Tampilkan postingan dengan label Cerita Penyakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Penyakit. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Juni 2020

Dari 75 Ke 57

Dari 75 Ke 57   

Sebelum bulan Maret 2019, sebelum aku jatuh sakit yang sempat dirawat inap selama seminggu, berat badanku adalah 75 kg. Berat yang aku rasakan cukup ideal. Waktu saat-saat terakhir bekerja di Total, di tahun 2007, berat badanku pernah mencapai 82 kg. Berat 82 kg itu terasa agak kegemukan untuk tubuhku dengan tinggi 170. Bagaimana bisa turun dari 82 ke 75? Dengan cara berhenti sarapan nasi plus telor matasapi di pagi hari, sarapan wajib ketika aku masih aktif bekerja.  

Lalu dari 75kg turun ke 57kg? Ya, itulah yang terjadi, hampir-hampir tanpa aku sadari. Sesudah sakit di bulan Maret 2019, aku diwajibkan dokter minum beberapa jenis obat, terutamanya obak untuk mengontrol tekanan darah, yang menurut dokter akan wajib aku konsumsi seumur hidup. Subhanallah. Aku terpaksa patuh.

Setelah beberapa bulan menggunakan obat-obat itu, terjadi sesuatu yang agak aneh. Mulutku atau lebih tepatnya lidahku selalu merasa pahit. Aku hampir tidak bisa merasakan enaknya makanan apapun. Jadi makan apapun harus dipaksakan. Alhamdulillah, bahwa tubuhku secara keseluruhan cukup sehat. Di sekitar bulan September 2019 aku menyadari bahwa berat badanku sekitar 62 kg. Pada awal-awal sesudah kembali dari rumah sakit aku harus shalat sambil duduk di kursi, tapi pelan-pelan bisa aku lakukan dengan cara shalat normal, meski ada bagian-bagian tertentu, seperti duduk di antara dua sujud tidak dapat kulakukan dengan sempurna.

Tidak ada nafsu makan itu berlangsung sampai akhir tahun 2019. Waktu itu berat tubuhku tinggal 57 kg. Meski agak terlambat, aku berkesimpulan bahwa obat-obat yang dianjurkan dokter rumah sakit dulu itulah penyebabnya. Obat pengontrol tekanan darah yang dari rumah sakit itu aku hentikan dan aku ganti dengan obat sejenis yang pernah dianjurkan dokter klinik Total waktu aku masih bekerja dulu. Alhamdulillah obat pengganti ini sama efektif mengontrol tekanan darah. Dan bersyukur sekali, lidah pahit sedikit-sedikit mulai berkurang dan aku bisa merasakan enaknya makanan dengan lebih baik. 

Sekarang, sudah enam bulan di tahun 2020, selera makanku sudah boleh dikatakan normal. Tapi porsi makan jadi relatif lebih sedikit. Dan berat badanku hampir tidak beranjak dari 57 kg. Sebelum bulan puasa pernah sudah agak naik ke 59 kg tapi sesudah puasa kembali turun ke 57. 

Turunnya berat badan dari 75 ke 57 pastinya merubah postur tubuhku menjadi kurus. Tidak ada satupun celanaku yang enak dipakai. Semua longgar dan kedodoran. 

****            

Rabu, 18 September 2019

Musibah

Musibah.....

Begini sebuah musibah yang terjadi lebih kurang enam bulan yang lalu.

Berawal dengan lutut keseleo karena salah gerak di suatu siang, waktu mengeluarkan mobil dari garasi, lalu akan keluar dari mobil tersebut. Sebuah gerakan salah sedemikian rupa yang menjadikan lutut kanan terasa nyeri. Tidak terlalu serius mulanya, tapi Allah menetapkan, semakin serius sejak waktu maghrib. Dicoba menggosok dan mengurutnya dengan balsem, subhanallah... malahan semakin bertambah nyeri. Waktu subuh berikutnya bahkan tidak mampu turun dari tempat tidur. Seharian itu tergeletak di tempat tidur. Begitu ketetapan Allah.

Atas saran seorang teman dari istri dibawa berobat ke seorang tabib di Bekasi. Oleh tabib itu diurut dan dibekali obat berupa kapsul untuk dimakan dan minyak urut. Menurut sang tabib penyakit itu ada hubungannya dengan kadar asam urat yang sedang tinggi. Dengan izin Allah pengobatannya lumayan manjur. Sore itu kaki sudah bisa dibawa berjalan meski masih tertatih-tatih. Obat kapsul yang diberikannya itupun diminum sesuai petunjuknya. 

Di hari ketiga sekembali dari tabib itu ada gangguan tidak bisa tidur. Semalam suntuk mata tidak bisa terlelap. Tapi kondisi badan di waktu subuh biasa-biasa saja. Masih sanggup berjalan ke mesjid. Kondisi tidak bisa tidur ini berlanjut dan disyak-i penyebabnya adalah kapsul dari sang tabib. Jadi dihentikan mengkonsumsinya dan alhamdulillah jadi bisa tidur malam harinya. Karena penasaran, di hari ketujuh sejak kunjungan pertama didatangi lagi tabib itu. Dia mengatakan ternyata obat yang diberikannya terlalu keras jadi digantinya, katanya dengan yang lebih ringan. Katanya pula isi kapsul itu adalah serbuk kunyit putih dan herbal lain, obat untuk asam urat. 

Diminum pulalah obat pengganti itu. Ternyata reaksinya sama, tidak bisa tidur malam. Segera pula dihentikan meminumnya. Meski sudah dihentikan malam berikutnya tetap tidak bisa tidur. Dan di ujung malam itu terjadi musibah.

Dalam kondisi tidak bisa tidur itu jam dua belas pergi ke kamar kecil. Tidak ada masalah. Jam dua pergi lagi ke kamar kecil, juga tidak ada masalah. Dalam keadaan tidak bisa tidur itu biasanya otak saya bawa untuk mengaji, berzikir, atau kadang-kadang menerawang ke masa lalu. Jam setengah empat kurang, sebelum alarem Hape berbunyi, kaki kiri saya keram. Biasanya kalau keram saya bangun dan berdiri, menekan  dengan kaki yang keram itu. Apa yang terjadi, kaki kiri terasa sangat lemah dan tidak berdaya. Saya bangunkan istri. Dia membantu memapah ke kamar mandi. Saya baru sadar bahwa tangan kiri saya terasa lemah, meski baik kaki kiri maupun tangan kiri itu masih bisa digerakkan. 

Kami bangunkan si Bungsu untuk shalat subuh.  Si Bungsu mengamati muka saya dan menyuruh tersenyum. Saya mengerti maksudnya. Alhamdulillah mulut saya normal-normal saja. Saya berharap kondisi lemah itu hanya untuk sementara.

Sesudah shalat subuh (saya shalat di tempat tidur) kami berdiskusi untuk pergi ke dokter. Ada beberapa pendapat tapi saya memilih untuk dibawa ke rumah sakit PON di Cawang.

Alhamdulillah, pelayanan di rumah sakit itu sangat baik. Tensi saya diukur, subhanallah, 200 per 100. Saya dicitiscan dan disimpulkan kena stroke ringan dengan pendarahan kecil di otak. Saya dirawat selama delapan hari di rumah sakit itu. Selama di rumah sakit kaki kiri saya tetap lemah tidak berdaya. Di hari ke sembilan saya dibolehkan pulang. Anak saya membelikan tongkat berkaki empat dan kursi roda.  Saya berlatih berjalan menggunakan tongkat. Setelah dua minggu kaki sudah lebih kuat dan saya berjalan dibantu dengan tongkat satu. Saya coba berjalan ke mesjid yang memang tidak terlalu jauh. Shalat saya lakukan dengan duduk di kursi. Keadaan seperti itu berlangsung cukup lama. Sejak sekitar sebulan yang lalu saya coba shalat biasa tapi duduk di antara dua sujud tidak bisa sempurna. 

Berjalan bisa, tapi terasa berat di kedua lutut. Bahkan sampai sekarang. Dokter yang merawat di rumah sakit PON dulu mengatakan, mudah-mudahan saya bisa sembuh hanya akan memerlukan waktu agak lama. Mudah-mudahan Allah memberikan kesembuhan itu. aamiin.

Senin, 30 April 2018

Terkapar Di Perjalanan

Terkapar Di Perjalanan   

Ada undangan dari seorang sahabat yang sekarang jadi pengusaha di Tawangmangu Solo untuk reunian. Yang ini bukan reunian sekolahan tetapi kumpul-kumpul mantan pengurus sebuah Yayasan puluhan tahun yang lalu. Untuk memperjelas cerita, di awal tahun sembilan puluhan kami mendirikan sebuah yayasan dakwah di Balikpapan. Kami adalah karyawan perusahaan-perusahaan (terutamanya perusahaan Total, Unocal, Vico, Pertamina) serta beberapa orang ustadz mendirikan yayasan tersebut untuk mendakwahi masyarakat di lokasi-lokasi transmigrasi di sekitar Balikpapan. Banyak kegiatan kami waktu itu.

Yayasan itu masih ada sampai sekarang. Kami mantan  pengurusnya (apalagi yang tidak tinggal di Balikpapan) sudah tidak banyak mengetahui keberadaannya lagi. Nah, reuni yang diadakan di Tawangmangu adalah untuk membahas keberadaannya tersebut.

