Kamis, 17 Mei 2012

Ketika Pengurusan Keduniaan Kacau Apa Yang Harus Dilakukan

Ketika Pengurusan Keduniaan Kacau Apa Yang Harus Dilakukan

Sebuah diskusi panjang tengah berlangsung. Diskusi yang hanya sebatas diskusi karena memang tidak ada kesimpulan yang bisa diambil. Atau kalau pun ada kesimpulan maka itu hanyalah sekadar wacana. Sekadar teori. Sekadar angan-angan. Diskusi berketerusan juga. Sambil mengeluh panjang pendek. Kenapa dan kenapa. Kenapa kita yang mempunyai filosofi yang begitu indah tidak diamalkan. Kenapa kata-kata yang seharusnya tidak mengganggu orang lain dan ditujukan khusus kepada umat Islam itu dahulu dihapuskan. Sehingga lihatlah sekarang, karena ketujuh kata itu diabaikan, nah inilah yang terjadi. Kesana sayut, kesini senteng kita jadinya. Coba dulu.....

Tak habis-habis mengeluh. Coba dulu, kata-kata itu dipertahankan. Hah? Lalu akan adakah jaminan bahwa segala sesuatu akan berjalan indah sesuai dengan aturan? Aturan? Kurang apa aturan, meski yang dibikin-bikin manusia seperti sekarang ini yang ternyata juga tidak berjalan? Aturan tinggallah di aturan. Kalau memang tidak ada niat untuk menjadi baik, apa dayanya si aturan. Si Pencilok dihukum, begitu menurut aturan. Tapi si Pencilok bisa mengatur aturan agar dia tidak dihukum. Atau agar hukumannya diatur-atur. Lalu mau apa kita?

Kita salahkan anak kemenakan yang tidak lagi seperintah mamak. Kalau mamak hanya sekadar pandai memerintah-merintah saja, memang jadi sulit. Sekarang anak kemenakan adalah generasi merdeka yang tidak suka diperintah-perintah. Lalu? Lalu terjadilah yang akan terjadi. Di saat 'keduniaan' semakin menjadi-jadi ini. Disaat informasi, cerita, berita, tontonan ada di mana-mana. Ada di kantong baju. Ada di layar sebesar 5 senti. Informasi apa saja. Berita apa saja. Tontonan apa saja. Di dalam kantong baju. Yang layarnya dapat dinikmati kapan saja, di mana saja dengan siapa saja. Di ruang sidang anggota dewan. Di atas kereta. Di dalam lift. Di ruang kerja. Di kakus.

Apa yang akan diperintah? Apa yang akan dilarang? Bagaimana akan melarang? Lalu kita sibuk juga bernostalgia, dulu tidaklah begini. Dahulu, ketika kita teratur mengaji ke surau, kita adalah generasi yang sopan-sopan. Ehem, benarkah? Bukankah dahulu ada juga yang sekali seketika kita 'makan gadang' di surau dengan ayam yang dicekau di kandang rumah orang? Atau kita membakar jagung muda yang diambil begitu saja di ladang mak Tan Ameh, padahal tidak ada anak atau kemenakan mak Tan Ameh yang ikut dengan kita. Ketika itu kita sangat menghormati orang tua. Kita sangat takut dan segan kepada mamak. Kita taat dan patuh kepada orang tua. Alhamdulillah. Dahulu kita berada dalam lingkungan yang lebih sederhana. Yang lebih tertib, ehem, kalaupun ketika itu memang lebih tertib. Karena kan ada juga. Mamak yang dulu sering menasihati kita itu, rajin pula berdamini   di lepau Tan Brain. Ketika kita menghampir pula ke lepau, kita disuruhnya pergi.

