Selasa, 05 Januari 2010

Pulang Kampung Lagi (8)

(8)

Kami berada di tengah-tengah ketersendatan. Kendaraan truk-truk besar berlapis-lapis di hadapan. Ada tehnik sederhana yang biasa aku lakukan untuk menyalip kendaraan di saat macet seperti yang saat itu kami alami. Teknik menunggu kendaraan lain di depan menyalip dan kemudian ikut di belakangnya. Setiap kali ada kendaraan di depan yang sedang pindah jalur ke kanan untuk mendahului, berarti jalur kanan itu aman bagi kendaraan kami dan aku melesat pula maju mendahului. Kalau kendaraan di depan merapat ke kiri karena ada kendaraan dari arah berlawanan, aku juga segera merapat ke kiri. Hanya dengan cara seperti itu truk-truk besar itu bisa dilewati dengan mudah.

Sudah jam tujuh malam waktu kami terbebas dari kemacetan. Sudah kami lalui Kayu Agung. Kami melaju dalam kegelapan malam. Jam delapan malam kami berhenti di sebuah pompa bensin. Untuk mengisi bensin. Untuk ke kamar kecil dan terakhir untuk shalat. Aku tidak menanyakan nama tempat itu.

Setelah shalat kami lanjutkan lagi perjalanan. Kami sudah sepakat untuk tidak beristirahat di penginapan malam ini. Lagi pula mau menginap di penginapan mana lagi? Kalau menempuh jalur Palembang, yang dikenal sebagai jalur timur ini tidak banyak kota yang dilalui. Seandainya harus beristirahat, paling-paling berhenti di pompa bensin dan tidur dalam mobil.

Jalan ini relatif ramai. Kalau aku memacu sendirian agak kencang, tidak lama kemudian di hadapan kami sudah ada lagi kendaraan. Kalau kendaraan lain itu berjalan santai tentu harus dilewati. Ada beberapa buah bus jarak jauh yang kami jumpai searah dengan kami. Ini juga sebuah alat pembanding yang baik. Bus ini cenderung untuk kencang ketika jalan tidak mendaki. Aku senang mengiringkan bus seperti ini. Tinggal dijaga jarak aman di belakangnya. Dia kencang, aku ikuti pula dengan kecepatan yang sama. Tidak kencang sangat. Mungkin dengan kecepatan sekitar 100 km per jam. Begitu ada jalan mendaki, bus itu biasanya terengah-engah. Kalau sudah begitu aku dahului.

Penumpang di kendaraan kami sudah senyap. Sepertinya mereka sudah kecapekan dan kemungkinan sedang tertidur. Termasuk pambayan yang duduk di sebelahku. Aku sendiri alhamdulillah dalam keadaan segar-segar saja. Baik juga khasiat kopi yang diminum sore tadi. Kalau sudah begini, aku biasanya mengaji. Membaca al Quran yang aku hafal. Sambil mata tetap awas ke depan.

Jalan yang kami tempuh dalam kondisi sangat baik. Hampir tidak ada kerusakan. Kabarnya jalan ini diperbaiki menjelang pelaksanaan PON dua tahun yang lalu. Dan dua tahun yang akan datang Palembang akan jadi tuan rumah SEA Games. Mudah-mudahan jalan ini akan tetap terpelihara kenyamanannya. Ada satu kekurangan jalur ini yang aku ingat benar ketika dulu aku juga pernah melintasinya. Banyak ditemukan belokan patah membuat sudut 90 derajat. Belokan patah siku seperti itu rupanya sudah banyak berkurang. Belokan seperti itu sangat beresiko apalagi kalau pengemudi sedang kelelahan.

Kekurangan lain, persis seperti yang aku amati tadi malam di jalan menuju Jambi adalah minimnya batu penunjuk jarak. Kami bagaikan berjalan di pesawangan tanpa batas. Tidak tahu kota atau kampung apa yang akan dijelang berikutnya dan berapa jaraknya.

