Jumat, 24 April 2015

Perjalanan Menengok Cucu

Perjalanan Menengok Cucu 

Perjalanan ini sudah direncanakan sejak beberapa bulan yang lalu. Waktunya dipilih setelah berlalunya musim dingin di Eropah. Tiket pesawat dicari melalui internet. Pilihan akhirnya jatuh ke Vietnam Airlines dengan biaya Rp 21 juta untuk dua orang dalam perjalanan Jakarta - Ho Chi Min City - Paris pulang pergi. Biaya yang lumayan murah, meski pernah ada tawaran yang lebih murah tapi luput dari pemesanan. 

Sempat juga dipelajari reputasi Vietnam Airlines ini melalui Google. Ternyata cukup meyakinkan dan tidak perlu dikhawatirkan. Penerbangan ini membawa penumpangnya ke banyak tempat di Eropah, Amerika dan Australia. Mungkin lebih lincah dari Garuda. Sebelum hari keberangkatan, sudah dipesan melalui Biro perjalanan untuk mendapatkan makanan halal selama penerbangan. Hal ini hanya bisa dilakukan melalui biro tersebut karena kantor Vietnam Airlines di Jakarta tidak bisa dihubungi. Masih agak khawatir juga bahwa permintaan ini tidak akan dipenuhi. Seandainya tidak disediakan, apa boleh buat, kita akan menghindari sajian daging apa saja kecuali ikan. Bila perlu kita akan makan nasi atau roti saja.

Hari keberangkatan itupun datang. Hari Kamis tanggal 23 April. Kami diantar si Bungsu dan si Sulung plus cucu paling kecil anak si Sulung. Berangkat jam 9 pagi dari rumah. Jalan yang dikhawatirkan akan macet karena pertemuan Asia Afrika, ternyata sangat lancar. Kurang jam sebelas kami sudah sampai di Bandara Soeta. Langsung masuk untuk check in. Proses check in lancar. Bagasi kami seberat 61 kg, sebagian besar pesanan si Tengah berupa bahan makanan terdiri dari 4 potong (tiga koper plus satu kotak berisi kado mainan untuk cucu) tidak ada masalah. Kami berpisah dengan si Sulung, si Bungsu dan Adek (yang terbingung-bingung) dan langsung menuju pemeriksaan imigrasi.

Pesawat Vietnam Airlines tujuan Ho Chi Min City itu berangkat tepat waktu. Sempat agak antri untuk take off dibelakang beberapa pesawat Garuda. Setelah mengudara, seorang pramugari datang menghampiriku dan menanyakan apakah aku memesan halal food. Dia rupanya melakukan pengecekan untuk konfirmasi. Ternyata kami yang pertama mendapatkan suguhan makanan dengan label Moslem Food. Alhamdulillah. 

Di pesawat ini banyak ibu-ibu Indonesia berjilbab. Penumpang pesawat Airbus A321 ini kebanyakan memang orang Indonesia. 

Jam setengah lima sore kami mendarat di Bandara kota Ho Chi Min City. Kami akan menunggu sampai jam setengah sebelas malam untuk lanjut dengan penerbangan menuju Paris. Tadinya terpikir untuk sedikit melancong di kota ini. Kami bertanya di kaunter informasi bandara, sambil memberi tahu bahwa kami punya sekitar 5 jam sebelum melanjutkan penerbangan, apakah memungkinkan untuk pergi keluar. Petugas itu menyarankan agar menanyakan ke petugas imigrasi. Sepertinya dia tidak merekomendasikan rencana tersebut. Akupun jadi ragu pula untuk keluar. Dia memberi kami dua lembar kupon untuk makan malam gratis di restoran di tingkat tiga bangunan bandara, karena waktu tunggu yang lama itu. 