Dalam lingkup lebih luas, kita sesali dan sekali lagi hanya bisa kita sesali keadaan. Kenapa negeri ini, yang penduduknya 88% (ini data resmi badan sensus nasional) beragama Islam, kehidupan masyarakatnya hambur adul dalam kemungkaran. Dalam kemaksiatan. Kemaksiatan terang-terangan. Orang mencuri terang-terangan. Orang menipu terang-terangan. Orang bermaksiat terang-terangan. Dan tidak tersentuh hukum. Padahal kita berdalih juga bahwa negeri ini negeri hukum. Hukum yang mana? Lalu kita salahkan hukum yang dibuat manusia itu. Padahal, yang benar-benar bermasalah adalah niat kita untuk menegakkan hukum tadi. Dengan hukum buatan manusia, seorang yang berbuat kesalahan dihukum sekian-sekian, demikian-demikian. Tapi niat untuk memberlakukan hukum itu kosong alias bisa ditawar-tawar. Akan sama saja jadinya, biarpun kita tahu ada ketetapan Allah atas tindak-tindak kejahatan dan bagaimana seharusnya menghukumnya. 'Kita' tidak ada niat untuk mentaati hukum yang manapun.

Kita salahkan cara pengaturan negeri ini. Cara mengangkat pemimpin. Cara mengutus perwakilan. Cara menetapkan undang-undang. Kalau dilihat salahnya, memang semua itu lemah belaka. Kita tiru demokrasi ala barat. Satu orang satu suara. Presiden, gubernur, bupati, wakil rakyat kita pilih dengan aturan satu orang satu suara. Ini cara demokrasi barat. Lihatlah hasilnya. Semua serba kebablasan. Lalu gubernur ditangkap KPK. Menteri ditangkap KPK. Bupati ditangkap KPK karena mereka semua bergelemak peak. Salah.... dimana-mana salah. Kan seharusnya, seperti yang dirancang pendahulu negeri ini dulu, kita mengangkat pemimpin itu dengan musyawarah. Maka ada majelis musyawarah rakyat. Ada dewan wakil-wakil rakyat. Begitu seharusnya. Hah? Bukankah selama berpuluh tahun kita sudah punya lembaga itu? Bahkan sekarangpun masih ada. Dahulu lagi, presiden dipilih oleh majelis syuro, yakni majelis permusyawaratan rakyat, oleh wakil-wakil rakyat. He..he..he.. Bagaimana mungkin kita melupakan betapa majelis ini  selama berpuluh tahun dikangkangi oleh yang berkuasa. Lalu kita punya presiden seumur hidup yang ditetapkan oleh majelis syuro kita tadi itu. Padahal majelis itu telah terang-terangan dikebiri. Di dalamnya duduk orang-orang yang dahulu itu fasih dengan inggih ndoro. Yes Sir. Dan akibatnya ditetapkanlah presiden seumur hidup. Tapi kata Allah tidak jadi. Allah biarkan presiden seumur hidup itu tumbang. Berganti presiden. Diangkat pula oleh majelis syuro kembali. 32 tahun majelis itu dikangkanginya dengan segala macam cara. Diangkat juga sekali lima tahun, tapi yang diangkat dia terus. Wakilnya boleh berganti-ganti tapi dia sendiri tidak. Ada saja caranya agar dia dipilih oleh anggota majelis itu kembali.Tapi akhirnya, kata Allah diapun jatuh pula.

Pertanda apa itu?

Pertanda bahwa tidak ada jaminan kalau Allah tidak berkehendak. Kalau kita secara individu-individu tidak meminta kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Di sini seharusnya tugas para ulama kita, yang benar-benar ulama,  mengingatkan kita. Tanpa henti-henti. Agar masing-masing kita memulai dengan diri kita sendiri. Menjaga diri kita dan keluarga kita dari siksa api neraka. Quu anfusakum wa ahlikum naara. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka. Ini diarahkan kepada setiap Muslim yang merupakan 88% dari jumlah penduduk Indonesia kita itu. Ingatkan mereka, setiap mereka, setiap diri. Jaga diri kalian dan anak-istri kalian dari ancaman api neraka. Ingatkan calon presiden, calon wakil rakyat, calon guberbur, calon bupati bahkan sampai calon Ketau RT sekalipun. 'Setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin akan diminta tanggung jawabnya atas kepemimpinannya.' Ketika kalian tidak bisa mempertanggungjawabkannya, maka tempat kalian adalah neraka jahannam. Berhati-hati benarlah kalian karena siksa neraka jahannam itu sangat bersangatan pedihnya.

