Jumat, 01 April 2011

Memburuh Lagi??

Memburuh Lagi???

Aku bertemu seorang kawan lama, di acara kumpul-kumpul mantan karyawan Total, di bulan November yang lalu. Dia lebih muda dariku. Setahuku dia dulu bekerja di Singapura dan sebelumnya lagi di Madrid, setelah dia meninggalkan Total entah berapa tahun yang lalu. Seperti biasa, di acara kumpul-kumpul para mantan karyawan itu, kami ngobrol ke kiri dan ke kanan dengan santai. Sebelum berpisah dia menanyakan nomor hapeku. Sesuatu yang tentu biasa-biasa saja.

Beberapa minggu berlalu, dia menghubungiku, menanyakan kegiatanku. Aku yang sejak pensiun di bulan September 2007 tidak punya kegiatan khusus lagi memberitahunya apa adanya. Dia mengundangku untuk datang berbincang-bincang ke kantornya. Dan aku datang, dengan niat sekedar ngobrol-ngobrol santai. Dia bercerita tentang pekerjaannya di kantor itu yang baru dilakoninya sejak bulan Juni tahun lalu. Posisinya di kantor itu cukup tinggi. Aku kagum juga mendengar ceritanya. Sebelum pulang, dia menanyakan apakah aku berminat untuk bekerja kembali. Untuk membantu di bagian geologi. Untuk menjadi konsultanlah, begitu tawarannya.

Aku tidak segera menjawab. Aku tidak yakin apakah aku akan masih bersemangat bekerja kembali sesudah tiga setengah tahun menganggur. Sebenarnya tawaran bekerja kembali ini pernah pula aku dapatkan sekitar setahun yang lalu. Sudah hampir jadi, artinya aku sudah menyatakan kesediaanku. Tapi sayang, waktu itu ada masalah teknis yang tiba-tiba berobah dari yang sebelumnya ditawarkan. Akhirnya, ya tidak jadi.

Tapi kali ini, teman yang satu ini lebih jelas dan tegas. Dia menjelaskan apa yang diharapkannya dariku dan menjelaskan pula imbalan yang akan aku peroleh. Angka-angka yang dia tawarkan sangat baik. Aku minta waktu untuk berpikir-pikir. 

Tidak bekerja selama tiga setengah tahun telah berlalu begitu saja. Aku ternyata tidak berbakat apa-apa selain dari bekerja di kantor. Aku tidak berbakat untuk berdagang. Ada satu hal positif lagi yang bisa didapatkan seandainya aku bekerja. Aku ikut mengurus sebuah sekolah berbasis agama di kampung. Sekolah itu memerlukan banyak biaya. Biaya itu kami kumpulkan dari donasi beberapa orang. Jumlahnya seringkali tidak memadai. Kalau aku bekerja, dapat penghasilan lebih, mudah-mudahan aku bisa membantu dana sekolah itu lebih leluasa. Sehingga akhirnya tawaran itu kuterima.

Kawan itu bekerja ekstra keras untuk meyakinkan beberapa pihak sebelum aku bisa mulai bekerja. Dan itu memakan waktu. Aku santai-santai saja. Awal Maret yang lalu segala sesuatu yang diperlukan itu selesai. Aku bisa mulai bekerja. Tapi pertengahan Maret yang lalu aku ada keperluan ke Pakan Baru. Dan aku menjanjikan akan mulai bekerja sekembali dari sana.

Itulah yang terjadi. Sejak hari Senin 28 Maret yang lalu aku resmi jadi pegawai lagi. Pergi ke kantor lagi. Berangkat jam enam dan kembali ke rumah hampir jam enam pula. Melalui hiruk-pikuknya lalu lintas macet sejak dari beberapa kilometer dari rumah. Perlu waktu antara satu setengah sampai dua jam untuk sampai di tempat kerja. Subhanallah..... ini semakin parah dibandingkan dengan empat tahun yang lalu. Aku tidak menyetir. Jalan pintas saja dengan menggunakan taksi.

Ternyata masih cukup menarik. Berinteraksi kembali dengan orang kantoran. Menghadapi tumpukan kertas dan menatap monitor. Di rumah kan aku banyak menghabiskan waktu di depan monitor komputer juga. Begitulah..... Sementara ini dijalani saja. sampai sebetahnya, insya Allah......


