Selasa, 22 Maret 2016

Kalaulah Sempat (Dari Dunsanak Ita Djamin Melalui WA KTS)

Kalaulah Sempat (Dari Dunsanak Ita Djamin Melalui WA KTS)

Seorang laki-laki tua duduk di teras rumahnya. Rumah yang besar namun sepi penghuni. Istri sudah meninggal. Tangan menggigil karena lemah, penyakit menggerogoti sejak lama. Duduk tak enak, berjalan tak nyaman. Untunglah seorang kerabat jauh mau tinggal bersama menemani beserta satu orang pembantu.

Tiga anak, semua sukses. Berpendidikan sampai ke luar negeri. Ada yang sekarang berkarir di luar negeri. Ada yang bekerja di perusahaan asing dengan posisi tinggi, dan ada pula yang jadi pengusaha. Soal Ekonomi, angkat dua jempol. Semua kaya raya.

Namun, saat tua seperti Ini dia merasa hampa. Ada pilu mendesak di sudut hatinya. Tidur tak nyaman, dia berjalan. Memaandangi foto-foto masa lalu. Foto laki-laki gagah dengan keluarganya berlatar Great Wall, Eiffel Tower, Big Ben, Sydney Opera House dan berbagai belahan bumi lainnya yang telah dijejaknya. Diabadikan dengan foto dibingkai bagus yang tak mampu lagi dilihat karena pandangannya yang sudah mengabur.

Di rumahnya yang besar dia merasa kesepian. Tiada suara anak, cucu. Hanya detak jam yang berbunyi teratur. Punggungnya terasa sakit, sesekali air liurnya keluar dari mulutnya. Dari sudut mata ada air yang menetes. Rindu dikunjungi anaknya, tapi anaknya sibuk dan tinggal jauh di kota dan negara lain. Ingin pergi ke mesjid namun badan tak mampu. Begitu lama waktu ini bergerak. Tatapannya hampa. Jiwanya kosong, hanya gelisah yang menyeruak ... Sepanjang waktu ....

Laki-laki itu, barangkali adalah saya. Nanti. Barangkali anda yang membaca tulisan ini suatu saat nanti. Hanya menunggu sesuatu yang tak pasti. Yang pasti hanya kematian. Rumah besar tak mampu lagi menyenangkan hati. Anak sukses tak mampu menyejukkan hati. Cucu-cucu yang seperti orang asing. Asset-asset produktif yang terus menghasilkan, entah untuk siapa .... 

Kira-kira jika datang malaikat menjemput, akan seperti apakah kematian ini? Siapa yang akan memandikan kita? Dimana kita akan dikuburkan? Sempatkah anak kesayangan dan menjadi kebanggaan datang menyelenggarakan mayat dan menguburkan kita? Apa amal yang akan dibawa ke akhirat nanti? Rumah akan ditinggal, asset juga akan ditinggal. Anak-anak entah apakah akan ingat untuk berdoa untuk kita atau tidak. Sedang shalat mereka sendiri saja belum tentu berisi. Apa lagi jika dulu anak tak sempat dididik sesuai tuntunan Yang Maha Kuasa. Ilmu agama hanya sebagai sisipan saja.

Kalaulah dahulu sempat menyumbang yang cukup berarti di mesjid, Rumah Yatim, Panti Asuhan. Kalaulah sempat dahulu membeli sayur dan melebihkan uang pada nenek tua yang selalu datang. Kalaulah dahulu sempat memberikan sandal untuk disumbangkan di mesjid biar dipakai orang yang memerlukan. Kalaulah sempat membelikan buah buat tetangga, kenalan, kerabat dan handai taulan. Kalaulah kita tidak kikir kepada sesama. Mungkin itu semua akan menjadi amal penolong kita. Kalaulah dahulu anak disiapkan menjadi Muslim yang shaleh. Ilmu agama dan ilmu Al-Quran nya lebih diutamakan. Ibadah shalat dan sedekahnya kita tuntun dan ajarkan. Maka mungkin mereka senantiasa akan terbangun malam, meneteskan air mata medoakan kita orang tuanya.