Maka terserahlah akan berbentuk apa pengaturan negeri ini. Yang penting aturlah diri masing-masing kita agar terhindar dari murka Allah. Dari hukuman Allah. Ingat, ketika kita berdosa kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Penyayang. Allah niscaya akan mengampuni kita, sebesar apapun dosa kita, selama kita mau meminta ampun. Tapi ingat, dosa kita kepada sesama manusia, Allah tidak akan ikut campur sebelum kita saling menyelesaikannya di antara kita. Ingatlah agar tidak memakan hak orang lain, apalagi hak orang lain sekampung, sekabupaten, sepropinsi, senegara. Selama orang-orang itu tidak mengikhlaskan dan memaafkan kita, niscaya kita akan menerima hukuman Allah di dalam nerakanya kelak. Maka, quu anfusakum wa ahlikum naara. Dan mulailah dengan diri masing-masing!

Wallahu a'lam.

Jatibening, penghujung Jumadil Akhir 1433.

Jumat, 11 Mei 2012

Beri Kabar Gembiralah Orang-orang yang Sabar

Beri Kabar Gembiralah Orang-orang yang Sabar 

Musibah atau kemalangan. Kita tertegun setiap kali mendengar terjadinya sebuah kecelakaan. Setiap kali kita menyaksikan terjadinya kemalangan. Baik yang melibatkan orang-orang terdekat kita ataupun yang menimpa orang lain. Musibah itu dapat terjadi kapan saja. Dengan cara bagaimana saja. Dan di mana saja. Ketika sudah terjadi, tidak dapat dirobah lagi. Tidak dapat dikembalikan lagi keadaannya seperti sebelum terjadi. Ketika dia sudah terjadi dan berketetapan, itulah yang disebut takdir Allah, yang orang beriman wajib mengimaninya, sebagai salah satu dari enam rukun iman. 

Dan Allah ingatkan kita sebagai orang-orang yang beriman agar bersabar ketika ditimpa musibah. Dengan bersabar, niscaya Allah akan memberi kita nilai tambah di sisi-Nya. 'Beri kabar gembiralah orang-orang yang sabar! (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah dia berkata; 'Kami datang dari Allah dan kami akan kembali kepada-Nya.' Mereka (yang seperti) itulah yang mendapat keberkahan dari Allah serta rahmat-Nya. dan mereka itulah yang mendapat petunjuk.' (Al Baqarah ujung ayat 155, ayat 156 dan 157.) 

Musibah dapat terjadi dengan tiba-tiba. Tanpa prediksi. Tanpa tanda-tanda. Seperti musibah yang menimpa pesawat Sukhoi dan menelan korban puluhan orang. Tersentak kita mendengarnya. Terharu kita. Prihatin kita. Namun dia sudah berlaku. Terbayang betapa dukanya kerabat dari para korban. 'Tadi' dia masih berbicara, 'tadi' dia masih bercanda, 'tadi' dia masih bersama 'kita'. 'Tadi' dia masih segar bugar. Lalu sekarang, tiba-tiba dia sudah tidak ada. 

Di sisi lain, seharusnya ini jadi peringatan kepada kita yang masih hidup. Bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kalau Allah menetapkan sesuatu akan terjadi, maka terjadilah dia. Tidak ada yang sulit bagi Allah. Dan kita tidak ada apa-apanya di bawah kekuasaan Allah. Kita tiada mempunyai daya dan kekuatan, kecuali yang diizinkan Allah. 

Kita sebenarnya senantiasa berada di tempat yang sangat mungkin ditimpa musibah. Di jalan raya, di dalam kendaraan, di ruang kantor tempat bekerja, di dalam lift di sebuah bangunan bertingkat, di rumah, bahkan di tempat tidur kita sendiri. Musibah bisa terjadi dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan. Jadi pesan yang kedua, sadarilah itu. Ingatlah akan keterbatasan dan kelemahan kita. Banyak-banyaklah berserah diri kepada Allah. Jangan sampai ada rasa sombong dan takabur di dalam hati kita.