*****

Sabtu, 26 Maret 2011

Nasihat Untuk Anak-anakku (Perempuan)

Nasihat Untuk Para Wanita

Wahai puteri-puteriku. Berimanlah kalian kepada Allah dan takutlah kalian akan hukuman dan siksa Allah karena kelalaian kalian terhadap perintah-perintah Allah. Allah menjadikan suami-suami kalian sebagai imam, sebagai pemimpin atas diri kalian. Hendaklah kalian taat kepadanya sesuai dengan yang diingatkan Allah dan rasul-Nya. Allah berfirman dalam surah An Nisaa' ayat 34; 'Pria menjadi pemimpin atas wanita, karena Allah telah memberikan kelebihan (kekuatan) kepada pria dari wanita dan karena pria bertanggung jawab menafkahkan hartanya (untuk kebahagiaan rumah tangga).....' Jangan kalian ingkari ayat Allah ini. Jangan kalian mengatakan bahwa kalian juga mampu mencari nafkah, jadi kalian tidak mau dipimpin oleh suami kalian, karena yang demikian itu berarti kalian tidak beriman kepada ayat Allah.

Rasulullah bersabda dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Hakim, dari Siti 'Aisyah; 'Saya bertanya kepada Rasulullah SAW; 'Siapakah orang yang paling besar haknya terhadap perempuan?' Jawabnya; 'Suaminya.' Lalu saya bertanya; 'Siapakah yang haknya paling besar terhadap laki-laki?' Jawabnya; 'Ibunya.'

Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hiban, Rasulullah SAW bersabda; 'Andaikan saya menyuruh seseorang sujud kepada orang lain, niscaya saya akan perintahkan perempuan agar bersujud kepada suaminya, karena begitu besar haknya kepadanya.'

Lanjutan dari ayat 34 surat An Nisaa' di atas; '...sebab itu maka wanita yang shalih, ialah yang taat kepada Allah, lagi memelihara diri di balik pembelakangan suaminya oleh karena Allah telah memelihara mereka...'

Wahai puteri-puteriku. Ingat dan perhatikanlah peringatan Rasulullah; 'Sebaik-baik wanita ialah bila engkau (para suami) pandang menyenangkan engkau, bila engkau perintah ia taat kepadamu dan jika engkau tinggal di belakang, ia menjagamu pada dirinya dan hartanya.' Jadi, janganlah kalian menjadi istri yang menyusahkan. Yang menyebabkan dia tidak senang kepadamu karena tingkah lakumu. Yang menjadikan dia kecewa karena sikap sombong dan takaburmu yang tidak pandai berterima kasih. Yang tidak pernah menghargai dan menghormatinya bahkan sampai melecehkannya.

Puteri-puteriku. Ketahuilah bahwa Rassulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Thabrani; 'Jika perempuan mengerjakan shalatnya yang lima, puasa ramadhannya, memelihara kehormatannya dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya; 'Masuklah ke dalam surga dari pintu yang mana saja engkau sukai.' Tidakkah kalian rindu dengan keistimewaan yang dijanjikan Allah seperti itu?

Kalian memerlukan kebaikan dan keikhlasan dari suami kalian di jalan Allah. Kalian memerlukan kerelaannya oleh karena itu berhati-hatilah kalian agar mereka ikhlas dan rela atas diri kalian. Jangan kalian memandang enteng yang menimbulkan kejengkelan mereka sehingga mereka membenci kalian dan tidak ikhlas dengan pemberiannya. Tidak rela dengan tingkah laku kalian. Rasulullah SAW bersabda; 'Seorang perempuan jika meninggal dan suaminya merelakannya maka ia akan masuk surga.' Artinya jika suami kalian tidak ikhlas dan tidak rela kepada kalian, niscaya akan terhalanglah kalian dari memasuki surga Allah. Tidakkah kalian takut?