Akhirnya kami duduk saja menunggu di bandara tersebut. Kami shalat maghrib dan isya di dekat pintu tangga darurat. Sayang wifi di bandara itu tidak berfungsi dengan baik. Kami tidak bisa berkomunikasi dengan anak-anak.

Jam sembilan kami masuk ke ruangan tunggu. Berangsur-angsur calon penumpang bertambah banyak. Sebagian besar orang-orang berbahasa Perancis. Banyak di antara turis Perancis itu membawa topi 'caping gunung' dari anyaman bambu. Topi yang dulu dipakai tentara Vietcong ketika berperang melawan Amerika.

Pesawat tujuan Paris inipun berangkat tepat waktu. Kali ini jenis Boeing 777. Di kelas ekonomi ini ada 9 tempat duduk dalam satu baris yang terdiri dari masing-masing 3 bangku. Kami ditempatkan pada bangku terpisah (dipisahkan gang). Di sebelah sana ada sepasang suami istri orang Perancis, dan di sebelah sini juga sepasang suami istri orang Vietnam. Jadi tidak mungkin kami minta bertukar tempat.

Seperti tadi dari Jakarta, kali ini seorang pramugara juga datang melakukan pengecekan pesanan makanan halal. Dan seperti tadi juga, kami yang paling awal mendapat sajian makan malam. Hal ini perlu diacungi jempol. 

Setelah makan malam aku berusaha tidur. Jam empat aku dibangunkan istri karena alarm hapeku berbunyi. Saat itu masih jauh sebelum waktu subuh. Setelah  mematikan alarm aku kembali tidur. Jam delapan waktu Jakarta, aku terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Padahal masih malam, mungkin masih jam empat waktu di posisi itu. Kami shalat subuh jam 9 waktu Jakarta. 

Masih ada acara makan lagi setelah itu. Pesawat itu mendarat jam 6.40 di bandara Charles de Gaulle Paris. Ketepatan waktu yang sangat lumayan, karena jadwal kedatangan harusnya jam 6.30. 

Setelah melalui imigrasi dan mengambil bagasi, kami keluar menuju stasiun kereta api SNCF. Kami akan naik kereta TGV menuju Toulouse via Bordeaux.

*****

Rabu, 22 April 2015

Allah Akan Menguji Kesungguhan Dan Komitmen Kita (Dari Dakwatuna.com)

Allah Akan Menguji Kesungguhan dan Komitmen Kita

Oleh: Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I - 27/03/15 | 18:48 | 08 Jumada al-Thanni 1436 H



dakwatuna.com - Tiap peristiwa dalam jenak kehidupan ini sesungguhnya tidak pernah sepi dari hikmah dan pelajaran yang ingin Allah berikan kepada kita. Apa yang sudah yakini, kita ucapkan dan kita dakwahkan, akan dilihat Allah sejauh mana komitmen dan kesunggguhan kita dalam mengamalkannya. Kita akan diuji kesabarannya, sehingga Allah melihat siapa diantara hamba-hambanya yang bersungguh sungguh dan bersabar.

Tengoklah kembali firman Allah swt di suarat Al-Ankabut ayat 2 “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya mengatakan kami telah beriman (dalam makna yang luas, meyakini suatu prinsip, nilai, pelajaran dan arahan dari Allah dan Rasulnya) dan mereka tidak di uji?“

Ketika hari ini kau telah mengajarkan besarnya nilai ketaatan istri kepada suami, sebagai seorang istri dalam waktu dekat engkau akan bertemu dengan kesempatan dimana engkau diminta melakukan sesuatu untuk mentaati suamimu, mungkin dalam hal yang terasa berat untuk melaksanakannya, karena begitu padatnya hari harimu dengan aktivitas lain.

Ketika hari ini kau telah mengajak orang lain untuk memiliki sikap dermawan dan gemar memberi , bersedekah, berinfaq, boleh jadi dalam selang waktu yang tidak berbilang, tiba tiba kau didatangi tetangga yang ingin meminjam uang keperluan yang mendesak.