*****

                                            

Kamis, 10 Mei 2012

Menyetir Ke Bandung

Menyetir Ke Bandung 

Hari Ahad kemarin kami, aku dan istri ke Bandung. Menyetir sendiri. Tidak ada istimewanya menyetir ke Bandung. Apalagi lewat tol Cipularang. Apa istimewanya? Alhamdulillah, dengan izin Allah dalam dua jam sampai. Bagi kebanyakan orang yang biasa mondar mandir ke sana, ke Bandung yang hanya sekitar 130 kilometer terasa memang biasa-biasa saja.  Tidak ada istimewanya memang, kecuali karena sudah sangat lama aku tidak menyetir agak jauh. Karena kondisi kaki yang semakin sering tidak fit akibat asam urat. Beberapa kali pergi ke Bandung sebelum ini terpaksa minta tolong diantar sama adikku. Atau pernah juga naik travel X'trans lalu dijemput dan diantar si Bungsu di Bandung.

Tapi kemarin itu tiba-tiba bersemangat saja. Alhamdulillah kaki dalam keadaan prima. Jadilah mencoba-coba karena istri juga lebih memilih kami membawa mobil sendiri. Dia bilang, bila perlu bergantian menyetir. Sesuatu yang biasanya kalau bepergian ke luar kota tidak pernah kami lakukan. Selalu aku yang menyetir.

Oh, ya. Ke Bandung kemarin itu menghadiri undangan teman seangkatan waktu kuliah dulu, yang menikahkan puterinya. Acaranya di gedung Pusdai. Kami berangkat jam setengah delapan pagi dari rumah.  Jalan lancar dan cuaca cerah. Jam sepuluh kurang kami sudah melewati gerbang tol Pasteur. Rencananya terus ke jalan Ganeca karena berjanji dengan si Bungsu bertemu di sana. Baru saja turun dari jalan layang di Balubur, kami dihadang macet luar biasa. Beringsut-ingsut di jalan Taman Sari sampai ke ujung Ganeca. Ternyata si Bungsu belum sampai dan dia menganjurkan agar kami langsung saja ke tempat pesta. Melintasi Dago, sampai ke ujung jalan Cikapayang?, dilarang polisi berbelok ke kiri karena macet. Akhirnya harus berputar-putar mencari jalan menuju gedung pesta itu, melalui jalan yang aku sudah tidak ingat lagi. Tapi alhamdulillah jam sebelas kurang seperempat kami sampai di tujuan. Bertemu dengan si Bungsu di situ. 

Sudah banyak juga undangan yang datang. Berjumpa dengan teman seangkatan yang lain dan kami ngobrol sambil menunggu rombongan pengantin diarak menuju pelaminan. Sebuah pesta adat Sunda yang meriah. Lamat-lamat terdengar disampaikan pembawa acara bahwa besan temanku itu adalah 'urang awak'. 

Sempat bertemu dengan beberapa orang teman lain. Jam dua belas kami keluar dari ruangan pesta. Hari hujan lebat. Dengan bantuan 'ojek payung' si Bungsu pergi mengambil mobil. Kami mampir ke rumah tempat tinggalnya yang aku tidak ingat nama jalan (katanya dekat jalan Jakarta) dan daerahnya. Untuk shalat zuhur dan beristirahat sebentar. Jam setengah tiga kembali menuju Jakarta, melintasi jalanan macet di mana-mana sampai menjelang gerbang tol. Perjalanan pulang di jalan tol alhamdulillah pun lancar-lancar saja, kecuali tersendat di Cikarang karena ada kecelakaan. Sebelum maghrib kami sudah sampai kembali di rumah.

Begitulah cerita menyetir ke Bandung hari Ahad kemarin itu.

*****                                    

Jumat, 04 Mei 2012

Nasi Goreng Kampung

Nasi Goreng Kampung 

Nasi goreng adalah favorit banyak orang. Termasuk di rumah kami. Ada banyak sekali versi nasi goreng. Ada banyak sekali pedagang nasi goreng. Sejak dari nasi goreng abang-abang yang bergerilya dengan gerobak dorongnya di malam hari, sampai nasi goreng di kaki lima, bahkan sampai ke restoran hotel bintang lima, kita bisa mendapatkan sepiring nasi goreng. Bangsa kita memang penggemar nasi goreng.

Di warung-warung tenda pinggir jalan, di antaranya ada nasi goreng kambing, ada nasi goreng pete, ada nasi goreng ikan asin, ada nasi goreng apa sajalah. Ada yang menamainya dengan nama yang seram-seram. Nasi goreng gila. Nasi goreng setan. Hush, masya Allah, entah apa maunya dengan nama-nama seperti itu. 