Undangan dari tuan rumah (mantan karyawan Vico) sudah disampaikan sekitar dua bulan yang lalu. Pertemuan itu dijadwalkan akan dimulai tanggal 27 April.

Kebetulan anak kami si Tengah ada acara mengikuti suaminya yang sedang dinas ke Jogya sejak tanggal 24 April. Dia mengajak mampir ke Jogya sebelum ke Solo biar bisa bertemu Hamizan dan Fathimah. Dan ajakan ini langsung kami terima. Perjalanan pun di atur sedemikian rupa. Berangkat dari Jatibening hari Rabu tanggal 25, di Jogya bersama anak, mantu dan cucu sampai hari Jum'at, seterusnya hari Jumat dilanjutkan ke Tawangmangu. Begitu rencananya.

Berangkat dari rumah hari Rabu siang hampir tidak ada masalah. Memang kaki kananku agak bengkak, tapi bisa berjalan normal. Sampai di Jogya tiba-tiba saja kaki itu terasa berat. Berjalan jadi tertatih-tatih. Waktu shalat maghrib berdua dengan Izan, kaki itu terasa sangat nyeri. Izan terheran-heran melihat aku tidak bisa melipat kaki dengan benar waktu duduk di antara dua sujud. Agak aneh datangnya gangguan seperti ini, karena aku yakin tidak ada salah-salah makan. 

Malam itu kami pergi mengunjungi adik ipar yang anak-anaknya tinggal di Jogya. Selama kami bertamu di rumahnya, kakiku terasa makin sakit. Pulang ke penginapan naik ke tempat tidur untuk kemudian terkapar. Aku sangat kesakitan dan berjalan dengan sangat susah ke kamar kecil yang hanya 4 - 5 langkah saja dari tempat tidur. Repotnya lagi, setiap dua jam sekali aku harus bolak balik ke kamar kecil untuk buang air kecil, yang terpaksa dibantu istriku.

Hari Kamis pagi aku semakin tak berdaya rasanya. Untung ada kemenakan, suami istri dokter yang tinggal di Jogya, datang ke hotel melihat keadaanku pagi itu. Aku diberi obat. Menjelang siang keadaanku agak membaik. Sudah bisa melangkah ke kamar kecil dengan lebih santai. 

Akhirnya aku putuskan untuk membatalkan melanjutkan perjalanan ke Tawangmangu. Sayang sekali memang, karena tujuan utama kami justru menghadiri pertemuan di sana. Soalnya aku khawatir jika keadaan yang sama terulang, kalau aku melanjutkan perjalanan dua tiga jam dengan mobil. 

Rencana pulang melalui Solo di hari Ahad dimajukan menjadi hari Sabtu dari Jogya. Alhamdulillah, menjelang maghrib hari Sabtu itu kami sampai di Jatibening. 

****
             

Minggu, 29 Januari 2017

Sakit Gigi

Sakit Gigi

Ketetapan Allah, gigi-gigiku kurang teratur tumbuhnya. Tapi dengan izin Allah di tengah keluarga (istri dan anak-anak, bahkan dengan saudara-saudara) aku yang paling jarang sakit gigi. 'Penyakit' gigiku umumnya adalah karang gigi. Secara berkala aku mendatangi dokter gigi untuk membersihkan karang gigi. Biasanya sekali dua tahun. Tapi akhir-akhir ini jadwalnya agak molor. Sudah lebih tiga tahun sejak terakhir kali aku mendatangi dokter gigi untuk membersihkan karang gigi.

Beberapa bulan yang lalu gusiku sakit. Bengkak dan ngilu ketika mengunyah. Atas saran si Tengah (yang dokter gigi) aku pergi mengunjungi sejawatnya yang praktek di daerah Bekasi. Karang gigi dibersihkannya. Menurut dokter ini, gusi yang bengkak boleh jadi disebabkan gigi yang sedang 'sakit' (meski tidak ada bolong). Dia membersihkan bagian yang bengkak dan mengeluarkan nanahnya.  Sang dokter ini khawatir bahwa saraf gigi tersebut sudah mati. Aku disuruhnya merontgen mulut untuk mengamati gigi 'sakit' itu lebih seksama. Seandainya terbukti nanti bahwa sarafnya mati, maka akan dilakukan pekerjaan khusus, menanamkan sejenis logam di gigi yang bermasalah itu.

Aku pergi membuat foto rontgen. Sang dokter berpesan agar meminta lab tempat rontgen itu mengirimkan hasil fotonya via email. Dan disanggupi pula oleh petugas di lab rontgen. Dan dokter berjanji akan menghubungiku kalau sudah melihat foto rontgen.

Gusi yang sebelumnya bengkak kembali lagi bengkak sementara dokter gigi tidak memberi obat apapun. Gigi dengan gusi bengkak itu tetap terasa ngilu. Lalu aku bereksperimen sendiri. Menggunakan minyak tawon. Minyak tawon biasanya sangat ampuh untuk menyembuhkan bisul atau luka memar bekas terantuk. Sebuah percobaan nekad saja dengan harapan menghilangkan rasa sakit dan ngilu. Alhamdulillah, ternyata manjur. Setelah beberapa kali mengoleskan minyak tawon di gusi yang bengkak tadi, bengkaknya hilang begitu pula dengan rasa ngilu.  

Sudah seminggu sejak kunjungan ke dokter gigi di Bekasi, tidak ada berita apa-apa darinya. Akhirnya aku yang menelponnya. Ternyata dia tidak menerima kiriman foto rontgen melalui email. Dan dia bertanya bagaimana keadaan gigiku saat itu. Aku jawab bahwa alhamdulillah sudah baik. Gusinya sudah sembuh? tanyanya pula dan aku jawab, sudah, tanpa menceritakan bahwa aku menggunakan minyak tawon 

Beberapa hari kemudian aku ngobrol via skype dengan si Tengah. Dia mengatakan bahwa yang aku lakukan adalah sesuatu yang salah. Minyak tawon itu obat luar, tidak boleh digunakan di mulut, begitu katanya. Aku bilang buktinya dengan izin Allah sembuh. Tapi, katanya tetap saja itu salah. Ada resiko nanti gusinya mendapat masalah lain, karena gusi tidak sama dengan kulit luar dan tidak semestinya diolesi minyak tawon.  Aku malas berbantah-bantahan dengannya. Tapi dalam hatiku, yodium (obat luka) yang biasanya dipakai untuk luka di kulit digunakan pula oleh dokter gigi di gusi yang berdarah ketika mencabut gigi.  

Karena agak khawatir juga dengan apa yang dikatakan si Tengah, akhirnya aku coba cek apa saja kandungan minyak tawon. Ternyata minyak tawon itu terbuat dari bahan tumbuh-tumbuhan seperti minyak kayu putih, minyak kelapa, cengkeh dan lada. Kekhawatiranku hilang.   

****   

Jumat, 23 Desember 2016

Cerita Tentang Obat Alternatif

Cerita Tentang Obat Alternatif  

Melalui media FB ataupun WA ataupun media lain tempat berbagi informasi, sangat banyak berseliweran cerita tentang obat alternatif. Meski sepertinya sebagian besar dari cerita atau berita itu merupakan copy/paste dari sumber lain. Banyak sekali jenisnya dan untuk berbagai macam penyakit. Seperti obat sakit gula (diabetes), asam urat, gangguan ginjal, bahkan berbagai jenis kanker. Rata-rata bercerita tentang obat yang sangat manjur yang mampu menyembuhkan penyakit dalam waktu sangat singkat. Biasanya pula obat-obat seperti ini berbahan dasar tumbuh-tumbuhan atau buah-buahan.

Sejauh mana keampuhannya? Wallahu a'lam. Akupun pernah tergoda untuk mencobanya. Aku mengidap penyakit asam urat sudah sejak lama. Ada yang menginformasikan obat asam urat dengan nenas + lobak cina diblender dan diminum airnya.Ternyata tidak berpengaruh apa-apa.  Lalu ada yang berkomentar bahwa obat itu memang cocok-cocokan. Untuk sebagian orang dia manjur tapi tidak untuk sebagian yang lain. Ada teman lain yang mencoba obat yang sama ternyata malahan terganggu oleh kambuhnya sakit mag akibat meminum air nenas itu. 

Aku biasa mencoba obat-obat alternatif untuk penyakit asam uratku karena obat dokter memberikan efek samping. Meminum obat dokter (alupurinol) selama tiga hari berturut-turut menyebabkan timbul sariawan sangat serius di mulut. Asam uratnya tidak teratasi, penyakit lain muncul.

Seorang teman (dokter) memberi nasihat untuk tetap berhati-hati dalam mencoba obat-obat alternatif itu karena biasanya belum ada bukti ilmiah tentang kemanjurannya. Nasihat ini mungkin cukup bijak. Aku setuju sekali dengan nasihat ini. 

Terakhir aku membaca postingan seseorang di WA tentang pernyataan seorang dokter yang mengobati penyakit gulanya dengan meminum minyak zaitun. Menurut cerita tersebut dia berhasil menurunkan kadar gula darahnya dengan meminum 2 sendok makan minyak zaitun selama tiga hari berturut-turut.