Kami teruskan saja perjalanan. Tiba-tiba mobil kami didahului oleh bus besar, yang tadi sudah dilewati. Aku biarkan dia di depan dan aku ikuti kembali seperti tadi. Kami beriring-iringan dalam waktu yang cukup lama. Jalan relatif rata walau kadang-kadang berbelok-belok. Akhirnya kami sampai di Menggala. Menggala nama sebuah kota. Kali ini ada penunjuk ke arah Bakauheni. Aku sudah diberi tahu kemaren di Bukit Tinggi bahwa ada jalan baru memintas ke Bakauheni. Katanya jalan itu bagus hanya agak sempit. Kami tidak akan mengambil jalan pintas itu.

Kami keluar ke pertemuan jalan lintas timur dengan lintas tengah di Tulang Bawang. Aku tidak mengenal jalur ini. Kami sampai ke sini karena dari tadi mengikuti bus besar antar kota itu. Jalan yang aku kenal adalah keluar dekat Bandar Jaya. Kota itu sudah dekat ke Bandar Lampung. Sedangkan Tulang Bawang masih jauh dari Bandar Lampung. Masih sebelum Kota Bumi.

Sudah jam satu malam. Berarti aku sudah menyetir lebih dari tujuh jam. Sudah lumayan lelah. Ketika suami adik ipar menawarkan pergantian aku langsung mengiyakan. Sebenarnya perut sudah lumayan lapar. Kami tahan. Kami akan makan nanti menjelang Bandar Lampung.

***

Sabtu, 02 Januari 2010

Pulang kampung Lagi (7)

(7)

Aku terbangun beberapa menit menjelang azan subuh. Sekitar jam setengah lima lebih sedikit. Segera berbersih-bersih di kamar mandi. Ketika aku selesai dari kamar mandi, azan segera berkumandang. Alhamdulillah, inilah keelokan negeri ini. Adanya panggilan azan pada saat masuk waktu shalat. Namun kali ini sepertinya berasal dari tempat yang agak jauh. Sementara aku tidak familiar dengan lingkungan ini. Aku ragu-ragu untuk pergi keluar mencari masjid. Keraguan yang berakhir dengan tidak jadi pergi. Kami shalat berjamaah di kamar saja.

Jam tujuh pagi kami sudah siap untuk meninggalkan hotel Matahari. Hotel ekonomis ini hanya membekali kami dengan sepotong roti (sepotong dalam arti harfiah) dan secangkir kopi atau teh. Ini jelas tidak cukup untuk dipakai melawan jalan panjang hari ini. Artinya kami harus mencari tempat sarapan terlebih dahulu. Yang ternyata tidak mudah. Kami berputar-putar di dalam kota sekitar setengah jam sebelum akhirnya menemukan sebuah kedai kopi. Sebuah kedai kopi Cina, entah di bagian mana kota. Disinilah kami sarapan. Ada yang memesan nasi lemak (nasi uduk versi Jambi), nasi goreng. Aku memesan mi rebus dan kopi susu. Aku yang sudah lama tidak membiasakan lagi minum kopi, memesannya karena perjalanan panjang ini akan memerlukan tenaga ekstra. Baru terbuka agak-agak. Kami segera akan keluar dari kota Jambi. Waktu menunjukkan jam sembilan. Hari hujan panas di pagi hari ini.

Mobil kami menderu ke arah Palembang. Jalan ternyata cukup bagus meski sedikit ramai. Aku jadi penumpang pagi ini. Kami mehotar berat sepanjang jalan. Hotar politik sampai hotar ekonomi. Hotar yang berlapir-lapir karena kami membahas sampai kasus bank Century.

Jalan benar-benar dalam kondisi bagus. Konon ini sebagai buah positif otonomi daerah. Kabupaten Ogan Komering ini sekarang termasuk sebuah daerah yang kaya dari hasil minyak bumi. Yang agak mengherankan ada di suatu bagian sisi jalan terlihat pohon-pohon sawit tua yang sudah tidak berbuah tapi tidak diremajakan. Entah apa sebabnya. Menjelang kota Banyu Asin jalan mulai macet. Kamipun jadi tersendat-sendat.

