pelajarilah nasab-nasab kalian yang dengan itu kalian dapat menyambung tali silaturahim. Sebab, menyambung silaturahim dapat mendatangkan kasih sayang dalam keluarga, mendatangkan harta, dan memanjangkan umur.’’ (Riwayat Tirmidzi)

4. Memperhatikan hari dan jam yang baik

Hendaknya memilih waktu yang tepat ketika berkunjung. Tentu tidak layak berkunjung pada pagi buta, tengah hari atau larut malam. Karena, waktu-waktu itu adalah waktu untuk tidur dan beristirahat. Atau ketika orang yang akan dikunjungi sedang sibuk atau tidak berkenan untuk diganggu. Terkecuali ada kepentingan yang mendesak atau telah meminta izin.

5. Dianjurkan membawa hadiah atau sesuatu yang bermanfaat

Maksudnya, membawa hadiah agar terwujud kesempurnaan untuk meraih kecintaan, kasih sayang, sirnanya kedengkian, dan terwujudnya kesatuan hati. Rasululllah
Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Hendaknya kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad)

6. Mengucapkan salam dan minta izin masuk

Hal ini diterangkan dalam surat An-Nuur [24]: 27. Juga sabda Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wa sallam , “Sesungguhnya disyariatkan minta izin adalah karena untuk menjaga pandangan.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

7. Ketika di depan pintu posisi berdiri tidak menghadap pintu masuk

Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wa sallam apabila mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak menghadapkan wajahnya di depan pintu, tetapi berada di sebelah kanan atau kirinya dan mengucapkan Assalamu’alaikum… (Riwayat Abu Dawud)

8. Hendaknya duduk di tempat yang telah diizinkan oleh tuan rumah

Jika tuan rumah mempersilakan di tempat tertentu, maka tamu harus mengikutinya. Sebab, boleh jadi tuan rumah menempatkannya di tersebut itu dengan tujuan agar privasi atau aurat mereka tidak tampak. 

9. Segera pulang jika disuruh pulang

Hal ini dijelaskan dalam surat An-Nuur [24]: 28. 

Semoga bermanfat.

Bahrul Ulum/Suara Hidayatullah AGUSTUS 2013

Minggu, 08 Desember 2013

Riba......

Riba......

Tahukah kita apa yang dimaksudkan dengan riba? Yang umat Islam diingatkan agar tidak memakannya? 'Yaa ayyuhalladziina aamanuu laa ta'kulurribaa adh'aafan mudha'afah...... (Surah Ai Imran ayat 130) yang artinya, 'Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian memakan riba dengan berlipat ganda.....'. Riba adalah mengambil lebih dari pengembalian pinjaman dan diikrarkan atau disetujui seperti itu. Maksudnya, saya pinjamkan  uang sejuta, kamu kembalikan setelah satu bulan sejuta seratus ribu. Kalau kamu terlambat mengembalikannya, bulan kedua kamu harus mengembalikan sejuta seratus ribu ditambah seratus sepuluh ribu. Begitu seterusnya. Terlambat membayarnya maka harus membayar bunga serta bunga dari bunga yang terlambat itu.  

Allah melarang orang-orang yang beriman memakan riba. Pada ayat lain, di surah al Baqarah ayat 275 Allah mengingatkan bahwa orang yang memakan riba itu tidak sanggup berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan... Na'uudzubillaah... Riba adalah kezhaliman yang bersangatan. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya: ' Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya dari  melakukan perzinaan sebanyak 36 kali,' (Hadits riwayat Imam Ahmad).  

Bagaimana dengan bunga bank? tanya seorang kemenakan. Aku menjelaskan bahwa aku tidak memakan bunga bank konvensional. Apakah mamak tidak menggunakan jasa bank? tanyanya pula. Ambo menggunakan bank syariah, jawabku. Apakah bunga bank konvensional itu riba? Dan kalau bunga bank konvensional itu riba, apa yang dari bank syariah tidak riba? tanyanya lebih jauh.