Ketika dalam ceramahmu tadi telah mengajak jamaah untuk mendisiplinkan diri dengan shalat tepat waktu dan berjamaah, tanpa di rekayasa dan direncanakan olehmu, mungkin saat adzan berkumandang, tiba-tiba datang telpon, sms, atau wa yang berisi pesanan bisnis yang harus segera direspon.

Saat tetanggamu meminta nasehat agar bisa bersabar dalam mendidik anak, dan dengan lancar dari lisanmu meluncur nasehat nasehat bijak dan kiat bagaimana bersabar menghadapi berbagai tingkah anak, sangat mungkin sepulang sekolah anak kita tiba tiba membuat ulah yang membangkitkan emosi kita.

Saat dalam status Fb mu telah mengajak untuk menjadi pribadi yang gemar tersenyum pada saudara dan tidak suka cemberut, akan sangat mungkin dalam beberapa jam ke depan akan bertemu dengan seseorang yang selama ini telah membuat kita kesel hati.

Saat di depan murid-muridmu engkau telah mengajak mereka untuk selalu berbuat baik kepada orang tua/birrul waalidain. Tak disangka tiba tibamu orang tua menelpon minta dianter ke dokter, padahal saat itu mungkin engkau sedang terburu-buru mengejar satu jadwal kajian.

Dan seterusnya dan seterusnya, banyak moment dan kejadian yang Allah hadirkan untuk kita bisa membuktikan kesungguhan dan komitmen terhadap suatu kebaikan. Ibaratnya, sebelum orang lain merasakan “beratnya” kebaikan, Allah ingin agar engkau merasakan dahulu pengalaman itu. Sampai kebaikan kebaikan itu bisa menjadi akhlakmu yang kokoh. Maka jika engkau lulus, bukan berarti juga pelajaran pelajaran lain tidak akan berdatangan kembali, ia akan terus hadir mengisi kehidupanmu, hingga kehidupan ini telah berpindah ke bumi (kuburan).

Suatu kali, seorang ulama diminta berkhutbah membahas tentang keutamaan membebaskan budak. Permintaan pertama kedua, dan berikutnya tidak mau dipenuhi oleh ulama tersebut, sampai pada suatu saat ulama tersebut baru meng iya kan untuk berkhutbah dengan tema membebaskan budak. Ketika ditanya alasannya , kenapa baru kali beliau meng-iya-kan dan tidak dari kemarin kemarin, ulama tersebut menjawab bahwa “saya belum pernah membebaskan budak, maka saya tanya untuk berbicara tentang keutamaan membebaskan budak. Hingga saya berpikir untuk bisa menabung agar bisa membebaskan budak. Dan saat ini saya telah berhasil membebaskan seorang budak, maka saya berani untuk menyampaikan tema tersebut.

Secara fitrah, memang kita akan merasa berat, bahkan boleh jadi lidah menjadi kelu, saat harus menyampaikan tentang sesuatu yang kita sendiri belum mengamalkannya. Ada beban psykologis yang menggelayut. Memang ada tema yang harus kita sampaikan meski kita belum pernah merasakan dan mengamalkannya, yakni tema tentang “kematian”. Dengan ujian-ujian tersebut di atas, sesungguhnya Allah menginginkan agar kita banyak latihan, sehingga nilai suatu konsep yang kita dakwahkan, benar benar telah menginternal di dalam diri ini. Makin banyak latihan, makin mengokohkan dan menghunjamkan konsep kebaikan di dalam diri. Maka bersyukurlah seseoang yang senantiasa mengajak orang lain untuk mengajak kebaikan, karena itu berarti akan banyak latihan yang Allah berikan kepadanya, sehingga makin mahir mengoperasikan diri untuk hidup dalam kebaikan. Wallahu a’lam.