Jam dua lebih kami memasuki kota Palembang. Sedang elok terasa lapar. Kami menuju restoran Pagi Sore di tengah kota. Restoran yang apik dan cukup besar. Restoran Minang yang sudah sedikit disesuaikan dengan lidah wong kito. Ada sedikit rasa manis-manis di dalam pedasnya. Saya ingat kota Medan yang juga mempunyai restoran Melayu Minang. Agak mirip-mirip nuansanya dengan restoran Pagi Sore ini.

Ada mushala juga di restoran ini. Dan disana kami shalat. Sudah jam setengah empat waktu kami meninggalkan restoran. Tujuannya adalah mencari kedai empek-empek. Empek-empek Candy. Untuk dibawa sebagai oleh-oleh tanda sudah singgah di Palembang. Sementara ibu-ibu mengatur pembelian pembayan mengajak mencicipi beberapa jenis empek-empek yang siap saji. ‘Sambil minum kopi, bang,’ katanya. Benar juga. Secangkir kopi lagi akan sangat bermanfaat. Karena setelah ini aku yang akan memegang kemudi. Dan rencananya kami akan berjalan terus malam ini.

Jam setengah lima waktu kami meninggalkan kedai empek-empek. Palembang sudah siap untuk ditinggalkan. Kami melintas di atas jembatan Ampera. Mengikuti arus lalu lintas yang lumayan padat. Tadinya aku menyangka bahwa lalu lintas padat itu hanya di lingkungan kota Palembang saja. Begitu keluar aku berharap jalan akan mulai sepi. Aku salah total. Jalan ke luar kota dari Palembang menuju Kayu Agung mirip dengan jalan Jakarta Puncak. Padat merayap. Yang searah padat begitu pula yang berlawanan arah. Hari sudah menjelang maghrib.

***

Selasa, 29 Desember 2009

Pulang kampung Lagi (6)

(6)

Mobil melaju dibawah guyuran hujan lebat, melalui Palangki, terus ke simpangan ke Sijunjung. Entah apa nama kampung ini, aku lupa. Padahal aku pernah mengakrabinya tahun 1978 dulu. Menempuhnya masuk sampai ke Sijunjung, ke Muaro Sijunjung di tepi Batang Kuantan. Ketika aku mengerjakan perpetaan geologi untuk thesisku di daerah Sijunjung ini. Merancah sungai Sukam, masuk ke kampung-kampung dan sungai-sungai kecil. Dulu di jalur ini ada tanda rambu lalu lintas bergambar harimau, untuk mengingatkan pengendara mobil bahwa sewaktu-waktu harimau bisa saja melintas. Ya, jalan ini adalah jalan raya contoh yang tidak dicontoh. Jalan raya buatan perusahaan Korea di tahun-tahun terakhir 1970an. Orang Korea yang membuatkan jalan ini sejak dari Muaro Kalaban sampai ke Lubuk Linggau. Sekarang, sesudah lebih dari 30 tahun, jalan itu masih enak dilalui, walau ada kerusakan-kerusakan kecil. Begitu cara orang membuat jalan. Bertahun-tahun maintenance free. Sementara awak membuat jalan kadang-kadang hanya untuk dipakai dalam bilangan bulan, sudah harus diperbaiki lagi. Antahlah maak…. Karena disitu sumber rejeki, kata yang punya proyek.

Hujan mulai agak reda. Kecepatan mobil tidak bisa terlalu dipacu. Kami berpapasan dengan truk tronton besar pembawa batu bara. Berpuluh-puluh banyaknya. Daerah sekitar Pulau Punjung yang sekarang adalah kabupaten tersendiri, kabupaten Damasraya namanya, banyak menghasilkan batubara. Batubara itu dibawa ke Teluk Bayur melalui Solok dan Sitinjau Lauik. Sepertinya truk tronton ini memberi andil kepada cepat rusaknya jalan terutama di daerah Sitinjau Lauik yang labil itu.