Kita tentu sangat boleh berikhtiar mencoba obat dalam mengatasi penyakit. Karena setiap penyakit telah Allah sediakan obatnya. Namun perlu kita ingat bahwa obat hanyalah sekedar usaha untuk mencari kesembuhan sementara kesembuhan itu sendiri ada di tangan Allah Yang Maha Kuasa. 


****
                             

Selasa, 14 Juni 2016

Kesejukan Beribadah Berbuah Sakit

Kesejukan Beribadah Berbuah Sakit  

Mesjid mungil di komplek perumahan kami senantiasa diperbaiki kondisinya sedikit demi sedikit. Semangat membuat perbaikan ini lebih kentara sesudah pergantian pengurus mesjid. Sesuatu yang sangat positif, karena pengurus baru berusaha untuk melakukan perbaikan apa saja untuk kenyamanan jamaah beribadah di mesjid ini. Akhir tahun 2015 yang lalu kami mempunyai susunan pengurus baru. Gebrakan pengurus baru adalah merenovasi bagian mesjid dan memasang AC. Alhamdulillah, persis sebelum memasuki bulan Ramadhan, pemasangan AC sudah terlaksana.

Jamaah mesjid tentu saja merasa senang dengan udara sejuk di saat shalat. Namun ada sedikit masalah. Yang bertanggung jawab dengan pemasangan AC menginginkan temperatur ruang tertentu. Inipun sah-sah saja. Hanya tiupan angin AC itu dibiarkan menukik ke bawah. Bagiku, kondisi seperti ini adalah sebuah petaka. Aku sangat tidak tahan dengan angin dingin tiupan AC yang tertuju ke bagian badan. Biasanya aku akan segera masuk angin. Aku minta agar pengaturan arah angin AC dirubah, tidak meniup ke bawah. Entah kenapa, atau mungkin karena sedang berbahagia dengan alat penyejuk udara baru, setiap kali dicoba merubah arah tiupan angin, ada saja tangan lain yang mengembalikan ke posisi semula.

Tiupan angin itu tidak begitu terasa waktu kami shalat. Tapi kebalikannya sangat terasa ketika kami melakukan tadarus setelah shalat tarawih, duduk melingkar di bagian tengah mesjid. Untuk mengatasinya aku menutupi muka dengan kain sorban. Sampai hari kelima tadarus tidak begitu terasa pengaruhnya. Tapi hari Sabtu pagi tiba-tiba terasa tidak nyaman di dada sebelah kanan dan punggung sebelah kanan. Memang begitulah biasanya. Aku sudah 'masuk angin'. Rasa sakit itu semakin bertambah sepanjang hari Sabtu. Terasa menyesak dan nyeri ketika sedang rukuk dan sujud. Shalat maghrib aku masih berusaha hadir ke mesjid. Berbuka hanya sanggup menghabiskan empat sendok nasi. Badan rasanya sangat tidak nyaman dan mual. Waktu isya sudah tidak sanggup lagi ke mesjid. 

Hari Minggu pagi aku dipijit oleh si Sulung di punggung dan di dada yang sakit itu. Tapi ternyata, dalam kondisi lemah seperti ini timbul pula penyakit lain. Bekas pijitan itu makin senut-senut. Yang ini adalah gejala asam urat sedang kumat. Bukan hanya punggung dan dada yang nyeri, tapi juga kedua kaki dan jari kelingking tangan kanan. Ini sangat jelas bagiku sebagai pertanda asam urat.  

Begitu rupanya ketentuan Allah. Aku yang memang tidak bernafsu makan (tapi masih tetap puasa) minta dibuatkan sop sayuran saja untuk sahur dan berbuka. Alhamdulillah, hari ini Selasa, kondisiku sudah semakin baik. Mudah-mudahan Allah menyembuhkan penyakit ini dan mudah-mudahan aku dapat melanjutkan ibadah Ramadhan ini sampai ke penghujungnya. Aamiin....

****                                       

Sabtu, 09 Agustus 2014

Serba-serbi Selama Perawatan

Serba-serbi Selama Perawatan

Setelah terkapar sakit beberapa hari, si Tengah yang sedang di rumah sebelum keberangkatannya, sudah nyinyir menyuruh ke dokter. Dia (yang dokter gigi) bersikukuh mengatakan tidak ada istilah masuk angin secara medis. Artinya ada sesuatu yang tidak beres dan itu hanya mungkin dianalisa oleh dokter, katanya. Dengan (masih) bergurau, saat itu aku jawab bahwa sudah tidak ada dokter yang praktek karena semua bersiap-siap menyambut lebaran.  

Akhirnya, setelah masalah jadi lebih serius karena tidak bisa buang air kecil, aku terpaksa menyerah dibawa ke Rumah Sakit. Pada hari kedua datang ke Rumah Sakit, si Sulung yang ikut menemani dan mendengar penjelasan dokter memberitahuku, bahwa aku harus menjalani cuci darah. Reaksi pertamaku tentu saja kaget. Aku tidak tahu apa persisnya yang disebut cuci darah, tapi aku pernah mendengar bahwa cara pengobatan seperti ini berlangsung selama sisa hidup orang yang menjalaninya. Minimal harus cuci darah sekali seminggu. Kalau aku juga dihadapkan pada kondisi seperti itu betapa akan sangat beratnya bagiku.

Rumah Sakit Harum tidak punya fasilitas lebih untuk operasional cuci darah. Alat mereka yang terbatas semuanya sudah fully booked. Aku dianjurkan mencari Rumah Sakit lain. Si Bungsu sibuk menghubungi beberapa RS lain dan akhirnya menemukan Mitra Keluarga Bekasi Timur. Penerimaan staff mereka menyenangkan dan penuh perhatian. Alhamdulillah. Dokter ahli penyakit dalam yang bertanggung jawab untuk cuci darah datang menemuiku menerangkan proses yang harus dijalani. Dia seorang Chinese di usia sekitar pertengahan empat puluhan. Sangat ramah dan baik. Di antara penjelasan yang diberikannya, bahwa untuk proses cuci darah diperlukan pengencer darah. Pengencer darah yang biasa digunakan di Rumah Sakit tersebut terdiri dari unsur babi, Heparin namanya. Dia menanyakan pendapatku. Reaksiku spontan, aku tidak mau menggunakan zat itu. Baik, katanya. Alternatifnya adalah Aristra, yang mereka tidak punya pengalaman memakainya dan harganya jauh lebih mahal. Aku katakan, bahwa aku mau menggunakan yang terakhir ini saja.

Sebelum proses cuci darah mereka menanamkan alat (pipa plastik) di leherku. Aku dibius waktu mereka mengerjakannya. Kemudian, setelah dokter menyatakan proses cuci darah sudah dianggap selesai, dan alat tersebut dicabut, baru aku tahu bahwa yang ditanamkan di leherku itu adalah pipa plastik masif, sepanjang 12 senti dengan diameter 4mm. Pastinya mereka yang memasang alat itu adalah orang-orang yang ahli. Aku terheran-heran melihat bagaimana benda sebesar itu ditanamkan tanpa aku merasa sakit yang berarti. 

Proses cuci darah pertama dijalani dengan aman. Waktunya 4 jam. Tidak ada rasa sakit. Waktu yang panjang itu aku lalui sambil tidur, mungkin akibat pengaruh obat bius yang digunakan sebelum pemasangan alat di leherku itu.  

Besoknya aku menjalani cuci darah kedua. Ternyata terjadi beberapa gangguan. Darah yang disedot keluar ternyata beku. Aku dengar lamat-lamat, ini karena tidak menggunakan pengencer Heparin (unsur babi). Suster petugas bekerja keras untuk mengatasinya. Akhirnya mereka meminta Aristra tambahan (dua lagi). Harga Arista hampir Rp 500 ribu sementara Heparin hanya Rp 65 ribu dan cukup untuk dipakai beberapa orang. Istriku bertanya apakah dengan memakai Aristra pekerjaan itu bisa diselesaikan (meski lama)? Kata suster bisa. Jawab istriku, kalau begitu tolong diteruskan saja. 

Pagi-pagi di hari kedua di rumah sakit, sesudah aku shalat subuh dengan sebelumnya bertayamum, perawat menawarkan apakah aku mau dimandikan (dilap). Aku bilang mau, tapi tolong panggilkan istriku. Kata petugas istri bapak tidak boleh masuk ruangan ini kecuali nanti jam 10 siang.  Aku akhirnya dibersihkan oleh perawat, meski aku merasa sangat risi. Aku tanyakan apakah aku bisa diantarkan ke toilet untuk BAB. Kata suster tidak bisa. Di ruang khusus itu tidak ada toilet. Jadi kalau aku mau BAB harus menggunakan pispot atau langsung saja karena aku memakai pamper. Hari itu aku tidak melakukannya. Besoknya dengan sedikit memaksa, setelah istriku hadir di ruangan itu, mereka membawaku ke toilet khusus untuk karyawan. Alhamdulillah, di sana aku bisa membuang hajat.

Hari ketiga, sesudah cuci darah kedua dan pemeriksaan rontgen untuk memeriksa ginjal, dokter ahli ginjal berkesimpulan (sementara) tidak ada yang salah dengan ginjal. Dia yang tadinya memberitahuku akan langsung melakukan tindakan operasi seandainya dia menemukan masalah di ginjal menjelaskan lagi bahwa tidak ada operasi yang perlu dia lakukan.  