Ada kawan yang berlangganan nasi goreng dari si abang-abang dengan gerobak dorong. Katanya nasi goreng si abang itu enak sekali. Memang bisa saja kan? Aku agak kurang suka nasi goreng jajanan karena menurut pengalamanku hampir semuanya 'kaya' vetsin. Aku tidak menyukai 'vetsin.

Di rumah, masing-masing kami punya keahlian dan kesukaan nasi goreng buatan masing-masing. Ada yang mencampurnya dengan macam-macam bumbu. Atau dengan bermacam-macam daging entah udang, daging ayam,  atau potongan daging kambing. Atau bermacam-macam sayur seperti wortel, jamur, jagung muda dan sebagainya. Yang terakhir ini bentuknya sudah sangat jauh dari penampilan nasi goreng standar.

Aku sendiri suka membuat nasi goreng kampung. Nasi goreng sederhana dengan bumbu bawang merah, cabe merah dan daun kunyit. Kok daun kunyit? Ya, daun kunyit, cukup satu lembar. Bawang merah dan daun kunyit diiris tipis-tipis lalu ditumiskan. Tambahkan cabe giling, aduk sebentar. Masukkan dua buah telor dan diaduk-aduk sampai rata, tambahkan garam secukupnya dan masukkan nasi yang akan digoreng. Aduk rata di dalam wajan penggorengan. Tidak sampai lima menit, siap untuk disantap. Tidak ada vetsin. Tidak pakai kecap. Hanya nasi, bawang, cabe, daun kunyit, garam dan telor tadi saja. Rasanya? Ya silahkan coba sendiri kalau mau.

Kami baru saja selesai sarapan nasi goreng kampung pagi ini.   

*****                                                             

Senin, 30 April 2012

It happened..... Ke Undangan Salah Gedung

It happened..... Ke Undangan Salah Gedung

Sekarang-sekarang ini adalah saat banyaknya undangan. Hampir setiap minggu, ada saja undangan resepsi pernikahan anak teman, anak saudara, anak orang sekampung. Tidak jarang pula terjadi waktu undangan itu bentrok sementara tempat pestanya berjauhan. Kalau sudah seperti itu tentu harus dipilih mana yang akan diprioritaskan. Kalau yang satu dari saudara dan yang lain dari teman, didahulukan yang dari saudara. Kalau yang satu dari orang sekampung sementara yang lain dari teman sekantor dilihat-lihat lagi dulu. Mana yang kira-kira bisa diregret. Atau bisa juga dijadikan ukuran undangan mana yang lebih dahulu datang. Begitulah. Bukankah mendatangi undangan walimahan itu diperintahkan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam sebagai hak muslim terhadap muslim yang harus dipenuhi? Undangan pernikahan dari yang bukan muslim pun harus didatangi.

Karena saking seringnya mendatangi undangan yang datang bertubi-tubi itu bisa terjadi kekeliruan. Itulah yang terjadi dengan kami hari Ahad kemarin. Ada dua undangan untuk kemarin siang. Yang satu di Cililitan yang satu di Tebet. Yang dari Tebet sudah lebih dahulu kami terima, jadi yang itu yang akan kami datangi.

Sebelum berangkat terjadi masalah kecil pertama. Istri sakit akibat gangguan pencernaan. Dia harus berlama-lama di kamar kecil. Berlama-lama yang memang cukup lama. Tapi dia tetap merasa sanggup untuk pergi. Urusannya yang lama itu akhirnya bisa diselesaikan juga. Hari sudah hampir jam dua belas. Dan hujan pula.