Telah kami lalui Sungai Dareh, Pulau Punjung dan entah kota kecil apa lagi. Aku sudah banyak lupa. Terakhir kali aku mengendarai mobil di jalan ini adalah di tahun 2000 yang lalu, pulang pergi Jakarta – Bukit Tinggi. Waktu itu melalui jalur tengah.

Kami sampai di Muaro Bungo di waktu maghrib. Langsung berbelok ke kiri menuju Jambi. Target kami adalah Jambi dan disana nanti kami akan beristirahat. Muaro Bungo – Jambi ini kalau tidak salah jaraknya lebih dari 300 kilometer. Yang aku ingat, dulu ketika aku melintasinya di tahun 1998, sangat sedikit pompa bensin di sepanjang jalur ini.

Jalan ini masih lumayan bagus meski lebih kentara ada lobang-lobang kecil di sana-sini. Hujan rintik-rintik masih turun. Kendaraan yang lalu lalang masih banyak. Paling tidak lebih ramai dari yang aku ingat sepuluh tahun yang lalu. Pambayan (suami adik ipar) menanyakan apakah aku sudah mau digantikan. Aku jawab biarlah sebentar lagi. Mungkin dia ingat bahwa aku pernah berkomentar, seboleh-bolehnya aku menghindari menyetir di malam hari.

Di Muaro Tebo kami berganti. Setir aku serahkan kepadanya. Kami mengisi bensin disini. Kami teruskan perjalanan di kegelapan malam. Kadang-kadang aku coba mengintip batu penunjuk kilometer jalan. Batu yang malang itu hampir tidak ada manfaatnya. Tulisannya kecil-kecil, disingkat pula. Muara Tebo disingkat MTO, Muara Tembesi MTB.

Terasa benar panjangnya jalan menuju Jambi. Rasanya sudah lama kami melintasinya belum juga kunjung sampai. Waktu di Limbanang dua hari lalu, kami mendengar cerita bahwa jalur Tempino – Jambi jalannya rusak, karena digunakan oleh truk-truk besar pembawa logistik alat-alat pengeboran minyak bumi. Kami sepakat tidak akan melalui jalan ini.

Di suatu tempat, di depan sebuah masjid mobil dihentikan suami adik ipar dan dia turun. Aku pikir mungkin dia ingin ke kamar kecil. Ada kira-kira sepuluh menitan dia di luar. Rupanya dia bersenam-senam kecil untuk melemaskan otot. Aku tahu dari istrinya. Kota Jambi masih lebih dari 60 kilometer lagi di hadapan. Aku menawarkan diri kalau-kalau dia ingin digantikan. Tidak usah, bang, katanya.

Kami sampai di Jambi menjelang tengah malam. Segera mencari tempat makan. Dan sesudah itu mencari penginapan. Kami menginap di hotel Matahari untuk setengah malam itu.


***

Senin, 28 Desember 2009

Pulang Kampung Lagi (5)

(5)

Ketika para saudara bertemu sekali-sekali yang terjadi biasanya adalah hota panjang. Ditingkahi senda gurau dan tertawa terkekeh-kekeh. Itu pula yang terjadi di Garegeh malam itu. Apa lagi ada pula adik ipar yang lain baru sampai dari Pakan Baru setelah terlebih dahulu singgah di Limbanang. Rencananya besok kami akan melakukan perjalanan panjang dengan mobilnya ke Jakarta. Bagi sang adik ipar perjalanan itu bahkan lebih panjang lagi karena mereka suami istri akan terus ke Jogya. Jauh hari sebelumnya mereka menawarkan apakah kami suami istri mau ikut dalam perjalanan itu. Dan aku menyanggupinya.

Malam itu kami mahota panjang sampai tengah malam. Aku sebenarnya sudah keletihan. Sudah tiga malam berturut-turut kurang tidur dan malam ini adalah malam keempat.