Hari kelima aku diizinkan pulang untuk kembali lagi hari Selasa berikutnya untuk cuci darah keempat. Terjadi keanehan, di rumah, pada hari Ahad sehari sesudah pulang aku tiba-tiba bisa buang air kecil dengan lancar dan normal. Begitu juga di hari raya (hari Senin). Tapi tiba-tiba macet lagi di hari Selasa. Hari Selasa aku jalani cuci darah ke empat. Kali ini suster yang mengurus pekerjaan itu kembali menghadapi masalah, dengan darah yang menurut dia beku. Berkali-kali diusahakannya mengatasi kebuntuan, namun darah tetap tidak bisa keluar. Mungkin karena dia tahu aku tidak akan mau menerima penggunaan Heparin, dia akhirnya mengusulkan solusi untuk membuat saluran baru melalui vena di dekat pergelangan tangan. Aku bilang silahkan saja. Percobaan pertama gagal pula. Baru pada percobaan kedua usaha itu berhasil. Menurut istriku dia bergidik melihat ukuran jarum yang digunakan. Aku tidak merasa sakit karena dibius lokal sebelumnya. 

Dari hasil test darah sebelum proses cuci darah, ditemukan bahwa kreatinin dan ureum dalam darah kembali tinggi. Dokter menduga bahwa aku menggunakan obat lain, yang aku akui demikian. Dokter memperingatkan agar sementara jangan menggunakan obat lain karena menurut dia, obat-obat itu saling bereaksi dan membiarkan penyakit tidak terobati. 

Cuci darah berikutnya adalah hari Jumat, tiga hari kemudian. Aku telah menghentikan penggunaan obat herbal, dan alhamdulillah sejak hari Rabu sesudah cuci darah keempat sudah bisa lagi buang air kecil. Waktu aku tertidur selama proses itu, tiba-tiba aku dibangunkan suster memberitahu bahwa dokter ingin berbicara kepadaku. Dokter itu sudah ada di sisi tempat tidur. Wajahnya ceria. Dia bilang, hasil test hari ini bagus sekali. Akupun bercerita bahwa sejak hari Rabu aku sudah bisa buang air kecil dengan lancar. Ini mu'jizat namanya, katanya. Setelah hasil lab hari Selasa yang lalu, dia jadi agak pesimis  dan memesan media yang harus ditanam di lengan yang digunakan pelanggan cuci darah abadi. Tapi dari hasil hari ini, pesanan itu saya batalkan katanya. Dia berpesan agar pada kunjungan tiga hari berikutnya, cukup melakukan pemeriksaan darah saja dan langsung ke tempat prakteknya. Setelah itu akan dijelaskannya apa yang harus dilakukan.

Hari Senin awal pekan ini aku lakukan seperti yang disarankannya. Periksa darah di lab, lalu dengan hasilnya menemui dokter tersebut di ruang prakteknya. Keputusannya hari itu tidak usah cuci darah. Tapi dia minta agar datang tiga hari lagi untuk test darah lagi. Kalau hasilnya masih sama (meski sebenarnya sedikit di atas ambang batas, menurut dia) baru alat yang ditanam di leher itu bisa dicabut.

Hari Kamis aku datang lagi. Test darah lagi. Dan hasilnya, dokter mengizinkan agar 'insang' yang dicantelkan di leherku boleh dilepas. Alhamdulillah.....

****  

Rabu, 06 Agustus 2014

Bagaimana Kabar Itu Menyebar

Bagaimana Kabar Itu Menyebar  

Ketika aku di puncak penyakit, terbaring di kamar khusus di rumah sakit, tidak atau belum sempat memberi kabar kepada famili-famili dekat tentang keadaanku waktu itu, kecuali adik-adikku yang memang tahu bahwa aku sakit sejak beberapa hari sebelumnya. Karena setidak-tidaknya tentu perlu juga ada di antara sanak saudara yang mengetahuinya. Bukankah 'kaba baiak dihimbaukan, kaba buruak dihambaukan'. Karena istri dan si Bungsu, yang benar-benar berhabis tenaga mengurusku, terlalu sibuk untuk itu. Tidak sempat memberi tahu siapa-siapa.

Pada suatu saat, hapeku yang disimpan istri berdering. Ternyata dari seorang sahabat, teman sekantor dulu. Hubungan kekeluargaan kami sangat dekat. Dalam kesehari-harian kami sering juga menggunakan bahasa canda. Si teman ini mengatakan ingin berbicara denganku. Terjadilah dialog yang lebih kurang sebagai berikut:

- Mbak boleh aku berbicara dengan mas D?

+ Oh ya.... dia lagi di dalam tu.

- Di dalam? Di dalam mana?

+ Di ruangan....

- Lagi ngapain? Di ruangan mana?

+ Di ruangan ICU.... (ruang intermediate di rumah sakit itu biasa juga di sebut semi ICU).

Setelah itu pembicaraan mereka berubah jadi lebih serius. 

Dari sahabat ini, berita bahwa aku sakit menyebar dengan sangat cepat. Ada yang melalui Facebook dan media lainnya. Seorang sahabat lain di RantauNet mengirim pesan WA, menanyakan keabsahan berita bahwa aku sakit. Dia diberitahu oleh teman sekerja di Balikpapan dulu. Beliau berdua ini waktu itu sedang i'tikaf di sebuah mesjid di Bogor. Ada beberapa teman RantauNet yang mengirim sms pula menanyakan keadaanku.

Beberapa teman sekantor (Total) datang menengokku ke Rumah Sakit. Salah satunya rekan sekantor sampai tahun 1983 (dia pindah ke perusahaan lain setelah itu). Ada pula yang datang setelah aku pulang ke rumah.

Subhanallah.... aku mendapat kiriman doa dari banyak teman dan sahabat. Mudah-mudahan Allah Ta'ala mengabulkan doa-doa kami. Indahnya persaudaraan ini.

****
        

Senin, 04 Agustus 2014

Misteri Dan Rahasia Allah Dalam Penyakit

Misteri Dan Rahasia Allah Dalam Penyakit   

Disambung cerita tentang perjalanan penyakit yang aku derita sejak sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan yang lalu. Pulang dari Rumah Sakit hari Sabtu dua hari sebelum Hari Raya, akhirnya bisa buang air kecil hari Ahad, hari Ramadhan terakhir. Buang air kecil dalam jumlah banyak yang sebagiannya mungkin pengaruh dari obat (lassic?). Hari Senin masih dalam keadaan lumayan baik, bahkan ikut ke lapangan (dengan didorong di atas kursi roda) untuk shalat Aidil Fithri.

Hari Selasa timbul lagi masalah. Buang air kecil masih ada tapi dalam jumlah yang sangat sedikit untuk kemudian tidak ada sama sekali. Ada sedikit kekhawatiran di dadaku. Pertanda apa ini? Kenapa dia macet lagi? Karena logika awamku yang sederhana mengatakan kalau buang air kecil sudah bisa, berarti ginjalku masih berfungsi. Tapi kalau dia mampet begini lagi apa masalah sebenarnya? Yang dokter ahlipun sementara tidak yakin tentang masalah tersebut. 

Hari Selasa itu adalah hari untuk cuci darah keempat. Kami berangkat ke rumah sakit menjelang siang. Proses cuci darahnya dimulai sekitar jam satu siang. Proses yang ternyata tidak terlalu lancar. Salah satu slang yang mengalirkan darah keluar berkali-kali mampet dikarenakan darah beku menyumbat aliran tersebut. Suster yang mengoperasikan mesin pencuci darah itu bekerja keras mencoba mengatasi 'kebekuan' itu. Akhirnya dia menyerah dan menawarkan solusi kepadaku dengan membuat aliran baru melalui vena yang ditusuk di dekat pergelangan. Menurut istriku jarum penusuknya luar biasa besar. Itulah jalan keluarnya. Alhamdulillah proses cuci darah dapat dilanjutkan.

Dari pemeriksaan sebelum proses cuci darah ada hasil yang tidak bagus dan dirahasiakan sementara kepadaku. Waktu aku bertanya dalam perjalanan pulang istri dan anakku mengatakan, nanti saja kita diskusikan di rumah. Aku langsung faham bahwa ada yang tidak beres. Ternyata terjadi diskusi antara si Bungsu dan dokter tentang obat-obatan yang aku gunakan. Rupanya dokter curiga bahwa aku menggunakan obat lain selain yang diberikannya. Adalah benar, aku meminum pula habatussaudah atas saran anakku yang paling tua (saran temannya pula). Dokter memperkirakan bahwa obat-obatan jadi tidak efektif karena saling bereaksi. Akibatnya kandungan kreatinin dan ureum dalam darah kembali seperti sebelum cuci darah yang pertama. Istri dan anakku meminta agar aku menghentikan dulu penggunaan obat lain itu dan aku setuju.

Urusan buang air kecil sejak hari Selasa itu tetap tidak lancar. Bahkan sampai kembali dari rumah sakit dan sampai hari Rabu subuh. Tidak seratus persen mampet tapi jumlahnya terlalu sedikit dari normal.  