****

Minggu, 19 April 2015

Macam-macam Sabar

Macam-macam Sabar (Pengajian Kami Pagi Ini Di Mesjid Al Husna)

Pernah kita mendengar orang mengatakan; 'Sudah hilang kesabaranku,' atau  'Sabar itu ada batasnya,' atau 'Tidak bisa aku terus-terusan bersabar,' dan sebagainya. Benarkah demikian? Padahal sabar adalah suatu sifat yang sangat terpuji di sisi Allah. Berbahagialah orang yang mampu mengendalikan dirinya agar bisa tetap bersabar. Dan Allah mengingatkan, 'Beri kabar gembiralah orang-orang yang sabar! Yaitu orang-orang yang jika mereka ditimpa musibah, mereka berkata, 'Kami datang dari Allah dan kepada-Nya kami akan kembali.' (Al Baqarah, ujung akhir ayat 155 dan ayat 156). 

Artinya Allah nanti akan membalas kesabaran itu dengan pahala dan keridhaannya baik di dunia maupun di akhirat kelak. Ali bin Abi Thalib berkata, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Ada tiga macam sabar: sabar ketika menderita, sabar dalam ketaatan, dan sabar untuk tidak berbuat maksiat.'

Hal ini yang kami dengar uraiannya ba'da shalat subuh pagi ini.

Sabar ketika mendapat musibah adalah yang paling rendah nilainya di antara ketiga jenis kesabaran. Hal ini jadi wajar karena memang bersabarlah tindakan yang paling baik ketika kita mendapat ujian berupa musibah. Entah itu ditinggal mati orang yang kita cintai, atau kehilangan milik yang berharga, atau kerusakan pada harta benda. Karena kalau kita tidak sabar pun musibah yang sudah terjadi itu tidak mungkin kita hindarkan lagi. Tidak mungkin kita jadikan dia seperti sebelum tertimpa musibah. 

Ada pula ujian kesabaran dengan musibah berupa hilangnya atau dirongrongnya kewibawaan seseorang. Misalnya istri yang suka melawan, anak yang suka mendurhaka, tetangga yang suka memfitnah, lingkungan yang tidak bersahabat. Dalam hal seperti ini disamping kesabaran menahan perasaan juga diperlukan usaha dan kesabaran untuk mendakwahi atau sekurang-kurangnya mengingatkan mereka yang merongrong kewibawaan tersebut secara santun.  

Sabar yang kedua adalah sabar dalam ketaatan terhadap perintah-perintah Allah. Ketika Allah perintahkan untuk beribadah kepada-Nya kita patuh dan taat, dan istiqamah dalam kepatuhan itu. Sabar dalam keistiqamahan ini yang mempunyai nilai lebih tinggi. Sabar untuk senantiasa mendatangi panggilan azan. Sabar dalam menghitung dan mengeluarkan sendiri zakat setiap jatuh temponya. Sabar dalam mengerjakan ibadah di bulan Ramadhan. Sabar untuk memenuhi panggilan Allah untuk menunaikan haji. Sabar ketika diseru untuk berjihad pada jalan Allah. Dan seterusnya. 

Sabar yang paling tinggi nilainya adalah sabar untuk tidak berbuat maksiat. Seseorang yang diberi amanah untuk memimpin. Diberi pangkat dan jabatan. Kemudian dengan jabatannya itu datang godaan untuk bermaksiat secara bertubi-tubi. Untuk menerima sogokan dalam bentuk apa saja. Lalu dia mampu menghindar dari semua itu. 

Atau seorang anak muda yang pergi merantau, lepas dari pengawasan orang tuanya. Di perantauan dia menemukan banyak sekali godaan untuk melakukan kemaksiatan. Semuanya aman untuk dikerjakannya karena jauh dari pandangan orang tua dan orang-orang yang diseganinya selama ini. Tapi dia sanggup menahan diri, bersabar tidak berbuat maksiat. Inilah kesabaran yang paling tinggi nilainya. 