Takutlah kalian akan jadi penghuni neraka dikarenakan hubungan dan prilaku kalian yang tidak pantas terhadap suami kalian menurut ketentuan Allah. Imam Bukhari meriwayatkan hadits Rasulullah SAW, di mana beliau bersabda; 'Saya pernah melihat neraka. Tiba-tiba kebanyakan penghuninya adalah kaum perempuan, yaitu mereka yang tidak tahu berterima kasih kepada suami. Andaikata engkau (suami) berbuat baik kepada seseorang di antara mereka setahun, kemudian dia melihat sedikit cela padamu, maka ia akan mengatakan; Aku tak pernah melihat sama sekali kebaikan darimu.'

Puteri-puteriku. Berdoalah kepada Allah agar suami kalian menjadi imam yang adil untuk kalian. Yang menjadi pemimpin di rumah tangga kalian. Jangan kalian rongrong kewibawaannya dengan kejahilan. Dengan banyak membantah. Dengan bermuka masam kepadanya. Mudah-mudahan Allah memudahkan urusan kalian dan menjadikan kalian bertambah keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya.

*****

Oh Negeriku......

Oh Negeriku (Dan Penganut Ilmu Mumpung)

Untuk bersikap acuh tak acuh saja tidak mudah di negeri ini. Ingin aku tidak peduli. Tidak mikirin. Tidak mau tahu. Tapi banyak hal itu berlalu juga di depan hidung. Di monitor PC atau di layar TV. Negeri yang dikelola oleh banyak sekali pendekar Aji Mumpung ini. Dari yang mumpung jadi istri gubernur, mumpung lagi populer-populernya (menurut pendapatnya sendiri) lalu mencalonkan diri untuk jadi walikota. Ini hanya target antara. Kalau dia berhasil jadi walikota dengan kepopuleran dia dan suaminya yang gubernur itu, dua tahun lagi, dia akan mencalonkan diri jadi gubernur. Enak kan? Dan semua itu bisa dikondisikan. Bisa diatur. Dan bisa ditargetkan untuk tercapai. Tentu saja dengan dimodali. Ini bukan hisapan jempol tapi sedang terjadi di sebuah negeri di tengah pulau Sumatra. Haus. Haus. Haus dengan kekuasaan, dengan glamour, dengan pangkat, dengan dunia.

Lalu para wakil-wakil yang akhirnya jadi juga akan membelanjakan uang sekian triliyun rupiah untuk membangun kantor mewah. Di mana setiap wakil akan punya kantor senilai 800 juta rupiah. Seolah-olah negeri ini sebegitu kaya rayanya dengan uang berlimpah-limpah untuk dibuang-buang. Padahal hutang negara, yang jadi beban setiap warga negara sudah hampir sampai di leher. Mereka, para wakil yang terhormat itu tidak perduli. Amboi.......

Di antara wakil-wakil itu ada yang congkak dan sombong. Yang merasa harus selalu nomor satu. Naik ke pesawat yang bukan jadwalnya. Duduk di kursi yang milik orang lain. Lalu tidak mau turun. Tidak mau mengalah. Sampai harus diteriaki orang se pesawat. Akhirnya, baru tersenggol juga urat malunya yang sudah berkarat. Bagaimana tidak. Kalau dia tidak turun, pesawat tidak akan berangkat. Ih malunya.....

Dan ketua bal-balan yang masih juga kasak kusuk meski sudah didemo orang se negara. Masih berharap untuk dapat bermanuver agar terpilih lagi. Sebegitu pentingnya jabatan. Hilang pupus malu dan harga diri karenanya.

Aku ingin acuh tak acuh. Ingin tidak mikirin. Ingin tidak peduli. Tapi berita itu terbaca juga. Siapa pula yang akan disalahkan? Ya, salahku sendiri.......

***** 

Jumat, 25 Maret 2011

Jum'at

Jum'at

Hari Jumat adalah hari yang dilebihkan dalam Islam. Hari yang dimuliakan dibandingkan hari-hari yang lain. Hari untuk menghadiri shalat berjamaah dan mendengarkan khutbah. Allah menyediakan banyak keutamaan untuk mereka yang berhati-hati dalam menjalankan perintah Allah di hari Jumat. Banyak hadits-hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang itu. Simaklah hadits berikut; 'Dari Abu Hurairah dia berkata; Telah bersabda Rasulullah SAW; 'Barangsiapa mandi, kemudian ia datang ke Jum'at, lalu dia shalat seberapa yang ditakdirkan untuknya, kemudian dia diam mendengarkan hingga selesai imam dari khutbahnya, kemudian dia shalat besertanya, niscaya diampuni baginya dosa yang di antaranya dan Jum'at yang lain dan lebih tiga hari.' (Riwayat Muslim).