Kalaulah sempat membagi ilmu dengan ikhlas pada orang sehingga bermanfaat bagi sesama ....

Kalaulah sempat ...
 
Mengapa kalau sempat? Mengapa itu semua tidak jadi perhatian utama kita? Sungguh kita tidak adil pada diri sendiri. Kenapa kita tidak lebih serius menyiapkan bekal untuk menghadap-Nya?

Semoga tulisan kecil Ini menjadi nasihat bagi diri saya, bagi kita semua. Berseriuslah menyiapkan diri menghadapi kematian, dan kehidupan akhirat yang kekal.

****

Minggu, 20 Maret 2016

Bagaimana Tentang Jodoh?

Bagaimana Tentang Jodoh?    

Seorang kemenakan bertanya tentang jodoh. Siapa yang menentukan jodoh? Apakah setiap manusia sudah tentu dan jelas jodohnya sehingga dia tidak perlu berikhtiar apa-apa lagi? Begitu pertanyaannya bertubi-tubi. Aku paham maksud pertanyaannya, karena dia agak kecewa dengan jodohnya sendiri. Banyak orang mengatakan dengan nada pasrah, apa boleh buat, memang sudah seperti itu takdirnya. Dia sudah ditakdirkan menjadi pasangan si Fulan yang ternyata kemudian membawa banyak masalah dalam kehidupannya.  

Aku mencoba menjelaskan. Jodoh itu adalah pilihan sebelum dia ditetapkan. Setiap orang boleh memilih siapa yang akan dijadikannya pasangan hidupnya. Banyak sekali pilihan kalau dia mau memilih. Begitu dia menetapkan pilihannya dan menerima berjodoh dengan seseorang barulah hal itu menjadi ketetapan Allah. Menjadi takdir baginya. Sama juga dengan ketika orang hendak makan. Dia boleh memilih apa yang akan dia makan. Mau makan di restoran Minang, atau di restoran seafood. Atau mau makan di warung Tegal. Atau di kedai sate kambing. Setiap orang bebas memilih. Tetapi begitu dia menetapkan pilihannya, akan berlakulah ketetapan atau takdir. Ternyata siang itu dia ditakdirkan makan sate kambing.

Dalam memilih jodoh, setiap orang dianjurkan melakukan pendekatan. Melakukan taaruf. Mencari tahu tentang pribadi orang yang akan jadi jodoh. Taaruf atau pendekatan bukan berarti berpacaran. Taaruf dilakukan dengan sangat menjaga batas-batas kesucian. Tidak membiarkan hawa nafsu ikut campur karena akan sangat berbahaya. Belum tentu setiap usaha pendekatan akan berujung pada kecocokan. Mungkin setelah mengenal pribadinya orang yang tadinya tertarik berubah pikiran. Dia merasa orang tersebut tidak cocok karena alasan-alasan tertentu 

Si kemenakan bertanya lagi, bagaimana dengan mereka yang berjodoh dengan orang yang berbeda agama. Seorang laki-laki Muslim menikah dengan wanita bukan Muslim atau sebaliknya. Apakah itu karena memang sudah jodoh mereka? Jawabannya sama saja. Setelah masing-masing setuju mengikat diri mereka dalam perjodohan maka berlakulah takdir Allah atas mereka. Tapi sebelumnya, keputusan ada pada diri mereka masing-masing. Mereka bebas menentukan pilihan.  Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda; Seorang wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya, maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung.(Hadits riwayat Bukhari dan Muslim). 

Dari hadits ini sangat jelas. Banyak pilihan untuk menentukan jodoh. Ada yang kaya, yang bangsawan, yang cantik dan yang beriman. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan memilih berdasarkan keimanannya. Bahkan di antara pilihan itu mungkin ada yang memiliki keempat-empatnya sekaligus. Artinya, sekali lagi setiap orang berhak dan bebas memilih sebelum menetapkan siapa yang akan dijadikannya jodoh. 