Mudah-mudahan kita mampu meningkatkan kesabaran dalam mencari ridha Allah.

****

Selasa, 14 April 2015

Persiapan Sebuah Perjalanan

Persiapan Sebuah Perjalanan

Cucu kelima lahir di negeri orang, dibalik bumi, beribu kilometer dari Indonesia. Cucu perempuan pertama, diberi nama Fathimah oleh orang tuanya. Lahir tanggal 12 Agustus 2014. Kalau keempat abang-abangnya, ketika bayi rajin dibacakan al Quran sambil digendong, maka si Upiak Kecil ini tidak dapat merasakan hal yang sama. Beruntung karena ada hasil karya anak manusia moderen yang bernama skype, jadi kami bisa bertemu (gambar hidup) Fathimah setiap saat yang diinginkan. Tapi tetap saja belum memuaskan hati nenek dan inyiak karena belum bisa menggendongnya.  

Sebuah kunjunganpun dirancang. Dicari hari baik ketika yang elok. Hari baik, ketika cuaca sudah tidak lagi dingin membeku di negeri orang itu. Disesuaikan pula dengan jadwal libur kakaknya Fathimah, si Hamizan. Dan tanggal yang dipilih adalah 23 April.

Jauh hari sebelumnya sudah disurvai harga tiket pesawat Jakarta - Paris - Pau pulang pergi. Dengan memanfaatkan jasa internet. Ada sebuah biro perjalanan on line yang menawarkan tiket semua penerbangan ke Eropah. Nusatrip namanya. Dengan memasukkan kota asal dan kota tujuan, kita akan mendapatkan informasi tentang harga tiket yang paling murah untuk hari yang dipilih. Aku mengamati fluktuasi harga tiket tersebut beberapa hari. Ternyata dengan menambahkan rencana perjalanan Paris - Pau - Paris harga tiketnya lumayan mahal dan pilihan penerbangannya tidak banyak. Akhirnya aku putuskan untuk mencari tiket Jakarta - Paris - Jakarta saja. 

Harga paling murah untuk 2 orang pulang pergi berkisar di antara Rp 20 juta. Yang paling mahalnya, dalam daftar yang sama bisa mencapai di atas Rp 100 juta. Aku tentu mencari yang paling murah saja. Perusahaan penerbangan yang berada pada posisi paling murah ini berganti-ganti dalam beberapa hari. Pernah Lufthansa (Jerman) yang paling murah. Pernah Qatar, pernah Malaysia Airlines, lalu KLM. Qatar pernah mematok harga sekitar Rp 18 juta selama beberapa hari. Sudah hampir aku beli tapi masih ditunda-tunda. Sampai suatu hari anakku menanyakan apakah sudah jadi memesan tiket Qatar Airlines. Aku bilang belum. Kata anakku, hari ini harga murahnya itu berakhir. Aku segera memeriksa harga. Ternyata terlambat. Harga dan perusahaan yang paling murahnya sudah bertukar. 

Setelah mengamati lagi beberapa hari berikutnya, akhirnya aku mendapatkan tiket Vietnam Airlines seharga Rp 21 juta. Lho, kok Vietnam Airlines? Ya, kenapa tidak. Itu yang termurah dan pesawatnya juga Boeing 777 seperti di penerbangan lain. Pokoknya kita serahkan saja kepada Allah. Dan rencananya kami akan terbang via Ho Chi Min City. 

Persiapan lain adalah uang bekal perjalanan. Sebulan yang lalu aku beli beberapa Euro yang kursnya waktu itu sekitar Rp 14500. Khawatir rupiah akan lebih anjlok lagi karena saat itu memang harganya sedang terpelanting-pelanting melawan dolar Amerika. Tapi, ternyata dalam penukaran uang ini aku 'kalah' lagi. Saat ini harga Euro itu hanya Rp 13700. Ya, mau apa lagi? Begitu memang adanya.