Sesudah shalat subuh hari Rabu itu aku berbaring dan merenung. Dan berdoa kepada Allah memohon kesembuhan dari penyakit ini. Diawali dengan membaca beberapa ayat-ayat suci Allah sambil memegang bagian perutku. Subhanallah....... Allah mengijabah doa itu. Aku merasakan seolah-olah ada yang 'berdenting' di bagian perut yag aku pegang itu. Beberapa puluh detik kemudian aku merasa ingin buang air kecil. Aku bergegas ke kamar kecil. Ada desakan cukup keras tapi air seni belum keluar. Menunggu beberapa detik lagi sampai akhirnya gumpalan darah mengalir keluar diikuti oleh cairan air seni. Semua ditampung di gelas ukur atas saran dokter untuk mengetahui volumenya. Cairan itu berwarna merah dan ada yang berwarna merah pekat.

Aku bangunkan istriku dan memberitahunya bahwa aku baru saja buang air kecil bercampur darah. Dia ke kamar mandi untuk mengamatinya. Cairan merah pekat itu lebih berbentuk jelly, katanya. 

Aku buang air kecil setiap sepuluh menit sesudah itu. Yang pertama tadi itu jadi 6 kurang 10 menit. Sampai jam 8.30 aku buang air kecil sampai 8 kali dengan volume bervariasi antara 150 cc sampai 200 cc. Warnanya makin lama makin 'normal', tidak lagi berwarna darah.

Ya Allah.... mudah-mudahan ini pertanda baik. 

Semua berjalan lancar. Hari Jum'at aku kembali dijadwal untuk cuci darah. Diawali dengan pemerikasaan seperti sebelumnya. Kali ini dokter yang merawat datang khusus ke tempat aku menjalani cuci darah itu, memberi tahu bahwa hasil pemeriksaan darah sangat menggembirakan. Aku bercerita tentang kelancaran buang air kecil. Kita akan check lagi hari Senin, katanya. Kalau kondisi bapak bisa lebih baik dari hari ini, maka cuci darah ini kita hentikan sampai disini. Subhanallah...... aku penuh harap.

Hari Senin kemarin aku ke rumah sakit lagi. Melakukan pemeriksaan darah. Hasilnya kreatinin dan ureum masih sedikit diatas batas normal. Dokter mengatakan tidak perlu cuci darah kemarin itu tapi akan menunggu lagi perkembangannya sampai hari Kamis. Seandainya hari Kamis kondisinya masih tetap seperti itu, maka alat plastik seperti insang di leher kananku ini akan dilepas. Ya Allah.... betapa hamba penuh harap akan pertolongan-Mu........

*****                                     

Senin, 28 Juli 2014

Sakit Di Dalam Ramadhan 1435H

Sakit Di Dalam Ramadhan 1435H

Di awal Ramadhan yang lalu, ada sedikit gairah berlebih untuk menjalani ibadah tahun ini dengan lebih baik mengingat aku sekarang bukan pekerja. Hari-hariku adalah hari-hari santai. Aku seharusnya bisa lebih berkonsentrasi untuk beribadah, karena tidak ada rutinitas harus berkendaraan pagi-pagi ke tempat kerja, tidak ada kelelahan dan rasa kantuk di sore hari menuju pulang.

Dan gairah itu sempat menyapa, apa tidak sebaiknya menamatkan bacaan al Quran sendiri untuk Ramadhan tahun ini lebih ditingkatkan, misalnya dengan menamatkannya dua kali, atau kalau tidak lebih banyak juga membaca makna ayat-ayat tersebut di kitab tafsirnya. Ternyata ada juga sedikit godaan untuk tidak jadi memilih satu di antara dua itu, yakni bermain-main dengan cucu. 

Kegiatan di malam hari diawali dengan berbuka. Lalu shalat berjamaah maghrib ke mesjid. Sesudah itu pulang untuk makan malam. Berangkat lagi ke mesjid untuk shalat isya dilanjut dengan tarawih. Selesai shalat tarawih dan mendengar ceramah Ramadhan sekitar jam sembilan kami lanjutkan dengan tadarus satu juz sampai jam sepuluh malam. Mengaji sendiri setengah juz dan acara santai sampai masuk tidur jam sebelas - setengah dua belas. Bangun untuk sahur jam empat, kadang-kadang mengaji lagi beberapa lembar sebelum ke mesjid untuk shalat subuh.

Ritme seperti ini sudah berpuluh tahun aku jalankan, terutama sejak pindah ke Jatibening. Di Balikpapan, karena biasanya kami tarawih dari rumah ke rumah, tidak ada tadarusan. 

Tahun ini, sampai malam ke sembilan belas semua berjalan lancar tanpa gangguan apapun. Bahkan aku sudah mendaftar sebagai peserta i'tikaf di mesjid kami yang akan diawali hari Jum'at malam ke dua puluh satu. Tiba-tiba, di waktu subuh hari ke sembilam belasnya itu badan mulai terasa tidak enak. Shalat taraweh sampai tadarus dan mengaji sendiri di rumah masih aman.  Waktu bangun sahur dan pergi ke mesjid untuk shalat subuh, badan terasa meriang. Waktu zuhur, dan praktis waktu-waktu shalat sesudahnya aku tidak sanggup lagi ke mesjid karena tidak enak badan. Rasanya sedang masuk angin luar biasa. Mual dan bahkan sempat muntah.

Hari Jum'at ke mesjid untuk shalat Jumat dan setelah itu beristirahat. 

Karena merasa yakin badanku itu masuk angin berbagai usaha menolak angin dilakukan seperti membalur badan dengan minyak angin (tidak ada hasil), menggunakan obat gosok/balsem (juga tidak berhasil), menggunakan parem larutan kapur sirih dengan kunyit (dulu berkali-kali berhasil tapi sekarang tidak).  Hari Sabtu malam aku minta tolong dikerok sama istri. Keanehan terjadi di hari Minggu subuh, aku tidak bisa buang air kecil waktu bangun sahur. Malam itu aku bercerita ke istri bahwa aku tidak ada buang air kecil seharian dan tidak pernah merasa ingin melakukakannya. Dia bilang ini berbahaya, kamu bisa keracunan kita harus ke dokter. Aku bilang baik, tapi besok pagi saja. Karena waktu kami membicarakannya sudah tengah malam sementara aku tidak merasa sakit apa-apa (kecuali merasa masuk angin). Tidak ada keluhan apa-apa.  Sebenarnya anakku nomor dua, yang sampai hari Minggu menginap di rumah sudah cukup nyinyir menyuruhku ke dokter. Dia ini akan berangkat ke Pau - Perancis, ikut suaminya dalam penempatan kerja di sana untuk tiga tahun. Hari Minggu mereka pindah ke rumah mertuanya di Tangerang dan akan berangkat dari sana hari Selasa.

Hari Senin siang kami ke RS Harum di jl. Kalimalang arah ke Cawang. Aku mengawali urutan perawatan dengan melapor ke UGD. Oleh dokter UGD dikirim ke dokter bedah dengan dugaan kalau-kalau aku punya masalah prostat. Dokter itu tidak menemukan gejala prostat, tapi menganjurkan agar aku dirawat inap disamping segera melakukan pemeriksaan darah, jantung dan rontgen. Aku menawar tidak langsung dirawat inap hari itu karena anak dan cucuku akan berangkat jauh dan untuk waktu lama besoknya. Dokter itu bisa memahami, tapi tetap mengingatkan agar dirawat inap pada kesempatan pertama.

Hari Selasa pagi anakku di Tangerang melarang aku datang dan menyuruh tuntaskan urusan perawatan di rumah sakit. Kami telah terlanjur membuat rencana akan ke Tangerang, tapi tidak mengantar ke bandara. Kami adalah aku dan istri lalu keluarga si Sulung utuh dan si Bungsu. Delapan orang. 

Itulah yang kami lakukan. Berangkat dari rumah sebelum zuhur, melalui jalan yang lumayan lancar. Jam satu kami sampai di rumah besan di Tangerang. Cucu-cucu memuaskan bermain sampai saat terakhir. 

Jam setengah tiga kami berpamitan dan berangkat dari Tangerang menuju ke RS Harum lagi. Dokter UGD nya bukan yang kemarin lagi. Dengan sedikit penjelasan bahwa aku sudah mengawali pemeriksaan darah dan sebagainya kemarin, kami disuruh menunggu waktu dia mengambil hasil pemeriksaan darah dan mengkonsultasikannya dengan dokter ahli ginjal. Dokternya sendiri sedang tidak berada di rumah sakit dan mereka berkomunikasi per telepon. Hasilnya adalah bahwa aku 'divonis' harus segera menjalani cuci darah. Tapi ada masalah lain, bahwa di RS Harum fasilitas untuk cuci darahnya sudah terpakai penuh. Aku disarankan untuk mencari RS lain.

