Sabtu, 07 Juni 2014

Pilih Sesuai Dengan Kata Hati

Pilih Sesuai Dengan Kata Hati  

Semua tentu berhak memilih. Boleh memilih, siapa yang akan dipercayainya untuk menakhodai kapal besar berpenumpang seperempat milyar manusia ini. Pilihan yang mungkin tidak terlalu mudah karena..... ya, begitu adanya. Namun tetap harus diberi pilihan. Kemana kata hati lebih condong. Tentu sesudah ditelungkup ditelentangkan, dikaji masak-masak. Diperhitungkan dengan matang. Kalau mau bersungguh-sungguh betul, sangat dianjurkan shalat istikharah dahulu, meminta ketetapan hati dan petunjuk dari Allah Subhanahuwata'ala. Karena sebenarnya memang bukan urusan main-main yang sedang kita hadapi. Kita sedang mempertaruhkan buruk-baiknya pengaturan negeri ini lima tahun ke depan. Negeri berpenduduk sangat besar. Negeri yang apa boleh buat selama ini sepertinya sangat kentara kurang elok pengurusannya. Lho? Begitu kata sahibul hikayat. Buktinya, hutang negeri ini luar biasa besarnya. Sementara kehidupan kita, rakyat berderai ini, sepertinya tetap begitu-begitu saja.

Meskipun, kadang-kadang terlihat juga. Hasil keikutsertaan kita dalam pilih memilih ini tidaklah memberi pengaruh besar. Kalah atau menangpun beliau yang kita serumpuni, ternyata kemudian hasilnya untuk kemashlahatan kita dan orang banyak tidaklah terlalu kentara. Tidak signifikan kata yang berbahasa tinggi. 

Kita tentu tidak boleh berputus asa. Dan kali ini seyogianya kita lebih khusyuk berdoa. Memohon kepada Allah, Yang Maha Menentukan. Yang memberikan kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan mencabut kekuasaan dari siapa yang dikehendaki-Nya. Meminta bersungguh-sungguh agar dihadirkan-Nya seorang pemimpin yang lebih baik kali ini. Yang akan membawa perubahan bagi negeri ini menjadi makmur dalam keridhaan-Nya. Agar Dia tetapkan pemimpin yang amanah untuk memimpin negeri ini. Yang adil dan peduli dengan kemashlahatan masyarakat banyak.

Hari memilih itu masih beberapa pekan ke depan. Silahkanlah kita bersiap-siap. Atau menimbang-nimbang bagi yang masih belum merasa mantap yang mana yang akan dipilih. Tapi tidak perlu pula rasanya kita saling melotot dengan orang di kiri-kanan. Dengan orang yang tidak sesuai pilihannya dengan kita. Biarlah masing-masing kita menetapkan pilihan yang sesuai dengan kata hati kita.   

Dan doa itu. Ya Allah, datangkanlah seorang pemimpin untuk kami, yang jujur dan amanah, yang adil dan berwibawa, yang taat kepada-Mu, yang akan menjadikan kami, penduduk negeri ini lebih dekat dengan keridhaan-Mu. Aamiiin.

****                                

Rabu, 04 Juni 2014

Kepada Siapa Lagi Kita Akan Berlindung?

Kepada Siapa Lagi Kita Akan Berlindung?  

Pernahkah kita tersentak dengan apa yang terjadi di sekitar kita? Ketika membaca berita di koran atau menonton televisi? Atau membuka-buka internet? Dengan kejahatan demi kejahatan? Dengan kemaksiatan demi kemaksiatan? Dengan kezhaliman demi kezhaliman? Pernahkah kita tersentak bahwa bahkan kanak-kanak kita berumur balita tidak luput dari ancaman kenistaan? Dinodai? Dirusak? Dilecehkan? Ketika mereka kita titipkan ke sekolah taman kanak-kanak. Atau ketika dia kita suruh belajar mengaji di TPA. Masya Allah. Bahwa anak-anak remaja sangat dini, baru sebelas dua belas tahun terancam melakukan atau diperlakukan secara maksiat? Berita seperti itu jadi bacaan kita sehari-hari. Jadi tontonan di tv atau kita temukan di internet. Terjadi di berbagai pelosok negeri ini. Tidak terkecuali di ranah Minang. Naudzubillah, tsumma naudzubillah. Sungguh mengerikan dan memuakkan.