****          

Kamis, 17 Maret 2016

Jasad Sahabat Nabi Muhammad Ditemui Masih Berdarah (Dari Palingkeren.com)

Jasad Sahabat Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam Ditemui Masih Berdarah Walau Sudah Lebih 1400 Tahun

SUBHANALLAH! Jasad Sahabat Nabi Muhammad Di Temui masih Berdarah Walau Sudah Lebih 1400 Tahun

Palingkeren.com – Oktober 2013 sewaktu terjadi banjir di Madinah, makam 70 orang keluarga Perang Uhud ikut dilanda banjir. Setelah banjir surut, jenasah para sahabat-pun akhirnya terlihat keluar dalam keadaan masih utuh karena mereka dikuburkan di kawasan padang pasir, darahnya masih mengalir harum.

Jenasah para sahabat dimakamkan kembali seperti semula tapi tidak lagi diberi nama-nama jenasah tersebut  kecuali jenasah Hamzah ra karena diketahui dari luka didadanya, badannya tinggi besar. Jenasahnya masih berdarah dan harum. Bahkan tangannya masih memegang lukanya akibat terkena tombak, yang masih keluar darah. Walaupun sudah beberapa ribu tahun.

Dan yang satu lagi adalah Abdullah bin Jaz ra karena diketahui dari telinga dan hidungnya yang terpotong akibat diikat benang. Kedua orang inilah yang sekarang nisannya ada di Uhud. Jadi kalau sekarang kita berziarah ke Gunung Uhud, hanya ada 2 nisan saja.

Berikut adalah sebagian isi dari kaset pembicaraan Dr Thariq As-Suwaidan tentang peristiwa tersebut. “Syaikh Mahmud Ash-Shawaf telah menyampaikan kepada kami bahwa dia adalah salah seorang yang diundang dari kalangan ulama besar untuk pemakaman semula para sahabat yang gugur syahid di perang Uhud di kompleks makam syuhada Uhud yaitu sebuah kawasan pemakaman yang terkenal.

Sebuah “Kesaksian” Dr Thariq As-Suwaidan dalam kasetnya yang amat berharga “Qisshatun Nihayah” yang dinukil secara langsung dari Syaikh Mahmud Ash-Shawaf menyebutkan peristiwa besar yang dialami oleh sebagian ulama saat penguburan kembali jenasah sahabat yang gugur syahid di perang Uhud. Setelah 1400 tahun jenasah para sahabat tetap utuh, ini sebagai bukti nyata atas berita gembira tentang para syuhada.

Para ulama memang diundang saat pemakaman kembali jenasah para sahabat itu ”Di antara orang yang aku kuburkan adalah Hamzah RA, badannya besar, kedua telinga dan hidungnya terpotong, perutnya terbelah, dia meletakkan tangannya di atas perutnya.
Ketika kami menggerakkannya dan mengangkat tangannya, darahnya mengalir. Aku menguburkannya bersama sahabat-sahabat lainnya yang gugur syahid di Uhud.” Dr Thariq As-suwaidan berkata, ”Ini adalah perkara yang terbukti secara mutawatir dan dengan mata kepala. Semoga Alloh SWT menyampaikan kita semua ke derajat para syuhada.

Syaikh Mahmud telah menyampaikan kepada kami tentang aroma harum misk yang berasal darinya ketika darah mengalir dari jasad Hamzah RA.” Subhanallah, setelah 1400 tahun lebih, betapa agungnya Engkau ya Alloh. Alangkah besarnya kekuasaan-Mu, Maha suci Engkau.

Betapa utamanya, betapa mulianya, Alloh memberikannya kepada para syuhada. Jika seperti itu kemuliaan jasadnya yang terpendam di perut bumi yang tak seorangpun melihatnya, lalu bagaimanakah dengan kemuliannya di surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Selamat bagi yang telah melihat sahabat mulia ini, Hamzah bin Abdul Mutthalib ra. 