Begitu kembali ke penginapan sudah hampir jam satu malam aku berusaha untuk langsung tidur. Dan alhamdulillah tertidur. Bahkan keterusan. Paginya aku baru terbangun dan mendengar wirid (pengajian) subuh dari masjid. Tidak terdengar suara azan. Padahal azan subuh itu dua kali. Sudah hampir jam setengah enam. Ya Allah……. sudah berlalu waktu subuh. Kami shalat berdua. Masih mengantuk, sesudah shalat aku sambung lagi tidur. Dan melaju lagi sampai dekat jam delapan. Barulah badan terasa agak segar. Kami berempat, masih dengan ipar yang dari Sawahlunto pergi lagi ke Garegeh. Untuk sarapan teh talua di lepau. Setelah itu mereka mendrop kami di rumah ipar yang juga di Garegeh, karena mereka akan segera pula pergi untuk urusan lain hari itu.

Di Garegeh sudah menunggu ipar yang dari Pakan Baru. Mereka baru saja bergerak mau menyusul kami ke penginapan. Kami kembali lagi ke mess PLN untuk mengemasi barang-barang kami. Ada segerobak tolak pula banyaknya. Kami susun baik-baik di bagian belakang mobil. Tempat duduk di row paling belakang terpaksa dikosongkan dengan melipat bangkunya. Barang-barang itu kami susun hati-hati. Seandainya muat, dan bangku di row kedua tidak terganggu seorang kemenakan akan ikut bersama kami. Dan alhamdulillah semua barang-barang itu berhasil dimuat.

Barulah kami mandi. Dan berkemas diri. Dan setelah itu kembali lagi ke Garegeh karena kedua adik-adik itu juga belum pada mandi. Sementara hari sudah mulai hujan rinai-rinai kembali.

Jam setengah dua belas tepat kami berangkat dari Garegeh. Berlima dengan kemenakan, anak dari ipar yang di Garegeh. Lalu ke Baso untuk terus ke Batu Sangkar, melalui Talawi, melalui Sawahlunto dan terus ke Muaro Kalaban. Sambil mehota-hota kecil sepanjang jalan. Aku amati batang Lunto yang airnya tidak seberapa dalam. Melayang pula ingatan ke Blog angku Idris Talu yang hobby memancing di sungai. Aku katakan bahwa aku berniat suatu hari nanti, kubawa mobil ke kampung, tinggal di kampung agak lama, dan pergi memancing ke sungai-sungai besar. Seperti ke sungai Kampar di Rantau Berangin. Kenapa tidak? Biarlah sementara itu menjadi niat saja dulu. Kalau lai umua panjang dikayayan juo nanti.

Sudah jam setengah dua siang ketika kami berhenti untuk makan siang dan shalat di lepau nasi dendeng batokok di Muaro Kalaban. Lah sadang elok litak paruik. Lepau nasi yang ini kami pilih begitu saja. Karena sudah lapar dan karena plang namanya, Dendeng Batokok. Rasa biasa-biasa saja.

Jam setengah tiga kami lanjutkan perjalanan. Bergantian membawa mobil. Kali ini giliranku memegang kemudi. Berpacu menuju selatan. Ditengah guyuran hujan.

***

Pulang Kampung Lagi (4)

(4)

Minggu 20 Desember.

Pagi yang lebih cerah dari pagi kemarin. Tidak ada hujan walau langit tetap saja agak mendung. Tadi aku shalat subuh di masjid Baitul Haq. Setelah hari mulai agak terang, kami mengatur rencana untuk pergi ke Garegeh lagi. Tiba-tiba aku ditelepon kakak sepupu, (yang ikut pulang kampung untuk rapat siang nanti) mengatakan bahwa lepau tutup. Aku menganjurkan untuk ke lepau lain di Ateh Ngarai, persis di simpang tiga pintu masuk ke ngarai. Lepau disini lebih besar dan lebih ramai dari lepau di Garegeh. Tidak ada ketan dan goreng pisang di lepau ini tapi bubur samba, bahkan gado-gado, bubur kampiun dan beraneka macam kue-kue ada tersedia. Teh telur juga bisa dipesan. Lepau ini memang pilihan keduaku.