Kami berhasil mendapatkan tempat di RS Mitra Keluarga Bekasi Timur. Akhirnya setelah berbuka puasa dulu dan kembali ke rumah untuk mengambil kartu asuransi, kami sampai di rumah sakit tersebut jam setengah sembilan malam. Aku langsung dirawat inap. Cuci darahnya sendiri baru akan dilaksanakan besok pagi dan malam itu aku dirawat di bagian yang mereka sebut intermediate untuk memonitor kondisi tubuhku. Anehnya, kecuali tidak bisa BAK, aku tidak merasa adanya gangguan apapun, selain tubuhku tetap seperti masuk angin. Ingin sendawa dan buang angin yang sepertinya akan mengenakkan, tapi tidak bisa. 

Hari Rabu pagi aku lalui proses cuci darah tersebut. Setelah itu ada pemeriksaan oleh dokter ahli ginjal yang mengatakan akan langsung mengambil tindakan jika dalam observasinya menemukan masalah di ginjal. Aku menyerah saja. Hasil cuci darah pertama belum memadai seandainya diperlukan tindakan operasi. Dokter merencanakan untuk melanjutkan cuci darah lagi hari Kamis. Hari Kamis aku cuci darah kedua kali disamping ada pemeriksaan dengan USG.

Hari Jum'at difoto (rongent khusus) dan.... dilanjutkan dengan cuci darah ketiga. Dokter urologi (ahli ginjal) tidak menemukan sesuatu yang nyata untuk melakukan operasi. Mungkin ada batu (tapi tidak yakin). Dalam keadaan tertekan harusnya ginjal membengkak, tapi ini tidak demikian. Kesimpulannya sementara dia belum mau melakukan tindakan apa-apa. Sementara itu sejak hari kedua air seni mulai keluar sedikit melalui kateter. Air seni bercampur darah. Lebih banyak lagi pada hari Jumat. Hari Sabtu aku diijinkan pulang karena sementara tidak ada tindakan apa-apa yang akan mereka lakukan. Tempat dan waktu dicadangkan untukku hari Selasa ini. Dan siang nanti aku melakukan pemeriksaan lagi di RS tersebut.

Alhamdulillah, hari Ahad aku bisa buang air kecil normal. Bahkan seharian itu sampai sepuluh kali dengan kondisi normal. Kemarin juga  normal. Kita lihatlah selanjutnya...... Mudah-mudahan Allah menghindarkan diriku dari sakit yang serius dan menyulitkan......

****
                                   

Kamis, 20 Maret 2014

Ramuan Obat

Ramuan Obat

Dengan umur di atas enam puluh tahun, lalu ada bagian-bagian dalam tubuh yang sakit, yang menjadi aus adalah suatu keniscayaan. Sudah merupakan ketetapan Allah. Ketika usia beranjak tua, satu persatu nikmat dikurangi Allah. Ada yang perlahan-lahan ada yang tiba-tiba dalam waktu singkat. Namun, kita tentu tidak boleh pasrah saja. Ketika diuji dengan penyakit, wajib pula hukumnya berikhtiar untuk berobat.  

Sejak beberapa waktu terakhir aku mengalami kaku dan ngilu di kaki dan di persendian jari. Tadinya aku pikir masih jenis dari asam urat, penyakit yang sudah cukup lama aku idap, tapi sejak dua tahun terakhir alhamdulillah banyak berkurang. Atau jangan-jangan reumatik? Dari diskusi dan konsultasi dengan beberapa orang dokter, ada satu pertimbangan yang sangat mengena di pemikiranku. Adalah wajar, kata seseorang itu, di usiaku sekarang ini, aliran darah dalam tubuh sudah mulai mengalami gangguan sehingga tidak lancar. Solusinya, bagaimana menjadikan aliran darah tersebut bisa lebih lancar.      

Dalam diskusi ketika menanti hujan teduh di mesjid, seorang jamaah bercerita bahwa dia sedang meminum jus campuran dari 5 macam bahan. Bahan-bahan tersebut adalah jahe merah, bawang putih, jeruk lemon, cuka apel dan madu. Manfaatnya, kata jamaah ini, untuk memperlancar aliran darah. Dan dia merasakan khasiatnya. Dia bahkan menawarkan sedikit sample untuk dicoba.

Alhamdulillah, memang cukup terasa kebaikannya. Ngilu-ngilu di kakiku jadi berkurang. Dan setelah itu aku mencoba pula membuatnya sendiri. Tapi cuka apel aku ganti dengan apel muda Malang. 

Sekarang aku rutin meminum jus campuran ini satu sendok makan setiap hari. Mudah-mudahan bermanfaat, dengan izin Allah, untuk memperlancar aliran darah.  

****                      

Kamis, 14 November 2013

Galigato

Galigato                   

Adakalanya penyakit datang tanpa pemberitahuan apa-apa. Dan tidak pula bisa ditelusuri balik, apa penyebabnya. Dia datang begitu saja. Itu yang terjadi dengan diriku  pagi ini. Dimulai ketika ke kamar kecil di waktu sahur. Buang air besar berupa air alias mencret. Tidak ada sakit perut sebelumnya. Tidak ada tanda-tanda. Lalu mengingat-ingat, apa yang dimakan tadi malam? Padahal tidak ada yang aneh. Tadi malam kami berbuka puasa dengan masakan rumah. Dan beberapa iris mangga. 

Meski agak keheranan, tapi aku tidak mau terlalu memikirkannya. Aku berharap, dengan minum teh panas mudah-mudahan bisa membantu menyelesaikan masalah. Ternyata tidak, sebelum berangkat ke mesjid aku harus ke belakang sekali lagi. Dan masih cair semua. Untungah selama di mesjid aman-aman saja. Pulang dari mesjid berulang kembali. Masih begitu juga. Hari baru jam lima kurang seperempat. Aku berbaring-baring dan minta tolong istri membalur perutku dengan minyak kayu putih. Tapi kami tidak punya minyak kayu putih. Akhirnya pakai larutan aroma terapi. Lumayan, terasa hangat. Jam setengah enam aku ke kamar mandi, bersiap-siap mau pergi bekerja. Sebelum mandi buang hajat lagi. Masih begitu juga. Anehnya aku tidak merasa sakit di perut.

Dengan bismillah berangkat ke kantor. Seandainya di jalan ada tanda-tanda mencurigakan menyuruh ke peturasan lagi, aku akan segera balik kanan, pulang kembali. Alhamdulillah, aman sampai ke kantor. Aman juga sampai seterusnya.....

Tapi muncul sesuatu yang baru. Sekitar jam sembilan lebih aku merasa gatal-gatal di tangan dan di paha. Pelan-pelan tapi pasti makin bertambah luas daerah gatalnya di paha dan lengan. Aku menepuk-nepuk bagian yang gatal. Yang di tangan terihat bengkak-bengkak seluas setengah senti, berwarna merah. Galigato....  

Aku ingat seorang karyawan beberapa hari yang lalu tidak masuk karena galigato juga. Aku tanya dengan apa diobatinya. Dengan ctm, jawabnya. Dia menganjurkan agar aku minum obat yang sama dan pulang untuk beristirahat. Biar ditunggu sampai waktu zuhur, pikirku.

Sehabis shalat, ternyata gatal-gatal tidak banyak berubah. Jam dua aku menyerah, dan minta izin duluan pulang. Istriku terheran-heran melihat aku pulang lebih awal. Sesudah shalat asar aku tidur. Jam lima terbangun karena daerah gatal-gata semakin luas. Perut dan punggung penuh dengan bengkak-bengkak kecil yang gatal itu. 

Sesudah berbuka aku minum sebiji ctm. Alhamdulillah, dengan izin Allah obat itu menyembuhkan gatal-gatal. Bengkak-bengkaknya masih bertahan sampai kira-kira sejam lalu berangsur-angsur menghilang. Saat aku mengetik tulisan ini bengkak-bengkak itu sudah hilang sama sekali. Alhamdulillah.........

****

                 

Jumat, 06 September 2013

Penyakit Apa Pula Ini?

Penyakit Apa Pula Ini?

Yang namanya penyakit.... Datangnya tanpa diduga-duga. Apa lagi di saat usia sudah semakin bertambah juga. Pertengahan bulan puasa yang lalu aku mengalami sakit yang agak aneh, yang belum pernah aku alami sebelumnya. Tulang kaki kiri, terasa ngilu dan kadang-kadang berdenyut sakit. Sakitnya lebih terasa ketika berdiri terlebih-lebih di saat rukuk dalam shalat. Jadi kalau rukuk, kaki kiri itu harus agak ditekuk, untuk mengurangi rasa sakit.

Aku berkonsultasi dengan tiga orang dokter kenalan melalui telepon, tapi tidak datang ke tempat praktek dokter. Entah kenapa, aku memang agak malas datang ke praktek dokter. Dua dari dokter yang aku minta pendapatnya itu menganjurkan agar aku memeriksa darah. Dan aku diberitahu obat yang harus diminum. Angsuran atau perubahan penyakit itu sangat lama. Rasa nyerinya berkurang tapi sakitnya menular ke kaki kanan. Dokter ketiga mengira bahwa aku menderita sebangsa flu tulang. Dia menganjurkan agar aku banyak beristirahat saja. Penyakit seperti itu perlu kesabaran karena biasanya bertahan agak lama. Teori yang terakhir ini rasanya paling mungkin. AC di kendaraanku sangat terasa bertiup ke arah kaki dan aku biarkan saja. Boleh jadi itulah penyebabnya.