Jasad Syuhada Yang Tidak Mengalami Pembusukkan

Jabir bin Abdillah bercerita, ”Menjelang perang Uhud, ayahku memanggilku pada malam hari. Ia berkata: ’Aku merasa akan menjadi orang yang paling pertama gugur di antara para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sungguh aku tidak meninggalkan sesuatupun yang lebih kusayangi selain engkau, disamping Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sesungguhnya aku memiliki hutang, maka lunasilah. Dan bersikap baiklah kepada saudara-saudara perempuanmu.’ Keesokan harinya, ia pun menjadi orang yang pertama gugur. Ia dimakamkan bersama orang yang lain dalam satu lubang kubur. Tetapi hatiku merasa kurang nyaman membiarkan ayahku satu lubang kubur bersama orang lain. Enam bulan kemudian, aku membongkar makamnya dan mengeluarkannya, jasadnya masih tetap utuh sama seperti pertama kali aku menguburkannya.” (Hadits Riwayat Bukhari, Fathul Bari, 3/214 )

Petikan hadits di atas membuktikan di mana ayah Jabir ra terbunuh dalam perang Uhud dan ketika enam bulan kemudian makamnya dibongkar, maka jasadnya tetap utuh. Enam bulan adalah waktu yang lama di mana tubuh mayat seharusnya sudah hancur.

Penelitian membuktikan bahwa 24-36 jam pertama mayat dikuburkan, maka bola mata mulai menonjol dan kornea menghitam. Cabang-cabang urat nadi mulai terlihat di perut dan dada. 2-5 hari berikutnya, wajah dan seluruh tubuh menggelembung, dari tubuh mayat keluar bau busuk. Setelah melewati 5-10 hari, kulit mulai rapuh dan tubuh ditutupi larva.

Organ-organ tubuh meleleh ke tanah dan mulai menyisakan tulang saja. (dinukil dari buku Ushuluth Thibbisy Syar’i, Dr. Muhammad Ahmad Sulaiman).

CATATAN –

Dalam buku sejarah bencana banjir pertama kali terjadi pada tahun 46 Hijrah atau 667 Masehi atau 43 tahun setelah Perang Uhud yang ceritanya mirip, yaitu jasad jasad mereka mengapung.

****

Senin, 14 Maret 2016

Menghitung Rekan Yang Sudah Tiada

Menghitung Rekan Yang Sudah Tiada       

Berawal dari kebiasaan teman-teman yang saling bertanya tentang rekan-rekan sekerja dulu, dan menyadari bahwa ada di antaranya yang sudah meninggal, seorang teman di tempat aku bekerja dulu menghitung dan membuat daftar nama mereka yang sudah meninggal dunia. Daftar tersebut dihitung melibatkan teman-teman sekerja sejak sekitar empat puluh tahun yang lalu. Sejak kita semuanya masih muda-muda. Dengan rentang usia sekitar enam puluh sampai delapan puluh tahun bagi yang masih hidup sekarang. Ternyata jumlahnya sangat banyak. Lebih dari dua ratusan orang dari jumlah populasi sekitar 1500 orang. 

Ada sekian banyak orang yang pernah sama-sama bekerja di lingkungan kantor yang sama tigapuluhan tahun yang lalu, sekarang sudah tidak ada lagi. Meninggal dengan bermacam penyakit sebelumnya. Yang terbanyak menurut catatan tersebut dikarenakan stroke. Satu persatu mereka pergi, memenuhi janji yang sudah ditetapkan Allah Ta'ala.

Aku juga pernah menghitung jumlah mereka yang sudah almarhum di komplek tempat tinggal kami, sejak aku ikut jadi penghuni komplek 23 tahun yang lalu. Sudah sekitar lima puluhan orang penghuni duaratusan buah rumah. Banyak di antara mereka adalah jamaah mesjid komplek. Ya, mereka sudah berangkat satu demi satu. Juga dengan bermacam cara dan penyakit sebelum maut menjemput. 

Kitapun dapat mengamati lingkungan yang mana saja di sekitar kita. Mungkin dari karib kerabat terdekat. Orang sekampung. Yang kalau kita amati selama jangka waktu tertentu, sepuluh dua puluh tahun, niscaya akan kita lihat mereka-mereka yang sudah kembali ke hadirat Allah.