Kami berkumpul di lepau ini. Kami berempat dan rombongan kakak sepupuku enam orang. Semua berkecepak-kecepong. Di dalam lepau yang penuh pengunjung ini. Bahkan di luar masih ada yang antri karena tidak kebagian tempat duduk. Aku tidak tahu apakah lepau ini seramai ini karena hari Minggu pagi atau memang seperti ini setiap hari. Sesudah sarapan aku ikut dengan rombongan kakak sepupu ke kampung, karena kami akan rapat jam sembilan pagi. Aku minta tolong istriku untuk pergi membeli dan mengantarkan nasi bungkus untuk konsumsi peserta rapat nanti siang.

Sesuai rencana rapat di sekolah penghafal Al Quran itu dimulai jam sembilan lebih sedikit. Bertempat di bangunan sekolah di Kasiak, di Koto Tuo Balai Gurah. Sekolah ini setingkat SMP, dengan kekhasan pendidikan menghafal Al Quran ditambah pengetahuan agama disertai pengenalan hadits-hadits Rasulullah SAW. Kami menamainya Ma'had Tahfizhul Quran di bawah Yayasan Syekh Ahmad Khatib. Sekolah dengan fasilitas pemondokan dimana santrinya memang diwajibkan untuk tinggal di sekolah. Baru dibuka untuk tahun pertama di tahun ajaran 2009 - 2010. Jumlah santrinya masih sangat mini, hanya empat orang. Tapi yang empat orang itu (mulanya 7 orang) alhamdulillah bisa bertahan dan membuat kemajuan yang lumayan. Rapat kami pagi itu adalah dalam rangka mengatur strategi untuk lebih mensosialisasikan keberadaan sekolah itu kepada masyarakat. Sekolah dengan penekanan menghafal Al Quran ini baru satu-satunya di Sumatera Barat. Dipimpin oleh seorang kepala sekolah tamatan Madinah, dibantu seorang lagi guru yang juga tamatan Madinah serta guru-guru dari sekolah umum dan guru-guru tamatan IAIN. Di dalam rapat itu kami rencanakan untuk memanfaatkan media televisi (Bukit Tinggi TV), radio swasta dan koran terbitan Padang sebagai sarana.

Rapat yang sangat konstruktif itu berjalan lancar dan berakhir jam dua siang.

Sesudah selesai rapat, kami pergi lagi meraun ke Kamang. Berputar-putar sejak dari Parikputuih, Lungguakmuto, Kapau, Koto Tangah, Magek, Koto Panjang, Pakan Sinayan di Kamang Mudiak, terus ke Gaduik. Melereng di kaki Bukik Kawin. Memandang bukit batu gamping yang sambung-menyambung. Tapi tidak masuk mendekati Ngalau. Ada bagian dari jalan yang melingkar-lingkar itu yang belum pernah kutempuh. Ada keinginan untuk mampir ke rumah bako di Koto Panjang, tapi aku batalkan. Dua bulan yang lalu aku sudah mengunjungi mereka. Kedatanganku pasti akan 'merepotkan' mereka saja.

Sore hari menjelang maghrib kami berada di antara orang ramai di bawah jam gadang. Sebelum masuk waktu maghrib aku bergegas ke masjid Raya, meninggalkan istri dan ipar yang akan langsung pulang ke penginapan. Malam itu kami dijamu adik ipar makan malam di rumahnya di Garegeh. Kali ini makan malam tanpa disertai durian.

***

Pulang Kampung Lagi (3)

Hari Sabtu pagi.

Alhamdulillah, meski baru tidur jam dua tadi malam, aku terbangun persis menjelang azan subuh. Tapi di luar hari hujan. Aku bangunkan istri. Sesudah kumandangan azan jam 4.50 pagi itu selesai, kami shalat berdua di kamar. Aku tidak bisa pergi ke mesjid karena di luar hujan. Ketika aku hampir selesai shalat subuh, di masjid Baitul Haq dan masjid Raya, imam sama-sama takbir. Bacaan imam-imam itu bertanding-tanding, terdengar sangat jelas karena sama-sama menggunakan pengeras suara yang prima. Untunglah di masjid masing-masing bacaan imam dari masjid lain tidak terdengar.