Ini memang pertanyaan banyak orang. Dan banyak pula bahasan tak kunjung selesai mengenai bunga bank ini antara yang mengatakan mutlak haram, yang mengatakan tergantung kondisi, yang mengatakan boleh-boleh saja. Yang mengatakan tergantung kondisi misalnya beralasan bahwa nilai uang kertas selalu saja merosot. Selalu saja digerogoti inflasi. Yang mengatakan boleh, membuat argumentasi bahwa mereka menyimpan uang di bank sebagai usaha pengamanan saja dari kecurian. Lalu kalau ada keuntungannya, ya diterima saja. Tergantung niat sajalah, begitu kata mereka.

Aku sendiri menghindar karena takut akibatnya di akhirat. Kalau memang bunga uang itu ada yang menganggap riba, aku khawatir kalau-kalau anggapan itu yang benar, sedangkan aku sudah mendengar adanya pendapat seperti itu. 

Bank syariah kan membagikan kelebihan juga, yang mereka sebut sebagai berbagi hasil, yang padahal hampir sama saja? tanya kemenakan lagi. Tidak sama, jawabku. Pertama karena dari awal perjanjiannya adalah berbagi hasil keuntungan. Jumlahnya disesuaikan dengan keuntungan yang diperoleh oleh bank syariah dan tidak sama untuk tiap bulan. Yang kedua, uang itu diputar oleh bank syariah untuk menangani usaha-usaha yang halal saja. 

Sang kemenakan termangu-mangu. 

Apakah mamak menggunakan kartu kredit? Atau tidak pernahkah mamak membeli dengan mencicil? lanjutnya lagi. Ambo menggunakan kartu kredit tapi selalu membayar tunai ketika tagihannya datang. Perusahaan kartu kredit itu memberi kita kemudahan, berharap kita akan mencicil pembayaran dengan membayar bunga. Ambo ambil kemudahannya saja, tapi tidak mau mencicil-cicil bayaran dengan membayar lebih. Pernah membeli dengan mencicil asal sejak awal disepakati tidak ada bunga. 0% bunga. 

Tapi oleh si pedagang kan harga sudah dinaikkannya terlebih dahulu? Meski mereka mengatakan 0% bunga? Tidak mengapa, jawabku. Kalau kita sudah setuju dengan harga sekian, lalu dibayar sekian kali pembayaran dengan tidak ada tambahan dari harga yang disepakati, yang seperti itu jelas bukan membayar bunga. Bukan riba.

Dia mengangguk-angguk. Aku berharap dia benar-benar faham dengan pendapatku.

****
.     

Sabtu, 30 November 2013

Orang Terkaya Indonesia

Orang Terkaya Indonesia

Ada diskusi menarik di mailing list RantauNet tentang orang terkaya di negeri ini. Di antara yang terkaya itu, atau mungkin yang paling kaya adalah yang punya pabrik rokok. Salah satu telaahan dalam diskusi itu adalah bahwa yang memperkaya si empunya pabrik rokok besar itu adalah orang-orang pecandu rokok dan bagian terbesarnya umat Islam. Umat Islam membelanjakan uangnya lebih banyak untuk rokok dibandingkan untuk zakat. Omzet rokok sampai beratus triliyun rupiah per tahun sedangkan jumlah zakat hanya sekian triliyun saja. Ini adalah rangkaian fakta untuk negeri kita Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah orang Islam. Di Cina, yang persentase pecandu rokoknya lebih besar dan jumlah penduduknya 5 sampai 6 kali lipat penduduk Indonesia omzet perdagangan rokok tentu lebih hebat lagi. 