Siapa yang akan disalahkan? Banyak yang bisa disalahkan. Yang terutama adalah setan yang terkutuk, yang sejak dari memperdaya Nabi Adam alaihis salam, kemudian menghasut Kabil bin Adam, tidak pernah berhenti menipu daya manusia. Dia juga yang menghasut saudara-saudara Nabi Yusuf alaihis salam untuk menzhalimi Yusuf kecil dengan melemparkannya ke dalam sumur. Setan yang selalu beryuwaswisufi shudurrinnas. Yang mengambil jin dan manusia untuk jadi sekutunya, dalam meracuni dan menjerumuskan anak cucu Nabi Adam. Sehingga di antara golongan yang terakhir ini mampu mengerjakan kekejian demi kekejian. Tidak ada rasa malu. Tidak ada rasa takut. 

Banyak yang bisa disalahkan. Termasuk produk-produk teknologi yang canggih-canggih sekarang ini. Gadget, pesawat selebar telapak tangan yang boleh digunakan mengakses apa saja. Pintu surga sekaligus pintu neraka ada di sana. Dan ini banyak menipu sebagian anak-anak muda. Benda canggih yang tentu saja tidak terlalu murah harganya tapi bertebaran di mana-mana. Titik selera, tapi dengan apa akan dijemba? Maka asysyaithannirrajiim melihat peluang ini. Jual saja dirimu, niscaya kau akan mendapatkan semua yang kau mau! Begitu ide cemerlang yang dibisikkannya di ulu hati anak cucu Nabi Adam yang imannya rapuh itu. Jangankan hanya sekedar gadget selebar telapak tangan, lebih dari itu bisa kau peroleh, lanjut si setan yang terkutuk. 

Banyak yang bisa disalahkan. Di antaranya adalah manusia-manusia serakah, penipu, loba dan tamak yang telah terlebih dahulu takluk kepada setan. Yang pandai meniti buih di atas derita serta kelemahan manusia lain. Yang pandai menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Semua itu adalah didikan setan yang mengharubirukan hawa nafsu anak-anak manusia. Dan semua itu ada di sekitar kita.

Lalu? Apa yang dapat kita perbuat? Sementara semua kejahilan itu bisa saja melintas persis di hadapan mata kita. Mungkin saja mengancam kita, atau anak kita, atau cucu kita, kemenakan kita? Bahkan mungkin saja ada yang sudah berhadapan langsung dengan salah satu dari kerabat dekat kita.

Maka kembalilah kepada Allah Yang Maha Pelindung. Hanya kepada-Nya kita dapat berharap serta memohon bantuan. Memohon perlindungan dari gangguan setan dan bala tentaranya. Baik dari golongan jin maupun manusia. Ingatkan diri kita, lalu anggota keluarga kita, anak kemenakan kita agar memelihara diri dari bujuk rayu setan tersebut. Salah satu caranya dengan berislam secara kaffah dan tidak mengikuti langkah-langkah setan. Karena setan itu nyata-nyata musuh yang akan menggiring kita kepada kelalaian dan murka Allah. Ingat bahwa dunia yang penuh tipu daya ini hanya sangat sementara untuk kita tinggali. Nanti kita akan kembali kepada Allah, dan kita akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan selama kita hidup yang sebentar itu. 

*****                                                         

Minggu, 01 Juni 2014

Bagaimana Hukumnya Bermaaf-maafan Sebelum Masuk Ramadhan?

Bagaimana Hukumnya Bermaaf-maafan Sebelum Masuk Ramadhan?   