Meski agak terpincang-pincang aku masih bisa tetap beraktifitas seperti biasa. Ternyata memang lama penderitaannya. Sampai minggu pertama hari raya, masih ada rasa nyeri meski sudah jauh berkurang. Aku sudah bisa rukuk dengan posisi kaki normal dalam shalat.

Belum hilang tuntas penyakit nyeri kaki itu, datang lagi penderitaan baru. Masih di kaki juga. Aku merasa kesemutan luar biasa di kedua kaki, mulai dari telapak kaki sampai ke paha kalau bangkit dari duduk. Baik ketika bangkit dari duduk di tikar ataupun duduk di kursi. Anehnya, kalau berdiri malahan hilang kesemutannya. Sepertinya aliran darah di tubuhku tidak lancar setiap kali bangkit dari duduk. Sempat juga bertanya ke engku Google tentang urusan kesemutan ini. Keterangan dan jawabannya ada yang agak mengerikan. 

Aku tetap saja masih malas untuk mengunjungi dokter. Mungkin besok-besok harus dipaksakan untuk periksa darah. Hanya repotnya, besok akan pergi bertugas pula ke luar daerah. Sementara ini dicoba dulu saja minum obat yang disarankan dokter. 

Entah penyakit apa pula ini......

*****

Senin, 09 Juli 2012

Hamdan

Hamdan

Sebuah cerita yang terjadi di akhir pekan kemarin.

Adalah seorang orang kecil bernama Hamdan. Orang kecil yang bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah perusahaan, di ibu kota propinsi. Orang kecil dan sederhana dengan keluarga kecil sangat sederhana pula, dengan dua orang anak. Tinggal di sebuah rumah 5S. Sangat-sangat sederhana sekali segala-galanya. Tapi mereka bahagia. Hidup dalam cinta dan kasih sayang.

Allah menguji siapa saja dengan cara-Nya. Keluarga Hamdan pun diuji dengan ujian berat. Istrinya dapat serangan penyakit luar biasa. Kena stroke dan pendarahan di otak. Hamdan yang lugu membawanya ke rumah sakit swasta yang berhampiran. Meminta tolong dengan penuh harap agar istrinya diselamatkan. 

Ada cerita yang agak sulit dicerna, tapi telah terjadi. Kepada Hamdan dijelaskan bahwa kondisi istrinya itu sangat-sangat kritis. Dia harus dioperasi, namun kemungkinan berhasil, kemungkinan bahwa dia akan bertahan hidup sesudah operasi itu hanya 20% saja. Begitu kata dokter. Kalau tidak dioperasi, dia tidak mungkin diselamatkan. Hamdan yang lugu, meminta dengan sangat agar kemungkinan yang 20% itu dicoba. Agar istrinya dioperasi. Tidak jelas apakah biaya operasi itu sempat dibicarakan. Sepertinya, uang jaminanpun tidak dimintakan. Hamdan menandatangani persetujuannya untuk pelaksanaan operasi. Dan operasi itu dilaksanakan.

Setelah operasi, istri Hamdan harus dirawat di ICU. Karena kondisinya sangat kritis. Kepada Hamdan diberitahu bahwa biaya operasi adalah sekian puluh juta rupiah dan biaya kamar ICU 6 juta semalam. Hamdan beruntung tidak pingsan mendengar keterangan angka-angka itu. Tapi dia nyaris seperti orang sakit ingatan. Dia datang melaporkan kondisi itu kepada sepupunya, seorang pensiunan, minta tolong mencarikan jalan keluar. Si sepupu sangat terkejut mendengar cerita itu, menyesalkan kenapa tidak bertanya-tanya dulu, sebelum melakukan tindakan operasi istrinya. Sebuah penyesalan, yang dalam hal ini sudah tidak ada gunanya. 

Dalam kebingungan yang menyesak itu, tindakan pertama yang direncanakan adalah mengeluarkan si sakit dari ruangan ICU yang sangat mahal itu. Rencananya akan dipindahkan ke rumah sakit umum, dengan segala konsekwensinya. Tapi, biaya operasi harus dilunasi terlebih dahulu. Jumlah ketika itu sudah diatas 50 juta. Masya Allah!

Si sepupu mencoba mencari bantuan dari sanak saudara. Dihubungi yang mungkin dihubungi. Mau bersedekah, mau berzakat, mau apa pun namanya. Sementara si Hamdan makin panik, tertekan dan ketakutan. Seandainya rumah 5S-nya  dijual pun belum akan cukup untuk menutupi separo dari tagihan rumah sakit itu.  

Sepupu itu membantu dengan setengah nekad pula, memberikan jaminan agar si sakit bisa dipindahkan. Ketika jaminan itu diterima, tagihan sudah semakin bengkak, sudah menjadi 72 juta.

Si sakit dipindahlah ke rumah sakit umum. Hanya untuk beberapa jam dan akhirnya dia menghembuskan nafas terakhir. Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Betapa terpukulnya Hamdan. Tapi yang demikian itu sudah merupakan ketetapan Allah. Kita berdoa, semoga Hamdan diberi kekuatan iman. Diberi kemudahan oleh Allah dalam menyelesaikan persoalannya yang luar biasa itu. Sekitar 40% hutang sudah tertolong dari bantuan sanak famili. Sedangkan sisanya? Allah saja Yang Maha Tahu bagaimana jalan keluarnya.   

****       

Sabtu, 07 Juli 2012

Khasiat Bawang Putih

Khasiat Bawang Putih

Sesuai dengan pertambahan umur, sekitar delapan tahun yang lalu, sesudah menjalani pemeriksaan kesehatan tahunan (medical check-up), dokter mendeteksi bahwa aku mulai berkecenderungan punya tekanan darah tinggi. Tekanan darah yang sebelum-sebelumnya tidak pernah lebih dari 120/70, tiba-tiba meningkat menjadi  140/80. Aku tidak merasakan pengaruh apa-apa dalam keseharianku. Rasanya tidak ada perobahan apapun yang aku alami. Namun dokter menasihatkan agar aku mulai menggunakan obat untuk mengontrol tekanan darah. Dan obat itu, menurut dia, harus dikonsumsi selama hidup. Inilah yang berat, karena aku tidak terlalu suka minum obat. Selama masih bekerja (di Total waktu itu), aku selalu dibekali dokter perusahaan dengan obat yang sama, meski sejujurnya, tidak selamanya obat itu aku gunakan. Sesudah pensiun dari Total aku bahkan tidak memakainya lagi sama sekali.

Sampai pada suatu hari, ketika kondisi tubuhku memang agak kurang sehat, aku pergi berobat ke rumah sakit. Seperti biasa, tekanan darahku diperiksa. Ternyata ketika itu sudah 170/100. Dokter menyuruhku untuk kembali menggunakan obat pengontrol tekanan darah. Untuk beberapa lama, aku terpaksa patuh mengikuti perintah dokter minum obat. Dengan minum obat itu tekanan darahku bisa turun menjadi 140/80, yang kata sebagian dokter, cukup normal untuk usiaku yang sudah 60 tahun.

Sekali lagi, sebenarnya aku malas minum obat keluaran pabrik, karena pasti mengandung unsur-unsur kimia yang mungkin saja ada efek sampingnya terhadap tubuh. Suatu ketika, seorang iparku bercerita tentang pengalaman temannya yang juga berkecenderungan punya tekanan darah tinggi, lalu berhasil mengatasi tekanan darahnya dengan mengkonsumsi bawang putih. Cerita yang sama pernah aku dengar dari sumber lain. Bahkan kononnya ada ekstrak bawang putih yang dikapsulkan. 

Aku jadi ingin pula bereksperimen dengan bawang putih ini. Mula-mula bawang putih mentah, diiris tipis-tipis lalu langsung dikunyah. Rasanya memang tidak bersahabat sama sekali. Istriku menganjurkan agar bawang putih yang sudah diiris tipis-tipis itu digoreng kering saja. Lalu aku coba yang seperti itu. Ternyata rasanya jauh lebih OK. Lebih dapat diterima lidah. Maka akupun rutin memakan lebih kurang tiga siung bawang putih yang diiris tipis dan digoreng kering itu setiap pagi. 

Alhamdulillah, tekanan darah bisa bertahan pada kisaran yang sama. 140/80, kadang-kadang naik sedikit ke 150/90, kadang-kadang turun ke 130/80. 

Ternyata ada pula bonus dari khasiat bawang putih ini. Aku berkecenderungan  punya masalah jamuran di lobang telinga. Kata dokter, karena kontur lobang telingaku sedemikian rupa sehingga di sisi sebelah dalam cenderung selalu lembab dan jadi tempat favorit untuk jamur tumbuh. Telinga sering sekali terasa gatal luar biasa. Dan akupun berlangganan menggunakan salep untuk membasmi jamur di telinga ini. Tanpa aku sadari, sejak beberapa bulan terakhir, sejak aku rutin memakan bawang putih, gatal-gatal di telinga itu sangat jauh berkurang dan aku tidak pernah lagi menggunakan salep. Setelah aku baca-baca, ternyata khasiat bawang putih termasuk untuk membasmi jamur yang tumbuh di bagian tubuh yang manapun.

*****                                                                                                                 

Sabtu, 26 Mei 2012

Buah Sirsak, Pembunuh Kanker (Terjemahan Bebas)


Entah dimana dulu saya dapat artikel ini, yang ternyata perlu sekali di-share di sini.