Tinggal menghitung hari sebelum berangkat. Mudah-mudahan Allah mengijinkan dan memudahkan perjalanan itu nanti.

****                                                  

Senin, 13 April 2015

Berusaha Untuk Istiqamah Dalam Beribadah

Berusaha Untuk Istiqamah Dalam Beribadah 

Seorang teman menyatakan betapa ia ingin mampu bertahan menjalankan shalat berjamaah di mesjid, terutamanya shalat subuh. Dia ingin sanggup istiqamah. Tapi setiap kali, dia mendapatkan betapa dirinya sangat lemah untuk dapat melaksanakannya. Dan pernah dia bertanya bagaimana caranya mengatasi kelemahan tersebut. Aku menjawab agar dia berniat dan bersungguh-sungguh dalam usahanya. Berdoa dan meminta kepada Allah sebelum tidur agar di pagi hari nanti diberi kekuatan dan kesanggupan untuk bangun sebelum masuk waktu subuh.

Istiqamah artinya sanggup bertahan mengerjakan sesuatu (amalan). Untuk istiqamah dalam beribadah memang tidak mudah. Ada-ada saja halangan dan rintangannya. Apalagi kalau harus dilakukan dalam waktu panjang dan bahkan terus menerus. Ada orang yang mampu istiqamah dalam melakukan shalat berjamaah di mesjid. Karena yang demikian itu sangat dianjurkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ada orang yang istiqamah melakukan puasa sunnah hari Senin dan Kamis. Ada orang yang istiqamah dalam menyantuni anak yatim atau orang miskin. Dan sebagainya.

Kebalikannya ada juga orang yang istiqamah dalam berbuat maksiat. Istiqamah dalam berbohong. Istiqamah untuk menipu. Berbeda dengan beristiqamah dalam berbuat baik yang sulit direalisasikan, istiqamah dalam berbuat maksiat rasanya enteng-enteng saja mengerjakannya. Keistiqamahan dalam hal seperti ini tentulah sangat memprihatinkan. Karena dia akan menerima ganjaran buruk dari Allah atas segala kejahatannya itu nanti di akhirat. 

Untuk istiqamah dalam beramal shalih diperlukan niat yang diiringi dengan usaha yang sungguh-sungguh. Misalnya saja untuk istiqamah dalam mengerjakan shalat subuh berjamaah seperti bahasan pertama tadi. Di samping niat, jelas sangat diperlukan kesungguh-sungguhan. Terasa berat ketika harus  bangun sebelum dikumandangkan azan subuh. Tapi harus dicoba dan dilatih. Bagi yang sudah terlatih akan terasa suatu kenikmatan tersendiri. Bahkan terasa rugi kalau sekali waktu tidak bisa hadir shalat subuh berjamaah ke mesjid. Begitu pula dengan shalat fardhu lainnya. 

Keistiqamahan dalam mengerjakan amalan-amalan sunnah juga sangat dianjurkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.  Amalan yang ringan tapi dikerjakan dengan konsisten dan terus menerus (istiqamah) lebih baik dari amalan berat yang hanya dikerjakan sekali-sekali. 

Mudah-mudahan Allah senantiasa memberi kemudahan kepada kita untuk istiqamah dalam beribadah kepada-Nya. Aamiin.

****                                           

Selasa, 07 April 2015

Jodoh

Jodoh  

Suatu ketika, seorang remaja wanita datang meminta nasihat kepadaku. Anak muda sekarang menyebutnya 'curhat'. Mencurahkan isi hatinya. Dia sedang jatuh cinta. Sesuatu yang sangat alami. Tapi ada masalah. Orang tuanya tidak setuju dengan laki-laki yang diinginkannya. Apa masalahnya? Menurut penilaian sang orang tua, anak laki-laki itu kurang baik, agak rembang mata, tidak taat beragama, dan sepertinya kurang dewasa. Bagaimana orang tuanya tahu? Karena mereka memang saling kenal, dan kebetulan setempat kerja. 