Pada kesempatan taklim Ahad subuh pagi kemarin di mesjid kami, seorang jamaah bertanya tentang hukum bermaaf-maafan sebelum masuk Ramadhan. Hal ini menjadi diskusi menarik karena menurut si penanya, bukankah hal ini tidak ada contoh dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu, sepertinya ini adalah sesuatu yang diada-adakan. Sementara sesuatu yang diada-adakan itu cenderung bid'ah. Dan kalau bid'ah maka dianya sesat, dan nanti diancam dengan (hukuman  di) neraka.

Ada dua hal yang menarik di sini. Seingatku, kebiasaan bermaaf-maafan sebelum masuk bulan Ramadhan ini memang merupakan sesuatu yang 'baru'. Dan aku mendapatkannya dari sebuah pengajian juga beberapa tahun yang lalu, berawal dari kebiasaan kita (umat Muslim Indonesia) mengucapkan selamat hari raya Aidil Fitri yang disertai dengan ungkapan 'Mohon Maaf Lahir dan Bathin'. Kenapa di hari raya itu kita bermaaf-maafan, sementara kita berharap dengan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dengan bersungguh-sungguh niscaya kita kembali suci? Kembali fithrah? Kembali suci ini adalah dalam hubungan kita dengan Allah Ta'ala, sesudah kita melaksanakan perintah-Nya untuk berpuasa (atas dasar iman kepada Allah dan dilakukan dengan penuh kehati-hatian). Adapun hubungan sesama manusia, belum akan selesai sebelum kita juga saling mengikhlaskan dalam bermaaf-maafan. Lalu kalau demikian, bukankah lebih afdal jika bermaaf-maafan itu dilakukan sebelum mengerjakan ibadah Ramadhan. Kita bersihkan hati kita dalam hubungan dengan sesama manusia, lalu setelah itu kita berkonsentrasi untuk beribadah kepada Allah. Bukankah begitu lebih baik?

Iya. Tapi bermaaf-maafan kan bisa dilakukan kapan saja, dan tidak mesti menunggu waktu sebelum masuk bulan Ramadhan? Sebenarnya, inilah jawabannya untuk menghindar dari tuduhan mengada-adakan sesuatu. Kalau bermaaf-maafan boleh dilakukan kapan saja, berarti mengerjakan sebelum Ramadhan bukan sesuatu yang diada-adakan. Dia masih dalam koridor 'boleh' alias mubah. Jadi seharusnya tidak perlu dipermasalahkan. Dan tentu saja tidak perlu pula dipermasalahkan seandainya ada orang yang merasa tidak perlu melakukannya.  

Kami singgung juga kemarin itu tentang kebiasaan sementara orang untuk membayarkan zakat (maal) di bulan Ramadhan, karena ada hadits yang menganjurkan agar kita banyak-banyak bersedekah di bulan itu. Tidak perlu pula dipertanyakan, apakah di jaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, para sahabat juga membayarkan zakat di bulan Ramadan. Membayar zakat itu, apabila sudah cukup nisabnya dan sudah sampai waktunya wajib dilaksanakan. Lalu menunda (atau mengawalkan) membayarnya sampai masuk bulan Ramadhan mudah-mudahan tidak melanggar apa-apa. Yang jelas ibadah itu tetap dilaksanakan. Wallahu a'lam....

****                     

Rabu, 28 Mei 2014

Lahir Sebagai Yahudi, Hidayah Membawanya Kepada Islam (Dari Dakwatuna)

Lahir Sebagai Yahudi, Hidayah Membawanya Kepada Islam

Rubrik: Hidayah | Oleh: Saiful Bahri - 30/04/14 | 17:59 | 01 Rajab 1435 H

Cahaya Islam (ilustrasi) - (Foto: baltyra.com)
Cahaya Islam (ilustrasi) – (Foto: baltyra.com)

dakwatuna.com – Musa Caplan lahir dan besar dalam tradisi Yahudi. Ia dan keluarganya rutin mengunjungi sinagog. Ia pun bersekolah di sebuah sekolah Yahudi Ortodoks.

“Saya hidup dengan keberagaman yang terbatas,” kenang dia seperti dilansir onislam.net, Rabu (30/4).