Apapun penyakit yang mendahului kematian, yang pasti bahwa kematian tersebut adalah sesuatu yang nyata. Kullu nafsin tzaaiqatul maut. Setiap yang bernyawa pasti akan mati, demikian Allah memperingatkan kita. Tapi adakah kita merenung sedikit bahwa giliran kita juga akan segera sampai? Ini yang agak aneh sebenarnya. Setiap kali kita ikut menyelenggarakan fardhu kifayah, mengurus jenazah saudara atau tetangga kita, sejak dari memandikan, mengafani, menyalatkan dan mengantarkan ke kuburan. Tidakkah kita membayangkan bahwa suatu hari giliran kita akan sampai, dan kitalah yang difardhu-kifayahkan.

Ada seorang rekan senior yang mengatakan bahwa seratus tahun yang lalu kita tidak ada dan seratus tahun ke depan kita akan kembali tidak ada. Memang demikian adanya. Seratus tahun yang lalu hampir semua 7.5 milyar manusia penghuni bumi sekarang ini belum ada. Lalu seratus tahun yang akan datang kesemuanya akan kembali tidak ada. Dan inipun diingatkan Allah dalam firmannya; 'Kenapa kamu kafir kepada Allah padahal kamu sebelumnya tidak ada, lalu kamu dihidupkan, lalu kamu dimatikan, lalu kamu dihidupkan kembali dan kepada-Nya kamu akan kembali.'  (Al Baqarah ayat 28). 

Urusan paling besar adalah ketika kita nanti kembali kepada Allah untuk dihisab. Diperhitungkan segala amal perbuatan kita selama kita hidup di dunia ini. Hendaknya kita memperhitungkan pula, apa yang sudah kita peroleh selama keberadaan kita dalam kehidupan ini. Dan apa yang akan kita dapatkan setelah kita nanti kembali kepada Allah ketika Dia meminta pertanggungan-jawaban atas segala perbuatan kita. 

****                                          

Rabu, 09 Maret 2016

Shalat Gerhana Matahari

Shalat Gerhana Matahari  

Pagi ini ada gerhana matahari. Gerhana matahari total untuk sebagian tempat di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku bagian utara. Dan gerhana matahari sebagian di Jawa. Dengan pengetahuan ahli astronomi, kejadian gerhana ini dapat diperkirakan waktu terjadi dan lamanya. Orang ramai membicarakan akan datangnya gerhana sejak beberapa hari sebelumnya. Khusus untuk gerhana matahari total ini sangat menarik bagi sementara orang untuk menyaksikan di tempat kejadian. Menurut informasi banyak juga pendatang asing berdatangan ke Indonesia kali ini.

Gerhana matahari atau gerhana bulan adalah fenomena alam, ketika dengan kekuasaan Allah matahari, bumi dan bulan terletak dalam satu garis lurus. Ketika bulan berada di antara matahari dan bumi, dan bulan sendiri secara perlahan-lahan menutupi matahari, maka pada saat itulah terjadi gerhana matahari. Disebut gerhana matahari total ketika bulatan matahari seutuhnya tertutup oleh bulan. Pada saat itu bumipun jadi gelap. Puncak gerhana matahari total itu bisa berlangsung beberapa menit dan hari tiba-tiba berubah seperti malam. Sedangkan gerhana bulan terjadi di saat matahari, bumi dan bulan berada pada satu garis. Bulan yang terlihat bercahaya, tiba-tiba menjadi redup karena ditutupi oleh bayang-bayang bumi.

Fenomena gerhana adalah salah satu bukti keMaha Perkasaan Allah. Allah yang mengatur benda-benda langit ini untuk berotasi dan bergeser dari posisinya dengan sebuah keteraturan yang luar biasa. Allah mengingatkan kita pada surat Yasin ayat 38 dan 40: 'Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (ayat 38). Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya (ayat 40).'