Buah Sirsak, Pembunuh Kanker (Terjemahan Bebas)

Soursop, buah dari pohon Graviola adalah pembunuh alami sel kanker yang ajaib dengan 10.000 kali lebih kuat dari pada terapi kemo.

Tapi kenapa kita tidak tahu?

Karena salah satu perusahaan dunia merahasiakan penemuan riset mengenai hal ini se-rapat2nya. Mereka ingin agar dana riset yang dikeluarkan sangat besar, selama bertahun-tahun, dapat kembali lebih dulu plus keuntungan berlimpah  dengan cara membuat pohon Graviola Sintetis sebagai bahan baku obat dan obatnya dijual ke pasar dunia.

Memprihatinkan, beberapa orang meninggal sia2, mengenaskan, karena keganasan kanker, sedangkan perusahaan raksasa, pembuat obat dengan omzet milyaran dollar menutup rapat2 rahasia keajaiban pohon Graviola ini.

Pohonnya rendah, di Brazil dinamai “Graviola”, di Spanyol “Guanabana” bahasa Inggrisnya “Soursop”. Di Indonesia, ya buah Sirsak. Buahnya agak besar, kulitnya berduri lunak, daging buah berwarna putih, rasanya manis2 kecut/asam, dimakan dengan cara membuka kulitnya atau dibuat jus.
[]

Khasiat dari buah sirsak ini memberikan efek anti tumor/kanker yang sangat kuat, dan terbukti secara medis menyembuhkan segala jenis kanker. Selain menyembuhkan kanker, buah sirsak juga berfungsi sebagai anti bakteri, anti jamur(fungi), efektif melawan berbagai jenis parasit/cacing, menurunkan tekanan darah tinggi, depresi, stress, dan menormalkan kembali sistim syaraf yang kurang baik.

Salah satu contoh betapa pentingnya keberadaan Health Sciences Institute bagi orang2 Amerika adalah institut ini membuka tabir rahasia buah ajaib tersebut. Fakta yang mencengangkan adalah: Jauh di pedalaman hutan Amazon, tumbuh “pohon ajaib”, yang akan merubah cara berpikir anda, dokter anda, dan dunia mengenai proses penyembuhan kanker dan harapan untuk bertahan hidup. Tidak ada yang bisa menjanjikan lebih dari hal ini, untuk masa2 yang akan datang.

[]

Riset membuktikan  “pohon ajaib” dan buahnya ini bisa :

·       Menyerang sel kanker dengan aman dan efektif secara alami, TANPA rasa mual, berat badan turun, rambut rontok, seperti yang terjadi pada terapi kemo.

·         Melindungi sistim kekebalan tubuh dan mencegah dari infeksi yang mematikan.

·         Pasien merasakan lebih kuat, lebih sehat selama proses perawatan / penyembuhan.

·         Energi meningkat dan penampilan fisik membaik.

·      Sumber berita sangat mengejutkan ini berasal dari salah satu pabrik obat terbesar di Amerika. Buah Graviola di-test di lebih dari 20 Laboratorium, sejak tahun 1970-an sampai  beberapa tahun berikutnya. Hasil test dari ekstrak (sari) buah ini adalah :

·      Secara efektif memilih target dan membunuh sel jahat dari 12 tipe kanker yang berbeda, diantaranya kanker : Usus Besar, Payu Dara, Prostat, Paru2, dan Pankreas.

·    Daya kerjanya 10.000 kali lebih kuat dalam memperlambat pertumbuhan sel kanker dibandingkan dengan Adriamycin dan  terapi kemo yang biasa digunakan!

·         Tidak seperti terapi kemo, sari buah ini secara selektif hanya memburu dan membunuh sel2 jahat dan TIDAK membahayakan/ membunuh sel2 sehat!

Riset telah dilakukan secara ekstensif pada pohon “ajaib” ini, selama bertahun-tahun  tapi kenapa kita tidak tahu apa2 mengenai hal ini? Jawabnya adalah : Begitu mudah kesehatan kita, kehidupan kita, dikendalikan oleh yang memiliki uang dan kekuasaan!

 []

Salah satu perusahaan obat terbesar di Amerika dengan omzet milyaran dollar melakukan riset luar biasa pada pohon Graviola yang tumbuh dihutan Amazon ini. Ternyata beberapa bagian dari pohon ini : kulit kayu,akar, daun, daging buah dan bijinya, selama berabad-abad menjadi obat bagi suku Indian di Amerika Selatan untuk menyembuhkan : sakit jantung, asma, masalah liver (hati) dan rematik. Dengan bukti2 ilmiah yang minim, perusahaan mengucurkan Dana dan Sumber Daya Manusia yang sangat besar guna melakukan riset dan aneka test. Hasilnya sangat mencengangkan. Graviola secara ilmiah terbukti sebagai mesin pembunuh sel kanker!

Tapi… kisah Graviola hampir berakhir disini.Kenapa?

Dibawah Undang2 Federal, sumber bahan alami untuk obat DILARANG / TIDAK BISA dipatenkan.

Perusahaan menghadapi masalah besar, berusaha sekuat tenaga dengan biaya sangat besar untuk membuat sinthesa/kloning dari Graviola ini agar bisa dipatenkan sehingga dana yang dikeluarkan untuk Riset dan Aneka Test bisa kembali, dan bahkan meraup keuntungan besar. Tapi usaha ini t idak berhasil.Graviola tidak bisa di-kloning.Perusaha an gigit jari setelah mengeluarkan dana milyaran dollar untuk Riset dan Aneka Test.

Ketika mimpi untuk mendapatkan keuntungan besar ber-angsur2 memudar, kegiatan riset dan test juga berhenti. Lebih parah lagi, perusahaan menutup proyek ini dan memutuskan untuk TIDAK mempublikasikan hasil riset ini.

Beruntunglah, ada salah seorang Ilmuwan dari Team Riset tidak tega melihat kekejaman ini terjadi. Dengan mengorbankan karirnya, dia menghubungi sebuah perusahaan yang biasa mengumpulkan bahan2 alami dari hutan Amazon untuk pembuatan obat.

Ketika para pakar riset dari Health Sciences Institute mendengar berita keajaiban Graviola, mereka mulai melakukan riset. Hasilnya sangat mengejutkan. Graviola terbukti sebagai pohon pembunuh sel kanker yang efektif.

The National Cancer Institute mulai melakukan riset ilmiah yang pertama pada tahun 1976. Hasilnya membuktikan bahwa daun dan batang kayu Graviola mampu menyerang dan menghancurkan sel2 jahat kanker. Sayangnya hasil ini hanya untuk keperluan internal dan tidak dipublikasikan.

Sejak 1976, Graviola telah terbukti sebagai pembunuh sel kanker yang luar biasa pada uji coba yang dilakukan oleh 20 Laboratorium Independence yang berbeda.

[]
 Suatu studi yang dipublikasikan oleh the Journal of Natural Products menyatakan bahwa studi yang dilakukan oleh Catholic University di Korea Selatan, menyebutkan bahwa salah satu unsur kimia yang terkandung di dalam Graviola, mampu memilih, membedakan dan membunuh sel kanker Usus Besar dengan 10.000 kali lebih kuat dibandingkan dengan Adriamycin dan Terapi Kemo!

Penemuan yang paling mencolok dari study Catholic University ini adalah: Graviola bisa menyeleksi memillih dan membunuh hanya sel jahat kanker, sedangkan sel yang sehat tidak tersentuh/terganggu . Graviola tidak seperti terapi kemo yang tidak bisa membedakan sel kanker dan sel sehat, maka sel2 reproduksi (seperti lambung dan rambut) dibunuh habis oleh Terapi Kemo, sehingga timbul efek negatif: rasa mual dan rambut rontok.

Sebuah studi di Purdue University membuktikan bahwa daun Graviola mampu membunuh sel kanker secara efektif, terutama sel kanker: Prostat, Pankreas, dan Paru2.

[]
Setelah selama kurang lebih 7 tahun tidak ada berita mengenai Graviola, akhirnya berita keajaiban ini pecah juga, melalui informasi dari lembaga2 tsb.diatas.

Pasokan terbatas ekstrak Graviola yang dibudidayakan dan dipanen oleh orang2 pribumi Brazil , kini bisa diperoleh di Amerika.

[]

Kisah lengkap tentang Graviola, dimana memperolehnya, dan bagaimana cara memanfaatkannya, dapat dijumpai dalam Beyond Chemotherapy: New Cancer Killers, Safe as Mother’s milk, sebagai free special bonus terbitan Health Sciences Institute. 

Sekarang anda tahu manfaat buah sirsak yang luar biasa ini. Rasanya manis2 kecut menyegarkan. Buah alami 100% tanpa efek samping apapun.Sebar luaskan kabar baik ini kepada keluarga, saudara, sahabat,dan teman yang anda kasihi.


So, since you know it now you can help a friend in need by letting him know or just drink some sour sop juice yourself as prevention from time to time.  The taste is not bad after all.  It's completely natural and definitely has no s id e effects. If you have the space, plant one in your garden.

The other parts of the tree are also useful.

The next time you have a fruit juice, ask for a sour sop.