Meski berada dalam lingkaran tradisi Yudaisme, Musa menaruh minat mempelajari agama-agama lain. Ini yang selanjutnya mendorong Musa berinteraksi dengan umat agama lain, salah satunya penganut Islam.

“Saya percaya, semua agama itu sama, karena pada dasarnya menyembah Tuhan yang sama yakni Allah,” kata dia.

Dari interaksi tersebut, ia mulai tahu banyak tentang Islam. Ia percaya Islam adalah agama yang mengedepankan perdamaian. Memang, Musa tidak bisa menghindari stereotip negatif tentang Islam. Beruntung baginya, interaksi dengan Muslim membuatnya memiliki perspektif baru.

“Disinilah, Allah mulai menaruh rencana pada hidup saya,” kata dia.

Musa sulit mempercayai mengapa Islam sebagai agama damai bisa melahirkan terorisme. Padahal agama ini belum tentu mengajarkan umatnya untuk membunuh orang tak bersalah. 

“Rasulullah adalah pejuang, ia tidak membunuh orang tidak berdosa, ia taruh rasa hormat, perdamaian dan toleransi,” kata dia.

Menyadari Islam bukanlah agama yang mengajari umatnya sikap kebencian, Musa mulai tertarik untuk lebih dalam mempelajarinya. Salah satu sumber yang menjadi acuannya adalah kitab Perjanjian Lama dan Alquran. Saat membandingkan keduanya, Musa melihat Alquran memiliki sumber informasi akurat tentang asal mula kehidupan, hal yang bisa dikonfirmasi melalui ilmu pengetahuan.

“Sementara, perjanjian lama telah berubah selama bertahun-tahun,” kata dia. Ambil satu contoh, ucapnya, Al Quran memaparkan bagaimana gunung-gunung terbentuk hingga tercipta lapisan atmosfer. Informasi ini sudah ada di Al Quran, jauh sebelum ilmu pengetahuan memahami itu.

Semakin mendalami Alquran, Musa kian kagum. Mulailah ia pada satu persimpangan dimana akal dan pikirannya mengerucut pada satu keinginan, yakni menjadi Muslim. Musa menyadari keputusan itu tidaklah mudah. Orang tua dan kerabatnya tentu tidak akan menerima keputusannya itu.

“Untuk saat itu, saya tidak menjalani kehidupan yang Islami sepenuhnya. Namun, berkat Allah, saya bisa melaksanakan shalat lima waktu, saya bisa mempelajari Islam secara online, dan setidaknya saya bisa secara terbuka mengakui keesaan Allah,” kata dia.

Memang tidak mudah bagi Musa menjalankan imannya itu. Ambil contoh saja, ia merasa prihatin dengan nasib bangsa Palestina. Secara pribadi, ia sangat mendukung kemerdekaan Palestina dari penjajahan Israel, namun keluarganya justru melihat Palestina adalah tanah milik bangsa Yahudi.

“Jujur saya mudah tersinggung soal itu,” kata dia.

Di luar kesulitannya, Musa meyakini keterbatasan yang dimilikinya saat ini tidak menghalangi niatnya mengakui Islam sebagai agama yang dipilih Allah untuknya. Memang, ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk bersyahadat dihadapan umat Islam, tapi ia sudah melakukannya dihadapan Allah..

“Insya Allah, yang penting dari hal ini adalah, saya sudah berniat untuk mengunjungi masjid, tidak terlibat narkoba, mengkonsumsi alkohol dan mencuri. Tidak mudah memang, tapi Insya Allah,” kata dia. (ROL/sbb/dakwatuna)

****

Selasa, 27 Mei 2014

Seminggu Merawat Hamizan

Seminggu Merawat Hamizan

Sesuai dengan rencana perjalanan umi Hamizan, maka dia tinggal dengan kami (nenek, inyiak dan onti) sejak dari hari Sabtu 17 Mai sampai umi dan ayah kembali dengan selamat hari Sabtu tanggal 24 Mai. Masih ada bunda, abangs dan adek Rayyan di rumah depan yang wira-wiri antara rumah depan dan rumah belakang (memang begitu biasanya deskripsinya). Kebetulan pula abangs sedang libur pada minggu itu. 