Islam mengajarkan agar kita menyadari kekuasaan Sang Maha Pengatur dengan peristiwa alam ini. Kita diajarkan oleh Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam untuk segera mengingat Allah ketika mengalami peristiwa gerhana. Melakukan shalat sunat gerhana, selama berlangsungnya peristiwa itu. Dalam sebuah shalat yang khusus pelaksanaannya dan panjang waktunya.

Aku menjalankan shalat sunat gerhana pertama kalinya ketika terjadi gerhana matahari total tahun 1983 di Balikpapan. Di mesjid pesantren Hidayatullah di Karang Bugis. Imamnya membaca surah al Baqarah seutuhnya kala itu dalam shalat yang lamanya lebih dari dua jam, selama berlangsungnya gerhana.

Kami berusaha melaksanakan shalat sunat gerhana setiap kali terjadi kejadian alam itu di mesjid komplek perumahan kami di Jatibening. Jamaah yang ikut shalat gerhana meningkat setiap kali. Dan puncaknya adalah tadi pagi karena pengurus mesjid mengumumkan rencana shalat gerhana kali ini dengan lebih intensif. Tadi pagi sekitar 150 orang hadir di mesjid kami (100 orang jamaah laki-laki dan 50 orang jamaah perempuan). Sepertinya kesadaran umat Islam untuk melaksanakan shalat gerhana di banyak mesjid lain juga meningkat. Mudah-mudahan Allah meridhai setiap amal kita. Aamiin.

****                               

Senin, 29 Februari 2016

Sabar Dalam Menerima Musibah

Sabar Dalam Menerima Musibah 

Ini adalah sebuah cerita....   

Seseorang bercerita mengadukan penderitaan yang dialaminya. Mencurahkan isi hatinya atau curhat istilah orang sekarang. Dia kecewa berat karena berkali-kali dizhalimi suaminya, bahkan akhirnya diceraikan dan diusir dari rumah. Dia berulang-ulang mengatakan betapa menyesalnya dia mau dinikahi laki-laki itu beberapa belas tahun yang lalu. Derita seperti itu memang sangat mengenaskan. Tapi apa daya? Apa yang harus diperbuat?

Aku mengingatkannya untuk bersabar dan bertawakkal kepada Allah. Apa yang sudah terjadi itu adalah ketetapan Allah. Itulah yang disebut takdir. Yang merupakan salah satu rukun iman kita sebagai seorang Muslim. Tidak baik menyesali takdir ketika dia sudah terjadi. Penyesalan yang tidak akan ada gunanya. Dia menyesal mau dinikahi oleh laki-laki itu, padahal selama belasan tahun itulah kenyataan dalam hidupnya. Menjadi istri laki-laki tersebut. Mungkin selama mereka hidup berumah tangga banyak pula pengalaman buruk yang dialaminya. Tapi sekali lagi itulah takdir. Kita boleh berusaha, dalam menetapkan pilihan kita sebelum seseorang menjadi pasangan hidup, tapi setelah pilihan itu dijatuhkan, maka itu menjadi ketetapan Allah yang harus diterima.  

Perceraian memang adakalanya tidak dapat dihindari. Karena setelah bergaul beberapa lama jadi kelihatan watak asli dari masing-masing. Ketika perbedaan-perbedaan itu muncul dan tidak disikapi dengan kesabaran dan kebijakan memang sangat mudah meledakkan emosi. Menimbulkan pertengkaran. Yang pada gilirannya berakhir dengan saling tidak suka, bahkan jadi saling benci. Dan terbukalah pintu perceraian.

Tapi sangat tidak bijak mengatakan,  aku menyesal. Coba dulu aku tidak menerima lamarannya. Apakah waktu menerima lamarannya dulu itu tidak ada pertimbangan sebelum menyatakan bersedia jadi istrinya? Lalu, siapa yang bisa menjamin bahwa kalau bukan dengan dia tidak akan terjadi masalah? Tidak akan timbul kekecewaan? Bahkan mungkin saja terjadi hal yang lebih buruk.