Pada hadits yang lain beliau menjelaskan keutamaan datang paling awal, seseorang yang datang dan menempati shaf pertama, seolah-olah dia berkorban seekor unta. Tentu saja selama dia menjaga kehadirannya di mesjid semata-mata untuk beribadah tanpa mencampur-adukkan dengan kegiatan-kegiatan lain. Tidak juga untuk bercakap-cakap dengan orang lain. Tidak juga, bahkan sekedar memperingatkan orang lain untuk diam. Simaklah! 'Apabila engkau berkata kepada sahabatmu, 'diam!' pada hari Jum'at padahal imam sedang berkhutbah, maka sesungguhnya engkau telah berbuat sia-sia.' (Riwayat Ahmad).

Seorang wanita bertanya sambil protes. Kenapa hanya laki-laki saja yang menghadiri shalat Jum'at padahal perintah mengerjakan shalat Jum'at itu ditujukan kepada orang-orang yang beriman. (Surat Jumu'ah (Surat 62) ayat 9). Sebenarnya perempuan boleh-boleh saja ikut shalat Jum'at hanya tidak diwajibkan bagi mereka. Berbeda dengan laki-laki dewasa. Ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. 'Dari Thariq bin Syihab, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda; 'Jum'ah itu suatu tuntutan yang wajib atas tiap-tiap Muslim dengan berjamaah, kecuali empat: Hamba dan perempuan dan anak-anak dan orang sakit.' Dan pada hadits yang lain keringanan juga diberikan kepada mereka yang sedang dalam perjalanan alias sedang bersafar.

Sangatlah mengherankan ketika kita melihat ada orang yang bermalas-malas datang ke shalat Jum'at. Datang ketika khatib sudah hampir selesai berkhutbah. Dan bergegas pergi sesudah imam mengomandokan salam di ujung shalat. Mereka itu mungkin tidak mengerti.  

****

Kamis, 24 Maret 2011

Terbirit-birit

Terbirit-birit Dengan Waktu

Ketika ada suatu keperluan, kita merancang penggunaan waktu. Waktu untuk mempersiapkan keperluan, waktu untuk berbuat, waktu untuk menyelesaikan dan waktu untuk menikmati yang kita lakukan. Kadangkala kita mempunyai beberapa program yang harus diselesaikan dalam jangka waktu berdekatan. Atau kadang-kadang kita menyempatkan mengerjakan sesuatu yang ekstra, mumpung kondisi dan situasi mendukung. 

Seminggu yang lalu kami ke Pakan Baru untuk hadir di upacara pernikahan kemenakan. Ada acara baralek sesudah itu. Termasuk resepsi pernikahan. Dan acara itu berjalan dengan sangat lancar, alhamdulillah. Hari Ahad tanggal 20 Maret kami langsung ke Bukit Tinggi, seselesainya pesta resepsi pernikahan. Ikut dengan adik ipar yang datang dari Bukit Tinggi. Berangkat dari Rumbai menjelang maghrib (untuk mampir si sebuah pompa bensin di Pakan Baru melaksanakan shalat maghrib). Agak kagok antara akan singgah untuk makan dulu atau nanti saja di jalan. Soalnya kami masih kekenyangan, sedangkan kalau diteruskan khawatir tidak ada tempat makan yang enak sebelum Lubuk Bangku yang baru akan dicapai sekitar empat sampai lima jam. Akhirnya kami putuskan tidak usah makan dulu.

Kami melaju di senja gelap. Ada juga rencana akan makan di Bangkinang, tapi kembali kami batalkan karena tidak ada tempat makan yang meyakinkan terlihat. Ternyata akhirnya kami sudah tidak tahan menahan lapar dan berhenti di sebuah kedai nasi di Tanjung Balik. Sudah jam satu malam kami sampai di Bukit Tinggi.