Kami berangkat. Alhamdulillah jalan lancar-lancar saja. Meski di atas (sekarang) aku tulis undangan itu di Tebet, dalam pikiranku kemarin itu tempat pestanya di Bidakara dekat Pancoran. Terjadilah masalah berikutnya. Dengan sangat percaya diri mobil aku arahkan ke Bidakara, berputar di Pancoran, mengarah ke Tebet lalu segera berbelok ke kiri. Tempat parkir penuh, kami harus turun ke lantai bawah tanah kedua (B2). Langsung menuju lift. Masalah kecil berikutnya. Liftnya ternyata macet (bisa juga, ya?!). Terpaksa naik tangga ke lantai dasar, artinya naik tangga dua tingkat. Wah, ini adalah siksaan berat bagi kami, terutama bagi istriku. Lalu naik eskalator ke lantai tempat pesta. Masalah puncak. Di board kedua gedung pesta di sana tidak ada nama yang mengundang kami. Lho! Apa-apaan ini? Padahal undangannya dibawa tapi ditinggal di mobil. Seperti orang bodoh aku bertanya kepada pegawai bangunan Bidakara apakah ada ruangan pesta lain di bangunan tersebut selain yang dua itu. Jelas tidak ada. Barulah aku merasa yakin bahwa kami salah alamat. Istriku menanyakan apa tadi tidak dibaca dulu undangannya. Pertanyaan yang sama juga sia-sianya. Karena yang aku lihat dan pastikan hanyalah jamnya saja, yaitu siang. Tempatnya sudah terlanjur dicatat otakku di Bidakara.

Hari sudah lewat jam setengah satu siang. Kami turun kembali ke tempat parkir. Ternyata.... Tempat yang harus kami tuju di Balai Sudirman di Tebet. Diteruskan kesana? Sudah malu untuk meneruskannya karena pasti sudah terlambat sekali. Hari masih hujan dan akhirnya kami putuskan untuk tidak datang. Ya begitulah..... 

*****                 

Sabtu, 28 April 2012

Memilah Budaya

Memilah Budaya

Seorang tetangga kami meninggal dunia. Beliau seorang muslim, seorang yang baik, yang selalu menyapa dan tersenyum. Rupanya begitu di tempat beliau bekerja, begitu juga di lingkungan kami. Banyak yang datang melayat ketika mengetahui beliau telah tiada.

Meski pun bukan sekali ini aku melihat, yang sangat mengherankanku adalah budaya baru mengirim karangan bunga ke rumah duka. Di pekarangan dan di jalan di depan rumah almarhum berjejer banyak sekali karangan bunga. Ada karangan bunga berukuran sedang dengan tatakan keranjang rotan dihiasi kertas berwarna warni dengan tulisan ucapan duka cita. Ada karangan bunga berukuran besar, sebesar papan tulis di sekolah, juga dengan tulisan ucapan duka cita. Pengirimnya kebanyakan adalah perusahaan-perusahaan tapi banyak juga yang perorangan.

Budaya mengirim karangan bunga ini sudah semakin populer di kalangan masyarakat kita, terutama di kalangan penjabat dan pengusaha berkelas. 

Di samping itu, yang juga menjadi budaya (baru) adalah memakai pakaian berwarna hitam ketika datang melayat. Nuansa ini sangat kentara di kalangan ibu-ibu, meski sebagian bapak-bapak juga ada yang berusaha menyesuaikan diri dengan budaya tersebut. 

Timbul pertanyaan di kepalaku. Atau mungkin di kepala sebagian orang awam. Dari mana asal usul budaya seperti ini? Ternyata ini adalah kebiasaan orang bukan muslim, entah yang beragama Kristen, entah di kalangan masyarakat Tionghoa yang bukan beragama Islam. Itulah yang 'kita' tiru. Peringatan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam kepada kita, 'barang siapa yang meniru-niru kebiasan orang lain, termasuk ke dalam golongan orang (lain ) itu.'

Padahal kewajiban kita sebagai orang Islam, ketika ada di antara saudara kita meninggal dunia tidak lebih dari empat hal. Yang biasa disebut sebagai kewajiban fardhu kifayah. Yaitu, memandikan jenazah, mengafani, menyalatkan dan menguburkannya. Hanya itu. Tidak diperlukan tambahan ritual lain. Kalau kita pada malam hari datang bertakziah ke rumah duka, maksud bertakziah itu adalah untuk menghibur ahli musibah atau keluarga yang ditinggalkan. Sedangkan doa untuk si mayat sudah kita lakukan di dalam shalat jenazah, meski jika ingin menambah doa di luar itu boleh-boleh saja. 