Jadi bagaimana harus bersikap? Ya, bersabar. Memohon kepada Allah agar diberi kekuatan. Diberi kesabaran. Sambil merenung apa kesalahan kita sehingga terjadi ujian seperti ini. Tidak mungkin kita tidak punya andil sehingga musibah ini terjadi. Tidak ada salahnya memohon kepada Allah. Kiranya Allah mengganti dengan pasangan yang lebih baik. Yang lebih serasi.  

****                        

Jumat, 26 Februari 2016

WhatsApp

WhatsApp      

Kita menjadi saksi kemajuan alat komunikasi yang cukup pesat. Dalam waktu beberapa tahun belakangan, telah kita lalui masa-masa bercengkerama menggunakan email, dengan Yahoo Messenger melalui computer di rumah atau di tempat bekerja. Dengan hape mula-mula kita bisa saling berbagi pesan singkat (sms) yang dapat kita lakukan di manapun kita berada. Kemudian datang BlackBerry memperkenalkan BBM alias blackberry messenger. Setiap pengguna BlackBerry dapat saling bertukar informasi dan bahkan saling mengirim gambar atau video. Kehebatan BBM adalah orang dapat membuat perkumpulan atau grup untuk saling berbagi informasi, namun hanya terbatas untuk sesama pengguna hape BlackBerry. Lalu datang pula Whatsapp yang lebih luas penggunaannya karena tidak tergantung dengan satu merek perangkat hape saja. 

Dengan menggunakan Whatsapp kita bisa membuat grup yang anggotanya bisa sampai ratusan orang. Semua anggota bisa terlibat dalam berbagi informasi secara langsung. Dan grup-grup ini tiba-tiba bermunculan dengan sangat subur. Cukup satu orang yang mengawali pembentukannya, mengundang nomor-nomor hape kawan-kawan untuk bergabung. Ada grup sesama saudara. Ada grup teman sekantor, teman sekampung, alumni sekolah, anggota arisan (ibu-ibu), jamaah mesjid, teman sesama hobi dan grup-grup lain. Kita lalu mempunyai kumpulan beberapa grup di satu hape. Masing-masing anggota dari tiap grup itu seolah-olah berpacu-pacu mengirim berita, gambar, video. Umumnya yang dibagikan adalah berita yang dicomot dari sana sini atau istilahnya dicopy-paste, sehingga tidak jarang gambar atau video yang sama kita terima beberapa kali dari beberapa grup yang berbeda.  

Budaya copy-paste ini menjadikan banyak orang tiba-tiba jadi (seperti) ustadz, yang rajin mengirimkan mutiara hadits, tafsir ayat-ayat al Quran, nasihat-nasihat bijak. Ini tentu sesuatu yang sangat baik. Dan akan jauh lebih baik lagi ketika yang mengirimkan postingan seperti ini telah lebih dahulu memahami dan mengamalkan isi kajiannya. 

Tapi sebaliknya ada pula yang rajin berbagi gambar atau video yang tidak pantas. Bahkan ada yang mencampur-baurkan kedua jenis postingan seperti di atas. Postingan (kiriman) pertamanya tentang pengajian dan nasihat kebajikan tapi kemudian disusul dengan kiriman gambar lucah. 

Yang tidak kalah serunya adalah saling bergurau melalui Whatsapp. Saling ledek-ledekan, saling berbagi cerita lucu, saling bernostalgia. Semua tentu sah-sah saja.  Adakalanya kita dimasukkan ke dalam grup yang ternyata kemudian tidak cocok bagi kita. Dalam hal seperti ini kita bisa keluar dari grup tersebut dengan mudah.

Ternyata kebiasaan berwhatsapp-ria ini bisa jadi candu. Ada orang yang sangat aktif dalam berkomunikasi dengan grupnya sehingga waktunya benar-benar tersita untuk mengirim dan membalas postingan, sejak dari subuh sampai hampir tengah malam. Sesuatu yang berlebih-lebihan tentu tidak baik. Seyogianya kita gunakan fasilitas kemajuan teknologi ini dengan tepat dan seperlunya.

****