Hari Senin tanggal 21 ada rapat di Ma'had (begitu kami menyebut namanya). Rapat rencana kerja menyelesaikan bangunan di lantai dua. Pekerjaan itu sudah lebih 50% selesai. Tinggal memasang bata dinding dan melengkapi pintu-pintu. Dana datang agak tersendat-sendat. Tapi alhamdulillah, mudah-mudahan akan cukup untuk menyelesaikan pekerjaan dinding berikut pintu-pintu itu. Setelah itu insya Allah sudah bisa dipakai meski dindingnya belum dipoles dan lantainya masih semen. Rencananya ruangan-ruangan tambahan itu akan dijadikan asrama santri dan guru-guru (sementara) dan ruangan bawah semuanya dapat digunakan untuk jadi kelas dan ruangan belajar. Masih harus dipikirkan segera tempat tidur santri-santri baru yang insya Allah akan berdatangan di awal tahun ajaran baru nanti. Mudah-mudahan Allah memberi pula jalan kemudahan.

Selesai rapat kembali ke Bukit Tinggi. Diskusi dan pertemuan dengan ipar-ipar. Membahas hal-hal yang perlu pula dibahas. Diskusi yang bahkan berlanjut sampai Selasa pagi. 

Disempatkan pula menyilau kedai nasi Kapau uni Lis. Tentu saja. Dan sesudah shalat zuhur berangkat ke Bandara MIA. Pesawat Lion terlambat setengah jam dari jadwal. Not bad-lah. Jam setengah sepuluh malam sampai di Jatibening.

Selasa siang ke Alsut. Hari ini adalah hari genap 365 hari usia Izan. Muhammad Hamizan Hafidz. Karena dia lahir tanggal 24 Maret. Di Alsut berkumpul dengan besan. Anak-anak dan cucu-cucu hadir semua. Acara dari keluarga untuk keluarga. Makan bersama. Sambil mendengar celoteh Izan semakin banyak. Dan Izan yang kadang-kadang tertawa terpingkal-pingkal kalau digoda abang-abangnya.


Seperti itulah penggunaan waktu terbirit-birit sepanjang satu pekan ini. Sekarang tinggal sedikit capek.

***** 

Sabtu, 19 Maret 2011

Besan Melayu

Berbesan Melayu

Saat ini, at this very moment, aku sedang berada di Rumbai - Pakan Baru. Kami, aku dan istriku sampai di kota ini dua hari yang lalu dalam rangka menghadiri dan menyaksikan pernikahan kemenakanku yang paling sulung. Kemenakan laki-laki yang paling tua. Ya, yang paling sulung, karena dia memang agak terlambat menikah. Dua orang adik perempuannya sudah lebih dahulu berumah tangga. Usianya memang sudah lebih tiga puluh tahun, usia yang sudah sangat matang untuk berkeluarga.

Jodohnya seorang gadis Melayu - Riau. Tiga bulan yang lalu, aku juga datang ke Pakan Baru. Waktu itu kebetulan menghadiri pernikahan anak kakak iparku. Dan pada waktu itu aku juga berkesempatan ikut dalam acara penjajagan (persiapan sebelum pernikahan) kemenakanku itu. Ketika itulah aku untuk pertama kali mengenal keluarga Melayu - Riau yang berasal dari daerah Siak. Mereka berbahasa Melayu (ya, iyalah), mirip bahasa Malaysia (ya, iyalah). Namanya jodoh...... buat sang kemenakan. 

Selama ini aku menganggap bahwa penduduk kota Pakan Baru agak memaksakan memelayukan diri. Dalam bayanganku Pakan Baru adalah 'Minang'. Aku pernah hidup dan tinggal di sini selama dua tahun ketika masih bersekolah di SMA tahun 1967. Teman-temanku berasal dari berbagai pelosok Indonesia (Ambon, Manado, Jawa, Sunda, Palembang, Batak) dan kami waktu itu semua berbahasa Minang. Berbahasa Minang benar-benar. Yang Jawa dengan yang Batak, yang Palembang dengan yang Sunda, yang Ambon dengan Menado....., semua berbahasa Minang. Setidak-tidaknya faham bahasa Minang. Setidak-tidaknya terpengaruh untuk berbahasa Indonesia berdialek Minang. Indak ada bagai aku begitu do....
  