Malam pertama Izan ingat umi persis ketika mau tidur. Dia bilang dia maunya tidur sama umi. Lalu inyiak bercerita bahwa umi sedang pergi ke Pau, jauh sekali, untuk mencari rumah tempat tinggal kalau nanti ayah, umi dan Izan pindah ke sana. Juga mencari sekolah untuk Izan. Dengan sedikit diskusi sebelum tidur, melibatkan inyiak, nenek dan onti, akhirnya karena sudah mengantuk, maka malam pertama itu berjalan dengan aman. 

Izan tidak mau tidur pakai selimut. Kalau diselimuti, tidak lama kemudian pasti ditendang. Kalau tidur sama umi, tergantung faktor kelelahan bermain sepertinya, kadang-kadang Izan ngompol. Waktu inyiak bangun jam empat sebelum subuh, Izan dibangunin dan diajak pipis ke kamar mandi. Dia tidak protes dan bangun dengan enteng. Setelah itu langsung melanjutkan tidur kembali. Hasil akhir, selama seminggu tidur dengan inyiak dan nenek, Izan tidak pernah ngompol.

Bangun tidur, Izan perlu beberapa menit untuk benar-benar pulih. Istilah dia sendiri selama beberapa menit tersebut adalah 'loading'. Kalau digoda, ditanya apa loadingnya sudah selesai, Izan akan bilang belum kalau dia memang belum benar-benar 'in'. Untuk urusan sarapan dan makan Izan agak sedikit sulit. Tapi dengan onti biasanya bisa lebih mudah. Sebenarnya yang jauh lebih mudah kalau berebutan dengan abangs dan adek Rayyan. Pada satu pagi inyiak membuat mi goreng (dari mi telor kering) pakai udang dan jamur. Waktu Izan ditawarin dia tidak mau. Dengan susah payah, akhirnya mau udangnya saja. Tidak lama kemudian rombongan abangs dan adek Rayyan datang. Sama onti mi gorengnya dibagi-bagi buat semua. Dan kali ini Izan juga minta bagiannya dan dia makan. Makan berebutan itu ternyata memang lebih bersemangat.

Kadang-kadang untuk makan siang Izan dibawa ke rumah depan, biar bisa makan bareng disuapin bunda. Di rumah depan acara yang menyenangkan adalah berendam di kolam renang plastik, berempat. Sambil main air tentu saja. Sambil berteriak-teriak dan bernyanyi-nyanyi.

Ternyata hari seminggu berjalan sangat cepat. Dan alhamdulillah aman. Hari Sabtu pagi tanggal 24, inyiak dan nenek pergi ke undangan walimahan anak teman karyawan Total. Izan masih tidur. Waktu inyiak dan nenek pulang Izan sedang main dengan onti. Jam sebelas inyiak dan nenek harus pergi lagi ke pertemuan keluarga. Ayah dan umi akan sampai di Bandara Soeta sekitar jam sepuluh - sebelas dan akan dijemput oleh akung dan uti. Inyiak sebenarnya ingin melihat bagaimana reaksi Izan ketika ayah dan umi datang, tapi sayang harus pergi ke pertemuan keluarga itu. Ternyata menurut cerita, Izan gembira tapi tidak berlebih-lebihan. Lebih cenderung dikatakan biasa-biasa saja. Hanya, ketika malam ditanya apakah masih mau tidur sama inyiak dan nenek, jawabannya sangat mantap. Nggak, Izan mau tidur sama umi.....

****
                            

Rabu, 21 Mei 2014

Lain Dahulu Lain Sekarang

Lain Dahulu Lain Sekarang 

Lain Bengkulu, lain Semarang. Lain dahulu, lain sekarang. Ya, iyalah. Dengan kemajuan teknologi. Kita tidak lagi hidup di jaman pergi ke kota naik delman yang ditarik kuda, duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja, mengendalikan kuda supaya bagus jalannya. Meski aku melalui jaman itu. Melalui waktu ketika untuk pergi ke kota dari kampungku di kaki gunung Marapi di Ranah Minang, harus menggunakan bendi alias delman itu. Dan aku waktu itu benar-benar merasa senang duduk di muka di samping pak kusir.