Aku bertanya, apakah yang dikatakan orang tuanya itu menurut dia benar? Si remaja ini terlihat ragu-ragu. Tapi akhirnya mengakui bahwa sebagian dari yang dikatakan orang tuanya itu benar. Bagian mana, aku bertanya lagi. Dia jarang mengerjakan shalat. Bulan puasa sering tidak puasa. Dalam pergaulan seringkali terlihat egois. Begitu penjelasannya. Tentang rembang mata? Ya, biasalah, anak-anak muda sekarang kan gaul. Kesana ramah, kesini ramah, tapi isi hatinya sendiri sulit ditebak.

Kalau begitu apa yang menarik dari dirinya? Aku lanjutkan bertanya. Dia tampan dan gagah, sudah mapan secara keekonomian dan katanya dia juga menyayangi aku, jawab si remaja. Lalu apa yang kamu harapkan dari saya, aku bertanya. Tolonglah nasihati saya, apa yang harus saya lakukan untuk memperbaiki dirinya agar penilaian orang atas dirinya berubah. Apa yang sudah pernah kamu lakukan untuk itu? tanyaku pula. Dia jawab, saya mengingatkannya untuk shalat atau untuk berpuasa di bulan Ramadhan. Namun dia tidak senang diingatkan seperti itu. Dia bilang bahwa dia tidak mau diatur-atur.

Aku lalu menasihatinya untuk memohon kepada Allah. Meminta pertolongan Allah. Berdoalah dengan merendahkan diri, dengan penuh harap tapi tidak mendikte Allah. Kalau kamu memohon kepada Allah dengan doa, 'Ya Allah, jadikanlah dia jodohku, aku ingin dia jadi suamiku ya Allah.....' Maka doa seperti ini mendikte namanya. Tapi memohonlah misalnya dengan untaian seperti..... 'Ya Allah Engkau Yang Maha Mengetahui segala urusan. Engkau mengetahui bahwa hamba jatuh hati kepada si Fulan. Ya Allah seandainya dia dengan izin Engkau akan menjadi jodoh yang baik bagi hamba untuk dunia dan akhirat hamba di bawah keridhaan-Mu ya Allah, maka mudahkanlah hubungan hamba dengannya. Akan tetapi seandainya dia dalam kekuasaan-Mu tidak akan menjadi jodoh yang baik bagi hamba untuk dunia dan akhirat hamba, maka hindarkanlah dia dari hamba dan gantilah untuk hamba jodoh yang lebih baik di bawah keridhaan-Mu.'

Si remaja ini tercenung dengan nasihat itu. Alhamdulillah, dia menyetujuinya dan berjanji akan memohon kepada Allah seperti itu.

Beberapa tahun kemudian aku mengetahui bahwa dia mendapat jodoh bukan si Fulan yang dinginkannya mula-mula. Ketika bertemu dengannya (bersama suaminya) dia mengucapkan terima kasih atas nasihatku dulu itu. 

****                                          

Selasa, 31 Maret 2015

Gulai Kapalo Ikan

Gulai Kapalo Ikan

Kalau anda masuk ke restoran masakan Minang (lebih populer dengan nama Rumah Makan Padang), anda akan menemui salah satu menunya gulai kapalo ikan. Ada bermacam-macam kepala ikan berukuran besar yang bisa digulai, tapi biasanya yang lebih populer adalah kepala ikan kakap merah. Biasanya sebelah kepala yang ukurannya sepenuh piring makan (piring besar, berbeda dengan piring-piring kecil tempat lauk lainnya). Harganya juga 4 sampai 5 kali lipat harga satu potong lauk lain, apakah itu ayam, rendang, tunjang atau ikan lain. Jadi memang cukup mahal.