Di pesta yang diawali sejak kemarin dengan akad nikah, suasananya sangat Melayu. Aku juga baru melihat kartu undangan. Namanya bukan 'undangan' tapi 'jemputan'. Kita, kami, dijemput datang. Tadi siang di acara perhelatan juga terjadi upacara dengan resam adat Melayu. Ada acara pantun berpantun. Rombongan penabuh rebana berpakaian teluk belanga. Pun juga para penyanyi melantunkan lagu Melayu yang bukan lagu dangdut.

Pakan Baru memang kota bertuah..... dalam tatanan Melayu. Meski di pasar pusat aku mendengar bahasa Minang masih sangat dominan.....

*****

Selasa, 15 Maret 2011

Cerita Makan

Makanan Halalan Thayyiban

Sering..... Sering sekali kebanyakan orang menyangka makanan yang tidak boleh dimakan itu, alias yang haram itu, hanyalah babi semata. Kalau tidak ada kandungan babinya otomatis halal. Ada yang cukup njelimet memeriksa apakah makanan atau kudapannya benar-benar bebas dari unsur babi, entah lemaknya, entah enzimnya, entah susunya, entah apanya saja dari unsur babi. Banyak yang tidak tahu bahwa yang diharamkan Allah langsung dari zat kasarnya, sekurang-kurangnya ada empat jenis yang melibatkan hewan. 'Sesungguhnya diharamkan atas kalian bangkai, darah, dagang babi dan binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah........' (Al Baqarah 173). 

Bangkai adalah binatang yang mati tanpa disembelih. Tidak penting apakah dia mati karena sakit, atau mati terjatuh, atau mati kena tanduk, mati tercekik, mati diterkam binatang buas. (Lihat surat Al Maidah ayat 3 !) Semua itu terkategori bangkai. Disini saja sudah timbul pertanyaan. Bagaimana dengan hewan yang dipingsankan terlebih dahulu dengan suatu pukulan KO sebelum disembelih? Ada yang merasa, selama dia (akhirnya) mati karena sembelihan, masih bolehlah dianggap halal. Di luar negeri konon, demi pri-kebinatangan, karena katanya kasihan melihat hewan meronta-ronta sesudah disembelih, maka hewan tersebut dipingsankan dulu.

Suatu saat (di luar negeri) aku pernah hampir terpikat untuk ikut menikmati bebek panggang Peking. Dan mendekat ke tempat bebek itu digantung berjejer-jejer. Mataku entah kenapa langsung hinggap di bagian leher bebek-bebek tersebut. Haqqul yakin, ternyata tidak ada satupun yang ada bekas sembelihannya. Leher semua bebek itu utuh. Ya, nggak jadilah. Bebeknya ternyata tidak disembelih, apanya yang mau dimakan?

Lalu darah. Di pasar Sumber Arta - Bekasi, suatu kali aku menemani istriku berbelanja ayam hidup. Kami minta tolong menyembelihkan ayam-ayam tersebut dan mewanti-wanti si penjual agar tidak langsung mencemplungkan ke air panas sebelum ayam-ayam tersebut mati. Si penjual, aku lihat menampung darah sembelihan ayam. Aku bertanya, itu untuk apa. Katanya, biasanya ada langganannya yang meminta. Untuk dicampurkan ke dalam masakan. Darah itu haram, kataku. Yang biasa menggunakannya itu bukan Islam kok, katanya. Sekarang sejak di pasar tidak terlihat lagi dijual ayam hidup (karena issue flu burung?) kita berharap saja bahwa ayam-ayam yang dibeli di pasar atau di toko swalayan itu sudah disembelih dengan bismillah. Selebihnya, adalah tanggung jawab pemerintah (yang melarang perdagangan unggas hidup di pasar-pasar).

Dan binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah. Di Perancis, waktu kami pernah tinggal beberapa waktu dahulu, kami sengaja pergi berbelanja daging halal ke daerah komunitas orang-orang Islam. Agak jauh, tapi lebih baik sedikit berpayah-payah dari pada salah-salah makan.

Mudah-mudahan kita lebih mengerti, bahwa yang haram itu tidak hanya sekedar babi saja. Karena kita diingatkan Allah agar memakan rezeki yang halal dan bersih dan sehat. Yang halalan thayyiban......

*****