Tapi ini bukan cerita bendi atau delman. Aku terkagum-kagum dengan hasil temuan teknologi sampai saat ini. Yang paling akhir aku kagumi adalah alat komunikasi skype yang kemarin kami gunakan untuk berkomunikasi antara Jatibening dan Pau di Perancis. Perangkat ini bukan baru-baru sangat. Sudah beberapa tahun dia hadir. Dan akupun pernah menggunakannya untuk berkomunikasi ke Bandung, dengan si Bungsu. Ketika kemarin digunakan untuk jarak lebih jauh, waktu itulah aku tersentak. Betapa jarak menjadi semakin tidak berarti dengan alat canggih ini.

Terbayang masa-masa dahulu. Dari dahulu ketika aku masih kanak-kanak, naik delman tadi itu. Sampai dahulu ketika anak-anak masih kanak-kanak. Yang terakhir ini di tahun delapan puluhan awal. Kami tinggal di Balikpapan saat itu. Setiap tahun kami pulang ke kampung ketika aku mengambil cuti tahunan. Sudah naik pesawat jet. Naik taksi dari Bandara Tabing ke kampung atau dari Bandara Simpang Tiga ke rumah mertua di Pekan Baru. Artinya alat transportasi waktu itu mirip dengan sekarang. Hanya saja, untuk memberitahu bahwa kami sudah selamat sampai kembali di Balikpapan sepulang dari cuti, media penyampai berita hanyalah surat. Tidak lazim untuk mengirim telegram untuk berita seperti itu. Dan surat, seandainya begitu sampai langsung ditulis, baru akan sampai di tangan ibuku 3-4 hari kemudian. Balasannya, di mana beliau menyampaikan rasa syukur bahwa kami sudah selamat kembali di perantauan baru akan datang beberapa hari lagi kemudian.

Belum ada telepon di kampung waktu itu. Bahkan di kotapun (di tempat mertua di Pekan Baru) tidak ada telepon. Jauh sekali bedanya dengan sekarang ketika semua orang punya hape, bahkan sampai di kampung-kampung. Lalu kita bisa menghubungi siapa saja di mana saja.

Pengalaman pahit dengan pesawat telepon pernah aku alami tahun 1990, waktu kami pergi melaksanakan ibadah haji. Ketika itu terjadi peristiwa terowongan Mina yang mengambil korban lebih dari 1500 orang jamaah haji Indonesia. Kami ikut-ikutan antri di telepon umum di Mina untuk menghubungi anak-anak di Balikpapan. Aku berhasil menghubungi nomor telepon kantor dan minta disambungkan ke rumah tempat tinggal kami. Men-dial langsung ke nomor rumah dari luar negeri tidak bisa. Apa yang terjadi? Petugas telepon itu, mungkin karena sedang sibuk, tidak berhasil menyambungkan ke rumah. Habis koin 50 riyal, dan tidak ada lagi koin, telepon itu diam saja, tidak tersambung ke rumah. Dengan 15 riyal seharusnya sudah cukup untuk berkomunikasi ke tanah air. Baru dua hari kemudian dari Makkah kami berhasil menghubungi anak-anak dan adikku di Balikpapan. Padahal waktu itu semua orang senewen, menunggu dan mengamati berita TVRI yang menyiarkan nama-nama korban terowongan Mina. Anak kami yang paling tua bahkan diteror temannya yang mengatakan bahwa nama kami terbaca di antara nama-nama korban tersebut.  

Itulah bedanya. Sekarang semua orang bisa berkomunikasi audio visual ke balik bumi sana.