Aku mengamati bahwa si pembuat rokok jadi orang terkaya dengan nilai kekayaan milyaran dolar adalah sebuah keberuntungan yang wajar. Dia memanfaatkan fakta bahwa jumlah pencandu rokok di negeri ini luar biasa banyaknya. Berpuluh-puluh juta orang jumlahnya. Mereka adalah 'pencandu', yang diberi tanda kutip, untuk menjelaskan bahwa orang-orang tersebut hampir tidak bisa melepaskan dirinya dari ketergantungan terhadap rokok. Sangat sedikit jumlah pecandu yang berhasil berhenti merokok. Meski di setiap bungkus rokok sekarang ditempei peringatan tentang ancaman bahaya bagi perokok. Meski sekarang dunia kaum perokok semakin sempit, karena orang tidak bisa bebas seenaknya merokok di sebarang tempat seperti dua puluhan tahun yang lalu. Untuk sekedar ilustrasi sampai sekarang masih ada tanda dilarang merokok di pesawat udara. Dulu tanda itu hanya menyala di saat pesawat take off dan landing saja. Di luar itu penumpang pesawat boleh merokok.   

Jumlah pencandu rokok sepertinya tidak pernah surut. Produksi rokok tetap meningkat seperti ditulis seorang anggota mailing seperti berikut ini:

DATA KONSUMSI ROKOK 2009-2013






200920122013*
Total Produksi 235 miliar 301 miliar332 miliar
Konsumsi per hari 644 juta 825 juta 909 juta 
Konsumsi perokok muslim/hari515 juta660 juta 727 juta
Total pengeluaran perokok muslim/hari Rp 51,5 miliar Rp. 66 miliar Rp. 72,7 miliar 




*Estimasi Direktorat Bea dan Cukai Kementerian Keuangan 2013

Sungguh angka-angka yang fantastis.

Tapi disanalah kejeniusan beberapa pengusaha rokok yang mampu membuat pencandu semakin kecanduan dengan ramuan rokok kreteknya (terutamanya memang rokok kretek). Ada beberapa merek rokok yang memang berukuran raksasa, yang merajai dunia pabrik rokok. 

Guruku di SR setengah abad yang lalu berpetuah, contohlah orang Cina dalam berdagang. Mereka tidak banyak mengambil untung, tapi dagangannya adalah barangan yang dibeli orang secara massal. Waktu itu pak guru itu mengambil contoh orang Cina yang membuat gula-gula jajanan murah anak-anak. 

Pas benar dengan kiasan pak guruku dulu itu dengan fakta si empunya pabrik rokok. Jadi sangat pantas kalau dia kaya raya.

****

                  

Sabtu, 23 November 2013

Perputaran Waktu

Perputaran Waktu

Perhatikanlah alam! Betapa teraturnya. Beredar berputar berulang sambung menyambung. Selalu ada siklus yang berulang. Dimulai di sebuah titik awal, beranjak jadi berumur, lalu menjadi tua dan akhirnya mati. Datang lagi yang baru, dilaluinya lagi siklus yang sama. Bagian dari keteraturan yang menyangkut makhluk hidup kita namai kehidupan. Tak terkecuali kehidupan kita umat manusia.  

Semua keteraturan itu dianyam dalam siklus yang kita namai waktu. Dengan tanda-tandanya yang berulang-ulang. Pagi berangsur-angsur menjadi siang. Melalui sore. Lalu menjelang malam. Seterusnya berlanjut dengan subuh mendekati pagi yang baru. Begitu selamanya. Makhuk-makhluk hidup berselancar di dalam peredarannya. Untuk jangka waktu tertentu. Ada sebuah kepastian, bahwa setiap kehidupan pasti berakhir. Kulluu nafsin dzaa iqatulmaut. Begitu peringatan Allah Ta'ala. 

Allah peringatkan kita agar mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Waktu hidup di dunia ini yang sebenarnya sangat singkat. Mudah menyadari betapa singkatnya waktu itu kalau kita memperhatikannya. Kita bahkan biasa tanpa sadar mengatakan, 'tahu-tahu sudah hari Jum'at lagi..... tahu-tahu sudah mau bulan puasa lagi....'. Karena titik-titik waktu itu memang selalu berulang. Dan perulangannya itu sepertinya sangat cepat.