Karangan bunga di satu sisi, jelas tidak ada manfaat apa-apa dan bahkan mubazir. Karangan bunga yang belum diambil tukang sampah, setelah satu hari akan terlihat sebagai sampah dan mengotori lingkungan. Namun, apa boleh buat, budaya baru ini sedang sangat disukai sementara orang dan belum ada ulama yang dengan gigih berusaha meluruskannya. Hebatnya pula, karangan bunga juga sangat biasa menghiasi pesta pernikahan, baik di gedung-gedung maupun di rumah-rumah (mewah). Ukurannya sama persis dengan karangan bunga di rumah duka. Hanya tulisannya saja yang berbeda.

Sebagai orang yang beriman, mudah-mudahan kita bisa memilah-milah budaya yang akan kita tiru.   

****                                                            

Rabu, 25 April 2012

Peringatan Yang Jarang Sekali Diingat

Peringatan Yang Jarang Sekali Diingat

Kalau kita keluar dari pintu tol Jatibening menuju ke Jakarta, di sebelah kiri akan kita lihat sebuah lapangan khusus tempat kendaraan ringsek sesudah tabrakan. Bermacam-macam kendaraan setengah hancur, kebanyakan di bagian depannya, biasa diistirahatkan di situ. Dari kendaraan kecil seumpama sedan kecil, lalu yang berukuran sedang, atau bus kota berukuran besar sampai truk tronton dan truk pembawa peti kemas ukuran raksasa pernah terlihat di sana. Ada yang dibiarkan cukup lama, ada yang hanya beberapa hari saja lalu sudah tidak ada, mungkin sudah diambil pemiliknya. Melihat kondisi kerusakannya membuat aku merinding karena sangat mengerikan. Ada yang separo kabinnya hancur total, ada yang rodanya sampai tertekuk, yang atapnya hampir lepas. Entah bagaimana kecelakaan itu terjadi. Dan entah bagaimana keadaan pengendara atau penumpang yang duduk di bagian yang rusak parah itu.

Di mana-mana kita sering melihat peringatan agar berhati-hati di jalan raya. Ada peringatan tentang jumlah korban lalu-lintas  bulanan, tahunan, lengkap dengan jumlah yang maut seperti yang terpampang di dekat pintu tol kota. Ada peringatan berupa baliho yang mengingatkan agar jangan mengemudi ketika sedang mengantuk. Bahkan di tempat-tempat tertentu dipajang rongsokan kendaraan yang mengalami tabrakan apakah mobil atau sepeda motor. Tapi yang mencengangkan, semua peringatan itu seperti tidak berhasil mengurangi kecelakaan lalu lintas di jalan raya, terutama di jalan tol.  

Padahal ada peringatan lain berupa rambu lalu-lintas tentang batas kecepatan. Tapi sayangnya rambu seperti itu tidak untuk dipatuhi. Tidak banyak yang peduli. Padahal kalau sudah celaka sering kali nyawa taruhannya. 

Menurut pengalamanku ada tiga faktor yang sangat memungkinkan pengendara untuk mengalami celaka. Yang pertama, sifat ugal-ugalan dan tidak tertib. Serobot sana, serobot sini. Perilaku seperti ini  bahkan juga membahayakan pengendara lain. Yang kedua tidak mau beristirahat padahal sudah sangat kelelahan dan mengantuk. Ini seringkali berakibat fatal. Kehilangan kesadaran beberapa detik saja selama mengemudi bisa berakibat kendaraan celaka. Yang ketiga kondisi kendaraan yang tidak prima. Mungkin bannya sudah gundul. Atau remnya tidak berfungsi. Mengabaikan satu saja dari ketiga hal tersebut besar resikonya. Yang mengherankan ada orang yang mengabaikan ketiga-tiganya. Sudah ngantuk, mengemudi zig-zag dan ugal-ugalan (katanya untuk mengusir kantuk), sementara kendaraan tidak dalam keadaan baik. Yang seperti ini yang biasanya cepat 'berbayar hutang'.

Kalau anda (siapa saja) sekali-sekali melintas dekat pintu tol Jatibening, menolehlah ke sebelah kiri agak lama. Dengan melihat kondisi mobil-mobil ringsek di sana, mudah-mudahan jadi peringatan bagi kita untuk lebih berhati-hati ketika berkendaraan.

****