****                                           

Senin, 19 Mei 2014

Ketika Hamizan Ditinggal Umi

Ketika Hamizan Ditinggal Umi 

Ada sebuah rencana cukup besar di keluarga Billy Sunyoto, ayahnya Hamizan Hafidz. Dia akan dipindahkan ke Pau di Perancis dalam sebuah penempatan jangka panjang (beberapa tahun). Istilah di lingkungan Total Indonesie-nya ditugaskan IA (international assignment). Dan itu perlu persiapan tentu saja. Salah satu persiapan itu meliputi wawancara dengan orang yang akan digantikannya di Pau sana dan survai mencari tempat tinggal (rumah atau apartemen). Untuk yang terakhir ini, istri harus ikut. Begitu peraturan perusahaan.

Mereka diberi waktu dua minggu untuk mengerjakan kedua hal di atas. Berarti harus meninggalkan Hamizan selama maksimum dua minggu itu. Tapi umi Hamizan tidak tega berpisah sampai dua minggu. Lalu akhirnya dibuat rencana perjalanan yang berbeda. Ayah berangkat hari Sabtu tanggal 10 Mai. Umi berangkat seminggu kemudian, tanggal 17 Mai. Untuk umi Hamizan, sebenarnya perjalanan ini ekstra berat karena dia sedang hamil. Tapi, ya sudah tetap dijalaninya juga. 

Hamizan tinggal sama nenek dan inyiak plus onti (aunty) Nadya. Dari jauh hari sudah diberitahukan rencana berpisah selama seminggu ini dengan harapan Hamizan akan mengerti. Pada hari Sabtu keberangkatan umi, umi diantar onti ke Bandara Soeta. Hamizan bersama inyiak, nenek, bunda, abang kembar dan adek Rayyan, pergi jalan-jalan ke MM, untuk sedikit mengelabui Hamizan. Soalnya kalau dibawa mengantar umi ke bandara bisa-bisa dua-duanya nanti senewen sebelum berpisah. 

Alhamdulillah cukup aman-aman saja. Ketika kami sampai di rumah Izan bertanya uminya kemana, lalu dijelaskan bahwa umi pergi mencari rumah tempat tinggal di Pau. Dia kelihatan OK saja, mungkin sambil tidak terlalu mengerti. Malam itu aman-aman karena bermain dengan abangs dan adek Rayyan sampai agak larut sekitar jam 9.30. Sedikit masalah mulai timbul waktu diajak tidur. Teringat umi, karena biasanya memang tidur sama umi. Tapi alhamdulillah dengan cerita dan penjelasan bahwa umi sedang berada di pesawat dalam perjalanan jauh, dan ditemani nenek, inyiak dan onti Nadya, suasana bisa jadi cair dan Izan akhirnya tertidur. Tidur di tengah antara inyiak dan nenek.

Bangun pagi juga aman-aman saja meski masih bertanya keberadaan umi dimana. Hari Minggu itu sibuk bermain dengan abangs dan adek. Tidur siang ditemani abangs yang pura-pura ikut tidur, padahal abang kembar itu hampir tidak pernah tidur siang. Malamnya, alhamdulillah berkat teknologi bisa kontak melalui skype dengan umi yang baru saja sampai di Pau dan sudah bergabung dengan ayah. Umi bercerita kalau kakinya bengkak akibat terlalu lama di pesawat. Ditambah pula harus menunggu 6 jam di Bandara CDG Paris sebelum melanjutkan penerbangan ke Pau. Izan ngobrol deh sama umi, ngobrol santai-santai, tanpa nangis. Alhamdulillah.

Kemarin siang main di rumah depan (begitu disebut rumah tempat bunda beserta abangs dan adik tinggal). Begitu pula tadi malam meski masih adalah ingat-ingat umi sedikit sebelum tidur, tapi dengan penjelasan, Hamizan langsung mengerti dan tidak rewel. Diingatkan bahwa in syaa Allah hari Sabtu umi dan ayah akan sampai kembali di Jatibening.

Pagi ini sarapan sereal disuapin inyiak, karena onti ada keperluan keluar. Akung sama uti akan datang rencananya hari ini ingin ketemu Izan. Abangs belum datang (mereka libur), mungkin masih belajar karena minggu depan mereka ujian. 

Begitulah cerita tentang Hamizan Hafidz. Muhammad Hamizan Hafidz.

****