'Demi masa - Sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi - kecuali, orang-orang yang beriman dan beramal shalih - yang saling mengingatkan tentang kebenaran - yang saling mengingatkan tentang kesabaran.' Demikian firman Allah dalam surah Al 'Ashr (surah 103). Manusia merugi dalam perputaran waktu itu. Manusia-manusia yang terpontang-panting dengan urusan dunia. Mencari, mengejar keberuntungan dengan takaran awam. Dengan iming-iming dunia. Dengan iming-iming bahwa yang berhasil itu adalah yang mampu menumpuk harta. Atau yang berhasil itu adalah yang berpangkat tinggi atau yang berkuasa. Dan sebagai macam lainnya ukuran keduniaan. Ternyata, semua itu tidak kekal. Tahu-tahu hari sudah berangsur senja. Badanpun mulai tua. Yang akhirnya tersungkur, terbaring kaku. Tidak ada pertolongan apa-apa dari harta yang bertumpuk-tumpuk itu. Tidak ada bantuan dari pangkat tinggi, dari kekuasaan yang tadinya dikira akan langgeng. Paling-paing hanya bantuan menggotong dan mengantar jasad kaku ke kuburan. Hanya sekedar mengantar. Bukankah rugi besar namanya ketika seseorang mengalami yang seperti itu?  

Kecuali bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Dengan dasar keimanannya dia berbuat baik, beramal shalih mencari ridha Allah. Amal yang dia niatkan untuk ibadah kepada Allah. Dia yakin bahwa kehidupan dan waktu dunia ini sangat sementara sifatnya dan akan ada hari akhirat yang jauh lebih penting. Dia beriman bahwa dia pasti akan dihadirkan nanti di hari itu. Dia berkeyakinan bahwa hanya dengan mendapatkan ridha Allah saja dia bisa selamat pada hari perhitungan itu. Oleh karena itu dia berusaha mempersiapkan diri selama kehadirannya di muka bumi ini dengan berbuat baik, beramal shalih. Kalau dia terlanjur berbuat dosa, dia cepat-cepat minta ampunan Allah. Dia menjaga lisan dan perbuatannya dari melukai orang lain. Dari menyakiti sesama manusia. Dia berusaha mengingatkan manusia lain, agar menegakkan kebenaran. Kebenaran yang dibenarkan oleh Allah dengan hukum-hukum-Nya. Dan mengingatkan manusia lain agar sabar dalam menjalani aneka rintangan dan cobaan dalam hidup ini. Mengingatkan agar senantiasa bertawakkal kepada Allah. Dan hanya kepada Allah saja hendaknya berserah diri. Maka orang-orang yang mampu berbuat seperti ini, insya Allah dia akan dikecualikan Allah dari kerugian. 

Mudah-mudahan kita dapat menempatkan diri kita di posisi yang terbaik dalam perputaran waktu.

****

Jumat, 15 November 2013

Adakah Yang Hilang Dalam Da'wah?

Adakah Yang Hilang Dalam Dakwah?