Sesudah shalat disambung tidur sedikit lagi. Jam tujuh terbangun. Acara kami (aku dan istri beserta ipar suami istri pula) adalah pergi minum pagi ke..... Garegeh.

Lepau di Garegeh itu aku temukan pertama kali di tahun 1991, ketika kami pulang dari shalat subuh di masjid Raya, menuju ke kampungku di Koto Tuo Balai Gurah. Di kegelapan subuh berembun kala itu, terlihat pintu lepau terbuka. Kami segera mampir. Bangunan dengan bangku panjang lepau itu tidak pernah berubah. Mungkin yang berubah adalah rumah tembok di belakangnya yang semakin berkilat saja. Yang istimewa, dan juga tidak pernah berubah adalah ketan putih pulut tulang dengan goreng pisang raja serta pilihan lain yaitu bubur samba dengan gulai cubadak. Seperti itu delapan belas tahun yang lalu, seperti itu juga sekarang.

Kesanalah kami pergi minum pagi. Pesananku, seperti biasanya teh telor dan bubur samba. Dan sesudah itu sebuah goreng pisang raja sebagai penutup. Dulu, ketika masih lebih muda, bubur samba ditambah dengan ketan goreng pisang aku sanggup menyelesaikan. Tapi sekarang sudah tidak sanggup lagi.

Kami meraun panik di sekitar Bukit Tinggi sesudah minum pagi. Sementara hari masih gelap dan hujan. Sesudah shalat zuhur kami kembali lagi pergi baralek ke Limbanang. Sedikit saja yang ingin aku komentari tentang perhelatan yang sedang 'in' di Ranah Minang, yaitu menghadirkan orgen tunggal. Orgen itu dihubungkan ke sistim pengeras suara yang entah berapa desibel ukuran kekerasannya, tapi yang pasti sangat memekakkan telinga. Suara orgen itu bahkan lebih keras pula dari suara orang yang berlagu sehingga apa yang dinyanyikan tidak dapat disimak. Baitu caronyo kini. Di sela-sela suara musik yang antahlah maaak itu, terdengar olehku ungkapan seorang tamu, bahwa di Padang Panjang orrgen tunggal itu sudah dilarang oleh Pemda. Aku berharap Pemda Sumatera Barat secara berjamaah akan melarangnya pula.

Sekalian untuk menghindar dari suara musik yang memekak telinga, kami minta izin kepada tuan rumah untuk pergi ke Koto Tinggi. Ini adalah kampung saudara sebapak istriku yang hari itu memestakan anaknya tersebut. Kami pergi ke sana dengan kakak perempuannya. Rumahnya di Koto Tinggi persis di hadapan lapangan pasar Koto Tinggi tempat terletaknya monumen PDRI. Baru sekali itu aku ke tempat ini.

Sesudah maghrib kami kembali ke Limbanang. Suasananya sudah sunyi dari suara orgen tunggal. Ternyata tetangga di sebelah tempat pesta itu sedang kemalangan. Ada anggota keluarganya yang meninggal. 'Syukurlah, ada alasan untuk menghentikan suara musik tadi,' kata istri kakak iparku. Rupanya dia juga terpaksa menghadirkan acara itu. Yang kalau tidak dihentikan, biasanya akan berlanjut sampai tengah malam. Dan konon, semakin larut semakin aneh-aneh tingkah polah baik yang menyanyi maupun yang menonton. Dan konon pula, pada saat yang sudah larut itu beredar bir dan sebangsanya yang bukan disediakan oleh tuan rumah.

Jam sepuluh malam kami kembali ke Bukit Tinggi. Adik ipar yang tinggal di Bukit Tinggi ikut ke mess, membawa ......... duren lagi. Duren yang lebih mantap dari yang kemarin. Aku sedikit lebih berani kali ini. Mencomot sampai lima butir.