Gulai kepala ikan yang sempurna pengerjaannya memang sangat nikmat. Sempurna dalam arti, ikannya segar, bumbu-bumbunya terasa dan dimakan ketika masih panas. Semua bagian kecuali tulangnya sangat lezat, bagi yang menggemari gulai kapalo ikan. Karena ternyata memang tidak semua orang bisa menikmatinya. Bahkan ada temanku yang kaget dan tercengang (bercampur geli) ketika melihat kepala ikan dengan mata dan gigi-gigi seperti gambar di sebelah. Dan dia tidak berani memakannya. 

Di dekat kantor di Kuningan tempat aku bekerja dulu ada sebuah restoran rumahan dikelola sepasang suami istri. Istrinya pintar memasak. Gulai kepala ikannya sangat enak. Namun suatu hari terjadi 'kecelakaan'. Gulai kepala ikan itu bermasalah karena ikannya tidak segar. Waktu melewati kuali besar yang memang diletakkan dekat pintu masuk restorannya, aku sudah merasa bahwa bau gulai ikan itu kurang pas. Dan ternyata benar. Aku beritahukan kepada si ibu restoran, dan dia minta maaf. Memang tadi waktu dibeli di pasar sudah terlihat kurang segar. Oleh si ibu itu disiram dulu dengan air panas sebelum dimasak. Tidak tertolong. Akhirnya gulai sekuali itu terpaksa disingkirkannya. Rugi besar dia hari itu.

Aku bukan hanya penikmat gulai kepala ikan, tapi juga bisa memasaknya. Di awal tahun 2000an aku bertugas beberapa bulan di Balikpapan. Tinggal di hotel. Ada teman kerja yang tinggal di rumah bujangan. Karena aku sering bercerita bahwa aku bisa memasak, suatu hari aku ditantangnya untuk mencoba memasak di rumahnya. Kami pergi berbelanja ikan segar dan bumbu-bumbunya ke pasar. Dan aku mengolahnya. Hasilnya, alhamdulillah perfect. Teman itu menghadiahkan sepotong gulai ikan dengan kuahnya (bukan kepalanya) ke tetangganya, geologist perempuan, yunior kami. Si yunior ini berkali-kali mengucapkan terima kasih. Saking enaknya, ketika sepotong ikan sudah dimakan dan kuahnya masih ada, dia masukkan telur rebus ke dalam kuah tersebut. Masih enak katanya. Setiap kali bertemu sesudah itu dia mengulang-ulang kenangannya dengan gulai ikan.   
                                                
Balikpapan memang surga untuk ikan laut segar. Kalau kita datang pagi-pagi, ikan kakap besar-besar dan masih segar tersedia sangat banyak di pasar Kelandasan.  Ketika anak dan menantu kami masih di Balikpapan tahun-tahun yang lalu, di rumahnya pernah pula aku masak gulai kepala ikan. 

Gulai kepala ikan kakap sepertinya memang khas masakan Minang. Orang Bugis Makassar biasa pula memasak kepala ikan. Aku pernah mencoba masakan seperti ini di Nunukan. Tapi berbeda rasanya.   

Kepala ikan sepertinya tidak dimakan oleh orang-orang Eropah dan Arab. Kita bisa  menemukan video di Youtube, bagaimana mereka mengambil bagian daging (filet) ikan dan membuang sebagian besar dari ikan itu, termasuk kepala dan kulitnya. 

Ada cerita seorang teman yang pernah bekerja di Abu Dhabi, ketika dia meminta kepala ikan kakap yang sudah dibuang ke tong sampah. Penjual ikan itu menanyakan untuk apa. Teman ini terpaksa mengatakan untuk kucing. Aku tidak tahu apakah orang Cina dan orang Jepang juga membuang kepala ikan.  

(Gambar-gambar ini aku dapatkan di Google dengan meminta  gambar 'gulai kepala ikan'. Mohon maaf kepada pemilik foto.)

*****