Pada suatu kesempatan, aku berbincang dengan seorang rekan dalam obrolan santai selama rehat kopi. Tentang kualitas iman umat Islam secara umum. Dia mengambil contoh di kampungnya sendiri di Madura sana. Menurut pengamatannya, ada penurunan kualitas keimanan warga kampungnya sejak tidak lagi diasuh oleh seorang Kiyai, yang kebetulan sudah meninggal. Ketika Sang Kiyai masih hidup dan masih kuat berdakwah, keimanan masyarakat jauh lebih baik. Bagaimana mengukurnya, aku bertanya. Dulu orang kampung lebih taat, begitu jawabnya. Masyarakat langsung mengukur setiap perbuatan dengan berdosa dan berpahala. Kalau mereka bersedekah, berpahala. Lalu orang gemar bersedekah. Kalau berjudi, itu adalah perbuatan dosa. Dan orang saling mengingatkan resiko berbuat dosa tersebut. Resiko yang bisa diterima di dunia dan akan ditambah lagi nanti dengan siksa akhirat. Itu sebagai contoh. Dulu itu, Sang Kiyai tidak ada capek-capeknya mengingatkan umat. Dengan pengajian yang intinya mungkin sangat dasar, tentang dosa dan pahala, tetapi disampaikan dengan tepat. Dan dengan santun. Dulu, kata rekan ini menambahkan, hampir tidak ada kasus kriminalitas di kampungnya. Hampir tidak ada orang berbuat dosa setidaknya secara terang-terangan. Aku bertanya lagi, apa maksudnya berbuat dosa secara terang-terangan. Dia memberi contoh, perjudian, perzinaan, mabuk-mabukan, membungakan uang. Lha, apa sekarang orang melakukannya terang-terangan, aku bertanya lebih lanjut. Dan dia menjawab, iya.

Aku bertanya pula, apakah tidak ada ulama pewaris Kiyai tersebut. Dia jawab, ada. Putera Sang Kiyai sendiri, yang bahkan lebih tinggi sekolahnya. Sang Putera ini tamatan Timur Tengah, yang harusnya tentu lebih luas ilmunya. Lalu, kenapa dong? aku bertanya lagi. Menurut rekan ini, perbedaan mendasar terletak pada semangat pergi berdakwah. Meskipun dia lebih berilmu, tapi dalam hal pergi menyampaikan dakwah dia kalah gesit dibandingkan dengan ayahnya.

Tapi mungkin ada pula pengaruh tatanan kehidupan masyarakat sekarang, aku mencoba berkomentar. Dia bertanya apa yang aku maksud. Lalu aku jelaskan, bahwa masyarakat kita, di mana saja saat ini ikut dipengaruhi kemajuan peradaban. Ada televisi, ada internet, ada hape sampai ke kampung-kampung. Dan kita kan tahu, bahwa dengan semua alat-alat moderen itu sangat mudah membawa pengaruh buruk. Dulu orang kampung tidak kenal dengan narkoba, tidak kenal dengan video porno. Tapi sekarang?

Benar juga, katanya. Tapi dulu bukannya tidak ada tantangan berbuat dosa. Orang sudah kenal juga dengan yang namanya arak, dengan namanya judi. Atau keinginan mengumbar syahwat. Tapi semua ini berhasil diredakan oleh dakwah Sang Kiyai. Harusnya kiyai-kiyai sekarang lebih gigih lagi berdakwah kepada masyarakat. Dakwah bilhal. Dan disertai dengan contoh ketawadhuk-an. Mubaligh yang menyampaikan dakwahnya dengan santun namun tegas ke pokok masalah. Menjelaskan dengan gamblang mana yang boleh mana yang tidak boleh. Di atas segala-galanya mereka berdakwah semata-mata mencari keridhaan Allah. Lillahi ta'ala.

Aku setuju. Kalau dipikir, memang dengan cara berdakwah seperti itulah Islam dibawa ke negeri kita ini dahulu. Dengan dakwah yang menyejukkan serta langsung dengan memberi contoh nyata. Dan masyarakat langsung melihatnya sebagai kebajikan di tengah alam kehidupan. Rahmatan lil'alamiin. Saat ini sepertinya kita kekurangan mubaligh seperti itu sementara tantangan untuk mempertahankan keimanan semakin berat.

Aku mencoba mencerna dan membandingkan apa yang kami diskusikan dengan kondisi di kampungku. Kami juga mempunyai seorang ustadz panutan masyarakat. Beliau juga sudah berpulang kerahmatullah beberapa tahun yang lalu. Aku belum bisa menilai apakah tingkat keimanan masyarakat kampungku menurun sejak kepergian beliau. Wallahu a'lam.

****