***

Minggu, 27 Desember 2009

Pulang Kampung Lagi (2)

(2)

Kami sampai di Limbanang, di rumah calon anak daro, menjelang maghrib. Rumah ini memang sudah disiapkan untuk baralek. Sudah dihias dengan kain berwarna emas, berjumbai-jumbai. Kursi pelaminan untuk tempat duduk anak daro jo marapulai pun sudah disiapkan. Tapi baik anak daro maupun ibunya masih berpakaian rumahan. Ternyata akad nikah itu baru akan dilaksanakan nanti sesudah isya, bukan sesudah maghrib, begitu yang aku dengar.

Setelah berbasa basi sebentar dengan sanak saudara, lalu kami bersama-sama pergi menuju masjid untuk shalat maghrib.

Sesudah maghrib kami kembali terlibat dalam obrolan. Mehotar ke hilir ke mudik. Dan suasana terlihat masih santai-santai saja. Aku malas untuk bertanya. Sementara itu hujan turun meski tidak terlalu deras. Sudah berkumandang azan isya. (Aku sudah menjamak shalat ketika maghrib tadi). Dan beberapa saat pula berlalu sesudah itu. Masih tenang-tenang saja.

Jam sembilan malam baru terlihat kesibukan. Artinya sudah satu jam lebih sesudah waktu isya. Hujan masih turun. Beberapa buah mobil datang. Di antaranya mobil marapulai dan pengiring-pengiringnya. Tamu-tamu itu masuk ke dalam rumah. Rumah jadi penuh dengan rombongan tamu dan rombongan tuan rumah. Dengan si alek dan si pangka. Sudah akan dimulaikah prosesi akad nikah?

Ternyata bapak penghulu belum hadir. Salah satu dari yang hadir mengatakan bahwa beliau sedang dijemput. Bahkan sudah di perjalanan menuju rumah perhelatan. Perlu beberapa belas menit menunggu sampai pak penghulu akhirnya hadir. Lalu dimulailah acara itu sebagaimana lazimnya. Hari sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.

Ijab kabul itu akhirnya selesai dan disahkan oleh para saksi. Dengan sedikit perulangan karena baik marapulai maupun wali nikah sama-sama agak gugup pada awalnya. Sampai pulalah pada giliranku untuk menyampaikan nasihat pernikahan, sesuatu yang sudah diminta-tolongkan kakak ipar sejak jauh hari sebelumnya.

Selesai pula acara makan minum sekitar jam sebelas malam. Untungnya tidak memakai pasambahan yang berunyai-unyai. Tamu-tamu, berikut marapulai kembali pulang ke rumah masing-masing. Rupanya begitu pula adatnya, marapulai belum boleh menginap di rumah anak daro meskipun mereka baru saja disahkan sebagai suami istri.

Tinggallah sipangka. Karib kerabat sanak saudara. Ada pula acara yang sudah disiapkan mereka adik beradik. Pesta katan jo durian. Durian sedang musim. Sejak dari Sicincin - Kayutanam waktu baru sampai kemarin, sampai ke Bukit Tinggi, Payakumbuh, sepanjang jalan ke Limbanang durian terlihat bertumpuk-tumpuk di sepanjang jalan. Aku penyuka durian meski tidak termasuk yang kelas berat. Di tengah keluarga, aku kalah dibandingkan istri dan ketiga puteri-puteriku. Mereka adalah pencinta durian sejati. Malam itu aku membatasi diriku dengan dua biji durian saja. Yang segera jadi bulan-bulanan ketawaan. Aku khawatir kalau-kalau durian ini akan menyepak asam urat pula.

Sudah jam satu malam ketika kami meninggalkan Limbanang pada malam hari itu. Kami kembali ke penginapan di Bukit Tinggi. Besok adalah acara baralek di rumah ini, dan kami akan kembali lagi. Insya Allah.

***